KabarNet

Aktual Tajam

Top COMMENT on K@barNet

Posted by KabarNet pada 28/06/2011

BENARKAH HUKUM PANCUNG ITU KEJAM ?

Pro dan kontra mengenai hukum pancung Qisas ala Arab (Islam) ini memang telah menguras energi kita akhir-2 ini. Namun begitu tak ada salahnya di sela-2 perbincangan ini kita mencoba untuk menganalisinya dengan menggunakan akal sehat kita.

Barat menerapkan hukum SUNTIK MATI hingga KURSI LISTRIK. Arab (Islam) menerapkan hukum PANCUNG LEHER.

Dari kedua hukum di atas, mana yang TERLIHAT PALING KEJAM dan mana yang SEBETULNYA PALING KEJAM ? Ingat kata ‘terlihat’ tidak sama dengan ‘sebetulnya’ TERLIHAT merupakan kata yang pantas diucapkan oleh penonton (awam), sedangkan SEBETULNYA merupakan kata yang pantas diucapkan oleh seorang yang ahli, profesional atau berpengalaman.

Menurut kacamata penonton :
Hukum pancung leher ala Arab (Islam) TERLIHAT jauh lebih kejam daripada suntik mati atau duduk di kursi listrik.

Menurut kacamata ahli :
Hukum pancung leher ala Arab (Islam) SEBETULNYA jauh lebih manusiawi daripada suntik mati atau duduk di kursi listrik.

MANA YANG BETUL ?

Sekarang kita coba telaah satu per satu :

ALASAN PENONTON :
Hukum pancung leher ala Arab (Islam) dianggap lebih kejam daripada suntik mati atau duduk di kursi listrik karena membunuh manusia (yang telah divonis bersalah) dengan cara memisahkan kepala dari badannya secara paksa dengan menggunakan sabetan pedang. Jadi ada unsur melukai badan secara fisik. Sedangkan suntik mati atau duduk di kursi listrik dipandang sama sekali tidak melukai badan secara fisik.

Kesimpulannya :
Pandangan awam ini lebih menonjolkan tinjauannya pada aspek LUKA SECARA FISIK.

ALASAN AHLI :
Hukum pancung leher ala Arab (Islam) dianggap lebih manusiawi daripada suntik mati atau duduk di kursi listrik karena walaupun melukai secara fisik, yakni memisahkan kepala dari badannya, namun hukum pancung leher dapat membunuh manusia (yang telah divonis bersalah) seketika (dalam hitungan sepersekian detik) tanpa merasakan sakit sama sekali akibat terputusnya jutaan urat-2 saraf perasa dengan pusat syarafnya, yakni otak siterhukum. Sedangkan suntik mati atau duduk di kursi listrik walaupun tidak melukai secara fisik, namun membunuh si terhukum jauh lebih lama daripada hukum pancung leher, sehingga siterhukum akan sempat merasakan sakit luar biasa (sakaratul maut) cukup lama (hitungan menit).

Kesimpulan :
Pandangan ahli ini lebih menonjolkan tinjauannya pada aspek SAKIT YANG DIRASAKAN.

Dari kedua pendapat di atas, sekarang kita akan coba untuk meninjaunya dengan menggunakan AKAL SEHAT KITA SEBAGAI MANUSIA YANG BERAKAL tentunya. Namun sebelum kita berpendapat, maka tak ada salahnya kita mencoba untuk menebak kira-kira jawaban apa yang akan keluar dari mulut siterhukum mati ketika di tanya :

Jika ada 2 macam hukuman mati, mana yang akan anda pilih :

  • A. Yang bisa menjaga keutuhan fisik anda ?
  • B. Yang bisa menghilangkan rasa sakit anda ?

Saya rasa kita semua sepakat bahwa jawaban yang akan keluar dari mulut siterhukum mati adalah lebih condong pada JAWABAN B, YAKNI MEMILIH JENIS HUKUMAN MATI YANG BISA MENGHILANGKAN RASA SAKITNYA alias langsung mati.

Pertanyaannya, logiskah jawaban siterhukum mati ?
Disinilah akal sehat kita sema akan berbicara, bahwa seorang terhukum mati TIDAK MUNGKIN akan memikirkan bagaimana keutuhan jasadnya setelah mati, karena setelah mati siterhukum sudah meninggalkan dunia alias hidup di alam yang berbeda dengan yang masih hidup. Ia tak mungkin lagi bisa berhubungan dengan fisik jasad yang ditinggalkan ruhnya. Jadi intinya ruhnya itu sudah tidak perduli lagi dengan rupa jasadnya di dunia, mau utuh atau tidak, mau hancur atau tidak.
Justru yang ia fikirkan adalah bagaimana agar ketika ajal merenggutnya, maka ajalnya itu akan terenggut dari dirinya tanpa perasaan sakit sama sekali, sehingga ia hanya bagaikan tidur dan pindah ke alam mimpinya saja. Pada kasus Suntik mati, siterhukum tetap merasakan sakit dalam hitungan menit, yakni saat racun menghentikan detak jantung. Sijantung yang sebelumnya sehat tetap memaksa bekerja keras memompa darah walaupun racun telah mencemarinya dalam hitungan menit.

KESIMPULAN UMUM
Hukum pancung bagi siterhukum, walau terlihat kejam secara fisik namun ternyata jauh lebih manusiawi ketimbang jenis hukuman mati lainnya, karena mampu menghilangkan rasa sakit dari tubuh manusia (siterhukum). Oleh karena hukum pancung (qisas) yang ternyata jauh lebih akurat dalam menghilangkan rasa sakit pada manusia (siterhukum) itu berasal dari kitab suci Al-Quran yang notabene adalah kumpulan firman-2 Allah SWT, maka TERBUKTI SUDAH BAHWA ALLAH SWT ITU MAHA BENAR DENGAN SEGALA FIRMAN-NYA. Namun begitu Allah SWT, tetap memberikan kesempatan kepada siterhukum Qisas untuk lepas dari jerat hukum pancung ini manakala ia telah mendapatkan maaf dari keluarga korban dan bersedia membayar uang pengganti (diat) sebesar yang diminta kepadanya. Dan bagi keluarga sikorban Allah SWT juga memberikan petunjuk agar dalam meminta uang penggganti itu tidak berlebihan atau melewati batas kemampuan sipembunuh yang telah dimaafkannya.

Menurut anda semua, jika memang hukuman mati terpaksa memang harus dilakukan terhadap siterhukum, maka manakah yang harus lebih dipentingkan bagi si calon terhukum mati, apakah MEMPERTAHANKAN KEUTUHAN FISIKNYA atau MENGURANGI RASA SAKITNYA ?

Penulis: Salah satu komentator di K@barNet/ SHARING

7 Tanggapan to “Top COMMENT on K@barNet”

  1. juhaiman said

    yaaalah ….. masa membandingkan hukum yang dibuat manusia dengan hukum dibuat TUHAN …
    Yg gembar gembor sekarang ini kebanyakan sok tau saja …..

    Ayam,, sapi , kambing saja kalau mau dimakan …agama menyuruh disemblih dileher bukan disuntik mati atawa digantung …
    Pati ada hikmah dibalik semua itu … seperti yg diceritakan dengan diatas …

  2. juhaiman said

    Lebih barbarr orang barat sono … menghukum dengan suntik racun atau kursi listrik……..

  3. Iyan said

    Dari awal terjadi ribut masalah hukum had ini komentar ana tetap setuju dgn Qishash yg berdasarkan Al Qur’an ini.
    Tugas kita mensosialisasikan soal hukum ini minimal kpd keluarga terdekat, selanjutnya kepada orang lain.

  4. SHARING said

    Sekedar info tambahan :

    Qisas atau dalam bahasa arab: قصاص adalah istilah dalam hukum islam yang berarti pembalasan (yang setimpal). Dalam budaya sebagian masyarakat Indonesia sendiri bahkan pernah dikenal istilah “hutang nyawa dibayar nyawa”. Begitu juga dalam hukum Qishas yang bersumber dari kitab suci Al-Quran telah memberikan hak istimewa ini kepada keluarga korban untuk menuntut pembalasan perlakuan yang sama bagi sipembunuh.

    Pertanyaannya, apa yang dijadikan dasar bagi keluarga pihak korban untuk menuntut pelaksanaan Qisas (pembalasan yang sama) bagi si pelaku ?

    Dasarnya adalah surat Al-Baqarah ayat 178 :
    “Hai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) qisas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Tetapi siapa yang memperoleh ma’af dari saudaranya, hendaknya dia mengikutinya dengan baik, dan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula). Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Siapa yang melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat azab yang pedih.

    Selain itu juga tercantum dalam surat Al-Maidah ayat 45 :
    “Dan Kami menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa dibalas nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada Qisas-nya (balasan yang sama). Barangsiapa yang melepaskan (hak qisas)nya, maka itu menjadi penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang zalim.”

    Inti dari kedua petunjuk Allah di atas adalah bahwa harus ada KESETARAAN DALAM KEADILAN BAGI HAMBA-2-NYA, yakni keadilan antara pihak korban dengan pihak pelaku. Namun demikian dalam surat Al-Baqarah ayat 178 di atas, Allah SWT tetap memberikan peluang bagi kedua belah pihak untuk berdamai. Berdamai berarti pihak korban memberikan ampunan (maaf) kepada pelaku dan pelaku bersedia mengganti rugi penderitaan pihak korban. Jika perdamaian sebagai rahmat keringanan dari Allah SWT itu terjadi maka akan tampaklah dua petunjuk perilaku agung dari Allah SWT kepada hamba-2-Nya, yakni KEBESARAN HATI UNTUK MEMBERIKAN MAAF BAGI PIHAK KORBAN dan KEBESARAN HATI UNTUK TETAP BERTANGGUNGJAWAB BAGI PIHAK PELAKU.

    JIka kita perhatikan, ada hal menarik dari petunjuk Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 45 di atas, yakni bahwa ternyata hukum Qisas tersebut telah diperintahkan oleh Allah SWT kepada hamba-2-Nya jauh-jauh hari sebelum turunnya Al-Quran, yakni sejak diturunkannya kitab suci Taurat kepada Nabi Musa AS. Sekali lagi Allah SWT menegaskan untuk hamba-2-Nya yang berada di posisi korban JIKA BERBESAR HATI untuk melepaskan HAK QISAS (memberikan balasan perlakuan yang sama kepada sipelaku), maka Allah SWTmenetapkan kebesaran hati itu sebagai RAHMAT UNTUK PENEBUSAN DOSA BAGI PIHAK KORBAN YANG MELEPAS HAK QISAS TERSEBUT. Sungguh Maha Besar Allah SWT sebagai pemilik seru sekalian alam ini.

    Pada kasus Almarhum Nyonya Rukhiyati, TKW Indonesia di Arab Saudi, tetap terlaksananya hukum Qisas tersebut akhirnya berhikmah :

    Bagi pihak Almarhumah (keluarga pelaku yang terhukum Qisas) :
    Terlepas dari segala kesedihan yang mendera, oleh karena kehidupan almarhumah sudah tidak mungkin bisa lagi dikembalikan kedunia, maka pada akhirnya keluarga almarhumah tetap harus menerima kepergian almarhumah tersebut sebagai suratan takdir dari Yang Maha Kuasa dengan penuh tulus ikhlas agar kepulangannya kepada Sang Khalik bisa membawa ketenangan baik bagi almarhumah maupun keluarga yang ditinggalkan.

    Sedangkan bagi pihak korban (keluarga penuntut hukumam Qisas) :
    Ketiadaan pemberian maaf kepada almarhumah merupakan bentuk kegagalannya dalam memanfaatkan rahmat Allah SWT yang tiada tara di luar takdir Allah yang terjadi, yakni rahmat untuk menjadi hamba-2-Nya yang tergolong berbesar hati (bertakwa) dan memperoleh bekal penebusan dosa baginya kelak dari Allah SWT.

    Allahu Akbar !

  5. LOGIKA said

    Ada yang mempertanyakan :

    Benarkah hukum pancung dalam qisas Islam lebih manusiawi (tidak lebih kejam) daripada hukuman mati lainnya ?

    Bagaimana bisa mengetahui bahwa hukum pancung tidak lebih sakit daripada hukum mati lainnya ?

    Menurut ane, keduanya merupakan dua buah pertanyaan kritis yang amat bagus untuk ditelaah dan dijawab dengan logis dan ilmiah. Untuk menjawabnya secara logis dan ilmiah, maka ada baiknya kita membahasnya dari sudut ilmu anatomi tubuh manusia, karena dari khazanah ilmu pengetahuan inilah kita akan dibantu untuk mengetahui seputar rasa sakit sebagai bentuk kepekaan tubuh terhadap luka yang mendera pada tubuh manusia. Namun demikian oleh karena luasnya cakupan bahasan, maka kita akan menarik garis besarnya bahwa kepekaan rasa pada seluruh tubuh manusia sangat tergantung pada jutaan simpul-2 syaraf perasa yang tersebar di seluruh tubuh manusia dan berpusat pada sumsum tulang belakang dan otak sebagai pengendalinya. Ibarat komputer, maka otak berfungsi sebagai CPU atau Central Processing Unit yang memproses segala data atau input yang masuk, mengendalikan dan mengeluarkan output. Bahkan yang menyimpan ribuan input dan output alamiah manusia (informasi) dalam kapasitas tertentu.

    Anatomi dan Fungsi Otak Manusia

    Secara fisik, otak manusia berbentuk cairan yang amat terlindung dalam batok kepala. Otak merupakan pusat yang mengendalikan semua fungsi tubuh manusia. Sebagai pengendali (CPU), maka gangguan pada otak bisa menimbulkan gangguan serius pada fungsi organ tubuh yang lain. Namun sebaliknya, jika terjadi gangguan pada salah satu fungsi organ tubuh belum tentu sampai menggaggu fungsi kerja otak. Jadi otak berperan menerima input berupa impuls (rangsangan) dari seluruh tubuh yang di sampaikan oleh urat-2 syaraf, mengolahnya dan memberikan output balik untuk diteruskan dalam bentuk reaksi tubuh., seperti rasa sakit, kaget, rileks, emosi, perilaku dan sebagainya. Jadi jika fungsi kerja otak sebagai pusatpengendali fung-2 organ-2 tubuh ini terganggu atau berhenti bekerja, maka bisa dipastikan bahwa fungsi organ-2 tubuh lainnya pun cepat atau lambat akan berhenti bekerja dan tubuh manusiapun akan sakit atau mati.

    Otak pada hakekatnya bisa dibagi menjadi empat bagian, yaitu : Cerebrum (Otak Besar), Cerebellum (Otak Kecil), Brainstem (Batang Otak) dan Limbic System (Sistem Limbik).

    Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut dengan nama Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan. Cerebrum merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang. Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ Anda juga ditentukan oleh kualitas bagian ini.

    A. Cerebrum (Otak Besar)

    Cerebrum secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut Lobus. Bagian lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai parit disebut sulcus. Keempat Lobus tersebut masing-masing adalah :

    1. Lobus Frontal :
    Bagian otak ini ada dipaling depan dari Otak Besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan, kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah, memberi penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku seksual dan kemampuan bahasa secara umum.

    2. Lobus Parietal :
    Bagian otak ini berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor perasaan seperti tekanan, sentuhan dan rasa sakit.

    3. Lobus Temporal :
    Bagian otak ini ada di bagian bawah berhubungan dengan kemampuan pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara.

    4. Lobus Occipital :
    Bagian otak ini ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata.

    Selain dibagi menjadi 4 lobus, cerebrum (otak besar) juga bisa dibagi menjadi belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Kedua belahan itu terhubung oleh urat-2 saraf di bagian bawahnya. Secara umum, belahan otak kanan akan mengontrol sisi kiri tubuh, dan belahan otak kiri akan mengontrol sisi kanan tubuh. Otak kanan terlibat dalam kreativitas dan kemampuan artistik. Sedangkan otak kiri untuk logika dan berpikir rasional.

    B. Cerebellum (Otak Kecil)

    Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat dengan ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak Kecil juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan yang dipelajari seperti gerakan gerakan tangan, kaki, mata dan sebagainya.

    C. Brainstem (Batang Otak)

    Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi pernapasan, denyut jantung, suhu tubuh, proses pencernaan dan indera keenam manusia.

    Batang Otak terdiri dari tiga bagian, yaitu :

    1. Mesencephalon atau Otak Tengah (disebut juga Mid Brain) :
    Adalah bagian teratas dari batang otak yang menghubungkan Otak Besar dan Otak Kecil. Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan, gerakan mata, pembesaran pupil mata, mengatur gerakan tubuh dan pendengaran.

    2. Medulla oblongata :
    Adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla mengontrol funsi otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan.

    3. Pons :
    Merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat otak bersama dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah kita terjaga atau tertidur.

    D. Limbic System (Sistem Limbik)

    Sistem limbik terletak di bagian tengah otak dan bersifat membungkus batang. Limbik (kerah) dimiliki hampir seluruh mamalia sehingga sering disebut dengan otak mamalia dan terdiri dari : hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan korteks limbik. Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, perasaan dan perhatian, metabolisme dan juga memori jangka panjang.

    Dengan fungsinya yang teramat vital bagi kesehatan dan kelangsungan hidup tubuh ini, maka otak sebagai pusat pengendali fungsi dan organ-2 seluruh tubuh TIDAK BOLEH TERGANGGU, DIISTIRAHATKAN ATAU DILEPASKAN dari tubuh manusia sebagai mahluk hidup. Dengan kata jika terganggu atau dilepaskan, maka fungsi-2 organ-2 tubuh lainnya pun akan terganggu, bahkan ikut berhenti bekerja atau mati. Begitu pula dengan indera perasa yang terdapat hampir di seluruh tubuh manusia yang perjalanan impuls-2nya diteruskan oleh urat-2 syaraf menuju otak untuk diproses menjadi berbagai reaksi tubuh, seperti rasa sakit, kaget, gembira, marah, lezat, pahit, rileks dan sebagainya. JIka jalur-2 syaraf sebagai penerus impuls-2 syaraf atau rangsangan atau input data kejadian-2 yang dialami tubuh manusia dari indera perasa di seluruh tubuh ini terputus dari otak manusia sebagai pusat pembaca, pemproses, pengendali dan penghasil output yang diperlukan dalam bentuk perintah atau reaksi tubuh, maka secara logika data-2 kejadian yang dialami oleh tubuh manusia tersebut tidak bisa diteruskan oleh urat-2 syaraf ke otak seperti dalam keadaan normal dan otak pun tidak bisa menerima atau menerjemahkan lagi data-2 tersebut untuk diproses lebih lanjut guna menghasilkan reaksi (perintah-2) yang diperlukan oleh tubuh untuk menanggapinya. Jadi kejadian luka dari leher yang terputus yang diderita oleh siterhukum mati setelah dieksekusi tidak bisa dideteksi dan diproses lagi oleh otak sebagai CPU si terhukum mati untuk memberikan perintah mengeluarkan rasa sakit kepada tubuhnya alias telah menjadi mati rasa hingga ajal menjemputnya.

    JIka kita kembali pada kedua pertanyaan kritis di atas, maka kita akan bisa menjawab pertanyaan di atas sbb :

    Hukum pancung leher (qisas) dalam Islam sebagaimana petunjuk Allah SWT dalam Al-Quran seebtulnya bisa dianggap menjadi lebih manusiawi daripada yang terlihat dibandingkan dengan bentuk hukuman mati lainnya dengan melihat pada beberapa hal, yakni :

    1. Bentuk postur leher yang menunjang kemudahan penyembelihan :
    Leher merupakan bagian tubuh yang umumnya diciptakan dengan bentuk yang lebih kecil atau sempit daripada bentuk badan atau kepala mahluk hidup.
    Penyediaan bentuk tubuh ini memberikan kemudahan untuk memisahkan kepada dari badan mahluk hidup bersangkutan. Contoh bentuk dan ukuran leher yang terdapat pada hewan-2 yang umumnya bisa dimakan seperti : ayam, bebek, rusa, kerbau, sapi, kambing, kuda dan onta lebih kecil dan ramping (pipih) dari ukuran tubuh dan kepalanya. Bentuk yang praktis dari hewan-2 yang bisa dimakan ini merupakan bentuk khas yang penuh kepraktisan (kemudahan) dari Yang Maha Kuasa untuk memudahkan proses penyembelihannya oleh manusia yang akan menjadikan sebagai bagian dari makanannya.

    2. anatomi syaraf :
    Leher merupakan bagian tubuh yang berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan jutaan ujung-2 syaraf di tubuh manusia sebagai indra perasa dengan otak sebagai pusat penerjemahan dan pemprosesan impuls-2 syaraf yang masuk menjadi output reaksi tubuh atas kejadian yang dialami oleh bagian tubuh terkait, selain berfungsi sebagai saluran bagi pernafasan dan masuknya mananan-minuman bagi proses pencernaan. Ketiadaan leher ini menjadikan terputusnya segala macam bentuk hubungan atau proses biologis antara kepala (otak) sebagai pusat penerjemah dan pengendali aksi-reaksi biologis tubuh dengan badan atau tubuh mahluk hidup sebagai penunjangnya, termasuk aksi-reaksi biologis yang berhubungan dengan indera perasa yang memberikan informasi rasa sakit yang diderita.

    3. Sudut kecepatan :
    Pemisahan kepala dari badan pada leher mahluk hidup pada umumnya termasuk terhukum mati ala qisas berlangsung sangat cepat (umumnya dalam hitungan kurang dari 1 detik) sehingga otak tidak sempat menerima input dari indera perasa di seluruh tubuh untuk dibaca oleh otak dan memberikan reaksi balik dalam bentuk rasa sakit.

    Terlepas dari mendukung atau tidaknya keberadaan hukum pancung sebagai bentuk hukuman mati, maka demikian diantara penjelasan logis tentang kemanusiawian hukum pencung yang oleh sebagian manusia dianggap terlihat lebih kejam (kurang beradab).

  6. Gunawan said

    namun salah satu yg harus ada dalam ilmu pengetahuan adalah bukti. so, akan layak diakui bila ada orang yang ngerasain dihukum mati cara pancung n juga cara kursi listrik. n biarkan dia sendiri cerita ^^

  7. LOGIKA said

    Secara umum tidak salah jika ilmu pengetahuan selalu menuntut bukti. Namun jangan lupa bahwa persoalan hidup dan matinya mahluk hidup ciptaan Tuhan (Allah) sebagaimana takdir-Nya itu tidak serta-merta menyangkut penjelasan logis belaka, melainkan juga keimanan (keyakinan) dan ketakwaan (kepasrahan) kepada takdir Sang Maha Pencipta. Begitulah Islam mengajarkan.

    Apa maksudnya ?

    Maksudnya ketika kita membahas masalah hidup dan matinya mahluk hidup ciptaan Allah, pada dasarnya kita cuma diberikan dua peluang saja oleh Yang Maha Kuasa, yakni :
    A. Peluang mendapatkan penjelasan logis (ilmiah) sesuai kemampuan manusia.
    B. Peluang meyakini kebenaran firman Tuhan (Allah).

    Ketika kita mencari penjelasan logis dari RASA SAKIT orang yang dihukum mati, maka ilmu pengetahuan karya manusia hanya mampu menjelaskan rasa sakit yang diderita siterhukum mati yang diqisas berdasarkan kajian ilmu anatomi tubuh dimana rasa sakit dari luka yang dialami tubuh mahluk hidup itu hanya mampu dirasakan oleh mahluk hidup yang bersangkutan manakala urat-2 syaraf perasanya yang bertindak bagaikan kabel serat optik itu mampu menyampaikan impuls (data) dari lokasi luka ke otak sebagai pusat syaraf dan ketika otak pun mampu menyampaikan kembali impuls (rangsangan) yang telah diolahnya untuk disadari oleh tubuh mahluk hidup sebagai rasa sakit itu ke lokasi luka. Jadi jika urat syaraf atau kabel serat optik ini terputus, maka impuls (rangsangan) tidak bisa sampai ke otak sebagai pusat pengolah impuls/rangsangan/input/data untuk diterjemahkan oleh tubuh sebagai rasa sakit dan menyampaikannya kepada lokasi luka serta bagian tubuh yang lain sebagai reaksi atas rasa sakit dri luka tersebut, seperti :
    1. Mulut yang ditugaskan otak untuk mengucapkan kata : “Aduh sakit “, “Toloong !”, “Oh Tuhan !”
    2. Mata yang ditugaskan otak untuk berkedip atau menutup dan berair saat merasakan sakit.
    3. Tangan yang ditugaskan otak untuk mengusap-2 atau menahan bagian tubuh yang sakit.
    4. Kaki yang ditugaskan otak untuk tidak berdiri ketika menahan rasa sakit.
    5. Kulit yang ditugaskan otak untuk mengeluarkan keringat saat menahan sakit.
    6. Jantung yang diperintahkan otak untuk tetap memompa darah ketika terluka sehingga berdarah.

    Bagaimana dengan buktinya, yakni bagaimana kita bisa mengetahui bahwa rasa sakit dari luka yang dialami oleh siterhukum mati by Qisas itu memang benar-2 tidak dirasakan lagi oleh siterhukum mati ?

    Jawaban logisnya tentu saja orang yang kepalanya sudah terpisah dari badannya alias sudah mati tidak akan mampu lagi untuk berkata-kata alias menjawab pertanyaan sipenanya tentang rasa sakit yang dideritanya ketika dihukum Qisas. Jangankan untuk berkata-kata untuk sadar saja sudah tidak mungkin karena nyawa (ruh) siterhukum mati tentu saja sudah meninggalkan tubuh (raga)nya kembali kehadapan Sang Maha Pencipta, yakni Allah SWT. Jadi secara logika adalah hanl yang sangat tidak logis untuk meminta bukti rasa sakit dari orang yang sudah meninggal dunia. Oleh karena rasa sakit yang diderita oleh mahluk hidup yang berada didalam detik waktu kematiannya atau detik waktu nyawa meninggalkan raganya seperti dalam Qisas itu sudah masuk ke wilayah kekuasaan Tuhan yang notabene di luar jangkauan kemampuan akal manusia, maka keberadaan bukti sakit atau tidaknya hukumam Qisas yang dialami siterhukum mati pun menjadi tidak logis untuk dicari lagi alias sudah tidak mungkin diperoleh dari siterhukum mati yang sudah mati atau meninggal dunia. Kecuali jika Allah mentakdirkan kita mampu berhubungan dengannyawa orang yang sudah meninggalkan raganya alias dsudah mati, mungkin kita bisa menanyakan apa yang dirasakannya ketika dihukum Qisas.

    Kesimpulannya permintaan bukti berupa pengakuan langsung tentang perasaan yang dirasakan siterhukum mati saat sedang mengalami qisas dalam hitungan sepersekian detik itu adalah tidak akan dipenuhi oleh siterhukum qisas, karena siterhukum mati sedang sekarat alias tidak memiliki waktu dan kesadaran yang prima (normal) lagi untuk sempat menjawab pertanyaan atau membuat pengakuan tentang apa yang dirasakannya kepada sipenanya. Oleh karena bukti pengakuan yang diminta oleh sipenanya tidak mungkin diperoleh lagi dari siterhukum Qisas, maka sipenanya terpaksa harus langsung melangkah ke tingkat usaha yang lebih tinggi, yakni mencerna secara logis (akal sehat) dalam kerangka pengetahuan ilmiah seperti yang dijelaskan di atas. Jadi jika diurut sb :

    1. Orang yang sedang diqisas tidak punya kesanggupan untuk mengatakan yang dirasakannya.
    2. Orang yang sudah diqisas sudah tidak bernyawa lagi alias sudah mati.
    3. Orang yang sudah diqisas sudah pindah ke alam lain, yakni ke kembali Sang Maha Pencipta.
    4. Orang yang diqisas tidak bisa menggunakan raganya lagi untuk berbicara.
    5. Orang yang diqisas tida bisa hidup lagi di dunia yang fana ini.
    6. Orang yang diqisas tidak bisa dan tidak pantas ditanya lagi.
    Kecuali Allah SWT menghendakinya.

    Dalam hal ini Allah SWT memberikan petunjuk kepada hamba-2-Nya bahwa selama masih hidup di dunia agar SELALU BERUSAHA DAN BERFIKIR dalam menghadapi setiap persoalan hidupnya, termasuk dalam rangka mendapatkan jawaban dari pertanyaan apa yang dirasakan oleh seorang yang diqisas. Salah satu caranya adalah dengan upaya ilmiah di atas serta meyakini bahwa segala yang sudah ditunjukkan oleh Yang Maha Kuasa itu adalah yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. yang terbaik dari hal ini bisa diduga bahwa Qisas diisyaratkan oleh Yang Maha Kuasa sebagai bentuk hukuman mati yang terbaik bagi orang yang telah terbukti dengan sangat meyakinkan telah menghilangkan nyawa orang lain tanpa alasan yang dibenarkan hukum dan agama serta tidak mendapatkan maaf dari ahli warisnya serta tidak berpeluang diganti dengan uang pengganti atau diyaat.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: