KabarNet

Aktual Tajam

Antek-Antek Neolib

Posted by KabarNet pada 07/05/2010

Sejak dulu Indonesia hanya diperas oleh negara-negara lain sebagai pemasok bahan baku (bahan mentah) untuk kepentingan industri mereka. Kemudian, kita mengimpor hasil industri mereka (barang jadi). Ekonomi tumbuh, tapi tidak ada perubahan. Kita ini seperti “bayi” gedhe (besar): badannya besar, tapi tidak dewasa.

Rakyat kita tentu tidak rela bahan mentah yang dimiliki Bumi Pertiwi terus-menerus dikuras untuk diekspor. Tapi, nyatanya ekspor bahan baku terus berlangsung. Dan celakanya, dalam realitas politik rakyat sering hanya dipolitisasi untuk pengambilan kebijakan-kebijakan politik-ekonomi oleh para elite kepemimpinan politik kita.

Karena itu, ekspor bahan baku–karet, batu bara, gas alam, rotan, dan minyak mentah misalnya–jalan terus. Kursi rotan yang bagus-bagus di Itali itu bahannya dari Indonesia. Kita juga menjual gas alam dengan sangat murah dan kontraknya jangka panjang. Nilai tambahnya tidak ada pada kita. Padahal, konstitusi mengamanatkan agar sumber daya alam dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat, untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Nyatanya?

Kita juga tetap impor hasil industri. Beras dan gula kemarin kita masih impor. Begitu juga kedelai. Perdagangan kita dengan China, misalnya, kita jual bahan baku, kemudian kita beli mesin. Jepang menangkap ikan dari laut kita, kemudian kita beli ikan kalengnya. Sangat tidak seimbang.

Ini artinya pemerintah gagal mengubah struktur income kita. Ada growth, tetapi tidak ada change. Kesannya, pemimpin kita seperti tidak bisa berbuat apa-apa. Para pemimpin kita terlalu pasrah terhadap dunia internasional.

Sebenarnya, kita ini “dikadali” oleh negara-negara maju. Orang bule mengetahui kita korup. Banyak di antara para pemimpin kita bermental budak. Sudah korup, bermental budak lagi, jadi pantas bagi mereka untuk “dikadali”.

Pemerintah tampaknya tidak mempunyai strategi, kebijakan, dan perencanaan bagaimana mempertahankan bahan baku yang kita miliki. Padahal, kekayaan alam kita makin lama tentu akan makin menipis. Banyak di antara para pemimpin kita yang hanya menjadi alat bagi kepentingan neoliberal (neolib). Ini makin jelas.

Para pemimpin kita bisanya cuma bagaimana mempertahankan nilai dolar dan menjual surat utang negara (SUN). SUN dijual 9 persen, misalnya.

Melihat perkembangan ekonomi, mestinya jangan cuma dari sisi makronya. Perkembangan (pertumbuhan) ekonomi secara makro belum tentu mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya. Artinya, perkembangan sektor riil–yang sesungguhnya merupakan fondasi ekonomi nasional–juga harus dilihat.

Para ekonom kita sudah sering mengingatkan, jangan cuma bicara makro, tapi sektor riil harus diberdayakan. Ekonomi rakyat harus digerakkan. Tapi, bagaimana kita mau maju kalau para pemimpin kita menjadi antek neolib? (Suara Karya)

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: