KabarNet

Aktual Tajam

Kok Hanya Syeh Puji Yang Diperkarakan?

Posted by KabarNet pada 01/09/2009

syeh puji- Kuasa Hukum Pujiono Cahyo Widianto, Indra Sahnun Lubis, menyatakan penangkapan yang dilakukan oleh Polwiltabes Semarang terhadap kliennya adalah tindakan tidak profesional.

“Betul-betul tidak bijaksana. Penangkapannya dilakukan secara frontal,” kata Indra Sahnun Lubis, saat berbincang dengan Primair Online, Rabu (15/7) malam.

Menurut Indra, perilaku kepolisian itu membuat Pujiono seolah-oleh seperti seorang teroris. “Padahal perkaranya hanya kawin di bawah umur,” katanya.

Indra menambahkan, soal perkara kawin di bawah umur, jumlahnya ribuan terjadi di Indonesia. Bahkan, lanjut dia, peristiwa kawin masal tanpa adanya proses nikah yang sah juga banyak terjadi, tetapi tidak sama sekali dipermasalahkan pelakunya. “Kenapa itu tidak ditangkapin,” kata dia.

Indra. yang ketika dihubungi tengah berada di Mabes Polri untuk melapor kepada Kepala Divisi Profesi Pengamanan (Propam) Irjen Oegroseno, menyatakan polisi sudah melanggar kode etik. “Sudah melakukan kejahatan, karena menyeret-nyeret, ini bisa dipidana,” ungkapnya.

Meski sudah dilengkapi berkas penangkapan, kata dia, seharusnya kepolisian itu memanggil saja dengan surat panggilan dan tidak perlu penangkapan seperti itu. “Kasih saja saya surat, nanti dia (Puji) juga datang kok,” katanya.

Indra menyatakan dirinya tidak akan melaporkan tindakan aparat kepolisian ini kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), karena ia menilai anggota Kompolnas masih terdiri dari unsur kepolisian. “Kompolnas juga banci tidak bisa berbuat apa-apa, jadi percuma,” jelasnya.

Selasa (14/7) malam Pujiono ditangkap polisi untuk ditahan. Polisi beralasan Pujiono mempersulit pemeriksaan perkara pernikahan di bawah umur. Santri dan karyawan Pujiono sempat melawan polisi ketika Pujiono diseret polisi.
______________________________________________________

Pujiono terancam 15 tahun penjara

Semarang – Pujiono Cahyo Widianto terancam hukuman 15 tahun penjara dalam kasus pernikahan dengan gadis di bawah umur dan eksploitasi anak yang dilakukannya.

Kepala Seksi Pra-Penuntutan Pidana Umum (Kasi Pratut Pidum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah, Didik Djoko Adhi, mengatakan ada indikasi penolakan permohonan penangguhan penahanan dari jaksa penuntut umum (JPU) yang menangani kasusnya.

“JPU yang menangani kasus Pujiono telah mengisyaratkan menolak permohonan penangguhan penahanan yang bersangkutan,” kata salah satu JPU dalam kasus Pujiono, Senin (31/8).

JPU yang menangani kasus Syekh Puji ini merupakan lima jaksa gabungan dari Kejati Jawa Tengah dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambarawa.

Rinciannya adalah empat jaksa Kejati Jateng masing-masing bernama Didik Djoko Adhi, Suningsih, nunuk Dwi Astuti, dan Slamet Indra Wijaya. Seorang JPU berasal dari Kejari Ambarawa.

Selama masa penyusunan dakwaan, Pujiono ditahan selama 20 hari di rumah tahanan (rutan) Ambarawa.

“Masa penahanan Pujiono terhitung sejak berkas perkaranya dinyatakan lengkap (P-21) yaitu Selasa (25/8) sampai Minggu (13/9) mendatang,” ujarnya.

Menurut Didik, hingga saat ini tim JPU belum menerima permohonan penangguhan penahanan dari kuasa hukum Pujiono.

“Kalaupun ada, tim JPU kemungkinan besar akan menolak berkas permohonan penangguhan penahanan tersebut,” katanya.

Didik beralasan, pihaknya tidak mau gegabah dalam menangani kasus ini, sebab nanti dikhawatirkan Pujiono tidak kooperatif dan cenderung mempersulit proses hukum seperti yang pernah terjadi saat kasus Pujiono ditangani oleh Polwiltabes Semarang.

“Hal tersebut berdasar pengalaman jajaran Polwiltabes Semarang yang menangani kasus Pujiono,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, tim JPU masih terus menyusun dakwaan kasus Pujiono. Menurut rencana, minggu depan berkas perkara Pujiono sudah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Ambarawa karena tidak ada kendala dalam materi dakwaan.

Pasal yang didakwakan terhadap Syekh Puji adalah Pasal 81 ayat (2) atau 88 UU No 23 Tahun 2002, tentang perlindungan anak dan atau Pasal 290 ke-2e KUHP junto Pasal 55 ayat (1) ke-1e KUHP.

Dijelaskannya, untuk pasal 81 ancaman hukumannya adalah 15 tahun penjara, pasal 88 UU perlindungan anak diancam dengan hukuman maksimal sepuluh tahun penjara sedangkan untuk pasal 290, Syekh Puji diancam hukuman tujuh tahun penjara. (Primair Online)

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: