KabarNet

Aktual Tajam

Anas Berjanji Melawan

Posted by KabarNet pada 23/02/2013

Jakarta – KabarNet: Ditetapkannya Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dinilai merupakan momen berakhirnya kekuasaanmua di Partai Demokrat. Sejak hari Jumat 22 Februari 2013, Anas menyandang status sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional, di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Anas menjadi tersangka ketiga dalam kasus dugaan korupsi proyek di Kemenpora itu setelah sebelumnya KPK menjerat bekas Menpora Andi Mallarangeng dan bekas Kepala Biro Keuangan Kemenpora, Deddy Kusdinar.

Anas Urbaningrum sejak semula sudah menyadari tidak lama lagi akan ditetapkan tersangka dalam kasus proyek Hambalang di Sentul, Bogor, Jawa Barat, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kesadaran itu muncul tak lama setelah ada desakan dari Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, agar KPK segera memperjelas status hukum dirinya bahwa “kalau benar katakan benar kalau salah katakan salah.

Anas pun mengatakan bahwa dirinya akan mengikuti proses hukum sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku. Nah, karena dia sudah menyandang tersangka, maka dirinya melepas jabatannya sebagai ketua umum. “Saya punya standar etik pribadi. Saya mengatakan kalau saya punya status tersangka, maka saya akan berhenti sebagai ketum demokrat. Ini bukan soal jabatan dan posisi, tapi ini adalah soal standar etik pribadi saya itu. Karena itu karena sudah menyandang tersangka, maka saya menyatakan mundur,” kata Anas saat menggelar keterangan di Kantor DPP Partai Demokrat yang berlokasi di Jl Kramat Raya 146 Jakpus, Sabtu (23/2/2013).

Namun Anas tak akan tinggal diam. Ia berjanji akan mengungkap berbagai hal dalam Kongres Partai Demokrat di Bandung, Jawa Barat, pada 2010. Menurut Anas, apa yang dia alami saat ini berkaitan dengan kongres tersebut. “Kalau mau ditarik agak jauh ke belakang, sesungguhnya ini pasti terkait dengan kongres Partai Demokrat. Saya tidak ingin cerita panjang. Pada waktunya saya akan cerita lebih panjang,” kata Anas.

Meski sudah menyatakan mundur sebagai Ketum Partai Demokrat setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Hambalang oleh KPK, Anas Urbaningrum menyatakan bahwa dirinya tidak akan berdiam diri. Mantan Ketua PB HMI itu pun nampaknya ingin melawan atas perlakuan yang dia dapatkan selama mejadi Ketum di PD.

Anas Urbaningrum benar-benar yakin bahwa dirinya sebenarnya tidak bersalah dalam kasus korupsi Hambalang seperti yang dituduhkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia pun merasa bahwa kasusnya ini adalah rekayasa. Karenanya dia mengindikasikan akan melawan dan yakin pasti menang.

“Saya katakan ini adalah ini awal langkah-langkah besar. Ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman-halaman berikutnya yang akan kita baca bersama-sama,”….. “Ini bukan tutup buku, ini pembukaan buku halaman pertama. Saya katakan ini adalah ini awal langkah-langkah besar. Masih banyak halaman-halaman berikutnya yang akan kita baca bersama-sama,” ujarnya dengan nada tegas.

Anas pun melepas jaket berwarna biru yang menjadi simbol Demokrat. Dia mengaku merasa merdeka setelah melepas jaket warna biru kebanggaan Partai Demokrat. “Saya melepas jaket ini dan saya akan menjadi manusia yang bebas dan merdeka. Bukan berarti selama ini tidak bebas dan merdeka tetapi, ada maknanya secara etik dan organisatoris”, lanjutnya.

Tak pelak para kader PD yang memenuhi kantor tersebut langsung menjambutnya dengan tepuk tangan dan seruan dukungan untuk Anas. Ya, dalam pidato Anas mengatakan bahwa apa yang dialami selama ini hingga akhirnya menjadi tersangka tak lain lantaran ada kekuatan besar yang memang ingin menjadikan dirinya pesakitan.

Untuk itulah dia melontarkan kata-kata tajam yang mengindikasikan akan melawan pihak-pihak yang sudah menekannya. “Saya tahu betul bahwa politik keras dan kasar. Dalam dunia politik tidak sulit menemukan intrik, fitnah dan serangan lainnya. Saya pun menyadari sejak awal dan tahu konsekuensinya. Maka saya sampaikan saya tidak pernah mengeluh akan keadaan ini. Saya punya keyakinan kuat dan semangat untuk menghadapinya termasuk dengan resiko dan konsekuensinya. Menurut saya keadaan ini tidak ganjil, tidak aneh. apalagi di PD memang masih muda,” ujarnya.

Dengan muka tampak lelah, Anas Urbaningrum menyampaikan keterangan resmi kepada wartawan di kantor DPP Partai Demokrat. Mantan anggota KPU itu menyatakan mengundurkan diri sebagai ketum Partai Demokrat, sehari setelah menyandang status tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek Hambalang. Berikut pernyataan lengkap mantan Ketum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu:

Assalamualaikuam warrahmatullahi wabarukatuh. Terima kasih dan selamat datang kepada rekan-rekan wartawan. Hari ini saya akan menyampaikan sikap, pikiran dan pandangan terkait status sebagai tersangka.

Seperti diketahui bersama tanggal 22 Februari 2013 KPK sudah mengumumkan bahwa saya dinyatakan berstatus tersangka. Atas pengumuman KPK itu, saya menyatakan akan mengikuti proses hukum sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku. Karena saya masih percaya bahwa lewat proses hukum yang adil dan obyektif dan transparan, kebenaran dan keadilan bisa saya dapatkan.

Saya garis bawahi, saya masih percaya lewat proses hukum yang adil, obyektif, dan transparan berdasarkan kriteria-kriteria dan tata laksana yang memenuhi standar, saya yakin kebenaran dan keadilan masih bisa ditegakkan. Karena saya percaya negeri kita ini berdasarkan hukum dan keadilan, bukan berdasarkan prinsip kekuasaan.

Yang kedua, saudara-saudara sekalian, lewat proses hukum yang obyektif dan transparan itu saya akan melakukan pembelaan hukum sebaik-baiknya.

Dan lewat proses hukum itu, berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kredibel, saya meyakini betul sepenuh-penuhnya bahwa saya tidak terlibat di dalam proses pelanggaran hukum yang disebut sebagai proyek Hambalang itu. Ini saya tegaskan karena sekali lagi, sejak awal, saya punya keyakinan yang penuh tentang tuduhan-tuduhan yang tak berdasar itu.

Saya meyakini bahwa kebenaran dan keadilan pangkatnya lebih tinggi dari fitnah dan rekayasa. Kebenaran dan keadilan akan muncul mengalahkan fitnah dan rekayasa, sekuat apapun dibangun, sehebat apapun itu dibangun, serapi apapun itu dijalankan. Itu keyakinan saya.

Saudara-saudara sekalian, saya ingin sampaikan, sejak awal saya meyakini bahwa saya tidak akan punya status hukum di KPK. Mengapa? Karena saya yakin KPK bekerja independen, mandiri, dan profesional. Karena saya yakin KPK tidak bisa ditekan oleh opini dan hal-hal lain di luar opini, termasuk tekanan dari kekuatan-kekuatan sebesar apapun itu.

Saya baru mulai berpikir saya akan punya status hukum di KPK ketika ada semacam desakan agar KPK segera memperjelas status hukum saya. “Kalau benar katakan benar, kalau salah katakan salah.”

Ketika ada desakan seperti itu, saya baru mulai berpikir jangan-jangan, saya menjadi yakin, saya menjadi tersangka setelah saya dipersilakan untuk lebih fokus berkonsentrasi menghadapi masalah hukum di KPK. Ketika saya dipersilakan untuk lebih fokus menghadapi masalah hukum di KPK berarti saya sudah divonis punya status hukum yang dimaksud, yaitu tersangka.

Apalagi saya tahu, beberapa petinggi Partai Demokrat yakin betul, hakkul yakin, Anas menjadi tersangka. Rangkaian ini pasti tidak bisa dipisahkan dengan bocornya apa yang disebut sebagai sprindik (surat perintah penyidikan). Ini satu rangkaian peristiwa yang pasti tidak bisa dipisahkan.

Itu satu rangkaian peristiwa yang utuh. Sama sekali terkait dengan sangat erat. Itulah faktanya, itulah rangkaian kejadiannya. Dan tidak butuh pencermatan yang terlalu canggih untuk mengetahui rangkaian itu. Bahkan masyarakat umum dengan mudah membaca dan mencermati itu.

Saudara-saudara sekalian, kalau mau ditarik agak jauh ke belakang sesungguhnya ini pasti terkait dengan Kongres Partai Demokrat. Saya tidak ingin bercerita lebih panjang. Pada waktunya saya akan bercerita lebih panjang.

Tetapi inti dari kongres itu ibarat bayi yang lahir. Anas adalah bayi yang lahir tidak diharapkan. Tentu rangkaiannya menjadi panjang. Dan rangkaian itu saya rasakan, saya alami, dan menjadi rangkaian peristiwa politik dan organisasi di Partai Demokrat. Pada titik ini, saya belum akan menyampaikan secara rinci. Tapi ada konteks yang sangat jelas menyangkut rangkaian-rangkaian peristiwa politik itu.

Saudara-saudara sekalian, ketika saya memutuskan terjun ke dunia politik dan saya masuk menjadi kader Partai Demokrat, saya sadar betul bahwa politik kadang-kadang keras dan kasar. Dalam dunia politik, tidak sulit untuk menemukan intrik, fitnah, dan serangan-serangan. Itu saya sadari sejak awal.

Dan karena itu, saya tahu persis konsekuensi-konsekuensinya. Maka saya sampaikan saya tidak akan pernah mengeluh dengan keadaan ini. Saya tidak akan pernah mengeluh tentang perkembangan situasi ini. Dan saya punya keyakinan kuat dan semangat untuk terus menghadapinya, termasuk dengan risiko dan konsekuensi. Itu hal yang lazim saja.

Saya anggap sebagai sebuah kelaziman, tidak ganjil, tidak aneh. Apalagi di dalam sistem demokrasi kita yang masih muda, termasuk Partai Demokrat yang tradisinya masih muda.

Saudara-saudara sekalian, karena saya sudah punya status hukum sebagai tersangka, meskipun saya yakin posisi tersangka itu lebih karena faktor nonhukum, tetapi saya punya standar etik pribadi.

Standar itu mengatakan “kalau saya punya status hukum sebagai tersangka, maka saya akan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.” Ini bukan soal jabatan atau posisi, ini soal standar etik.

Standar etik pribadi saya itu, Alhamdulillah cocok dengan pakta integritas yang diterapkan di Partai Demokrat. Saya sendiri di tempat ini, seminggu lalu kurang lebih, sudah menandatangani pakta integritas. Dengan atau tanpa pakta integritas pun, standar etik pribadi saya mengatakan hal seperti itu: “Saya berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.”

Terkait dengan itu, saya ingin menyampaikan terima kasih yang tulus pada kader-kader Partai Demokrat. Yang telah memberikan kepercayaan dan mandat politik kepada saya untuk memimpin Partai Demokrat sebagai Ketua Umum periode 2010-2015.

Saya mohon maaf kalau saya berhenti di awal 2013. Saya tidak merencanakan untuk berhenti di tahun 2013. Sejauh perjalanan yang saya tempuh, saya jalankan, saya tunaikan, sebagai ketua umum, sepenuhnya saya bersungguh-sungguh menjalankan mandat dan amanat politik partai itu.

Tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Tentu ada capaian prestasi dan masih ada bolong-bolongnya, ada lubang-lubangnya. Tapi saya menegaskan semua itu saya jalani dengan sungguh-sungguh, serius, penuh konsentrasi karena itu bagian dari panggilan jiwa politik saya.

Alhamdulillah saya bersyukur di dalam proses menunaikan tugas kurang lebih hampir tiga tahun, dua setengah tahun lebih, semuanya saya jalankan dengan penuh kesungguhan dna konsentrasi.

Terimakasih pada kader-kader Demokrat yang selama ini sama-sama menjalankan dan menunaikan tugas sesuai dengan kewenangan, otoritas, dan tugas masing-masing. Pengurus Dewan Pimpinan Pusat, pengurus DPD, DPC, kader-kader di seluruh Indonesia, Dewan Pembina, Majelis Tinggi, Komisi Pengawas, saya sampaikan terimakasih yang selama ini bersama-sama menjalankan tugas.

Meskipun saya sudah berhenti menjadi Ketua Umum, saya akan tetap menjadi sahabat bagi kader-kader Partai Demokrat. Saya ketika melepas tentu tidak punya kewenangan organisatoris karena saya sudah lepas. Tetapi saya menjaminkan satu hal, yaitu ketulusan persahabatan dan persaudaraan.

Saya jamin ketulusan itu kepada kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia, apapun nanti tugas langkah yang akan saya tempuh, termasuk saya ada di dalam atau di luar, apakah saya menjalani proses hukum, apakah proses hukum itu berjalan adil, obyektif, transparan atau tidak, saya menyatakan, menegaskan, menggarisbawahi, saya menjamin ketulusan persahabatan dan persaudaraan. Loyalitas sebagai sahabat merupakan bagian yang indah dan menyegarkan dalam dinamika politik partai yang kadang-kadang keras dan agak panas.

Karena itulah saya yakin betul, saya akan tetap berkomunikasi sebagai sahabat dengan kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia. Tidak dalam posisi sebagai Ketua Umum, tetapi sebagai teman dan sahabat.

Saya juga berharap siapapun yang nanti menjadi Ketua Umum Partai Demokrat bisa menunaikan tugas, bahkan jauh lebih baik dari apa yang sudah saya tunaikan bersama teman-teman pengurus. Saya yakin pasti akan datang ketua umum yang lebih baik. Saya percaya itu, karena sejarah selalu melahirkan pemimpin pada waktunya.

Selanjutnya, saudara-saudara sekalian, apa yang akan saya lakukan ke depan adalah tetap dalam kerangka memberikan kontribusi dan menjaga momentum bagi perbaikan peningkatan dan penyempurnaan kualitas demokrasi di Indonesia. Apapun kondisi dan keadaan saya.

Kondisi dan keadaan saya itu bukan faktor. Faktornya yang penting adalah bahwa saya akan tetap bersama-sama dalam sebuah ikhtiar untuk membuat Indonesia ke depan makin baik dan makin bagus.

Hari-hari ini dan ke depan, akan diuji pula bagaimana etika Partai Demokrat. Partai yang etikanya bersih, cerdas, dan santun. Akan diuji oleh sejarah apakah Demokrat partai yang bersih atau tidak bersih. Partai yang bersih atau korup. Akan diuji partai yang cerdas atau partai yang tidak cerdas. Partai yang solutif menawarkan gagasan cerdas dan bernas atau partai yang tidak seperti itu.

Juga diuji apakah Demokrat akan menjadi partai yang santun dan sadis. Apakah yang akan terjadi kesantunan politik atau sadisme politik? Tentu ujian itu akan berjalan sesuai dengan perkembangan waktu dan keadaan.

Tetapi yang paling penting saya garis bawahi, bahwa tidak ada kemarahan dan kebencian. Kemarahan dan kebencian itu jauh dari rumus politik yang saya anut. Dan mudah-mudahan juga dianut siapapun kader-kader Partai Demokrat.

Di atas segalanya, saya ingin menyatakan barangkali ada yang berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya. Barangkali ada yang meramalkan dan menyimpulkan ini adalah akhir dari segalanya. Hari ini, saya nyatakan ini baru permulaan. Hari ini saya nyatakan ini baru sebuah awal langkah-langkah besar. Hari ini saya nyatakan ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman-halaman berikutnya yang akan kita buka dan baca bersama. Tentu untuk kebaikan kita bersama.

Saya sekali lagi dalam kondisi apapun akan tetap berkomitmen berikhtiar memberikan sesuatu yang berharga bagi masa depan politik kita, demokrasi kita. Jadi, ini bukan tutup buku. Ini pembukaan buku halaman pertama. Saya yakin halaman-halaman berikutnya akan makin bermakna bagi kepentingan kita bersama.

Inilah saudara-saudara sekalian, beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan siang hari ini. Saya akan terus menjadi sahabat-sahabat kalian.

Karena banyak buku yang akan kita baca bersama. Buku-buku itu jangan dipahami dalam perspektif yang ngeres, tetapi positif dan konstruktif, kebaikan dan kemaslahatan yang lebiih besar. Itulah yang menjadi titik orientasi kita.

Saya akan melepas jaket biru kebesaran, dan saya akan menjadi manusia yang bebas dan merdeka. Bukan berarti selama ini tidak bebas dan merdeka. Tapi tentu ini ada maknanya secara etik dan organisatoris. Selamat berjuang kader-kader Demokrat di seluruh Indonesia, berjuang sesuai pilihan yang merdeka.

Sebelumnya Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pemberian dan janji dalam kaitan proyek Hambalang. Anas tidak hanya diduga menerima pemberian hadiah terkait perencanaan, pelaksanaan, dan pembangunan pusat olahraga Hambalang, tetapi juga terkait proyek-proyek lain.

Berdasarkan Sprindik tertanggal 22 Februari 2013, Anas disangka dengan pasal 12 huruf a dan b, atau pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah menjadi UU 20 tahun 2001 tentang pemberantasan korupsi. Artinya, Anas sebagai penyelenggara negara saat menjadi anggota DPR RI telah menerima pemberian terkait proyek Hambalang. Pasal 12 UU Pemberantasan Tipikor antara lain menyebutkan, “Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.” [KbrNet/Slm/jpnn]

11 Tanggapan to “Anas Berjanji Melawan”

  1. Anonim said

    Hhmmmm…Mang cara ngelawannya gimana ?

  2. Maria Sitompoel said

    Ngelawan….? gimana caranya..? Ulu pisau dipegan SBY, sedangkan pisaunya dipegang si ANAS,

  3. taUbat said

    . . P . O . L . I . T . I . K . .

    SPINDIK = TERSANGKA = BANGKAI

    __SEPINTAR-PINTARNYA BANGKAI DITUTUPI, BAUNYA TERCIUM JUGA __

  4. Udah lah Nas, jangan main gertak……
    Kalau mau ngelawan sekaranglah, buka semua siapa yang terlibat dihambalang, itu baru bener.
    Apa kata dunia, Anas ngak terlibat, wong Nazar itu koncomu dan orang Hindustan lagi mau dapat proyek sana sini, ngak masuk akal.
    Jangan baca buku politik mulu, baca juga buku manajemen konstruksi, Hukum kontrak, Mafia tender, Mafia Hukum dan apa hukumnya korupsi dunia akherat.
    Apa Nazar itu orang yang pernah di pucuk HMI, di pucuk KPU dll coba jawab…
    Jujur ajalah, kalau udah begini mau apa lagi, coba sejak tertangkap nya Rosa dan Wafid kau urus ngak akan terbuka kayak gini……..
    Aman dah, ini kau tinggalkan Si Nazar, kau menari di atas penderitaan Nazar, Angelina, Neneng, Rosa, Wafid, Dedi, Alfian Malaranggeng, tunggu aja balasannya.

  5. nazarudin dipenjara, trus dia nyerang anas
    sekarang anas ditetapkan sbg tersangka (mungkin nanti dipenjara)
    semoga dia akan nyerang SBY

    cihuy mantap

  6. taUbat said

    Konferensi Pers Anas Urbaningrum terkait Status TERSANGKA Hambalang



  7. taUbat said

    Sprindik itu binatang sejenis apa, terus yang dipermasalahkan….

    Sprindik bocor lalu targetnya masih ada, jadi sebenarnya apa yang dipermasalahkan ….

    Hukum atau Politik yang dipermasalahkan ….

  8. Si munafik said

    Biasalah….dulu nyangkal, ….sekarang malah balik nyerang….Aneh…

    Hukum yang bersalah. Titik.

  9. taUbat said

    KOMITE ETIK KPK SENTIL WARTAWAN TEMPO & MEDIA INDONESIA

    Senin, 11 Maret 2013 16:56 wib

    Jakarta – Okezone – Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyesalkan ketidakhadiran wartawan Tempo dan Media Indonesia terkait pemeriksaan kebocoran draft Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum.

    Anggota Komite Etik, Abdullah Hehamahua, mengatakan, ketidakhadiran mereka cukup mengganggu komite etik dalam mengungkap siapa pembocor draft sprindik tersebut.
    “Kalau tidak hadir memang ganggu, tapi kami bisa gunakan sumber lain,” ujar dia ketika dijumpai di Gedung KPK, Jakarta, Senin (11/3).

    Abdullah bahkan menyebut mereka termasuk pihak yang tidak pro pemberantasan korupsi. “Bagi saya yang tidak mau datang itu sudah tanda petik. Tidak bantu pemberantasan korupsi,” kata pria yang juga penasihat KPK itu.

    Sebelumnya, Ketua Komite Etik, Anis Baswedan, menyatakan dua wartawan itu mengetahui detail maupun ikut terlibat secara langsung dalam bocornya draft sprindik Anas Urbaningrum. Keduanya adalah Tri Suharman dari Tempo dan Rudi Polycarpus dari Media Indonesia.

    Seperti diketahui, draft Sprindik atas nama Anas Urbaningrum bocor ke publik, sebelum Sprindik resmi KPK dikeluarkan secara pada 22 Februari 2013. Terkait hal itu, KPK membentuk Komite Etik untuk menelusuri kebenaran siapa pembocor Sprindik tersebut.

    Mustholih

  10. […] Kencan dengan Wanita KarirRadikal Bebas Dan Pengaruhnya Pada KesehatanJangan Salahkan PernikahanAnas Berjanji MelawanJangan Salahkan Pernikahan currPath = […]

  11. taUbat said

    PKS MINTA PIMPINAN KPK TERLIBAT KASUS SPRINDIK DIBERHENTIKAN

    Selasa, 2 April 2013 17:34 WIB

    Tribunenews.com – Jakarta – Komite Etik Komisi Pmeberantasan Korupsi (KPK) yang mengusut kebocoran dokumen surat perintah penyidikan (sprindik) Anas Urbaningrum terkait kasus Hambalang hingga kini belum juga mengumumkan hasil investigasinya.

    Padahal, masa kerja tim yang diketuai Anies Baswedan ini sudah selesai sejak 1 April 2013 kemarin.

    Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Indra berharap, Komite Etik KPK yang rencananya akan mengumumkan hasilnya pekan ini tidak terintervensi kepentingan apa pun dalam mengusut dokumen yang menurutnya rahasia negara tersebut.

    “Jangan sampai ada kepentingan apa pun dalam kasus ini. Komite Etik harus bekerja secara profesional. Kasus sprindik ini serius. Kami dukung KPK tapi kalau ada pelanggaran kami kritik,” kata Indra di kantor Kementerian Hukum dan HAM, Kuningan, Jakarta, Selasa (2/4/2013).

    Indra yang juga merupakan anggota Komisi III DPR ini menegaskan bahwa pimpinan KPK harus legowo dengan hasil keputusan Komite Etik jika nantinya memang terbukti melakukan pelanggaran.

    Terkait sanksi, Indra menuturkan harusnya tegas dilaksanakan bagi yang bersalah.

    “Kalau pelanggaran berat, sanksi terberat ya mundur, kalau tidak mau mundur ya diberhentikan,” ujarnya.

    Perlu diketahui, Komite Etik hanya mengusut kasus kebocoran sprindik pada level pimpinan KPK. Sedangkan di level pegawai, kasus ini ditangani oleh Dewan Pertimbangan Pegawai. Saat ini, beredar kabar bahwa salah satu pegawai KPK berinisial WS sudah diberhentikan sejak 28 Maret 2013 lalu lantaran terbukti terlibat pada bocornya sprindik tersebut.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: