KabarNet

Aktual Tajam

Terdakwa Korupsi ‘NYANYI’

Posted by KabarNet pada 27/08/2010

Setor Rp 30 Juta ke Kasi Pidsus

GRESIK –  Dunia peradilan Gresik tercoreng. Hermanto, 46, terdakwa kasus korupsi dana bantuan sosial (bansos) jaring aspirasi masyarakat (jasmas) APBD Jatim 2008 sebesar Rp 250 juta, ‘menyanyi’ telah memenuhi permintaan kejaksaan menyetor uang Rp 30 juta. Uang tersebut diserahkan ke Kasi Pidsus Kejari Gresik. Kompensasinya, tuntutannya akan dibuatkan paling minimal dari pasal yang dikenakan terhadap terdakwa.

Kepada wartawan di ruang persidangan PN Gresik, Rabu (25/8) siang, mantan anggota DPRD Jatim 2004 – 2009 ini membeber cerita. Dua hari menjelang tuntutannya dibacakan, Senin (16/8), dirinya menemui Kasi Pidsus di ruang kerjanya. Pertemuan itu, menurutnya, atas ’saran’ seorang jaksa dengan tujuan meringankan tuntutan. “Saya sendiri yang menyerahkan uangnya, memang waktu itu tak ada saksinya karena pesannya saya harus datang sendiri,” tegas Hermanto.

Namun, saat tuntutannya dibacakan JPU Galih Dewanty di PN Gresik, Rabu (18/8), Hermanto mengaku sangat shock. Sebab, tuntutannya 18 bulan. Jaksa juga menuntut agar dirinya segera masuk tahanan. “Perintah segera masuk itulah yang membuat saya kecewa, ditambah besarnya masa hukuman yang harus saya jalani,” tegasnya.

Sehari setelah sidang tuntutan, Hermanto mengaku dirinya sudah berusaha menemui Kasi Pidsus. Tetapi, karena selalu beralasan repot, akhirnya dirinya memutuskan ke Kejari, Jumat (20/8) pagi. Saat itu, Kasi Pidsus ada di ruang kerjanya. Namun begitu Hermanto masuk, mendadak Kasi Pidsus menerima telepon dan ‘mengusir’ Hermanto dengan alasan sibuk.

Hermanto yang tersinggung, sempat menumpahkan kekecewaanya dengan mengingatkan Kasi Pidsus bahwa semua permintaannya telah dipenuhi, tetapi kenapa dirinya dituntut setinggi itu. “Saya betul-betul kecewa, sampai saya sempat mengumpat,” tegasnya.

Hermanto mengaku kecewa dengan ulah oknum Kejari itu. Sebab, yang meminta untuk menyetor uang adalah mereka. “Untuk sampeyan ketahui, uang itu hasil pinjaman dan menggadaikan harta saya. Bahkan istri saya yang montang manting cari pinjaman, begitu tetap dituntut tinggi istri saya menangis kecewa. Katanya, kalau tetap dituntut tinggi lebih baik nggak usah ngasih uang,” paparnya.

Sementara itu, Kasi Pidsus Kejari Gresik Rustiningsih ketika dikonfirmasi, menolak tuduhan Hermanto. Hanya dia mengakui, memang menerima uang, tetapi uang itu diakuinya sebagai pengganti kerugian negara.

“Karena itu uang pengganti kerugian negara, maka sekarang tetap kami simpan sebagai bukti,” aku Rustiningsih yang sekarang dipindah sebagai Kasi Datun Kejari Malang.

Rusti menyebut, uang pengganti kerugian negara yang diterima Hermanto mencapai Rp 250 juta. Uang tersebut masih tetap disimpan. Bahkan, Rustiningsih sempat berkelakar, bila uang itu diminta kembali, maka kemungkinan tuntutan Hermanto bukan 1,5 tahun tetapi bisa lebih.

Menanggapi pernyataan Rusti, Hermanto mengatakan kerugian negara sudah disetorkan ke Kejati Jatim Rp 250 juta, Rabu (19/5). Uang tunai itu, diterima Sugimin SH, jaksa penyidik Kejati Jatim dengan disaksikan Wahyu Warsono D Aribowo SH dan Zalmianto Agung S SH, keduanya jaksa penyidik Kejati Jatim.

“Ini bukti tanda terima pengembalian uang tersebut, saya serahkan ke Kejati bukan ke Kejari Gresik,” ujar Hermanto sambil menunjukkan fotokopi surat tanda penerimaan barang bukti. [Surya Online]

3 Tanggapan to “Terdakwa Korupsi ‘NYANYI’”

  1. KONGRES KORUPTOR

    BEDUL pekan lalu mendapat tugas dari kantornya menghadiri kongres koruptor tingkat dunia yang digelar di Swedia. Peserta kongres saling membanggakan pola korupsi di negara mereka masing-masing, termasuk modus yang dianggapnya paling aktual.

    Berikut percakapan peserta kongres. Peserta China mengatakan, “Di negara saya, korupsi dilakukan di bawah meja, karena jika ketahuan pelakunya akan dihukum gantung.”

    Sementara peserta India menjelaskan, “Di negara saya, korupsi dilakukan di atas meja, sebab kejahatan semacam ini sudah bukan hal aneh lagi.”

    “Di negara saya, korupsi bisa dilakukan di atas meja maupun di bawah meja, tergantung kebijakan politik yang sedang berkuasa,” ucap peserta dari Amerika Serikat.

    Bedul sebagai peserta dari Indonesia berucap, “Kenapa kalian bangga? Di negara saya, korupsi bukan hanya di atas atau di bawah meja, bahkan mejanya pun dikorupsi!”

  2. Suatu hari Kang Ogah, preman kelas kampung yang cuma jebolan SD sedang asyik ngopi sambil nonton acara TV kesukaannya, Telenovela.

    “Wah, ceweknya cantik-cantik and seksi-seksi man ! Rumahnya bagus-bagus, mobilnya keren-keren lagi, and itu gayanya busyeeet selangit bleh ! Kapan ogut bisa gitu ya ?” gumamnya dalam hati. Kemudian ia teringat ajakan temannya untuk bergabung dengan partai politik pada pemilu lalu. Ia pun segara beranjak pergi ke rumah temannya itu untuk didaftarkan. Siapa tau bisa jadi jalan buat jadi orang kaya fikirnya.

    Singkat cerita, beberapa tahun kemudian Kang Ogah sudah jadi Ketua Ranting Parpol wilayahnya yang basah PAD-nya. Kemenangan parpolnya dalam pemilu telah mengantarkannya menjadi salah satu Caleg pilihan. Namun ia pun teringat akan ijazah SD-nya, sedangkan persyaratan Caleg sekarang minimal setara SMA. Watak premannya pun kembali muenghampiri dirinya. Timbullah idenya untuk mencari ijazah palsu. Pokoknya segala cara harus ditempuhnya demi terpilih sebagai Caleg daerahnya yang subur. Terbayang sudah menjadi orang kaya didaerahnya.

    Akhirnya ketika keberuntungan menghampirinya, Kang Ogah terpilih menjadi salah satu Legislatif yang diidamkannya. Waktupun berlalu, Kang Ogah ternyata betul-betul berusaha mewujudkan impiannya untuk menjadi orang kaya. Bak Supir angkot yang kejar setoran, ia sikat sana, sikat sini tanpa pandang bulu milik siapa, halal atau haram, yang penting asyik ! Pikirnya. Belum genap 3 tahun jadi anggota legislatif pun, kang Ogah sudah berubah. Ia bukan lagi kang Ogah yang hidup kere dan blangsatan. Kini ia adalah orang kaya baru dikampungnya. Rumah besar, mobil mewah dan pakaiannya yang serba necis telah merubah penampilannya. Gaya bicaranya pun tidak lagi seperti dulu apa adanya dan terkesan urakan. Kini tutur katanya bak pembawa acara TV kesayangannya.

    “Sekarang aku sudah jadi orang kayak di telenovela yang aku tonton dulu, he, heeee … ternyata uenak ya, euy” Sumringahnya pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa ada yang selalu mengawasinya, yakni Tuhan. Ketika ia melayat salah seorang tetangganya yang sama-sama orang kaya telah dipanggil Tuhan, Kang Ogah jadi teringat akan dosa-dosanya. Ia tidak bisa tidur siang dan malam memikirkan perbuatannya selama ini. Apa jadinya jika ia bernasib seperti tetangganya, fikirnya. Ternyata tidak ada satupun yang bisa dibawa. Yang ada cuma dosa-dosa yang harus dipertanggungjawabkan di akherat. Tidaaaaak !

    Kang Ogahpun jadi terbangun sendirian di tengah malam. Ia bergegas keluar dan memandangi rumah, mobil dan segala kekayaannya sambil terisak-isak memohon ampu pada Tuhan. Keesokan harinya ia datang ke kantornya dan menyerahkan semua yang bukan miliknya. Semua orang terheran-heran dibuatnya, dermawan sekali ni orang pikir mereka tanpa tahu latar belakang perbuatannya.

    Kini Kang Ogah kembali menjalani hidup sederhananya walau ia masih menjawab sebagai anggota legislatif. Ternyata begini lebih uenak tenan bro … tak ada beban di hati ! Senyumnya kembali menghiasai wajahnya seperti Kang Ogah dulu.

    Kang Ogah, Kang ogah ….. aya, aya wae Kang !

  3. untuk pembelian mobil mewah/ berlomba2 memperbaiki perobatan rumah tangga hehehehe, pembangun cpt rusak kenapa pendidikan gratis tinggal janji dengan istilah sekolah > . . . .. udh sedihnya hati ini uang rakyat salah masuk < . . . . .. . .. terus bagaimana tinggal diam !!!!!!!!!! memanjat doa setiap hari, Tuhan tdk akan mengubah suatu kaum klau tidak kaum itu sendiri mengubahnya makanya barantas KKN , Koroptur lebih kejam dariapada Teroris/perompok, bebas enak hukum panjung !!!! pembangunan hancur pendidikan suram tegakkan keadilan menegakkan keadilan (keplisian, kejaksaan,kehakiman ) di tangan ini supremasi hukum bisa tegak wong menegaknya jg cacad hukum lantas siapa . . .. .. .yg menegakkan hukum ini

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: