KabarNet

Aktual Tajam

PDIP Tawarkan Theo Syafei Sebagai Menhan ke SBY?

Posted by KabarNet pada 21/08/2009

Theo Syafei Isu Theo Syafei sebagai calon Menhan sempat muncul menjelang Pilpres 2009 lalu. Namun kemudian kembali menguat menyusul terjadinya silahturahmi politik antara Ketum DPP PD Hadi Utomo dengan Ketum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri.

Isu terbaru menyebut di pertemuan ini ada komitmen dari PD mendukung Ketua Dewan Penasehat Pusat PDIP Taufieq Kiemas sebagai bakal calon Ketua MPR. Tapi ada nama kader lain PDIP yang terlontar dalam pertemuan dua hari lalu itu.

“Pak Theo Syafei ditawarkan sebagai calon Menhan,” kata sumber detikcom di tim SBY-Boediono, Kamis (20/8/2009).

Tidak disebutkan siapa dari pihak PDIP yang melontarkan tawaran itu. Tapi di
dalam pertemuan Rabu sore dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri, Taufik Kiemas, Puan Maharani dan Pramono Anung.

Pilihan PDIP terhadap pos Dephan itu bisa jadi punya target yang jauh lebih
besar. Perlu diketahui terkait program peremajaan alutsista TNI, di dalam RAPBN 2010 disebutkan bahwa alokasi anggaran bagi Dephan merupakan ke dua terbesar setelah Depdiknas.

Sumber detikcom tidak memberikan konfirmasi yang tegas atas analisa tersebut. Menurutnya pos yang kini tidak dijabat kader parpol tersebut akan tetap diterapkan SBY pada kabinet barunya kelak.

Ketum DPP PD Hadi Utomo sebelum sesi pidato penerimaan SBY-Boediono menegaskan pertemuannya dengan Megawati tidak membahas tawar menawar posisi kader PDIP. Baik posisi di parlemen maupun dalam pemerintahan kelak.

Hal sedikit berbeda disampaikan oleh Ketua DPP PD Andi Mallarangeng. Dia tidak menutup kemungkinan pimpinan dua parpol menyinggung mengenai dukungan PD terhadap posisi bagi kader PDIP baik palemen atau dalam kabinet.

“Itu pertemuan antar ketua umum, tentu saja mereka bisa bicara banyak hal.Tetapi belum mengarah pada kesepakatan. Sedari dulu hati kita selalu terbukauntuk bekerjasama,” ujar dia. (detikNews)

6 Tanggapan to “PDIP Tawarkan Theo Syafei Sebagai Menhan ke SBY?”

  1. PANGERAN ISLAM said

    Theo Syafi’i menurut saya tidak cocok jadi Menteri Pertahanan. Yang cocok adalah tidak usah jadi menteri.

  2. PANGERAN ISLAM said

    1. Theo syafei pernah menghina Islam dan umat Islam, maka jika ia terpilih menjadi Menhan, eksistensi umat Islam akan terancam.
    2. Theo syafi’i adalah tokoh yang aktif dan mendukung Kristenisasi di Indonesia.

  3. PANGERAN ISLAM said

    THEO SYAFI’I KATOLIK RADIKAL

    Mayjen Theo Syafei yang sekarang menjabat sebagai seorang ketua di PDI Megawati ternyata benar-benar doyan memfitnah ummat Islam. Belum habis menuduh ummat Islam ICMI sebagai biang pembantaian lebih dari 100 ulama di Jawa Timur, sekarang dia kembali memfi tnah lewat ceramah di hadapan aktivis gereja Kupang bahwa ICMI dan Muhammadiyah sedang berusaha membangun Republik Agama Islam dan ingin membasmi ummat Kristen dan Cina.

    Selama ini diketahui ummat Islam sangat memberi toleransi beragama pada non Muslim. Di negara2 yang mayoritasnya Islam, ummat Kristen mendapat kebebasan yang sangat besar. Berapa banyak pejabat Kristen/Katolik yang bisa menjabat sebagai menteri seperti JB Sumarlin, jenderal Leonardus Benny Murdani, Radius Prawiro, Theo Sambuaga, Panangian Siregar, M Panggabean, dll. Bahkan si Katolik Theo sendiri bukankah berhasil menjadi
    mayjen?

    Di negara yang mayoritasnya Kristen, mana bisa hal itu terjadi? Di Filipina, jangankan menjadi menteri, di sana ummat Islam Moro malah dibantai. Di Bosnia, 200 ribu ummat Islam malah dibantai oleh tentara Kristen Serbia, sementara 50 ribu wanitanya diperk osa.

    Di negara Islam mana ada pembantaian sadis seperti itu? Di Irak yang dikatakan kejam, orang2 Kristen seperti Tareeq Aziz malah bisa jadi menteri, dan ummat Kristen di sana bebas merayakan natal, sementara di Iran yang merupakan Republik Islam, tidak ada pembantaian terhadap ratusan atau puluhan ribu sekalipun terhadap non Muslim seperti orang Kristen dan Yahudi.

    Karena itulah tuduhan si jenderal Katolik Theo Syafei yang mengatakan bahwa ummat Islam akan membasmi golongan Kristen dan Cina itu fitnah belaka. Mungkin si Theo ini ingin rakyat percaya bahwa ummat Islam memang pembantai Kristen dan Cina, sehingga ummat Islam itu (khususnya ICMI dan Muhammadiyah yang anggotanya lebih dari 30 juta orang) patut dibasmi.

    Tak heran jika di Kupang terjadi serangan terhadap ummat Islam. Di sana, 10 masjid dirusak, sementara 200 rumah dibakar, begitu pula dengan toko2 yang dimilik pendatang Muslim dari Jawa dan Bugis. Mungkin hal itu disebabkan oleh ceramah si Katolik Theo ya ng radikal ini.

    Ummat Islam sekarang ini memang mendambakan adanya kerukunan antar ummat beragama, tapi hal ini tak mungkin terjadi jika begitu banyak orang Kristen (Kristen di sini bisa Protestan/Katolik) yang suka melontar fitnah seperti si Theo Syafei ini. Mengingat T heo Syafei merupakan seorang ketua
    PDI Mega, bukan tidak mungkin Theo (bersama Leonardus Benny Murdani dan CSIS) mengerahkan jutaan massa PDI Mega untuk berbuat kerusuhan, seperti membantai ratusan ulama di Jatim (meskipun belum jadi ketua partai, tapi di a sudah punya hubungan dengan orang2 PDI, tak heran dia bisa langsung
    jadi ketua), atau membakar gereja dan menimpakan kesalahannya terhadap ummat Islam, sehingga dia bisa memojokkan ummat Islam.

    Mungkin ada yang heran, apa mungkin orang Kristen seperti Theo membakar gereja? Jika hal itu bisa menghancurkan atau paling tidak memojokkan kekuatan Islam yang dikambing hitamkannya, mengapa tidak? Lagi pula bangunan gereja itu bagi orang Kristen cuma “g ereja” dalam tanda kutip. Gereja yang sebenarnya adalah orang2 Kristen itu sendiri. Tak heran jika umumnya yang terbakar cuma bangunan gereja saja, dan boleh dikata hampir tak ada pendeta/pastor (seperti Romo Sandyawan) yang terbunuh. Kalau
    gereja rusak, dengan dana yang tak terbatas dari negara2 Kristen di luar negeri mudah saja memperbaikinya kembali. Yang penting kekuatan ummat Islam seperti ICMI, Muhammadiyah, dll, bisa mereka hancurkan, dan mereka bisa berkuasa sehingga Kristenisasi dengan berbagai cara seperti pengurangan pelajaran agama, pelarangan jilbab, pengekangan terhadap mubaligh bisa mereka lakukan kembali.

    Berikut tulisan di Republika tentang Theo Syafei yang fanatik ini:

    Theo dan Kerukunan Antar-Umat

    Tiga hari lalu saya menerima foto kopi berisikan apa yang disebut sebagai ‘ceramah Mayjen (Pur) Theo Sjafei di hadapan aktivis gereja Kupang, November 1998’. Isinya bisa disimpulkan dengan satu kata: memuakkan!

    Dokumen 17 halaman itu dipenuhi berbagai fitnah yang akan menumbuhkan kebencian siapapun pada Islam. Singkatnya digambarkan di sana — tentu saja tanpa rujukan data jelas — bahwa umat Islam dengan dikomandani ICMI dan Muhammadiyah sedang berusaha membang un Republik Agama (Islam), dan dalam rangka itu, membasmi umat Kristen dan Cina. Tentu saja, kita tak boleh buru-buru menyimpulkan bahwa itu adalah dokumen asli, dan bahwa Theo Sjafei benar-benar menyampaikan ceramah tersebut. Kita tahu, para provokator saat ini bergentayangan di mana-mana. Namun, terlepas dari keotentikan dokumen, yang penting adalah bahwa itu telah menyebar ke tengah masyarakat, dan harga yang harus dibayar bisa sangat-sangat mahal. Materi propaganda penuh kebencian ini menjadi memuakkan karena saat ini salah satu persoalan terbesar kita adalah perpecahan bangsa. Indonesia tak
    akan bisa selamat bila konflik antarkelompok kita suburkan. Kita yang masih ingin menyelamatkan negara harus melakukan segenap upaya untuk merujukkan bangsa yang sudah kepalang terbelah.

    Dalam konflik ini, pembelahan berdasarkan agama menempati posisi vital. Terlepas dari segenap penjelasan yang bertujuan menenteramkan yang menyatakan bahwa konflik agama di Indonesia dibesar-besarkan atau kental mengandung unsur rekayasa, faktanya adalah bahwa konflik antarumat itu sudah berlangsung dan potensial untuk terus memburuk. Saya termasuk orang yang percaya bahwa sebagian besar umat agama manapun di negara ini tak
    berhasrat untuk menghabisi agama lain. Saya beruntung dibesarkan dalam komunitas yang tidak eksklusif. Perjalanan hidup saya membuat saya bersekesempatan melakukan hubungan intensif dengan banyak orang dari beragam latarbelakang agama dan aliran, dan dengan sangat bahagia saya berani mengatakan bahwa mayoritas dari pemeluk agama (manapun) dan aliran (manapun) pada dasarnya adalah para pecinta perdamaian, keharmonisan, dan menghargai kelompok lain.

    Maka kalaupun kita melihat perpecahan, saya percaya itu terjadi karena di masing-masing kelompok agama selalu ada elemen-elemen radikal yang mengira Tuhan memerintahkan mereka menjadikan hanya ada satu agama tunggal di muka bumi ini. Celakanya, karena mer asa bahwa itu adalah perintah tertinggi Tuhan, mereka rela melakukan apa saja sekuat tenaga untuk menjalankan kewajiban itu. Tiga hal mencirikan kelompok semacam itu. Pertama, mereka
    kerap lebih bertenaga, berenerji, sehingga lebih mudah didengar dan menjadi pihak berpengaruh (dibandingkan dengan kaum moderat yang lebih suka menahan diri dan berbicara dengan suara lembut). Kedua, mereka lebih suka membesar-besarkan perbedaan, ketimbang mencari titik temu antaragama. Kita mengakui agama tidak sama, dan perbedaan yang ada bisa jadi sangat mendasar. Konsep ketuhanan Islam dan Kristen, misalnya, sangat berbeda
    dalam hal ketakte rbagian-Nya (Islam tak mengakui anak Tuhan, Kristen mempercayainya). Ada serangkaian hal lain yang juga membedakan kedua agama. Namun, pada saat sama, ada jauh lebih banyak hal yang mempersatukan keduanya. Konsep Islam dan Kristen tentang kebajikan, berba gi, keadilan, persahabatan, hari akhir, kemurahan hati, perdamaian, kesejahteraan, kesantunan, keluarga, toleransi, anti-penindasan, anti-kesenjangan, anti-korupsi, anti-perzinahan, tentang adanya Tuhan, malaikat, nabi, setan, dan seterusnya, adalah prakt is sama.

    Persamaan tersebut sedemikian banyaknya sehingga tak ada alasan bagi kedua umat untuk tidak bisa hidup berdampingan,bekerjasama, saling bantu, bersatu, dalam kedamaian. Masing-masing umat justru perlu berbahagia bila umat beragama lainnya tumbuh menjadi pemeluk teguh agamanya masing-masing.

    Namun titik temu antaragama ini seringkali tertutup karena yang
    dibesar-besarkan adalah perbedaan, yang terus menerus dipropagandakan elemen radikal masing-masing agama. Celakanya lagi, elemen radikal ini lazim merujuk pada perilaku elemen radikal agama l ainnya untuk ‘membuktikan’ bahwa umat kedua agama pada dasarnya mustahil bersatu. Ketiga, yang lebih buruk lagi, dengan landasan ‘perintah suci’ itu, kaum radikal ini bersedia memutarbalikkan fakta, memfitnah, atau, minimal,mengambil kesimpulan yang luar biasa keras tentang umat agama lain berdasarkan fakta yang masih perlu diuji kebe narannya. Kalau betul Theo Sjafei pernah mengucapkan pidato di Kupang tersebut, ia tentu pantas dimasukkan dalam kelompok ini. Namun, di luar kasus Theo ini, masih banyak kasus penghujatan agama atau umat agama lain di masing-masing kubu. Garis
    keras semacam ini sama sekali tak kita perlukan. Yang kita butuhkan saat ini adalah persahabatan dan persaudaraan. Ini kita bisa capai hanya kalau kita mau menghargai perbedaan, dan pada saat yang sama memompa benih persamaan yang kita miliki dalam rangka mensejahterakan bumi yang diamanatkan Tuhan. Dengan kata lain, apa masalahnya bila umat Kristen percaya Nabi Isa adalah anak Tuhan, bahwa babi tidak haram, bahwa masuk ke gereja tidak perlu mencopot sepatu, kalau pada saat yang sama umat Kristen
    ju ga percaya bahwa manusia tidak boleh membiarkan manusia lainnya terjepit dalam kemiskinan? Yang kita butuhkan adalah persahabatan dan persaudaraan. Itu tak berarti kita menghilangkan sikap kritis, tapi kritis adalah berbeda dengan menumbuhkan permusuhan. Saya mengerti bahwa umat Islam memiliki sejarah dilecehkan yang panjang. Saya sendiri berul angkali
    mengalaminya. Di akhir 1980-an, misalnya, bea-siswa S-2 yang seharusnya saya peroleh tiba-tiba saja dialihkan oleh pejabat program yang beragama Kristen. Namun marilah kita memandang orang seperti itu sebagai oknum radikal yang sama sekali tak mew akili sikap umat Kristen keseluruhan. Kita — kedua umat beragama — harus saling terbuka mengungkapkan ganjalan-ganjalan masing-masing, namun itu perlu dilakukan bukan untuk memperburuk hubungan melainkan justru untuk mencapai hubungan yang lebih
    baik. Kita harus menghormati keyakinan pihak lain, dan menghentikan aktivitas apapun yang akan menyakiti hati umat beragama lain. Kedua umat harus menunjukkan keinginan serius untuk mengatasi permusuhan. Umat Islam misalnya harus meminta sejumlah ulama menghentikan kebiasan menjelek-jelekkan Kristen — dan agama lain — dalam khotbahnya di masjid-masjid yang kadang bahkan disebarlua skan melalui pengeras suara. Umat Islam perlu menjadi pihak terdepan yang mencegah perusakan rumah ibadat agama lain, dan membantu perbaikan rumah peribadatan yang menjadi sasaran perusakan. Umat Islam perlu meminta sejumlah masjid menghentikan kebiasaan mengumumkan secara terbuka — melalui pengeras suara — adanya umat agama lain yang masuk Islam. Umat Islam bahkan perlu mempermudah proses pendirian gereja dan rumah-rumah peribadatan lainnya, karena pada
    dasarnya Islam sangat menghargai kemerdekaan meny ebarkan agama. Umat Kristen pada saat yang sama harus meminta sejumlah pemuka agama mereka menghentikan kebiasaan menjelek-jelekkan Islam di gereja-gereja mereka. Umat Kristen harus meminta dihentikannya kegiatan-kegiatan penyebaran Kristen yang dilakukan dengan iming-i ming bantuan ekonomi. Umat Kristen harus meminta sekolah-sekolah Kristen berkualitas menghentikan kebiasaan Pengkondisikan anak didik Islam mengikuti kegiatan peribadatan Kristen atau secara sistematis mendorong anak didik berpindah agama. Ada banyak hal lain yang bisa dicatat. Namun pada intinya kita harus bersama membangun rasa saling percaya di antara sesama umat beragama. Saya percaya itu adalah salah satu syarat terpenting untuk menyelamatkan bangsa ini. Tahun ini adalah tahun istimewa di mana hari suci umat Kristen berada pada
    bulan suci umat Islam. Semoga itu bisa menjadi titik penting bagi sebuah hubungan yang lebih baik. Dalam kaitan itu, izinkan saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi u mat Islam, dan selamat merayakan hari Natal bagi umat Kristen. Semoga Tuhan melindungi kita semua.

  4. PANGERAN ISLAM said

    JAKARTA (SiaR, 5/1/99), Banyak Jalan Menuju Roma, banyak cara menggembosi PDI Perjuangan. Setelah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri diterpa isu gender dan agama, maka giliran salah seorang Ketuanya Theo Syafei,Selasa (5/1) ini diadukan Achmad Sumargono dari KISDI ke Polda Metro Jaya dengan tudingan melakukan ceramah yang memojokkan umat Islam.

    Apa yang dilaporkan oleh Sumargono adalah benar-benar fakta yang diperoleh di lapangan.

    TOLAK THEO SJAFI’I SEBAGAI KANDIDAT MENHAN.

  5. PANGERAN ISLAM said

    DAFTAR SKANDAL THEO SJAFI’I

    1. Theo Syafei (PDI-P) : Pernah terjerat kasus korupsi di tahun 2002, tetapi bebas, dan terpilih kembali jadi anggota DPR periode 2004-2009

    2. Tahun 1999, Theo Syafei menghina umat Islam dan memprovokasi kasus Ambon, Poso.

    3. Tahun 2000, Theo Syafei terlibat menjadi Pemilik beberapa panti pijat di jakarta dan perjudian.

    4. Sejak tahun 1990-sampai sekarang, masih aktif sebagai Sponsor dan donatur Kristenisasi Terselubung di Indonesia.

  6. Saya Turut mendukung “PENOLAKAN THEO SJAFI’I SEBAGAI KANDIDAT MENHAN”.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: