KabarNet

Aktual Tajam

Pemilik Jubah Tatung Diciduk Polisi

Posted by KabarNet pada 08/03/2010

Polisi intens menggarap kasus penodaan agama Islam. Saksi ahli ditambah dari kalangan akademisi. Besok, rencananya penyerahan berkas ke penuntut. Tak hanya Bn, 35 yang ditahan polisi dalam kasus penodaan agama oleh tatung yang mengenakan jubah dan kaus bertuliskan ayat Alquran. At, 35 pemilik jubah tersebut akhirnya turut ditahan polisi lantaran keikutsertaannya.
“At telah kita tahan setelah Bn. At dikenakan pasal atas keikutsertaannya dalam penodaan agama tersebut. Ia pun ditetapkan sebagai tersangka dan diproses,” ujar Kasat Reskrim Poltabes Pontianak, Kompol Sunario SIK kepada Equator, kemarin.

Jubah warna hitam yang di bagian belakangnya bertuliskan Allah tersebut memang milik At. Jubah itu diperoleh tersangka dari seseorang sekitar dua tahun yang lalu. Selanjutnya jubah tersebut disimpan di Toapekong Kapuas Indah. Sementara terhadap Ah, polisi tidak menemukan keterlibatan yang bersangkutan.

Berdasarkan pengakuan At, ia tidak mengetahui siapa yang memakaikan jubah tersebut kepada Bn. Begitu pula Bn, ia juga tidak mengetahui siapa yang mengenakan jubah tersebut kepada dirinya. Sebab Bn mengenakan jubah tersebut setelah menjalani ritual di Toapekong. “Mereka berdua tidak tahu siapa yang memakainya karena keduanya sudah dalam kondisi kesurupan,” kata Sunario tanpa merinci apakah penggunaan baju kaus bertuliskan Alquran juga dilakukan tanpa sadar.

Selain pernyataan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Departemen Agama (Depag), penyidik Poltabes Pontianak pun sedang mencari sumber saksi ahli lain. “Saat ini kami sedang mengumpulkan keterangan saksi ahli agama yang berasal dari akademisi,” ungkapnya.

Atas perbuatannya, kedua pelaku akan dijerat pasal 156 huruf (a) KUHP tentang penodaan agama dengan ancaman hukuman lima tahun. “Kalau tidak ada halangan Senin (besok, red) berkas perkaranya akan dikirim ke kejaksaan,” lanjut Sunario.

Diberitakan sebelumnya saat perayaan Cap Go Meh, Minggu (28/2) Bn diamankan warga tepat di depan Lapangan Sepak Bola Keboen Sajoek saat Bn menunjukkan kesaktiannya bermain tatung di depan khalayak ramai. Bn memakai jubah warna hitam yang di bagian belakangnya terdapat kain yang disulam merangkai lafadz Allah. Selain itu memakai kaus warna putih yang bertuliskan ayat-ayat Alquran.

Ia kemudian dibawa warga ke Poltabes Pontianak beserta barang bukti baju dan jubah tersebut. Pada hari itu juga sebanyak enam orang membuat laporan polisi dengan delik penodaan agama.
___________________

Berkas Penodaan Agama Dilimpahkan ke Kejari

Berkas kasus penodaan agama yang disangkakan kepada Dn, 35, dan At, 35, akan diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari), Senin (8/3) hari ini. Polisi ini kasus tersebut cepat diselesaikan.

Berkas yang akan dikirim ke Kejari dibuat dua. Satu berkas perkara Dn. Sedangkan satunya perkara At. “Berkas sudah lengkap. Besok (hari ini, red) akan dikirim ke Kejari dengan dua berkas yang berbeda,” info Kasat Reskrim Poltabes Pontianak, Kompol Sunario SIK, kemarin.

Sementara itu, itu DPD Front Pembela Islam (FPI) Kalbar menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada pihak kepolisian, dalam hal ini bapak Kapoltabes Pontianak yang cepat dan tanggap dalam menyikapi persoalan yang sangat meresahkan umat Islam.

FPI meminta secepatnya proses hokum terhadap masalah penistaan terhadap umat Islam ini di meja hijaukan. Di samping itu, FPI menduga ada pihak-pihak tertentu yang menyebabkan permasalahan ini terjadi.

Untuk itu, FPI meminta kepada pihak kepolisian untuk mengungkap siapa saja aktor intelektual di belakang semua ini hingga terjadi peristiwa tersebut. Orang tersebut harus segera diproses dan ditahan.

Kepada panitia penyelenggara kegiatan tersebut juga harus bertanggung jawab terhadap persoalan ini. Secepatnya, secara terbuka meminta maaf kepada masyarakat, khususnya umat Islam, baik melalui media massa maupun elektronik.

FPI juga meminta kepada umat Islam khususnya untuk tidak terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang mungkin mencoba memancing di air keruh. Sebab, FPI minta memercayakan permasalahan kasus ini kepada kepolisian untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

DPD FPI Kalbar dengan dukungan umat Islam akan terus mengawal dan memantau kasus ini hingga diproses di pengadilan. Kepada pelaku agar diberikan hukuman yang berat supaya ada efek jeranya, agar kasus serupa tidak akan pernah lagi terjadi atau terulang kembali dikota ini pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Di tempat terpisah, Dn memohon maaf kepada seluruh warga Muslim atas kekhilafan dirinya. Sebab ia mengenakan jubah tersebut karena tidak sadar. “Kepada ulama-ulama dan umat Islam keseluruhannya, saya mohon maaf sebesar-besarnya, dunia dan akhirat. Sebab saya melakukan hal itu di luar kesadaran saya,” pintanya dengan nada pilu.

Diceritakan kembali Dn, sebelum terjadi peristiwa tersebut ia diajak teman-temannya menjadi tatung. Awalnya, ia menyanggupi, namun akhirnya ia membatalkannya. Sementara temannya, Ahun dan At bermain menjadi tatung. Setelah melihat Ahun dan At kemasukan, Dn terkejut dan pingsan lalu kerasukan. Ia baru sadar dari kesurupannya setelah berada di Poltabes. “Saya tidak boleh terkejut. Kalau saya terkejut pasti kesurupan, karena bukan kali ini saja saya kesurupan,” ceritanya.

Dn terpaksa harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri. Akibat ketidaktahuannya tersebut ia pun harus masuk penjara. “Saya tidak tahu lagi nasib keluarga saya. Selama ini sayalah yang menanggung hidup keluarga,” ujar ayah tiga anak ini.

Dn kesehariannya bekerja sebagai tukang bangunan. Pekerjaan itu tidak setiap hari ia lakukan. “Saya kalau kerja bangunan, biasa digaji Rp 35 ribu per hari. Saya juga pandai nyemen dan biasa digaji Rp 50 ribu per hari,” katanya.

Selain kerja bangunan, keahlian lain Dn mengobati orang sakit. Kebanyakan ia menyembuhkan penyakit demam panas yang sering diderita anak-anak. Ia pun mahir meracik obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit. Selama ia mengobati orang sakit dan diberi uang tidak pernah ia gunakan untuk makan.

Begitu pula dengan penjualan obat miliknya, ia sumbangkan di Panti Asuhan Tunas Melati yang berada di Kota Baru. “Demi Allah, selama saya menyembuhkan penyakit orang dan memberikan obat tidak pernah saya pakai. Uang tersebut selalu saya sumbangkan ke Panti Asuhan Tunas Melati. Uang tersebut saya berikan kepada guru ngaji di panti itu,” tuturnya.

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICM) Kalbar, H Ilham Sanusi mengecam aksi penodaan agama itu. Dia meminta polisi untuk menangkap aktor intelektual di belakang kejadian itu.

“Saya yakin ada aktor intelektualnya. Polisi harus segera menangkapnya. Kita tidak mau simbol-simbol Islam dilecehkan seperti itu,” tegas Ilham dengan nada geram.

Umat Islam tidak mempersoalkan soal Capgomeh itu. Silakan saja digelar, tapi janganlah sampai membawa simbol agama lain. “Persoalan agama ini sangat riskan, dan tidak boleh sembarangan digunakan. Wajar apabila umat Islam marah, karena menyangkut keyakinan,” tandasnya.

Ilham meminta, kejadian seperti itu jangan terjadi lagi. Pihak penyelenggara Capgomeh tidak bisa lepas tangan begitu saja. “Bila perlu harus meminta maaf secara terbuka kepada umat Islam. Bila hal ini dibiarkan, kita khawatir, suatu saat nanti terjadi lagi,” desak Ilham. (equatornews)

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: