KabarNet

Aktual Tajam

RUU Intelijen dan Bahaya Sekularisme!

Posted by KabarNet pada 30/09/2011

Oleh: Muhammad Rahmani
LAYAR kaca kita kembali ‘dihiasi’ dengan pemberitaan media atas kasus terorisme. Kali ini bom bunuh diri terjadi di Gereja Kepunton Solo. Malam harinya Presiden langsung melakukan jumpa pers dan mengatakan hasil penyelidikan sementara menunjukkan bahwa aksi terorisme tersebut, terkait dengan jaringan teroris Cirebon (Antara, 25/09/11).

Tragedi ini bisa menjadi alasan kuat untuk melegalkan RUU Intelijen. Selama ini intelijen Indonesia dianggap kurang bertenaga bila dihadapkan dengan kasus-kasus terorisme. Kurang bertenaganya institusi intelijen, dinilai karena akibat terbatasnya kewenangan, sebab tidak memiliki kekuasaan untuk menangkap, memeriksa, dan menahan orang yang dicurigai merencanakan atau pun pelaku terror.

Ini makin memperkuat animo masyarakat bahwa Rancangan Undang-Undang (RUU) Intelijen sangat dibutuhkan untuk memberangus terorisme di Indonesia. Namun menilik draft RUU Intelijen yang dibahas dalam rapat paripurna DPR 27 September hari selasa ini, bukan tanpa masalah.

Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti menegaskan, RUU Intelijen yang digodok DPR dan pemerintah masih mengandung 19 pasal bermasalah (Kompas.com, 18/9/2011). Sedangkan analisis politik dari Lajnah Siyasiyah Hizbut Tahrir Indonesia menyebutkan ada 11 hal yang mesti dikritisi dari RUU Intelijen (Hizbut-Tahrir.or.id/RUU Intelijen=Lahirnya Rezim Represif.htm, 21/09/11).

Bahkan gabungan tokoh-tokoh seperti, Dr. Adnan Buyung Nasution, Prof. Dr A Syafii Maarif, Prof Dr Jimly Asshidiqie, para cendekiawan, LSM-LSM, wartawan dan elemen-elemen lainnya, sebelumnya telah sepakat dalam sebuah forum komunike bersama menolak pengesahan RUU Injelijen (rimanews.com, 10/07/11).

Beberapa isi pasal per pasal yang termuat dalam RUU intelijen rentan menjadi alat kekuasaan pemerintah. Pada pasal 1 misalnya, dikatakan bahwa Intelijen Negara adalah penyelenggara intelijen. Walau terjadi perubahan dalam draft sebelumnya yang menyatakan bahwa Intelijen Negara sebagai lembaga pemerintah. Tapi perubahan redaksi ini tidak merubah secara esensial isi pasal tersebut. Karena kita ketahui bersama bahwa penyelenggara intelijen Negara berada di bawah pemerintah. Adapula isi pasal 35 yang juga dipermasalahkan. Sebuah kata ‘pendalaman’ yang termaktub dalam pasal tersebut dapat memberikan kesan bahwa Intelijen dapat melakukan pemeriksaan intensif dalam hal ini mencakup penangkapan dan penahanan.

Dalam penjelasan pasal tersebut bahkan disebutkan “Ketentuan ini dimaksudkan sebagai upaya terakhir untuk mendalami informasi sebagai tindak lanjut dari informasi yang diperoleh sebelumnya, antara lain melalui pengintaian, penjejakan, pengawasan, penyurupan, pemeriksaan aliran dana atau penyadapan.“

Masih ada beberapa lagi pasal yang dianggap memberikan kesan represif oleh pihak intelijen untuk melakukan proses hukum. Jika RUU tersebut disahkan, dikhawatirkan rezim new orde baru akan lahir. Saat dimana jiwa-jiwa kritis yang apabila pemerintah menganggap hal itu merupakan ancaman nasional, maka itu dapat diproses secara hukum ‘ala’ operasi intelijen. Bukankah ini keluar dari semangat reformasi yang dielu-elukan selama ini.

Sekulerisme-lah ancaman Nasional
Dalam draft RUU Intelijen, tertera sebuah frasa ’ancaman nasional’ juga menjadi salah satu poin yang menuai kritikan karena tak terdefenisikan jelas apa dan siapa yang dimaksud. Tapi menarik bila kita melihat masalah-masalah negeri kita sekarang dengan mengaitkannya dengan frasa tersebut. Bila kita menganalisis lebih dalam lagi, sekulerisme-lah sebenarnya menjadi ancaman Indonesia.

Pada masa penjajahan Belanda salah seorang tokoh politiknya Snouck Hurgronye pernah menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai Agama melainkan “Islam Politik” (Aqib Suminto, Op. Cit). Dalam praktiknya Belanda memberangus institusi pemerintahan/ kesultanan Islam (Al wa’ie, agustus 2008).

Bukankah ini bentuk sekulerisasi ! Sekulerisme telah menjauhkan Indonesia dari fitrahnya sebagai manusia. Aturan-aturan Sang Pencipta (baca: Islam) yang semestinya diterapkan dalam aspek-aspek kehidupan, malah dicampakkan. Sekulerisme dalam bidang Pemerintahan berupa sistem demokrasinya, telah melahirkan politik yang permisif dan pragmatis. Dan lihatlah apa yang terjadi dalam politik kita sekarang. Sekulerisme di bidang hukum, melahirkan para mafia-mafia peradilan dan keadilan hanya sebuah jargon saja.

Sekulerisme dalam kehidupan sosial, membuat masyarakat makin individualistis. Wajarlah ’bibit-bibit teroris’ muncul karena masyarakat kita sudah tidak memiliki kepekaan sosial.

Sekulerisme dalam ekonomi yakni kapitalisme dengan asas ekonomi neoliberalismenya serta konsep privatisasi atas sumber daya alam malah membuat rakyat makin miskin dan sengsara.

Sekulerisme yang merambat dalam aspek budaya, telah menghancurkan sendi-sendi moral bangsa terutama bagi generasi-generasinya. Hal-hal ini merupakan ancaman serius bangsa ini.

Ataukah para penguasa tidak melihat hal itu sebagai ancaman? Atau siapakah yang dimaksud ancaman dalam RUU Intelijen tersebut? Jangan sampai suara-suara kritis rakyat atas masalah-masalah bangsa yang disebabkan oleh sekulerisme tadi, terbungkam seperti yang terjadi pada masa orde baru. Karena mungkin saja ancaman yang dimaksud adalah hal yang berseberangan dengan kepentingan penguasa. Wallahu ’alam

[Penulis adalah, Sekjen Gerakan Mahasiswa’GEMA’ Pembebasan SULSEL] Hidayatullah.COM

5 Tanggapan to “RUU Intelijen dan Bahaya Sekularisme!”

  1. taUbat said

    RUU INTELIGENT MUSIBAH ATAU ANUGERAH :

    Sebagai masyarakat yang awam hukum ini, akan sedikit terbelenggu baik di kreatifitas maupun kritisinya yang menjadi pertanyaan apakah pemerintah mampu menahan derasnya informasi global negative, inteligen asing dan ada provokasi kepentingan sepihak.

    Jangan hanya karena kejadian di Solo langsung men-generalisir kesalahan dan yang harus diantisipasinya/dicurigai ditujukan pada masyarakat saja.

    Jika kaitkan dan diruntut/kronologis kejadian Bom bunuh diri di Solopun, ada yang menjadi pertanyaan di masyarakat “KENAPA” bahkan sekarang malah dijadikan salah satu dasar sebagai diterbitkannya RUU Inteligen :

    Kenapa => Bom itu di letakan di perut (mukanya utuh)
    Kenapa => Yang mati dia sendiri
    Kenapa => Sudah didalam lalu keluar
    Kenapa => Bukan di pintu keluar yang ramai tapi memilih yang sedikit.

    Keputus-asaan dan ketakutan membuat jadi berani/nekat yang sebetulnya tidak ingin melukai orang karena sudah dicap teroris maka sekalian berbuat.

    Alangkah baiknya yang dicurigai dan di pajang fotonya lebih baik di ajak berdialog/kompromi sebab aparat akan menang/berhasil dengan cepat diketemukannya dalam keadaan mati bunuh diri karena yang bersangkutan lebih baik mati dari pada dipenjara (belum tentu bersalah) dan tidak bisa pulang kerumah (keluarganya).

    Jika diterbitkan RUU Inteligen ini apakah “MANFAATNYA”

  2. kacang lupa kulit said

    setuju semua, tapi masalahnya sekarang apakah kaitannya antara ……. intelejen, …….. sekularisme …. dan blogger? (seperti pada gambar ilustrasi), kok bukan wordpress, facebook, friendster, twitter, wix, dll yah?

    pertanyaannya, apakah di negara non-sekuler bisa menjamin untuk bernegara lebih naik? kalau masih 50%-50%, sebaiknya janganlah ngerubah idiologi negara yang sudah memiliki sejarah yang dalam ini.

    contohnya saja jepang, negara sekuler yang keberadaannya jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh diatas kita.

  3. BINGUNG said

    Jika aturan-2 yang sudah begitu banyaknya belum pada ditaati sepenuhnya, bagaimana mau menambah dan mentaati aturan yang baru ?

    Apakah tidak lebih baik jika objek atau perilaku subjek yang diatur sama, maka energi bangsa ini justru diarahkan saja untuk merampingkan aturan yang saling tumpang tindih dan memaksimalkan penegakkannya ?

    Logika sederhananya, daripada banyak aturan tapi seringkali tidak ditaati sebagaimana mestinya, maka lebih baik sedikit aturan tapi efektif pelaksanaannya. Lagipula gak bikin pening kepala karena kebingungan. Cobalah direnungkan.

  4. Yeni said

    Ada ada saja, masak kejadian Solo dikaitkan dengan RUU Intelegen yang rancangannya pasti di undangkan. Yang pasti kejadian Solo tidak ada kaitannya dengan RUU Inteligen, yang benar kejadian Solo berhubungan dengan Pelestina dan pengaruh Zionisme yang bergentayangan di Indonesia.

  5. taUbat said

    TEMPO Interaktif (Rabu, 28 September 2011 | 15:07 WIB)

    ……. “Kasus ini semakin menegaskan tentang pentingnya UU Intelijen,” kata Anas kepada wartawan seusai menjenguk korban bom gereja itu di Rumah Sakit dr.Oen Solo, Rabu, 28 September 2011.

    “Sekarang, kan, zaman demokrasi. Kontrol publik dan politik kuat. Tak usah takut ada penyalahgunaan wewenang,” ujar Anas.

    Kewenangan aparat intelijen menangkap, menurut Anas, memungkinkan aparat mengantisipasi terjadinya tindakan teror. “Kalau sudah terdeteksi ada rencana teror, harus segera diatasi. Tidak usah tunggu kalau sudah kejadian,” katanya.

    Soal penangkapan, dia menyebut masyarakat tidak perlu alergi terhadap ketentuan tersebut. Sebab, secara teknis, penangkapan bisa juga dilakukan oleh aparat kepolisian setelah berkoordinasi dengan intelijen. “Yang terpenting, aparat intelijen ada kewenangan deteksi dini dan mengantisipasi. Pengaturan teknis bisa dibicarakan kemudian.” …………..

    WOW…….. PENJARA BISA PENUH, BAHASANYA HAMPIR MIRIP DENGAN ORDE BARU ADANYA “BAHAYA LATEN”.

    MASYARAKAT SEKARANG SEDANG KRISIS/MISKIN …… JANGAN DITAMBAH DENGAN DITAKUT-TAKUTI LAGI.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: