KabarNet

Aktual Tajam

“Bayarlah Gaji Buruh Sebelum Keringatnya Kering”

Posted by KabarNet pada 20/09/2011

Oleh Muh Kholid AS
Dalam tradisi Indonesia, setidaknya terdapat empat momen yang mampu menggambarkan kemalangan buruh. Pertama, saat tanggal 1 Mei yang diperingati sebagai Hari Buruh Sedunia (May Day). Kedua, menjelang kedatangan Hari Raya Idul Fitri seiring dengan repotnya pencairan tunjangan hari raya (THR). Ketiga, saat terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang selalu dibarengi dengan repotnya (mantan) buruh mendapatkan pesangon. Sementara yang terakhir adalah menjelang pergantian tahun baru yang berbarengan dengan penetapan upah minimum regional (UMR) sebagaimana yang terjadi bulan-bulan terakhir ini.

Keempatnya selalu mencerminkan betapa buruh, yang sering kali disanjung sebagai pahlawan, belum diberlakukan secara layak. Bagi masyarakat Indonesia yang agamais, kemalangan buruh ini seyogianya menggugah agamawan, lebih-lebih yang berafiliasi Islam, untuk campur tangan memberikan pembelaan. Keterlibatan ini makin urgen mengingat mayoritas warga yang berkubang dalam sektor ini adalah umat Islam. Agama sebagai sumber makna tentu mempunyai peran yang fundamental karena kehadirannya memang tidak hanya menyuruh umatnya menjalankan ibadah formal di tempat-tempat peribadatan, tetapi juga mengajak untuk memainkan peran kemanusiaan secara luas.

Ketidakadilan yang begitu nyata ini seharusnya mendorong agamawan untuk menggalakkan dakwah dalam bentuk perjuangan menegakkan keadilan bagi kelompok marginal yang disistematiskan oleh kekuatan hegemoni negara dan pasar itu. Apalagi (per)-buruh-(an) adalah masalah yang sangat dekat dengan pembawa risalah Islam, agama yang mayoritas dipeluk penduduk Indonesia. Baik dalam tataran historis maupun teologis, Nabi Muhammad adalah seorang yang sangat memperhatikan nasib kaum mustadl’afien tersebut.

Keintiman sejarah Islam dengan buruh secara mudah bisa dilihat dari perjalanan Nabi Muhammad sebelum diangkat sebagai rasul. Sejak kecil hingga menginjak dewasa, Nabi adalah orang yang dipercaya oleh penduduk Mekah untuk menggembalakan kambing mereka. Menginjak dewasa, Nabi pun tetap akrab dengan pekerjaan buruh, dengan profesinya sebagai pembantu saudagar Khadijah, untuk memasarkan dagangannya di luar daerah.

Sejarah mencatat, sebagai seorang buruh, Nabi melakukan pekerjaannya dengan penuh komitmen, kejujuran, talenta, dan skill marketing yang luar biasa. Keuletannya dalam berdagang berdampak pada bertambahnya keuntungan yang didapat majikan, sehingga Khadijah pun membalasnya dengan insentif yang lebih. Bukan hanya dalam bentuk harta, bahkan Nabi juga dipinang untuk dijadikan pendamping hidupnya dengan mahar yang luar biasa besarnya.

Tidak jauh beda saat masih muda, Nabi Muhammad tetap memperhatikan nasib buruh ketika sedang berada di puncak kekuasaan. Saat didaulat oleh penduduk muhajirin dan ansar sebagai pemimpin negara-kota Madinah, Nabi tetap tidak menafikan eksistensi kaum buruh sebagai penyangga perekonomian. Keberpihakan terhadap kaum proletar ini bisa dilacak dari sabdanya yang cukup familiar, u’thu al-ajiir ajrah qabla an yajiff ‘irquh, “bayarlah gaji buruh sebelum keringatnya kering”.

Menurut Dr Saad Ibrahim, MA (2008), hadits tentang buruh ini setidaknya mempunyai dua makna penting. Pertama, buruh mempunyai hak-hak sebagaimana yang dimiliki oleh pemilik modal, sebagai konsekuensi sama-sama sebagai manusia. Pemilik modal tidak boleh melakukan eksploitasi (menzalimi) buruh, dengan memberikan haknya sesegera mungkin sesuai dengan mekanisme yang telah menjadi kesepakatan bersama (‘an taradh).

Kedua, maksud “sebelum keringatnya habis” adalah jangan sampai pengusaha memberikan gaji yang membuat buruh tidak bisa berkeringat, yang secara medis teridentifikasi sebagai orang tidak sehat. Dengan demikian, gaji minimum yang diberikan seharusnya mampu memenuhi kebutuhan hidup buruh, baik rohani, pangan, sandang, maupun papan, dan lain-lain yang dalam tradisi kekinian sering kali disebut kebutuhan hidup layak (KHL).

Melihat sejarah dan dalil naqliyah itu, terlihat jelas bahwa hubungan buruh dan pengusaha harus dilandasi dengan ruh tauhid. Tauhid mengandung makna pembebasan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan, yang tentunya dilandasi oleh sinar keadilan. Pandangan tauhid selain melahirkan keyakinan akan kesatuan penciptaan (unity of creation), juga berarti kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan pedoman hidup (unity of guidance), dan kesatuan tujuan hidup (unity of the purpose of life) manusia (Amien Rais, 1998).

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, keharmonisan buruh-pengusaha harus difasilitasi oleh negara secara adil. Meski Islam tidak pernah menawarkan bentuk ideal sebuah negara, tetapi agama ini memberikan rambu-rambu penting bagaimana sebuah negara disebut sebagai negara Islami dalam makna substantif. Bahwa negara adalah pemerintahan yang melindungi warga negaranya, bersikap adil, serta memenuhi hak-hak orang miskin dan teraniaya.

Menurut al-Mawardi, negara adalah institusi yang bertugas meneruskan misi kenabian untuk memelihara agama, serta memberikan kesejahteraan kepada warganya (al-Imamah hiya maudlu’ah li khilafah al-nubuwah fi hiraasah al-din wa siyayah al-dunya). Sedangkan dalam kacamata Imam Ghazali, setidaknya ada lima hak warga yang harus dilindungi oleh negara, yaitu hak hidup dan keselamatan jiwa raga, menjalankan keyakinan, menggunakan akal budi, harta benda, serta kehormatan dan keturunan.

Bagi lembaga negara, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, yang tidak mengindahkan buruh, mereka inilah yang terkategorikan sebagai pendusta agama. Ciri pentingnya adalah mereka antisosial, dengan tidak memedulikan anak yatim ekonomi dan sosial, serta orang miskin secara politik (Q.S. al-Ma’un/107: 1-3). Pengusaha yang terus menumpuk harta dan mengabaikan nasib buruhnya, mereka inilah yang telah disindir oleh Allah dalam surat al-Takatsur sebagai calon penghuni jahanam (Q.S. 112: 1-8).

Karena itulah, sudah saatnya buruh diposisikan secara sejajar dengan manajemen (pengusaha) sebagai mitra yang juga mempunyai hak untuk diperlakukan layak dalam hal upah, jasa, kesehatan, dan keamanannya dalam bekerja. Pengusaha mestinya sadar bahwa keringat buruh harus dihargai secara layak karena buruh pasti juga akan membalasnya dengan ikhtiar yang lebih. Allah A’lam bi al-Shawab. (SK/SLM/KN)

3 Tanggapan to ““Bayarlah Gaji Buruh Sebelum Keringatnya Kering””

  1. mas pentol said

    pertamax

  2. rujak cingur said

    mas, tulisannya bagus mas, gak pajang gelar juga mas?

  3. sufis said

    APIK…..

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: