KabarNet

Aktual Tajam

Penampilan Mencurigakan, Pangdam Bekuk WNA

Posted by KabarNet pada 18/08/2009

Mayjen Haryadi Soetanto “Jika ada orang asing memakai sorban dan jubah serta berjenggot, laporkan saja ke pihak keamanan. Masyarakat harus lebih peka terhadap hal-hal seperti itu”

Sembilan orang yang ditangkap di Purbalingga dan kini tengah diperiksa di Mapolda Jateng ternyata menggunakan paspor kunjungan ketika memasuki wilayah Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Kapolda Jateng Irjen Alex Bambang Riatmodjo siang ini di Lapangan Simpanglima Semarang saat upacara memperingati detik-detik proklamasi.

“Mereka pakai paspor juga. Pakai paspor kunjungan singkat,” jelas Alex, Senin (17/8/2009).

Namun demikian Kapolda Jateng keberatan mengungkapkan lebih banyak lagi tentang 9 warga Filipina tersebut. Dia menambahkan sampai saat ini mereka masih di Mapolda Jateng untuk menjalani pemeriksaan.

“Masih diperiksa oleh tim gabungan dari Polda Jateng. Jadi informasinya nanti dulu. Sabar saja,” ujarnya.

Kapolda juga menolak memberi penjelasan tentang tujuan 9 warga Filipina tersebut di Jawa Tengah.

Kesembilan warga negara Filipina itu memakai jubah dan sorban serta memiliki jenggot panjang. Menurut Alex penangkapan mereka itu atas laporan masyarakat.

“Mereka ditangkap atas laporan warga. Masyarakat Jawa Tengah sekarang lebih waspada. Jika ada sesuatu yang aneh mereka langsung menginformasikan pada polisi,” paparnya.

Dia mengatakan sampai kini belum jelas apa yang mereka lakukan. Polda Jateng masih memeriksa apa saja yang menjadi kegiatan mereka di Jateng. Kesembilan warga asing tersebut ditahan Polda Jateng pada Jumat 14 Agustus lalu.

Sementara itu, Berkaitan dengan diperiksanya 9 warga negara Filipina di Mapolda Jateng, Pangdam IV Diponegoro Mayjen Haryadi Soetanto meminta masyarakat harus lebih peka terhadap ancaman terorisme.

“Jika ada orang asing memakai sorban dan jubah serta berjenggot, laporkan saja ke pihak keamanan. Masyarakat harus lebih peka terhadap hal-hal seperti itu,” tegas Pangdam usai mengikuti peringatan detik-detik Proklamasi di Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang.

Dikatakan oleh Mayjen Haryadi Soetanto masyarakat Indonesia sekarang ini masih terlalu longgar. Pengamanan sudah dilakukan oleh TNI, namun kesadaran masyarakat terhadap ancaman-ancaman teror bom terlalu rendah.

“Berulang kali terjadi ledakan bom tapi masyarakat malah menganggapnya sebagai sesuatu hal yang biasa. Kepekaan terhadap ancaman teror itu terlalu rendah,” katanya.

Ditambahkan olehnya peristiwa di Temanggung tak perlu terjadi jika masyarakat berperan aktif dan peka terhadap ancaman terorisme.

“Padahal potensi teror ada di negeri ini seperti ajaran-ajaran yang tidak benar, kemiskinan dan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila,” jelas Pangdam.

TNI, menurut Pangdam, sudah mengawasi pergerakan masuk keluar warga asing mulai dari pelabuhan serta jalur perbatasan bekerjasama dengan imigrasi.

“Kita tidak bisa menghalang-halangi orang asing yang akan berwisata. Tapi kalau tidak jelas tujuannya datang ke Indonesia itu menjadi tugas polisi,” ujarnya.

Mengenai 9 warga negara Filipina tersebut, Pangdam mengatakan telah diambil langkah-langkahnya oleh Polda Jateng, dan mereka akan dikembalikan ke negaranya.

“Kalau tidak jelas tujuannya kesini, daripada ngerecokin dan membawa kerusuhan, pulangkan saja,” cetus Pangdam.

Dia menambahkan bahwa harus mulai lebih tegas terhadap hal-hal seperti itu. Negara ini adalah negara hukum sehingga tidak bebas orang bisa keluar masuk seenaknya saja.

7 Tanggapan to “Penampilan Mencurigakan, Pangdam Bekuk WNA”

  1. Anonim said

    kok saya melihat berita itu polisi atau masyarakt bukannya waspada ya,tapi paranoid?

  2. Saya sarankan untuk Pangdam IV dan kepolisian jangan gegabah untuk menilai teroris dari penampilan…
    Jangan karena Amrozi CS pake sorban lantas semua yang berjenggot dan bersorban dianggap sebagai teroris…
    Jangan salah menilai…
    Pernyataan itu sungguh MEMALUKAN….. dan MEMILUKAN…
    Buat pangdam tolong jalan jalan ke pesantren, banyak yang pake sorban.. Tuh pangeran Diponegoro pake Sorban.. (Apa kita golongkan sebagai teroris…. ) Miris benar pernyataan Pangdam itu…

  3. Hai Bambang Satria dan tanpa nama…. Kaulah teroris yang masih menyamar seakan-akan orang Islam baik-baik. Tapi kaulah teroris yang sesungguhnya. Dan mungkin kau belum dipinang saja oleh Nurdin Muhammad Top untuk menjadi ‘pengantin’pelaku bom bunuh diri. Kayaknya sih enggak lama lagi kau akan dipinang???? tunggu saja!!!

  4. lugu said

    Kalo cara nangkepnya aja kayak gini ya pantes aja OTAK TERORIS BOM di Indonesia gak pernah ketangkep……

    Berapa waktu , tenaga dan dana yang dihabiskan untuk ngurusin orang berjenggot dan ber sorban ?
    inilah fungsi intelejen sesungguhnya, intelejen artinya KECERDASAN…yang bisa mendeteksi secara akurat suspectnya….

    Para wakil rakyat yang mengetahui masalah ini tolong donk bantu aparat kita yg lagi kebingungan…

    Atau apakah ini sebenarnya yg diinginkan otak teroris bom itu ?
    Mana ada rumusnya JIHAD dipake buat ngebunuh org yg belum tentu bersalah, ini produk mujahidin sakit !

  5. abuhanif said

    mari kita tholabul ‘ilm…

  6. Buat yang mengaku mr.jhony walker!! Kamu pernah sekolah gak???
    Baca bener2 tulisan saya di atas??

    Kalaulah nordin m. top mau minang saya…
    saya gak mau lah yau,, “MASAK JERUK MAKAN JERUK” (Weleh)………

    Masyarakat Medan Gak TAKUT sama TERLORRIST Eh.. TERORRIS…!!!
    Buat Abuhanif & Lugu Saya Setuju…

  7. kadzim said

    Salah satu pendeta di mesir datang ke desa mansurah-mesir, untuk misi kristenisasi, di sana pendeta cerita panjang lebar tentang Yesus hingga matinya di atas tiang salib dengan tangan yang dipaku ke kayu salib.

    Setelah bicara panjang pendeta membagi-bagikan salib kepada penduduk desa untuk di pasang di rumah mereka masing-masing.

    Salah satu petani yang ikut mendengarkan ceramah pendeta usul kepada pendeta yang isinya;

    Pendeta tadi cerita bahwa Yesus dalam bepergian dari satu daerah ke daerah lain mengunakan keledai sebagai kendaraan.

    Artinya Yesus senang dengan keledai yang dapat digunakan untuk mengurangi beban perjalanan panjang.

    Dan pendeta juga bilang kalau Yesus sakit di atas tiang salib, artinya Yesus menderita apalagi tangannya dipaku ke tiang salib.

    Bagaimana kalau kita pasang patung keledai pada dinding rumah kita?, sebab keledai adalah hewan yang pernah meringankan beban Yesus dari pada tiang salib yang membuat Yesus menderita.

    Hanya gara-gara seorang petani yang dengan lugunya berbicara, program pendeta yang datang ke mansurah untuk meng-kristenkan penduduk desa itu gagal.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: