KabarNet

Aktual Tajam

Anak Belasan Tahun Lecehkan Islam

Posted by KabarNet pada 26/08/2009

pelecehan Faith Sapp, siswi kelas 5 berusia 10 tahun di SD Talbot, Senin (24/8) lalu, dikirim pulang oleh pihak sekolah atas pelanggaran terhadap aturan berpakaian distrik sekolah ketika mereka menolak untuk mengganti kausnya atau menutupi pernyataan anti Muslim yang tercetak di pakaian mereka itu.

Juru bicara dewan sekolah, Jackie Johnson, menegaskan pakaian yang dikenakan oleh Faith bertentangan dengan aturan sekolah. Aturan berpakaian di sekolah mengharuskan seluruh siswa untuk mengenakan pakaian yang tidak menyinggung sentimen terhadap golongan tertentu dan harus sesuai dengan kepatutan sekolah.

Pihak sekolah memanggil orangtua Faith dan memberikan pilihan untuk membawa pakaian lain yang layak sebagai ganti pakaian yang sedang dikenakan anaknya atau membawa anaknya pulang. Namun sang orangtua lebih memilih untuk membawa anaknya pulang.

Dewan sekolah mengatakan Faith tidak akan diskor atau dikeluarkan dari sekolah dan ia bisa kembali bersekolah pada hari Selasa besoknya, namun dia harus mengikuti aturan berpakaian yang ditetapkan sekolah.

Sementara itu, kakak Faith Sapp, Emily Sapp, 15, adalah murid yang dikirim pulang dari SMA Gainesville pada Selasa (25/8), kemarin. Baik Faith maupun Emily mengatakan bahwa mengenakan kaus tersebut ke sekolah adalah keputusan mereka sendiri, bukan perintah dari orangtua mereka, dengan tujuan mempromosikan keyakinan Kristen yang mereka anut.

Di bagian belakang kaus itu tertulis “Islam Is Of The Devil” (Islam berasal dari setan), sementara di bagian depan terdapat salinan sebaris ayat dari Injil Yohanes, “Yesus menjawab, sayalah jalan dan kebenaran dan kehidupan; tidak ada yang dapat menghadap Bapa kecuali melalui saya,” dan pernyataan, “Saya sependapat dengan Dove Outreach Center.” Pesan “Islam Berasal Dari Setan” ada di bagian belakang.

Emily Sapp mengatakan pernyataan “Islam Is Of The Devil” ditujukan pada agamanya, bukan penganutnya.

“Tidak ada masalah dengan orang-orangnya,” ujarnya. “Orang adalah orang. Mereka bisa diselamatkan seperti yang lainnya.”

Ayah mereka, Wayne Sapp, adalah seorang pendeta dari gereja Dove Outreach Center. Wayne yang mengenakan kaus serupa mengatakan tak terkejut dengan respons yang diterima kedua anaknya.

Dove Outreach Center adalah sebuah gereja di wilayah barat laut kota Gainesville Amerika Serikat, yang Juli lalu menuai aksi protes masa karena telah memasang papan tanda di depan gereja dengan tulisan berwarna merah “Islam Is Of The Devil”. Pihak gereja mengakui hal itu sebagai bagian dari ungkapan ke-‘rejilius’-an dari kepercayaan jemaat gereja tersebut. Papan yang berisi tulisan yang menghina Islam itu, mereka anggap sebagai pesan dari sebuah tindakan yang luar biasa atas nama cinta.

“Ungkapan ini bagian dari cara kami mengatakan bahwa hanya ada satu jalan, dan tentunya itu adalah jalan kekristenan. Hal ini memberikan penjelasan kepada masyarakat, bagaimana jalan yang benar dan jalan yang benar adalah Yesus dan hanya Yesus,” kata pendeta senior Terry Jones.

“Kami rasa papan tanda yang ada di depan gereja kami adalah sebuah tindakan untuk memberikan masyarakat kesempatan untuk memilih,” tambahnya.

Mengomentari masalah kaos Sapp bersaudara, Jones mengatakan, menyebarkan pesan-pesan gereja “lebih penting daripada pendidikan itu sendiri.”

Jones, mengatakan tidak ada perusahaan lokal yang berani mencetak kaus-kaus itu. Kemudian mereka memesan kaus itu lewat internet dari sebuah perusahaan yang membolehkan seseorang mendesain sendiri kausnya.

Saeed R. Khan, presiden Asosiasi Muslim Florida Utara Pusat, mengatakan pesan anti Islam itu tidak dapat diterima ketika “sekolah seharusnya mengajarkan toleransi terhadap orang lain.”

“Sangat menyinggung kan?” ujar Saeed R. Khan menanggapi pesan di bagian belakang kaus itu. “Terutama di sekolah tempat kita berusaha menciptakan sebuah atmosfer di mana orang-orang harusnya saling menghormati satu sama lain dan hidup berdampingan, di mana terdapat orang-orang dari beragam etnisitas dan agama,” imbuhnya.

Semua anggota Dove yang diwawancarai mengatakan meskipun mereka tidak akan suka melihat seorang murid mengenakan kaus anti Kristen ke sekolah, mereka berpandangan murid-murid memiliki hak untuk melakukannya. (Republika)

14 Tanggapan to “Anak Belasan Tahun Lecehkan Islam”

  1. ABDUL KHALIQ said

    kalau mereka berpendapat Islam besaral dari Setan Maka Saya juga Berhak Berpendapat BAHWA AGAMA KRISTEN TIDAK LAYAK DI ANUT OLEH MANUSIA DI BELAHAN BUMI MANAPUN KARENA YESUS YANG KATANYA ANAK TUHAN DAN ROH KUDUS TIDAK BISA BERBUAT APA2 KETIKA DISALIB ARTINYA YESUS GOBLOK !!! yesus juga bukan juru selamat karena sudah tidak bisa menyelamatkan dirinya.sampai disalib diam saja mau minum saja tidak dapat air malah di cemooh tentara Romawi

  2. Hj. Endang said

    Betul pak Abdul Khalik….Jika mereka menghina Islam. Kita pun juga bisa menghina Kristen

  3. kadzim said

    Saudaraku saudara ABDUL KHALIQ dan
    Hj. Endang,,,kita jangan sampai menghina agama kristen karena itu dilarang dalam agama ISLAM.

    Cukup kita tulis bahwa agama kristen bukanlah agama yang benar, itu bukan tuduhan melainkan kita sertakan dalil dari kitab suci umat kristen.

    Kita bisa tulis bahwa Yesus bukanlah Tuhan, Yesus adalah manusia mulia yang diutus oleh allah swt, juga dengan dalil dari Alkitab / kitabnya umat kristen.

    Yang perlu kalian ketahui, mengapa mereka (mayoritas umat kristen) suka mencaci nabi muhammad saw dan agama islam?

    Jawabannya; karena mereka (mayoritas umat kristen) tidak mendapatkan dari nabi muhammad saw kecuali kemuliaan dan tidak mendapatkan dari islam kecuali kesempurnaan.

    Kalau boleh saya gambaran begini;
    Ada Pria Muda yang Tampan dan Kaya Raya.

    Kiranya apa yang dapat diperbuat oleh mereka yang iri dengan apa yang dimiliki Pria Muda itu ?

    Mereka yang iri tidak dapat mencela wajah Pria Muda juga tidak bisa meremehkan hartanya, sebab Pria Muda itu Tampan dan Kaya.

    Mereka yang iri akan membahas soal Sandal yang dipakai si Pria Muda dan merk Sepatu yang dipakai setiap hari.

    Mengapa mereka membahas Sandal dan Sepatu? karena derajat mereka yang iri makin turun hingga ke level Sandal dan Sepatu.

    Jadi kalau ada orang kristen bilang ISLAM dari setan dll, itu bukan hinaan bagi kita umat ISLAM, melainkan dari situ kita bisa ketahui derajat mayoritas umat kristen.

    Semoga bermanfaat,

    Terima kasih.

  4. kadzim said

    Saya adalah salah satu penganut agama ISLAM dan saya tahu bahwa sholat di dalam agama yang saya anut adalah masalah pokok.

    Tujuan utama muslimin mendirikan masjid, sebagai tempat sholat sebelum ibadah yang lain.

    Di dalam ISLAM juga ditentukan berapa kali dalam sehari sholat wajib didirikan dan ada ancaman dari tuhan (allah swt) bagi insan muslim yang meremehkan sholat.

    Umat kristen mendirikan gereja juga untuk sembahyang (sholat), apalagi sampai ada 7 gereja dalam 1 RT di salah satu daerah, bukti pentingnya masalah sembahyang (sholat) dalam agama kristen.

    Yang ingin saya tanyakan di sini;
    Apakah tuhan kaum kristen mewajibkan sembahyang (sholat) kepada insan yang beragama kristen ?

    Jika ada perintah wajib sembahyang (sholat) dari tuhan terhadap umat kristen, Apakah juga ditentukan waktunya ?

    Jika tidak ditentukan waktu sembahyang (sholat), Apakah tuhan umat kristen menentukan hari khusus untuk sembahyang (sholat)?

    Jika tidak ada perintah dari tuhan, Lalu untuk apa umat kristen membangun gereja?

    apalagi ada 7 gereja dalam 1 RT.

    Terima kasih.

  5. Jelas beda khan???? Di Amrik…. orang menghina Islam… dipulangkan dari sekolah. di indonesia…. anak SD disuruh demo menjelelek-jelekkan Amerika. Beda khan????

  6. kadzim said

    Memang beda bagi orang yang buta politik, Horas 🙂

  7. kadzim said

    Yahya Yopie dan Keluarganya, Mantan Pendeta Yang Memeluk Islam.

    Warga di kota Tolitoli di penghujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Bahkan media internet pun sudah mengakses kabar ini. Bagaimana aktivitas eks pendeta itu setelah memeluk Islam. Berikut kisahnya:

    Adaha Nadjemuddin, Tolitoli : PAGI menjelang siang hari itu, nuansa Idul Fitri 1427 Hijriah masih terasa di Tolitoli. Hari itu baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap seperti biasa.

    Begitupun di sekitar Jalan Bangau, Kelurahan Tuweley, Kelurahan Baru, Kabupaten Tolitoli. Aktivitas sehari-hari warga berjalan seperti biasa.

    Kecuali di salah satu rumah kost di jalan itu, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di rumah kost inilah, Yahya Yopie Waloni (36), bersama istrinya Lusiana (33) dan tiga orang anaknya tinggal sementara.

    “Pak Yahya bersama istrinya baru saja keluar. Sebaiknya bapak tunggu saja di sini, sebelum banyak orang. Karena kalau pak Yahya ada di sini banyak sekali tamunya. Nanti bapak sulit ketemu beliau,” jelas ibu Ani, tetangga depan rumah Yahya kepada Radar Sulteng.

    Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

    Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006. Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006.

    Sambil menunggu kedatangan Yahya, ibu Ani mempersilakan Radar Sulteng masuk ke rumahnya. Sebagai tetangga, Ibu Ani tahu banyak aktivitas yang terjadi rumah kontrakan Yahya. “Pak Yahya pindah di sini kira-kira baru tiga minggu lalu. Sejak pindah, di sini rame terus. Orang-orang bergantian datang. Ada yang datang dengan keluarganya. Malah ada yang rombongan dengan truk dan Kijang pickup. Karena rame sekali terpaksa dibuat sabua (tenda, red) dan drop kursi dari kantor Lurah Tuweley,” cerita ibu Ani.

    Hari pertama Yahya pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa sumbangan. Ada menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran, gorden dan kursi. Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga barang yang bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.

    Tidak lama menunggu di rumah Ibu Ani, datang dua orang ibu-ibu yang berpakaian dinas pegawai negeri sipil. Keduanya juga mampir di rumah Ibu Ani. Salah satu dari mereka adalah Hj Nurdiana, pegawai di Balitbang Diklat, Pemkab Tolitoli. Ibu berjilbab ini ternyata guru mengaji. Dia adalah guru mengaji yang khusus membimbing istri Yahya.

    “Saya baru tiga kali pertemuan dengan ibu Yahya. Supaya ibu Yahya mudah memahami huruf hijjaiyah, saya menggunakan metode albarqy. Alhamdulillah sekarang sedikit sudah bisa,” kata Nurdiana.

    Menurutnya, dia tidak kesulitan mengajari ibu Yahya. Malah, katanya, ibu Yahya cepat sekali memahami huruf-huruf hijaiyah yang diajarkan. Karena itu dia memperkirakan kemungkinan dalam waktu tidak lama ibu Yahya sudah bisa lancar mengaji.

    Hanya sekitar 20 menit menunggu di rumah ibu Ani, bunyi kendaraan sepeda motor butut milik Yahya terdengar memasuki halaman rumah kontrakannya. Radar Sulteng diterima dengan senang hati, lalu dipersilakan duduk di sofa. Sementara Yahya memilih duduk di lantai alas karpet. Badannya disandarkan ke kursi sofa. “Kita lebih senang duduk di bawah sini,” tuturnya dengan logat kental Manado.

    Cara duduk Yahya, tampak tidak tenang. Sesekali ia membuka kedua selangkangnya. Ternyata karena baru beberapa hari selesai disunat. “Setelah tiga hari saya masuk Islam, saya langsung minta disunat di rumah ini,” cerita Yahya, sesekali disertai canda.

    Penataan interior rumah kost Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak terpampang kaligrafi ayat kursi yang dibingkai dengan warna keemasan. Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran. “Rumah ini saya kontrak sementara. Saya sudah bayar Rp2,5 juta,” rinci Yahya.

    Di tengah asiknya bercerita, istri Yahya, Mutmainnah menyuguhkan beberapa cangkir teh panas. “Silakan diminum air panasnya,” kata ibu tiga anak ini yang saat itu mengenakan jilbab cokelat.

    Tidak lama kemudian, dia masuk di salah satu kamar dan mengajak guru mengajinya Hj Nurdiana bersama rekannya. Dari balik kamar itulah terdengar suara Mutmainnah yang sedang mengeja satu per satu huruf hijaiyah. Terdengar memang masih kaku, tetapi berulang-ulang satu per satu huruf-huruf Alquran itu dilafalkannya.

    Lain halnya dengan suaminya, Yahya. Pria kelahiran Manado ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh Komarudin Sofa. Selain Komarudin, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani. “Hanya lima menit saya diajarkan. Saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal,” ujar Yahya.

    Selain belajar mengaji dan menerima tamu, aktivitas Yahya juga kerap menghadiri undangan di beberapa masjid. Tidak hanya dalam kota, tetapi sampai ke desa-desa di Kabupaten Tolitoli. “Saya ditemani beberapa orang. Ada juga dari Departemen Agama,” katanya.

    Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. “Hari itu saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun Pak Komarudin,” cerita Yahya. Apa yang melatari sampai Yahya dan keluarganya memeluk Islam.

    Mengalami Mimpi yang Sama dengan Istrinya
    Pak Yahya, begitu sapaan akrabnya. Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal. “Saya tidak perlu cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal,” tukasnya.

    Lantaran kenakalannya itulah mungkin, sehingga beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya. “Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika,” katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu.

    Postur tubuhnya memang tampak mendukung. Tinggi dan tegap. Meski ia pernah nakal, tetapi pendidikan formalnya sampai ke tingkat doktor. Ia menyandang gelar doktor teologi jurusan filsafat. Saat ditemui, Yahya memperlihatkan ijazah asli yang dikeluarkan Institut Theologia Oikumene Imanuel Manado tertanggal 10 Januari 2004. Sehingga titel yang didapatnya pun akhirnya lengkap menjadi Dr. Yahya Yopie Waloni, S.TH, M.TH.

    Sebelum menyatakan dirinya masuk Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.

    “Kepada saya, si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali dengan saya,” cerita Yahya.

    Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam.

    Pertemuan ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah. “Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya,” cerita Yahya.

    Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.

    Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red), tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. “Malah saya dianggap sudah gila,” katanya.

    image Tidak lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar,” ujar Yahya mengisahkan.

    Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

    “Setelah saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” cerita Yahya.

    Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar, dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya, Lusiana.

    “Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis. Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk saya,” tutur Yahya.

    Ternyata tangisan istri Yahya itu mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan Mutmainnah. “Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah akhirnya istri saya yang mengajak,” tandasnya.

    Akhirnya, Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya, dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitu pun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

    Masuknya Yahya ke agama Islam, menimbulkan banyak interpretasi. Menurut Yahya, ada yang menyebut dirinya orang gila. Ada juga yang meragukannya, dan mungkin masih banyak interpretasi lain lagi tentang dirinya. “Tapi cukup saja sampai pada interpretasi, jangan lagi melebar ke yang lain,” pungkasnya.

  8. Setelah itu Yahya Waloni siap-siap poligami untuk persiapan mendapatkan 70 bidadari yang dijanjikan nabi Muhammad di surga komplek pelacuran tempat shoting BF terdahsyat. Satu laki-laki dilayani nafsu sexnya oleh 70 bidadari. Dan Istrinya akan dihajar oleh 70 pemuda yang tegap-tegap sampai bonyok. Memang surga yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus tidak menarik karena tidak ada cewek-cewek bahenol yang disediakan disana. Tapi saya pilih surga yang tidak ada cewek bahenolnya karena saya yakin surga yang dijanjikan banyak cewek bahenalnya pasti Iblis lagi promosi dan sesungguhnya itu adalah neraka tempat kadzim.

  9. kadzim said

    inilah pengikut agama kristen yang tidak tahu tentang agamanya, bukan menjawab pertanyaan yang sederhana malah ngelantur.

    pertanyaan yang saya ajukan itu akan berguna bagi pembaca yang lain, dengan tidak adanya jawaban maka mereka pada tahu agama kristen yang sebenarnya.

    Dulu Jhony bilang saya baca buku Syeh Ahmad Deedat, sekarang mau bilang saya baca bukunya siapa lagi setelah Jhony tidak bisa jawab pertanyaan yang sederhana itu?
    **************************
    Jhony, kalau menulis sesuatu jangan berlebihan agar pembaca yang lain tetap beranggapan anda manusia normal.

    Setelah Jhony tulis bisa membaca injil yang berbahasa ibrani, yunani dan bahasa apalagi saya lupa, sekarang malah menulis kalau masjid se-indonesia yang punya izin bangunan hanya 25%, kan itu tidak bagus Jhony, karena pembaca yang lain pasti akan menilai Jhony benar-benar tidak normal / sakit jiwa.

    Lain kali jangan asal nulis ya Jhony…thx.

  10. Anonim said

    mr. johny apa yang anda ungkapan sebagai bentuk kedangkalan ilmu anda atau agama anda dan dari apa yang anda tuliskan itu membuktikan anda adalah produk dari keyakinan anda yng hanya bisa mencacci

  11. yusak_pardameansinaga@yahoo.com said

    Bnyak omong kau muslim

  12. Dj fai said

    Kristen agama yg tolol. yesus kok minum bir dulu baru masuk ke gereja. Abis berakpun bisa masuk ke situ.

  13. baju muslim anak
    http://www.muslimgaleri.com/

    Howdy! Quick question that’s entirely off topic.
    Do you know how to make your site mobile friendly?
    My blog looks weird when viewing from my apple iphone. I’m trying to find a theme or plugin that
    might be able to correct this issue. If you have any suggestions, please share.
    With thanks!

  14. Situs ini menawarkan berbagai kategori termasuk Baju Busana Muslim (Baju Busana Muslim ), laki-laki dan pakaian perempuan serta pakaian anak-anak dengan harga yang sangat wajar.
    Pakaian  Muslim dikenakan oleh umat Islam di seluruh dunia.
    Jika Anda mencari T-Shirts untuk pernikahan Anda dapat untuk Anda pengantin, satu untuk ibu dari pengantin wanita,
    satu untuk pembantu rumah dan beberapa untuk pengiring pengantin dan beberapa lainnya orang
    yang terlibat.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: