KabarNet

Aktual Tajam

POLRI KURANG KERJAAN !!

Posted by KabarNet pada 22/08/2009

polri1 Baru-baru ini Mabes Polri memerintahkan kepolisian daerah untuk meningkatkan upaya pencegahan tindak pidana terorisme dengan mengawasi ceramah dan dakwah. Jika dalam dakwah tersebut ditemukan adanya ajakan yang bersifat provokasi dan melanggar hukum, maka aparat akan mengambil tindakan tegas.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Indonesia, Inspektur Jenderal Polisi Nanan Soekarna, mengatakan Polri memandang perlu untuk memantau dan merekam dakwah tersebut agar mengetahui apakah ada upaya provokasi dan pelanggaran hukum.

Nanan menyebutkan, pengawasan akan diperketat terhadap aktifitas tersebut dengan dikoordinasikan di masing masing Kepolisian Daerah (Polda) dan polisi satuan mulai dari tingkat Kepolisian Wilayah (Polwil), Kepolisian Sektor (Polsek), hingga Kepolisian Resort (Polres) dengan sandi “Operasi Cipta Kondisi” sebelum Operasi Ketupat dilaksanakan. Operasi ini dimaksudkan untuk meminimalisir dakwah yang bersifat provokasi pada tindakan terorisme.

Salah satu upaya polisi yang overacting dan kurang kerjaan dengan berdalih memerangi terorisme adalah penahanan 17 anggota Jamaah Tabligh berkewarganegaraan Filipina yang sedang melakukan khuruj (perjalanan dakwah dari masjid ke masjid) beberapa waktu lalu. Dari anggota Jamaah Tabligh tersebut, sembilan orang ditangkap di Purbalingga dan delapan orang di Solo.

Menanggapi sikap overacting dan kurang kerjaan Polri ini, Ketua Umum FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab secara tegas menolak dan mengkritik Polri atas sikap berlebihan yang dilakukan Polri dalam upaya memberantasi terorisme.

“Operasi Cipta Kondisi yang akan digelar Mabes Polri untuk awasi dakwah-dakwah di bulan Ramadhan guna meminimalisir “Da’wah Provokatif” adalah bentuk TEROR dan INTIMIDASI yang melecehkan DA’WAH. Dan itu gaya Orde Baru yang langgar HAM dan Konstitusi terkait kebebasan menjalankan ibadah, karena Da’wah adalah bagian ibadah yang dilindungi UUD 1945. Lagi pula, Polri punya tolak ukur apa dan bagaimana untuk membedakan Da’wah “Motivatif” dengan “Provokatif” ? Polri ngerti apa soal Da’wah ? Jika itu dibiarkan, maka Polri semakin sewenang-wenang.” Tegas Ketua Umum FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab.

HbB.Rizieq Syihab “Selain itu, Polri sudah keterlaluan dengan menangkapi Jama’ah Tabligh. Lalu mendeportasi orang asing dari Jama’ah Tabligh. Apa salah mereka? Jama’ah Tabligh itu kelompok Da’wah yang selalu mengedepankan kelembutan dan kesantunan. Mestinya Turis asing yang suka pakai kancut dan kutang depan umum yang dideportasi karena merusak moral. Ironisnya, Pangdam IV Diponegoro ikut-ikutan menyerukan agar semua orang asing berjubah, bersorban dan berjenggot agar dilaporkan ke aparat keamanan. Apa sih maunya?!!

Karenanya, saya menyerukan agar Polri segera diletakkan di bawah Depdagri agar terkontrol dan tidak otoriter, sebagaimana TNI di bawah Dephan

Dan saya serukan kepada Umat Islam agar jangan mau didikte Polri atau pun TNI soal Da’wah. Polri dan TNI jangan kurang ajar kepada para Ulama, Ustadz dan Da’i. FPI siap membantu, menjaga dan membela semua Ulama, Ustadz dan Da’i dari arogansi Polri dan TNI.

Semoga Polri dan TNI tetap dijalurnya menjadi pengayom umat, bukan musuh umat.” Tambah Beliau. (FPI/KN)

19 Tanggapan to “POLRI KURANG KERJAAN !!”

  1. PANGERAN ISLAM said

    Saya mendukung penuh kata-kata Al-Habib Muhammad Riziq Syihab dibawah ini:
    1. “Operasi Cipta Kondisi yang akan digelar Mabes Polri untuk awasi dakwah-dakwah di bulan Ramadhan guna meminimalisir “Da’wah Provokatif” adalah bentuk TEROR dan INTIMIDASI yang melecehkan DA’WAH. Dan itu gaya Orde Baru yang langgar HAM dan Konstitusi terkait kebebasan menjalankan ibadah, karena Da’wah adalah bagian ibadah yang dilindungi UUD 1945. Lagi pula, Polri punya tolak ukur apa dan bagaimana untuk membedakan Da’wah “Motivatif” dengan “Provokatif” ? Polri ngerti apa soal Da’wah ? Jika itu dibiarkan, maka Polri semakin sewenang-wenang.”
    2. “Selain itu, Polri sudah keterlaluan dengan menangkapi Jama’ah Tabligh. Lalu mendeportasi orang asing dari Jama’ah Tabligh. Apa salah mereka? Jama’ah Tabligh itu kelompok Da’wah yang selalu mengedepankan kelembutan dan kesantunan. Mestinya Turis asing yang suka pakai kancut dan kutang depan umum yang dideportasi karena merusak moral. Ironisnya, Pangdam IV Diponegoro ikut-ikutan menyerukan agar semua orang asing berjubah, bersorban dan berjenggot agar dilaporkan ke aparat keamanan. Apa sih maunya?!!

    Karenanya, saya menyerukan agar Polri segera diletakkan di bawah Depdagri agar terkontrol dan tidak otoriter, sebagaimana TNI di bawah Dephan
    3. Dan saya serukan kepada Umat Islam agar jangan mau didikte Polri atau pun TNI soal Da’wah. Polri dan TNI jangan kurang ajar kepada para Ulama, Ustadz dan Da’i. FPI siap membantu, menjaga dan membela semua Ulama, Ustadz dan Da’i dari arogansi Polri dan TNI.

    4. Semoga Polri dan TNI tetap dijalurnya menjadi pengayom umat, bukan musuh umat.”

  2. PANGERAN ISLAM said

    KEBOBROKAN OKNUM POLRI (Bagian ke-1)
    POLRI Menyembunyikan Kejahatan Gories Mere

    (Sumber http://www.katakami.com)

    Jakarta 8/8/2009 (KATAKAMI) Tahukah anda film terbaru berjudul TRANSFORMERS yang sejak beberapa pekan ini ikut menghiasi kancah perfilman yang diputar di berbagai bioskop ? Trans Formers yang identik dengan MAHLUK ROBOT seakan mengilhami Detasemen Khusus (Densus) 88 yang memamerkan aksinya yang “ceritanya” atau “naga-naganya” hendak menangkap teroris NOORDIN M TOP.
    Hebatnya lagi, Densus 88 seakan kumat alias kambuh dengan cara memberikan EKSKLUSIF PEMBERITAAN kepada sebuah televisi swasta nasional.
    Dulu, selama kurang lebih 5 tahun — saat Komisaris Jenderal GORIES MERE memimpin Tim Anti Teror POLRI — dilakukan juga dengan sangat liar, lancang, licik dan sangat tidak tahu malu perbuatan tak pantas berupa EKSKLUSIF PEMBERITAAN hanya kepada satu televisi swasta yang dipimpin seorang sahabat dekat Gories Mere.
    Patut dapat diduga, dari pemberian EKSKLUSIF PEMBERITAAN selama bertahun-tahun itu aada aliran dana yang dinikmati sendirian oleh kubu (sok) eksklusif GORIES MERE. Kini, Densus “TRANSFORMERS” 88 Anti Teror POLRI kembali kumat dan kambuh memberikan EKSKLUSIF PEMBERITAAN itu.
    Hebatnya lagi, kok bangga memamerkan kepada publik aksi yang patut dapat diduga bau terasi karena mengandalkan ROBOT dalam menangani terorisme. Bubarkan saja Densus 88 Anti Teror dan ganti menjadi Detasemen Robot Anti Teror POLRI. Memalukan jika praktek penanganan yang sok canggih ala ROBOT TRANSFORMERS dibuka dan dibanggakan kepada publik.
    Pada era kepemimpinan Sutanto selama 38 bulan menjadi KAPOLRI, Jenderal kelahiran Comal (Pemalang) itu seakan tak berwibawa dan sangat tidak bergigi untuk bisa mengendalikan perilaku yang sangat liar, lancang, licik dan tidak tahu malu dari kubu GORIES MERE.
    Sehingga, pada era Sutanto aksi EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN itu merajalela dengan sangat kesetanan dan menganggap bahwa PERS NASIONAL adalah anak tiri alias warga negara kelas dua alias sampah yang tak perlu di gubris oleh POLRI.
    Setelah diprotes dengan sangat keras, akhirnya pertengahan Juli 2007 aksi EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN ala Gories Mere and the gang resmi dilarang dan dinyatakan sebagai PERBUATAN TERLARANG di dalam seluruh aktivitas penanganan terorisme.
    Kini, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri kembali menunjukkan ketidak-mampuannya dan ketidakberdayaannya mengendalikan Densus 88 Anti Teror POLRI yang patut dapat diduga mengais untung dan haus materi dengan cara memberikan EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN.
    Hanya satu televisi yang dibiarkan meliput dan menyiarkan “sok eksklusif” dengan memamerkan anak bawang yang sama — yang di era GORIES MERE memimpin langsung Tim Anti Teror — mendapatkan kekhususan.
    Tampaknya, patut dapat diduga GORIES MERE sangat ingin agar reporter perempuan muda yang seumur dengan anaknya ini, bisa naik daun dan menunjukkan eksistensi patut dapat diduga hendak dikarbit untuk bisa menjadi JURNALIS handal yang mengerti terorisme.
    Aduh, kasihan deh lo !
    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, juga Menko Polhukkam Widodo Adi Sucipto harusnya memiliki rasa malu dan kesadaran yang tinggi bahwa PEMERINTAH menjadi sangat tertampar dan ikut dipermalukan dengan aksi DISKRIMINASI dari POLRI dan Densus 88 Anti Teror kali ini yaitu dengan mengulangi PENYAKIT LAMA menempatkan PERS NASIONAL sebagai anak tiri alias warga negara kelas dua alias tidak adanya asas keadilan kepada seluruh wartawan dan seluruh media massa untuk mendapatkan akses dan bahan pemberitaan yang sama.
    Densus 88 bukan didirikan oleh dengan menggunakan otoritas dan keuangan dari nenek moyang Jenderal BHD, Komjen Gories Mere ataupun oknum pejabat POLRI lainnya.
    Densus 88 adalah sebuah Detasemen Khusus Anti Teror yang didirikan dengan menggunakan uang rakyat lewat anggaran negara serta dengan adanya bantuan dari Pemerintah AMERIKA SERIKAT.
    Darimana ceritanya, sepanjang Densus 88 didirikan maka bisa seenak jidatnya saja GORIES MERE mengkomersialisasikan Densus 88 Anti Teror untuk kepentingan pribadinya dan untuk menjabarkan perintah pribadinya ?
    Patut dapat diduga, POLRI sudah semakin tidak fokus dan hilang arah menangani bom MEGA KUNINGAN sehingga ada saja akal-akalan untuk mencari kambing hitam dan kesibukan yang dibuat-buat untuk menutupi kesalahan GORIES MERE yang terindikasi terlibat dalam BOM MEGA KUNINGAN !
    Kapolri BHD jangan mengulangi aksi tidak berbobot dari Jendearl SUTANTO saat menjabat dulu ketika gembong teroris dr Azhari dikabarkan meninggal dunai di Batu Malang (November 2005).
    Patut dapat diduga ada kebohongan publik yang telah dilakukan KAPOLRI SUTANTO dan GORIES MERE !
    Patut dapat diduga gembong teroris dr Azhari belum mati alias tidak benar mati tertembak.
    Ini terkuak saat Jenderal Ryamizard Ryacudu — Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat — menerima informasi dari seorang sahabat dekatnya yang menimba ilmu di Malaysia dan mendapat informasi dari sumber terpercaya di Malaysia bahwa patut dapat diduga dr Azhari masih hidup alias TIDAK BENAR KLAIM dari Indonesia gembong teroris itu sudah ditewaskan.
    Ini berkaitan erat dengan informasi yang diterima KATAKAMI dari seorang wartawan senior dari Kantor Berita ANTARA.
    Menurutnya, Mantan Kapolri Dai Bahtiar sempat menghubungi Sutanto lewat telepon untuk mengingatkan bahwa keputusan Sutanto untuk tidak perlu melakukan otopsi terhadap JENAZAH yang diklaim sebagai dr Azhari, akan menjadi bumerang dan ditertawakan oleh POLISI sedunia jika kematian “dr Azhari” itu tidak disertai OTOPSI.
    Kapolri BHD juga perlu diingatkan tentang aksi Densus 88 Anti Teror dibawah kendali GORIES MERE saat mengepung dan menyerang sebuah rumah di Wonosobo ala film action. Berjam-jam dikepung dan ditembaki karena konon kabarnya ada NOORDIN M TOP, ternyata nihil alias OMDO (Omong Doang !). Kumatnya POLRI memberikan EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN kepada sebuah media televisi saja, sangat mengecewakan dan pantas untuk dikutuk sekeras-kerasnya oleh PERS NASIONAL. Ini menjadi tren yang tidak sehat, tidak adil dan tidak pantas ditolerir oleh PEMERINTAH — yakni Presiden SBY dan Wapres JK –.
    Copot Kapolri BHD, Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji dan Kepala Densus 88 Anti Teror Brigjen Saut Usman Nasution.
    Memalukan sekali pada era keterbukaan dan transparansi seperti ini, masih punya muka dan masih punya nyali untuk menginjak-injak PERS NASIONAL. Mematut dirilah BHD, Susno dan Densus 88, pantaskah anda sekalian menganak-tirikan dan menempatkan PERS NASIONAL sebagai warga negara kelas dua ?
    Memangnya anda-anda itu siapa ?
    Hentikan EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN itu.
    Kasihan sekali, patut dapat diduga dampak dari semuanya itu adalah INDONESIA bisa dianggap sebagai warisan nenek moyang manusia bernama GORIES MERE karena masih tetap merajalela mendikte KAPOLRI, KABARESKRIM dan DENSUS 88 ANTI TEROR POLRI.

  3. PANGERAN ISLAM said

    KEBOBROKAN OKNUM POLRI (BAGIAN KE 2)

    POLRI Kehilangan Muka, Bukan Noordin M. Top Yang Mati Pada Melodrama Teroris Temanggung

    (Sumber data http://www.katakami.com)

    Jakarta 12/8/2009 (KATAKAMI) Akhirnya dengan penuh “keberanian”, MABES POLRI mengumumkan secara resmi bahwa mayat yang mereka tembak di Temanggung dengan HEBOH pada hari Sabtu (8/8/2009) lalu bukan NOORDIN M. TOP.
    Rasanya jadi terkenang lagi saat berita tentang “kematian” Noordin M. Top itu mendadak sontak mendunia tersebar kemana-mana. Bayangkan, jadi BREAKING NEWS di media-media raksasa dunia.
    Termasuk disiarkan juga di CNN dan jaringan televisi Al Jazeera !
    Sampai akhirnya, sempat timbul rasa “kecil hati” dari KATAKAMI karena cuma kami satu-satunya media yang tidak mempercayai dan yakin seyakin-yakinkan bahwa mayat itu bukanlah mayat Noordin M. Top. Kami sempat merasa “kesepian” dalam melanjutkan konsistensi pemberitaan terkait penanganan terorisme.
    Tapi akhirnya, semua kontroversi itu dijawab sendiri oleh MABES POLRI. Tidak benar ada pengepungan, penyerbuan, penangkapan atau penembakan ala robot TRANS FORMERS kepada NOORDIN M. TOP.
    Tidak benar bahwa Noordin M. Top membangun dan menjalankan jaringan terorismenya di PULAU JAWA !
    Hari ini, bisa jadi merupakan hari yang paling membahagiakan untuk Abdul Hakin Ritonga karena pada hari inilah ia dilantik menjadi WAKIL JAKSA AGUNG menggantikan Muchtar Arifin yang sudah memasuki masa pensiun sejak beberapa bulan lalu.
    Tapi bagi POLRI, hari ini adalah hari yang sangat memalukan dan bisa disebut hari yang benar-benar paling MEMALUKAN ! Khususnya bagi Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror POLRI dan jajaran BARESKRIM POLRI.
    Bantahan juga sudah disampaikan MABES POLRI perihal penayangan EKSKLUSIF PEMBERITAAN saat Noordin M Top abal-abalan itu dikepung, diserbu, diberondong, diledakkan dan ditewaskan Densus 88 Anti Teror yaitu penayangan siaran langsung itu tidak ada kaitan dengan MABES POLRI.
    Ya, tidak mungkinlah tidak ada kaitannya.
    Kalau misalnya ada sebuah pemberitaan — apalagi bersifat LIVE atau siaran LANGSUNG yang berpotensi mengganggu situasi keamanan dan membocorkan rahasia negara selama lebih dari 5 menit saja, sudah menjadi kewajiban bagi POLRI untuk segera melakukan koordinasi dan penindakan hukum. Ini kok dibiarkan BOSS, sampai belasan bahkan puluhan jam !
    Patut dapat diduga, KAPOLRI Bambang Hendarso Danuri memang memberikan IZIN PEMBERITAAN EKSKLUSIF kepada sebuah televisi swasta nasional dan itu harus dipertanggung-jawabkan.
    Patut dapat diduga, KAPOLRI Bambang Hendarso Danuri sudah secara sengaja membangun opini publik lewat dimunculkannya siaran EKSKLUSIF itu bahwa gembong teroris Noordin M. Top sudah mati selamanya dan akhirnya POLRI tidak terbebani lagi untuk mengudak-udak PAK CIK NOORDIN sampai akhir zaman.
    Tidak ada kata lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus mencopot Kapolri Bambang Hendarso Danuri. Ini akan menjadi duri dan beban sejarah yang sangat memalukan pemerintahan SBY. Kemenangan yang gemilang pada Pilpres 2009 akan ternodai dan terus terbebani oleh sejarah buruk tentang kesalahan fatal DENSUS 88 — khususnya POLRI — dalam melodrama terorisme yang mengambil lokasi shooting di TEMANGGUNG.
    Tidak ada kata lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus mengubah secara secara total struktur kepemimpinan di MABES POLRI. Dari mulai Kapolri, Wakapolri, Irwasum Polri, Kabareskrim POLRI dan Kepala Densus 88 Anti Teror, semua perlu diberi sanksi yang sangat amat tegas.
    Dimana peran PENGAWASAN yang dipegang oleh Irwasum Komjen Jusuf Manggabarani ?
    Masak, ada siaran langsung dalam penanganan terorisme yang notabene adalah OPERASI “TOP SECRET” sangat amat rahasia dari POLRI, bisa-bisanya dibiarkan sampai belasan bahkan puluhan jam ? Bagaimana kalau ketika itu OSAMA BIN LADEN terbangkitkan emosinya karena melihat gaya aparat keamanan Indonesia yang OVER ACTION, lalu memutuskan untuk mengirimkan satu ledakan dashyat ke Indonesia ?
    Siaran langsung itu sudah mempertaruhkan keselamatan bangsa, negara dan rakyat INDONESIA !
    SBY sangat keterlaluan kalau membiarkan dan mendiamkan kesalahan fatal MABES POLRI ini. Tidak ada kata lain, copot semua yang terkait dan ikut bertanggung-jawab atas adanya kesalahan fatal penembakan NOORDIN M. TOP dan siaran langsung yang patut dapat diduga memang DIBERIKAN HAK EKSKLUSIF oleh MABES POLRI bagi sebuah televisi swasta untuk menyiarkannya secara langsung.
    Copot dan jangan ada lagi dalih pembenaran dari jajaran POLRI !
    Kepada KATAKAMI Selasa (12/8/2009) lewat wawancara khusus, KYAI HAJI SOLAHUDIN WAHID mengatakan bahwa kesalahan fatal POLRI dalam gunjang ganjing soal kesalahan tembak ini adalah karena tidak adanya koordinasi antar lembaga intelijen.
    “Begini, saya pribadi tetap ingin memberikan apresiasi terlebih dahulu terhadap POLRI. Kita jangan terlalu memojokkanlah. Tapi, yang POLRI harus tahu disini adalah POLRI tidak punya koordinasi dengan jajaran intelijen lainnya, yaitu dari TNI misalnya. Semua angkatan di TNI punya intelijen, mengapa tidak dilibatkan dalam penanganan terorisme kalau misalnya di Temanggung ada Noordin M. Top” kata Solahudin Wahid.
    Ketika diberitahukan oleh KATAKAMI bahwa patut dapat didga, sejak Tim Anti Teror POLRI ditangani oleh Komisaris Jenderal GORIES MERE pada penanganan bom malam Natal tahun 1999 — Tim Anti Teror POLRI memang tidak pernah mau dan tidak pernah bisa menjalin koordinasi (jangankan berkoordinasi dengan TNI, untuk berkoordinasi dengan Divisi Intelijen & Keamanan di MABES POLRI sendiripun tidak pernah mau karena terpaku pada EGO SEKTORAL), Solahudin Wahid mengaku sangat kecewa.
    “Oh begitu informasi di kalangan wartawan ya bahwa selama ini memang tidak pernah bisa berkoordinasi ? Mau jadi apa Densus 88 kalau berkoordinasi di bidang intelijen saja tidak mau dan tidak mampu ? Lalu, mau dibawa kemana penanganan terorisme di Indonesia ini kalau cuma jago-jagoan saja sendiri menangani terorisme. Iya kalau benar penanganannya ? Coba bayangkan saja, saya saja waktu lihat siaran yang heboh itu sampai berpikir, wah jangan-jangan yang ada didalam rumah itu lebih dari 8 orang teroris. Eh, gak tahunya cuma seperti itu saja. Sampaikanlah kepada POLRI, jadikan ini sebagai pelajaran !” lanjut KH Solahudin Wahid.
    Sementara itu lewat wawancara dengan KATAKAMI Selasa (12/8/2009) siang, pengamat politik ADHIE MASSARDI mengatakan bahwa POLRI harus mengakui telah GAGAL TOTAL dalam mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan penanganan terorisme selama ini.
    “POLRI harus mengakui bahwa selama ini cara mereka mengkomunikasikan soal masalah penanganan terorisme itu gagal total. Ke depan harus bisa lebih baik agar jangan BLUNDER secara berkepanjangan. Kalau POLRI berkomunikasi ke masyarakat saja GAGAL TOTAL seperti selama ini untuk menginformasikan kepada masyarakat soal penanganan terorisme maka lama-lama POLRI akan KRISIS KEPERCAYAAN. Masyarakat sudah tidak mau mempercayai POLRI lagi” kata Adhie Massardi.
    Adhie Massardi menilai bidang komunikasi yang sangat amat buruk sejak Divisi Humas POLRI ditangani Irjen Nanan Soekarna memang patut disayangkan.
    “Beritahukan saja kepada POLRI bahwa mereka butuh ahli komunikasi, pakar dalam komunikasi yang memberikan masukan dan strategi-strategi berkomunikasi yang justru menguntungkan POLRI. Bukan malah memperburuk situasi dan menyudutkan POLRI. Pakar komunikasi itulah yang harus diajak bicara terlebih dahulu sebelum POLRI menyampaikan sesuatu kepada masyarakat. Jadi POLRI butuh seseorang yang sangat ahli dalam mamahami seluk beluk komunikasi. Jangan diulangi lagi ketertutupan komunikasi yang sangat parah dalam penanganan terorisme selama bertahun-tahun ini. Dan giliran dikomunikasikan malah gagal total” ungkap Adhie Massardi.

    Sedangkan Direktur Lembaga Kajian Syariat Islam FAUZAN AL ANSHARI mengatakan kepada KATAKAMI lewat pembicaraan telepon bahwa POLRI terlalu mengada-ada dalam menyampaikan berbagai keterangan seputar masalah terorisme.
    “Ini kan semua membingungkan masyarakat. Minggu lalu dihebohkan Noordin M. Top mati ditembak di Temanggung. Orang lantas mencibir, masak mudah sekali menembak mati seseorang yang katanya ahli bom paling hebat dan komandan Al Qaeda di Asia sekelas Noordin M. Top. Sekarang dibantah bahwa itu bukan Noordin M. Top tapi Ibrohim. Lho, waktu POLRI mengumumkan soal hasil penanganan bom Mega Kuningan bahwa salah satu korban tewas adalah Ibrohim tapi akhirnya diberitahukan bahwa hasil tes DNA tidak cocok dengan seseorang yang disebut Ibrohim. Sekarang Ibrohimnya dihebohkan mayat di Temanggung. Yang benar yang mana sih ? Kita harus ikut dibingungkan oleh kebingungan POLRI” kata Fauzan Al Anshari.
    Melodrama “Temanggung” — seperti istilah yang digunakan Kyai Haji Solahudin Wahid menjadi ANTIKLIMAK penanganan terorisme di Indonesia. Dan itu adalah kesalahan fatal yang sulit termaafkan oleh masyarakat Indonesia terhadap POLRI.
    Masihkah SBY mau membiarkan carut marut penanganan terorisme ini tetap STATUS QUO tanpa kemajuan yang berarti ?
    Masihkah SBY mau mendiamkan saja ketidak-mampuan Kapolri BHD dan Kabareskrim Susno Duadji terus tetap menjadi beban moral bagi MABES POLRI secara institusi ?
    POLRI harus punya rasa malu dan memang tahu malu karena patut dapat diduga DENSUS 88 terbuka secara telanjang bulat semua kekeliruan dan keterbatasan tugas yang mengecewakan masyarakat.
    Inilah yang namanya, “MANUSIA MERENCANAKAN, TETAPI TUHAN YANG MENENTUKAN !”

  4. PANGERAN ISLAM said

    KEBOBROKAN OKNUM POLRI (Bagian ke-3)

    OKNUM KABARESKRIM (GORIES MERE) BERSELINGKUH DENGAN OKNUM POLWAN DAN BERMAIN KELENIK UNTUK MEMBUNUH ATASANNYA.

    (Sumber data : http://www.katakami.com)

    JAKARTA (DOKUMENTASI KATAKAMI DESEMBER 2008) Bukan sulap sembarang sulap. Ini memang fakta yang terjadi sebenarnya. Kalau didepan media massa, ada Pejabat Negara yang hobi memamerkan perilaku yang “sok santun” tetapi ternyata dibelakang layar sangat klenik !
    Menjelang akhir tahun 2008 lalu, seorang Pejabat Negara mengutus “sang isteri” untuk mendatangi seorang Paranormal untuk menjatuhkan sesama Pejabat Negara. Bahkan ke Paranormal yang sama, seorang Polwan dari Polda Metro Jaya datang untuk mengurus hubungannya dengan seseorang yang diduga sebagai kekasih gelapnya sesama POLISI dan sesama berasal dari NUSA TENGGARA TIMUR. Pasalnya, sang Polwan merasa sejak setahun terakhir sudah tidak dibiayai lagi.
    Dibandingkan isteri sang Pejabat Negara, sebenarnya yang lebih dulu datang bertamu ke rumah sang Paranormal itu seorang Polwan. Rumah Sang Paranormal itu di daerah ujung Cinere Jakarta Selatan (lokasi tepatnya, tidak bisa kami sebutkan).
    Menggunakan rok, sang Polwan ditemani seorang temannya.
    Sebutlah nama Paranormal itu “Matahari” (kami mohon maaf, berdasarkan kesepakatan, inisial nama, nama lengkap, lokasi kediaman dan jenis kelamin Paranormal tidak akan kami muat disini).
    Matahari menerima kedua orang tamunya awal Oktober lalu. Sang Polwan membawa foto seorang Perwira Tinggi. Yang pertama dibicarakan adalah soal macetnya pembiayaan dari Perwira Tinggi kepada Sang Polwan.
    “Saya ini saudaranya, isteri Bapak ini selingkuh, jadi saya yang mengurus” begitu kata Si Paranormal meniru kata-kata si Polwan yang kuat merokoknya.
    Paranormal ini tahu bahwa si Polwan itu menipu.
    Sebab, Paranormal itu tahu siapa gerangan Perwira Tinggi yang ada didalam foto, yang dibawa oleh Sang Polwan. Perwira Tinggi itu dikenal sebagai oknum yang sangat tidak terkendali kecenderungannya untuk menyadap secara liar dan ilegal.
    “Saya ini sudah belasan tahun dibiayai hidupnya oleh Bapak ini, tetapi sejak setahun terakhir berkurang. Apa ada perempuan lain ? Coba dilihat ! Lalu soal pekerjaan Bapak ini, baru-baru ini gagal jadi Kapolri. Ya, karena Bapak ini berani orangnya. Tapi tolong dibantu biar bisa menjadi … (menyebutkan sebuah jabatan)” lanjut si Polwan.
    Foto tersebut ditinggalkan di rumah si Paranormal dengan perjanjian akan kembali lagi untuk mendapatkan hasil “jejampian” yang tokcer.
    Sang Polwan tidak mengetahui bahwa foto itu langsung dibakar dan Si Paranormal tidak ingin berurusan dengan Perwira Tinggi tersebut sebab sudah santer terdengar bahwa Si Perwira Tinggi dari Indonesia Timur tersebut sangat kuat penggunaan klenik yang lebih “hitam”.
    Sampai dengan hari ini, Paranormal tersebut terus berusaha menghindar dan tidak mau ditemui oleh Sang Polwan tadi. Sebab, Sang Paranormal tahu betapa buruk “bisik-bisik yang berhembus mengenai Perwira Tinggi tadi. Dan Sang Paranormal itupun sudah sangat tahu bahwa antara Sang Polwan dan perwira Tinggi tersebut konon kabarnya memang ada “hubungan gelap”.
    ( Paranormal itu bisa kami pertemukan dengan Ibunda dari GORIES MERE & Isteri dari GORIES MERE jika memang diperlukan untuk menyingkirkan kotoran busuk dalam keluarga besar dan rumah tangga. Apalagi patut dapat diduga, saat ini oknum POLWAN ini masih tetap diberikan FASILITAS RUMAH di kawasan Tebet oleh Gories Mere yaitu rumah bertingkat yang memiliki paviliun. Sahabat perempuan yang menemani dan menjadi saksi bahwa oknum perempuan ini mendatangi PARANORMAL adalah sahabatnya yang bernama LOLA).
    Tak disangka-sangka, Si Paranormal juga mendapatkan kunjungan dari seorang isteri Pejabat Tinggi Negara. Untuk menutupi identitasnya, isteri yang “licik” ini menggunakan kursi roda.
    Kedatangan pertama adalah hari Minggu 9 November 2008, bertepatan dengan hari eksekusi ketiga terpidana mati kasus Bom Bali I, Amrozi, Imam Samudera dan Ali Ghufron. Kedatangan berikutnya adalah hari Kamis 13 November 2008. Sama dengan kedatangan pertama, kedatangan kedua juga berpura-pura menjadi orang cacat.
    Isteri yang mempunyai “sakit khusus” di bagian kepala ini, menyampaikan keluhan sang suami bahwa ada sejumlah Pejabat Tinggi Negara yang selalu menghalangi dan mengganggu pekerjaan sang suami tercinta. Singkat kata, tolong ditutup, diganggu dan dijatuhkan sejumlah nama Pejabat Tinggi Negara.
    Pada kedatangan yang pertama, isteri pejabat tadi menggunakan nama samaran. Di salah satu tangannya penuh dengan gelang emas. Ia meminta kepada Sang Paranormal agar cincin suaminya “dibersihkan”.
    Dan betapa terkejutnya Sang Paranormal, cincin itu bertahtakan 44 butir berlian !!!
    Sesama Pejabat Negara yang diduga mau dijatuhkan itu adalah beberapa Pejabat di sebuah Instansi yang terletak di kawasan Blok M. Instansi ini sempat dihebohkan oleh kasus penangkapan seorang bawahan. Kami sempat terkesima, bayangkan … beberapa hari sebelumnya, kami masih bertemu dengan Pejabat-Pejabat dari Instansi ini dalam sebuah kegiatan yang mereka adakan di Kawasan Setiabudi Jakarta Selatan.
    Pejabat berikutnya, diduga yang berkantor tidak jauh dari Instansi pertama yang kami sebutkan. Diseberang Instansi yang satu ini adalah lapangan sepakbola.
    Inilah hidup yang serba penuh misteri.
    Tidak ada satupun Pejabat Negara yang mau dijatuhkan oleh “suami isteri klenik” ini, yang mengganggu atau menghambat pekerjaan si suami klenik.
    Semuanya hanya berdasarkan arogansi yang kebablasan dari si suami yang haus popularitas dan tak sanggup menguasai dirinya saat menerima jabatan yang penuh “kekuasaan”.
    Jika memang ia umat yang beragama, untuk apa ke Paranormal dan bermain klenik ?
    Kalau saja masyarakat Indonesia tahu, terutama media massa secara keseluruhan, Pejabat Negara yang doyan klenik ini akan malu luar biasa. Selama setahun ini, ia berusaha mendongkrak citra lewat penanganan kasus demi kasus hukum.
    Kalau saja masyarakat Indonesia tahu, terutama media massa secara keseluruhan, Pejabat Negara yang sebenarnya pernah berkantor di Instansi yang terletak di kawasan Blok M tadi, pasti akan malu karena isteri yang tidak cacat disuruh pura-pura menjadi orang cacat. Sehingga, saat mendatangi Sang Paranormal digunakanlah kursi roda.
    Hebatnya lagi, sebelum sang isteri yang pura-pura cacat tadi datang, sepuluh hari sebelumnya atau sekitar akhir bulan Oktober 2008, Si Pejabat Negara yang liar berklenik tadi mengirimkan seorang dukun ilmu hitam untuk mendatangi rumah Sang Paranormal. Pura-pura membutuhkan tumpangan, sesama Orang Pintar tadi bertemu secara langsung dan akhirnya si dukun ilmu hitam diizinkan menginap.
    Namanya ? Mirip nama ikan belut. Yaitu, Mbah …. (kepastiannya tidak bisa kami tuliskan disini).
    Kabarnya, kedatangan itu untuk “mengamankan dan membuka jalan” bagi Sang Isteri agar aman bertemu leluasa dengan Si Paranormal. Si Pejabat Negara ketakutan jika bocor ke media massa.
    Si isteri klenik ini, sempat membawa buah tangan parsel buah yang masing-masing buah diberi sepasang (dua buah). Bahkan si isteri klenik tadi, menjanjikan untuk memberi hadiah kain songket Kalimantan, sepulangnya dari kunjungan keluar negeri. Ia ingin datang kembali ke rumah Paranormal.
    Tapi apa daya, KATAKAMI.COM mendapatkan bocoran mengenai semua itu secara gamblang dan tuntas. Betapa menyedihkan, jika ada umat beragama yang jatuh lebih percaya kepada kekuatan sihir dan ilmu klenik.
    Informasi awal mengenai hal ini kami dapatkan dari laporan masyarakat.
    Kemudian, dalam beberapa hari terakhir ini kami mengadakan investigasi mendalam dan mendapatkan hasil seperti ini. Sayang, cincin bertahtakan 44 butir berlian tadi sudah terlanjur dikembalikan kepada Si Pejabat Tinggi itu. Kalau tidak, kami sudah bermaksud untuk memotret cincin itu dan memasang gambarnya di layar KATAKAMI.COM.
    Sang Paranormal sangat terkejut luar biasa ketika diberitahu oleh KATAKAMI.COM bahwa beberapa nama yang disebutkan isteri Pejabat Tinggi tadi, adalah Pejabat-Pejabat penting yang samasekali tidak bersalah kepada Pejabat klenik tersebut.
    Berdasarkan panggilan moral untuk ikut berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara, kami membujuk Si Paranormal untuk mencabut dan memulihkan kembali semua “karya” dirinya selama sebulan ini kepada sejumlah Pejabat Tinggi negara.
    Kebetulan, kami mengenal baik setiap nama yang dijadikan target sasaran. Terbayang wajah-wajah Para Pejabat Tinggi Negara itu, mereka sudah begitu tulus, iklas dan sangat berdedikasi untuk mengabdi kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia.
    Semua orang tidak akan ada yang menyangka, kelakuan dari suami isteri klenik yang munafik ini. Bayangkan, beberapa orang yang mau dijatuhkan itu adalah “Orang Nomor Satu” di Jajaran mereka. Mohon maaf, untuk detailnya kami tidak bisa memuatnya disini.
    Paranormal itu langsung bersedia untuk memulihkan segala sesuatu yang sempat ia buat agar menjadi “kusut dan tertutup”. Yang lebih mengejutkan, bukan cuma satu Paranormal, tetapi masih ada sederet Paranormal lain yang patut diduga dikerahkan oleh pasangan suami isteri klenik tadi untuk dijatuhkan.
    Mengapa begitu sulit untuk memberikan penghargaan dan penghormatan kepada sesama Pejabat Tinggi Negara ? Mengapa sangat tak percaya kepada kekuatan Ilahi yang sangat murni dan agung nilainya ?
    Dan menutup tulisan ini, pasangan suami isteri klenik tadi, mencantumkan juga dua orang wartawati yang masuk jadi target sasaran mereka. Biarlah cuma kami yang mengetahui kedua identitas wartawati tadi.
    Kami pun sadar, betapa besar resiko mengungkapkan fakta dan hasil temuan investigasi kami. Seperti biasa, tindakan pengrusakan terhadap jaringan internet media kami, serta penyadapan liar berupa pencurian SMS-SMS akan semakin gencar dilakukan.
    Que sera sera, What ever will be will be.
    Biarlah terjadi, apa yang memang harus terjadi. Sebab kami, media yang memang menjunjung tinggi pentingnya faktor kepercayaan dari para PEMBACA. Sehingga, kebenaran akan selalu kami kemukakan.
    Kami mempercayai kebenaran dari kalimat bijak ini, “Kebenaran ibarat air sungai yang mengalir, ia akan tetap mengalir walaupun dibendung sekeras apapun”.
    Oh ya, kami hampir saja lupa menginformasikan berapa jumlah uang yang diberikan isteri Pejabat Negara tadi. Luar biasa … hanya Rp. 500 ribu.
    Kami katakan kepada Sang Paranormal, “Uang Limaratus ribu itu terlalu kecil nilainya, untuk maksud dan tujuan yang sejahat ini. Tolong, jangan jatuhkan para Pejabat tadi. Mereka tidak bersalah. Kasihan, kalau harus diserang dan ditekan dengan beragam ilmu yang macam-macam. Tolong, tolong, tolong”.
    Syukurlah, satu Paranormal bisa “kembali ke jalan benar” dan bisa diajak berpikiran waras demi kepentingan bangsa.
    (MS)
    Lampiran :
    Kapolri & Pak Wakapolri, Ada Oknum Polwan Yang Main Ancam Mau Menembak Orang. Plis Deh, Mau Kayak Briptu Hance Ya ?

    EKSKLUSIF
    Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemimpin Redaksi
    Jakarta 12 MARET 2009 (KATAKAMI) Begitu banyak pembaca yang ingin tahu kelanjutan kisah tentang oknum POLWAN yang patut dapat diduga berselingkuh sana sini. Sesungguhnya kami tidak tega juga menyampaikan semua perkembangannya sebab sangat “buruk rupa” dari sisi moralitas.
    Tapi baiklah, sedikit saja kami akan sampaikan beberapa hal yang pasti akan sangat mencengangkan dan mengejutkan bagi banyak pihak. Terutama kepada para petinggi di JAJARAN KEPOLISIAN. Tahukah anda, apa saja kelakuan dari si oknum polwan ini ?
    Kepada kATAKAMI.COM beberapa hari lalu, seorang Ibu muda yang berprofesi sebagai PARANORMAL mengaku bahwa ia mendapat ancaman penembakan dari oknum POLWAN ini.
    “Polwan itu mengatakan kepada temannya bahwa ia akan menembak saya. Teman yang diajak bicara oleh Polwan itu langsung memberitahu saya agar hati-hati. Saya sih pasrah saja Mbak. Saya juga dihubungi oleh orang yang mendampingi Polwan ini menemui seorang Perwira Tinggi berinisial GM pada tanggal 18 Desember 2008 lalu. Oknum Perwira Tinggi itu memerintahkan kepada Polwan itu untuk datang ke sebuah restoran kecil di Jalan Dr Saharjo Jakarta Selatan sekitar Pukul 14.30 WIB. Selama 2 jam mereka bicara. Tetapi tidak berdua karena Perwira Tinggi itu tidak sudi menemui Polwan ini berduaan. Dihadapan orang, Polwan ini ditampar mukanya berkali-kali oleh Perwira Tinggi itu. Dan saya langsung dihubungi dari restoran itu oleh orang yang ikut dalam pertemuan itu. Semua diceritakan kepada saya,” kata Ibu muda ini dengan suara lirih saat menemui KATAKAMI.COM baru-baru ini untuk menceritakan rangkaian teror yang diterimanya dari oknum Polwan tadi.
    “Ditampar, kenapa ditampar Bu ?” tanya KATAKAMI.
    “Menurut orang yang ikut dalam pertemuan itu, Perwira Tinggi ini sudah kehabisan kesabaran. Kelakuan Polwan itu sudah sangat mempermalukan, terutama perihal kabar PERSELINGKUHAN Polwan ini dengan seorang wartawan senior yang sudah berkeluarga. Sebab, Polwan khan masih terus dapat BIAYA HIDUP dari Perwira Tinggi itu. Setelah terus DIBIAYAI HIDUPNYA, malah untuk berhubungan dengan lelaki lain. Saya malah diceritakan bagaimana bahasa yang digunakan, kau minta uang tapi untuk dipakai untuk CUKI .. ! Kepala si Polwan itu di kelepak,” jawab Ibu PARANORMAL itu.
    “Waduh, benar-benar ada selingkuh rupanya, buktinya terus dibiayai. Hebat betul ya, terus si Polwan SELINGKUHAN JENDERAL itu bagaimana reaksinya ?” tanya KATAKAMI lagi.

    Oknum Polwan yang mengancam akan menembak paranormal … weleh weleh, serem amat !
    “Nangislah Mbak, bisa apa dia. Mewek. Nangis meraung-raung. Bikin malu saja. Dan itu disaksikan orang. Di tempat terbuka kok. Dulu, Polwan ini dikasih RUMAH di daerah Bekasi, orangtuanya si Polwan ikut mendiami rumah itu. Tapi si Polwan ini bikin masalah, urusan moral juga. Dia dianggap SELINGKUH dengan seorang Pria Non Pribumi. Pemberian RUMAH di Bekasi itu ditarik oleh Perwira Tinggi tadi. Belakangan dikasih 2 RUMAH sekaligus, dekat rumah si Perwira Tinggi itu di Tebet. Yang satu bertingkat 2 ukuran 500 meter persegi dan ada paviliunnya sekitar 200 meter persegi. Nah waktu kejadian ditampar bulan Desember itu, rumah pemberiann yang bertingkat malah diminta lagi oleh Perwira Tinggi itu. Kasarnya, Polwan ini diusir. Tapi anehnya masih tetap dikasih RUMAH yang kecilan” ungkap si IBU PARANORMAL.
    “Lucu benar ya, rumah sudah dikasih kok diminta lagi. Kalau cuma bawahan, kok sampai dikasih 3 rumah. Ada hubungan gelap apa itu. Banyak sekali rumah yang dikasih, apa isteri dan anak-anaknya tidak tahu kalau si Perwira Tinggi itu seperti juragan rumah dan memberikan 3 rumah sekaligus kepada SELINGKUHANNYA yang malah sudah berselingkuh dengan pria beristri lainnya. Ada apa ya, kok ngotot sekali mempertahankan hubungan gelap yang jelas-jelas melanggar hukum dan norma-norma agama seperti ini ! Pakai acara menampar dan memukul kepala. Harusnya perwira tinggi ini dilaporkan ke POLRI, bisa dipidana karena melakukan kekerasan kepada perempuan. Dan bisa dicopot dari jabatannya karena melakukan hubungan asusila dan bobrok moralnya” kata KATAKAMI.
    Lalu, bagaimana ceritanya sampai ada ancaman penembakan itu ?

    Sang PARANORMAL ini mengisahkan seperti ini,
    “Jadi Mbak, setelah kejadian yang sangat tragis, dia ditampari berulang kali oleh Perwira Tinggi tadi – naik pitamlah si Polwan karena ia merasa bahwa saya yang menghalangi hubungannya dengan Krng (inisial nama wartawan senior asal NTT yang kini menjadi kekasih gelap si oknum Polwan, redaksi). Darimana ceritanya saya menghalangi. Justru saya tidak mau ikut campur. Gak Cuma saya yang dapat ancaman penembakan. Saya juga diberitahu oleh sahabat si Polwan itu bahwa si Polwan ini pernah mendatangi seorang reporter muda belia dari sebuah media televisi yang seumur dengan anak perempuan si Bapak itu. Kabar kedekatan dengan reporter muda itu kan sudah kemana-mana beritanya. Polwan itu janjian bertemu di satu tempat dengan si reporter. Lalu, si reporter tadi diancam agar jangan pernah lagi mendekati si Perwira Tinggi dengan mengatakan … Saya tembak kamu kalau berani-berani mendekati Pak GM ! Gitu katanya. Sahabat si Polwan itu yang langsung menghubungi dan memberitahu saya mengenai kejadian itu” ungkap si PARANORMAL.
    Luar biasa.
    Si PARANORMAL melanjutkan lagi ceritanya tentang hasil pertemuan yang penuh tamparan untuk si oknum Polwan yang gemar merokok CAPRI ini.
    “Pertemuan sebelum NATAL itu, dipakai si Perwira Tinggi itu untuk mengatakan bahwa si Polwan jangan sok ikut campur terhadap semua urusan dan kehidupan si Perwira Tinggi. Urusan apa saja. Si Bapak itu bilang bahwa si Polwan itu tidak tahu diri dan harus tahu diri bahwa dia itu siapa, dia bukan siapa-siapa. Jadi maksudnya jangan lancang ikut campur. ” Kata si PARANORMAL.
    Akibat sakit hati, akhirnya si Oknum Polwan yang modal airmata saat diusir dari tumpangan rumah yang diberikan, yang jadi sasaran tembak justru sang PARANORMAL yang tidak bersedia memberikan bantuan apapun kepada oknum Polwan ini.

    Tetapi, sahabat dekat dan sejumlah warga NTT (teman sedaerah dari oknum Polwan ini) sangat banyak yang mengenal baik dan bersimpati pada sang PARANORMAL dari daerah Solo ini. Sehingga, semua bisa diketahuinya.
    Itulah sebabnya, saat si oknum Polwan itu ditampari dan diusir secara tegas, langsung dari lokasi pertemuan itu si PARANORMAL bisa dihubungi oleh sahabat si Polwan.
    Oknum Polwan ini, perlu mendapat tindakan tegas dari Pimpinan POLRI. Apakah harus menunggu sampai mati bergelimpangan sejumlahg korban akibat brutalisme penggunaan senjata api, baru nanti ada tindakan tegas ?
    Oknum Polwan yang bertugas di Direktorat Narkoba jajaran Kepolisian tertentu ini, harus secepatnya dipindahkan ke bagian administrasi di Polda lain yang ada di daerah agar jangan memberikan ancaman kepada banyak orang. Betapa buruknya pengawasan dari atasan jika ada bawahan yang sisi moralitasnya sangat buruk.
    Oktober 2008, oknum Polwan ini mendatangi ibu PARANORMAL yang bermukim di daerah Krukut (Cinere) Jakarta Selatan. Ia meminta agar seorang Perwira Tinggi “dipaksa” untuk mau memberikan uang sebagai biaya hidup. Namun permintaan si oknum Polwan ini t idak digubris oleh sang PARANORMAL.
    Hal ihwal tentang perilaku oknum Polwan ini sudah pernah kami sampaikan secara lisan kepada Irjen Adang Firman (semasa menjadi Kapolda Metro Jaya).
    “Tolong diperhatian dan diawasi Pak, sudah mulai aneh-aneh kelakuan Polwan itu” kata KATAKAMI kepada perwira tinggi berbintang dua tersebut saat bertemu dalam acara peringatan HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA bulan Desember 2008.
    *****
    Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, khususnya Ibu Nani Bambang Hendarso Danuri, apakah akan mendiamkan saja jika ada oknum Polwan yang sangat morat-marit moralitasnya seperti ini ?
    KATAKAMI.COM beberapa kali bertemu dan berbicara dengan Ibu Nani Bambang Hendarso Danuri. Beliau figur Ibu yang sangat lembut dan penuh belas kasih. Santun sekali. Kami ingin beliau tahu bahwa ada salah seorang “anak” beliau di jajaran Kepolisian, bertingkah laku yang sangat memalukan.
    Lalu Wakapolri Komjen Makbul Padmanegara dan Ibu, apakah juga akan mendiamkan ada oknum Polwan yang main ancam sana sini untuk ditembak dengan senjata apinya ? Apalagi ancaman itu datang kepada seorang jurnalis muda ?
    Irwasum Polri Komjen Jusuf Manggabarani dan Kepala Divisi Propam Polri Oegroseno, apakah akan mendiamkan saja indikasi penyimpangan semacam ini ?
    Dimana letak kemacetan reformasi birokrasi jika ada seorang oknum Polwan dibiarkan mengancam dengan senjata apinya kesana kemari, lalu menggoda dan merusak rumah tangga orang lain ?
    Apakah sudah lupa dengan kejadian seorang anggota Provost menembak mati atasannya sendiri ?
    Briptu Hance Christanto pada bulan Maret 2007 menembak mati Wakapolwiltabes Semarang. Aksi penembakan tanggal 14 Maret 2007 itu menyebabkan Lilik Purwanto tewas di tempat. Ia ditembak berulang-ulang dari arah depan dan belakang oleh tersangka Briptu Hance Christanto. Sedikitnya, berdasarkan pemeriksaan di Labfor ada 14 butir peluru masuk ke tubuh korban.
    Kalau Hance Christanto menembaki secara brutal atasannya sendiri, bukan tidak mungkin satu saat nanti oknum Polwan ini menembaki perempuan mana saja yang dianggapnya sebagai saingan atau ancaman yang kriterianya hanya berdasarkan halusinasinya.
    Oknum Polwan yang tak berprestasi ini, tak layak untuk bertugas di sebuah Direktorat bergengsi yang terletak di kota besar.
    Presiden dan Wakil Presiden perlu mengamati gejala sosial yang menjangkiti polisi. Mundur atau morat-matirnya moralitas anggota polisi, akan menjadi tolak ukur berhasil atas tidaknya reformasi birokrasi POLRI.
    Reformasi Birokrasi POLRI bukanlah reformasi jika masih ada oknum polisi yang seenak jidatnya mengancam orang tak benar-benar tak bersalah dengan kata-kata, “SAYA TEMBAK KAMU NANTI !”.
    Waduh waduh waduh. Oknum polwan ini lebih cocok jadi bintang film saja di film action yang dipadukan dengan unsur horor dan mistik.
    Ih, serem deh ! Dar der dor, mending kalau yang mati di tembak bandar narkoba atau teroris. Ini bisa-bisa yang jadi korban justru warga sipil tak bersenjata, yang ketiban sial karena si oknum Polwan sedang “kumat” sakit moralitasnya.
    Tolong. Plis deh … sekali-sekali, coba arahkan moncong senjata api itu ke jidat sendiri dan tarik pelatuknya. Ketika peluru tajam itu menembus masuk, enak atau tidak rasanya ? Mati atau hidup kalau menembak diri sendiri ? Lakukan dulu kepada diri sendiri sehingga jangan seenaknya menyakiti atau mengancam orang lain. Apalagi mengancam wartawan. Sekali lagi, plis deh … !
    Oknum polwan dan oknum perwira tinggi itu, sudah sepantasnya dicopot dan DIBERHENTIKAN SECARA TIDAK HORMAT karena patut dapat diduga sangat kotor dan buruk moralitasnya, ini bisa menjadi virus yang sangat berbahaya dari rumah tangga atau keluarga dari KELUARGA BESAR POLRI.

  5. PANGERAN ISLAM said

    KEBOBROKAN OKNUM POLRI (Bagian ke-4)

    Jika Terlibat Bekingi Narkoba, Adili & Beri Vonis MATI Komjen Gories Mere !

    Sumber data (www.katakami.com)

    Jakarta (DOKUMENTASI KATAKAMI MARET 2009) Hampir 3 bulan kontroversi kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas menguak ke permukaan. Sejak pertengahan bulan Desember lalu, Tim Irwasum Polri menangani kasus ini.
    Sejak awal, sudah tercium kabar tak sedap yaitu patut dapat diduga Komisaris Jenderal GM adalah beking utama dari bandar narkoba Monas. Herannya perwira tinggi ini tidak tersentuh samasekali oleh pemeriksaan internal POLRI.
    Patut dapat diduga, kabar tentang keterlibatan dalam kasus seputar bandar narkoba Monas ini bukan kasus pelanggaran hukum pertama yang melibatkan Komjen GM.
    Jauh sebelumnya, yaitu saat era kepemimpinan Jenderal Sutanto pun sudah ada kasus lain yang sama kotornya yaitu patut dapat diduga Komjen GM adalah otak pelaku dari pencurian barang bukti 13 kg sabu-sabu.

    Walau banyak yang menyebutkan bahwa Komjen GM dekat dengan Sutanto, tetapi ketika itu kemarahan Sutanto tak bisa dihindari lagi. Setelah mendapat teguran keras dan ancaman dari Sutanto agar secepatnya barang bukti yang hilang itu dikembalikan ke gudang penyimpanan, akhirnya barang bukti yang hilang itu memang bisa kembali secara “ajaib” ke gudang penyimpanan.
    Bukan apa-apa, kasus hilangnya barang bukti 13 kg sabu-sabu tersebut menjadi sorotan publik yang sangat memalukan Polri.
    Dari segi nominal angka memang termasuk kecil angka 13 kg. Tetapi kalau dijual ke pasaran, dari barang seberat 13 kg sabu-sabu ini maka penjualnya akan meraup keuntungan sebesar Rp.13 miliar !
    Bayangkan, betapa kaya raya oknum pelaku PENCURIAN barang bukti narkoba di negara ini kalau dibiarkan terus menerus menggerogoti gudang penyimpanan.
    Tim Irwasum Polri saat mulai memeriksa kasus bandar narkoba Monas, terlebih dahulu memeriksa para Penyidik di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya.

    Yang sulit untuk dipahami adalah Tim Irwasum melewatkan satu celah yang sangat penting dalam kasus bandar narkoba Monas. Patut dapat diduga, biaya renovasi dari Gedung Direktorat Polda Metro Jaya berasal dari sumbangan pasangan Liem Piek Kiong dan Jet Li isterinya.
    Pemeriksaan Tim Irwasum harus diperluas dan diperdalam. Tidak cuma memeriksa seputar kasus rekayasa BAP saja, tetapi keseluruhan dari sepak terjang Monas.
    Bandar dan mafia yang kotor ini sudah untuk yang tiga kalinya lolos dari jerat hukum. Hal ini tidak akan pernah bisa terjadi kalau tidak ada beking utamanya didalam internel Polri sendiri.
    Janganlah ada yang kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Jika memang ada dugaan keterlibatan dari perwira tinggi sekalipun, tangkap, penjarakan dan seret ke muka hukum.
    Lepas dari semua jasa atau prestasi Komjen GM dalam bidang penanganan terorisme sejak 8 tahun terakhir, ia pantas untuk dibawa ke muka hukum jika memang terindikasi melakukan perbuatan melawan hukum.
    Jasa atau prestasi apapun, tidak akan ada gunanya jika seseorang menjadikan semua itu sebagai pembenaran untuk melakukan apa saja yang melanggar hukum di negara ini.
    Jasa atau prestasi dari Komjen GM dalam penanganan terorisme juga akhirnya akan terkuak bahwa semuanya itu tidak sempurna dan tidak harum secara semerbak.
    Patut dapat diduga, didalam penanganan terorisme itu sendiri ada begitu banyak dugaan pelanggaran yang bermuara pada penggunaan kewenangan secara berlebihan dan ada bau anyir pundi-pundi. Pemberian eksklusivitas pemberitaan kepada satu media massa televisi selama 7 tahun (dari mulai kasus peledakan bom malam natal tahun 2000 sampai periode penanganan teroris Abu Dujana – Zarkasih), patut dapat diduga dampak dari penggunaan wewenang yang berlebihan dari Komjen GM.
    Patut dapat diduga, peminjaman ALI IMRON — terpidana kasus Bom Bali I — sejak tahun 2003 sampai saat ini adalah dampak dari penggunaan wewenang yang disalah-gunakan juga oleh Komjen GM.
    Patut dapat diduga, pemberian segala fasilitas dan kemewahan hidup untuk ALI IMRON (termasuk didalamnya pembuatan buku memoar alias otobiografi dari ALI IMRON) adalah atas penggunaan wewenang yang berlebihan dari Komjen GM.
    Jasa atas prestasi dari Komjen GM dalam penanganan terorisme, bercampur aduk antara harum semerbak yang wangi dengan bau busuk yang sangat sengit karena begitu banyak dugaan pelanggaran hukum yang terkandung di dalamnya. POLRI harus tegas menangani masalah Komjen GM.
    Jika memang ada indikasi keterlibatan dalam kasus bandar narkoba Monas, Komjen GM sekalipun harus diperiksa. Dan jika terdapat bukti-bukti keterlibatan (apalagi bukti nyata sebagai beking utama dari bandar narkoba Monas), Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri tak perlu ragu untuk memerintah penangkapan terhadap Komjen GM dan menahannya di Rutan POLRI.
    Reformasi Birokrasi POLRI harus tegas dan keras menyikapi oknum-oknum yang patut dapat diduga melakukan perbuatan melawan hukum secara terus menerus dan berkesinambungan. Periksa semua rekening, aset pribadi dan harta kekayaan Komjen GM. Termasuk 3 rumah yang patut dapat diduga DIBERIKAN kepada oknum polwan yang berselingkuh dengan diri oknum perwira tinggi ini.
    Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan PPATK, dapat dikerahkan untuk bekerjasama dengan MABES POLRI memeriksa semua rekening-rekening dari Komjen GM, isterinya, kedua anaknya dan bahkan rekening dari oknum polwan yang dekat dengan oknum perwira tinggi ini.
    Tak perlu ragu menindak siapapun yang mencari kekayaan abadi lewat cara-cara yang salah dan melanggar hukum ! Jangan ada upaya untuk mendiamkan atau melindungi siapapun yang patut dapat diduga melakukan pelanggaran hukum. Indonesia adalah negara hukum !
    Bahkan KATAKAMI.COM juga sangat terkesima, belakangan ini patut dapat diduga oknum perwira tinggi berinisial GM menjadi tidak malu-malu untuk ikut teruus-menerus merusak SITUS BERITA http://WWW.KATAKAMI.COM dan semua BLOG kami di WordPress, terutama bila sudah ada berita soal Bandar Narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS, serta tulisan seputar oknum POLWAN yang patut dapat diduga berselingkuh dengan oknum berinisial GM ini sejak belasan tahun silam.
    Luar biasa, sudah tidak ada rasa malu samasekali.

    Terutama jika ada tulisan yang menyinggung atau memuat tentang bandar narkoba MONAS. Bahkan ketika profil dari Irwasum Polri Komjen Polisi Jusuf Manggabarani dimuat, tulisan itupun dirusak karena didalamnya ada menyinggung masalah bandar narkoba Monas.
    Juga tulisan tentang oknum polwan yang patut dapat diduga berselingkuh, termasuk yang dirusak terus menerus tanpa ada rasa malu dari oknum perwira tinggi ini.
    OTAK PELAKU pengrusakan tulisan seputar bandar narkoba Monas ini sangat percaya diri bahwa dirinya tidak akan pernah bisa diperiksa atau dipersalahkan oleh PIHAK BERWAJIB. Jangan lupa, kami telah melaporkan kasus pengrusakan ini kepada Komnas HAM dan beberapa Fraksi di DPR-RI.
    Dan kepada Kapolri BHD, jangan biarkan nama baik dan kehormatan POLRI menjadi tercoreng hanya karena ulah seorang oknum saja

  6. Zainuddin said

    Tambah lama aparat tambah ngawur!!… entar kalo ada yg brutal baru tau rasa. Namanya umat Islam ditekan, dituduh terus menerus ya jgn disalahkan kalo MELEDAK emosinya. Tindakan aparat tersebut sama juga menumbuhkan bibit teroris gaya baru.. Ujung2nya umat Islam jadi ajang tuduhan. info terbaru, ada yg curiga bhw Noordin M top bersembunyi di Gereja2, Wihara, dan Pe’kong.. mohon kepada DENSUS_88 agar tempat2 tersebut disweeping!

  7. PANGERAN ISLAM said

    KEBOBROKAN OKNUM POLRI (BAGIAN KE-5)
    POLISI YANG AROGAN

    Sumber data dari:
    http://moorcyhans.multiply.com/journal/item/26/Kebobrokan_Mental_Polisi

    Kejadian ini saya alami sendiri pada hari Sabtu lalu (11/08/07).
    Tertarik oleh promo Kartu Debit Mandiri, dimana kalau kita membeli bensin premium senilai 100rb dan bayarnya pakai kartu debit Mandiri, dapat bonus 10 liter gratis (hare gene siapa sih yang gak tergiur dengan promo itu ?? ), maka hari Sabtu lalu kira-kira pk. 15.50 saya bersama isteri pun meluncur ke SPBU Pertamina terdekat yang ditunjuk untuk melayani promo itu, yaitu di Jl Gatot Subroto (tepatnya disebelah gedung Patra Jasa). Kebetulan sekali, bensin mobil saya memang sudah habis, jarum penunjuknya sudah ke huruf E (empty).

    Suasana Jl Gatsu saat itu cukup lancar, namun setelah belokan ke Jl Guru Mugni (depan Menara Global), saya lihat sudah ada antrian disisi sebelah kiri jalan. Saya sudah menduga pasti ini antrian untuk membeli bensin (namanya juga mau dapat gratisan, ya sudah resiko kalo harus antri). Ada 2 baris antrian saat itu, dan saya langsung ambil antrian yang paling kiri (dekat trotoar).

    Antrian cukup tertib, walaupun butuh waktu cukup lama untuk bisa bergerak. Sementara di sisi sebelah kanan jalan, saya perhatikan lalu lintas cukup lancar (karena hari Sabtu kan dan Jl. Gatsu itu ada 4 lajur). Di barisan sebelah kanan saya ada mobil polisi KIA Carens warna abu-abu berisi 2 polisi (saya sempat bertanya-tanya juga, masa polisi mau ikut antri bensin gratisan ?? apalagi buat mobil operasional, emang gak ada jatah dari kantor ?). Kira-kira diseberang gedung Jamsostek, tiba-tiba salah satu polisi itu turun dari mobil dan jalan kaki ke arah SPBU. Saya sempat berpikir mungkin dia mau bantu mengatur kelancaran antrian kali yaa ??
    Kira-kira pk. 16.30 ketika saya sudah sampai dibarisan paling depan sebelum masuk ke pelataran SPBU (mobil didepan saya sudah masuk ke SPBU), tiba-tiba datang segerombolan polisi (sekitar 5 sampai 6 orang) naik motor gede Yamaha, berhelm putih dan sepatu boots serta mengunakan ban warna biru di lengan kirinya bertulis “BM”. Mereka memotong jalan di depan saya serta langsung memarkir motor-motornya menutupi jalan masuk ke SPBU. Posisi mobil saya saat itu benar2 dimulut masuk SPBU dan saya ingat disebelah kanan saya ada Innova warna gold yang dikendarai seorang Ibu paruh baya juga dalam posisi siap masuk ke SPBU..

    Diluar dugaan saya, ternyata maksud mereka mau membubarkan antrian kendaraan itu dan menyuruh kita untuk bubar dengan alasan ujung antrian sudah sampai Semanggi sehingga menganggu lalu lintas.
    SIAPA JUGA YANG MAU BUBAR ???
    Percuma saja saya capek2 antri +/- ½ jam lebih trus mereka dengan entengnya nyuruh kita bubar. Salah satu dari mereka menghampiri saya dari pintu sebelah kanan, cuma untuk menyuruh saya untuk pergi dari antrian dengan alasan saya menutupi mobil lain yang mau keluar dari antrian. Saya langsung menjawab bahwa itu tidak mungkin karena saya sudah kehabisan bensin dan kalau saya cari SPBU lain beresiko mogok kehabisan bensin. Tapi dia sama sekali tidak mau mendengar alasan saya dan tetap menyuruh saya pergi. Saya pun bertahan di situ sambil akhirnya mematikan mesin.
    Beberapa saat kemudian, beberapa Satpam dari SPBU itu mulai menghampiri polisi-polisi itu dan ujung-ujungnya malah Satpam itu ikut2an membujuk saya untuk pergi dari situ, namun dengan alasan yang saya (bensin habis) saya tetap tidak mau pergi. Kelihatan satpam itu juga jadi bingung karena merasa posisi terjepit.

    Lalu ada kejadian yang sangat memancing emosi saya ketika salah seorang polisi lain yang bertubuh tambun (saya masih ingat nama yang tertera di seragamnya : ISDAR mengedor-gedor kaca mobil saya sebelah kiri (tempat istri saya duduk) dan setelah kaca mobil saya buka, dia lalu menghardik saya : “Heh kamu, bukannya pergi malah angkat kaki !!” (kebetulan saat itu karena lumayan capek abis ngantri, saya melipat kaki kiri saya ke atas jok mobil).
    Luar biasa sekali “kesopanan” polisi itu. Dia sama sekali tidak menghargai saya. Dia memanggil saya dengan sebutan “kamu” dan mempermasalahkan saya yang angkat kaki dalam mobil saya sendiri (apa urusannya ?? mau jungkir balik dalam mobil itu sih urusan saya, ngapain juga lu ngurusin kaki gue ??). Kontan saya emosi dan menjawab “Tolong kamu sopan kalau bicara, urusan angkat kaki itu hak saya”. Saat itu emosi saya benar2 memuncak dan tidak ada lagi rasa hormat saya pada “abdi masyarakat itu “. Setelah kita sempat saling berteriak satu sama lain, saya lihat polisi lain datang mendekat dan berusaha memisahkan kita dengan menyuruh si Isdar itu untuk menjauh dari sisi kiri mobil saya. Sementara mereka menjauh dari sisi mobil saya, saya masih mendengar ocehan Isdar tapi gak jelas lagi kata-katanya.

    30 menit berikutnya saya masih menunggu disitu, saya lihat tidak ada satupun mobil yang bersedia keluar dari antrian. Disisi lain, saya melihat gerombolan polisi itu didepan saya (jarak mereka dari mobil saya kira2 10 m) tidak melakukan suatu tindakan yang nyata untuk memecahkan masalah (atau mungkin sebenarnya itu bukan masalah tapi dibuat2 seakan2 jadi masalah besar ??). Mereka hanya mondar-mandir sambil terus berteriak dan menunjuk2 menyuruh antrian bubar, dan sebagian lagi cuma melambai-lambaikan tangan ke aliran lalu lintas (gaya khas polantas) di sisi kanan jalan yang saya lihat memang dari tadi lancar-lancar aja.

    Lama-kelamaan sudah mulai banyak pemilik mobil yang antri mulai turun dan mengerumuni sambil melancarkan protes ke polisi2 itu. Dari dalam mobil saya lihat dengan jelas, mimik muka polisi yang dikerumuni orang-orang itu kelihatan mulai panik dan mulai bertahan dengan cara teriak-teriak emosi sambil menuding-nudingkan jarinya ke arah wajah salah satu pemilik mobil. Terakhir saya lihat para petugas SPBU yang berseragam merah, mulai bersama-sama keluar dan ikut bernegosiasi dengan polisi (karena antrian mobil yang berhasil masuk ke pelataran SPBU sudah habis dilayani semua sehingga SPBU sudah benar-benar kosong).

    Tanpa diduga-duga, tidak sampai 5 menit, para petugas SPBU itu bubar dari kerumunan dan langsung berteriak-teriak ke arah antrian bahwa kita bisa masuk !!! Luar biasa bukan kemampuan negosiasi para petugas SPBU itu ???
    Kira-kira jurus negosiasi apa yang mereka gunakan untuk “meluluhkan hati” polisi-polisi arogan itu…………………………???
    Yup, dugaan Anda tepat !!
    Dari informasi yang saya dengar, angka 200rb yang sempat ditawarkan pun ternyata masih belum bisa “mendamaikan” hati para abdi masyarakat kita.
    Entah di angka berapa perdamaian itu bisa dicapai……, yang jelas saat saya mengisi bensin, saya melihat motor-motor mereka sedang parkir didepan kantor pengelola SPBU.

    Ternyata naif sekali pemikiran yang sempat terbersit dipikiran saya bahwa gerombolan polisi itu benar-benar concern dengan kelancaran lalu lintas sehingga sampai marah-marah mau membubarkan antrian. Ternyata, isi pikiran mereka tak jauh dari rasa iri karena melihat orang lain kebanjiran rejeki. Dan dengan sewenang-wenang, mereka menggunakan kekuasaan yang diberikan pada mereka hanya untuk dapat “cipratan” rejeki juga.
    Saya jadi berpikir, gimana ya kalau ada antrian mobil di jl Gatsu gara-gara ada hajatan pernikahan di Gedung Balai Kartini, lantas tiba-tiba antrian mobil tamu itu dibubarkan polisi-polisi itu dengan alasan : menganggu ketertiban lalu lintas ??? Jangan-jangan kotak angaponya harus buru-buru dibuka untuk dibagi-bagi, daripada gak ada yang dateng ke hajatan ?
    Ternyata biar udah ganti Presiden, ganti Kapolri dan ganti Kapolda, tapi belum bisa mengubah tabiat polisi-polisi lalu lintas di Jakarta. Mungkin kalo nanti DKI ganti gubernur, bisa berubah kali yeee ???
    Capeee dehhhh……
    Salam,
    Herman Kusuma Dewata
    Unsecured Collection Dept
    Citibank Pd Indah.

  8. PANGERAN ISLAM said

    KEJAHATAN OKNUM POLRI (BAGIAN KE-6)

    Sumber data dari:
    http://condee78.wordpress.com/2009/05/04/kejelekan-yang-akan-menjadi-kejahatan-polisi/

    Okeh…posting kali ini akan ngebahas tentang POLISI di Indonesia. Entah di di daerah atau di pusat. Posting ini juga merupakan kisah nyata dan rasa kecewa yang pernah gw alami, begitu juga orang disekitar gw. Untuk yang membaca atau yang merasa jangan marah, karena ini hanyalah sebuah suara kecil yang tidak berarti dan hanya bisa dilewatkan oleh sebuah tulisan.
    Setelah kira-kira hidup 21 tahun, ternyata gw bisa melihat dan menyimpulkan beberapa wajah Polisi Indonesia. Sayang bener2 sayang, kebanyakan dari wajah tersebut adalah wajah yang jelek2. *Duh…kenapa ini??. Emang gak semuanya jelek, psati ada yang bagus2nya, dan saya juga udah mengalami yang bagus, tapi karena mayoritas itu jelek, ya pasti akan terlihat yang jelek. Untuk itu, mari kita simak wajah Polisi berikut ini :
    1. Polisi TIDAK AKAN LANGSUNG bertindak kalau “Si Pelapor” cuma orang biasa *alias gak terkenal & gak ada apa2nya.
    2. Polisi juga akan Bertindak LAMBAN kalau gak ada “Si Moni”.
    3. Terkadang Polisi mencari “gara-gara“.
    4. Polisi terlalu mementingkan “Jabatan” sehingga kadang bersikap tidak adil.
    Ponit 1 : “Si Pelapor” cuma orang biasa
    Wah..kasian bener nasib kita2 yang cuma menjadi orang biasa. Karena jangan harap dan jangan kaget kalau Polisi akan LANGSUNG bertindak sewaktu kita melapor. Begitu pentingkah yang namanya “Terkenal”? Begitu pentingkah yang namanya “Berpengaruh”?? Sampai-sampai kita yang cuma orang biasa kena Imbasnya, yaitu dapat pelayanan nomor 2.
    Pernah denger atau lihat berita kasus pencemaran nama baik yang menimpa anaknya Pak Presiden Indonesia “Pak SBY”, Edhie Baskoro Yudhoyono. Kasus itu terjadi antara Edhie Baskoro dengan beberapa tokoh dari partai Gerindra yang disebut2 pelaku pencemaran nama baik. Disini kita gak akan ngebahas siapa yang salah dan benar, atau saya memihak/pilih kasih ke pihak/partai/instansi mana. Yang patut dilihat adalah kinerja Polisi. Begitu Edhie Baskoro melapor ke Polisi, Polisi langsung cepat bertindak, benar2 cepat bertindak. sampai main tuduh siapa yang salah, maen sadap sana sini. Kkenapa bisa begitu? Apa polisi merasa “gak enak” dengan Anaknya SBY? Apa Polisi memang menjalankan tugasnya? *mungkin anda bisa menilai sendiri.
    Coba bandingkan dengan kisah saya yang satu ini. Awal Feburari Kontrakan saya kecurian, Laptop, PSP, dan 3 HP amblas diambil maling. Setelah sadar kalau barang hilang, saya langsung melapor polisi. Karena baru pertama kali kehilangan barang, saya kira akan seperti di Tv-tv *kebanyakan nonton TV…Kalau kita ngelapor, terus polisi langusng bertindak, olah tkp dsb. Ternyata…..TIDAK SAMA SEKALI !! Mereka hanya membuat laporan dan entah itu laporan akan diteruskan atau nggak, saya tidak tahu. dan yang jelas, sampai saat ini, Polisi gak ada yang menghubungi saya, Satu orang pun!!
    Point 2: LAMBAN kalau gak ada “Si Moni”.
    Nah…inilah yang paling banyak ditemui bahkan mungkin dialami oleh banyak orang, terkait dengan SI MONI *dibaca duit… Sepertinya penyakit ini jugalah yang benar2 udah menjamur di Kalangan Polisi. Dan point 2 ini juga yang pernah saya alami.
    Terkait dengan Point 1, ketika Polisi tidak menghubungi saya sama sekali, bahkan tidak bertindak. Itu semua dikarenakan oleh satu hal, yaitu MONI. Karena apa, pada saat saya melapor, sedang ada EVENT yang melibatkan banyak polisi, dan di kantor Polisi hanya tinggal beberapa orang. Tau sendiri lah, yang namanya event itu pasti ada bayarannya, berbeda dengan saya, tidak membayar sepeserpun sewaktu melapor. Saya tidak melakukan itu, karena apa? Masa saya udah kecurian harus bayar lagi..Bushet, udah jatoh, ketimpa Tangga pula. ALhasil, saya cuma dapet janji dan Layanan yang SERBA LAMBAN. Banyangkan…masa membuat Laporan yang hanya 2 Lembar A4/HVS menghabiskan waktu 1.5 JAM. Setelah itu, saya menjadi saksi, dan menhabiskan waktu hampir 2 jam. Parahnya lagi, setelah semua itu selesai, POLISI tidak melakukan OLAH TKP. Dan saya hanya mendapatkan janji2 manis, “Baik, Mungkin nanti atau besok akan dilakukan OLAH TKP”. Buktinya apa??? udah bulan Mei ini gak ada tanda2. Seharusnya Polisi lebih baik berkata seperti ini ” Baik, Nanti pada bulan Mei kita kabarkan hasilnya ” *dibaca Mei be not, Mei be yes…. Untuk Poin 2 ini masih banyak fakta yang lain, tapi cukuplah dari fakta yang saya alami.
    Point 3 : Mencari “GARA+GARA”
    Untuk yang satu ini, lebih untuk per-seorangan saja. Maksudnya ada lah satu atau 2 orang Polisi yang seperti ini. Kadang2 point ini sering terjadi ketika Razia kendaraaan motor berlangsung. Ada……….aja tingkahnya polisi. Contohnya, Semua Surat2 aman, Spion terpasang semua, pkoknya komplit dah. eh, tau2 si polisi malah liat ban motor, tau apa yang diliat??? Ternyata Tutup untuk masuknya angin ke ban *Pentil gak ada. Dan akhirnya polisi berhasil mendapatkan bayaran tilang. Beuh….cuma gara2 Pentil doang???
    Setelah saya selidiki, yaitu menanyakan ke teman saya, Anak Fakultas Hukum, tentang Tilang menilang. Ternyata dia berkata ” Peraturan kayak gitu tuh gak ada, asal kamu udah ada Surat (STNK dan SIM), spion , lampu nyala, ya udah ..gak kena tilang. Gak ada pasal tentang Pentil” Bujur Buneng………..tuh polisi bisaan nyari duitnya. Ya.begitu lah…aneh.
    Point 4 : Jabatan Begitu Penting
    Point ini di khususkan bagi keanggotaan Polisi. Karena menurut saya Polisi begitu mementingkan jabatannya di Kantor. Bayangkan, ketika anda melanggar lampu merah dan di berhentikan oleh Polisi pasti anda bingung *bagi yang gak ada jabatan…mau kabur atau bernti? atau cari alesan apa ya? Tapi, kalau bagi yang punya jabatan di kantor ya tenang2 aja. Karena apa, pasti gak akan ditilang, cuma dikash tau doang kalau tadi ngelanggar. Gak percaya?? Simak yang satu ini
    Si Ibu yang melanggar lampu merah mempunyai teman di kantor polisi, dan itu teman mempunyai jabatan yang dibilang tinggi. Karena iseng, si ibu minta foto si teman terus ditaruh di dompet. Nah…pada saat kejadian berlangsung, otomatis kan polisi minta liat SIM. Dan tau lanjutannya? Polisi ngasih lagi SIMnya dan suruh ibu berhati-hati. Itu semua dikarenakan pada saat ibu buka isi dompetnya, polisi melihat sebuah foto yang gak asing, dan itu adlah atasannya. Polisi bertanya, ibu kenal bapak “sebut aja andi ? Ya dengan pede ibu jawab kenal dung, dia sodara saya. Ya………………………lanjutannya seperti tadi. AMAN TENTRAM DAMAI SENTOSA.
    Yah…seperti itulah wajah Polisi Indonesia, dengan Moto “KAMI SIAP MELAYANI ANDA”, banyak pertanyaan di moto itu. Melayani apa? melayani karena siapa? melayani dengan syarat apa? Mudah2an kalau ada polisi yang membaca ini diharapkan jagan marah dan tersinggung, karena kalau tersinggung berarrti dia termasuk kedalamnya. Saya menulis posting ini cuma karena ingin kejelekan dari polisi itu hilang. Karena kalau tidak dihilangkan akan menjadi kejahatan POLISI INDONESIA. sehingga yaang ada benar2 Wajah yang asri dan benar benar melayani masyarakat dengan ikhlas. Teruslah Memperbaiki diri POLISI INDONESIA ^^

  9. PANGERAN ISLAM said

    KEBOBROKAN OKNUM POLRI (BAGIAN KE-7)

    Tulisan dimuat di Banjarmasin Post. Dan bersumber pada http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/03/fenomena-kekerasan-polisi.html

    Dalam satu minggu terakhir, dua kali diberitakan tentang kekerasan aparat kepolisian. Tindakan yang dilakukan, di luar batas kewajiban dan perkara yang harusnya ditangani. Kasus yang bisa dicatat adalah pengeroyokan polisi terhadap warga di Paringin (Balangan) dan yang terakhir penembakan oleh Briptu Hance Christian terhadap atasannya Wakil Kepala Polwiltabes Semarang, AKBP Lilik Purwanto.

    Fenomena kekerasan polisi ini pantas menjadi renungan bagi kita. Tugas utama polisi adalah melindungi dan mengayomi masyarakat, namun kenapa pelanggaran justru terjadi oleh aparatnya sendiri? Tentunya bukan secara institusional kepolisian yang bersalah, tetapi keberadaan personil yang melakukan kriminal tersebut telah mencoreng nama baik korps.

    Dalam UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri, antara lain menetapkan kedudukan Polri sebagai alat negara yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang kepolisian preventif dan represif dalam rangka criminal justice system, dengan tugas utama pemeliharaan keamanan negeri. Tentunya, objek riil dari pengamanan itu adalah masyarakat. Artinya, diperlukan kerjasama dan saling pengertian yang positif antara Polri dan masyarakat.

    Tuntutan itu diakomodasi dalam Penjelasan Huruf c Ayat (1) Pasal 38 UU 2/2002. Di situ diuraikan, “… yang dimaksud dengan keluhan dalam ayat ini, menyangkut penyalahgunaan wewenang, dugaan korupsi, pelayanan yang buruk, perlakuan diskriminatif, penggunaan diskresi yang keliru, dan masyarakat berhak memperoleh informasi mengenai penanganan keluhannya.”

    Bukan hanya itu, dunia juga memperhatikan kewenangan polisi. Juga mengatur cara dan aturan penegakan hukum dalam penggunaan kewenangan kepolisian (Code of Conduct for Law Enforcement Officials = CCLEO) Resolusi PBB Nomor 34/169 tanggal 17 Desember 1979. CCLEO memang bukan traktat tetapi instrumen, pedoman otoritatif pada pemerintah cq kepolisian selaku penegak hukum terdepan agar tetap dalam koridor hukum dan HAM. CCLEO menjabarkan penggunaan kekuatan (upaya paksa) ‘kekerasan’ harus fungsional, profesional dan proporsional. Fungsional, berarti sesuai dengan UU. Profesional, cara penggunaannya sesuai taktis teknis prosedural. Proporsional, berarti telah melewati tahapan disesuaikan ancaman gangguan yang dihadapi.

    Dewan Parlemen se-Eropa menjabarkan resolusi PBB itu dengan mengeluarkan The Declaration on The Police (DP), yang memuat aturan penggunaan kekuatan polisi secara rinci. Termasuk, jika kepolisian menghadapi keadaan darurat perang atau pendudukan oleh kekuatan asing. Yang menarik, DP itu juga merupakan panduan agar polisi lebih demokratis berani menolak perintah atasan atau pimpinan yang melanggar konstitusi/hukum (Pasal 3). Tanggung jawab atas kelalaian tindakan (malactions) di lapangan, bukan pada pimpinan atau komandan tetapi pribadi yang bertugas di lapangan itu (Pasal 9).

    Ini artinya, kiblat ketaatan polisi adalah konstitusi negara bukan personal atasan. Selain itu, tindakan personal ditekankan sebagai pertanggungjawaban pribadi. Untuk memandang kasus kekerasan yang terjadi selama ini, setidaknya terdapat beberapa faktor.

    Pertama, faktor psikologis personal. Kompleksitas tugas polisi di lapangan menyebabkan mereka mudah stres dan frustrasi. Bahkan tugas tersebut sering mengundang bahaya. Hal ini karena tugas polisi sangat berat dan berbahaya jika dibandingkan dengan penegak hukum lainnya, misalnya hakim dan jaksa. Meskipun sama-sama penegak hukum, tetapi polisi dalam menjalankan tugasnya langsung berhadapan dengan masyarakat.

    Selain tingkat ancaman dan risiko pekerjaan sangat tinggi, polisi bekerja selama 24 jam per hari dan tujuh hari dalam seminggu tanpa mengenal hari libur dan cuaca. Polisi bekerja sepanjang waktu. Kondisi kerja yang berbahaya merupakan salah satu sumber terjadinya stres kerja. Stres kerja juga dapat terjadi di lingkungan kerja polisi, yang dituntut untuk selalu berdisiplin tinggi, patuh pada peraturan yang berlaku dan tunduk pada perintah atasan, cepat dan tanggap dalam mengatasi berbagai masalah. Kondisi ini yang kemungkinan besar mendorong agresivitas polisi dalam penanganan sebuah perkara.

    Kedua, faktor kebanggaan korps. Kebanggaan yang berlebihan seringkali menjadikan arogansi korps. Diakui maupun tidak, menjadi seorang anggota TNI atau Polri adalah sebuah prestasi bagi sebagian orang. Artinya, identitas tersebut adalah sebuah pencapaian yang dihargai tinggi. Dalam tradisi militer, dikenal istilah korsa (kebersamaan) dan kebanggaan korps. Pembelaan terhadap sesama anggota korps adalah bentuk kebersamaan itu. Parahnya pada saat anggota tersebut tersangkut persoalan pribadi, lalu terjadilah fenomena bentrokan dengan warga seperti terjadi di Paringin kemarin. Kebanggaan korps ini, juga sering menyebabkan bentrokan antarelemen. Misalnya antara TNI dengan Polri. Arogansi yang muncul menjelma menjadi agresivitas yang memalukan.

    Ketiga, faktor ekonomis. Jika boleh jujur, sebetulnya belum ada keseimbangan antara beban tugas yang harus diemban aparat kepolisian dengan gaji yang diterimanya. Kesejahteraan aparat kepolisian selama ini belum sebanding dengan amanat yang diemban. Maka, menjadi tidak aneh misalnya jika ada polisi yang nyambi sebagai ojek atau pekerjaan lain yang tidak ada kaitan apa pun dengan pengamanan.

    Gaji polisi di Indonesia pangkat terendah, nol tahun pengalaman kerja, berbeda jauh sekali jika dibandingkan dengan gaji karyawan bank di Indonesia (golongan terendah). Gaji yang diterima polisi berpangkat terendah dan nol tahun pengalaman kerja sebesar 26 persen dari gaji karyawan bank di Indonesia golongan terendah. Itu sebabnya, mengacu standar PBB, kesejahteraan anggota Polri adalah yang terendah di Asia.

    Dengan indikator gaji polisi pangkat terendah dan nol tahun pengalaman kerja diperbandingkan gaji karyawan bank golongan terendah di negara masing-masing, diketahui gaji polisi kita 26 %. Sedang gaji polisi Vietnam 35 %, Thailand 58,1 %, Malaysia 95,9 %, Singapura 109 %, Jepang 113,2 % dan Hong Kong 182,7 %. (Anton Tabah, 2002). Karena itu, usulan penaikan gaji bagi anggota Polri cukup rasional untuk segera direalisasi.

    Setidaknya tiga faktor itu juga bisa menjadi penyebab agresivitas dan kekerasan yang dilakukan personal TNI. Kontrol sistem yang diturunkan negara, kedisiplinan anggota dan kesejahteraan personil Polri hendaknya diperhatikan oleh negara. Masyarakat juga secara proaktif mengawasi perilaku aparat. Selain itu, harus menjalin komunikasi intensif dengan polisi. Memandang adil pada polisi, bahwa keberadaan mereka sangat penting bagi kita.

  10. peyimak said

    Tuan pangeran ……..

    Islam sejak dahulu tidak bermusuhan dengan POLRI dan TNI…..malah Islam selalu menjadi alat untuk mengatasi ketidak mampuannya. Ingat jaman PKI siapa yang disuruh dan Dibodohi untuk mengusir dan melibas para pengikut PKI ????

    Begitupun sejak pada saat REFORMASI mereka coba dengan PAM SWAKARSANYA itupun tetap mintadidukung oleh ormas Islam…..

    Sadarkah mereka itu >>>>?????

    Saya coba mengingatkan bahwa remote kontrol ekonomi dan politik tidak berada pada Eksekutif kita,apa lagi legislatif kita….. itu semua berada ditangan KSI (kelompok serakah International).

    Perhatikan kronologis dari pilpres….bom kuningan 2…..s/d pembentukan opini Islam itu teroris…. itu semua bermakna bahwa seluruh komponen Islam sedang ditekan untuk keluar gelanggang politik dan sosial…karena pada tahun kedepan ini s/d 2014 mereka akan membabat habis aset dan ekonomi kita agar sepenuhnya dapat bekerja untuk menyokong kebutuhan ekonomi negara negara KSI.

    Waspadai RUU yang sedang dirancang berkaitan dengan Privatisasi, RUU rahasia negara, dll

    Yakin sekali saya bahwa kita akan kembali pada era ORDE BARU…

    Salam, …… saya cinta negri ini……saya cinta bangsa ini.

  11. peyimak said

    Teman teman

    Penting bagi saudaraku sesama umat Islam … jangan terpancing memusuhi POLRI dan TNI mereka adalah saudara kita yang tidak mampu bersikap untuk betul betul menjadi alat rakyat…. sementara ini mereka tetap berada dibawah kendali KSI melalui anteknya yang ada di Eksekutif, dan didunia usaha….

    Tidak perlu kita buka aib mereka POLRI dan TNI, kita semua malu….kasihan mereka
    Sutradara dibalik tirainya sedang senyum senyum bandit melihat kejadian ini… mari kita fokuskan ke Sutradara dan Produsernya yang mengendalikan mereka.

    2009 ~ 2014 adalah momentum mereka memanen kekayaan Indonesia, mereka akan memperkecil potensi Islam dimanapun baik itu di parlemen , kabinet, lingkungan sosial, dll, Tujuan mereka ialah pada saat mereka merampok dari celah hukum ,,, komponen Islam sudah tidak lagi memiliki kekuatan lagi.

    Waspadai perubahan Konstitusi pasal 33…yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat ini.

    Salam…

  12. Hai Zainuddin ….. orang sudah tidak takut dengan kebrutalan yang kau orang Islam pertontonkan. Masanya sudah lewat Zainuddin!!!!! Kau menulis komenmu itupun kau coba memprovokasi teman-temanmu. Kalaupun kau brutal kau akan dibabt habis.

    Kau pikir POLRI kurang kerjaan???? POLRI bukan kurang kerjaan. yanga adlah kau yang goblok karena kau tidak pernah berpikir bahwa era ini akan datang. dimana gertak-gertakmu itu sudah tidak ditakuti lagi. Buktinya Habib Riziq pun dibabat habis.

  13. Mohadi said

    Kami sebagai pemilik blog sangat keberatan bila komentator mencantumkan link balik ke blog ini tanpa seijin kami. bila anda tidak berniat mencantumkan situs anda pada kolom URL, maka lebih baik kosongkan saja. berikut adalah contoh komentar yang mencatut nama kabarnet

    Mohadi (Nama penulis komentar)
    kabarnet.wordpress.com (Link yang dipalsukan)
    mo_h_adi@gmail.com (e-mail penulis komentar)
    118.96.128.120 (IP penulis komentar)
    (Lokasi kami rahasiakan)

    Aku dilahirkan sampai sekarang beragama islam, tapi….. aku tidak pernah memusuhi siapapun sekalipun aku dimusuhi. Islam adalah agama yang baik. tapi …… aku siap membabat teroris yang merusak ketentraman warga. Aku hanya tidak suka pada orang2 islam yang merusak ketentraman. Negara ini dibangun dengan darah dan nyawa. Mari bersatu jangan saling membunuh.
    _________________________________________
    Komentar di atas bukan dari k@barNet, tapi dari seorang yang mengaku bernama MOHADI dan memalsukan link balik ke blog in. Apapun isi komentarnya, pasti akan kami klarifikasi atau kami hapus. Mudah-mudahan hal serupa tidak terjadi lagi. ADMIN

  14. Mohadi said

    Kami sebagai pemilik blog sangat keberatan bila komentator mencantumkan link balik ke blog ini tanpa seijin kami. bila anda tidak berniat mencantumkan situs anda pada kolom URL, maka lebih baik kosongkan saja. berikut adalah contoh komentar yang mencatut nama kabarnet

    Mohadi (Nama penulis komentar)
    kabarnet.wordpress.com (Link yang dipalsukan)
    mo_h_adi@gmail.com (e-mail penulis komentar)
    118.96.128.120 (IP penulis komentar)
    (Lokasi kami rahasiakan)

    Isi Komentar:
    Polisi tidak bobrok, yang bobrok masyarakatnya sendiri. mau enaknya sendiri, tanpa hiraukan aturan. Kompromi adalah yang terbaik, maka jangan salahkan polisi kalau masyarakatnya memaksa kompromi. Dimanapun didunia ini yang namanya alat negara dipastikan diperkuat, untuk memaksa supaya patuh terhadap aturan yang disepakati.
    ____________________________________________
    Komentar di atas bukan dari k@barNet, tapi dari seorang yang mengaku bernama MOHADI dan memalsukan link balik ke blog in. Apapun isi komentarnya, pasti akan kami klarifikasi atau kami hapus. Mudah-mudahan hal serupa tidak terjadi lagi. ADMIN

  15. dino Bagyo said

    setiap orang punya dosa jangan sok bersih ,lihat diri dulu sebelum komentar ke orang lain. jangan pernah komentar membawa kata2 umat. umat yang mana ? . orang orang muslim yg lain jg blum tentu stuju kelakuan kalian.

  16. Eling said

    Islam adalah agama Rahmatanlil alamin… bukan teroris.. kenapa teroris mengatas namakan islam.. teroris ya teroris.. Semoga Polri Jaya hanguskan teroris dari bumi Indonesia tercinta … kami kaum muslimin mendukung dan mendo’a kan semoga Polri dapat memberantas teroris sampai keakarnya

  17. Eling said

    Good luck densus 88 AT teror I love you forever ….

  18. Eling said

    Kok ada ya…. habib yg seharusnya jadi panutan malah mendukung radikalisme/dakwah – dakwah yang menyesatkan… Islam bukan punya Habib, atau ulama…. islam adalah milik seluruh umat di dunia …. Islam Is Love peace… I love Rasulullah SAW…..I Hate Hhabib,, Ulama,, Ustadz Radikal

  19. noname said

    Memang bner FPI rese

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: