KabarNet

Aktual Tajam

Enaknya Jadi Dokter, Modal Resep Dapat Bonus Mobil

Posted by KabarNet pada 19/02/2013

Palembang – KabarNet: Kongkalikong penjualan obat ternyata menguntungkan semua pihak yang terlibat. Dokter mendapat jatah 10-20 persen dari harga obat yang diberikan perusahaan farmasi. Sementara sales marketing yang menjembatani transaksi juga kecipratan bonus gaji berlipat. Konspirasi berlangsung secara terbuka di Palembang.

Sales perusahaan farmasi beramai-ramai mendatangi tempat praktik dokter membawa brosur obat dan penawaran kerjasama. Dokter tugasnya hanya menuliskan resep obat mahal produksi perusahaan tersebut. Bila penjualan berlangsung lancar, perusahaan farmasi juga dengan mudah memenuhi permintaan dokter. “Bisa sampai puluhan juta keluarkan uang untuk kebutuhan oknum dokter. Uang itu diperoleh dari jumlah obat yang laku dijual oleh dokter. Mau mobil baru, tinggal telepon,” ujar Dayat, seorang sales distributor perusahaan farmasi, Jumat (8/2).

Bonus atau dana sponsor yang diberikan kepada oknum dokter tersebut dihitung berdasarkan keuntungan penjualan obat. “Kami juga tidak sembarangan kasih. Kami hitung apakah dokter itu berhasil menjual obat dari kita dengan jumlah yang disepakati atau tidak. Kalau berhasil, baru kami berani kasih bantuan sponsorship,” ungkapnya.

Pengakuan seorang dokter yang enggan disebutkan namanya, kongkalikong ini tambah berjalan mulus apabila sales menjalin kerjasama dengan dokter praktik yang langsung menyediakan obat untuk pasien (tidak dibeli di apotek). Bahkan, ada satu oknum dokter yang hanya menulis resep obat hanya dari dua merek. Dokter harus menyediakan merek tertentu karena sebelumnya telah terjalin kesepakatan dengan sales obat. Kerjasama itu bervariasi, mulai dari satu sampai lima tahun.

Sales bisa memutuskan perjanjian apabila oknum dokter tak lagi mencantumkan obatnya di resep. Dampak yang dirasakan misalnya, sales menarik dan menghentikan pembayaran kredit mobil. Menurut dokter sumber berita ini, sebenarnya setiap produsen obat itu telah memiliki buget promosi. Meski tidak menjalin kesepakatan dengan sales obat, dia tetap dibantu ketika butuh pinjaman mobil untuk menghadiri seminar di luar kota.

Obat yang ditawarkan oleh sales umunya merupakan golongan obat paten dengan harga yang lebih mahal jika dibandingkan obat generik. Dokter incaran tentu saja dokter yang memiliki jumlah pasien lebih banyak. “Kami cari dokter yang pasiennya banyak atau dokter spesialis penyakit tertentu yang belum begitu banyak di Palembang. Ini yang akan melancarkan pencualan obat,” tutur Tono.

Transaksi dan pemberian layanan ekstra bagi dokter dengan menjadi sponsornya tidak dilarang dalam bisnis penjualan obat. Ia berani memastikan transaksional seperti ini dilakukan oleh distributor obat mana pun.

Perbedaan konsep pemberian bonus dibedakan berdasarkan jenis perusahaan distributor obat. Khusus untuk perusahaan distributor berbendera luar negeri terikat oleh aturan yang melarang pemberian barang tertentu. Anak perusahaan farmasi internasional yang berbisnis di Indonesia tidak dapat melakukan transaksi sebebas distributor asal dalam negeri. Mereka terikat dengan aturan yang ditetapkan oleh perusahaan. “Kalau untuk perusahaan internasional seperti saya ini tidak semua boleh dilakukan, kami terikat aturan, tidak sebebas perusahaan dalam negeri yang sampai berani memberikan DP mobil,” ungkapnya.

Dia mengatakan, biasanya dokter minta tiket pesawat perjalanan ke luar kota dan luar negeri, akomodasi tertentu seperti biaya sewa kendaraan operasional selama berada di luar kota, penginapan hotel dengan tarif beragam.

Berbagai keperluan ini juga termasuk kepentingan seminar atau pun workshop resmi yang diselenggarakan lembaga tertentu. “Biasanya mereka (oknum dokter, Red) telepon atau ngabari ketika kita visit (ke tempat praktik dokter). Kalau mereka butuh sponsor untuk keperluan tertentu di luar kota, tidak pakai basa basi, langsung ngomong. Saya butuh Rp 10 juta misalnya, atau saya butuh tiket nih,” tuturnya.

Pertanyaan muncul, kenapa para sales obat ini sanggup memberikan ‘bantuan’ dengan jumlah yang besar? Dari mana dana mereka peroleh? Ternyata selisih penjualan obat sangat signifikan. Perusahaan distributor tertentu memiliki angka diskon yang berbeda yang diberikan kepada dokter sebagai user mereka.

Jumlah diskon ini tidak seluruhnya dikeluarkan kepada sang dokter yang membeli obat tersebut. Marketing biasa memainkan angka keuntungan pada selisih diskon tersebut. Misalnya untuk satu merek obat mendapat diskon sebesar 50 persen dari perusahaan, jumlah itu tidak diberikan sepenuhnya kepada dokter. Marketing hanya memberikan diskon harga 10, 15 atau 20 persen. Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh akan menjadi lebih besar. Dari keuntungan inilah kemudian biaya ‘servis’ tadi diperoleh.

Sales bisa memperoleh untung besar dengan sistem seperti ini. Ia akan lebih cepat memenuhi target penjualan yang diberikan oleh perusahaan. Keuntungan yang diperolehnya bisa satu bulan gaji, bahkan lebih jika ia berhasil closing sesuai yang ditargetkan oleh perusahaannya. “Dokter juga untung, mereka juga dapat sponsor dari kami. Kalau mau apa tinggal kontak,” terangnya. [KbrNet/Slm]

Source: TribunNews.COM

12 Tanggapan to “Enaknya Jadi Dokter, Modal Resep Dapat Bonus Mobil”

  1. mantabb…obat generik lewaaaaaaaaaaaaatt…………. 😮

  2. kasian juga sebenarnya jadi dokter
    sebelum jadi dokter dia kuliah dulu di fakultas paling mahal, yaitu fakultas kedokteran
    begitu lulus cuma dapet gelar S-1 alias dokter umum
    masih cetek ilmunya dan skillnya
    trus harus kuliah lagi S-2, dokter spesialis
    uang lagi berbicara, soalnya makin mahal lagi biaya S-2
    itu pun belum cukup
    dia harus punya surat izin praktek, uang lagi berbicara
    trus ditambah sertifikat ini-itu dlsbg
    makanya gak ada, ato sangat jarang sekali ada dokter yg mau ditempatkan di daerah terpencil

    wajar saja kalo ada dokter seperti itu
    seorang dokter, dia juga korban dr sistem
    sistem kapitalisme yg semuanya diukur dg UANG

  3. noname said

    kurang akurat, . yg benar adalah bukan pihak disributor yg memberikan incentif utk para dokter, karena tanggung jawab dari Distributor hanya sebagai penjual (Place/penyebaran produk) sedangkan Product, Price dan Promotion adalah tanggung jawab dari Prinsipal (Produsen).
    Sesungguhnya ini sudah menjadi lingkaran setan di Indonesia, ada beberapa penyebab yg dapt saya paparkan berkaitan dng artikel di atas,
    Pertama perbandingan antara ratio jumlah dokter dan populasi di indonesia masih jauh shg dokter menjadi satu2 nya media yg dpt di gunakan oleh perusahaan farmasi sebagai pencipta output dari produk persh tsb. khususnya utk obat daftar G sedangkan obat bebas (OTC) boleh dng cara Above dan below the line menggunakan media elektronik (TV, Radio) atau poster, sticker ditempat umum, ttp utk golongan obat G (hrs menggunakan resep dokter)
    karena ada peraturan pemerintah yg mengatur sehingga produsen mengalokasikan incentif utk dokter sebagai biaya promosi, jadi incentif tersebut bukan beban dari distributor.
    Kedua akibat persaingan yg ketat antara perusahaan farmasi/produsen yg secara langsung berpengaruh pada perebutan dokter potensial di suatu daerah terutama yg jumlah pasiennya banyak,
    padahal Obat yg di buat dan dijual oleh produsen di indonesia pada umumnya copy paste dari obat luar yg tidak perlu penelitian atau research dan harusnya jauh lebih murah.dan konyol nya lagi semua produsen membuat obat dengan bahan baku yg sama, hanya merek nya saja yg berbeda.
    Akibat persaingan yg begitu ketat masalah incentif juga terjadi di apotik, ini karena masalah awamnya pengetahuan masyarakat terhadap tulisan para dokter di resep obat,
    begini yg terjadi di Apotik pasien diberi resep oleh dokter misalnya obat maag merek A tp oleh apotik diganti merek B yg merek A kosong tp isinya sama itu jawaban kalo pasien mengerti tulisan dokter, tp yg awam pasti ga nanya. ini istilahnya adalah subsitusi.
    kenapa Toko Obat bisa lebih murah dari apotik? kalo mau tahu trik nya akan saya lanjutkan besok

  4. @ All

    maaf sebelumnya, bukan bermaksud defensif, gak semua dokter berorientasi semata mata untuk mendapatkan keuntungan materi, saya akui meskipun pada umumnya benar namun masih ada juga yg lebih mengutamakan kualitas pelayanan kesehatan disesuaikan dgn kemampuan masing2x pasien bahkan untuk pasien tidak mampu digratiskan biaya konsultasi dan memberikan resep obat yg murah dan berkualitas.

    Baik buruknya seseorang itu sebaiknya jangan dilihat dari profesinya tapi dilihat dari tindak tanduk dan sepak terjangnya apakah menyimpang atau tidak.

    wassalam.

  5. noname said

    Bung Paulus saya tidak tendensius dan mengatakan semua dokter, tetapi hanya melengkapi artikel diatas, anda yg salah mencerna, tulisan saya hanya semata-mata bertujuan memberikan informasi dan bukan menghakimi profesi dokter, dan kalau anda mau tahu dokter idealis yg sungguh2 mau mengabdi karena panggilan hati nurani utk menolong sesama tanpa pandang suku ras dan agama adalah dokter yg ada di daerah terpencil dan bukan yg di kota besar

  6. @ noname

    Salah cerna bagaimana ? sebaliknya menurut gue penafsiran pribadi anda saja yg keliru. coba baca kembali komen gue baik2x dan berpikirlah secara positif, bukankah kekurangan pada sistem yg anda paparkan tersebut yg menyebabkan publik menilai profesi dokter mendapat pandangan yg negatif karena mendapat incentive dari penjualan obat ?

    Akibat persaingan perusahan farmasi dan keterbatasan jumlah dokter spesialis inilah yg menjadi kelemahan dari sistem tersebut sekaligus menjadi celah baik oknum dari perusahaan farmasi maupun oknum dokter untuk mendapatkan keuntungan pribadi berupa materi, paket wisata ke luar negeri, biaya seminar beserta akomodasinya dlsb yang semuanya itu didapat dari dijualnya obat harus menggunakan resep dokter dgn patokan harga jual yg ditetapkan oleh perusahaan farmasi melalui apotik.

    Dan asal anda tau, di Indonesia ini keuntungan obat yg diterima perusahaan obat jauh lebih besar daripada biaya konsultasi oleh dokter per pasiennya, sedangkan di luar negeri kebalikanya dan seorang dokter spesialis hanya menangani pasien sesuai spesialisasinya saja sedangkan satu perusahaan farmasi dapat menjual obat untuk berbagai dokter spesialis, dapat dibayangkan berapa besarnya keuntungan perusahaan tersebut makanya mereka berani memberikan incentive besar besaran kepada para dokter bahkan dengan iming2x demi tercapainya target penjualan yg ujung2xnya incentive dan bonus yg besar juga diterima perusahaan farmasi tersebut.

    kemudian sesuai tudingan anda bahwasanya untuk menentukan dokter spesialis yg benar2x idealis harus bertugas di daerah terpencil dan bukan di kota besar itu berdasarkan apa menilainya ? benarkah dokter spesialis yg di daerah terpencil lebih baik pengabdianya dibandingkan di perkotaan ?

    Saya sarankan sebelum anda berkomentar, cari dulu informasi dari sumber yg terpercaya agar mendapat gambaran yg komprehensif dan tidak menimbulkan fitnah.

    Apakah anda mengetahui banyak pemerintah daerah yg memberikan insective yg besar bagi para dokter spesialis yg mau menjadi pns dan bertugas di daerah terpencil bahkan insentifnya sampai puluhan juta rupiah diluar gaji pnsnya dan asal anda tau banyak dokter spesialis yg mengambil pns didaerah terpencil tsb, jadi bukan tidak mau, hanya semata2x agar menjadi pns sekaligus mendapat tunjangan insentifnya namun banyak yg tidak menetap melainkan hanya beberapa hari saja hadir di puskesmas itupun cuman beberapa jam saja selebihnya kembali lagi ke kota besar dimana mereka tinggal. Apakah ini yg anda sebut dokter spesialis idaman versi anda ? alangkah naifnya penafsiran anda tersebut.

    Sebaliknya, anda boleh survey kelapangan, pada umumnya dokter spesialis yg praktek di kota besar adalah dokter yg sudah mapan dan cukup penghasilanya makanya mereka enggan bertugas ke luar daerah sehingga mereka bisa lebih fokus terhadap profesinya sedangkan dokter spesialis yg di daerah pada umumnya adalah dokter yg belum mapan sehingga kejar sana sini untuk meningkatkan penghasilan yg mengakibatkan mereka kurang fokus dan kurang bertanggung jawab terhadap profesinya.

    Gitu aza kok repot.

  7. sontoloyo said

    memang dokter2 di Indonesia ini payah, dan lebih baik pergi berobat saja ke Singapura, Malaysia dan Shanghai. Mahalan dikit, tapi topcer. Lah disini, berkali-kali ke dokter specialis gak sembuh2, tapi kalo ke spore, malayysia dan shanghai 2x datang sembuh. Jadi sebetulnya malah lebih murah. Mungkin ada kongkalikong obat (dgn farmasi), klinik dan laboratorium, serta rumah sakit tempat dia praktek kali…

  8. Paulus Nabi Palsu said

    @ Bung Sontoloyo

    Penanganan dan pengobatan suatu penyakit bukan ditentukan dgn pengobatan di dalam negeri ataupun di luar negeri melainkan dari metode pelayanan medisnya yaitu diagnosa yg tepat, terapi dan obat yg tepat serta didukung sarana peralatan yg memadai baik kualitas maupun kuantitasnya. Faktor inilah yg menjadi kekurangan di Indonesia sedangkan dari segi SDM dokter2x kita tdk kurang kualitasnya dgn yg diluar.

  9. noname said

    @ Bung Paulus ok kita share ttg dunia kedokteran…
    penjelasan anda di atas terlalu normatif bung seperti anggota dewan, anda tidak tahu detail dari masalah di atas atau realita yg terjadi ttg kolusi profesi kedokteran, apotik, klinik, Rumah Sakit, Laboratorium dengan persh farmasi, kalo anda tau realitanya anda akan terkejut dan mungkin menangis.
    penjelasan saya di komen sebelumnya bukan bermaksud menyudutkan profesi dokter tetapi semata-mata memberikan informasi secara akurat dan bukan karangan atau “katanya” sehingga yg kurang jelas atau abu2 menjadi terang.
    Bung Paulus tahu kenapa harga obat di toko obat lebih murah dari apotek?

  10. noname said

    @Bung Paulus…
    yg jelas ini bukan soal positif thinking tapi realita, semoga anda mengerti dengan penjelasan yg sudah dipaparkan di atas

  11. dr.Rifkiwati said

    Solusinya hanya satu BEASISWA untuk CALON DOKTER dan SELEKSI BEASISWA HARUS TRANSPARAN, o iya beasiswa itu harus mencakup biaya hidup juga, nah tapi ada perjanjiannya jika lulus nanti tidak akan mencari keuntungan dari pasien. Kenyataannya selama ini banyak calon dokter mencari beasiswa tapi dipersulit, kalaupun ada beasiswa sering terlambat dibayar sehingga harus nombok terlebih dahulu. Kalau sudah begitu siapa yang harus disalahkan dokter korban dari oknum birokrat atau birokratnya, Selain itu birokrat juga harus terlibat, Pajak rumah sakit untuk dokter spesialis terlalu tinggi.

  12. dr.Rifkiwati said

    Saya membaca mengenai sistem pendidikan yang sudah dituliskan di bawah dan ingin meluruskan :
    1. S1 (sarjana kedokteran) bukan dokter ditempuh dalam waktu 3,5-4 tahun
    2. Profesi kedokteran ditempuh dalam waktu 1,5-2 tahun, bila lulus seseorang bisa menyandang gelar dokter
    3. Uji kompetensi memakan waktu sekitar 6 bulan mulai dari cara pengurusannya, try out, ujian hingga pengurusan administrasi yang berbelit belit
    Dari poin di atas bisa dilihat untuk menjadi seorang dokter umum di indonesia perlu waktu sekitar 6 tahun (bukan hanya S1+profesi). Untuk saat ini sesudah 5 tahun kuliah ditambah internship dan selama internship (magang) hanya digaji 1,2 juta/bulan. Sesudah itu bila ingin mengambil spesialis harus menempuh pendidikan lagi selama 4-6 tahun. Jadi bisa dihitung total sampai menjadi dokter spesialis kurang lebih seseorang harus bersekolah selama 10-12 tahun dan PERLU DIKETAHUI selama 10-12 tahun pendidikan DOKTER TIDAK DIGAJI dan TIDAK MEMPUNYAI PENGHASILAN dan SULIT MENDAPAT BEASISWA. Kemudian sesudah lulus dan menjadi dokter spesialis tidak serta merta langsung bisa diterima di rumah sakit elit yang bekerja sama dengan perusahaan besar dan farmasi, dokter yang digambarkan di atas adalah dokter yang sudah berpengalaman 30-40 tahun, tetapi mereka juga tidak salah karena seperti yang kita ketahui cara pembuatan obat bermerk (paten) lebih baik, padahal obat generik banyak menghabiskan anggaran negara tetapi entah kenapa mutunya kurang bila dibanding obat paten, dan entah kenapa pajak dr. Spesialis sangat besar melebihi profesi lain. Jadi siapa yang harus disalahkan sistem atau birokratnya.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: