KabarNet

Aktual Tajam

7 Fakta Persidangan Agusrin yang Diabaikan Hakim S

Posted by KabarNet pada 12/06/2011

Jakarta – Putusan bebas dari dakwaan korupsi terhadap Gubernur non-aktif Bengkulu, Agusrin Najamudin, dipersoalkan menyusul dijadikannya Hakim Syarifuddin sebagai tahanan KPK. Hasil riset Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan tujuh fakta sidang yang justru diabaikan.

“Hari ini ICW sudah memiliki putusan dan poin yang diabaikan oknum hakim tertentu untuk memvonis Agusrin bebas. Poin yang kami temukan berkaitan dengan fakta hukum,” kata peneliti divisi hukum dan monitoring peradilan ICW Donal Fariz, hal itu disampaikan dalam jumpa pers, di kantor ICW, Jl Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Minggu (12/6/2011).

Donald Fariz mengatakan,  minggu kemarin pihaknya telah menyampaikan 12 poin kejanggalan dalam kasus Agusrin. “Poin tersebut berkaitan dengan fakta hukum. Putusan ini sungguh besar dan serius bagi rakyat Bengkulu,” kata dia.

Gubernur Bengkulu, Agusrin M Najamuddin didakwa korupsi dana bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Tanah dan Bangunan yang merugikan negara hingga Rp21,3 miliar.

“Ada fakta-fakta yang diabaikan, apabila tak diabaikan, maka vonis bebas tidak terjadi,” kata Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), Danang Widoyoko, Minggu 12 Juni 2011.

Sebagai ilustrasi, kerugian kasus ini adalah Rp21 miliar, sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun 2006 sebesar Rp90 miliar. “Maka dana yang hilang karena korupsi cukup besar,” tambah Donald. ICW mencatat, ada 7  hal yang diabaikan dalam perkara Agusrin, yakni:

  • 1. Pengabaian surat asli pembukaan rekening di luar kas umum daerah. Padahal dalam persidangan telah diajukan bukti yang ditandatangani terdakwa Agusrin.
  • 2. Pengabaian keterangan saksi Kepala Dinas Pendapatan Daerah Chaeruddin yang mengatakan sudah berkonsultasi dengan terdakwa sebelum membuka rekening. Keterangan saksi Hermal Syahrial yang menyerahkan surat pemberitahuan pembukaan rekening yang ditujukan ke Menteri Keuangan untuk ditandatangani oleh terdakwa.
  • 3. Pengabaian keterangan terdakwa menerima uang Rp 7 miliar yang terdiri dari travel cheque senilai Rp 1 miliar, uang Rp 2,5 miliar melalui Nuim Hayat dan Rp 3,5 miliar melalui Chusni Fikri.
  • 4. Hakim mengabaikan bukti foto yang menunjukkan Chusnul Fikri menerima uang yang diserahkan ke Chaeruddin Rp 3,5 miliar
  • 5. Pengabaian temuan BPK adanya kerugian negara sebesar Rp 20.162.974.300
  • 6. Hakim mengabaikan adanya upaya bersama untuk menutup temuan BKP/BPKP oleh terdakwa
  • 7. Hakim mengabaikan keterangan ahli yang berpendapat pembukaan rekening PBB dan BPHTP di Bank BRI Cabang Bengkulu bertentangan dengan peraturan yang berlaku

“Kasus ini besar dan serius untuk rakyat Bengkulu. Majelis hakim telah mencabik-cabik rasa keadilan. Uang rakyat telah ditilep banyak, kasus ini harus menjadi prioritas,” imbuhnya. detik/vv/kn

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: