KabarNet

Aktual Tajam

Membela FPI

Posted by KabarNet pada 11/05/2012

Front Pembela Islam (FPI) saat ini bukan lagi sekedar organisasi masyarakat yang dipimpin oleh Habib Muhammad Rizieq Husein Syihab. Dia sudah menjadi simbol perlawanan terhadap berbagai ancaman terhadap Islam.

Ketika kekuatan liberal sudah begitu menghegemoni kehidupan masyarakat, maka FPI hadir tidak lagi sebagai organisasi, tapi dia berubah menjadi sebuah identitas perlawanan.

Bentrokan antara massa FPI dengan kelompok-kelompok liberal juga menunjukkan kegundahan umat Islam atas ide-ide liberalisme. Aksi Indonesia tanpa JIL yang diikuti ribuan orang, dan didukung jutaan netter, menjadi bukti bahwa perlawanan itu tidak hanya didominasi FPI, tapi mayoritas umat Islam. Kekuatan modal di balik liberalisme yang menjadikan perlawanan ini tidak imbang. Tidak heran jika kemudian perlawanan FPI adalah perlawanan jalanan. Meski ada juga kelompok muslim lain yang berusaha mengambil jalur berbeda untuk mengimbangi kekuatan-kekuatan proliberal ini.

Munculnya gerakan FPI ini memiliki korelasi dengan tingkat grienvence atau keluhan yang tinggi akan derasnya pengaruh negatif globalisasi. Tidak hanya ide-ide liberal yang merusak sendi-sendi dasar Islam, tapi juga pengaruh negatif budaya, ekonomi, sosial, politik yang ditawarkan sistem demokrasi liberal. Begitu kuatnya gelombang informasi melalui media-media juga menambah kesumpekan kehidupan masyarakat muslim di Indonesia.

Budaya populer yang hedonistik dan konsumtif merajalela di setiap perilaku orang-orang Indonesia. Ditambah perilaku media massa yang ikut menampilkan sosok-sosok panutan yang mewakili gaya hidup hedonis dan konsumtif. Atas nama keuntungan materi, konser-konser musik yang menghabiskan miliaran rupiah pun digelar. Ini adalah cara efektif mengubah perilaku masyarakat dengan pemberian label moderen. Pendefinisian moderen pun menjadi tidak jelas. Moderen diartikan sebagai jika tidak mengikuti gaya rambut artis anu, maka tidak moderen. Jika tidak mengikuti gaya baju penyanyi anu, maka tidak moderen.

Selain itu, pornografi dan minuman keras yang semakin mudah didapat dan kian merusak alam pikir generasi muda, juga bagian dari efek negatif globalisasi. Sialnya, para wakil rakyat di Parlemen justru mengumbar aksi pornografi di tengah-tengah masyarakat. Video-video porno orang-orang terhormat itu juga tidak lepas dari perilaku politik Machiavelisme. Sangat mudah diterka jika penyebaran video cabul tersebut tidak lepas dari intrik politik untuk menjatuhkan seseorang.

Benturan budaya dan perilaku sosial ini yang menjadi pemicu aksi-aksi jalanan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok umat Islam. Sementara negara merasa tidak perlu mengatasi masalah ini, karena berangkat dari filsafat liberalisme yang individualistik. Filsafat liberalisme mengajarkan bahwa individu manusia adalah bebas maka tidak perlu ada campur tangan negara. Makna bebas pun ditafsirkan secara serampangan, dan bertabrakan dengan hakikat yang menyatakan bahwa kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Indonesia sebagai negara berdaulat memang tidak bisa menutup diri dari pergaulan dunia. Namun, di negara ini pula ada nilai-nilai yang dianut oleh mayoritas umat Islam. Serangan terhadap nilai-nilai tersebut begitu bombastis sehingga umat terbesar di dunia ini berada di pinggiran, tidak menjadi arus utama (mainstream). Sekelompok umat Islam (baca: FPI) pun berinisiatif untuk bangkit dan melawan, meski cara yang mereka lakukan hanya berdemo, menggerebek dan sejenisnya.

Dari segi politik dan hukum, negara lebih disibukkan dengan kasus-kasus korupsi yang dilakukan para penyelenggaranya. Sementara, masyarakat hanya bisa terhenyak menyaksikan perilaku mereka melalui media-media massa. Dengan kehidupan politik negara yang demikian, tidak bisa disangkal jika kemudian munculnya gerakan FPI ini menunjukkan kegagalan pemerintah memenuhi aspirasi mereka. FPI pun kemudian mempergunakan struktur kesempatan politik yang terbuka.

FPI Sebagai Gerakan Sosial
Jatuhnya rezim Soeharto membuka struktur kesempatan politik yang dulunya ditutup dengan kuat melalui tangan besi. Sejak awal reformasi, kita menyaksikan gerakan masyarakat di Indonesia terjadi begitu mudah. Pemicunya begitu beragam, namun bisa disimpulkan inti dari gerakan massa adalah ketidakpuasan masyarakat terhadap sesuatu. Masyarakat kemudian membentuk organisasi massa, LSM atau lembaga non pemerintah, untuk mewujudkan ide-ide mereka. Bahkan, negara melindungi kehadiran organisasi-organisasi massa tersebut sebagai bentuk dari kebebasan berserikat.

Teori kesempatan politik terbuka ini membutuhkan banyak faktor, selain tentunya dukungan dari pemerintah. Faktor tersebut adalah mobilisasi struktur. Teori mobilisasi struktur ini menjelaskan bahwa gerakan sosial membutuhkan lembaga atau organisasi yang dapat dimobilisasi. Teori ini menekankan jika aktor mampu memobilisasi struktur organisasi maka gerakan sosial akan dianggap sukses.

FPI adalah salah satu organisasi yang lahir dari embrio perjuangan umat Islam melawan tirani Orde Baru. Pada awal kelahirannya, sejumlah tokoh-tokoh Islam berpandangan pentingnya organisasi pelopor yang mampu mendobrak sekaligus memimpin perlawanan. Sebagai organisasi gerakan, FPI menjadi wahana untuk mewujudkan cita-cita sosial yang diinginkan. Melalui organisasi gerakan pula, kelompok ini hadir membela suara-suara Islam yang terpinggirkan.

Organisasi gerakan adalah salah satu upaya untuk menjawab kelompok-kelompok Islam yang tertindas di tengah jumlah mereka yang mayoritas. Bahkan, kelompok-kelompok minoritas mampu menguasai kelompok mayoritas karena adanya kekuatan-kekuatan modal. Istilah tirani minoritas menjadi adagium yang pas untuk menggambarkan kondisi sosial di Indonesia saat ini.

Kehadiran negara pun nihil ketika berhadapan dengan kepentingan dan suara-suara umat Islam. Tidak berlebihan jika mengatakan umat Islam tertindas, sementara negara berupaya meninabobokan mereka melalui pemikiran-pemikiran berbeda berbalut kajian limiah. Salah satu contohnya adalah dengan gencarnya pembuatan kurikulum pendidikan yang dirasuki pemikiran sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Kondisi demikian tentunya menambah parah hubungan sosial muslim dengam muslim atau muslim dengan negara.

Inilah sebenarnya mengapa begitu sulitnya melawan kelompok-kelompok liberal karena mereka sudah masuk dalam level penyelenggara negara. Tentunya hal ini seiring berjalan dengan kuatnya dominasi barat atas Islam di berbagai belahan bumi ini. Jika umat Islam Indonesia melakukan perlawanan, bukan tidak mungkin labelisasi negatif disematkan kepada mereka. Istilah “merusak keutuhan NKRI”, “mengubah UUD menjadi Syariah” bahkan “Teroris”, menjadi senjata yang ampuh untuk memberangus gerakan-gerakan sosial yang membela kepentingan umat Islam.

Secara teoritis, gerakan sosial dianggap sukses jika para pelopornya mampu menekankan pentingnya innovatice collective action. Inovasi aksi kolektif adalah pilihan-pilihan strategi aksi dalam mencapai tujuan gerakan sosial. Ada dua strategi besar dalam inovasi ini, yakni pertama, apakah agent atau aktor akan mempergunakan cara-cara kekerasan atau yang kedua aktor-aktor gerakan sosial mempergunakan di luar cara-cara kekerasan.

Jika melihat track record FPI, maka cara pertama ditempuh oleh para aktor gerakan ini. Namun, bukan berarti FPI harus kehilangan cara-cara inovatif untuk mewujudkan gagasan mereka. Bisa saja, para aktor gerakan sosial di FPI mengkombinasikan cara-cara keras dengan cara-cara diplomasi. Selain ada yang turun ke jalan, maka harus ada aktor-aktor elit di organisasi ini yang bermain di luar jalanan. Kemampuan lobi, pencitraan dan memperluas jaringan adalah syarat untuk mewujudkan aksi kolektif inovatif tadi.

Jika di awal tulisan ini menyebutkan FPI sebagai simbol perlawanan, maka hal itu tidak berlebihan. Di tengah hujatan, cacian dan pencitraan negatif terhadap FPI, namun upaya-upaya itu tidak mampu menghentikan gerakan ini. Masyarakat pun semakin cerdas membaca perkembangan yang berkaitan dengan FPI. Mereka tidak buta dan tuli, mereka melihat misi apa yang sebenarnya dibawa olehnya. Ketika negara tidak mampu mengatasi secara tegas akan peredaran miras, prostitusi, perjudian dan narkoba, maka FPI hadir sebagai bentuk perlawanan. Lebih dari itu, FPI juga menjadi bentuk perlawanan baru terhadap gelombang sosial, budaya, pemikiran dan ide liberal yang bisa merusak eksistensi Islam di negara yang katanya dihuni oleh mayoritas muslim.

Penulis: Mohammad Fadhilah Zein (Pengamat Media)

Source: eramuslim.com

19 Tanggapan to “Membela FPI”

  1. Emka Baru said

    Takbiiirrr… !!! Allohu Akbar…!!!! Allohu Akbar…!!!!

  2. Bukan Cuma Bicara, Tapi FPI Bergerak, Salut buat FPI, konsisten dan Idealis
    Bukan uang, Bukan kekuasaan yang di bela Tapi kebenaran untuk semua,,

    Save Indonesia from JIL and Ulil

  3. sipnasip said

    setuju

  4. Mari kuatkan iman kita, mulailah dari kita sendiri agar tidak terlena oleh kegemerlapan dunia fana ini mari kita tingkatkan taqwa kita kepada Ilahi, dan kepada pemimipim kita harus tegas antara kemungkaran dan kebajikan jangan sampai salah memutuskan. musuh islam tidak akan berani menyerang islam dengan terbuka tapi kita harus berhati-hati waspada dengan adanya gaya baru baik info yang menyesatkan, makanan haram dan halal campur aduk, perilaku remaja yg trend dg gaya idolanya yang tidak sesuai dengan syariat islam. memang negara ini negara demokrasi semua pendapat bebas tapi kebebasan itu ada batas dari hak bertetangga, bernegara. mari kita kuat kan iman dan taqwa kita kepada Allah yang Maha Mengetahui!! mari ikuti tuntunan islam berpegang teguh Alquran dan Assunnah jgn menurut hawa nafsu/birahi/tamak

  5. Heran said

    Muslim2 palsu pro SEPILIS, pro liberal, pro maksiat, pro homoseks-lesbian, pro aliran sesat, dsb, kok belum ada yg menggonggong? Apa sedang diberangus??

    heran.

  6. Maju Terus FPI, Allah SWT bersama kita, jangan takut kepada yang berbuat maksiat di negeri ini.

  7. Hidup FPI

  8. Anonim said

    Maju Terus FPI, siapa takut.

  9. Anonim said

    Maju terus FPI

  10. yohan said

    FPI ADALAH DOG ATTACK POLISI !

  11. Anonim said

    Yang bilang DOG ATTACK polisi bisa jawab gak?kalau FPI dibawah partai pasti ngomongnya lain.dasar manusia ingin bebas lepas nggak ada aturan….hidup aja tuch di hutan kalau nggak mau aturan….mau neggak miras, mau narkoba terserah….tar anak perempuan anda hamil gak ada yg tanggung jawab baru tahu rasa….

  12. Emka Urang Ciamis Jabar said

    saya adalah orang yang sama dengan yang ada di komentar paling atas..
    … Yang tidak setuju dengan uraian diatas.. mereka itu yang merasa terancam.. heuheu..
    .. Allohu Akbar..!!!g itu adalah orang yang merasa terancam misi liberal-nya.. heuheu.. ..
    Takbiiirr… !! Alloohu Akbar..!!

  13. aga said

    lihat dan dengar. apakah perkosaan dan perampokan serta pembunuhan yg terjadi di negara kita apakah berasal dari budaya barat.mari kita renungkan atau iman kita yg memang sangat rapuh. salut buat NU yg imannya tetap teguh walau 1jt gaga datang ke Indonesia..TUHAN MEMBERKATI KITA

  14. aga said

    bagaimana dengan hukuman koruptor yg sangat ringan..apakah sebagai organisasi anda setuju..mana suara lantang anda.. kenapa tidak bereaksi terhadap para perusak moral bangsa..

  15. aga said

    Bagaimana kalau FRONT PEMBELA ISLAM diganti menjadi FORUM PEMBELA ISLAM. kata front terasa lebih bersifat militan dan pemaksaan kehendak. Forum lebih mengedepankan dialok bila ada perbedaan pandangan atau penafsiran. Saya yakin negara akan damai dan tenteram.

  16. bravo FPI tetap istiqomah doaku menyertai kalian

  17. Anonim said

    Hidup FPI Kami dukung perjuangan muliamu…..Semoga Allah SWT selalu meyertai perjuangan FPI Amin…..

  18. zulfikar said

    FPI simbol perlawana terhadap kelemahan pemerintah dalam mensikapi berbagai masalah bangsa, sehingga FPI ambil bagian dalam amar ma’ruf nahi mungkar guna menyelamatkan bangsa indonesia. Allah Akbar.

  19. ABU said

    YANG GAK SUKA MA FPI, UDAH LAH GA USAH KOMEN MACAM -MACAM, ANA YAKIN ENTE SUKA KLUYURAN KE LOKALISASI, ,GEROMBOLAN PERUSAK MORAL (GPM) PARA PENGHIANAT BANGSA ,YANG MENJUAL DIRI NYA KEPIADA ASING……….

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: