KabarNet

Aktual Tajam

KPAI Minta Pemerintah Batasi Peredaran Kondom

Posted by KabarNet pada 23/06/2012

Jakarta – KabarNet: Tiada Hari Tanpa Kecaman. Itulah kenyataan yang terjadi pasca Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi mengumumkan rencananya mengadakan kampanye sosialisasi pengunaan kondom dengan menjadikan remaja dan pelajar usia 15-24 tahun sebagai target sasaran kampanye. Bak gayung bersambut, gelombang kecaman yang diawali oleh Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab, akhirnya berturut-turut diikuti oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), sejumlah ormas Islam dan LSM, kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan kini… datang pula kecaman dari Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tidak saja mengecam rencana kontroversial Menkes Nafsiah Mboi yang akan melakukan kampanye kondomisasi remaja dan pelajar usia 15-24 tahun itu, KPAI bahkan meminta Pemerintah melakukan pembatasan akses kondom yang selama ini dijual bebas di minimarket dan warung-warung kaki lima. Sehingga penjualan kondom dapat dibatasi agar anak dibawah umur tak bisa bebas memperolehnya.

“Pemberian akses kondom pada anak, sehingga memungkinkan terjadinya penyalahgunaan adalah bertentangan dengan prinsip perlindungan anak. Perlu langkah-langkah pembatasan peredaran kondom yang selama ini dijajakan secara bebas,” tandas Wakil Ketua KPAI, Asrorun Ni’am Sholeh dalam keterangan persnya seperti dikutip Inilah.com, Jumat (22/6/2012).

Menurut Asrorun Ni’am, permintaan KPAI ini bukan tanpa alasan, sebab kondom merupakan alat kontrasepsi, sehingga aksesnya pun harus dikhususkan bagi orang-orang yang secara sah dapat menggunakannya, dalam hal ini yaitu orang yang sudah terikat perkawinan yang sah. “Perlu regulasi yang membatasi peredaran kondom secara bebas. Pemanfaatan kondom bagi anak-anak, bisa mendorong hubungan seks yang tidak legal,” tegasnya.

Ni’am mengatakan, logika untuk mencegah HIV dan AIDS terkait wacana Menkes Nafsiah Mboi menyebarkan kondom gratis dinilai tidak logis, sangat simplistik dan tidak rasional.

“UU Perlindungan Anak menegaskan larangan perkawinan usia anak-anak. Padahal perkawinan itu pada dasarnya legal. Kalau yang legal saja untuk anak-anak dilarang karena akan mengganggu tumbuh kembang, apalagi hubungan seks bebas, meski atas nama melindungi dari penyakit menular seperti HIV,” tandas Asrorun Ni’am.

KPAI justru mendorong pemerintah memberikan perlindungan substantif bagi anak. Salah satunya dengan membatasi peredaran dan akses alat kontrasepsi termasuk kondom.

“Agar tidak diakses anak dan orang yang tidak legal. Sebagaimana halnya rokok, minuman beralkohol dan lain-lain yang peredarannya harus terbatas. Tidak boleh diakses anak-anak untuk menjamin perlindungan anak,” pungkasnya.

Seperti yang sedang ramai diberitakan, rencana kampanye penggunaan kondom akan dilakukan oleh Menkes Nafsiah Mboi. Kampanye tersebut dilakukan untuk berperang melawan penyakit HIV/AIDS disamping juga mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Berdasarkan survei, penyakit tersebut menyebar akibat hubungan seks risiko tinggi, bukan lagi atas penggunaan narkoba dengan suntikan.

Namun yang menuai protes berbagai pihak, Menkes juga menjadikan remaja dan pelajar sekolah usia 15-24 tahun sebagai target sasaran kampanye penggunaan kondom. Hal mana dinilai banyak pihak “bernuansa” seolah-olah melegalkan hubungan seks diluar nikah dikalangan remaja dan pelajar sekolah… asalkan dilakukan dengan menggunakan kondom. [KbrNet/adl]

2 Tanggapan to “KPAI Minta Pemerintah Batasi Peredaran Kondom”

  1. Alwi Ali said

    Harapan saya, setelah sukses urusan kondom, menkes memperhatikan masalah gizi anak2 yg lahir dari keluarga miskin.

  2. Sang Kata said

    FAKTOR PENYEBAB NEGARA GAGAL

    Akar permasalah atau penyebab Indonesia masuk kategori negara gagal :

    (1) Kawanan parpolis dari berbagai paltform, kalah menang pemilu/pilpres, masuk koalisi atau oposisi, bertingkah laku seperti anak KURANG AKAL, menghalalkan segala cara, tindakan dan omongannya serba brutal.

    (2) Wakil rakyat dari semua fraksi, komisi bertingkah laku bak orang gila KEHILANGAN AKAL. Utamakan kesejahteraan diri, dahulukan kemakmuran keluarga, pentingkan kembali modal. Kinerja politisnya mirip tukang jagal.

    (3) Media massa dan geng jurnalis yang hidup dari bencana politik dengan dalih menaikkan peringkat, gelar acara dialog, diskusi dan debat, tanpa merasa malu bergaya mirip orang pikun TANPA AKAL, memainkan peran sebagai tukang jagal. Membentuk opinis sesuai selera, lebih kejam daripada fitnah.

    (4) Penyelenggara dan pelaku ekonomi, mampu pesan pasal sampai jual beli pasal, mereka KELEBIHAN AKAL, mereka selalu menang modal. Tak perlu jadi birokrat, jadi aparat keamanan, jadi hamba hukum.

    (5) Rakyat pemilih yang dibutuhkan suaranya saat coblosan dalam sehari, setelah itu, di sisa waktu dalam lima tahun disuruh berjuang sendiri, menjadi korban para pemain akal, minimal ketiban sial.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: