KabarNet

Aktual Tajam

Surat Palsu MK, Aktor Intelektualnya ‘Setan Gundul’ ?

Posted by KabarNet pada 25/06/2011

Heran, keberadaan surat keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang diduga dipalsukan mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Andi Nurpati, kini belum diketahui. Pihak MK yang memberikan informasi tertulis kepada polisi, mengenai dugaan pemalsuan surat keputusannya, tidak secara gamblang menunjukkan surat palsu tersebut.

Kabnareskrim Polri Komjen Pol Ito Sumardi mengaku, surat keputusan MK tentang penjelasan penetapan calon legislatif terpilih, dari daerah pemilihan I Sulawesi Selatan pada Pemilu 2009, tidak diserahkan dalam bentuk asli. Hanya bukti berupa salinan yang diserahkan ke Bareskrim oleh MK, bersamaan dengan informasi tertulis yang dikirimkan melalui panitera MK pada Februari 2009 lalu.

Tim penyelidik hingga kini masih mencari keberadaan surat tersebut, sebagai bukti terjadinya pemalsuan surat oleh Andi Nurpati sebagaimana dituduhkan MK. “Jadi surat yang diduga palsu itu kan masih dalam bentuk foto kopi, yang aslinya belum ada,” kilah Kabareskrim, Rabu (22/6/2011).

Menurut Ito, untuk menyelidiki pemalsuan surat tersebut harus melalui uji forensik terhadap surat MK yang asli dan yang dipalsukan. “Ini yang masih kita minta, kita bukan menunggu, kita meminta, kalau yang diminta belum ngasih ya mau gimana?” paparnya.

Sementara bukti surat palsu ini masih dicari keberadaanya, polisi juga telah memeriksa beberapa pihak terkait dugaan pemalsuan surat ini. Salah satunya Ketua KPU Hafiz Anshary, mengaku pernah dimintai keterangan oleh tim penyelidik Polri. “Pihak-pihak yang diduga ada kaitannya kita mintai keterangan sebagai saksi,” kata Kabareskrim.

Namun pihak yang dituduh memalsukan surat, yakni Andi Nurpati yang kini jadi pejabat Partai Demokrat, belum pernah dimintai keterangannya oleh polisi. Pemalsuan surat MK tersebut diduga dilakukan oleh oknum MK, karena surat tersebut tidak mungkin dilakukan oleh pihak diluar MK. “Ya dari MK, kan asalnya dari sana,” kilahnya.

Dalam keterangan Sekjen Mahkamah Konstitusi (MK) Jenaderi M Gaffar dihadapan Panja Mafia Pemilu DPR, nama Hakim Arsyad Sanusi disebut-sebut terlibat. Mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Andi Nurpati mengakui kenal dengan hakim konstitusi yang telah mengundurkan diri itu. “Pak Arsyad kita kenal, saya kenal biasa,” kata Andi Nurpati saat dihubungi wartawan, Rabu (22/6).

Selain itu, nurpati mengaku mengenal Masyhuri Hasan, juru panggil MK yang diperbantukan sebagai panitera pengganti. Kini, dia diketahui telah menjadi hakim di Papua. “Hasan (Masyhuri Hasan) kenal di MK. Karena saya memang intens dengan MK,” akuinya.

Lebih lanjut, Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP Partai Demokrat ini mengatakan, sering dan intens ke MK tidak sendirian. Dia biasa bersama dengan komisioner KPU yang lainnya, I Gusti Putu Arta. “Pak Putu dengan saya yang intens datang ke MK,” lanjutnya.

Terkait sosok putri hakim Arsyad, yaitu Nesyawati atau Nesya yang turut disebut-sebut menelepon panitera MK untuk ke rumah Hakim Arsyad di bilangan Kemayoran Jakarta Pusat, Nurpati mengaku tidak kenal. “Tapi kalau Nesya, saya malah baru dengar dari media,” katanya.

Pernyataan Kabareskrim Ito Sumardi yang kesulitan melakukan penyidikan karena tidak menemukan berkas asli surat palsu MK justeru membingungkan Ketua MK Mahfud MD. “Itu urusannya polisi, masak kalau barang dilenyapkan lalu tak bisa diadili kebenaran materiilnya? Kan, surat asli Nomor. 112 tgl 17 Agustus ada di MK? Kalau yg palsu ya tak ada aslinya, namanya juga palsu,” kata Mahfud.

Menurut Mahfud, meskipun yang ada saat ini hanya dalam bentuk fotokopi surat palsu seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan penyidikan. “Tapi copy yang dipakai kan ada? MK terserah sajalah, publik sudah tahu, pelakunya sudah dapat hukuman moral dan siksaan batin atas kebohongannya sendiri. Habis MK, mau apa lagi?” keluh Ketua MK.

Mahfud meminta agar kasus surat palsu tersebut jangan dibelokkan ke isu lain. “Soal penggelapan dan pemalsuan surat keputusan MK itu jangan dibelokkan, aktor inteltualnya harus dicari,” seru guru besar hukum tata negara Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini.

Di pihak lain, Kabareskrim Polri Ito Samardi mengaku, tidak ada intervensi dalam kasus dugaan pemalsuan surat keputusan MK. Bahkan Ito membantah pihaknya telah menutupi kasus ini, karena terlambat menyelidiki dugaan pemalsuan surat palsus tersebut. “Jadi tidak ada sama sekali kita menutup-nutupi atau melakukan intervensi, itu isu-isu yang sangat meresahkan masyarakat,” kilah Kabareskrim.

Meski Andi Nurpati bisa mengelak dari segala tuduhan, Panitia Kerja (Panja) Komisi II DPR tidak akan kehabisan akal. Panja akan membeberkan dimana celah kesalahan Andi Nurpati. “Tidak mungkin kita beritahu di sini,” ujar Ketua Panja Komisi II, Chaeruman Harahap di sela-sela seminar Fraksi Partai Golkar di DPR, Rabu (22/6).

Chaeruman mengatakan Andi ikut berperan dalam pemalsuan surat Mahkamah Konstitusi. “(Andi) menghubungi Zainal Arifin (pegawai MK), menyuruh menyerahkan (surat MK) padanya. Itu aneh,” terangnya. “Kita ingin sekarang semua bersikap jujur. Supaya negara kita memiliki integritas apalagi KPU. Kita harap mandiri, profesional dan akuntable,” harapnya.

Dalam keterangan Sekjen MK Jenaderi M Gaffar di depan Panja Mafia Pemilu DPR, nama Hakim Arsyad Sanusi disebut-sebut terlibat. Sementara Andi Nurpati mengakui kenal dengan hakim konstitusi yang telah mengundurkan diri itu. “Pak Arsyad kita kenal, saya kenal biasa,” kata Andi Nurpati saat dihubungi wartawan.

Selain itu, Andi Nurpati mengaku mengenal Masyhuri Hasan, juru panggil MK yang diperbantukan sebagai panitera pengganti. Kini, dia diketahui telah menjadi hakim di Papua. “Hasan (Masyhuri Hasan) kenal di MK. Karena saya memang intens dengan MK,” aku mantan Anggota KPU ini.

Lebih lanjut, Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP Partai Demokrat ini mengatakan, sering dan intens ke MK tidak sendirian. Dia biasa bersama dengan komisioner KPU yang lainnya, I Gusti Putu Arta. “Pak Putu dengan saya yang intens datang ke MK,” papar Andi Nurpati.

Nampaknya, kasus surat palsu terkait keputusan MK tersebut sulit untuk dilacak siapa aktor intelektual di belakanganya. Memang, Pemilu 2009 dinilai sebagai pemilu yang banyak terjaid kecurangan. Kalau tidak ada yang mengaku sebagai aktor pembuat surat palsu, berarti aktor intelektualnya adalah setan atau hantu yang tidak bisa terlijhat dengan mata telanjang manusia?

Celah Andi Nurpati Dicari
Penjelasan Ketua MK Mahfud MD terkait dugaan pemalsuan surat MK nomor 112/PAN.MK/VII/2009 di hadapan Panja Mafia Pemilu DPR membeberkan peran Andi Nurpati. Kini giliran DPR mencari celah alibi Andi Nurpati yang dipastikan membantah tudingan itu. Bagaimana jurus DPR?

Ketua Komisi II DPR Chaeruman Harahap menyebutkan sejatinya banyak celah untuk menjerat Andi Nurpati dalam kasus dugaan pemalsuan surat MK. Dia beralasan banyak fakta yang dibeberkan oleh banyak pihak atas peran Andi Nurpati.

“Andi Nurpati dominan. Dia menghubungi Panitera MK menyuruh diserahkan kepadanya. Dia juga tidak menyampaikan surat resmi dari MK dalam rapat pleno KPU 21 Agustus 2009,” ujarnya di gedung DPR, Jakarta, Rabu (22/6/2011).

Ketika ditanya, bagaimana cara DPR mengungkap peran Andi Nurpati yang dipastikan bakal membantah serangkaian tudingan yang ditujukan terhadapnya. “Rahasia, nanti saja waktu di Panja Mafia Pemilu. Namun kami berharap Andi Nurpati jujur. Apalagi dia kan dulu di KPU, harus menjadi lembaga yang bersih dan mandiri,” harap mantan Jaksa di Kejaksaan Agung RI ini.

Wakil Ketua Komisi II DPR Ganjar Pranowo menyebutkan ada tiga pihak yang harus dimintai keterangan oleh Panja Mafia Pemilu yakni Arsyad Sanusi (mantan hakim MK), Andi Nurpati (mantan komisioner KPU), dan Dewi Yasin Limpo (calon legislatif dari Partai Hanura).

“Butuh dua alat bukti untuk menjerat Andi Nurpati,” ujar politikus PDI Perjuangan ini. Dia mencontohkan, kasus bailout Century yang nyata-nyata dinyatakan bersalah oleh DPR, nyatanya hingga saat ini KPK belum menentukan terdapat pidana korupsi dalam bailout tersebut.

Sebagaimana dimaklumi, dalam rapat konsultasi antara MK dengan Panja Mafia Pemilu terungkap ada beberapa pihak yang berperan dalam upaya pemalsuan surat MK. Proses pemalsuan surat MK itu berlangsung dalam kurun waktu 14-16 Agustus 2009.

Disebut-sebut, aktor dari sisi hulu (pembuat surat palsu) seperti Masyhuri Hasan (Juru Panggil MK), Arsyad Sanusi (bekas hakim MK), Dewi Yasin Limpo (Caleg Partai Hanura/pihak yang diuntungkan surat palsu) serta Neshawati (puteri Arsyad Sanusi/pihak yang aktif menghubungi panitera MK).

Adapun aktor dari sisi hilir, dalam penjelasan MK hanya melibatkan aktor tunggal dari KPU yakni Andi Nurpati (mantan komisioner KPU). Bagaimana Andi menyikapi dugaan keterlibatan dirinya dalam pemalsuan surat MK?

Andi Nurpati justru menuding, kasus yang menimpa dirinya hanyalah skenario untuk menjebaknya. “Dari penjelasam MK di Panja Mafia Pemilu, saya melihat justru tidak ada peran dan keterkaitan saya dengan pembuatan surat palsu. Mafianya justru di MK,” kata Andi Nurpati ketika dihubungi Rabu (22/6/2011).

Namun penjelasan Andi Nurpati sebelumnya tepatnya pada Rabu (8/6/2011) silam menyebutkan antara surat tertanggal 14 Agustus 2009 dengan surat tertanggal 17 Agustus 2009 tidak ada perbedaan dari sisi kelengkapan surat. “Kalau dilihat, antara kedua surat MK itu, yang dikatakan palsu dan yang dikatakan asli, nomor suratnya sama, hanya beda tanggal. Yang dibilang palsu 14 Agustus 2009 sedangkan yang dibilang asli tanggal 17 Agustus 2009,” kata Nurpati.

Pernyataan ini jelas missleading. Karena sebagaimana yang disampaikan MK, secara substansi isi surat MK antara yang palsu dan asli berbeda signifikan. Di surat palsu, disebutkan ada penambahan suara di dapil Sulawesi Selatan I sebesar 13.012 suara. Di surat ini pula, terdapat dua point. Sedangkan di surat asli tertanggal 17 Agustus 2009 tidak ada klausul penambahan suara. Di surat ini juga terdapat tiga point yang disampaikan. Jadi secara substansi memang terjadi perbedaan antara surat asli dan surat palsu.

Pemanggilan Andi Nurpati yang rencananya dijadwalkan pekan depan ini cukup penting untuk mengetahui keterlibatannya dalam kasus pemalsuan surat MK ini. Memang Andi bisa saja tidak terlibat secara langsung dalam penggunaan surat palsu MK ini. Namun kita lihat saja, jurus siapa yang ampuh. (inc/jpc/Jakartapress)

Satu Tanggapan to “Surat Palsu MK, Aktor Intelektualnya ‘Setan Gundul’ ?”

  1. Redaksi said

    Yang Namanya Palsu pasti belakangan bung ! Contoh: TV SONY (Asli) belakangan baru ada SUNNY,SONI,SHONY … Yang ini lucu Surat Palsu duluan baru ada surat asli… Kami hanya melihat ini hanya kesalahan administrasi.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: