KabarNet

Aktual Tajam

KH. Abdul Qohar: Pendeta Bernhard Bohong & Fitnah

Posted by KabarNet pada 29/09/2011

Sumedang – Awalnya, pada hari Minggu pagi 17 Juli 2011. Puluhan  jemaat Gereja Pantekosta di Desa Mekargalih, Kecamatan Jatinangor, Sumedang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat melakukan kebaktian. Gereja Pantekosta itu merupakan Gereja liar yang sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Masyarakat setempat sejak lama sebenarnya menolak dengan keberadaan Gereja tersebut.

Dalam hal ini, ulama, masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah Gereja Pantekosta itu sudah berulang kali melapor kepada pihak  berwajib. Laporan itu juga disampaikan ke beberapa ormas-ormas Islam termasuk Front Pembela Islam (FPI) Jabar.

Lurah Desa Mekargalih, Arief Saefullah mengatakan, masyarakat Desa Mekargalih menolak keberadaan Gereja Pentakosta. ”Masyarakat yang diwakili sejumlah 27 RT/RW, Dewan Keluarga Masjid dan MUI Mekargalih  menandatangani  surat penolakan keberadaan Gereja. Kelurahan yang mewakili 27 RT/RW telah memiliki 1010 tanda tangan warga yang menolak keberadaan Gereja. Saya hanya menyampaikan aspirasi,” ujar Arief.

Camat Jatinangor Sumedang, Nandang Suparman. Mengatakan “Bahwa tempat ibadah yang tidak mendapat izin harus ditutup. Melanggar dan bertentangan dengan hukum dan peraturan yang berlaku tentang PerBer Tahun 2006. Tidak ada IMB, dan menjadikan rumah tinggal menjadi gereja,” katanya.

“Bangunan yang digunakan selama 24 tahun terakhir oleh jemaat Gereja Pantekosta Sumedang belum mempunyai izin mendirikan bangunan. Karena itu, jemaat diminta memindahkan kegiatan ibadah ke Gereja ke Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri di Jatinangor, Sumedang”, kata Nandang.

Setelah adanya kesepakatan dari berbagai pihak yang dihadiri juga oleh Muspika, disusul pertemuan lanjutan di Kecamatan hingga melahirkan keputusan tertulis. Alhasil, Gereja Pantekosta Jatinangor akhirnya harus menghentikan kegiatannya. karena Gereja tersebut telah ditutup oleh pihak Pemda setempat.

Dalam berita yang dirilis vhrmedia.com (22/09/2011),  Camat Jatinangor memindahkan kegiatan ibadah di Gereja Pantekosta Jatinangor, Kabupaten Sumedang, ke Gereja milik Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN). Nandang mengatakan, tempat ibadah dipindahkan hingga pihak Gereja memiliki izin pendirian tempat ibadah. ”Saya akan memfasilitasi para jemaat untuk beribadah di kampus IPDN,” kata Nandang Suparman, Kamis (22/9).

Pendeta Bernhard Berbohong
Harian online vhrmedia.com, (27/09/2011) memberitakan, bahwa Pada 17 Juli 2011, FPI menyerang dan menutup paksa Gereja Pantekosta Jatinangor. FPI mendobrak pintu dan membubarkan jemaat yang sedang melakukan kebaktian. Kebanyakan anggota FPI membawa celurit, pisau, dan pedang.

Di tengah khidmatnya upacara kebaktian, Pendeta Bernhard menerima telepon. Kapolsek Sumedang mengatakan massa Front Pembela Islam dalam perjalanan menuju Gereja. ”Ketika saya memimpin kebaktian, Kapolsek menelepon dan menyuruh saya menutup gerbang Gereja. Katanya FPI menuju tempat kami,” kata Bernhard.

Pendeta Bernhard segera turun dari lantai dua untuk menggembok pintu gerbang Gereja. Tak lama berselang terdengar teriakan, “Allahu-akbar, Allahhu-akbar….“ Massa bersorban membawa spanduk bertuliskan “usut Gereja liar” serta membawa berbagai senjata tajam telah mengepung Gereja. Pendeta Bernhard mengintip dari lantai dua. Di luar, Kapolsek Sumedang Sujoto yang sebelumnya menginstruksikan agar menutup pintu gerbang justru membuka gembok. “Saya heran. Kapolsek yang menyuruh saya mengunci gerbang malah membuka kunci itu,” ujarnya.

Merasa diberi jalan oleh Kapolsek, massa FPI merangsek dan mendobrak pintu Gereja. Mereka memporak-porandakan isi Gereja sambil mengacung-acungkan celurit, pedang, dan tongkat. Pendeta Bernhard dan istrinya lalu digiring menuju ruangan Gereja lama yang sudah tidak digunakan. Di ruangan itu sudah menunggu Camat Jatinangor Nandang Suparman, Kapolsek Jatinangor Sujoto, beberapa anggota Koramil Jatinangor, serta massa FPI. Bernhard pun dipaksa menandatangani surat persetujuan menutup Gereja Pantekosta yang sudah 25 tahun berdiri itu. “Waktu membaca isi surat itu tertulis saya bersedia menutup Gereja ini untuk selamanya tanpa ada paksaan. Mana bisa isi suratnya seperti itu? Sudah jelas saya dipaksa menandatanganinya, di sana malah tertulis tanpa paksaan. Makanya saya menolak menandatanganinya,” kata Bernhard.

Orang-orang FPI, Camat, Kapolsek, serta anggota Koramil Jatinangor terus memaksa Bernhard menandatangani surat tersebut. Mereka mengajak Bernhard berunding di Kecamatan Jatinangor tiga hari setelah penyerangan. Dalam pertemuan kedua itu Bernhard bersedia menandatangani surat perjanjian tersebut karena diintimidasi massa FPI dan Camat, Kapolsek, dan anggota Koramil.***

Menanggapi berita di atas yang dimuat harian online vhrmedia.com, pihak Front Pembela Islam (FPI), menepis pernyataan Pendeta Bernhard yang menuduh anggota FPI melakukan serangan dengan menggunakan senjata tajam. Dalam pemberitaan tersebut, menggambarkan adanya kekerasan, penekanan, pemaksaan, intimidasi dari FPI Camat, Kapolsek dan anggota Koramil Jatinangor termasuk massa FPI yang dituding membawa SAJAM. Kenyataan sebenarnya tidak demikian.

Sangat disesalkan jika Pendeta Barnhard yang seharusnya berkata jujur, malah bercerita bohong kepada media. Apa-apa yang ia katakan tanpa disertai bukti-bukti nyata. FPI dalam aksinya  menuntut penghentian acara kebaktian di Gereja liar, Rabu, (17/09/2011) di wilayah sumedang, Bandung Jawa Barat. Pendeta Barnhard menuduh anggota FPI membawa celurit, pisau dan pedang, saat mereka beraksi.

Terkait peristiwa ini, pihak redaksi fpi.or.id mencoba menghubungi Ketua Front Pembela Islam (FPI) Jawa Barat, H. Abdul Qohar. Ia mengakui anggotanya mendatangi Gereja Pantekosta Jatinangor, pada 17 Juli 2011. Menurutnya, Gereja ditutup atas permintaan warga.

H. Abdul Qohar mengatakan pihaknya hanya membantu proses hukum karena Gereja itu tidak memiliki izin. ”FPI memiliki standar oprasional. Seluruh elemen warga tahu Gereja itu liar. Mereka melapor ke FPI dan kami mendatangi mereka tapi bukan menyerang. Kami memproses mereka dengan proses hukum,” tegasnya, Rabu (28/9/2011).

H. Abdul Qohar membantah keras tuduhan Pendeta Bernhard, bahwa anggotanya membawa senjata tajam ketika mendatangi Gereja Pantekosta Jatinangor. Tuduhan itu bohong dan fitnah keji. Saat FPI datang ada Kapolsek dan Danramil, jadi kalau bawa senjata tajam pasti ditangkap.

“Sesuai pengaduan masyarakat, Ulama dan Kepala Desa ke FPI, Gereja Pantekosta di Desa mekargalih, kecamatan Jatinangor Sumedang terbukti liar, FPI memproses sesuai prosedur dan mendatangi mereka tanpa ada satu pun yang bawa SAJAM disaksikan MUSPIKA, pertemuan itu berjalan lancar sampai ke pertemuan kedua di kantor Kecamatan, sehingga lahir kesepakatan tertulis, pihak Gereja tidak akan lagi ada kebaktian. Jadi kabar yang disampaikan Saudara Bernhard adalah BOHONG dan FITNAH KEJI”, kata H. Abdul Qohar kepada redaksi fpi.or.id, Rabu, (28/09/2011).

Dia memberikan arahan kepada Pengurus Gereja Pantekosta agar menempuh jalur hukum jika ingin Gereja kembali dibuka. ”Jika ingin melakukan peribadatan lagi silakan tempuh jalur hukum, bukannya melapor pada kami. Gereja itu ditutup resmi jadi silakan tempuh jalur resmi juga,” kata H. Abdul Qohar.

Sebelumnya, Pendeta Bernhard menuduh anggota Front Pembela Islam (FPI) menyerang Gereja Pantekosta Jatinangor dengan membawa SAJAM, pisau, celurit dan pedang saat menuntut penghentian acara kebaktian di Gereja liar (17 Juli 2011). Tuduhan tersebut tanpa disertai bukti-bukti nyata. Ketua FPI Jawa Barat, H. Abdul Qohar menyesalkan tuduhan BOHONG dan FITNAH yang dilontarkan oleh Pendeta Bernhard. [slm/fpi]

fpi.or.id

7 Tanggapan to “KH. Abdul Qohar: Pendeta Bernhard Bohong & Fitnah”

  1. yusuf said

    kalo gak pandai berbohong pasti gak dijadiin pendeta,,

  2. betul……..seorang calon pendeta harus pandai berbohong

  3. ISRAEL said

    kalao pendeta berbohon belu pernah dengar…
    tapi ustad berbohon itu sudah biasa,….
    makanan pokok tu….

  4. Torkov said

    Ajaran paulus emang boleh bohong

  5. Pejuang said

    Rasanya sulit untuk mencari pendeta dan pengikutnya untuk tidak bohong, karena ketika mereka tidak bohong akan kesulitan cari pengikut….bahkan kritenisasi juga berdalih bantuan sosial..namun akhirnya dipaksa untuk dibaptis….

  6. kusnadi mul alif said

    kalau pendeta g pandai berbohong dia pasti akan mati kelaparan pren,,,

  7. orang sebelah hidup nya hanya untuk bohong.. anak buah paul,, tuhan nya aja bohongan… mana ada tuhan 3..??? yg ada tuhan pada brantem ..wkwkwk..

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: