KabarNet

Aktual Tajam

Pakar: Hisab Muhammadiyah Keliru

Posted by KabarNet pada 07/07/2012

…KEPUTUSAN HISAB MUHAMMADIYAH KELIRU DAN LEBIH MEMENTINGKAN BERBEDA DARIPADA UMAT BERSATU…

Awal Ramadhan 1433 Hijriyah tahun 2012 berpotensi terjadi perbedaan di antara ormas-ormas Islam, karena ada yang memang ingin berbeda, kata pakar astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Dr Thomas Djamaluddin.

“Pada saat magrib 19 Juli, hilal (bulan) sudah di atas ufuk namun ketinggian hilal kurang dari dua derajat. Kondisi ini membuka peluang terhadap perbedaan,” kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lapan itu di Jakarta, Jumat.

Di Indonesia pada saat maghrib 19 Juli bulan sudah di atas ufuk, karena itu sebagian muslim yang masih menggunakan kriteria wujudul hilal akan mulai bersahur malam itu dan berpuasa mulai 20 Juli 2012, ujarnya menunjuk Muhammadiyah.

Secara umum pada magrib 19 Juli tersebut, di Indonesia ketinggian hilal adalah kurang dari 2 derajat, sehingga kemungkinan terlihatnya hilal adalah mustahil. Dengan demikian, umat muslim yang mengamalkan hisab imkan rukyat atau yang menggunakan rukyat (mengamati bulan), akan memulai berpuasa pada 21 Juli 2012, katanya sambil menyebut di posisi ini adalah pemerintah, Nahdlatul Ulama dan berbagai ormas lainnya.

Ilmuwan yang juga anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama itu menyayangkan, Muhammadiyah terus membela kriteria Wujudul Hilal yang sudah usang, yang sebenarnya justru melemahkan sikap kritis internalnya akan bid’ah yang berdampak pada perbedaan penentuan Ramadhan.

“Bid’ah adalah praktek yang terkait dengan ibadah yang tidak ada dasar hukumnya. Banyak yang tidak sadar akan bid’ah wujudul hilal yang mengabaikan rukyat, kriteria ini tidak punya pijakan dalil yang mendukungnya. Dengan demikian wujudul hilal menjadi bid’ah yang nyata, yang biasanya ditolak oleh Muhammadiyah,” katanya.

Dikatakan Profesor itu, saat ini garis tanggal qamariyah dibuat berdasarkan kriteria yang ditetapkan dan mudah dibuat dengan menggunakan perangkat lunak astronomi yang kini sudah banyak tersedia, bahkan yang bisa diunduh secara gratis.

“Jadi hisab bukan lagi hal yang rumit, baik untuk menghitung masa lalu maupun masa yang akan datang. Jadi masalahnya adalah menafsirkan garis tanggal itu dan memilih kriteria yang kita gunakan. Karena itulah kriteria seharusnya ditentukan berdasarkan kesepakatan, karena tawaran kriteria astronomi juga beragam,” katanya.

Menurut dia keputusan hisab Muhammadiyah keliru dan lebih mementingkan hak untuk berbeda dan mengabaikan kewajiban umat untuk bersatu.

Sementara itu, awal Syawal 1433 H (Idul Fitri 2012) akan seragam yakni jatuh pada 19 Agustus 2012, karena pada saat maghrib 17 Agustus di seluruh wilayah Indonesia bulan masih di bawah ufuk atau belum wujud, ujarnya.

“Dengan rukyat pun tidak mungkin ada kesaksian hilal. Artinya, 18 Agustus merupakan hari terakhir Ramadhan. Sementara pada saat maghrib 18 Agustus, bulan sudah cukup tinggi untuk bisa dirukyat, jadi keduanya tak berbeda,” katanya. [ANT/BeritaSatu]

92 Tanggapan to “Pakar: Hisab Muhammadiyah Keliru”

  1. Wawan Angkasawan said

    Saya lebih setuju dengan rukyat, tetapi mengapa setiap negara harus harus rukyat sendiri-sendiri ini tidak ada dasar dalil dari nabi SAW. semestinya harus ada kesepakatan tempat untuk melihat hilal yaitu di pusat dunia yaitu Mekah karena Mekah tengah-tengah antara Barat dan Timur Jadi jika di Mekah sudah bisa melihat Hilal dengan teleskop maka di negara paling barat pasti ada bisa melihat hilal dengan mata telanjang(bukankah pada jaman nabi melihat hilal dengan mata telanjang?), dan di negara paling timur juga pasti sudah wujud hilal. Jadi semua pendapat bisa disatukan. terjadi beda pendapat karena umat islam ini tidak mau bersatu.

  2. M.Ilham said

    Berdasarkan pengalaman tahun lalu (2011), Muhammadiyah-lah yang benar. Mereka merayakan Idul Fitri pada hari yang sama dengan saudara-saudara muslim kita di Malaysia, Brunei, Singapura, dan negara ASEAN lainnya, dan juga Arab Saudi. Sementara kita atas dasar keputusan sidang itsbat Kementerian Agama justeru masih berpuasa di Hari Raya. Ini bukan saja bid’ah, tapi jelas-jalas perbuatan haram! Apa artinya bersatu jika bersatu dalam perbuatan haram? Apa artinya berjamaah jika berjamaah dalam korupsi? Tahun ini saya tidak akan mengikuti keputusan sidang itsbat lagi.

  3. Pengamat said

    Dari dulu Muhammadiyah soal penetapan puasa selalu ngaco dan arogan.. Merasa dirinya paling jago, padahal banyak kiyai2 yang jago hisab, tapi ngga takabur dan rendah diri, mereka tetap berpatokan rukyah sesuai anjuran Nabi SAW.. Umat Islam selalu berbeda puasa/ lebaran gara2 Muhammadiyah. Memalukan!!

  4. dodee said

    Saya ikut arab saudi saja…lepas sudah…

  5. Sudah saat-nya kita berpikir global dan mendunia…

    Di era sekarang, informasi sudah sedemikian canggih, hendaknya cara kita menentukan awal puasa, juga semakin baik dari sebelumnya…

    Tidaklah salah kita menggunakan hitungan astronomi, alat teropong bintang dan sebagainya. Selama tidak bertentangan dengan dalil-dalil Al Qur’an dan Al Hadits…

    Permasalahan Rukyat, ada baiknya kita mencontoh Rasulullah, yang tidak hanya berpatokan kepada satu negeri (madinah), tetapi juga mempertimbangkan hasil Rukyat dari tempat-tempat lainnya, sebagaimana Hadits beliau…

    … ‏ أنـَّـهـُـمْ شـَـكـّـوا فـِـي هـِـلال رَمـَـضـَـانَ مـَـرَّة فـَـأرَادُو أنْ لا يـَـقـُـومـُـوا و لا يـَـصـُـومـُـوا فـَـجـَـاءَ أعـْـرَابـِـيّ مـِـنْ الـْـحـَـرّةِ فـَـشـَـهـِـدَ أنـَّـهُ رَأى الـْـهـِـلالَ فـَـأتـِـيَ بـِـهِ النـَّـبـِـيَّ صـَـلـَّـى اللهُ عـَـلـَـيـْـهِ وَ سـَـلـَّـمَ فـَـقـَـالَ أتـَـشـْـهـَـدُ أنْ لا إلاهَ إلا اللهُ وَ أنـِّـي رَسـُـولُ اللهِ قـَـالَ نـَـعـَـمْ وَ شـَـهـِـدَ أنـَّـهُ رَأى الـْـهـِـلالَ فـَـأمـَـرَ بـِـلالا فـَـنـَـدَى فـِـي النـَّـاس أنْ يـَـقـُـومـُـوا وَ أنْ يـَّـصـُـومـُـوا . ( سنن أبي داؤود / ٨ / ١٤ : ١٩٩٤ ) “ … Suatu ketika orang-orang meragukan penampakan hilal Ramadhan sehingga tidak hendak salat tarawih atau puasa. Seorang Badui datang dari Al Harrah dan bersaksi bahwa dia melihat hilal. Dia diantarkan ke Rasulullah. Rasulullah bertanya, “Apakah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa saya utusan Allah?” Badui itu menjawab, “Ya.” Dia juga bersaksi bahwa dia melihat hilal. Rasulullah lalu menyuruh Bilal menyeru orang-orang salat tarawih dan puasa. ” (Sunan Ab i Daud/VIII/14: 1994)

    أغـْـمـِـيَ عـَـلـَـيـْـنـَـا هـِـلالُ شـَـوَّال فـَـأصـْـبـَـحـْـنـَـا صـِـيـَـامـًـا فـَـجـَـاءَ رَكـْـبٌ مـِـنْ آخـِـر النـَّـهـَـار فـَـشـَـهـِـدُوا عـِـنـْـدَ النـَّـبـِـيَّ صـَـلـَّـى اللهُ عـَـلـَـيـْـهِ وَ سـَـلـَّـمَ أنـَّـهـُـمْ رَأوْا الـْـهـِـلالَ بـِـالامـْـس فـَـأمـَـرَهـُـمْ رَسـُـولُ اللهِ صـَـلـَّـى اللهُ عـَـلـَـيـْـهِ وَ سـَـلـَّـمَ أنْ يـُـفـْـطـِـرُوا وَ أنْ يـَـخـْـرُجـُـوا إلـَـى عـِـيدِهـِـمْ مـِـنْ الـْـغـَـدِ . ( سنن إبن ماجه / ٨ / ٦ : ١٦٤٢ ) “ Hilal Syawal tertutup mendung maka kami berpuasa keesokan harinya. Besoknya menjelang sore, datang beberapa musafir. Mereka bersaksi di hadapan Rasulullah bahwa mereka melihat hilal kemarin sore. Maka Rasulullah memerintahkan segera berbuka dan melaksanakan salat id keesokan harinya. ” ( Sunan Ibnu Majah /VIII/6 : 1642 )

    Jika kita mempelajari, situasi astronomi pada petang hari Kamis, 19 Juli 2012. Untuk wilayah Amerika Selatan dan Polinesia bisa dengan mudah melihat bulan sabit. (Sumber : http://blog.al-habib.info/id/2012/07…madhan-1433-h/)

    Dengan demikian, apabila kita menggunakan kriteria untuk Rukyat secara Global,bisa diambil kesimpulan awal puasa (1 Ramadhan), jatuh pada hari Jum’at 20 Juli 2012…

    Bagaimana dengan di Indonesia ?

    Berdasarkan Perhitungan ahli Hisab, semua sepakat bahwa pada petang hari Kamis, 19 Juli 2012, posisi astronomis Indonesia, bulan sudah di atas ufuk, dengan demikian tidak-lah menyalahi, apabila awal puasa (1 Ramadhan) di Indonesia, jatuh pada hari Jum’at 20 Juli 2012…

    Terima Kasih

    Mengenai dalil Perhitungan Hisab, bisa baca2 di sini…

    Merintis Lebaran Internasional, dengan 2HA-RI (Hisab Hakiki – Rukyat Internasional)
    http://kanzunqalam.wordpress.com/2011/09/12/merintis-lebaran-internasional-dengan-2ha-ri-hisab-hakiki-rukyat-internasional/

  6. Sudah saat-nya kita berpikir global dan mendunia…

    Di era sekarang, informasi sudah sedemikian canggih, hendaknya cara kita menentukan awal puasa, juga semakin baik dari sebelumnya…

    Tidaklah salah kita menggunakan hitungan astronomi, alat teropong bintang dan sebagainya. Selama tidak bertentangan dengan dalil-dalil Al Qur’an dan Al Hadits…

    Permasalahan Rukyat, ada baiknya kita mencontoh Rasulullah, yang tidak hanya berpatokan kepada satu negeri (madinah), tetapi juga mempertimbangkan hasil Rukyat dari tempat-tempat lainnya, sebagaimana Hadits beliau…

    … ‏ أنـَّـهـُـمْ شـَـكـّـوا فـِـي هـِـلال رَمـَـضـَـانَ مـَـرَّة فـَـأرَادُو أنْ لا يـَـقـُـومـُـوا و لا يـَـصـُـومـُـوا فـَـجـَـاءَ أعـْـرَابـِـيّ مـِـنْ الـْـحـَـرّةِ فـَـشـَـهـِـدَ أنـَّـهُ رَأى الـْـهـِـلالَ فـَـأتـِـيَ بـِـهِ النـَّـبـِـيَّ صـَـلـَّـى اللهُ عـَـلـَـيـْـهِ وَ سـَـلـَّـمَ فـَـقـَـالَ أتـَـشـْـهـَـدُ أنْ لا إلاهَ إلا اللهُ وَ أنـِّـي رَسـُـولُ اللهِ قـَـالَ نـَـعـَـمْ وَ شـَـهـِـدَ أنـَّـهُ رَأى الـْـهـِـلالَ فـَـأمـَـرَ بـِـلالا فـَـنـَـدَى فـِـي النـَّـاس أنْ يـَـقـُـومـُـوا وَ أنْ يـَّـصـُـومـُـوا . ( سنن أبي داؤود / ٨ / ١٤ : ١٩٩٤ ) “ … Suatu ketika orang-orang meragukan penampakan hilal Ramadhan sehingga tidak hendak salat tarawih atau puasa. Seorang Badui datang dari Al Harrah dan bersaksi bahwa dia melihat hilal. Dia diantarkan ke Rasulullah. Rasulullah bertanya, “Apakah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa saya utusan Allah?” Badui itu menjawab, “Ya.” Dia juga bersaksi bahwa dia melihat hilal. Rasulullah lalu menyuruh Bilal menyeru orang-orang salat tarawih dan puasa. ” (Sunan Ab i Daud/VIII/14: 1994)

    أغـْـمـِـيَ عـَـلـَـيـْـنـَـا هـِـلالُ شـَـوَّال فـَـأصـْـبـَـحـْـنـَـا صـِـيـَـامـًـا فـَـجـَـاءَ رَكـْـبٌ مـِـنْ آخـِـر النـَّـهـَـار فـَـشـَـهـِـدُوا عـِـنـْـدَ النـَّـبـِـيَّ صـَـلـَّـى اللهُ عـَـلـَـيـْـهِ وَ سـَـلـَّـمَ أنـَّـهـُـمْ رَأوْا الـْـهـِـلالَ بـِـالامـْـس فـَـأمـَـرَهـُـمْ رَسـُـولُ اللهِ صـَـلـَّـى اللهُ عـَـلـَـيـْـهِ وَ سـَـلـَّـمَ أنْ يـُـفـْـطـِـرُوا وَ أنْ يـَـخـْـرُجـُـوا إلـَـى عـِـيدِهـِـمْ مـِـنْ الـْـغـَـدِ . ( سنن إبن ماجه / ٨ / ٦ : ١٦٤٢ ) “ Hilal Syawal tertutup mendung maka kami berpuasa keesokan harinya. Besoknya menjelang sore, datang beberapa musafir. Mereka bersaksi di hadapan Rasulullah bahwa mereka melihat hilal kemarin sore. Maka Rasulullah memerintahkan segera berbuka dan melaksanakan salat id keesokan harinya. ” ( Sunan Ibnu Majah /VIII/6 : 1642 )

    Jika kita mempelajari, situasi astronomi pada petang hari Kamis, 19 Juli 2012. Untuk wilayah Amerika Selatan dan Polinesia bisa dengan mudah melihat bulan sabit. (Sumber : http://blog.al-habib.info/id/2012/07/peta-terlihatnya-bulan-sabit-untuk-ramadhan-1433-h/)

    Dengan demikian, apabila kita menggunakan kriteria untuk Rukyat secara Global,bisa diambil kesimpulan awal puasa (1 Ramadhan), jatuh pada hari Jum’at 20 Juli 2012…

    Bagaimana dengan di Indonesia ?

    Berdasarkan Perhitungan ahli Hisab, semua sepakat bahwa pada petang hari Kamis, 19 Juli 2012, posisi astronomis Indonesia, bulan sudah di atas ufuk, dengan demikian tidak-lah menyalahi, apabila awal puasa (1 Ramadhan) di Indonesia, jatuh pada hari Jum’at 20 Juli 2012…

    Terima Kasih

    Mengenai dalil Perhitungan Hisab, bisa baca2 di sini…

    Merintis Lebaran Internasional, dengan 2HA-RI (Hisab Hakiki – Rukyat Internasional)
    http://kanzunqalam.wordpress.com/2011/09/12/merintis-lebaran-internasional-dengan-2ha-ri-hisab-hakiki-rukyat-internasional/

  7. Peta Rukyat Global, untuk Ramadhan 1433 H, bisa dilihat disini…

    http://blog.al-habib.info/id/2012/07/peta-terlihatnya-bulan-sabit-untuk-ramadhan-1433-h/

    Posisi astronomis Indonesia, untuk Ramadhan 1433 H, bisa di lihat disini…

    Keterangan :
    Gambar di atas adalah garis tanggal pada saat maghrib 19 Juli 2012. Garis antara arsir merah dan putih adalah garis wujudul hilal (WH) dan ijtimak qabla ghurub (ijtimak sebelum maghrib). Artinya, di Indonesia pada saat maghrib 19 Juli bulan di atas ufuk

  8. sidang isbath yang dilakukan pemerintah seperti ada nuansa pemaksaan dan pemihakan kelompok tertentu, tahun kemarin ada org yang ditugasi merukyah dan melihatmya dan siap disumpah (apaan tuh namanya) klu nggak kepengen bener sendiri, klu memang spt itu nggak usah sidang2an lah habis2in duit ajha kan pemerintah sdh menentukan juga cuma nggak mau ngomong terus terang ajha. malu keduluan muhammadiyah, Diatas secara tdk langsung pakarnya sdh ngomong awal puasa tgl 21, ya sdh diumumin ajha, toh nanti pada tgl 19 klu ada yg bersaksi telah melihat hilal akan ditolak (katanya mustahil)… jangan sampai dijadikan proyeklah kasihan masyarakat kalau hasilnya sdh jelas

  9. Anonim said

    Jiwa persatuan umat islam di indonesia memang menyedihkan, antar sesama aja sudah tidak ada kekompakan mangkanya mudah di adu domba karena sudah tidak sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.

  10. Sang Kata said

    Bayangkan, kalau oknum Ketum PP Muhammadiyah, DS, jadi presiden RI. Apapun bisa terjadi di Indonesia.

    Bayangkan, kalau oknum Ketum PP Muhammadiyah, DS, jadi presiden RI. Apapun bisa terjadi di Indonesia.

    Bayangkan, kalau oknum Ketum PP Muhammadiyah, DS, jadi presiden RI. Apapun bisa terjadi di Indonesia.

    Bayangkan, kalau oknum Ketum PP Muhammadiyah, DS, jadi presiden RI. Apapun bisa terjadi di Indonesia.

    Bayangkan, kalau oknum Ketum PP Muhammadiyah, DS, jadi presiden RI. Apapun bisa terjadi di Indonesia.

    Bayangkan, kalau oknum Ketum PP Muhammadiyah, DS, jadi presiden RI. Apapun bisa terjadi di Indonesia.

  11. Mari kita saling memberikan masukan yang benar untuk kepentingan ummat secara keseluruhan agar menjadi bahan rujukan buat yang lain,jangan kita saling menyerang ataupun mencaci satu sama lain.Marilah kita jadikan tempat ini sebagai media diskusi untuk mencari kebenaran dan kebaikan

  12. Yani said

    Dengan memakai judul “Pakar: Hisab Muhammadiyah Keliru”, KabarNet telah bersikap tendensius dan provokatif.
    Pertama, seolah-olah semua pakar astronomi bilang Muhammadiyah keliru, padahal yang ngomong cuma Thomas Djamaludin doang. Indonesia punya banyak sekali pakar astronomi yang tidak semuanya mengamini pendapat Thomas.
    Kedua, bagaimana bisa mengatakan keliru jika Muhammadiyah belum dimintai klarifikasi dan perhitungannya belum diuji?

    Untuk KabarNet, boleh saja Anda mendukung pendapat Pemerintah, tapi jangan mendiskreditkan saudara sesama muslim dan mengadu domba.

  13. qbenk said

    pada dasarnya para ulama salaf sudah sepakat bahwa ruyah/hilal dalam penetapan awal ramdhan / syawal adalah yang benar menurut nabi

    Apakah boleh bagi seorang muslim untuk mendasarkan penentuan awal dan akhir puasa pada hisab ilmu falak, ataukah harus dengan ru`yah (melihat) hilal?

    Jawab: …Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani kita dalam menentukan awal bulan Qomariyah dengan sesuatu yang hanya diketahui segelintir orang, yaitu ilmu perbintangan atau hisab falak. Padahal nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah yang ada telah menjelaskan, yaitu menjadikan ru`yah hilal dan menyaksikannya sebagai tanda awal puasa kaum muslimin di bulan Ramadhan dan berbuka dengan melihat hilal Syawwal. Demikian juga dalam menetapkan Iedul Adha dan hari Arafah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ

    “…Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan hendaknya berpuasa.” (Al-Baqarah: 185)

    يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

    “Mereka bertanya tentang hilal-hilal. Katakanlah, itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan untuk haji.” (Al-Baqarah: 189)
    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Jika kalian melihatnya, maka puasalah kalian. Jika kalian melihatnya maka berbukalah kalian. Namun jika kalian terhalangi awan, sempurnakanlah menjadi 30.”

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tetapnya (awal) puasa dengan melihat hilal bulan Ramadhan dan berbuka (mengakihiri Ramadhan) dengan melihat hilal Syawwal. Sama sekali Nabi tidak mengaitkannya dengan hisab bintang-bintang dan orbitnya (termasuk rembulan, -pent.). Yang demikian ini diamalkan sejak zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Khulafa` Ar-Rasyidin, empat imam, dan tiga kurun yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam persaksikan keutamaan dan kebaikannya.

    Oleh karena itu, menetapkan bulan-bulan Qomariyyah dengan merujuk ilmu bintang dalam memulai awal dan akhir ibadah tanpa ru`yah adalah bid’ah, yang tidak mengandung kebaikan serta tidak ada landasannya dalam syariat….” (Fatwa ini ditandatangani oleh Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan. Lihat Fatawa Ramadhan, 1/61)
    Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Tentang hisab, tidak boleh beramal dengannya dan bersandar padanya.” (Fatawa Ramadhan, 1/62)

    namun untuk masalah perbedaan antara muhammadiyah dan lainnya aku rasa mesti dihormati saja tidak perlu dipertajam karena masing2 pihak punya alasan sendiri

  14. Yono said

    12. Yani berkata
    08/07/2012 pada 07:36 e

    Dengan memakai judul “Pakar: Hisab Muhammadiyah Keliru”, KabarNet telah bersikap tendensius dan provokatif.

    666 666 666 666 666 666 666 666 666

    @Yani
    Anda yg kurang teliti krn tdk membaca sumber berita tsb (padahal sdh ditulis di bag. bawah artikel). Lebih tepat kalo protes Anda ditujukan ke Kantor Berita Nasional ANTARA. Krn Kabarnet ‘HANYA MENGUTIP’ berita diatas yg dirilis olh KBN ANTARA dan dikutip olh banyak media, salah satunya oleh beritasatu.com sbb:

    http://www.beritasatu.com/hukum/58437-pakar-hisab-muhammadiyah-keliru-awal-ramadhan-berbeda.html

  15. Yani said

    @Yono:
    Mengutip serta menyebarluaskan berita tendensius dan provokatif itu halal ya?

  16. ichs said

    ya antum giliran furuiyyah ribut saling caci maki, giliran yang merusak aqidah pada ngajaredok wae……..

  17. A.W. said

    =======================
    Yani berkata
    09/07/2012 pada 10:47 e

    @Yono:
    Mengutip serta menyebarluaskan berita tendensius dan provokatif itu halal ya?
    =======================

    menentukan awal puasa dan hari raya dg cara hisab adalah ‘ijtihad’ pribadi orang2 muhammadiyah, tak pernah diajarkan oleh rasululah saw. – tdk juga penah dicontohkan oleh para sahabat, tabiin, tabiut tabiin. – ke empat imam madzhab pun tdk mengajarkan hal itu. – bahkan saat ini muhammadiyah adalah ‘satu2nya didunia’ (diulang lagi: ‘satu2nya didunia’) yg melakukan cara tsb.

    sikap tidak mengikuti sunnah rasul kemudian mengumumkan awal puasa dan hariraya sendiri dan tak mau duduk bersama pemerintah dan umat islam dlm sidang isbat, kemudian mengumumkan arogansi dan keeksklusifannya secara tendensius dan provokatif itu halal ya?

  18. (copas)
    Mengutip serta menyebarluaskan berita tendensius dan provokatif itu halal ya?
    (copas)

    —>>> Kantor Berita Nasional Antara tuh BUMN yg didirikan pemerintah dr duit rakyat. Kalo berita sumbernye dr Antara masih dianggap tendensius ‘n provokativ, trus omongan siape yg dianggap ga tendensius ‘n ga provokativ??? omongan dien syamsuddin??
    please donk ah.

  19. alfafa said

    he..he..he lucu juga kalian ini.hanya soal kapan mulai berpuasa saja harus saling HUJAT…lakukan saja sesuai keyakinan anda…jangan lihat NU atau Muhammadiyahnya tapi pelajari alasan mereka membuat penetapan itu. jika menurut anda bisa di terima…IKUTI pun sebaliknya jika tak bisa anda terima JANGAN DI IKUTI……mudahkan ????

  20. farhan said

    Setuju pendapat Alfafa, kenapa kalian ribut……., semetara masyarakat Indonesia kebanyakan tidak mengindahkan hasil rukyat maupun hisab, terbukti masih banyak warung2 buka disiang bolong saat bulan puasa…, dan masih banyak masih banyak masyarakat muslim yg tidak puasa saat bulan puasa…. marilah jadi pribadi muslim yg baik dan ikut menganjurkan mereka yg tidak puasa untuk berpuasa saat bulan romadhon, saya kira itu lebih baik dari pada mengikuti provokator yg belum tentu juga puasa pada saat bulan ramadhan.

  21. kalau alasannya hilal sudah terlihat di negara lain, sekalian aja waktu sholat dll nya ikut ke negara lain tsb…bukannya tiap negara punya posisi terbitnya hilal yang berbeda-beda sebagaimana waktu sholat setiap negara juga berbeda-beda? ada baiknya ikut pemerintah…kan muhammadiyah jg ormas, jika ormas lain ikut pemerintah, mengapa ente tidak wahai muhammadiyah?! mau beda mulu…!!!

  22. yang puasanya ikut arab saudi, silahkan untuk makan sahur juga ikut jam saudi dan begitu juga buka puasanya…jam sholat juga sekalian,,,jangan setengah-setengah tahu?! puasa ikut saudi, tapi sholat ikut waktu indonesia…ngaco tidak? posisi geografis juga sudah berbeda atuh mang dodol…!?

  23. Wawan Angkasawan said

    berbeda awal hilal dan waktu sholat, waktu sholat jelas didasarkan pada gejala penampakan matahari (rotasi bumi) jadi jelas tiap daerah pasti berbeda. Sedangkan hilal di dasarkan pada revolusi bulan, nah awal terlihatnya hilal inilah terjadi didaerah tertentu. sebagai contoh misalnya awal terlihat hilal di negara India, maka di sebelah timur India belum terlihat hilal ketika magrib, sedangkan di negara sebelah barat india hilal terlihat terus membesar. Negara di sebelah timur India bisa melihat hilalr hari esoknya dan hilal sudah sangat besar berarti umur bulan sudah lama. Tapi kalau waktu sholat keadaan terbit fajar di Indonesia akan sama dengan di negara-negara lain. Jadi seharusnya ada kesepakatan batas suatu tempat di dunia ini untuk melihat hilal. seperti adanya batas garis penanggalan pada kalender Masehi. Jadi jangan sama awal waktu sholat dan awal penanggalan komariyah jels berbeda acuan.

  24. Wawan Angkasawan said

    Jika tiap tempat harus merukyat hilal dimungkin suatu saat di Indonesai di jawa barat hilal sudah terlihat sementara di kalimantan (indonesai bagian tengah dan timur tidak terlihat) berarti harus beda puasa juga dong. nyatanya pemerintah pasti menyamakan hari puasa untuk seluruh Indonesai, beda dengan waktu sholat semua daerah di Indonesia berbeda. Kenapa harus ada kesepakatan tempat melihat hilal baca di http://blogangkasawan.blogspot.com/2012/07/menyamakan-kalender-hijriyah.html

  25. Dewi said

    Edan… Buat orang yg mengatakan Puasa dan lebaran Ikut Saudi… Wah… Wah… Kacau ini… Lagi2 Hisab yg tdk ada juntrungannya… Lagi2 si dia jadi Provokator…. Perbedaan Wajar dan bisa diterima tapi kalau memaksakan diri jadi berbeda dan diumumkan ke Publik itu namanya pembodohan Rakyat…

  26. Gus Wi said

    http://news.detik.com/read/2012/07/14/071232/1965232/10/prof-sofjan-tradisi-perbedaan-awal-puasa-itu-laknat-bukan-rahmat?991101mainnews

    Sabtu, 14/07/2012 07:12 WIB
    Laporan dari Den Haag
    Prof. Sofjan: Tradisi Perbedaan Awal Puasa Itu Laknat, Bukan Rahmat

    Perbedaan awal puasa antar negara adalah hal yang bisa difahami, walau pun tidak mesti terjadi pada masa sekarang yang serba canggih bahwa setelah konjungsi hilal sudah muncul di atas horizon setelah terbenam matahari.

    Hal itu disampaikan staf pengajar pada Islamic University of Europa, Prof. Dr. Sofjan Siregar, MA kepada detikcom, Sabtu (14/7/2012).

    “Namun jika perbedaan awal Ramadan di satu negara apalagi di kota yang sama seperti Jakarta bahkan di satu gang yang sama, maka itu bukan lagi rahmat, namun laknat bagi umat Islam di tanah air,” ujar Sofjan.

    Menurut Sofjan, perbedaan penetapan awal Ramadan sejak dulu bukan karena beda methode antara rukyah dan hisab, namun karena gengsi antara Muhammadiyah yang menerapkan methode horizon bebas dan Kemenag yang didominasi pemikiran horizon lokal.

    “Karena methode apa pun yang dipakai jika masing-masing pihak memahami bahwa tujuan dari rukyah dan hisab adalah sama yaitu hilal, pasti bisa ketemu dan puasa bersama,” tandas Sofjan.

    Lanjut Sofjan, hakekat dan esensi perintah merukyah bukan ibadah dan tidak boleh disakralkan, tapi justru adalah untuk mengetahui apakah hilal sudah muncul atau belum. Jika kita sudah tahu hilal jauh sebelumnya, mengapa lajnatul isbath Kemenag dan ormas islam lainnya harus menunggu 29 Syaban setiap tahun untuk observasi hilal?

    Jika hilal sudah diyakini pasti muncul, mungkin dilihat di tempat lain, namun tidak mungkin dilihat di Indonesia, mengapa Kemenag harus mengerahkan massa memantau hilal di beberapa titik di tanah air pada 29 Syaban?

    “Artinya kenapa anggaran observasi dialokasikan dan dicairkan padahal sudah tahu haqqulyakin bahwa hilal untuk tahun ini pada tanggal tersebut tidak bisa dirukyah?Bukankah ini suatu pembodohan umat?,” gugat Sofjan.

    Dijelaskan, untuk tahun ini konjungsi matahari dan bulan terjadi pada Kamis 19 Juli 2012 pukul 04.24 UT, 07.24 waktu Mekkah. Kondisi hilal di Indonesia sulit dirukyah karena ketinggian hilal kurang dari 2 derajat, walau pun sebenarnya ketinggian hilal 1 derajat pun pernah bisa dirukyah pada 1971 di Indonesia.

    Yang jelas, lanjut Sofjan, hilal sudah ada setelah matahari terbenam dan berumur lebih dari 8 jam setelah konjungsi. Kemungkinan dilihat di Mekkah ada selama sekitar 6 menit setelah matahari terbenam pada pukul 19.05 waktu setempat, lalu hilal tenggelam pada pukul 19.11.

    Dalam pandangan Sofjan, hanya ada satu solusi yaitu bubarkan lajnatul isbat dan ganti dengan lajnatul falak. Artinya, tidak mesti kumpul dan kongko-kongko lagi di Kemenag pada setiap tanggal 29 Syaban, tapi tentukan jauh sebelumnya bahwa puasa jatuh pada hari sekian dan tanggal sekian.

    Kemenag tahun ini harus berani menggunakan otoritasnya untuk mengumumkan awal puasa beberapa hari sebelum akhir Syaban dan menyiarkan puasa serentak pada 20 Juli 2012. Kemenag harus membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lilalamin bukan laknatan lilalamin.

    “Adalah suatu kesalahan besar jika beberapa ormas Islam dan lajnatul isbath Kemenag masih bersikeras mempertahankan tradisi dan adat yang tidak ada kaitannya dengan ibadat. Merukyah sendiri, dengan melakukan methode horizon lokal, berarti mempersempit rahmat dan menyebar laknat terhadap umat Islam di tanah air,” demikian Sofjan.
    (es/es)

  27. mhd muslim hsb said

    hanya orang yang berpaham jahiliyah lah yg suka saling menghujat.

  28. suendah said

    Muhammadiyah benar ! Pemerintah Salah !
    Sidang Isbat hanya buang – buang duit menghabiskan anggaran negara !
    Merugikan uang negara bukan hanya korupsi tetapi penggunaan yang mubazir seperti sidang isbat oleh pemerintah. Patut dicurigai penyimpangan penggunaan anggaran

  29. Emka Urang Ciamis said

    aya naon.. aya naon.. asa rariweuh..???
    tewak.. tewak.. karungan.. heuheu..

    raribut bae marebutkeun tangal 1 sakali-kali mah marebutkeun tangal 4 atuh.. heuheu .. geuleuh tuda..

    sok we.. anu yakin juma’ah kari juma’ah, anu yakin saptu kari saptu.. Ambeh teu parasea.. meni lieur kana sirah ngadengekeuna dekah… heuheu..

  30. abdul said

    hisab sangat bagus, merukyat sangat afdol. dua2nya perlu (*harus*) dilakukan. mungkin yang perlu di ‘sepakati’ atau dikaji adalah tinggi posisi bulan pada saat hilal terlihat. ada beberapa pendapat yang mengatakan 2 derajat terlalu kecil untuk hilal bisa terlihat. jika misalnya wujudul hilal didefinisikan sebagai tinggi bulan diatas 7 derajat atau lebih (besaran ini mohon dikaji lagi baik secara science maupun fiqh), maka perbedaan hasil penetapan bulan baru berdasarkan hisab dan rukyat dapat diminimalisir.

    apapun itu, kembali kepada masing-masing individu untuk meyakini metoda mana yang dapat dipercayai (dengan mempelajarinya atau yakin kepada yang menyampaikannya). Dan yang paling penting adalah LILAHITA’ALA melaksanakan ibadah. Insya Allah dengan Lillahita’ala, mengembalikan segala urusan kepada Allah maka kita mendapat ampunan dan rahmat-Nya, amin.

  31. Nur atika fitria said

    Saya percaya Muhammadiyah karena selalu tepat dengan hari raya Arab saudi, rentang waktu antara Indonesia dengan Arab hanya 4 jam, tapi kenapa ketika arab sudah hari raya, kita baru besoknya. Tidak masuk akal. Kebenaran itu tidak bisa dikompromikan. Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.

  32. Nur atika fitria said

    Bukannya meniru arab saudi, tapi jadi patokan. Posisi kita hanya berbeda 4 jam lalu kenapa ketika arab sudah lebaran kita baru besoknya. kan. Tidak masuk akal, rentang waktu kita tidak sampai satu hari kan?
    Ketika saudara-saudara kita di negara lain sudah merayakan hari raya, kenapa tahun kemarin Indonesia sendiri yang berbeda, yang tidak menjaga persatuan siapa? yang ingin berbeda siapa?
    Bumi mengitari matahari dengan garis edar waktu tertentu, sehingga bisa ditentukan dengan hisab, dan itu juga merupakan salah satu ilmu yang mampu dikuasai manusia atas izin Allah, lalu kenapa kita tidak patut menggunakannya. Asal tahu saja ilmu adalah kata kedua yang paling banyak disebut dalam al-Qur’an setelah kata Allah itu sendiri. Lalu apa salah jika Muhammadiyah menggunakan ilmu untuk kasus ini. Umat Islam tidak boleh menutup mata terhadap berbagai hal baru bermanfaat agar tidak ketinggalan zaman. Karena ilmu pengetahuan juga yang mampu menaikkan derajat manusia. Kebenaran itu tidak bisa dikompromikan.

  33. Anonim said

    Sadarlah ikhwan diantara tetangga kita sedang ada yang nonton dan bersorak.Memang bijaknya pemerintah mau mendengarkan semua elemen. banyak biaya mubadzir hanya untuk melihat di pantai, pucuk bukit, menara yang tidak pernah satu kalipun dari 7 kali yang saya ikuti.Ada dari Kemenag, PA, PT Agama islam dri KUA Kesra (Pemda) sesuai daerah yang ditunjuk. Tidak elok ngotot2n antara pemerintah dan 2 ormas Islam besar di Republik ini. Kami tidak tahu berapa titik untuk melihat hilal di seluruh Indonesia. Silakan Menteri agama dari non dua ormas tersebut insyaalah lebih menentramkan dan kondusif.

  34. Judulnya seru. Seorang pakar mengatakan Muhammadiyah Keliru. ya wajar lah wong Profesor tersebut dapat honor dari tim hisab rukyat. Tujuh kali kami ikut tujuh kali belum pernah melihat hilal. Sadarlah ikhwan jangan saling mengedepankan ego. walau profesorpun dia juga manusia, bisa salah juga bisa betul. Tapi jangan bicara ngawur menvonis itu salahalias keliru dan ini yang benar. kebenaran hanya milik Alloh.

  35. kaelani said

    gw pusinngg, ada kementrian agama kenapa tidak di ikuti? lo pade tinggal di indonesia apa di arab ????gitu aj ko repot.,,,,,, kalo

  36. hadi said

    Buat Mas Haidar, tolong jangan menyombongkan diri anda dibanding Professor dengan mengatakan Prof bisa salah dan mengasumsikan kemungkinan besar salah dengan berprasangka. Tolong jelaskan kapasitas anda di bidang astronomi, bandingkan dengan kapasitas Prof. Jamaludin di bidang astronomi? Hargai ilmunya Prof Jamaludin. dan jangan menyebar prasangka bahwa Prof Jamaludin menulis karena uang. Jauhilah prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Apakah anda mau memakan bangkai saudaranya sendiri?

  37. Anonim said

    ada “tata krama” terhadap Rasul, bahwa Rasul adalah pembawa kebenaran dari Allah (ma’shum), sehingga dilarang meninggikan suara di atas Rasulullah dan diperintahkan merendahkan suara. tata krama juga menjadi tradisi kita bangsa Indonesia terhadap orang yang lebih tua, orang yang lebih berpengalaman, orang yang lebih berilmu dalam bidang tertentu. Alangkah indahnya jika kita gunakan tata krama dalam setiap tindakan kita.

  38. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/09/07/lr53ei-astronom-tuding-saudi-salah-tetapkan-idul-fitri-itu-bukan-hilal-tapi-saturnus

    kata kiyaiku, lebaran tahun 2011 kemarin, Saudi memang salah dalam menentukan tanggal. Tiap tahun kiyaiku selalu umrah, dan pulang habis lebaran

  39. http://www.facebook.com/notes/majelis-ulama-indonesia-mui/kerajaan-arab-saudi-meralat-1-syawal-bukanlah-selasa-30-agustus-tetapi-rabu-31-a/203133636417036

  40. indonesia beda 4 jam dengan arab itu untuk waktu perputaran matahari, kalau ngitungnya ke bulan, maka bedanya satu hari coy….kalau puasa mau sama dengan saudi, sekalian aja ente solat ikut waktu saudi juga…isya jam 12 malam waktu indonesia dan subuh jam 8 waktu indonesia, karena jam 8 di indonesia itu, di arab masih gelap alias subuh..betul gak? he..he..

  41. Bonek said

    @ Nur Atika Fitria berkata

    18/07/2012 pada 09:00
    Saya percaya Muhammadiyah karena selalu tepat dengan hari raya Arab saudi, rentang waktu antara Indonesia dengan Arab hanya 4 jam, tapi kenapa ketika arab sudah hari raya, kita baru besoknya.

    Anda harus belajar ilmu astronomi dulu sebelum komen seperti ini,,
    Jalur Orbit Bulan tidak lurus-lurus saja,,tapi ada rutenya..
    Itulah terkadang hilal terlihat di Timur Tengah, tapi tidak di Asia Tenggara..
    Wallahu ahlam Bisshowab..
    ..

  42. kang_sidi said

    assalamuaaikum …
    Penentuan romadlan itu berdasar hitungan atau penglihatan. Ironinya setelah ada yang melihat eh…ditanya kapasitasnya…uh keterlaluan ga tau etika katanya kiai pengurus besar juga. Maaf ya ! Tolong hargai usaha orang lain donk jangan gitu Penentuan romadlan itu berdasar hitungan atau penglihatan. Ironinya setelah ada yang melihat eh…ditanya kapasitasnya…uh keterlaluan ga tau etika katanya kiai pengurus besar juga. Maaf ya ! Tolong hargai usaha orang lain donk jangan gitu Penentuan romadlan itu berdasar hitungan atau penglihatan. Ironinya setelah ada yang melihat eh…ditanya kapasitasnya…uh keterlaluan ga tau etika katanya kiai pengurus besar juga. Maaf ya ! Tolong hargai usaha orang lain donk jangan gitu Penentuan romadlan itu berdasar hitungan atau penglihatan. Ironinya setelah ada yang melihat eh…ditanya kapasitasnya…uh keterlaluan ga tau etika katanya kiai pengurus besar juga. Maaf ya ! Tolong hargai usaha orang lain donk jangan gitu ah…

  43. 1. Rukyat global (HTI)
    2. Rukyat lokal (Tim falakiyah di Cakung, jakarta)
    3. Rukyat berdasar voting! (maaf yg ini ndak usah disebutkan ya)

  44. Tahukah kamu… klo di indonesia berlaku 3 macam rukyat
    1. Rukyat global (HTI)
    2. Rukyat lokal (Tim falakiyah di Cakung, jakarta)
    3. Rukyat berdasar voting! (maaf yg ini ndak usah disebutkan ya)

  45. buya said

    kalau puasa sebelum ramadhan itu tdk dosa, tapi kalau puasa pada 1 syawal itu dosa!!!. contoh thn 2011 masya Allah. kalau menurut saya sih penetuan awalan ramadhan ngak masalah la yg gawat penentuan akhir ramadhan. kami minta pada pemerintah ada kordinasi ke arab soal penentuan akhir ramadhan soalnya takut dosa men,,,,

  46. maulana ihsan said

    islam itu rahmatan lil ‘alamin,bukan rahmatan lil indonesia saja,begitupun ketika menentukan tanggal qomariyah yang dalam hal ini penentuan tanggal 1 ramadan dan 1 syawal,,ketika di indonesia tidak terlihat hilal maka kita wajib menunggu hasil dari saudara kita di belahan dunia lainnya karena perbedaan nya tidak sampai 1 – 2 hari tapi hanya berbeda dalam hitungan jam,,,contohnya saudi arabia dengan indonesia hanya berbeda 4 jam….bulan hanya satu,,matahari hanya satu begitupun bumi hanya satu…lantas bagaimana bisa kita berbeda – beda dalam menentukan 1 ramadan?????

    kalau ada sebagian umat yang melaksanakan lebih awal dari indonesia karena ikut hasil rukyat saudi,,bukan lantas kita berbicara ” kalo gitu sekalian ja shalatnya ikut jam saudi”. itu sungguh perkataan yang sangat tidak bijak dan terkesan tidak berpendidikan (asbun).

    lebih parah lagi ada tokoh yang berbicara dalam sidang isbat yang disaksikan seluruh rakyat indonesia ato bahkan sedunia yang seakan mendiskreditkan suatu golongan ataupun personal dengan kata2 ” cakung itu tidak layak di jadikan tempat rukyat “,,dan orang yang sudah jelas2 muslim dan bisa dipertanggung jawabkan tingkat kewarasannya terlebih lagi sudah di sumpah atas nama Alloh masih di bilang ” orang itu mesti dipertanyakan lagi dan tempat rukyat nya harus di tinjau ulang kelayakannya serta yang nyumpah pun harus dipertanyakan kembali”…..astaghfirullohal ‘adzim,,,,,,,,,sungguh tidak melihat sejarah tokoh itu.

    ketika kita berbicara ISLAM maka kita wajib menanggalkan semua atribut demokrasi dan segala kepentingan politik dari tiap individu dan golongan karena ini menyangkut dengan syari’at bukan tentang persatuan dan kesatuan rakyat…

    semoga Alloh mengampunikita semua,,,Amiin…………………….

  47. Mr_Holo11 said

    @M Ilham, coba liat lebaran thn lalu di http://www.moonsighting.com/1432rmd.html kebanyakan semua ikut Mekkah, seharusnya di Indonesia ini ikut Pemerintah, bkn organisasi, apalagi Muhammadiyah melakukan BID’ah, 4. Alasan tidak ikut Muhammadiyah dalam hal mengawali puasa dan hari raya:

    1. DALILnya disuruh merukyat, bukan menghisab : Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Apabila terhalang penglihatanmu oleh awan, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban 30 hari.”

    Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW menyebut-nyebut bulan Ramadhan lalu bersabda, “Janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hilal (1 Ramadhan) dan janganlah kamu berbuka (berlebaran) sehingga kamu melihat hilal (1 Syawal). Dan jika penglihatanmu tertutup oleh awan, maka kira-kirakanlah bulan itu.”

    2.Dalam Ilmu Matematika dikenal Teori Kesalahan, seperti juga dalam hitungan menghisab, karena ada nilai teroritis yg dianggap benar atau mendekati benar, sehingga mengandung kesalahan, untuk memperkecil kesalahan maka harus diobservasi langsung (merukyat), Jadi hasil Hisab tidak selalu benar?

    3.iku ulil amri/pemimpin sesuai dg alquran يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisaa’: 59)
    *(Dikutip dari Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    الصوم يوم تصومون، و الفطر يوم تفطرون، و الأضحى يوم تضحون

    “Shaum (puasa) ialah hari ketika kalian berpuasa bersama, juga di hari ketika kalian berhari raya bersama. Dan (Idul) Adlha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan kurban) ialah pada hari kamu menyembelih hewan bersama.”

    [Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi (No. 693), Abu Dawud (No. 2324), Ibnu Majah (No. 1660), Ad-Daruquthni (2/163-164) dan Baihaqy (4/252) dengan beberapa jalan dari Abi Hurarirah. Dan lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah (224), Shahih Al-Jami (3869)]

    4. Tidak sependapat dg ijtihad melihat=menghisab, krn 3 hal tersebut diatas

    wallahu a’lam

  48. Anonim said

    http://www.muslimdaily.net/berita/lokal/peruyat-di-cakung-klaim-berhasil-melihat-hilal.html

  49. Anonim said

    Wallahu a’lam bishowab, hanya Allah yang tahu mana yang benar, kita sebagai manusia hanya berikhtiar. kita tidak perlu saling menyalahkan. mari kita laksanakan sesuai yang kita yakini. jangan energi kita dihabiskan untuk berdebat masalah ini. mari kita laksanakan ibadah puasa ramadhan 1433 H dengan optimal untuk meraih Lailatul Qadar dan Taqwa. Aamiin…

  50. auazanan said

    Ikut Pemerintah Dalam Penentuan Masuk dan Keluarnya Ramadhan

    Oleh: Ustadz Abu Abdillah Ahmad Zain, Lc

    بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

    Saya melihat Pemerintah Indonesia adalah pemerintah yang dipimpin oleh seorang muslim, yaitu bapak SBY beserta jajarannya, semoga Allah Ta’ala selalu membenarkan langkah-langkah beliau dalam mengurus Negara ini.

    Saya melihat kementrian Agama Republik Indonesia sudah sesuai sunnah dalam menentukan masuknya bulan Ramadhan, yaitu dengan ru’yah hilal.

    Saya juga telah membaca hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
    « الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ ». رواه الترمذى

    “Puasa itu pada hari kalian semua berpuasa, berbuka pada hari kalian semua berpuasa dan dan hari ‘iedul Adhha ketika kalian semua berkurban”. (HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah no. 224)

    Berkata Al Mubarakfury rahimahullah di dalam Tuhfatul Ahwadzi: “Sebagian Ulama menafsirkan bahwa puasa dan berbuka sesungguhnya hanya bersama sekumpulan besar manusia (dari kaum muslimin-pent)”.

    Saya juga sangat kagum dengan Indahnya perkataan Al Muhaddits Al-Albani rahimahullah tentang kewajiban mengikuti pemimpin yang sah dan kesatuan kaum muslimin di dalam memulai berpuasa dan berbuka (yaitu mengakhirinya-pent), dan setiap individu hendaknya mengikuti kesatuan kaum muslimin, beliau berkata:
    “و هذا هو اللائق بالشريعة السمحة التي من غاياتها تجميع الناس و توحيد صفوفهم ، و إبعادهم عن كل ما يفرق جمعهم من الآراء الفردية ، فلا تعتبر الشريعة رأي الفرد – و لو كان صوابا في وجهة نظره – في عبادة جماعية كالصوم و التعبيد و صلاة الجماعة ، ألا ترى أن الصحابة رضي الله عنهم كان يصلي بعضهم وراء بعض و فيهم من يرى أن مس المرأة و العضو و خروج الدم من نواقض الوضوء ، و منهم من لا يرى ذلك ، و منهم من يتم في السفر ، و منهم من يقصر ، فلم يكن اختلافهم هذا و غيره ليمنعهم من الاجتماع في الصلاة وراء الإمام الواحد ، و الاعتداد بها ، و ذلك لعلمهم بأن التفرق في الدين شر من الاختلاف في بعض الآراء ، و لقد بلغ الأمر ببعضهم في عدم الإعتداد بالرأي المخالف لرأى الإمام الأعظم في المجتمع الأكبر كمنى ، إلى حد ترك العمل برأيه إطلاقا في ذلك المجتمع فرارا مما قد ينتج من الشر بسبب العمل برأيه ، فروى أبو داود ( 1 / 307 ) أن عثمان رضي الله عنه
    صلى بمنى أربعا ، فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه : صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين ، و مع أبي بكر ركعتين ، و مع عمر ركعتين ، و مع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها ، ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين متقبلتين ، ثم إن ابن مسعود صلى أربعا ! فقيل له : عبت على عثمان ثم صليت أربعا ؟ ! قال : الخلاف شر . و سنده صحيح . و روى أحمد ( 5 / 155 ) نحو هذا عن أبي ذر رضي الله عنهم أجمعين .
    فليتأمل في هذا الحديث و في الأثر المذكور أولئك الذين لا يزالون يتفرقون في صلواتهم ، و لا يقتدون ببعض أئمة المساجد ، و خاصة في صلاة الوتر في رمضان ، بحجة كونهم على خلاف مذهبهم ! و بعض أولئك الذين يدعون العلم بالفلك ، ممن يصوم و يفطر وحده متقدما أو متأخرا عن جماعة المسلمين ، معتدا برأيه و علمه ، غير مبال بالخروج عنهم ، فليتأمل هؤلاء جميعا فيما ذكرناه من العلم ، لعلهم يجدون شفاء لما في نفوسهم من جهل و غرور ، فيكونوا صفا واحدا مع إخوانهم المسلمين فإن يد الله مع الجماعة “.

    “Hal inilah yang paling sesuai dengan syari’at yang mudah, yang mana tujuannya mengumpulkan manusia dan menyatukan barisan mereka, menjauhkan mereka dari setiap hal yang memecah belahkan kesatuan mereka, syari’at Islam tidak menganggap pendapat personal -meskipun benar di dalam pandangannya- di dalam ibadah yang dilakukan secara bersama-sama, seperti; berpuasa, berhari raya, shalat berjama’ah.

    Bukankah Anda melihat para shahabat nabi radhiyallahu ‘anhum, sebagian mereka shalat dibelakang yang lainnya, padahal di antara mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita dan kemaluan serta keluarnya darah membatalkan wudhu, sedangkan di antara mereka ada yang tidak berpendapat demikian, di antara mereka ada yang menyempurnakan shalat ketika safar dan diantara mereka ada yang mengqashar, tidak menjadikan perbedaan mereka dalam permasalahan ini atau yang lainnya, melarang mereka untuk bersatu di dalam perkara shalat di belakang satu imam dan menganggap shalatnya sah. Yang demikian itu, karena pengetahuan mereka bahwa berpecah belah di dalam perkara agama adalah lebih buruk daripada hanya sekedar berselisih di dalam beberapa pendapat.

    Bahkan perkara bersatu ini, sampai kepada bahwa sebagian mereka tidak menganggap pendapat yang menyelisihi pendapat pemimpin yang utama di dalam kesatuan umat yang sangat besar, seperti keadaan ketika di Mina, yang menyebabkan meninggalkan pendapat mereka. Sampai-sampai ada yang benar-benar meninggalkan beramal dengan pendapatnya di kumpulan masyarakat tersebut, agar terlepas dari sesuatu yang mengakibatkan keburukan karena beramal dengan pendapatnya.

    Abu Daud meriwayatkan (1/307): bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu pernah mengerjakan shalat di Mina empat raka’at (dengan menyempurnakannya tanpa di qashar-pent), berkatalah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu seraya mengingkari atas perbuatan Utsman radhiyallahu ‘anhu: “Aku pernah shalat (di Mina-pent) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dua raka’at, bersama Abu Bakar dan Umar dua raka’at, lalu bersama Utsman radhiyallahu ‘anhu di awal kepemimpinan dua raka’at kemudian setelah itu Utsman menyempurnakan menjadi empat raka’at, kemudian terpecah belah jalan bagi kalian. Maka aku berharap dari empat raka’at ini, dua raka’atnya semoga diterima”. Lalu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu shalat empat raka’at (mengikuti Utsman radhiyallahu ‘anhu -pent), maka ada yang berkata: “Engkau menegur Utsman radhiyallahu ‘anhu atas empat raka’atnya tetapi engkau sendiri shalatnya empat raka’at (ketika di Mina-pent), beliau menjawab: “Perbedaan itu adalah buruk”. (Sanadnya shahih dan Imam Ahmad meriwayatkan juga seperti ini dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhum seluruhnya)

    Maka orang-orang yang masih saja berbeda pada shalat mereka dan tidak mengikuti imam di beberapa masjid, hendaklah memperhatikan tentang hadits dan riwayat yang disebutkan tadi, khususnya pada shalat witir dengan alasan bahwa imam tidak sesuai dengan madzhab mereka! juga sebagian mereka yang mengaku mengetahui ilmu hisab, sehingga berpuasa dan berbuka sendirian, baik itu mendahului atau terlambat dari kesatuan kaum muslimin, bersandarkan dengan pendapat dan pengetahuannya, tanpa memperhatikan bahwa ia telah keluar dari kesatuan kaum muslimin.

    Sekali lagi, hendaklah orang-orang tesebut memperhatikan dari apa yang telah kami sebutkan dari ilmu pengetahuan, semoga saja mereka mendapatkan obat penawar bagi kebodohan dan kekeliruan yang ada pada diri mereka. Yang mana pada akhirnya, mereka menjadi satu barisan dengan kaum muslimin, karena sesungguhnya Tangan Allah bersama kesatuan (kaum muslim)”. (Lihat kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, (1/50) dalam penjelasan hadits no. 229)

    Oleh karenanya, mari Ikuti Pemerintah kita dalam penentuan masuk dan keluarnya Bulan Ramadhan agar kesatuan kaum muslimin di Indonesia tetap terjaga.

    Selamat menunaikan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan Penuh Berkah tahun 1432H. Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kaum muslim.

    Ahmad Zainuddin
    Dammam, KSA

    Artikel: Moslemsunnah.Wordpress.com

  51. Setelah melihat rembulan kemaren akupun semakin percaya dengan perukyat dari Cakung meskipun didustakan oleh peserta sidang isbat.

  52. banar said

    TERNYATA YANG BENAR YANG HARI JUMA’AT KLO LIAT BULAN SABIT heehe

  53. banar said

    klo liat bulan sabit kemaren saya ga ragu klo yang benar hari Jum’at….nabi tidak pernah mempersoalkan siapa yg liat bulan sekalipun orang kafir 🙂 ,ada 2 saki di cakung &jepara ehhh dicuekin ma depag hehehe

  54. Yusep (yusup asep) said

    Saya mah orang awam, mending puasanya ikut yg belakangan tapi lebarannya ikut yang duluan selama tidak kurang dari 29 hari bukan begitu…….

  55. Anonim said

    apapun hasil ama rukyat, tak perlu dipertentangkan, keduanya ada benarnya, tidak ada salahnya, karena umat islam tidak akan beramal dari sesuatu yang salah. berhentilah mencari perbedaan tapi carilah kesamaan dalam islam, tks

  56. Anonim said

    ingin ketawa rasanya…..

  57. ijay said

    laa haula walaa quwata illa billah…
    komen nya jangan songong kl menurut saya ^_^
    sesama muslim ko dalam berdiskusi pake bahasa coy-coyan gt..
    sampaikan lah dengan hikmah wahai saudara ku ….
    kami orang awam berharap pada anda semua dengan ilmu yang anda sampaikan.
    dengan bijaksana..!
    antum belum tentu masuk surga…
    jd rendah kan suara anda dalam menjelaskan masalah ini.
    nabi muhammad saw pun ga pernah songong ky gt…
    kecuali kl bukan nabi muhammad saw yang kita contoh 😀
    sok publikasikan disini kl bukan nabi saw yang anda contoh.
    jadi kami disini kl pun awam bisa maklumi anda , bahwa anda tidak mencontohh nabi dalam menyampaikan dan menjelaskan ilmu. karena semua orang tau tidak nabi telah wafat sebelum kita lahir 😥 tidak ada sahabat , tabi’in di tengah2 kita. jadi bijaksanalah dalam menjlaskan ilmu yang anda dapatkan.
    semoga Allah mengampuni kita semua…. dan melapangkan hati kita.

  58. Fahroqi said

    PENGAMAT ! benarkah MUHAMMADIYAH salah ?
    coba sebutkan apa kesalahannya ?!
    Jaman sekarang ini, ingat Islam kalah oleh Nasrani di Eropa karana apa ?
    karna orang islam terlalu Primitif waktu itu !
    dan ingat kenapa kalender orang Nasrani menang ?
    karna orang Islam setiap hari harus selalu saja menentukan hari esok tanggal berapa(menjadi masa lalu kembali) lantas bagaimana orang Islam bisa bekerja? karna sekarang zaman moderen, kita dituntut bekerja. inilah alasan kenapa kalender Islam tak berlaku di mata Dunia, karna tak pasti!
    lebih baik mengerjakan tugas setelah diberi, daripada mengerjakan tugas saat akan segera mau dikumpulkan!!!

  59. Demange said

    1. Al-Qur’anm itu suber ilmu bukan sih?
    2. Islam itu agama yang paling sempurnakah?
    3. Al-Qur’an itu sumber tehnologikah?

  60. ihsan said

    masalah hisab dan rukyah ini adalah masalah yg sdh puluhan tahun terjadi di Indonesia. pihak pemerintah yg banyak dikuasai orang NU selalu tetap berpatokan dgn hilal yg diatas 2 derajat utk dpt dilihat dgn kasat mata(mata telanjang),sdgkan Muhammadiyah berprinsip bhw hilal sdh ada walau tak terlihat(wujudul hilal),jadi istilah melihat hilal itu bisa diartikan dgn Ru’yah bil ‘ilmi. selaludituduh Muhammadiyah mem buat perpecahan, tetapi sebenarnya yg menuduh itu seperti cacing kepanasan yg ingin menang sendiri.

  61. Agus Salim said

    Seharusnya kita mulai sadar, bahwa persatuan dunia Islam itu sangat perlu. Tidak hanya persatuan ormas2 Islam di Indonesia.
    1. Jika kita menyalahkan Muhammadiyah yang menentukan awal puasa tanggal 20 dg wujudul hilal, maka kelihatannya salah besar sebab purnama terhajadi hari kamis tanggal 2 Agustus. Jadi jika tanggal 19 sore tanggal 1 ramaadhan (taraweh pertama), maka tanggal 2 agustus itu taraweh ke-15.
    2. Jika kita menyalahkan saudara-saudara yang mengharuskan ru`yat bil-`aini, maka ya kurang pas sebab juga berpedoman pada dalil. Sehingga judul di atas “Pakar hisab Muhammadiyah Keliru” itu profokatif.

    Sehingga kita jangan picik: harus legowo, bahwa hisab yang dilakukan oleh umat muslim Meraoke hingga Maroko dan rukyat yang dilakukan oleh umat muslim Meraoke hingga Maroko adalah upaya kecil untuk menentukan awal kalender Islam.

    Dengan demikian, maka dunia Islam akan bersatu dengan satu rembulan satu Tanggal.

    Bukankah hasil rukyat teman-teman ahli rukyat di Sabang mengikat kebersamaan awal tanggal saudara muslim di Meraoke? Bukankan hasil hisab teman-teman ahli rukyat di Sabang mengikat kebersamaan awal tanggal saudara muslim di Meraoke? Yang terkadang secara geografis seharusnya Indonesia bagian Timur belum masuk tanggal. Namun dengan alasan satu wilayah hukum kita klaim harus bersama-sama tanggalnya.

    Lalu kenapa dunia Islam (para pemimpin, para tokoh ormas Islam, para ilmuwan muslim) tidak berfikir demikian.

    Kami rakyat kecil hanya mengikut, tapi yang di atas jangan maain sikut.

    Hormat Kami
    Rakyat Kecil
    Agus Salim Arek Jombang di Sidoarjo Jawa Timur

  62. saya setuju muhammadiyah nu.mui,alwasliyah ada sogok menyogok .muhammadiyah tidak pernah keliru.

  63. oky said

    muhammadiyah tidak keliru maka pemerintahan harus lebih tegas.
    muhammadiyah tegas soal penetapan ramadhan,syawwal,dan dzulhijjah,
    kenapa ketua pp muhammadiyah tdk ikut sidang isbath
    karna seperti permainan kanak kanak.

  64. saya kira NU,MUI,AL WASLIYAH harus belajar atau dekolah lagi.

  65. saya juga setuju terhadap pendapat banar mah masak orang melihat hilal tidak disetujui

  66. oky said

    ad yg berani mengomentari komentar saya kok g ada yg brani ya berarti betul,muhammadiyah tdk salah kan

  67. wahai saudara ku yg di rah mati ALLAH di dalam perbedaan ini kita tidakboleh memasalahkan tapi kita orang awam danya mengikuti keyakinan ,dalam perbedaan kali ni ambil saja hikmah nya ya saudara2 ku mudah-mudah an tahun depan dan seterusnya lebara puasa atau idul adha tidak ada perbedaan lagi yaaa saudara2 ku

  68. orang awam said

    saudara2 ku yg d rahmati Allah apakah yg salah muhammadiyah atau pemerintah???????????????????????…………..

    saya tunggu balasan dari yth;MAULANA IHSAN

  69. SAYA SETUJU DGN PENDAPAT ORANG AWAM

  70. apakah benar pendapat saudara kita????????????????????????????????????????????????????

  71. Anonim said

    Apakah saudara2ku yg ada di Muhammadiyah tidak pernah belajar ilmu FIQH ? atau belum tahu tentang ilmu FIQH ?????… atau awam tentang FIQH ?????…. atau sama sekali tidak memahami masalah FIQH ?????….. sehingga kalian tadak tahu siapa yang paling berkompeten menentukan awal bulan Romadlon dan awal bulan Syawal. Kalau memang kalian tidak tahu tentang ilmu FIQH, kalau kalian awam tentang FIQH,kalau kalian tidak memahami masalah FIQH, ya jangan mengatakan pemerintah salah dan Muhammadiyah yg benar. Atas dasar apa kalian mengatakan pemerintah salah dan Muhammadiyah yg benar..? Apa anda tidak pernah mempelajari HADITS NABI, tunjukkan pd kami HADITS yg berhubungan dgn awal bulan Romadlon dan awal bulan Syawal yg memakai hisab !!!!!! Apakah kalian tidak pernah membaca AL QUR’AN ???, apakah kalian tak pernah mengkaji TAFSIR AL QUR’AN ??? lihat surat Al Baqoroh 185…!!!!!!

  72. Anonim said

    mengapa selalu mempermasalahkan perbedaan padahal dua2nya mendasarkan dalilnya pada al-qur’an hadits. tinggal laksanakan dan hormati perbedaan itu. salah benar bila hal itu hasil ijtihad bukankah hadits juga mengatakan kebolehannya. ketika kita menyalahkan orang lain itu tersirat kesombongan merasa bahwa yang benar adalah aku yang lain salah. bermusyawarahlah mencari titik temu. bila belum bisa toleransilah !

  73. apkh perbedaan itu indah?
    ya perbedaan bsa kta bwt sprt kindhan d stiap perbedaan ada hkmh ny kta ambil dri hkmh nya sja ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  74. ikan said

    knp permasalahn sprt ini kta anggp spele?
    sbnrnya ini adalah masalah serius

  75. PAPATONK HIBER said

    Saya ingin bertanya kepada Jamaludin, kalau hari kamis 19 Juli 2012 jam 11.25 telah berahir bulan syaban, lalu kapan 1 Ramadlon ? Sabtu, 21 Juli ? lah hari Jumatnya masuk bulan apa ?
    Bicara soal dalil, saya ingin bertanya: Apa maksudnya ayat 185 surat Al Baqarah ?
    Saran saya : jangan terlalu cepatlah menilai salah dan benar, anda bicara saja secara sain yang anda miliki.
    Bukan soal NU , Muhammadiyah, jangan mereka di adu domba. Yang memulai puasa 1 Ramadlon bukan Muhammadiyah saja. Mestinya anda ngomong : ” nggak usah repot-repot ngintip bulan tgl 19 Juli, mustahil kelihatan hilal”, lumayan ngirit duit, tenaga n pikiran.
    Lho wong sudah pasti nggak bisa dilihat, kok ribut melihat hilal, ada yang ngaku melihat ditolak katanya gak mungkin. Dagelan apa ?
    Menag harusnya mengumumkan saja: ” Hari kamis 19 Juli 2012, bulan syaban berahir, 1 Ramadlon jatuh hari Jumat, tetapi karena hilal belum kelihatan, maka diputuskan puasa mulai hari Sabtu tanggal 2 Ramadlan “

  76. jika ada lembaga negara yang sah,ada keputusan yang sah dari pemerintah,duduk bersama dalam satu sidang umat…kenapa merasa paling benar sendiri..mengapa seperti air dan minyak..merasa ekslusif..tak mau mengakui eksistensi yang lain,karena setiap keputusan ada resikonya..padahal nanti di padang masyhar setiap ruh akan berkumpul berdasarkan golongan dan aliran mereka…

  77. auazanan said

    sebenarnya kalo mau jujur, coba kita lihat sejarah kapan organisasi Muhammadiyah mulai menetapkan hisab sebagai dasar penetapan puasa dan shalat id ??? ternyata fatwanya baru saja, bukan sejak KH Ahmad Dahlan….jadi yang fanatik dengan hisab cobalah dibaca baca lagi.

  78. Zam Roni said

    mengapa awal puasa menggunakan hisap dipermasalahkan, padahal waktu shalat juga menggunakan hisap tdk jadi persoalan, mengapa pemerintah dan nu tidak menugaskan anggotanya untuk melihat posisi matahari dulu baru mulai shala.. kan juga tidak ada hadisnya shalat menggunakan hisap yang ada melihat posisi matahari

  79. Mohon maaf Penulis, berhubungan dengan hadits Rasulullah mungkin dijadikan dasar oleh anda:

    إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا

    Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. ” (HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080).

    yang dimaksud dalam hadits diatas mengenai melihat hilal itu bukan melihat dengan mata telanjang, tetapi melihat bulan itu sudah tepat 2 derajat diatas ufuk apa belum. karena jika sudah tepat 2 derajat diatas ufuk, maka kita wajib untuk berpuasa pada saat itu juga. Sedangkan kelemahan metode rukyah itu sendiri adalah memperlambat awal puasa itu sendiri yang ini jelas-jelas berbeda dengan tanggal 1 ramadhan di kalender. Sehingga saking fanatisnya pada rukyah, tanggal awal puasa pun diundur menjadi tanggal 2 bulan romadhon yang tercantum pada kalender seperti pd tahun 2013 ini. Padahal jelas dalam kalender sudah ditentukan awal puasa dengan hisab. Dan ini jelas2 sangat bertentangan dengan ilmu perhitungan sesuai dengan dalil berikut :

    Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. QS. Ar-Rahmaan (55):5

    Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan
    ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan
    itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).
    Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia
    menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang
    mengetahui. QS. Yunus (10):5

    Dan Kami jadikan malam dan siang
    sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda
    siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu dan supaya
    kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. QS. Al-Israa’
    (17):12

    Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk
    beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan.
    Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. QS.
    Al-An’am (6):96

    Dari uraian diatas sudah sangat jelas diterangkan bahkan didalam Al-Qur’an (dalil Naqli) itu sendiri. Sehingga metode Rukyah pun sangat lemah karena hanya menitikberatkan pada 1 hadits saja, dan itupun juga salah pemahaman.

    Selain itu, kenapa Si Penulis tidak mengacu pada Arab Saudi saja yang menggunakan metode hisab. Berarti jika Penulis menganggap metode hisab itu salah, berarti Penulis menyalahkan orang-orang Arab dan jelas menyalahkan Al-Qur’an dong?

  80. Mohon maaf Penulis, berhubungan dengan hadits Nabi Muhammad yang mungkin dijadikan dasar oleh Anda:

    إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا

    Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. ” (HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080). Jadi hilal harus terlihat dan bukan sekedar ada.

    Yang dimaksud dalam hadits diatas mengenai melihat hilal itu bukan melihat dengan mata telanjang, tetapi melihat bulan itu sudah tepat 2 derajat diatas ufuk apa belum. karena jika sudah tepat 2 derajat diatas ufuk, maka kita wajib untuk berpuasa pada saat itu juga. Sedangkan kelemahan metode rukyah itu sendiri adalah memperlambat awal puasa itu sendiri yang ini jelas-jelas berbeda dengan tanggal 1 ramadhan di kalender. Sehingga saking fanatisnya pada rukyah, tanggal awal puasa pun diundur menjadi tanggal 2 bulan romadhon yang tercantum pada kalender seperti pd tahun 2013 ini. Padahal jelas dalam kalender sudah ditentukan awal puasa dengan hisab. Dan ini jelas2 sangat bertentangan dengan ilmu perhitungan sesuai dengan dalil berikut :

    Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. QS. Ar-Rahmaan (55):5

    Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan
    ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan
    itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).
    Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia
    menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang
    mengetahui. QS. Yunus (10):5

    Dan Kami jadikan malam dan siang
    sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda
    siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu dan supaya
    kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. QS. Al-Israa’
    (17):12

    Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk
    beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan.
    Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. QS.
    Al-An’am (6):96

    Dari uraian diatas sudah sangat jelas diterangkan bahkan didalam Al-Qur’an (dalil Naqli) itu sendiri. Sehingga metode Rukyah pun sangat lemah karena hanya menitikberatkan pada 1 hadits saja, dan itupun juga salah pemahaman.

    Selain itu, kenapa Si Penulis tidak mengacu pada Arab Saudi saja yang menggunakan metode hisab. Berarti jika Si Penulis menganggap metode hisab itu salah, berarti Si Penulis menyalahkan orang-orang Arab dan jelas menyalahkan Al-Qur’an dong?

  81. @ deden

    Sangat jelas dan tak perlu dibantah lagi bahwasanya sesuai dalil yg shahih dan dicontohkan pula oleh rasulullah SAW PERGANTIAN BULAN pada sistem lunar adalah saat Hilal kelihatan (Rukyat) bukan HISAB sama dengan yg dilakukan orang Yahudi.

    tapi saudara tidak bisa membandingkan metode rukyat ini unt menentukan masuk waktu sholat karena JELAS KONTEKS MASALAHNYA BERBEDA

    Jika saudara berargumentasi bgm jika hilal td terlihat meskipun sdh diatas 2 derajat ketika di Rukyah sdh dijawab dari Hadist Rasul jika pada hr 29 tdk terlihat karena terhalang cuaca teruskan bulan sampai besok ( artinya 30 hari).

    mudah sekali bukan, jadi gak perlulah diperdebatkan lagi dgn membuat cara2x baru didalam menentukan pergantian bulan alias bid’ah, bukankah setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yg sesat akan masuk ke dalam api nerako hehehehe….

    begitu bukan seperti yg sering kalian gembar gemborkan ?

    gitu aza kok repot.

  82. @Paulus Nabi Palsu

    Saya akan menjawabnya dengan sederhana juga.
    Yang namanya Bid’ah itu sesuatu yang ada-adakan dan tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadits Mas. Padahal argumen sayapun mempunyai dasar yang kuat, yakni dari Al-Qur’an sendiri dan ini sangat bertentangan dengan argumen saudara. Bukankah saudara telah membaca dalil-dalil Al-Qur’an diatas yang saya tuliskan?. Allah menjadikan Matahari dan Bulan sebagai perhitungan. Dan ini murni dari Al-Qur’an. Lantas, jika saudara mengatakan Dalil-dalil didalam Al-Qur’an diatas tersebut Bid’ah, berarti saudara telah menolak petunjuk di dalam Al-Qur’an tersebut. Dan ini jelas menyeleweng dari Al-Qur’an itu sendiri. Bukankah begitu saudara?

  83. @ Deden

    oya, memang ayat yg saudara baca itu konteks ayatnya mengenai opo? mengenai pergantian bulan ya hehehe, itu khan cuman penafsiran pribadi ente semata sedangkan sekarang kita membicarakan konteks PERGANTIAN BULAN MENURUT KALENDER LUNAR, BUKAN MASUK WAKTU MASUK SHOLAT, BUKAN FIRMAN ALLAH MENGENAI PENGETAHUAN PEREDARAN PLANET BULAN BUMI DAN MATAHARI , dan dalil yg Qath’i mengenai pergantian bulan sesuai hadisth pergantian bulan spt yg telah disebutkan dan sesuai dgn yg dicontohkan Rasulullah saw sedangkan dalil ayat Al Qur’an yg ente sebutkan konteksnya informasi ilmu pengetahuan secara umum yg ada di Al Qur’an mengenai peredaran bumi dll. Kenapa ente lebih mengutamakan teknologi daripada cara2x yg jelas dicontohkan Rasulullah tsb? padahal perbuatan yg dicontohkan Rasulullah tersebut pasti atas petunjuk dari ALLAH SWT.

    saya tunggu ya jawaban lo.

    gitu aza kok repot.

  84. @Pausan Nabi Palsu

    Lho, mas dalil Al-Qur’an diatas itu sangat nyambung lho mas, dan itu merupakan dasar dari hisab. Itu tidak hanya untuk sholat saja, tetapi juga untuk penentuan awal romadhon. Coba mas lihat dalil diatas apakah di dalam dalil tersebut tertulis “UNTUK SHOLAT”?, tidak kan. Saya ambil satu contoh saja. Coba mas cermati dalil yang sudah saya tuliskan berikut:

    “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5).

    Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Jadi itu berlaku untuk semua, baik dalam penentuan awal ramadhan maupun hari raya. Sedangkan dalil sebagai dasar hisab itu tidak hanya ada satu mas, tapi banyak sekali seperti yang sebagian saya tuliskan diatas. Dan itu sudah membuktikan dalil mengenai perhitungan (hisab) itu sudah kuat.

    Sedangkan hadits yang mungkin mas jadikan acuan :

    صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته

    “Berpuasalah karena kalian melihat bulan, dan berbukalah ketika kalian melihat bulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Ini jika kita pahami dengan sederhana, maka hanya akan berarti melihat bulan dengan mata telanjang, dan itupun belum bisa dipastikan untuk menentukan bulan tepat pada tanggal 1 ramadhan, karena pandangan manusia terbatas. Tetapi, jika kita pahami lebih dalam, melihat bulan yg dimaksud adalah melihat apakah bulan itu sudah tepat masuk pada tanggal 1 romadhon apa belum?, tepat 2 derajat diatas ufuk apa belum?. Jika sudah, maka kita diwajibkan untuk berpuasa pada saat itu juga. Dan yang bisa menentukan dengan tepat kapan tanggal 1 ramdhan adalah ilmu perhitungan, yakni metode hisab. Sedangkan jika kita menggunakan rukyah, awal romadhon itupun bisa menjadi tidak tepat pada tanggal 1 ramadhan, tetapi bisa jadi pada tanggal 2 romadhon.

    Coba mas hubungkan dengan hadits berikut:

    “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari” (HR. Bukhori dan Muslim).

    Dalam hadits diatas pun juga dijelaskan bahwa pada zaman nabi, umat-umat nabi itu ummi, yakni tidak bisa menulis dan menghitung, dan masih memperkirakan tepat apa tidak penentuan awal romadhon itu. Dan pada zaman itupun belum ada teknologi. Sedangkan sekarang, teknologi pun semakin canggih dan lebih akurat dalam perhitungan, kenapa kita tidak mempergunakannya sih?, padahal itu jelas-jelas benar perhitungannya.

    Dan jika mas beranggapan Hisab itu mengggadaikan petunjuk Nabi dengan teknologi, apakah tidak ada bedanya dengan rukyah yang juga menggunakan teropong sebagai teknologi untuk melihat bulan. Dan kenapa juga mas sampai sekarang ini menggunakan kalender padahal kalender itu juga metode hisab?
    Jika mas beranggapan hisab itu salah, berarti orang-orang Arab itu salah semua dong karena mereka menggunakan hisab?

  85. Nt Bahlul said

    @Deden Fawzi

    Nt bahlul!! masalahnya selama di madinah Almunawwarah, apakah Nabi Muhammad setiap Ramadhan, maupun Idul Fitri menetapkannya dengan hisab?? tentu tidak, Beliau tetap menganjurkan dengan ru’yatul hilal. Padahal ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan”… jelas ada, tapi mengapa Nabi tidak memerintahkan untuk menggunakan hisab?? Apakah Muhammadiyah lebih kredibel ketimbang cara Nabi??

    Memang benar ormas muhammadiyah itu arogan, takabbur dan sok paling hebat.. Padahal para Kiai NU tidak sedikit yang ahli hisab apalagi urusan ru’yat, tapi mereka tidak gembar-gembor..

    Intinya, walaupun hisab hasilnya juga akurat, namun tetap saja yang lebih utama adalah dengan ru’yat sesuai anjuran Nabi SAW.

  86. @deden
    si paulus nabi palsu itu seorang syiah laknatullah
    berhati-hatilah dg dia

    contohnya dia sukanya memfitnah mujahidin suriah sbg bonekanya amerika
    tapi lucunya, ketika kudeta di mesir yg jelas2 militer mesir itu didukung oleh amerika
    dia malah justru senang dan mendukung
    dan tidak mengatakan bhw militer mesir adalah bonekanya amerika
    karena Mursi adalah orang yg menentang beser al-assad
    beser al-assad adalah seekor diktator fasis syiah nusyairiyah laknatullah di suriah

  87. auazanan said

    kenapa selalu berbeda !!! saya penah bertanya dg PP Muhammadiyah tentang bgmana ormas ini dalam mengambil sebuah hukum dijawab berdasarkan alqur’an dan hadist menurut pemahaman akal yang sehat dari pengurus tarjih pusat…. jadi kalo dibandingkan dengan ahlussunnah waljama’ah yang menggunakan pemahaman salafusholeh jelas berbeda…..tinggal kita aja yang mana pemahaman yg mau di ikuti….kalo saya ikut pemahaman salafusholeh karena dalilnya mutawatir sedangkan pemahaman akal yg sehat dari pengurus tarjih pusat tidak ada dalilnya……kan mudah ikut yg mana !?

  88. jajank said

    Puasa berdasarkan keyakinan atas Alquran dan sunnah nabi SAW..hormati dan toleran terhadap perbedaan adalah jalan tengah terbaik..marhaban ya Ramadhan….

  89. myway said

    alhamdulilah,
    marhaban ramadhan.
    maha suci Allah yang telah menciptakan manusia dengan keinginan dan untuk menegakkan kebenaran, walaupun kadang terlalu terbawa nafsu sehingga membodoh2an serta merendahkan saudaranya yang berbeda pandangan.
    terlepas dari siapa yang benar atau salah, rasanya ada cara lain yang lebih bijak untuk mengajak saudara kita untuk menegakkan kebenaran daripada menjelekkan atau membodoh2kan saudara kita di forum yang agak terlalu terbuka.
    sebaiknya di bulan mulia ini kita lebih berusaha menjaga cara kita dalam menegakkan kebenaran sehingga kalaupun ada pihak yg salah dapat merubah memperbaiki diri tanpa terluka egonya. karena semestinya semangat kita adalah mengajak kepada kebenaran, bukannya menghancurkan pihak yg salah.
    jika tidak terjadi persamaan pendapat maka doakan kebaikan Allah untuk semua pihak dan tetap waspada terhadap sentimen yg dpt memecah belah kesatuan umat.
    mohon maaf dan terimakasih.

  90. Anonim said

    mkasih aq jdi tw dech,?

  91. Assalamualaikum wr wb
    Menyimak paparan di atas mana mungkin hilal tampak dengan posisi bulan 2 derajat dan tampaklah tidak sempurnanya penghayatan ilmu teknologi sehingga merubah sisi pandang umat islam dalam hal menentukan awal dan akhir pengamalan puasa ramadan.
    Sudah jelas kata kuncinya tampaknya hilal, tentu ilmu teknologi dapat menggambarkan kapan hilal itu terwujut/ada di lihat dari bumi.
    jarak matahari ke bumi dan bulan serta besarnya bumi dan bulan sudah diketahui, tentu bisa pula di simulasikan geraknya yang bersekala dan di cerna dengan ilmu fisika, maka terlihatlah kapan hilal itu terbentuk(wujud) di lihat dari bumi, hilal itu akan wujud apabila posisi bulan tertinggal dan mendahului matahari 20 derajat lebih..
    Makanya titik nol rotasi bulan terhadap bumi menurut ilmu agama bukan pada ijtimak(kunjungsi) untuk lebih jelasnya silahkan baca di rotasi bulan.blogspot.com
    Tersesat di ujung jalan kembalilah ke pangkal jalan, pangkalnya ada hadist Rasullulah saw di Kitab Insanul Uyun Juz III Karangan Syekh Nuruddin. terimakasih

  92. Archie said

    Coba pahami simulasi terjadinya new moon / bulan baru / ijtimak yang logis sekali untuk menentukan akhir bulan hijriah. Sedikit saja hilal muncul maka usia bulan memasuki hari pertama. Orang Indonesia khususnya muslim kebanyakan itu fanatik, tukang ngekor, tanpa mencoba untuk memahami tentang ilmunya, tidak skeptis, tidak kritis, cuma hafal teori tapi prakteknya gak paham . Gak perlu sampai mengekor tentang berapa derajat segala atau sampe rotasi bulan dibawa2. FYI, yang ngefek itu rotasi bumi. Sangat memalukan orang muslim terbukti sampai sekarang belum bisa mengembangkan ilmu teknologi. Kebanyakannya orang kafir. Kenyataannya di jaman ini segala aktifitas benda langit itu bisa diperhitungkan akurasinya. Mau contoh? 29 April 2014 sudah terbukti terjadi gerhana matahari = new moon = konjungsi. Artinya usia bulan = 0 hari & akan memasuki hari pertama. SEHARUSNYA, 30 April 2014 sudah pasti tanggal 1. Tapi kenyataanya? silakan cek di kalender hijriah Indonesia, tertulis 30 April 2014 adalah 30 Jumadil Akhir yang seharusnya 1 Rajab. Think about it. JANGAN ASAL NGEKOR. MEMALUKAN MUSLIM & BANGSA INDONESIA TAHU?? LEBIH BAIK SKEPTIS & KRITIS!!

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: