KabarNet

Aktual Tajam

Setelah Ar Rahmah, Media Islam Berikutnya ?!

Posted by KabarNet pada 30/08/2009

arrahmah Muhammad Fachry, Pemimpin Redaksi Ar Rahmah Media, mencurigai penahanan atasannya, Mohammad Jibril, terkait dengan pemberitaan yang selama ini dilakukan. Jibril merupakan pendiri dan pemimpin Ar Rahmah Media.

Hal ini dikatakan Fachry saat ditemui di Masjid Al Munawarrah, Komplek Witanaharja, Pamulang, Tangerang Selatan, Rabu, 26 Agustus 2009. “Mungkin polisi gerah atau gimana. Ada juga yang mengatakan ini situs teroris. Saya yakin dugaannya memang seperti itu (terkait dengan pemberitaan),” kata dia.

Fachry juga menduga penahanan Jibril merupakan cara untuk menutup Ar Rahmah Media secara tidak langsung. “(Polisi) Tidak bisa menyetop karena Ar Rahmah legal. Sehingga pimpinannya dikait-kaitkan dengan teroris,” kata Fachry.

Redaksi Arrahmah.com memprotes penetapan daftar pencarian orang (DPO) dan penculikan terhadap pimpinan dan pemilik Arrahmah.com, Muhammad Jibriel Abdulrahman. Situs berita muslim ini menilai polisi telah memerangi umat Islam.

“Ini memperjelas bahwa perang melawan terorisme sejatinya adalah perang memerangi Islam dan kaum Muslimin,” tulis Pemimpin Redaksi Arrahmah Muhammad Fachri dalam keterangan yang dikirim ke redaksi detik.com, Selasa (25/8/2009).

Fachri menyayangkan aparat yang main tangkap dan main culik pada orang yang menyuarakan Islam. Menurut Fachri, Jibriel siang hari baru saja dijadikan DPO oleh Polri, sore harinya ‘diculik’ orang tak dikenal dan diperlakukan dengan kasar.

Alasan penahanan Jibril oleh Polisi karena mendanai kegiatan terorisme, menurut Fachry, tidak masuk akal. Karena selama ini Jibril dengan Fachry mengelola Ar Rahmah Media dengan dana yang tidak besar.

“Kami saja masih kesulitan dana. Logikanya, kalau memang Jibril punya banyak uang, lebih baik untuk menguatkan Ar Rahmah Media. Tidak ada duit kok, tapi bisa biayai teroris,” kata Fachry.

Selama ini Ar Rahmah Media memang fokus dalam membuat media yang banyak memberitakan jihad. Bentuk media yang dihasilkan Ar Rahmah Media antara lain VCD tentang jihad, majalah Jihad Magz, poster jihad, buku, dan situs arrahmah.com.

Bahkan situs arrahmah.com pernah membuat kontroversi ketika memuat foto jenazah Imam Samudra setelah dieksekusi. Kemudian arrahmah.com juga memuat foto jenazah Air Setiawan sebelum dimakamkan di Solo.

Malam tadi, polisi juga menggeledah kantor redaksi Ar Rahmah di daerah Bintaro, Jakarta Selatan. Polisi membawa beberapa unit CPU dan seperangkat komputer.

Sedangkan Agen asing, Sidney Jones, seperti dilansir Reuters, Rabu (26/8/2009) menuduh bahwa Jibril, menjadi anggota sebuah grup yang dulu berhubungan erat dengan Al-Qaeda.

Kronologis

Sebelumnya Redaksi Arrahmah.com memprotes penetapan daftar pencarian orang (DPO) dan penculikan terhadap pimpinan dan pemilik Arrahmah media, Muhammad Jibriel Abdulrahman.

“Ini memperjelas bahwa perang melawan terorisme sejatinya adalah perang memerangi Islam dan kaum Muslimin,” tulis Pemimpin Redaksi Arrahmah Muhammad Fachri dalam keterangan yang dikirim ke redaksi sabili.co.id, Selasa (25/8/2009).

Menurut Fachri, Jibriel siang hari baru saja dijadikan DPO oleh Polri, sore harinya ‘diculik’ orang tak dikenal dan diperlakukan dengan kasar.

Mikaiel, adik M Jibriel menuturkan bahwa kakaknya dibawa paksa oleh tiga orang berbadan besar.

“Di dekat rumah saya lihat kakak saya ditangkap tiga orang berbadan besar. Saya lihat dia (Jibril) diborgol,” kata Mikaiel usai bertemu Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Nanan Sukarna di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (25/8/2009).

Kemudian Jibril dimasukkan ke dalam mobil.
Pertemuan Abu Jibril dengan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Sukarna di Mabes Polri tidak membuahkan hasil.

Anehnya Irjen Nanan Sukarna tidak mengetahui siapa yang ‘menculik’ Jibriel. Walaupun belakangan terungkap bahwa yang menculiknya adalah Polisi Juga, kenapa harus berbohong..??  (KN)

10 Tanggapan to “Setelah Ar Rahmah, Media Islam Berikutnya ?!”

  1. PANGERAN ISLAM said

    SIAPAKAH SIDNEY JONES? ILMUWAN ATAU PROVOKATOR YAHUDI?

    Seorang yang banyak mengopinikan bahwa Islam adalah Teroris adalah Sidney Jones. Bahkan orang ini sangat getol mempropagandakan bahwa semua simbol-simbol Islam adalah simbol Teroris? Siapakah Sidney Jones ini? Berikut ini hasil investigasi tentang Sidney Jones.

    Sidney Jones, direktur ICG (International Crisis Group) untuk Indonesia, tersandung masalah, karena sebagai orang asing kehadirannya tidak lagi dikehendaki di negeri ini. Alasan pengusiran itu, menurut Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) AM Hendropriyono, disebabkan oleh laporan-laporan yang dipublikasikannya berkenaan dengan terorisme Jamaah Islamiyah dikategorikan bias atau bersifat fitnah.

    Membaca laporan-laporan yang disampaikan Sidney Jones secara berkala, niscaya membuat banyak orang terkecoh. Tapi, bagi kalangan aktivis pergerakan, laporan itu haruslah disikapi dengan waspada dan hati-hati. Ketika sekelompok orang mendesak untuk menanggapi beberapa laporan yang sudah dipublikasikan ICG, penulis tidak merasa kaget: “Ini hanya sebuah permainan.” Saya percaya, Sidney Jones adalah seorang ilmuwan, sembari berharap, cepat atau lambat, ia akan kembali kepada fitrahnya sebagai ilmuwan, yaitu mengutamakan kebenaran serta menjunjung tinggi kejujuran intelektual.

    Sejak tahun 1980-an, ketika merebak kasus subversi yang diidentikkan dengan gerakan Islam radikal, dan ketika banyak aktivis Islam ditahan dan mendapat perlakuan tidak wajar dari pemerintah Orde Baru, Sidney Jones dengan bendera Amnesti Internasional tampil sebagai pembela yang simpatik dan manusiawi. Ia banyak mendokumentasikan berbagai proses pengadilan, dokumen persidangan, dan berbagai data lainnya. Semuanya itu, ternyata menjadi barang berharga pasca-tragedi WTC 911, suatu hal yang barangkali tidak diduga, bahkan oleh Sidney Jones sendiri. Secara teknis upaya pengumpulan data yang dilakukan Sidney Jones dan kemudian dipublikasikan dalam bentuk laporan berkala, tidak perlu dibantah. Ia lumayan berpengalaman di bidang itu. Namun, hal yang juga tidak bisa dibantah adalah adanya kepentingan intelijen yang menyertai gerak langkahnya, terutama di masa propaganda anti-terorisme digencarkan AS. Baik itu intelijen asing seperti CIA, yang tentu saja bekerja sama dengan lembaga intelijen maupun LSM lokal di Indonesia.

    Setiap laporan yang dipublikasikan, dilengkapi dengan catatan kaki, maraji’ (merujuk) yang jelas dan terang sumber-sumbernya, baik dari media massa, buku-buku, wawancara, termasuk juga dari dokumen (informasi) intelijen. Bagi mereka yang berada di “lapangan” ketika membaca laporan yang diterbitkan ICG, meski perlu sedikit waktu, namun tetap bisa dirasakan bagian-bagian mana yang berasal dari dokumen (informasi) intelijen, mana informasi yang jelas faktanya dan mana yang hanya fiktif belaka. Laporan ICG tentang terorisme, sebenarnya kebanyakan berasal dari dokumen (informasi) intelijen lokal.

    Maka, ketika baru-baru ini, laporan ICG berkenaan dengan terorisme mendapat sorotan negatif dan dinilai memfitnah oleh Badan Intelijen Negara (BIN), justru mengundang tanda tanya besar. Dengan mengatasnamakan pemerintah dan meminta dukungan Komisi I DPR RI, Kepala BIN AM Hendropriyono (25/5) melakukan upaya-upaya yang dianggap tepat, yaitu mengusir Sidney Jones sebagai orang yang tidak disukai oleh bangsa Indonesia.

    Mengapa baru sekarang? Sekiranya laporan-laporan ICG mengenai Jamaah Islamiyah (JI) dan terorisme, khususnya yang berkaitan dengan Indonesia dinilai menyebarkan berita bohong, mengapa baru sekarang diungkapkan? Betapa lambannya kerja aparat intelijen.

    Karena itu, wajar manakala berkembang opini, ketika hal yang bias tadi hanya merugikan umat Islam, hanya merugikan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, mereka diam saja. Bahkan menikmati buah yang dihasilkan dari kebijakan politik stick and carrot Presiden AS George W Bush.

    Kenyataan yang tidak mungkin ditutup-tutupi lagi, bahwa polisi melakukan penahanan paksa terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, lalu membawanya ke proses pengadilan, hingga ke tingkat MA, sebenarnya didasarkan pada laporan bias tadi. Hasilnya bagi polisi cukup pahit, fakta yang terungkap di pengadilan mencengangkan, Ustadz Ba’asyir hanya bisa dijerat untuk kasus pemalsuan identitas dan melakukan kesalahan prosedur keimigrasian. Artinya, jauh dari aroma terorisme.

    Dengan bersandar pada laporan yang bias tadi, polisi juga menangkap aktivis Muslim, bahkan ada yang mendapat siksaan, ditelanjangi lalu diminta memainkan alat vitalnya sambil distelkan video porno dan aneka perlakuan tidak wajar lainnya, seperti dialami tahanan kasus teroris di Bali. Juga, melakukan upaya evakuasi paksa terhadap Ustadz Ba’asyir dari RS PKU Muhammadiyah Solo ke tahanan Mabes Polda Jakarta. Bahkan ketika Ustadz Ba’asyir seharusnya menghirup udara bebas, meninggalkan sel penjara setelah menjalani vonis 18 bulan, pada 30 April lalu, aparat polisi justru menggelandangnya secara paksa dari Rutan Salemba, sehingga menyebabkan benturan berdarah antara polisi dan massa yang hendak menyambut kebebasan beliau.

    Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ketika itu menjabat Menko Polkam, mendapat keuntungan. SBY mendapat toast langsung dari Wolfowitz serta applaus meriah dari petinggi AS lainnya, ketika ia berkunjung ke Washington DC, seraya melaporkan keberhasilannya menangkapi para aktivis masjid yang diduga terkait terorisme. Kini SBY melenggang masuk bursa pencalonan presiden.

    Tampaknya ada semacam tradisi di kalangan pejabat Indonesia untuk selalu mengikuti ‘perintah’ AS. Bahkan ada semacam klenik politik, bahwa tanpa dukungan AS tidak mungkin seorang putra Indonesia bisa melaju mulus dan bisa bertahan lama menduduki kursi presiden di Indonesia.

    Megawati Soekarnoputri, selain menerbitkan UU Anti-Terorisme, pernah berucap, “Kita tidak mungkin melawan AS. Kalau melawan, kita tidak akan bisa bertahan walau hanya seminggu.”

    Wiranto, capres dari Golkar tampaknya juga punya keyakinan serupa. Di dalam, materi kampanyenya di TV swasta, Wiranto menampilkan sosok Paul Wolfowitz (Deputi Menhan AS, seorang arsitek pembantaian dan pemusnahan massal terhadap rakyat Irak). Belum lama ini Wiranto bertemu Dubes AS, Ralph L Boyce di Jakarta, setelah sebelumnya sempat menjadi penyanyi dadakan di sebuah acara ulang tahun Dhani Dewa, yang juga dihadiri beberapa petinggi AS.

    Hal lain, tumbuhnya permusuhan antara aparat kepolisian dengan aktivis penegak syariat Islam, terjadi antara lain berkat laporan yang bias tadi. Mengapa kita harus berdarah-darah karena sebuah laporan yang pada akhirnya diketahui bohong?

    Bebaskan para tersangka teroris
    Laporan ICG, memang itdak selalu akurat. Pada laporannya tanggal 8 Agustus 2002 misalnya, di bawah judul, “Al Qaeda in Southeast Asia: ‘Ngruki Network’ in Indonesia”, antara lain dikesankan bahwa penulis dan Agus Dwikarna (kini menjadi terpidana 10 tahun penjara di Filipina), sudah berkawan sejak lama, semenjak menjadi sesama aktivis menentang asas tunggal Pancasila. Padahal, penulis pertama kali berjumpa dan kenal Agus Dwikarna pada Agustus 2000, ketika ia membawa banyak partisipan dari Makassar mengikuti Kongres Mujahidin I yang diadakan di Yogyakarta.

    Agus Dwikarna adalah aktivis KPPSI (Komite Persiapan Penegakan Syariah Islam) di Sulawesi Selatan, jauh sebelum Kongres Mujahidin berlangsung. Kemudian, Agus Dwikarna menjadi wakil sekretaris Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin periode 2000-2003.

    Patut dipertanyakan, dari mana Sidney Jones mendapat informasi itu? Kemungkinan dari dokumen (informasi) badan intelijen. Sebab, bila ia mewawancarai penulis atau Agus, pastilah tidak akan ada kesalahan laporan seperti itu.

    Contoh lain, masih pada laporan yang sama, adalah informasi tentang Ibnu Thayib alias Abu Fatih alias Abdullah Anshari. Menurut laporan itu, Abdullah Anshari alias Ibnu Thayib alias Abu Fatih pada Juni 1986 berada di LP Cipinang. Ia mendekam di LP dengan vonis 9 tahun untuk kasus Usroh, dan tetap mendekam di LP hingga bebas tahun 1993. Dengan data palsu semacam itu, ICG kemudian membuat kesimpulan salah dan fatal, seakan-akan Majelis Mujahidin yang dipimpin Ustadz Abu Bakar Ba’asyir merupakan embrio DI/TII dan menjadi organisasi payung bagi Jamaah Islamiyah (JI).

    Padahal JI, seperti diceritakan Ustadz Iqbal Abdurrahman alias Abu Jibril yang dideportasi pemerintah Malaysia ke Indonesia, 14 Mei 2004, adalah istilah yang dibuat polisi Malaysia. Ketika sejumlah pemuda Islam Malaysia ditahan, 2001, di bawah UU Keamanan Dalam Negeri (ISA) dalam interogasi polisi menanyakan: “Siapa guru kalian?” “Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Ustadz Iqbal,” jawab mereka. “Apa nama kumpulan kalian?” “Kami hanya jamaah pengajian biasa, tidak ada namanya.” “Kalau begitu kalian disebut Jamaah Islamiyah saja.” Kemudian, persis seperti yang dilakukan Ali Moertopo dengan menciptakan istilah Komji (Komando Jihad) di masa Orde Baru, yang kemudian dijadikan alasan menangkap eksponen DI/TII dengan tuduhan subversi.

    Pada laporan ICG 11 Desember 2002, “Indonesia Backgrounder: How The Jemaah Islamiyah Terrorist Network Operates,” antara lain disebutkan bahwa Tengku Fauzi Hasbi alias Abu Jihad, paman Al Chaidar, mengenal dan pernah bertemu tokoh JI Abdullah Sungkar melalui bapaknya almarhum Tengku Hasbi Gedong. Laporan ICG juga menyebutkan bahwa Abu Jihad pernah bertemu dengan Al-Farouq, Hambali, dan sebagainya. Tetapi ICG sama sekali tidak melaporkan, bahwa sejak 1979, seperti dinyatakan sebuah sumber yang dekat dengan Lamtaruna, putra Tengku Fauzi, bahwa Abu Jihad sudah bekerja untuk TNI AD di dalam memerangi gerakan separatis di Aceh. Laporan itu hanya memberikan kesan bahwa Tengku Fauzi Hasbi alias Abu Jihad yang terbunuh Februari 2003 di Ambon ketika sedang menjalankan tugas dari lembaganya adalah tokoh Islam garis keras dari Aceh.

    Berkenaan dengan kasus Usroh, laporan ICG (8 Agustus 2002) sangat selektif, entah dengan maksud apa. Laporan itu sama sekali tidak mencantumkan nama Nur Hidayat (NH). Malahan, yang selalu disebut-sebut, selain Abdullah Sungkar adalah Ibnu Thoyib alias Abu Fatih alias Abdullah Anshari serta beberapa nama lainnya. Padahal sosok NH ini begitu penting pada masa itu, bahkan tetap penting pada masa-masa berikutnya (tahun 2000-an).

    Ketika ucapan yang ditujukan kepada Ibnu Thayib tidak mempan, ternyata umpan itu ditelan oleh NH. Kemudian meledaklah kasus Lampung yang terjadi Februari 1989. Sosok NH ini juga berperan penting menjelang kejatuhan rezim Soeharto (1998), khususnya yang berkaitan dengan pembentukan Pam Swakarsa.

    Pada tahun 2000, kasus peledakan malam Natal, sosok NH juga menjadi buah bibir. Beberapa saat setelah kasus peledakan Malam Natal tahun 2000 terjadi, kepada seorang tokoh Islam asal Bekasi, NH mengatakan via telepon, bahwa peledakan itu dilakukan oleh “orang-orang kita.”

    Pada harian Rakyat Merdeka, edisi 29 Januari 2001, NH mengatakan bahwa ia tahu akan terjadinya peledakan malam Natal 2000 dari seorang kawannya asal Bandung, bahkan sang kawan itu berusaha mengajaknya namun NH menolak. Pernyataan itu, seharusnya bisa menjadi alasan bagi pihak kepolisian untuk menindak NH. Tapi hal itu tidak dilakukan polisi.

    Sementara Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, hanya akibat ‘pengakuan’ Al-Farouq kepada majalah Time edisi September 2002 maupun pengakuan (BAP) Faiz Abubakar Bafana, beliau dibawa secara paksa dari RS PKU Solo, dimasukkan ke dalam rumah tahanan, dan diproses secara hukum. Setelah menjalani proses peradilan yang panjang, ternyata beliau tidak terbukti terlibat dalam kasus peledakan malam Natal tahun 2000.

    Berbeda dengan Ba’asyir, sosok NH jangankan tersentuh proses hukum, disebut-sebut saja tidak oleh Sidney Jones. Inilah salah satu kejanggalan yang amat luar biasa telanjang.

    Meski sudah mendapat ampunan dari Presiden Habibie, Ustadz Ba’asyir tetap diproses dan divonis 18 bulan oleh MA untuk kasus pelariannya ke Malaysia. Bandingkan dengan Wahidin, salah satu dari empat serangkai provokator kasus Lampung, yang hingga kini bebas melenggang ke sana ke mari bersama NH, padahal dulu ia buron, lenyap bagai ditelan bumi, guna menghindari proses hukum kasus Talangsari, Lampung, 1989.

    Begitu banyak kejanggalan dan bias yang bisa didapatkan dari laporan tentang terorisme, khususnya yang berkaitan dengan Indonesia. Apakah pantas jika karena itu polisi menguras tenaga, berdarah-darah, dan menzalimi ulama, seorang tua yang bahkan melalui sidang pengadilan pun tidak terbukti bersalah?

    Sekalipun terlambat, akhirnya pemerintah Indonesia menyadari telah diprovokasi LSM asing. Oleh karena itu, jika kesadaran pemerintah ini muncul dalam kerangka membangun Indonesia yang lebih bermartabat, maka keteledoran ini hendaknya didukung tindakan konkret. Pertama, Mahkamah Konstitusi segera menghapus UU No 1 tahun 2002 tentang Anti-Terorisme dan UU No 15 tahun 2003. Pencabutan ini tidak akan menyebabkan kekosongan hukum (rechtsvakuum) karena perihal pembunuhan berencana, pemilikan bom dan senjata, permufakatan jahat, pembajakan pesawat udara, ataupun makar, sebagaimana tercantum dalam UU Anti-Terorisme, telah diatur dalam peraturan hukum pidana RI.

    Kedua, dengan berbagai kebohongan pemerintah AS sejak peristiwa WTC (2001) hingga invasinya ke Irak (2003), bangsa Indonesia harus meyakini tentang kebobrokan konsepsi terorisme, karena itu pemerintah harus mundur dari Traktak Anti-Terorisme PBB. Ketiga, aparat keamanan yang telah menangkap ulama dan aktivis Islam menggunakan data bohong tentang terorisme Jamaah Islamiyah harus dimintai pertanggungjawaban dan diseret ke sidang pengadilan sebagai pelaku pelanggaran HAM berat. Dan keempat, tidak ada lagi alasan untuk berlama-lama menahan ulama dan aktivis muslim yang ditahan dengan tuduhan terorisme, maka pemerintah harus segera membebaskan mereka, demi kemanusiaan yang adil dan beradab.

    Sumber data dari:
    Irfan S Awwas
    Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

  2. PANGERAN ISLAM said

    DATA DIRI SIDNEY JONES, PROVOKATOR YANG MENYUDUTKAN ISLAM

    Sidney Jones

    Senior Adviser, Asia Program
    Jakarta, Indonesia

    Crisis Group role:

    Sidney Jones and Crisis Group’s South East Asian analysts based in Jakarta prepare analytical reports on the sources of conflict and violence in the region, with a particular focus on Indonesia. She has examined separatist conflicts (Aceh and Papua, Mindanao); communal conflicts (Poso, Moluccas); and ethnic conflict (Kalimantan). Her team has also looked at Islamic radicalism, producing a series of reports on Jemaah Islamiyah and its operations in Indonesia and the Philippines. It also looks at issues of security sector reform and decentralisation in Indonesia. Sidney frequently briefs the media, international organisations, and government representatives on these issues.

    Areas of expertise:

    •Terrorism in South East Asia
    •Indonesia, all aspects
    •Islam in South East Asia
    Professional background:

    •Asia Director, Human Rights Watch (1989-2002)
    •Indonesia-Philippines Researcher, Amnesty International (1985-88)
    •Program Officer, Ford Foundation (1977-1984)
    Publications and media:

    •”Noordin’s Dangerous Liaisons”, Tempo (Indonesia), 10 August 2009
    •”Noor Din M. Top, JI, dan Al-Qaidah”, Tempo (Indonesia), 10 August 2009
    •”Prison Reform can Counter Terror Risks”, The Age, 26 July 2009
    •Indonesia: “Communal Tension a Prime Security Threat”, The Jakarta Post, 3 January 2008
    •”Watch Out for More Surprises in Indonesia”, The Australian Financial Review, 3 January 2007
    •”Priorities for a GAM-Led Government in Aceh”, The Jakarta Post, 29 December 2006
    •”Papua Shrouded by Misperception”, The Australian Financial Review, 29 August 2006
    •”Asking the Right Questions to Fight Terror”, The Jakarta Post, 9 January 2006
    •”Terrorism’s Toxic Strains”, The Age, 5 October 2005
    •”Lessons from Latest Bali Bombings”, The Wall street Journal, The Asian Wall Street Journal, 4 October 2005
    •”Will Indonesia Seize Its Chance?”, BBC News Online, 8 January 2005
    •”After the Wave: Tsunami as Peacemaker”, The Asian Wall Street Journal, 7 January 2005
    •”Looking ahead in Indonesia: Challenges for the President-elect”, The International Herald Tribune, 25 September 2004
    •Making Money Off Migrants: The Indonesian Exodus to Malaysia, Center for Asia Pacific Social Transformation Studies, University of Wollongong, Sydney, Australia, 2000
    •Frequent interviews with local and international media outlets, including The New York Times, Financial Times, CNN, BBC, ABC, NBC, The Jakarta Post, NHK, and The Australian
    Languages:

    •Bahasa Indonesia (fluent)
    •English (native)

  3. PANGERAN ISLAM said

    SUMBER DANA SIDNEY JONES UNTUK MENDISKREDITKAN ISLAM adalah dari AMERIKA SERIKAT (YAHUDI-ZIONIS/ FREEMASONRY)

    Info selengkapnya:
    http://www.crisisgroup.org/home/index.cfm?id=5984&l=1

    PEMASOK DANA TERBESAR

    William J. Clinton
    42nd President of the United States

    George H.W. Bush
    41st President of the United States

    Issam M. Fares
    Former Deputy Prime Minister of Lebanon

    Master of Ceremonies:
    Christiane Amanpour
    CNN Chief International Correspondent

    Musical Performance:
    James Taylor

    Details:
    Date: 6:30 pm, October 28, 2009
    Venue: Waldorf=Astoria, New York City

    Sponsorship levels
    Platinum $ 50,000 or more
    1 table of 10 priority seats
    4 passes to VIP reception
    Listing on Crisis Group website
    Recognition in publicity materials
    Full page program ad

    Gold $ 25,000
    1 table of 10 priority seats
    2 passes to VIP Reception
    Listing on Crisis Group website
    Full page program ad

    Silver $ 15,000
    1 table of 10 priority seats
    Listing on Crisis Group website
    Half page program ad

    Benefactor $ 10,000
    1 table of 10 seats
    Listing on Crisis Group website
    Quarter page program ad
    Advocate $ 2,500
    1 priority seat
    Listing in program
    Optional quarter page program ad

    Friend $ 1,000
    1 seat
    Listing in program

    Special Tributes

    Place a corporate ad, special tribute to International Crisis Group or a congratulatory word to our honorees in the dinner program.

    Full page: $2,000
    Half page: $1,000
    Quarter page: $500

  4. PANGERAN ISLAM said

    MAKLUMAT DPP FPI

    SIKAP DPP FPI terhadap Malaysia:
    DPP FPI memprotes keras segala bentuk pelecehan yang dilakukan Malaysia terhadap Indonesia dari Soal TKI, Ambalat sampai dengan budaya. Tapi mengingat kita sekeluarga serumpun maka kami berharap penyelesaiannya secara DAMAI. FPI desak pemerintah RI agar berada di GARDA terdepan guna melakukan langkah-langkah diplomatik maupun advokasi untuk melindungi TKI, Ambalat dan Budaya. Jangan Pemrintah diam, apalgi memanfaatkan situasi tersebut sebagai PENGALIHAN ISU DALAM NEGERI. Kasihan rakyat, jangan dipermainkan. Dan ingat, Konflik RI-Malaysia akan menguntungkan BARAT. Bahkan AS & sekutunya jadi punya alasan untuk MEMBUKA PANGKALAN MILITER di NUSANTARA. Waspada !!!!!!!

    Sumber: DPP FPI/ Al-Habib Muhammad Rizieq Shihab

  5. kadzim said

    Assalamu alaikum wr wb.

    Pertama-tama saya sangat berterima kasih karena anda telah banyak mengungkapkan kebenaran yang sangat bermanfaat bagi para pembaca.

    Kedua, saya tidak kenal Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, tapi saya cukup kaget saat melihat Ustadz Abu Bakar Ba’asyir saat itu memasuki ruang sidang dengan didampingi Ustadz Muzakir.
    (menandakan hubungan kedua Ustad tersebut cukup akrab).

    Di sini saya bisa tulis dikit ciri-ciri Ustadz Muzakir; Tubuhnya Pendek, di Dahinya ada tanda hitam, Kalau lagi sholat selalu lama saat ruku’ dan sujud, saya bisa tulis ini semua karena saya kenal dengan Ustadz Muzakir.

    Saya tulis surat ini dalam keadaan menjalankan ibadah puasa, semoga anda faham dengan apa yang saya maksud.

    Saya tidak akan heran dan tidak mungkin terkejut jika suatu hari Sidney Jones atau siapa saja menyatakan; bahwa sebenarnya informasi yang sangat rahasia tentang Abu Bakar Ba’asyir kami dapatkan dari Ustadz Muzakir.

    ini saya tulis agar kalian lebih ber…..

    Jangan percaya dengan apa yang saya tulis sebelum anda buktikan dan juga jangan berjalan tanpa waspada, Sampai di sini surat saya semoga bermanfaat.

    Terima Kasih.

  6. PANGERAN ISLAM said

    Assalamu ‘alaikum
    Terima kasih atas informasi dari anda…

    Wassalamu ‘alaikum

    Pangeran Islam

  7. kadzim said

    Ketika Ya’kub ingin menenangkan diri, tiba-tiba datang seorang lelaki yang menampar mukanya, Ya’kub pun tersungkur tapi dengan gerak cepat akhirnya Ya’kub bangun dan langsung membalas.

    Ya’kub arahkan pukulan keras ke wajah lelaki itu, tidak mau kalah dengan Ya’kub, lelaki itu memukulkan kayu ke badan Ya’kub.

    Sambil menahan sakit Ya’kub mengambil batu dan melemparkannya ke tubuh lelaki itu, DUEL berjalan dengan seru dari malam hingga fajar.

    Dengan sisa tenaga yang ada, lelaki itu menendang keras ke arah Paha Ya’kub, karena tendangan cukup keras Akhirnya Paha Ya’kub terasa nyeri…
    DUEL itu terjadi bukan Ya’kub vs preman, tetapi Ya’kub vs Tuhan Allah.

    Berikut ini kisah pertarungan dari sumber Alkitab.

    KEJADIAN 32:22-32

    22Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok. 23Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya. 24Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. 25Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. 26Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” 27Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.” 28Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” 29Bertanyalah Yakub: “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. 30Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!” 31Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya. 32Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya.

  8. Alexa said

    Disini nampak jelas kalo si Kadzim itu ga ada apa-2nya sama si Pangeran Islam, tetapi sebenarnya setali tiga uang. Sama-2 musang berbulu domba. Cuma sangat disayangkan si Pangeran islam ini pasti ga paham bahwa ada yg namanya negara indonesia. Dia tidak cuma menghujad Sydney Jones, tetapi dia sudah melecehkan aparat intelejen. Saya yakin waktu orang lain berjuang untuk merdeka, nenek moyangnya Si Pangeran Islam ini sedang ngumpet dibawah kolong tempat tidur.
    Di sini, si Pangeran Islam adalah penghianat bangsa, sedangkan si Kadzim adalah kafir yg tidak berguna bagi nusa dan bangsa.

  9. kadzim said

    Alexa menulis macam-macam tujuannya cuma ingin lari dari perdebatan,
    Alexa bisa tanya ke pengunjung blog ini yang ber-agama kristen;
    Apakah ada satu dari penganut agama kristen yang tidak jungkir balik saat debat dengan kadzim ?

    Tentunya kadzim selalu menjadikan Alkitab sebagai bahan rujukan.

    Bukan menggunakan caci-maki seperti yang dilakukan pengikut Saulus / Paulus.

  10. harga pasaran kambing untuk aqiqah

    Setelah Ar Rahmah, Media Islam Berikutnya ?! « KabarNet.in

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: