KabarNet

Aktual Tajam

PKS dan Isu Terorisme

Posted by KabarNet pada 29/08/2009

Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Center for Indonesian Reform)

Isu terorisme kini menjadi bola panas dan secara liar menyerempet berbagai kelompok sosial-politik. Dan, ketika bom meledak di dua hotel prestisius, J.W. Marriott dan Ritz Carlton, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menengarai adanya kelompok yang tidak puas dengan hasil pemilihan presiden. Mereka yang bermaksud mengepung gedung KPU saat rekapitulasi suara, menggagalkan pelantikan presiden baru, dan menjadikan Indonesia seperti Iran yang rusuh pasca pemilu.

Dengan mimik serius, SBY memperlihatkan foto yang menggambarkan dirinya sedang menjadi sasaran latihan tembak para teroris. Kemudian, Kepala Polri menjelaskan bahwa latihan itu dilakukan di daerah Kalimantan Timur dan pelakunya sudah tertangkap dua bulan sebelum peledakan di Marriott-Ritz Carlton. Polisi juga mengungkap jaringan teroris di Jatiasih, Bekasi yang bermaksud melakukan penyerangan di rumah kediaman SBY di Cikeas, tepat pada hari kemerdekaan RI.

Karuan saja, sinyalemen itu mengundang reaksi dari lawan politik SBY, Megawati Soekarnoputeri dan Jusuf Kalla, yang menegaskan partai politik yang komitmen dalam proses demokrasi tak akan pernah menempuh jalan kekerasan. Pemerintah diminta fokus untuk membongkar sumber terorisme, jangan menyinggung lawan politik yang bersikap kritis. Kandidat wakil presiden dari kubu Mega, yakni Prabowo Subianto, juga bereaksi tegas, karena tak bisa menerima istilah “drakula politik” yang pernah melakukan penculikan dan kekerasan politik di masa lalu.

Dalam waktu sekejap isu persaingan politik di balik aksi teror mengendap. Bahkan, sekarang justru terlihat kedekatan petinggi Partai Demokrat dengan PDI Perjuangan untuk menggolkan kursi Ketua MPR yang diperebutkan banyak pihak. Lebih jauh lagi, beberapa tokoh Partai Golkar yang dipelopori Aburizal Bakrie terlihat mendukung kepemimpinan SBY-Boediono dan berharap dapat mengisi kursi kabinet lima tahun mendatang, dengan resiko meninggalkan Kalla di tengah jalan. Jadi, ancaman teror terhadap SBY itu serius atau spekulasi saja?

Selanjutnya, yang terjadi adaslah Isu segera bergeser kepada kelompok Islam, antara lain, melalui penyergapan Detasemen Khusus 88 di Temanggung, Jawa Tengah. Sebuah rumah milik Muhjahri yang sudah sepuh dikepung 600 ratus polisi bersenjata lengkap. Setelah operasi yang menegangkan, dan berlansung selama 17 jam itu, akhirnya tertembak seorang tersangka teroris yang semula diduga Noordin M. Top, tapi tiga hari kemudian diakui polisi sebagai Ibrohim.

Muhjahri adalah pensiunan pegawai Departemen Agama yang menjadi guru bantu SMA Muhammdiyah Kedu, karena itu Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin turun tangan menugaskan belasan pengacara Muhammadiyah untuk melindungi hak Muhjahri. Bukan kebetulan kiranya, dalam pilpres Din dan Muhammadiyah mendukung JK-Wiranto, walau PAN berkoalisi dengan SBY-Boediono.

Din memang bersikap kritis terhadap peristiwa peledakan Marriott-Ritz Carlton, karena kedua hotel itu memiliki prosedur pengamanan berstandar internasional, mengapa bisa kecolongan? Di sana juga bermalam banyak warga asing, termasuk petugas intelijen, konon CIA, kok tidak ada yang memberi peringatan dini akan adanya ancaman? Setelah peristiwa peledakan terlihat jelas desakan untuk mengawasi kelompok Islam, membatasi aktivitas dakwah, dan mencurigai sejumlah pesantren yang diduga sebagai sarang pembiakan teroris.

Gejala semacam itu jelas kontra-produktif untuk membongkar akar terorisme yang sebenarnya. Mungkin bisa ditelusuri radikalisme keagamaan. Namun bukan hanya kelompok Muslim yang menyimpan potensi kekerasan. Dalam kerusuhan Maluku dan Poso, kelompok Kristen juga mengenal adanya Geng Coker dan Legiun Kristus yang bersikap ekstrem. Dalam kasus Aceh dan Papua, ada kelompok separatis yang menempuh perlawanan bersenjata. Bahkan, di Pulau Bali yang damai juga ada kelompok Hindu radikal yang menuntut wilayah merdeka, jika situasi nasional tidak cocok dengan kepentingannya.

Kini isu terorisme tampaknya bergeser ke arah partai Islam, wa bil khusus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang menempati ranking keempat dalam pemilihan umum lalu. Pada hari pertama setelah peledakan Marriott-Ritz Carlton, segera terdengar tuduhan terhadap kelompok Wahabi atau Salafi. Tudingan itu tak berasal dari aparat polisi, tapi dari kelompok masyarakat (Gerakan Umat Islam Indonesia) yang mengklaim memiliki daftar anggota teroris kelompok Noordin M. Top. Sebelumnya marak isu yang disebar secara sistematis lewat buku “Ilusi Negara Islam”, bahwa paham Wahabi radikal telah mempengaruhi organisasi dan partai Islam tertentu. Termasuk tudingan dari mantan Kepala BIN AM.Hendropriyono.

Tatkala dua orang pembom bunuh diri diketahui identitasnya, Dani Dwi Permana dan Nana Ikhwan Maulana, terbetik kabar bahwa perekrut teroris berasal dari kelompok Islam (Jawa Pos, 20 Agustus 2009). Secara khusus, Dani dikenal sebagai anak rajin dan siswa yang aktif dalam kegiatan rohani Islam di sekolahnya. Aktivitas pembinaan remaja Muslim di masjid dan sekolah selama ini memang menjadi program andalan organisasi dan partai Islam. Tujuan sesungguhnya bukan menyulut radikalisme. Namun membangun kesadaran dan ketahanan moral, serta mencegah penyakit sosial seperti penyalahgunaan narkotika dan tawuran massal.

Tujuan positif seperti itu tenggelam di tengah histeria massal akan bahaya terorisme. Aparat seakan membiarkan ekspos media yang over-dosis seputar isu terorisme, bahkan aparat sendiri terlihat over-acting seperti dalam kasus penyergapan di Temanggung, Jawa Tengah.

Seorang tersangka teroris dikepung oleh ratusan polisi bersenjata lengkap selama 17 jam. Seolah-olah tak ada suatu tindakan cepat yang dapat diambil untuk melumpuhkan tersangka yang konon hanya bersenjatakan sebuah pistol. Dalam operasi yang sangat represif itu ternyata buron utama, Noordin Top, pun lolos. Apa artinya pengerahan pasukan yang berlebihan, bila target utama tak tercapai? Evaluasi terhadap tindakan aparat ini tak pernah dilakukan. Sehingga persoalan terorisme berlanjut sampai sekarang.

Aparat kini menetapkan empat orang tersangka sebagai buron, dua di antaranya bersaudara: Syaifuddin Zuhri dan Muhammad Syahrir. Syaifuddin dan Syahrir ternyata bersaudara dengan Sucihani (isteri Ibrohim), dan lebih mengejutkan lagi, bersaudara dengan anggota DPRD dari Fraksi PKS Kabupaten Tangerang, Anugrah. Maka, terbangun anggapan publik bahwa organisasi dan partai Islam memang sengaja membiarkan gejala terorisme. Karena mereka sendiri menyetujui atau ada yang terlibat aksi kekerasan. Anggapan itu dibantah PKS dalam jumpa pers (24/8), tapi persepsi publik tak mudah untuk digeser. Apalagi mayoritas media massa tampak alergi dengan kebangkitan kekuatan politik Islam.

Isu terorisme merebak, menjelang penetapan SBY sebagai pemenang pemilihan presiden oleh KPU. Isu itu lalu bergeser menyudutkan organisasi dan partai Islam, saat SBY sedang mempersiapkan kabinet baru yang akan membantunya untuk periode 2009-2014. Masyarakat jadi lupa pada fokus utama kejadian, yakni peledakan terjadi di dua hotel milik warga asing dan korbannya yang tewas juga sebagian CEO dan pebisnis multinasional. Di antara korban tewas adalah: Timothy Mackey (CEO PT Holcim Indonesia), Nathan Verity (profesional yang bergerak di bisnis sumber daya manusia, warga negara Australia), dan Craig Senger (pejabat perdagangan dari Kedubes Australia). Mereka sudah pasti tidak mendapat peringatan akan adanya ancaman. Beda dengan warga Amerika yang menginap di hotel saat itu dan selamat.

Anehnya, aparat tidak mengusut motif kelompok yang membenci hegemoni Amerika Serikat dan kepentingan asing di Indonesia. Tiba-tiba isu digeser menjadi ancaman terhadap SBY sebagai kepala pemerintahan. Bahkan, kemungkinan adanya ancaman terhadap Presiden Barack Obama yang akan berkunjung ke Jakarta, bulan November nanti, ditepis keras oleh Kepala Polri. Bagaimana polisi bisa begitu yakin bahwa kelompok teroris tidak akan berani menghantam target asing? Padahal di negerinya sendiri Obama juga sudah sering menjadi target pembunuhan. Kita lihat saja nanti, apakah Obama akhirnya jadi datang ke Indoneia dan bagaimana pengawalan pasukannya? Siapa tahu lebih ketat dari pengawalan George Bush, ketika mampir ke Bali hanya beberapa jam saja.

Ujian sebenarnya kini sedang dihadapi PKS sebagai partai Islam ‘terbesar’ berdasarkan popular vote di Indonesia. Dengan bergabung dalam koalisi pemerintahan, PKS berharap mendapat perlindungan politik (mindlallah siyasiyah) yang kuat bagi aktivitas dakwah dan pembinaan umat. Namun, kondisi terkini justru mengancam citra PKS sebagai partai yang menyerukan jalan damai dan prinsip moderat, serta amat menganggu ketenangan kader/konstituen PKS di akar rumput, serta umat Islam secara keseluruhan.

Apakah SBY mengetahui dan mengendalikan seluruh ketegangan yang terjadi di tengah masyarakat, ataukah kepolisian, khususnya Densus 88 bergerak sendiri dengan agenda yang misterius? Sejak berdiri lima tahun lalu banyak penyimpangan yang dilakukan Densus 88 dalam operasi pengintaian, penangkapan dan penyergapan kepada tersangka teroris; namun tak satupun lembaga pengawas (DPR atau Komisi Kepolisian) yang merasa perlu meminta laporan akuntabilitas Densus.

Salah satu contoh kinerja Densus yang harus disorot, misalnya, penetapan status buron kepada tersangka teroris. Saat ini ada empat buronan baru, disamping Noordin Top, Dulmatin dan Umar Patek yang belum ketahuan rimbanya. Lalu, bagaimana dengan nasib Baridin (yang diprofilkan sebagai mertua Noordin) dan Tatang Lusianto (anak Muhjahri) yang belum jelas kesalahan mereka?

Densus sangat potensial melanggar hak asasi tersangka, karena tuduhan yang berkembang di masyarakat dan diekspos besar-besaran oleh media massa belum tentu sesuai dengan perbuatan mereka sebenarnya. Densus lebih suka dengan trial by the press ketimbang pengadilan yang jujur dan obyektif. Padahal, seorang pakar terorisme dari Israel sekalipun, Boaz Ganor (2005), menekankan proses peradilan yang imparsial dan akuntabel akan mencegah aksi teror di masa datang. Sebaliknya, perlakuan tak adil dan sikap over-acting aparat akan menumbuhkan semangat balas dendam dari kelompok teroris.

Ambil contoh lain, Ibrohim, pada mulanya diduga sebagai pelaku bom Marriott-Ritz Carlton. Tapi, saat kejadian (17/7) Ibrohim dinyatakan “menghilang” entah ke mana, meskipun ada kabar sebenarnya sudah tertangkap (Majalah Tempo, 16 Agustus 2009). Tiba-tiba polisi menyatakan Ibrohim tewas dalam penyergapan di Temanggung, “menggantikan” jasad Noordin Top yang ramai diperbincangkan media. Bagaimana mungkin Ibrohim “bebas berkeliaran” dari Jakarta menuju Temanggung tanpa ketahuan polisi, dan mengapa harus ditembak mati, jika perannya memang dominan?

Padahal, jika ditembak bius atau dilontarkan gas pembius, sangat mungkin dilakukan karena Densus telah dilatih dengan peralatan canggih. Setelah Ibrohim tewas, polisi baru menyatakan dialah perencana, pensurvei lokasi, pembawa bom dan pelakunya ke dalam hotel. Bahkan, Ibrohim dinyatakan pula sebagai “calon pengantin” (suicide bomber) di rumah kediaman SBY. Polisi tak perlu membuktikan tuduhan itu karena semua fakta telah dibawa mati Ibrohim tanpa sempat konfirmasi/konfrontasi.

Kejanggalan lain terlihat dari kematian Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono di Jatiasih. Lagi-lagi, bila kedua tersangka ini dianggap memiliki peran penting menyembunyikan Noordin Top dan mempersiapkan serangan bom berikutnya ke rumah pribadi SBY, maka seharusnya polisi tidak menembak mati mereka.

Dikabarkan bahwa Air dan Eko melakukan perlawanan dengan melemparkan bom, tapi kepada publik tidak diperlihatkan bukti kongkrit adanya perlawanan. Karena penyergapan di Jatiasih berlangsung tertutup, amat berbeda dengan pengepungan di Temanggung yang diekspos media. Publik hanya tahu setelah tersangka terbunuh dan dari lokasi TKP dikeluarkan 500 kilogram bahan peledak.

Ada saksi yang melihat bahwa Air dan Eko masih berada di Solo dan shalat Jum’at berjamaah pada (7/8), tapi mengapa malamnya sudah berada di Bekasi dengan mobil penuh bahan peledak? Jika polisi menangkap mereka di Solo, maka tidak perlu terjadi tembakan satu kalipun. Apa lagi, banyak aparat berkumpul di Temanggung, tak jauh dari Solo, bila perlu bantuan.

Berbagai pertanyaan di seputar penanganan kasus terorisme itu perlu direspon oleh aparat polisi dengan tuntas. Kita menantikan pemberkasan terhadap tersangka yang sudah ditangkap hidup-hidup, serta proses peradilannya nanti. Dari sanalah kita akan mendapat gambaran yang lebih lengkap tentang perkembangan masalah, pola aksi terror, dan efektivitas kerja aparat dalam menangkal teror.

Selain menangkap buron utama Noordin Top, polisi berkewajiban untuk meminta ekstradisi Agus Dwikarna yang ditahan pemerintah Filipina dan Hambali yang ditahan CIA di penjara Guantanamo. Dari ketiga tokoh ini, jika masih terus hidup dan memberi kesaksian, kita ketahui duduk perkara terorisme yang menghantui Indonesia.

Sebagai partai koalisi pemerintah, partai-partai Islam (termasuk PKS) berhak untuk bertanya: bagaimana kebijakan kontra-terorisme SBY secara komprehensif sebenarnya? Benarkah kebijakan yang dilaksanakan polisi dan Densus 88 itu diarahkan hanya untuk menyudutkan kelompok Islam?

Potensi terorisme itu ada di semua kelompok masyarakat, termasuk oknum aparat intelijen dan keamanan, yang memiliki akses terhadap senjata dan bahan peledak, serta kemampuan penggalangan atas kelompok radikal. Kelompok teroris yang memiliki ideologi kuat serta kemampuan teknis sekalipun, tak bisa meledakkan bom tanpa akses memadai. PKS sekarang mendapat “payung politik” dari pemerintah yang berkuasa, tapi kepentingan umat yang lebih luas harus tetap diperjuangkan.

Suatu hari, jika rakyat memberi amanat, partai Islam mungkin memimpin negara dan harus siap menjadi “payung” (pengayom dan pelindung) semua warga bangsa tanpa diskriminasi. Jangan biarkan penyimpangan yang dilakukan aparat polisi dan intelijen yang mungkin bekerja untuk kepentingan kekuasaan jangka pendek saat ini, dengan mengorbankan kebebasan warga dan keamanan nasional secara keseluruhan.

Sikap pasif dan pembiaran justru akan membuat penyimpangan kekuasaan lebih dahsyat. Saatnya organisasi massa dan partai politik Islam bergandeng-tangan dengan seluruh elemen bangsa, merumuskan ancaman nasional yang paling nyata dan menangkalnya bersama-sama. (eramuslim)

17 Tanggapan to “PKS dan Isu Terorisme”

  1. PANGERAN ISLAM said

    Meneladani Akhlak Mulia Nabi Muhammad

    Setelah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota
    Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya – tidak
    percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa
    waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta,
    “Ceritakan padaku akhlak Muhammad!”. Umar menangis mendengar
    permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui
    tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg
    sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal
    hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.
    Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat
    senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia
    Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang
    Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior
    Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.
    Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu
    ‘alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali.
    Ali dengan linangan air mata berkata, “Ceritakan padaku keindahan
    dunia ini!.” Badui ini menjawab, “Bagaimana mungkin aku dapat
    menceritakan segala keindahan dunia ini….” Ali menjawab, “Engkau tak
    sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman
    bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu
    bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu ‘alayhi
    wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad
    memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68] : 4)”
    Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu ‘alayhi
    wasallam yang sering disapa “Khumairah” oleh Nabi ini hanya menjawab,
    khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan
    Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam itu
    bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia
    segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh
    kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca
    dan menyimak QS Al-Mu’minun [23]: 1-11.
    Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari
    pergaulannya dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Kalau mereka
    diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah
    jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka.
    Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling
    indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.
    Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi
    sallAllahu ‘alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, “Ah semua
    perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat
    terindah baginya, sebagai seorang isteri. “Ketika aku sudah berada di
    tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah
    bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap
    Tuhanku terlebih dahulu.’” Apalagi yang dapat lebih membahagiakan
    seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih
    sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami,
    yang juga seorang utusan Allah.
    Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam jugalah yang membikin
    khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati
    suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia
    bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata,
    “Mengapa engkau tidur di sini?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku pulang
    sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak
    mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.” Mari
    berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap
    isteri kita? Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mengingatkan,
    “berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan
    ditanya di hari akhir tentangnya.” Para sahabat pada masa Nabi
    memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu
    turun dan mengecam mereka.
    Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat
    tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.
    Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun
    sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah
    kebingungannya, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam memanggilnya. Rasul
    sallAllahu ‘alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup
    dengan itu, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun melipat sorbannya
    lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat
    duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban
    tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah
    mencium sorban Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tersebut.
    Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita
    junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk
    tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari
    seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi
    sallAllahu ‘alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan
    dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah
    pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita
    meniru akhlak Rasul Yang Mulia.
    Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam juga terkenal suka memuji
    sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan
    menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul
    sallAllahu ‘alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang
    menemani Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah
    yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam
    sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pernah berkata,
    “Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka
    Syetan lewat jalan yang lain.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Nabi
    sallAllahu ‘alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu
    gelas, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang
    meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud
    (ta’wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam menjawab “ilmu
    pengetahuan. “
    Tentang Utsman, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam sangat menghargai
    Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu ‘alayhi
    wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya).
    Mengenai Ali, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam bukan saja
    menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang
    menyebutkan keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah
    pintunya.” “Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang
    munafik.”
    Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang
    punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih
    tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan
    yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka
    mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.
    Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah
    pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam.
    Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan
    nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad
    sallAllahu ‘alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan “Wahai Nabi”.
    Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.
    Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan
    pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim
    menghadap Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul
    sallAllahu ‘alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum
    Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata:
    “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin.” Kata Umar, “Tidak,
    angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.” Abu Bakar berkata ke Umar, “Kamu hanya
    ingin membantah aku saja,” Umar menjawab, “Aku tidak bermaksud
    membantahmu. ” Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar
    makin keras. Waktu itu turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman,
    janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada
    Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai
    orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas
    suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan
    dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu.
    Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya” (QS.
    Al-Hujurat 1-2)
    Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, “Ya Rasul Allah, demi
    Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali
    seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.” Umar juga berbicara
    kepada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan suara yang lembut.
    Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali
    bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat
    Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka
    karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi
    wasallam.
    Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu ‘alayhi
    wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia
    berkata pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, “Wahai kemenakanku, kau
    datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau
    kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan
    kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang
    dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar
    kami jadikan engkau penguasa kami”
    Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh
    musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong
    pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu ‘alayhi
    wasallam bertanya, “Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?” “Sudah.” kata
    Utbah. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan
    membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi
    sallAllahu ‘alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk
    mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.
    Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran
    bagaimana Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan
    pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi
    dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam
    majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita
    sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau
    mendengarkan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya
    membiarkan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berbicara. Jangankan
    mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan
    pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara
    kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!
    Ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode
    hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu
    ‘alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam akan
    mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi
    sallAllahu ‘alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang
    sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu ‘alayhi
    wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya.
    Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di
    Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu
    ‘alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi
    sallAllahu ‘alayhi wasallam? “Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku
    telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu. ” Sahabat ini
    menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam janji adalah
    suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam
    merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah,
    bagi Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan
    meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita
    memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban
    bagaimana perilaku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam telah menyerap di
    sanubari kita atau tidak.
    Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu
    ‘alayhi wasallam berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi
    Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada
    diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada
    kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian,
    ucapkanlah!” Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang
    tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan
    di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan
    tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku
    ingin menuntut qishash hari ini.” Para sahabat lain terpana, tidak
    menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung
    berdiri dan siap “membereskan” orang itu. Nabi sallAllahu ‘alayhi
    wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun
    menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang
    berada di rumah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam keheranan ketika Nabi
    sallAllahu ‘alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan
    peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat
    yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu
    ‘alayhi wasallam berikan pada mereka.
    Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya
    menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu
    ‘alayhi wasallam. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berkata,
    “Lakukanlah! “
    Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi
    suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu
    ‘alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud
    tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan
    dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.”
    Seketika itu juga terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali.
    Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu ‘alayhi
    wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu ‘alayhi
    wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu
    bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu
    ‘alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu ‘alayhi
    wasallam ke hadirat-Nya.
    Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun
    badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan
    memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu
    ‘alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang
    beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti
    menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung
    ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang
    muflis. Na’udzu billah…..
    Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika saat haji Wada’, di
    padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri
    berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam
    dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “Nanti di hari
    pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai
    Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban
    kalian?” Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air
    mata. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam melanjutkan, “Bukankah telah
    kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh
    beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah
    aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah
    kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah…..?” Untuk semua pertanyaan
    itu, para sahabat menjawab, “Benar ya Rasul!”
    Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas,
    dan berkata, “Ya Allah saksikanlah. ..Ya Allah saksikanlah. ..Ya Allah
    saksikanlah! “. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam meminta kesaksian
    Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun
    meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu
    ‘alayhi wasallam. “Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai
    Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa
    kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi
    pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di
    padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin
    ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya
    Allah saksikanlah. ..Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah”

  2. Hai Sapto Waluyo…. Kalau kau keberatan dengan kematian para teroris seperti Ibrohim di temanggung, Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono di Jatiasih, mengapa bukan kau saja yang nangkap mereka????? Kan kau temannya yang disebar di pers. Mengapa kerjamu hanya menyalahkan densus 88, pemerintah, yahudi, israel dan segala tetekbengeknya????? Kalau kau baru sadar sekarang, sekarangpun belum terlambat. Masih ada yang bisa kau kerjakan, seperti misalnya menyerahkan Nurdin Muhammad Top, Baridin, Syaifuddin Zuhri dan Muhammad Syahrir. Kalau kau tidak menyerahkan mereka, maka tidak tertutup kemungkinan mereka merekapun akan ditembak densus 88. Dari tulisanmu kelihatan sekali kalau kau orang-nya teroris yang ditempatkan di pers. Memang masih banyak orang-orang seperti kau…. misalanya seperti Muhammad Jibriel yang sudah ditetapkan sebagai tersangka teroris oleh polisi.

    Polisi tidak sebodoh kau Sapto Waluyo!!! Masyarakatpun tidak terpengaruh dengan tulisanmu. Orang sudah tau semua siapa kau. Kau adalah teroris yang ditempatkan di pers. Teroris itu tidak akan jauh-jauh dari PKS, MMI, dan Ihwanul Muslim, TPM, FPI, Laskar Islam dan DII. Buktinya, setelah kematian Ibrohim di temanggung pun Nurdin Muhammad Top masih bisa kawin di Pandeglang, Banten basis teroris itu. Yang bisa kau provokatori hanya dari kelompokmu yang jumlahnya hanya sedikit di Indonesia ini. Sekarang, kalau kau tidak mau para teroris itu ditembak mati oleh densus 88, secepatnya kau serahkan mereka termasuk Syekh dari arab yang mendanai bom Marriott dan Ritz Carlton itu. Kan kau yang menyembunyikan mereka??? Tidak mungkin mereka bersembunyi di papua sana. Paling mereka bersembunyi dirumahmu atau di pesantrenmu.

  3. kadzim said

    Bagi pengunjung yang ber-agama kristen, Saya ingin tanya dan mohon jawab.

    Apakah Tuhan Bapa, Roh Kudus atau Yesus mewajibkan kalian menyembah Tuhan ?

    Jika mereka bertiga mewajibkan atau salah satu dari mereka mewajibkan, Apakah ditentukan waktunya ?
    (pagi, siang, malam)

    Seandainya Tuhan Bapa, Roh Kudus, Yesus tidak menentukan waktu, tetapi menentukan hari khusus dalam seminggu untuk menyembah.
    Yang saya tanyakan hari apakah itu ?
    (senen, selasa, rabu)

    Saya harap tidak ada pengunjung kristen yang melewatkan pertanyaan saya.

  4. kadzim said

    Daniel Daen Sabon, Hendrikus Kia Walen, Heri Santoso, Francis­kus Tadon Kerans, dan Eduardus Noe Ndopo Mbete alias Edo, Juan Felix Tampubolon.

    ada satu yang belum disebut,
    nama Jhony_Walker.

    Karena dia satu golongan dengan para eksekutor.

  5. kadzim said

    Jhony apakah bisa bantu teman-temanmu yang kristen untuk menjawab pertanyaan yang saya tulis dibawah ini.

    Apakah Tuhan Bapa, Roh Kudus atau Yesus mewajibkan kalian menyembah Tuhan ?

    Jika mereka bertiga mewajibkan atau salah satu dari mereka mewajibkan, Apakah ditentukan waktunya ?
    (pagi, siang, malam)

    Seandainya Tuhan Bapa, Roh Kudus, Yesus tidak menentukan waktu, tetapi menentukan hari khusus dalam seminggu untuk menyembah.
    Yang saya tanyakan hari apakah itu ?
    (senen, selasa, rabu)

    Jangan lupa Jhony, jawab ya…

  6. kadzim said

    Saya harap Pak Romo yang terhormat dan bijaksana, juga menjawab atau memberi keterangan atas pertanyaan yang saya tulis di atas tentang menyembah Tuhan dalam agama kristen.

    Pak Romo, sebelumnya saya ucapkan
    Terima kasih.

  7. kadzim said

    Teroris Tidak Kenal Agama dan Tidak Kenal warganegara, Karena Teroris Tidak ber-Agama dan Tidak Berwarganegara.
    Begitulah Kesimpulannya.

    Sabtu, 29 Agustus 2009 | 11:08 WIB

    JEDDAH, KOMPAS.com — Al Qaeda menyatakan bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri terhadap Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Nayef, Deputi Menteri Dalam Negeri dan orang yang mengepalai unit pemburu teroris di Kerajaan Arab Saudi.

    Al Qaeda wilayah Semenanjung Arab, salah satu cabang Al Qaeda, Sabtu (29/8) WIB, mengklaim bertanggung jawab dalam satu pesannya yang disampaikan di internet. Pesan itu dimonitor oleh Site Intelligence Group.

    Mohammed bin Nayef tengah berbuka puasa bersama di Jeddah saat pengebom bunuh diri meledakkan dirinya. Demikian juru bicara Kementerian Dalam Negeri Saudi. Sudah umum bagi para anggota senior kerajaan mengadakan pertemuan terbuka selama bulan Ramadhan untuk berbuka puasa bersama masyarakat.

    Pangeran yang merupakan putra dari Pangeran Nayef bin Abdul Aziz, pria yang diperkirakan akan menjadi putra mahkota Saudi berikutnya, hanya cedera ringan akibat serangan itu.

    Hussein Shobokshi, kolumnis surat kabar Arab, Asharq Al-Awsat, yang berbasis di London, mengatakan bahwa percobaan pembunuhan itu akan mengubah sikap Saudi secara drastis. “Serangan itu juga membuat timbulnya simpati kepada pemerintah, sementara pemerintah akan bersikap keras, tegas, dan didukung rakyat banyak,” katanya.

    Pelaku bom bunuh diri dilaporkan berpura-pura hendak menyerahkan diri kepada pihak berwenang. Hal itu merupakan laporan kantor berita Saudi Press Agency. Serangan bom bunuh diri ini adalah upaya pembunuhan terhadap anggota kerajaan pertama dalam beberapa dekade terakhir dan serangan besar pertama terhadap kerajaan sejak tahun 2006.

    TV Al-Arabiya memperlihatkan Mohammed bin Nayef, yang terluka ringan, mengadakan pertemuan dengan Raja Abdullah setelah serangan itu. “Serangan itu mengindikasikan bahwa di luar sana ancaman sedang menunggu. Kadang-kadang, hal itu terjadi pada jarak yang lebih dekat dari perkiraan Anda,” lapor Reuters mengutip seorang diplomat Barat di Saudi yang tak disebutkan namanya.

    “Keluarga kerajaan memiliki banyak alasan untuk khawatir karena di negeri ini senjata bisa dengan mudah masuk dari perbatasan-perbatasan yang tak aman di utara dari Irak atau selatan dari Yaman.”

    Para aktivis Al Qaeda, termasuk mereka yang baru pulang dari Afganistan dan Irak, aman bersembunyi di Yaman, khususnya tiga provinsi yang berbatasan dengan Arab Saudi. Arab Saudi telah meningkatkan kampanye anti-Al Qaeda di negerinya dengan membunuh dan menangkap sebagian besar para pemimpinya setelah serangkaian serangan yang dimulai sejak 2003.

    Belum lama ini, di bulan yang sama, pihak berwenang Saudi mengumumkan bahwa mereka telah menangkap 44 orang yang diduga berkaitan dengan Al Qaeda, sekaligus menyita bahan-bahan ledak, detonator, dan senjata api. Kampanye ini dikritik oleh Human Rights Watch karena mengabaikan HAM.

  8. emon suremon said

    diskusi mengenai tuhan seperti rebutin pepesan kosong, ente tau gak tuhan,alloh,god itu kan kepercayaan masing-masing, jangan paksakan orang dengan kepercayaan ente, keblinger ente. Tapi kalo ente menganjurkan kebaikan seperti tidak ngebomin orang itu baru bener. Susah deh kalo otak ade di dengkul.

  9. kadzim said

    Dari cara menulisnya saja kita bisa tahu siapa emon suremon.

    Tidak perlu digubris.

  10. kadzim said

    Untuk orang-orang yang tinggal di daerahnya Jhony_Walker:

    Saya harap kalian tidak beranggapan bahwa saya membenci penganut agama kristen.

    Saya tidak membenci, saya hanya kasihan karena mereka (umat kristen) sedang dijalan yang sesat.

    Banyak saya tulis di blog ini tentang agama kristen dengan harapan agar umat kristen membacanya sambil berfikir lalu meninggalkan agama kristen / agama yang tidak dilandasi kebenaran.

    Berfikirlah demi keselamatan di hari kelak, karena di hari yang dijanjikan itu Saulus / Paulus juga akan mencari penolong dan tidak akan ada penolong baginya, setiap orang akan mengutamakan keselamatan dirinya masing-masing.

    Saulus / Paulus harus bertanggung jawab atas tipu daya yang telah dibuatnya di pengadilan Allah swt, Tuhan yang maha adil.

    Sekali lagi jangan beranggapan saya membenci kalian, saya hanya kasihan.

  11. Romo said

    saya menemukan jawaban atas pertanyaan kazhim, justru dari Kitab Suci Umat Islam….dan bukan dari Al-Kitab yang diyakini oleh kaum Kristen.

    Apakah Tuhan Bapa, Roh Kudus atau Yesus mewajibkan kalian menyembah Tuhan ? ya…jawabnya ada di Al-qur’an, Surah Adz-Dzariyat [51]: 56, Allah berfirman: “Dan tiadalah Aku ciptakan Jin dan Manusia, kecuali untuk menyembah AKU (Allah)”.
    Sedangkan di Al-Kitab, saya tidak menemukannya.

    Jika mereka bertiga mewajibkan atau salah satu dari mereka mewajibkan, Apakah ditentukan waktunya ?
    (pagi, siang, malam)
    Jawabnya: Ya…Justru jawabannya ada di Al-Qur’an, Surah Al-Isra: 79, Thaha:130, Al-fajr:1
    Di Al-Kitab…tidak kami temukan jawabannya.

    Seandainya Tuhan Bapa, Roh Kudus, Yesus tidak menentukan waktu, tetapi menentukan hari khusus dalam seminggu untuk menyembah.
    Yang saya tanyakan hari apakah itu ?
    (senen, selasa, rabu)
    Jawabnya: jawabannya ada di dalam Al-Qur’an, kita wajib ibadah setiap hari: Hud:115, al-Isra’:78, Thaha:14,

    Indahnya Al-qur’an

  12. Romo said

    saya menemukan jawaban atas pertanyaan kazhim, justru dari Kitab Suci Umat Islam….dan bukan dari Al-Kitab yang diyakini oleh kaum Kristen.

    Apakah Tuhan Bapa, Roh Kudus atau Yesus mewajibkan kalian menyembah Tuhan ? ya…jawabnya ada di Al-qur’an, Surah Adz-Dzariyat [51]: 56, Allah berfirman: “Dan tiadalah Aku ciptakan Jin dan Manusia, kecuali untuk menyembah AKU (Allah)”.
    Sedangkan di Al-Kitab, saya tidak menemukannya.

    Jika mereka bertiga mewajibkan atau salah satu dari mereka mewajibkan, Apakah ditentukan waktunya ?
    (pagi, siang, malam)
    Jawabnya: Ya…Justru jawabannya ada di Al-Qur’an, Surah Al-Isra: 79, Thaha:130, Al-fajr:1
    Di Al-Kitab…tidak kami temukan jawabannya.

    Seandainya Tuhan Bapa, Roh Kudus, Yesus tidak menentukan waktu, tetapi menentukan hari khusus dalam seminggu untuk menyembah.
    Yang saya tanyakan hari apakah itu ?
    (senen, selasa, rabu)
    Jawabnya: jawabannya ada di dalam Al-Qur’an, kita wajib ibadah setiap hari: Hud:115, al-Isra’:78, Thaha:14,

    Indahnya Al-qur’an

  13. Romo said

    kadzim…anda benar….

  14. kadzim said

    Salam Hormat untuk anda
    Pak Romo, Terima Kasih.

  15. PANGERAN ISLAM said

    MAKLUMAT DPP FPI

    SIKAP DPP FPI terhadap Malaysia:
    DPP FPI memprotes keras segala bentuk pelecehan yang dilakukan Malaysia terhadap Indonesia dari Soal TKI, Ambalat sampai dengan budaya. Tapi mengingat kita sekeluarga serumpun maka kami berharap penyelesaiannya secara DAMAI. FPI desak pemerintah RI agar berada di GARDA terdepan guna melakukan langkah-langkah diplomatik maupun advokasi untuk melindungi TKI, Ambalat dan Budaya. Jangan Pemrintah diam, apalgi memanfaatkan situasi tersebut sebagai PENGALIHAN ISU DALAM NEGERI. Kasihan rakyat, jangan dipermainkan. Dan ingat, Konflik RI-Malaysia akan menguntungkan BARAT. Bahkan AS & sekutunya jadi punya alasan untuk MEMBUKA PANGKALAN MILITER di NUSANTARA. Waspada !!!!!!!

    Sumber: DPP FPI/ Al-Habib Muhammad Rizieq Shihab

  16. kadzim said

    Pak Romo anda memang fantastic, Terima Kasih banyak.

  17. Azab said

    Apa kotak komentar ini tiap komentar lain nulis di sini, kotaknya semakin kecil?

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: