KabarNet

Aktual Tajam

PPP Dukung Angket Meski Century Seret Boediono

Posted by KabarNet pada 28/10/2009

Jakarta – Tak hanya PKS dari partai koalisi yang mendukung Hak Angket DPR RI untuk pengusutan kasus bailout Bank Century, ternyata Partai Pesatuan Pembangunan (PPP) juga menyatakan mendukung Hak Anget tersebut meski diperirakan Wakil Presiden (Wapres) Boediono dan Menteri Keuangan (menkeu) Sri Mulyani bisa terseret kasus tersebut.

“Kita menyadari Sri Mulyani dan Boediono bisa terseret kasus Century. Tapi kalau memang terbukti, apa boleh buat,” kata Ketua Fraksi PPP DPR RI Hasrul Azwar kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Selasa (27/10).

Menurut Hasrul, Fraksi PPP tetap berkomitmen dan kritis dalam menyikapi kasus Bank Century, meski PPP sebagai mitra koalisi Partai Demokrat. Pasalnya, Koalisi dengan pemerintah tidak boleh membungkam PPP dalam membongkar upaya kriminalisasi. “Kita tidak berkoalisi dengan hal-hal yang terkait pidana,” tegas mantan Ketua Komisi VIII DPR RI.

Menurutnya, dalam waktu dekat ini Fraksi PPP DPR akan mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) segera menyelesaikan dan melaporkan hasil audit Bank Century. Fraksi PPP juga akan menagih audit BPK tersebut selambatnya akhir November. “Kita berharap BPK tetap menjaga independensinya dalam menyelidiki kasus besar ini. Jika BPK main-main, dikhawatirkan kepercayaan publik terhadap lembaga ini akan hancur, BPK harus jujur,” tegasnya.

Hasrul meminta BPK tidak ragu membeberkan apabila benar skandal Bank Century terbukti, sebab hanya BPK yang saat ini menjadi kunci jawaban dari aliran dana kasus tersebut. “Setelah BPK menyampaikan laporannya, kita mendesak DPR segera membentuk panitia angket. Langkah ini harus dilakukan jika terbukti ada unsur pidana dalam proses pengucuran dana Rp 6,7 triliun,” tegas politisi senior PPP ini.

Ketua DPP PPP Lukman Hakim Saefuddin menambahkan, Fraksi PPP siap mendukung Hak Angket DPR karena skandal Bank Century tidak boleh dibiarkan begitu saja. “Kami mendukung pengusutan kasus Century ini dan upaya itu harus segera dilakukan,” tegas anggota Komisi III (bidang Hukum) DPR RI.

Menurut Lukman, BPK selaku auditor telah menyatakan menemukan adanya kejanggalan-kejanggalan dalam pengucuran dana hingga Rp 6,7 triliun untuk menyelamatkan bank itu. Dana penyelamatan yang dikucurkan itu jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah yang sebelumnya disepakati DPR dan pemerintah sebesar Rp 1,3 triliun.

Oleh karena itu, lanjut dia, sudah jelas bahwa permasalahan Bank Century itu harus ditindaklanjuti meskipun hingga saat ini BPK masih belum menyelesaikan audit investigasinya dan mengaku masih kesulitan melacak aliran dana nasabah Bank Century tersebut.

Golkar Takut SBY
Sementara Fraksi Partai Golkar (F-PG) DPR ternyata masih milang-miling meski kalangan DPR RI sdang menggodok usulan Hak Angket terkait bailout Bank Century. F-PG DPR mengaku lebih memilih untuk tidak menjadi inisiator, karena tidak enak dengan SBY. “Posisi Golkar bukan dalam posisi inisiator, kalau baik kita akan pelajari. Ini tidak ada hubungannya dengan koalisi, kan SBY juga sudah pernah bilang kalau perlu diusut ya lakukan secara tuntas. Kalau SBY belum katakan itu, kami Golkar ada rasa tidak enak untuk setuju,” aku Wakil Ketua DPR dari F-PG, Priyo Budi Santoso, Selasa (27/10).

Mantan Ketua F-PG DPR RI ini mengatakan, Fraksi Partai Golkar lebih memilih bersikap menunggu perkembangan selanjutnya. Hal itu dilakukan untuk menjaga perasaan SBY dan Partai Demokrat sebagai mitra koalisinya. “Posisi kami di Golkar masih wait and see, karena kalau perlu diusut secara tuntas maka Golkar akan bersama mendorong dan mendukung. Tapi kami tidak dalam posisi memprakarsai,” kilah Priyo.

Namun demikian, ia memeinta kasus bailout Bank Century ini jangan tergesa-gesa diopinikan untuk menyerang Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani. “Jangan diopinikan kasus ini menyangkut Wapres dan Menkeu,” pinta fungsionaris DPP Partai Golkar ini.

Sikap Golkar Kok Beda?
Nampaknya, internal Fraksi Partai Golkar (F-PG) DPR RI bakal terjadi perpecahan dalam menyikapi dibentuknya Hak Angket kasus Bank Century. Meski kader Golkar Priyo Budi Santoso yang duduk sebagai Wakil Ketua DPR ragu-ragu menyatakan dukungannya terhadap Angket DPR tersebut, namun anggota F-PG DPR Bambang Soesatyo menyatakan, Fraksi Golkar akan habis-habisan mendukung penggunaan hak angket kasus Bank Century.

Ia mengkalim, sebanyak 106 anggota Fraksi Golkar dipastikan akan menandatangani rancangan usulan hak angket. “Kalau angket beredar hari ini anggota fraksi Golkar akan tandatangan,” aku Bambang Soesantyo.

Keputusan mendukung hak angket tersebut, kata Bambang, atas instruksi langsung pimpinan fraksinya. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Bambang melanjutkan, juga menginstruksikan agar fraksi mengutamakan penegakkan hukum. “Untuk memperjelas kasus Bank Century,” tambahnya.

Namun, lanjut Bambang, saat ini draf usulan hak angket Bank Century telah beredar di kalangan anggota dewan. Ia optimistis akan mendapat dukungan dari fraksi lain. Setidaknya, menurut dia, PDIP, Hanura dan Gerindra akan turut menggulirkan hak angket. “Sebagian anggota Fraksi Partai Demokrat juga mendukung,” katanya.

Menurutnya, pembentukan Pansus Angket kemungkinan baru akan disusun setelah BPK menyampaikan laporan akhir atas audit investigasi mereka. Jika laporan akhir BPK tidak memuaskan, maka DPR akan membentuk Pansus. Ia pun menyatakan, Hak Angket perlu digulirkan untuk mendukung BPK guna mencari tahu apakah bailout Rp 6,7 triliun untuk Bank Century tepat, karena dana yang disetujui DPR hanya Rp 1,3 triliun. “Dan kemana saja larinya uang itu?” tanya Bambang. (Jakartapress)

Satu Tanggapan to “PPP Dukung Angket Meski Century Seret Boediono”

  1. During the Napoleonic Wars , trade between Europe and Britain evaporated, resulting in the gradual decline of the wallpaper industry in Britain. However, the end of the war saw a massive demand in Europe for British goods which had been inaccessible during the wars, including cheap, colourful wallpaper. The development of steam-powered printing presses in Britain in 1813 allowed manufacturers to mass-produce wallpaper, reducing its price and so making it affordable to working-class people. Wallpaper enjoyed a huge boom in popularity in the nineteenth century, seen as a cheap and very effective way of brightening up cramped and dark rooms in working-class areas. By the early twentieth century, wallpaper had established itself as one of the most popular household items across the Western world. During the late 1980s though, wallpaper began to fall out of fashion in lieu of Faux Painting which can be more easily removed by simply re-painting.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: