KabarNet

Aktual Tajam

Nasib Nasabah Century Tinggal Kenangan

Posted by KabarNet pada 29/10/2009

JAKARTA – Pemerintah diminta mengumumkan aliran dana talangan untuk Bank Century senilai Rp 6,7 triliun. Sebab, sudah muncul kecurigaan bahwa dana talangan itu sudah tidak ada.

Meski menginginkan proses hukum tetap dilanjutkan, pengamat perbankan Yanuar Rizki mengatakan, nasabah eks Bank Century lebih menginginkan dana mereka dikembalikan.

“Yang terjadi sekarang, nasabah Antaboga masih menangis karena tidak bisa mengambil uangnya. Selain itu, deposan besar juga mengaku baru mengambil sedikit dari total uang yang dimiliki di Bank Century. Ini menimbulkan kecurigaan, jangan-jangan dana yang disuntikkan LPS sudah tidak ada alias kosong,” ujar Yanuar di Jakarta, dalam diskusi mengenai kasus Bank Century, Rabu (28/10) kemarin.

Menurut dia, pengusaha Budi Sampoerna yang memiliki dana triliunan rupiah di Bank Century baru mengambil sekitar Rp 200 miliar hingga Rp 500 miliar. Sementara Yanuar sendiri mengaku menerima pengaduan dari beberapa nasabah Bank Century yang belum bisa mengambil uangnya.

“Padahal, logikanya, kalau memang sudah disuntik, ada dana tersedia Rp 6,7 triliun. Berarti, nasabah Antaboga sudah bisa mengambil uangnya,” ujar Yanuar.

Sebenarnya, kata Yanuar, penyelesaian kasus Bank Century bisa dibuat lebih sederhana jika pemerintah terbuka kepada publik tentang aliran dana bank itu.

“Setelah itu, terserah publik yang menilai. Pihak-pihak yang tadinya berpolemik akan bisa menilai aliran dana itu. Jika itu sudah dilakukan, kasus ini sudah bisa selesai dan tidak berkepanjangan,” kata dia.

Jika tidak ada transparansi, ujar Yanuar, kasus ini akan terus menjadi polemik. Masing-masing pihak yang seharusnya bertanggung jawab mempunyai jurus dan rumus sendiri untuk menjelaskan kasus ini.

“Ada yang bilang, kalau tidak disuntik, akan ada risiko sistemik. Lainnya bilang, kalau tidak disuntik, perbankan nasional akan ikut terpengaruh. Masing-masing punya jurus dan rumus untuk berkelit,” tutur anggota Indonesia Corruption Watch (ICW) ini.

Yanuar menegaskan bahwa proses hukum memang harus dilakukan untuk mendapatkan orang yang bertanggung jawab atas hal ini sehingga pemerintah harus merogoh anggaran hingga Rp 6,7 triliun demi menyelamatkan bank ini.

“Hanya proses hukum yang bisa menjawab siapa yang bersalah. Hanya proses hukum juga yang bisa membersihkan nama Menkeu Sri Mulyani, Wapres Boediono, dan Presiden sendiri,” kata Yanuar.

Namun, dia mengingatkan bahwa yang paling penting bagi masyarakat adalah masalah pengembalian dana. “Bagi nasabah, tidak penting siapa yang dipenjara atau siapa yang salah. Yang penting bagi mereka, uang mereka kembali,” ujarnya.

Menurut dia, tidak ada salahnya jika pemerintah terbuka mengenai aliran dana Bank Century. Sebab, bank ini merupakan bank publik yang sebagian sahamnya dimiliki publik.

Sementara itu, Partai Golkar memerintahkan fraksinya di DPR agar melakukan usaha-usaha meng-clear-kan isu seputar kasus Bank Century ini.

Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie menyebutkan, langkah menuntaskan kasus ini bisa ditempuh melalui mekanisme hak angket, interpelasi, pembicaraan di komisi atau antarkomisi di DPR. Dia juga minta agar penyelesaian kasus Bank Century menunggu hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Aburizal yakin, kebijakan partainya tak akan mengganggu hubungan Partai Golkar dengan pemerintah.

Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR Setya Novanto menegaskan bahwa sikap FPG atas usul hak angket DPR dalam kasus Bank Century masih menunggu hasil audit investigasi BPK dan Kelompok Fraksi (Poksi) XI DPR. Karena itu, FPG hanya menghargai dan mendukung rencana itu sebagai hak pribadi anggota FPG DPR. Sedangkan secara institusi, FPG masih harus menunggu hasil audit BPK dan Poksi XI DPR itu.

Menurut Setya Novanto, jika ada anggota FPG yang menandatangani komitmen hak angket DPR, itu merupakan hak demokrasi anggota. FPG DPR akan mendukung upaya pengungkapan kebenaran.

Hanya saja keputusan resmi institusi masih harus menunggu hasil audit BPK dan Poksi Komisi XI DPR.

Untuk itu, FPG mendesak BPK dan Poksi Komisi XI DPR agar segera menyelesaikan audit investigasi aliran dana penyelamatan Bank Century ini.

Sementara itu, mantan Presiden PKS Tifatul Sembiring mengaku belum tahu sikap PKS terkait wacana penggunaan hak angket DPR mengenai kasus Bank Century. Dia hanya tahu bahwa PKS bukan tidak setuju dengan hak angket. Namun, PKS menunggu hasil audit BPK.

“Nanti kita lihat bagaimana perkembangan di Dewan. Saya sudah mengundurkan diri dari DPR, jadi belum tahu update perkembangannya,” kata Tifatul di Jakarta, Rabu.

Namun, Tifatul minta agar semua pihak percaya terhadap proses audit investigasi oleh BPK. Ia pun minta agar kasus ini jangan dibesar-besarkan. “Jangan menduga-duga dulu, tidak baik suudzon (berprasangka buruk), kalau hukum jangan diduga-duga,” kata dia.

Ketua DPP PPP, yang juga Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saefuddin, mengatakan, fraksinya siap mendukung Panitia Hak Angket DPR untuk mengusut kasus bailout Bank Century. (Suara Karya/ KN)

Satu Tanggapan to “Nasib Nasabah Century Tinggal Kenangan”

  1. capunk said

    Masyarakat mengharapkan Kepada Para Wakil Rakyat yang baru saja dilantik Menjadi Wakil Rakyat untuk mendukung Hak Angket darimana pun Partai para anggota DPR harus mendukung Hak Angket !bila Bapak2 dan Ibu2 yang sudah dilantik menjadi Anggota DPR tidak mendukung Hak Angket itu artinya sudah menghiati Rakyat

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: