KabarNet

Aktual Tajam

Benarkah ‘ISU TEROR’ Untuk Menutupi Kasus Besar?

Posted by KabarNet pada 28/05/2010

Oleh: R. Mintardjo Wardhani
Judul tulisan diatas sengaja saya pakai karena sering muncul pendapat bahkan pernyataan yang mengatakan bahwa isu terror di Indonesia untuk menutupi “ Kasus Besar “, Karena memang faktanya isu terror yang disertai dengan penggrebegan, penangkapan bahkan sampai pembunuhan brutal oleh Densus 88 terhadap “ Yang Diduga Terorist “ selalu muncul ketika di Indonesia sedang ada “ Kasus Besar “, yang diungkap, misalnya Kasus Century, atau ada kasus di tubuh Kepolisian sendiri.

Misalnya pada bulan September 2009, ketika terjadinya kriminalasisai KPK dengan ditangkap nya Bibit dan Chandra Hamzah disusul dengan dibukanya rekaman Markus di Polri oleh MK, Polisi menembak mati Nordin M. Top

Pada Maret 2010, ketika DPR sedang giat-giatnya menggelar Kasus Century, Polisi menembak mati Dulmaltin di Pamulang dan penyergapan terrorist di Aceh ketika Susno Duadji membongkar Kasus Mafia Pajak Gayus Tambunan yang diduga melibatkan beberapa Perwira Tinggi Polri, Polisi melanjutkan penyergapan terrorist di Aceh.

Terakhir Ketika Ketika Susno Duadji ditangkap dan ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua, Polisi mengadakan penggrebekan dan pembunuhan di Cawang, Cikampek dan Sukohardjo.

Pertanyaannya, benarkah adanya penyergapan dan pembunuhan berencana yang dilakukan Densus 88 terhadap “ Yang Diduga Terorist “ hanya untuk mengalihkan perhatian atas Kasus Besar yang sedang diungkap ?

Jawabnya tentu bisa benar dan bisa juga salah

Jika jawabanya salah, berarti penggrebegan, penangkapan bahkan pembunuhan terhadap “ Yang Diduga Terorist “ tersebut sama sekali tidak terkait dengan  “ Kasus Besar “ yang sedang diungkap, jadi bisa juga hanya waktunya saja yang kebetulan bersamaan atau berdekatan.

Jika jawabannya benar,

Mengapa untuk menutupi suatu kasus harus dengan mebuat kasus lain dan celakanya harus mengorbankan jiwa manusia dan ini tentunya merupakanb kaus yang jauh lebih besar, karena dalam ajaran Islam : barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

Tidakkah mereka belum terbukti bersalah karena belum pernah diadili, kenapa begitu gampang membunuhnya, tetapi kenapa yang justru sudah terbukti bersalah membunuh jutaan manusia dan mengadakan perusakan dimuka bumi seperti halnya para produsen dan pengedar narkoba, para pembalak hutan, para koruptor dibiarkan, bahkan masih bisa hidup ber mewah-mewah.

Memang untuk menghalalkan cara yang sudah dilakukan tersebut dengan membunuh “ Yang Diduga Terorist “ biasanya pihak Kepolisian segera mengadakan jumpa pers, dan memberikan keterangan begitu detail seakan semuanya berjalan sesuai prosedur dengan data yang begitu akurat, mulai dari riwayat terrorist sampai berbagai macam kejahatan yang pernah dilakukan. Selain membeberkan berbagai kejahatan yang pernah dilakukan Polisi juga menyampaikan alasan mengapa harus menembak mati, dan alasan yang paling jitu tentunya karena para terrorist tersebut melawan.

Tapi fakta dilapangan bagaimana ?

“Ternyata Dua Teroris di Cawang Masih Hidup Saat Dibawa ke Mobil”

keduanya pun dibawa hidup-hidup ke mobil. Sedangkan satu pria yang sudah tewas tersebut juga sudah digotong ke dalam mobil….

Jakarta – Sejumlah warga di sekitar lokasi penyergapan teroris di Cawang, Jakarta Timur melihat kalau dua dari 3 teroris yang ditangkap masih hidup. Hal ini berlawanan dengan keterangan dari pihak RS Polri yang menyatakan 3 teroris di Cawang sudah tak bernyawa saat masuk ke rumah sakit.

“Yang hidup dua orang. Yang meninggal satu. Tahunya masih hidup karena mereka dibawa ke dalam mobil. Sedangkan yang satu ditembak,” kata salah seorang warga di sekitar lokasi yang enggan disebut namanya, Kamis (13/5/2010).

Warga tersebut menceritakan saat itu tiga orang yang diduga teroris turun dari taksi. Satu di antaranya langsung menaiki motor yang ada di lokasi. Dua orang lainnya berjalan ke arah Pusat Grosir Cililitan (PGC).

Namun tiba-tiba saja sejumlah pria berbadan tegap yang bermuka kumel dan kucel datang dari segala arah. Belum sempat mengendari motornya, seorang pria tersebut kemudian ditembak.
“Dia terus tersungkur. Terus nggak lama dia takbir,” jelasnya.

Menurut saksi, warga di sekitar lokasi termasuk kakak ipar dan kakak kandungnya ikut menyaksikan kejadian bak mirip film-film Hollywood tersebut. Tanpa melawan dan tanpa memberontak, pria yang mau naik motor itu ditembak.

Karena mendengar suara tembakan ke arah temannya, dua orang laki-laki lainnya kemudian berlari. Pria-pria berbadan tegap itupun mengejar kedua pria tersebut. Keduanya pun tertangkap.“Kata kakak saya yang lihat langsung, satu dipukul pakai pistol. Satu lagi dipukul pakai batu besar wajahnya sampai berdarah-darah. Mereka tidak melawan dan tidak memberontak,” ungkapnya.

Melihat kejadian tersebut, warga sekitar masih tak tahu apa gerangan yang terjadi. Tiba-tiba saja ada orang yang berteriak rampok. Tak lama kedua pria yang ditangkap tersebut ditaruh di tengah-tengah warga. Mendengar teriakan rampok tadi, warga kemudian ikut menghakimi kedua pria tadi.“Nggak tahu siapa yang berteriak. Jadi warga ikut gebukin,” imbuhnya.

Setelah itu, lanjut saksi ini, keduanya pun dibawa hidup-hidup ke mobil. Sedangkan satu pria yang sudah tewas tersebut juga sudah digotong ke dalam mobil.

Sebelumnya keterangan saksi ini berbeda dengan keterangan Kepala RS Polri Brigjen Pol Budi Siswanto. Budi menjelaskan ada 5 jenazah yang masuk ke RS Polri. 3 jenazah dari Cawang dan dua jenazah dari Cikampek Timur. Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai kronologi yang terjadi. [detikNews]

Densus 88 Minta Tali Dari Warga Untuk Ikat 2 Teroris

Pria-pria tegap yang diduga Densus 88 ternyata tak sempat membawa borgol untuk menangkap buron teroris yang dikejar. Mereka sempat meminta tali kepada warga Cawang, Jakarta Timur untuk mengikat 2 dari tiga teroris yang ditangkap.

“Kalau mereka polisi, harusnya mereka menyiapkan borgol. Ini malah mereka meminta tali kepada warga untuk mengikat dua orang itu,” kata salah seorang warga di sekitar lokasi yang enggan disebut namanya, Kamis (13/5/2010).

Warga tersebut mengatakan, ada juga warga Cawang yang membantu untuk mengikat dua orang pria yang diduga teroris itu. Keduanya kemudian dibawa hidup-hidup ke mobil. Sebelumnya, warga menyatakan 1 dari tiga teroris yang ditangkap, tewas ditembak Densus 88. Pria tersebut menurut warga ditembak tanpa perlawanan apapun.

Sedangkan kedua teroris lain ditangkap saat berusaha lari. Setelah ditangkap, mereka dipukul dengan pistol dan batu besar. [detikNews]

JIKA PENGAKUAN SAKSI ITU BENAR, TIDAK MENUTUP KEMUNGKINAN DUA ORANG TERSEBUT DITEMBAK DALAM MOBIL ATAU DI  TEMPAT YANG DIRAHASIAKAN.

Dagelan Penggerebegan Teroris

Oleh M. Fachry pada Kamis 20 Mei 2010, 10:24 PM

Seorang wartawan senior, Hanibal Wijayanta (ANTV) menuliskan berbagai kejanggalan dalam penyergapan tersangka teroris yang dilakukan oleh densus 88. Tulisan tersebut dimuat dalam facebooknya tertanggal 13 Mei 2010 dan banyak dikutip secara bebas oleh situs maupun milis lainnya. Berikut tulisan lengkap beliau!

Ada banyak kejanggalan dalam operasi penggerebegan teroris di Solo hari ini. Ada apa sebenarnya?

Beberapa hari terakhir masyarakat kembali dikejutkan oleh operasi penangkapan dan penembakan teroris. Pekan lalu, belasan orang ditangkap di kawasan Pejaten, yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari markas Badan Intelijen Negara (BIN). Rabu siang lalu (12/5) sekelompok orang ditangkap di Cikampek, Jawa Barat, dan menewaskan dua orang di antara mereka. Beberapa jam kemudian, tiga tersangka teroris juga diterjang timah panas polisi dan tewas saat turun dari taksi di keramaian jalan Sutoyo Siswomihardjo, kawasan Cililitan, Jakarta Selatan.

Lewat corong media massa, polisi mengatakan bahwa mereka adalah tersangka teroris. Awalnya polisi baru mengatakan bahwa mereka terlibat dalam kasus teroris Aceh yang ditangkap dan didor dua bulan lalu. Belakangan, polisi mengatakan bahwa mereka juga terlibat kasus bom Marriott dan bom Kedubes Australia. Bahkan kabarnya salah seorang tersangka yang ditembak polisi adalah Umar Patek, salah satu pelaku Bom Bali I, yang sempat diberitakan tewas di Filipina.

Hari ini, Kamis (13/5) polisi ternyata sudah langsung bergerak ke Solo, termasuk komandan lapangan Densus 88 Kombes Muhammad Syafei yang sampai kemarin sore masih berada di Cikampek. Sang Kombes juga sempat memberikan clue kepada tim liputan kami bahwa, “Akan ada gunung meletus di Solo.” Di Solo polisi ternyata menangkap tiga orang tersangka, entah di mana ditangkapnya, kemudian menyerbu sebuah rumah bengkel. Di tempat inilah polisi menemukan sepucuk M-16, pistol, peluru, dan buku-buku jihad (!)… Hmmm… Sigap nian polisi kita.

Namun ada yang menarik dalam penggerebegan teroris di Solo kali ini. Sebab, sebelum penggerebegan itu, polisi sempat menggelar brieffing terlebih dahulu dan persiapan-persiapan seperlunya di sebuah rumah makan. Di tempat itu pula -di pinggir jalan- mereka baru memakai rompi anti peluru setelah melempar-lemparkannya sebentar di antara mereka, memasang sabuk, penutup kepala, senjata api dan persiapan-persiapan lain. Beberapa warga yang melintas sempat menonton mereka show of force, dan terkagum-kagum heran melihat semua persiapan itu. “Wah, iki Densus 88 yo, Mas, edan tenan…,” kata seorang warga.

Acara persiapan pra penyerbuan yang sangat terbuka seperti ini tentu saja jarang terlihat pada penggerebegan sebelumnya. Pada penyerbuan-penyerbuan sebelumnya, biasanya polisi sudah memakai pakaian tempur lengkap dan masuk ke lokasi di malam hari atau pagi buta. Sementara pada acara persiapan tadi pagi, matahari sudah mulai hangat di tengkuk. Saat itu sebenarnya beberapa wartawan cetak dan elektronik sudah mulai berdatangan ke rumah makan itu. Sayang mereka tidak berani mengambil momentum bersejarah ini…

Nah, setelah semua anggota lapangan memakai peralatan rapi, mereka lalu masuk ke mobil dan langsung bergerak. Hanya bergerak sebentar tiba-tiba mobil-mobil Densus 88 itu berhenti. Para anggota lapangan pun bergerak mengepung sekitar lokasi dan kemudian memasuki rumah yang dipakai menjadi bengkel itu. Para wartawan yang mengikuti mereka sampai tergopoh-gopoh karena terkejut. Mereka tidak mengira rumah sasaran sedekat itu. Tahukah anda, berapa jaraknya dari rumah makan tadi? Hanya 200 meter, dan terlihat jelas dari restoran tadi!!

Maka drama penggerebegan yang tidak lucu itu pun terjadi. Para wartawan bisa mendekat ke TKP bahkan sampai ke pintu rumah bengkel tadi. Para anggota Densus 88 itu pun bisa diambil gambarnya dalam jarak dekat. Mereka sama-sekali tidak berusaha menghalangi atau melarang, mereka juga tidak mengusir para wartawan. Para petugas membiarkan para cameraman televisi mengambil gambar hingga di pintu rumah itu, dan bisa mengambil gambar ketika anggota densus 88 berada di salah satu ruangan.

Dalam rekaman para cameraman televisi, Lazuardi reporter/cameraman Metro TV dan Ecep S Yasa, dari TV-One tampak diberi privilege untuk mengambil gambar terlebih dahulu dari wartawan lain. Meskipun demikian mereka juga sempat disuruh keluar terlebih dahulu, “Nanti dulu-nanti dulu, belum siap,” kata seorang anggota Densus 88. Para wartawan sempat bertanya-tanya, apanya yang belum siap. Namun ketika boleh masuk, para wartawan melihat bahwa barang bukti sudah tersusun rapi di lantai.

Yang sangat menarik, bagi wartawan yang sudah biasa meliput penangkapan teroris, tampak jelas dari bahasa tubuh mereka, bahwa para anggota Densus 88 itu tidak menunjukkan tanda-tanda stres yang menyebabkan adrenalin melonjak. Mereka tampak lebih santai dari pada ketika mereka menggerebeg tersangka teroris sebelumnya. Bahkan mereka menunjukkan kegembiraan yang janggal ketika saling mengacungkan jempol, tos dan sebagainya, setelah operasi dinyatakan berhasil.

Perilaku yang aneh juga tampak ketika para perwira Densus 88 termasuk komandan lapangan mereka, Kombes Muhammad Syafei datang ke rumah bengkel itu dan mau diambil gambarnya oleh para wartawan, bahkan dalam posisi close-up. Padahal selama ini dia dikenal paling alergi dengan kamera wartawan. Tak segan-segan ia menyuruh wartawan mematikan camera atau menghapus gambar yang ada dirinya.

Kejanggalan pun semakin lengkap ketika beberapa warga mengakui bahwa sebenarnya sehari sebelumnya rumah bengkel itu sudah didatangi sejumlah orang bertampang tegap, yang menurut warga adalah polisi…. “Ya mirip mereka-mereka itu, mas…,” kata mereka. Lalu, apa artinya semua ini?

PERTANYAAN BESAR, SIAPAKAH SEBENARNYA YANG MEMBUAT SKENARIO YANG BEGITU BIADAB TERSEBUT ?

NAH SEKARANG KETAHUAN, SIAPAKAH SESUNGGUHNYA “TERORIST SEJATI “

K@barNet

Satu Tanggapan to “Benarkah ‘ISU TEROR’ Untuk Menutupi Kasus Besar?”

  1. heri said

    Ya Allah, jadi gini to critanya. kalau itu benar , betapa biadabnya mereka itu? saya kok nggak yakin hal seperti ini bisa terjadi..masak sih orang bisa merekyasa kejahatan dengan mengorbankan nyawa manusia?
    o ya, tapi saya pernah melihat di tvone rekaman dari para pelaku bom di mariot dan ritz calton, dan itu kok nyata? berarti kan memang orang yang berpaham kekerasan dan menghalalkan teror ini memang ada? atau jangan2 ada yang mendalangi, semacam kelompok yang sengaja merekrut para pemuda muslim, yang masih dangkal pemahaman agamanya untuk dijadikan teroris sehingga umat islam yang jadi sasaran. wih, konspirasi ni kayaknya.

    terlepas dari apapun yang terjadi, fakta adanya orang islam yang ternyata memang melakukan terorisme, seperti yang terjadi di mariot itu, menurut saya juga patut menjadi keprihatinan dan instropeksi bagi kita semua.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: