KabarNet

Aktual Tajam

Kakek Mensos ‘Sayyid Idrus Al-Jufrie’ Masuk Nominasi Calon Pahlawan Nasional

Posted by KabarNet pada 26/10/2010

Jakarta – Kakek Mensos Salim Segaf Aljufrie ternyata masuk salah satu dari 10 nama calon pahlawan nasional. Kakek Mensos, Sayyid Idrus bin Salim Aljufrie, dianggap berjasa dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
“Betul nama kakek saya diajukan sebagai pahlawan nasional di bidang pendidikan,” ujar Mensos kepada detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (25/10/2010)
Mensos meuturkan, kakeknya dianggap memiliki jasa di bidang pendidikan Islam di daerahnya. Hal ini kemudian diajukan masyarakat setempat kepada Kemensos.
“Beliau membangun sekolah Islami Al Khairaat dari SD sampai Perguruan Tinggi di Sulut, Sulteng, Gorontalo, Kaltim, sampai Kalsel,” paparnya.

Namun demikian Mensos membantah dirinya ikut campur dalam pencalonan kakeknya menjadi pahlawan nasional. Posisi Kemensos, menurutnya independen. “Tidak ada intervensi,” terangnya.

Mensos menuturkan, sampai saat ini posisi kakenya sedang ditimang oleh dewan gelar. Dewan gelar yang berhak menentukan gelar pahlawan untuk kakeknya tersebut.
“Dewan gelar yang akan memutuskan,” tutupnya.

Sebelumnya, ajuan gelar pahlawan nasional untuk mantan Presiden Soeharto terus menuai pro konta. PKS sendiri termasuk yang mendukung pemberian gelar pahlawan untuk Soeharto.

Namun demikian, Mensos yang juga kader PKS membantah ajuan tersebut karena intervensi PKS. Menurutnya, semua pemberian gelar atas usul masyarakat.
“Tidak bisa diintervensi siapapun,” kata Mensos. [detikNews]
_______

Sekilas Sejarah Sayyid Idrus Al-Jufrie

Beliau adalah Al-Ustad Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufriee. Beliau lahir di kota Taris, Seiwun, Hadramaut – Yaman, pada 14 sya’ban 1309 H bertepatan dengan 15 Maret 1881 M. Beliau mendapat pendidikan agama langsung dari ayah dan lingkungan keluarganya.

Ayah beliau, Sayyid Salim adalah seorang qadhi (hakim) dan mufti (Ulama yang memiliki otoritas mutlak untuk memberi fatwa) di Kota Taris, Hadramaut. Sedangkan kakek Beliau, Sayyid Alwi bin Segaf Al-Jufrie, adalah seorang ulama di masa itu. Beliau adalah salah satu dari lima orang ahli hukum di Hadramaut.

Tatkala Sayyid Idrus menginjak usia remaja, ayah Beliau Sayyid Salim melihat bahwa kelak anak nya ini bisa menggantikannya. Beliaupun mendidik anaknya tersebut secara khusus. Sayyid Salim membuatkan kamar khusus bagi anaknya agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Sayyid Idrus kemudian mendalami berbagai Ilmu seperti tafsir, hadits, tasawuf, fiqih, Tauhid, Mantiq, ma’ani, bayan, badi’, nahwu, sharaf, falaq, tarikh dan sastra.

Pada tahun 1839 M Hadramaut berada dalam penjajahan Inggris. Pada masa penjajahan Inggris itulah Sayyid Idrus bersama seorang sahabatnya, Sayyid Abdurrahman bin Ubaidillah (keduanya dikenal sebgai ulama yang moderat) bermaksud ke Mesir untuk mempublikasikan kekejaman Inggris dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh Inggris di Hadramaut. Setelah sesuatunya dipersiapkan dengan matang dan rapi, keduanya berangkat melalui Pelabuhan Aden. Namun di Pelabuhan Laut Merah itu rencana mereka diketahui oleh pasukan Inggris. Keduanya ditangkap, dokumennya disita dan dimusnahkan. Setelah ditanah beberapa waktu kemudian mereka dibebaskan dengan syarat, mereka tidak diperbolehkan bepergian ke negeri Arab manapun. Setelah kejadian itu Sayyid Abdurrahman memilih tinggal di Hadramaut, sedangkan Sayyid Idrus memilih hijrah ke Indonesia.

Pada tahun 1327 H. atau sekitar tahun 1909 M bersama sang ayah Sayyid Idrus berlayar ke Indonesia tepatnya di kota Manado. Setelah beberapa waktu di Indonesia, Sayyid Idrus dan ayahnya kembali ke Hadramaut. Sebtibanya di Hadramaut, Sayyid Idrus mengajar di Madrasah yang dipimpin oleh ayah beliau.

Pada tahun 1925 M, Sayyid Idrus kembali untuk kedua kalinya ke Indonesia. Pada mulanya beliau tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Di sana beliau menika dengan Syarifah Aminah Al-Jufrie. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua anak perempuan, Syarifah Lulu’ dan Syarifah Nikmah. Syarifah Lulu’ kemudian menikah dengan Sayyid Segaf bin Syekh Al-Jufrie, yang salah seorang anaknya adalah Dr. Salim Segaf Al-Jufrie (Mensos) .

Pada tahun 1926 M beliau pindah ke kota Jombang, disana beliau mengajar dan berdagang. Namun di penghujung tahun 1928 M karena seringkali mengalami kerugian dalam berdagang, Sayyid Idrus berhenti Berdagang dan memulai mengajar. Di tahun itu pula beliau pindah ke kota Solo.

Pada tanggal 27 Desember 1928 M Sayyid Idrus meninggalkan kota Solo dan hijrah ke Sulawesi. Beliau kemudian berlayar menuju Manado. Ketika kapalnya singgah di Donggala, Sayyid Idrus menggunakan kesempatan itu untuk berkonsolidasi dengan komunitas Arab yang dipimpin Syekh Nasar bin Khams Al-Amri, di situ beliau mengutarakan tentang rencananya untuk mendirikan madrasah di kota Palu.

Awal kedatangan Sayyid Idrus di Indonesia, berperan sebagai mubalig hal ini berkaitan dengan sosial masyarakat. Ceramah-ceramah yang diberikan Sayyid Idrus masih berada di lingkungan pulau Jawa.
Akan tetapi Sayyid Idrus mempunyai cita-cita untuk mendirikian sebuah lembaga, atas dasar pemikiran beliau Kota Palu menjadi pilihannya, alasan Sayyid belum diketahui hingga sekarang, kebanyakan pengamat yang menagatakan bahwa ini merupakan mimpi beliau sehingga memilih kota Palu, adapula yang mengatakan bahwa Sayyid Idrus sudah cinta dengan kota Palu sejak beliau datang pertama kali dengan ayahanda beliau.

Sebelum beliau ke Kota Palu beliau sempat menjadi pengajar di Madrasah tetapi tidak lama kemudian pindah ke Solo, setelah itu beliau pergi ke Jombang dan di sana beliau bertemu dengan K.H Hasyim Asyari pengasuh pondok Tebuireng di Kabupaten Jombang. K.H Hasyim Asyari ini merupakan tokoh Nahdhatul Ulama. Pada saat itu beliau diberikan kepercayaan menjadi Kepala Sekolah selama dua tahun.

Pada tahun 1929 beliau tiba di Wani atas ajakan Syekh Al-Jufrie yang berada di Manado.

Setibanya di Manado, Sayyid Idrus mendapatkan telegram tentang hasil musyawarah masyarakat arab yang ada di Kota Palu mengenai pendirian Madrasah. Pada akhirnya disepakati bersama bahwa sarana pendidikan berupa gedung akan disiapkan oleh masyarakat Palu, sedangkan gaji guru, Sayyid Idrus yang akan mengusahakannya. Pada awal 1930 M Sayyid Idrus menuju kota Palu. Dan pada tanggal 30 Juni 1930 M setelah mengurus prizinan pendirian dan surat-surat lainnya ke pemerintah Hindia Belanda, maka, diresmikanlah Madrasah Al-Khairaat di Kota Palu.

Beliaulah pendiri Yayasan Alkhairaat, yang kini terdiri dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, MI, MTS, MA hingga Universitas. Lembaga-lembaga pendidikan Islam Al-Khairaat berpusat di Kota Palu dan menyebar ke daerah sekitar, menjadikannya sebagai pintu gerbang dakwah Islam di Kawasan Timur Nusantara.

Dalam perkembangannya, pengelolaan Madrasah sepenuhnya ditangani oleh Sayyid Idrus. Para murid yang belajar di sana tidak dipungut biaya sama sekali. Hal ini karena beliau mengadaptasi sistem pendidikan arab yang pada umumnya tidak memungut biaya kepada para muridnya. Sehingga para murid lebih fokus dalam belajar. Sayyid Idrus membrikan gaji kepada para guru dan staf sekolah dari hasilnya berdagang.

Sayyid Idrus mengajar para santrinya dengan penuh dedikasi dan profesionalitas yang tinggi. Keikhlasan dan keuletan beliau telah membuahkan hasil. Perguruan Al-Khairaat waktu itu telah menghasilkan guru-guru Islam yang handal yang kemudian disebarkan ke seluruh pelosok Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, dan Irian Jaya.

Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufrie bukanlah nama yang asing lagi, beliau memiliki kedekatan histori dan kedekatan emosi yang cukup kental bagi umat islam bahkan hingga saat ini, terutama karena jasa-jasa beliau yang besar dalam bidang pendidikan.

Sekolah-sekolah diperuntukan untuk kaum bumi putra ini adalah sekolah kelas II, untuk mendidik calon-calon pegawai rendah sedangkan untuk sekolah kelas I diperuntukan bagi anak-anak dari golongan atas. Namun sayangnya sekolah yang berada dibawah pemerintah belanda ini umumnya bersifat Skuler.

Untuk menandingi pengaruh pemerintah Kolonial Belanda di bidang pendidikan, Sultan Kasimuddin yang memang dikenal dekat dengan para Ulama dan Habaib saat itu, mengundang seorang ulama yaitu H. Syahabuddin Ambo Tuwo dari Wajo sebagai guru agama islam di Istana Kesultanan Bulungan, beliau pula yang kemudian menulis naskah Alqur’an dengan tangan beliau sendiri dan dalam waktu yang cukup lama disimpan oleh kerabat kesultanan Bulungan sebelum akhirnya naskah tersebut berada di Mesjid DEPAG di Samarinda.

Letkol (overstee) S. de waal yang saat itu mempertahankan Tarakan dengan kekuatan 1.300 personil gabungan Angkatan Darat Belanda / KNIL (Koninkluk Nederlandsch Indisch Leger), Angkatan Udara Belanda (Militaire Luchtvaart) dan Angkatan Laut Hindia Belanda (Zeemach Nederlands Indie) serta pegawai BPM (Bataafsce Petroleum Maatschapij) ternyata gagal menjalankan tugasnya, kegagalan tersebut akhirnya berimbas pada didudukinya Tanjung Selor dan Tanjung Palas oleh tentara Jepang pada jam 03.00 tanggal 05 February 1942. akibatnya masyarakat mengungsi, termasuklah rombongan Sayyid Idrus Al-Jufrie di bawa ke kampong Sekang oleh Syech Salim Djumaan. Jarak dari Tanjung Selor ke Kampung Sekang sekitar 1 jam perjalanan menggunakan perahu Tempel pada saat itu.

Pada tanggal 11 Januari 1942 M Jepang menduduki Sulawesi dan menjadikan kota Manado sebagai pusat pangkalan di Kawasan Timur Indonesia. Tidak berselang lama stelah itu, Jepang memerintahkan penutupan perguruan Al-Khairaat. Selama tiga setengah tahun kependudukan Jepang, Sayyid Idrus tidak menyerah sedikitpun untuk mengajar para muridnya. Proses belajar mengajar tetap berlangsung meskipun secara sembunyi-sembunyi. Lokasi pembelajaran dialihkan ke desa Bayoge, yang berjarak satu setengah kilometer dari lokasi perguruan Al-Khairaat. Pengajarannya dilaksanakan pada malam hari dan hanya menggunakan penerangan seadanya, para muridnya datang satu persatu secara sembunyi- sembunyi.

Kegiatan madrasah yang berlangsung antara tahun 1940-1941 sempat terhenti pada saat 20.000 tentara Jepang yang merupakan gabungan Nihon Rikugun (AL) dan Teikoku Kaigun (AD) menyerbu dan menduduki pulau Tarakan pada 12 Januari 1942 dibawah komando Mayor Jenderal Shizuo Sakaguchi dan Kolonel Kyohei Yamamoto atas perintah Admiral Takeo Kurita.

Tepat saat kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 Sayyid Idrus kembali membuka perguruan Al-Khairaat secara resmi. Beliau berjuang kembali untuk mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam. Hingga selama kurun waktu 26 tahun (1930-1956) lembaga yang telah dirintisnya ini telah menjangkau seluruh kawasan Indonesia Timur.

Perguruan Alkhairaat kemudian mengembangkan sayapnya dengan membuka perguruan tinggi pada tahun 1964 M dengan nama Universitas Islam Al-Khairaat dengan tiga fakultas di dalamnya, yaitu: Fakultas Sastra, Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas Syariah. Dan Sayyid Idrus sebagai Rektor pertamanya. Ketika terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI pada tahun 1965, perguruan tinggi Al-Khairaat dinonaktifkan untuk sementara. Para Mahasiswanya diberikan tugas untuk berdakwah di daerah-daerah terpencil kawasan Sulawesi. Hal ini sebagai upaya untuk membendung paham komunis sekaligus melebarkan dakwah Islam. Setelah keadaan kondusif, pada tahun 1969 perguruan Tinggi Al-Khairaat dibuka kembali.

Sayyid Idrus Al-Jufrie merupakan orang yang meletakan pertama dasar pendidikan islam modern, mengapa begitu? pada masa itu sekolah milik Gouvernement Belanda yang menerapkan sistem klasikal dan cendrung berkurikulum skuler, sehingga jauh dari nuansa keagamaan maka pendirian madrasah yang dirintis oleh beliau dengan sistem klasikal Modern merupakan usaha untuk mendobrak sistem pendidikan agama islam yang pada masa itu yang masih menganut system pembelajaran tradisional, itulah sebabnya Madrasah Al-Ma’arif dan Madrasah Al-Ulum merupakan model pendidikan berbasis agama islam pertama yang setara dengan pendidikan modern Belanda yang mengabaikan pendidikan agama.

Karena itu, Sayyid Idrus Al-Jufrie mengajarkan pada kita semangat untuk meraih pendidikan Modern tanpa harus meninggalkan yang pendidikan dasar bagi kita yaitu pendidikan agama islam sebagai pondasi berpijak kita baik kehidupan dunia maupun di akherat kelak. Maka tidaklah salah jika beliau dijuluki Al-Alimul’ Allamah Ustad Sayyid Idrus Al-Jufrie.

Masih dalam suasana Idul Fitri, sakit parah yang telah lama diderita Sayyid Idrus kembali kambuh. Bertambah hari sakitnya semakin berat, tepat pada hari senin 12 Syawal 1389 H atau 22 Desember 1969, Sayyid yang dicintai oleh Umat islam itupun akhirnya berpulang ke Rahmatullah. Sebelum menjelang detik-detik kewafatannya, Sayyid Idrus sudah mewasiatkan tentang siapa saja yang memandikan jenazah, imam shalat jenazah, tempat pelaksanaan shalat jenazah, siapa yang menerima jenazah di Liang lahat, muadzin di liang lahad.

Adapun wasiat yang disampaikan Sayyid Idrus sebelum meninggal yaitu :

• Dishlatkan di Halaman Perguruan Tinggi Islam Al-Khairaat
• Tahlil 3 hari berturut-turut dan hari ketujuh taktim dan hari ke-40
• Setiap tahun diadakan upacara Haold
• Upacara penguburan dilaksanan oleh petugas :
• Protokol : Ustadz Bachren Thajeb
• Memandikan : H. Abdul Hay Abdullah, H hasbullah Asrsyad, H Hasim Maragau
• Imam , Sayyed Hasan Al-Idrus
• Menerima dalam Lahad Abdullah bin Muhammad, Ki Z Beta Lembah, Thaha Bachaid
• Pembaca Talqin : H Rustam Arsyad

Ketika wafat, Sayyid Idrus telah mewariskan 34 cabang Alkhairaat, 5 buah panti asuhan dan ratusan sekolah, serta beberapa madrasah yang beliau dirikan kala hidupnya. Jenazah beliau dimakamkan disisi barat serambi mesjid Al-Khairaat, Palu.

Sayyid Idrus Al-Jufrie adalah guru besar Pesantren Al-Khairaat, Palu. Mujahid yang menjadikan dirinya sebagai lentera ilmu yang menerangi kegelapan bagi umat. Jasa-jasa beliau tentu tidaklah kecil, Sayyid Idrus berjasa dalam memajukan pendidikan di Indonesia yang sangat berharga. Semoga Allah SAW merahmati beliau dalam istirahatnya yang panjang. [KN/SLM]

4 Tanggapan to “Kakek Mensos ‘Sayyid Idrus Al-Jufrie’ Masuk Nominasi Calon Pahlawan Nasional”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Proletar and Bany Holil, Nyantry. Nyantry said: Kakek Mensos ‘Sayyid Idrus Al-Jufrie’ Masuk Nominasi Calon Pahlawan Nasional: Jakarta – Kakek Mensos Salim Segaf A… http://bit.ly/dBXg3N […]

  2. ahmad Mahdi said

    nama saya ahmad mahdi bin muhammad bin idrus bin salim bin alwi bin seggaf bin alwi bin abdulloh bin alwi bin abu bakar al jufri…..saya hanya sedikit bingung dengan pengakuan abah saya,beliau kelahiran menado tanggal 21-juni-1935 dan mengaku keturunan dari sayyid idrus namun karena nenek saya akhwal akhirnya nenek saya menghilangkan diri dan menyuruh kepada abah saya untuk mengganti namanya dan pergi jauh dari sulawesi dan sekarang kami menetap dijakarta dan sudah puluhan kami di jakarta,,dan abah ana membuka cerita ini namun sayang saksi yang tahu kalau abah ana turunan dari sayyid idrus al jufri sudah meninggal yaitu al habib husein bin amir ali azhomat khan sudah meninggal itu pun beliau berada di india…hanya fhoto sayyid idrus yang masih disimpan abah ana itu pun sudah lecek dan hanya beberapa habaib yang mempercayai kalau abah ana itu turunan sayyid yaitu al habib haekal barakwan al hasani dan al habib faisal alaydrus dan beberapa ulama…saya mohon agar Alloh SWT mempertemukan saya dengan kakek saya Sayyid Idrus bin Salim al jufri..amin ya robbal alamin…alfwu wa minkum,wassalamu’alaikum.Wr.Wb..Ahmad mahdi..

  3. ahmad Mahdi said

    maaf bin yang atas saya kurangi,karena takut yang baca itu bukan guru2 di ponpes dan yang saya kurangi Husein-salim-idrus-muhammad-abdulloh…sukront..dan saya tidak akan mengaku,,karena itu pesan nenek saya yang telah ditinggal pergi…dan Hanya Alloh SWT dan Rosululloh SAW yang yang tahu juga Sayyid Idrus..

  4. romi s said

    hai ahmad mahdi antum punya abah adalah muhammad bin husein bin idrus bin salim aljufri,, sy cucu dari yang mengasuh abah anda dari umur 5 tahun dan kakek anda itu !!! maaf kan keluarga kami,, ingin kejelasan silahkan ke menado di daerah tanah wangko…jenazah kakek anda di kubur dipemakaman nasrani maaf,,alhamdulillah sy sudah masuk islam..maaf baru sekarang saya dapat memuat artikel ini…

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: