KabarNet

Aktual Tajam

Tidak Kapok! SBY Beri Grasi Lagi kepada Napi Narkoba

Posted by KabarNet pada 23/06/2012

Denpasar – KabarNet: Presiden Susilo Bambang Yudhoyoo (SBY) tidak jera karena gugatan hukum. Meski akan digugat gara-gara memberi grasi pemotongan masa hukuman selama 5 tahun kepada ratu mariyuana asal Australia, Schapelle Leigh Corby, kini SBY malah kembali mengeluarkan keputusan berani dengan mengabulkan grasi pengurangan hukuman selama 2 tahun kepada terpidana kasus narkoba asal Jerman Peter Achim Franz Grobmann (53 tahun). Keputusan pemberian grasi tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) bernomor 23/G Tahun 2012, dan sudah diputuskan pada tanggal 15 Mei 2012 lalu di Jakarta. Namun salinan putusannya baru dikirimkan ke Pengadilan Negeri (PN) Denpasar untuk selanjutnya diteruskan ke kuasa hukum Peter.

Salinan putusan grasi dari SBY itu telah diterima oleh kuasa hukumnya di Denpasar, Bali. “Iya, surat grasinya sudah turun kemarin. Sebenarnya sudah turun beberapa bulan lalu. Tapi saya baru kemarin mengambil salinannya. Kami murni mengajukan grasi ini karena unsur kemanusiaan,” ungkap kuasa Hukum Peter, Pande Putu Maya Arsanti, seperti dikutip Inilah.com, Jumat (22/6/2012).

Dalam keppres tersebut, SBY memberikan grasi selama 2 tahun terhadap Peter. Sebelumnya di tingkat Mahkamah Agung (MA) Peter divonis 5 tahun penjara plus denda Rp 800 juta subsider 6 bulan kurungan.

“Memberikan grasi kepada terpidana Peter Achim Franz Grobmann berupa pengurangan jumlah pidana selama 2 tahun sehingga hukuman pidana penjara yang dijatuhkan kepada terpidana dari pidana penjara selama 5 tahun menjadi pidana penjara selama 3 tahun, sedangkan pidana denda tetap harus dibayar,” tulis SBY dalam salinan putusan grasi itu.

Peter selama ini sudah menjalani hukuman lebih dari setahun sehingga dengan keputusan grasi dari SBY itu maka tidak lama lagi Peter bakal bebas dari hukuman penjara. Sementara itu, kuasa hukum Peter, Pande Putu Maya Arsanti menyambut gembira atas keputusan Presiden SBY yang mengabulkan permohonan grasi kliennya.

Sebelumnya, Peter mengajukan grasi pada September 2011 karena merasa tidak puas dengan putusan yang dijatuhkan hakim agung dalam tingkat kasasi. Hakim agung MA kala itu diketuai R. Imam Harjadi bersama anggotanya H. Mansyur Kartayasa dan Salman Luthan, dalam amar putusan kasasi, menyatakan terpidana terbukti memiliki dan menyimpan narkotika jenis ganja seberat 4,9 gram bruto atau 2,2 gram neto. Oleh karenanya, perbuatan warga negara asing itu dianggap telah memenuhi unsur-unsur yang diatur dalam Pasal 112 ayat 1 Undang-undang (UU) RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sehingga Peter dijatuhi hukuman 5 tahun dan denda Rp800 juta subsider 6 bulan kurungan.

Putusan tersebut lebih tinggi dari putusan hakim Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar dalam tingkat banding, dimana Pengadilan Tinggi Denpasar hanya menghukum bule paruh baya itu selama 4 tahun penjara dan denda Rp 800 juta subsider 6 bulan penjara.

Putusan ini juga lebih tinggi dari putusan Pengadilan Negeri Denpasar yang kala itu diketuai Nyoman Sutama, hanya menghukum Peter Grobmann dengan pidana penjara 1,5 tahun atau 18 bulan.

SBY Digugat Gara-Gara Grasi

Sementara itu, mantan Menteri Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendra menilai Keputusan Presiden (Keppres) pemberian grasi kepada narapidana sindikat narkotika tidak hanya melanggar UUD 1945. Tetapi juga, grasi tersebut bertentangan dengan UU Narkotika, UU tentang Pengesahan Konvensi PBB tentang Narkotika dan PP No 28/2006 tentang Pengetatan Pemberian Remisi kepada narapidana korupsi, terorisme, narkoba dan kejahatan trans-nasional terorganisir.

Sehubungan dengan pelanggaran tersebut, Yusril selaku tim kuasa hukum Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) tengah merampungkan gugatan terhadap grasi Presiden SBY yang diberikan kepada Schapelle Leigh Corby – WNA Australia, dan Peter Achim Franz Grobmann – WNA Jerman.

“Pemberian remisi itu juga bertentangan dengan asas kehati-hatian, keterbukaan, profesionalitas dan akuntabilitas sebagai ciri-ciri dari asas-asas umum pemerintahan yang baik,” ujar Yusril dalam rilis persnya, Senin (4/6/2012) lalu, pasca pemberian Grasi kepada Schapelle Leigh Corby.

Yusril mensinyalir, Presiden SBY telah memberikan grasi kepada narapidana sindikat narkotika, tidak saja kepada Corby dan Grobmann, tetapi semuanya dilakukan diam-diam tanpa diketahui publik. “Tak banyak rakyat yang mengetahui bahwa Presiden SBY telah memberikan grasi kepada dua warga asing,” ujarnya.

Dengan keberadaan beberapa grasi yang diberikan ini, maka semua penjelasan Menkumham Amir Syamsuddin dan Wamenkumham Denny Indrayana mengenai pemberian grasi, khususnya terkait kepentingan hubungan dengan Australia, menurut Yusril, semuanya sia-sia.

Terhadap komentar Wamenkumham yang mengatakan siap menghadapi dirinya di pengadilan, Yusril hanya mengatakan, belum tentu Denny akan menjadi kuasa hukum Presiden di pengadilan. “Denny tidak punya pengalaman jadi pengacara. Bahkan terkesan dia tidak paham hukum acara PTUN,” ujar Yusril.

Yusril menerangkan bahwa keputusan Presiden SBY tentang grasi adalah keputusan pejabat tata usaha negara yang dapat dijadikan sebagai obyek sengketa di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Keppres tersebut memenuhi syarat untuk digugat karena sifatnya yang individual, kongkret, final dan membawa akibat hukum.

Keppres, menurutnya, bukanlah bentuk peraturan perundang-undangan yang berlaku umum. Keputusan tata usaha negara dapat dibatalkan oleh PTUN apabila bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik. ”Karena itu, bagi siapa saja yang merasa dirugikan dengan Keppres tersebut, mereka mempunyai kedudukan hukum untuk menggugat Presiden ke PTUN,” pungkas Yusril. [KbrNet/adl]

2 Tanggapan to “Tidak Kapok! SBY Beri Grasi Lagi kepada Napi Narkoba”

  1. Sang Kata said

    FAKTOR PENYEBAB NEGARA GAGAL

    Akar permasalah atau penyebab Indonesia masuk kategori negara gagal :

    (1) Kawanan parpolis dari berbagai paltform, kalah menang pemilu/pilpres, masuk koalisi atau oposisi, bertingkah laku seperti anak KURANG AKAL, menghalalkan segala cara, tindakan dan omongannya serba brutal.

    (2) Wakil rakyat dari semua fraksi, komisi bertingkah laku bak orang gila KEHILANGAN AKAL. Utamakan kesejahteraan diri, dahulukan kemakmuran keluarga, pentingkan kembali modal. Kinerja politisnya mirip tukang jagal.

    (3) Media massa dan geng jurnalis yang hidup dari bencana politik dengan dalih menaikkan peringkat, gelar acara dialog, diskusi dan debat, tanpa merasa malu bergaya mirip orang pikun TANPA AKAL, memainkan peran sebagai tukang jagal. Membentuk opinis sesuai selera, lebih kejam daripada fitnah.

    (4) Penyelenggara dan pelaku ekonomi, mampu pesan pasal sampai jual beli pasal, mereka KELEBIHAN AKAL, mereka selalu menang modal. Tak perlu jadi birokrat, jadi aparat keamanan, jadi hamba hukum.

    (5) Rakyat pemilih yang dibutuhkan suaranya saat coblosan dalam sehari, setelah itu, di sisa waktu dalam lima tahun disuruh berjuang sendiri, menjadi korban para pemain akal, minimal ketiban sial.

  2. Anonim said

    Semakin menegaskan dia sebagai Presiden yang berotak kebo

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: