KabarNet

Aktual Tajam

Kapan Hari AKHLAQ Nasional?

Posted by KabarNet pada 11/03/2013

Jakarta – KabarNet: Salah satu keunikan Presiden SBY adalah sikap nyeleneh yang kadang muncul tidak pada tempatnya. Kali ini kembali muncul sensasi yang tidak kalah anehnya. Disaat negara tengah disibukkan dengan pengungkapan kasus korupsi serta sederet permasalahan, Presiden kita malah menetapkan tanggal 9 Maret sebagai hari musik nasional. Apa gerangan Presiden SBY? Entah karena sudah bingung dengan banyaknya masalah yang tidak kunjung selesai, atau memang musik sedemikian penting dibanding pembenahan moral bangsa. Rasanya lebih pas jika tanggal 9 Maret ditetapkan sebagai HARI AKHLAQ NASIONAL, mengingat keboborokan MORAL bangsa yang tampak terlihat mulai dari PEJABAT negara hingga rakyat biasa.

Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan semangat bagi dunia seni terutama musik di Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013 yang menetapkan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. Sang kepala negara, sepertinya sudah bosan memikirkan urusan kebejatan MORAL para pemimpin negeri ini. SBY lebih bersemangat untuk menetapkan satu hari khusus sebagai hari musik nasional ketimbang memprioritaskan penuntasan masalah lain yang membelit negeri ini.

Melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013, presiden SBY menetapkan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. Sebagaimana diberitakan dalam situs Sekretariat Kabinet, Sabtu kemarin, penetapan tersebut untuk meningkatkan apresiasi terhadap musik Indonesia, meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi para insan Indonesia, serta untuk meningkatkan prestasi yang mampu mengangkat derajat musik Indonesia secara nasional, regional, dan internasional.

Keppres itu ditandatangani Presiden setibanya di tanah air Sabtu (9/3/2013) pagi, setelah selama sepekan melakukan perjalanan dinas ke Jerman dan Hongaria itu. Dalam Keppres itu juga disebutkan, penetapan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional itu mempertimbangkan bahwa musik adalah ekspresi budaya yang bersifat universal dan multidimensional, yang mempresentasikan nilai-nilai luhur kemanusiaan, serta memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. “Para insan musik Indonesia bersama masyarakat, selama ini telah memperingati tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional,” tegas Keppres tersebut.

Jika ada yang menganggap musik menjadi media pengagungan nilai-nilai luhur bangsa, mungkin harus dilihat juga musik seperti apa yang bisa mewakili pendapat seperti itu. Di zaman sekarang musik cenderung menjadi sekedar media penghasil uang yang sedikit sekali memperhatikan atau mengandung nilai luhur. Tidak sedikit musik yang justru menjadi PERUSAK MORAL BANGSA dengan terbuka lebarnya kesempatan budaya luar negeri khususnya budaya BANGSA BARAT masuk dan mempengaruhi budaya generasi muda Indonesia, yang cenderung memberikan pengaruh BURUK bagi generasi bangsa. Misalnya pengekspresian musik dengan gaya busana yang seronok, serta hal negatif lain yang bukannya mengekspresikan nilai luhur namun lebih kepada kerusakan MORAL.

Jika para seniman musik, artis dan penyanyi telah menanti selama 10 tahun untuk ditetapkannya HARI MUSIK NASIONAL, maka seluruh rakyat Indonesia juga telah sangat lama menantikan tibanya penetapan HARI AKHLAQ NASIONAL oleh Pemerintah, dimana diharapkan dengan adanya momentum nasional tersebut, penyakit kerusakan moral bangsa kita akan sedikit berkurang dari tahun ke tahun. Pertanyaannya, AKANKAH HARI ITU TIBA?

Salim Syarief MD

7 Tanggapan to “Kapan Hari AKHLAQ Nasional?”

  1. Sule Prikitiew said

    SBY antek Zionis Yahudi, kepanjangan tangan penjajah Amerika

  2. Suprayitno said

    Resensi Buku Eggi Sudjana : “SBY Antek Yahudi AS?”

    egi-sudjana-buku

    Kedekatan hubungan SBY dengan AS memang menimbulkan tanda tanya besar. Tampaknya hubungan dirinya dengan AS termasuk dalam hal ini Yahudi AS tidak hanya bersifat ekonomi politik, tetapi juga berdimensi emosional.

    Memang sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan dari pemimpin Indonesia belum mampu bahkan gagal menunjukan keberpihakan kepada rakyat kecil, apalagi kepada kaum Muslimin. Hal ini mungkin karena para pemimpin telah terbuai dengan posisi nyaman, sehingga yang terbesit dipikiran mereka hanyalah bagaimana mereka langgeng dan mengamankan kepemimpinannya. Atau justru kepemimpinan yang didapat karena besarnya andil dari AS sehingga mereka tidak bisa lepas dari balas budi dan kungkungan atau kuatnya cengkraman.

    Para pemimpin bersedia melakukan apa saja dengan dalih kerjasama. Bila benar demikian, para pemimpin seperti itu layak dikatakan sebagai antek, budak yang harus mau mengikuti tuannya.
    Dalam hal ini simaklah pernyataan SBY seperti di kutip dari International Herald Tribune (8/1/2003). Saat itu, SBY adalah seorang jenderal bintang tiga Angkatan Darat. Lelaki yang bertubuh tegap dan nampak gagah ini mengatakan, “I Love the United States, With all its faults. I consider it my second country”, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih, “Saya mencintai Amerika dengan segala kesalahannya. Saya anggap Amerika adalah negeri kedua saya”.

    Pernyataan demikian dideklarasikan oleh SBY ketika menjabat sebagai Menkopolkam pada era Presiden Megawati Soekarno Putri. Ucapan semacam itu boleh jadi disampaikan untuk memperoleh credit point dari Pemerintahan AS. Dengan dukungan dari Pemerintah AS, kemudian SBY mendirikan Partai Demokrat, nama yang sama seperti Partai Demokrat di AS. Ternyata strategi tersebut berhasil membawa SBY menjadi Presiden Indonesia.

    Fenomena semacam ini menjadi pemandangan yang sangat menarik apabila kita juga melihat bagaimana proses Obama untuk menjadi Presiden AS. Obama yang pandai berpidato itu juga menyampaikan buah fikirannya di depan konfrensi lobi Yahudi, America-Israel Public Affair Committee (AIPAC) bahwa “Undivided Jerusalem, the Capital of Israel for all Eternity” hal itu berarti Yerusalem sebagai ibukota Israel Raya untuk selamanya. Bahkan Obama mengatakan “Yerusalem tidak boleh terpisah, dia harus menjadi ibukota Israel”. Obama juga mengatakan jika menjadi presiden, Amerika akan bahu membahu dengan Israel.

    Pernyataan demi pernyataan semacam ini dapat diduga untuk menarik dukungan kaum Yahudi, sehingga bila dihubungkan dengan pernyataan SBY merupakan permohonan restu dukungan kepada Pemerintahan AS, sedangkan Obama meminta dukungan lobi Yahudi AS. Menurut Eggi Sudjana, penulis buku “SBY Antek Yahudi-AS?; Suatu Kondisi Menuju Revolusi”, ucapan SBY tersebut sebagai wujud penghambaan kepada dan untuk kepentingan AS dan sekutunya di Indonesia. Eggi dalam bukunya juga menyatakan bahwa sejak zaman Soeharto lengser, tidak ada calon presiden yang memberikan pernyataan itu, kecuali SBY.

    Meskipun Obama dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diduga sama-sama antek Yahudi AS, Obama tampak lebih baik. Hal ini terlihat bagaimana Presiden AS tersebut menempatkan reformasi jaminan kesehatan (Obamacare) sebagai prioritas kebijakan domestiknya. Adalah mengherankan SBY tidak mengikuti langkah baik Obama tersebut. Tentu sekarang muncul pertanyaan, lantas dimana adanya Yudhoyonocare itu?

    Indikasi pemerintahan SBY Sebagai Antek Yahudi AS

    Beberapa kutipan tulisan dalam buku setebal 268 halaman ini menggambarkan adanya indikasi SBY sebagai antek Yahudi-AS. Misalnya saja dalam Kabinet Indonesia Bersatu I, terdapat sosok seperti Sri Mulyani Indrawati, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)—kemudian menjadi Menteri Keuangan dan kini menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia termahal, karena menjadi direksi Bank Dunia. Kemudian ada Marie Elka Pangestu (Menteri Perdagangan), Andung Nitimiharja (Menteri Perindustrian), Jusuf Anwar (Menteri Keuangan), Purnomo Yusgiantoro (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) yang di mata Baswir, mereka tergolong penganut neolib yang gandrung terhadap ekonomi pasar. Mereka rata-rata pernah bekerja atau terlibat dalam lembaga-lembaga unilateral sponsor utama neoliberalisme, seperti IMF, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia (ADB).

    Sementara itu, Menteri Perindustrian M.S Hidayat (Mantan Ketua Umum Kadin) juga sempat berharap pengusaha Israel menginvestasikan dana di Indonesia tidak lagi melalui pihak ketiga, jika hubungan diplomatik Indonesia-Israel terjalin dan perdamaian Timur Tengah tercapai.

    Pada halaman 59 buku ini, Eggi menuliskan “… seperti Soeharto dan SBY dianggap Amerika sebagai good boy, karena mudah didikte dan diatur, maka mereka berdua disebut sebagai budak imperialisme Amerika”.

    Buku SBY Antek Yahudi-AS? juga membongkar makar lima perusahaan tambang raksasa milik Yahudi AS yang beroperasi di Indonesia, yakni Freeport McMoran, Exxonmobile, Chevron, Conoco Philips, dan Newmont. Bahkan pada 2008, kebutuhan energi minyak pantai bagian barat wilayah Amerika Serikat dipasok langsung dari kilang Tangguh di Papua”.

    Dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan Eggi juga menggugat keberadaan Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU 2) yang disinyalir menjadi sarang intelijen asing. Hal ini membuktikan sekali lagi betapa terangnya keberpihakan SBY kepada Yahudi AS. Atau hal ini menjadi indikasi nyata bahwa SBY memang bagian dari jaringan Yahudi AS itu.

    Di bagian lain, Eggi juga menyatakan bahwa pemerintahan SBY terkenal pengecut terhadap tekanan Yahudi AS. Dia tidak berani untuk melakukan nasionalisasi perusahaan-prusahaan multi nasional (MNC) dan transnasional (TNC) milik Yahudi AS dan Inggris yang beroperasi di Indonesia. Pemerintahan SBY dinilainya serupa dengan pemerintahan Soeharto, tidak berani membersihkan pengaruh Yahudi AS di Indonesia. Bahkan untuk melakukan kontrak ulang untuk memberikan laba yang lebih besar kepada Indonesia tidak pernah dilakukan oleh SBY.

    SBY malah lebih cenderung untuk menjaga dan melindungi kepentingan Yahudi AS di Indonesia. Kedekatan hubungan SBY dengan AS memang menimbulkan tanda tanya besar. Tampaknya hubungan dirinya dengan AS temasuk dalam hal ini Yahudi AS tidak hanya bersifat ekonomi politik, tetpi juga sudah berdimensi emosional.

    Dalam buku tersebut juga dilampirkan dua buah foto lawas SBY sebagai komandan pasukan PBB di Bosnia Herzegovina bersama dengan Jendral Radko miladic (Serbia). Foto lainnya nampak SBY, Jendral Radko Miladic, dan Kompol. Timur Pradopo yang kini menjadi Kapolri. Foto-foto tersebut diambil antara tahun 1994-1995 ketika terjadi pembantaian 3000 kaum muslimin di Bosnia Herzegovina.

    Pada masa pemerintahan SBY ini, cengkraman AS terhadap Indonesia semakin dalam dengan ditandatanganinya Comperhensive Partnership Agreement pada 17 September 2010 yang meliputi kerjasama politik dan kemanan, kerjasama ekonomi dan pembangunan, dan kerjasama dalam sosial-budaya, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan hal-hal teknologi.

    J.W Lotz menyatakan bahwa kaum Zionis Yahudi AS lebih menyukai kubu SBY-Boediono yang lebih liberal pemikirannya (berkiblat ke Amerika). Dalam pilpres 2009 dimenangkan kembali oleh SBY, artinya bahwa kekuatan lobi Yahudi AS tetap mempertahankan supremasi TNI AD di Indonesia dengan tujuan untuk mempertahankan kekuasaan konspirasi Barat di Indonesia. Kekuatan lobi Yahudi AS lebih suka bersekutu dengan petinggi TNI AD dibanding dengan tokoh-tokoh politik.

  3. Saya sarankan SBY harus membuat hari “Budaya Nasional” seperti yang ada di Jepang
    kalau menurutku “Hari Musik Nasional” akan lebih bagus jika musik yang digunakan musik-musik tradisional seperti angklung dll,
    masalahnya sekarang musik yang mengandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sudah mulai pudar dan hampir sama sekali tidak ada kebanyakkan musik jaman sekarang mengarah ke cinta-cintaan bukan terhadap nilai luhur,
    hal ini harus di perhatikan oleh pak SBY.

  4. gak penting banget
    di Indonesia udah kebanyakan hari2 peringatan
    baik nasional dan maupun yg internasional
    ada
    hari ibu, hari anak, hari tanpa tembakau, hari AIDS, hari, cuci tangan, hari bumi, hari air, hari guru, hari olah raga, hari sehat, hari jantung, hari valentine, hari halloween, hari stroke, hari film, hari anti korupsi dll

    semuanya gak penting

  5. panji gumilang said

    Itulah kalo seorang pemimpin yang hobinya mengumbar syahwat..setelah hari musik nasional pasti dia akan buat hari dugem nasional, hari maksiat nasional…dasar presiden KAMPRET..!!

  6. tan panama said

    olis didakwa bertindak ganas dalam memburu penceroboh

    TERKINI @ 02:42:03 PM 10-03-2013

    Oleh Clara Chooi
    Penolong Pengarang Berita
    March 10, 2013
    Laporan juga mengatakan warga Malaysia berketurunan Tausug juga dibelasah di tangan polis, termasuk mereka yang memegang MyKad. – Gambar fail

    KUALA LUMPUR, 10 Mac — Ribuan warga Filipina dilaporkan melarikan diri dari Sabah dan pulang ke negara mereka bimbang tentang penderaan dan keganasan yang didakwa akan digunakan oleh polis Malaysia ke atas orang Suluk dan mereka disyaki penyokong keluarga Kiram, menurut laporan media Filipina.

    Golongan pelarian itu diwawancara oleh The Philippine Daily Inquirer semalam, mendakwa mereka melarikan diri dari Malaysia timur selepas menyaksikan keganasan yang dilakukan pihak berkuasa dalam usaha menghalau penceroboh awal minggu ini.

    Seorang pelarian berkata, lelaki Filipina ada yang diheret dari rumah mereka dan dipukul, dan memaksa mereka berlari sebelum polis menembak ke arah mereka, walaupun mereka menunjukkan dokumen imigresen mereka yang sah untuk tinggal di Malaysia.

    Laporan juga dikatakan sampai ke Sultan Jamalul Kiram III, yang mendakwa dirinya sebagai Sultan Sulu, dimana adiknya Agbimuddin Kiram mengetuai pencerobohan di Sabah, mengatakan warga Malaysia berketurunan Tausug juga dibelasah di tangan polis, termasuk mereka yang memegang MyKad.

    Orang Tausug juga dikenali sebagai orang Suluk yang datang dari kepulauan Sulu di Filipina.

    “[Rakyat Malaysia] mendakwa mereka sudah beri ‘toleransi maksima’, tetapi itu tidak benar. Mereka memberi ‘keganasan maksima’ dan itu yang sedang berlaku. Perempuan, termasuk wanita mengandung, dan kanak-kanak juga ditembak oleh tentera Malaysia,” kata anak Jamalul, “puteri” Jacel Kiram, yang dilaporkan di Manila Standard Today.

    Jurucakap Kiram, Abraham Idjirani mendakwa seorang perempuan hamil turut dipukul ketika operasi, menyebabkan beliau terpaksa melahirkan anak tersebut ketika ditahan di Kampung Tanduo, Lahad Datu, tempat di mana penceroboh itu menyembunyikan diri.

    “Wanita mengandung itu melahirkan anaknya di balai polis, tetapi anaknya mati selepas itu. Orang ramai diheret oleh pihak polis,” kata Idjirani, menurut Manila Standard Today. “Mereka bukan sahaja menahan orang Filipina dan penyokong sultan, tetapi warganya sendiri.”

    Dalam laporan Philippine Daily Inquirer, seorang warga Filipina berusia 32 tahun mendakwa abangnya ditembak mati di tangan polis Malaysia semasa mencari mereka yang disyaki penyokong Kiram.

    “Mereka mengheret lelaki ke luar rumah, tendang dan pukul mereka,” katanya melalui panggilan telefon dari Patikul, Sulu, selepas beliau tiba di Filipina Jumaat lalu bersama 200 pelarian lain.

    Taradji mendakwa pasukan keselamatan Malaysia menyerang kampung di daerah pesisiran pantai Sandakan di mana beliau tinggal di situ pada malam Isnin, dan di situ abangnya Jumadil ditembak mati selepas diarahkan pihak polis untuk berlari sepantas mungkin.

    Menurut The Inquirer, seorang pegawai berkata kira-kira 1,000 orang pelarian meninggalkan Sabah untuk ke Sulu dan Tawi-Tawi, sementara lebih ramai lagi akan meninggalkan Malaysia apabila pihak berkuasa meneruskan operasi menghalau penceroboh Sulu.

    Taradji juga dilaporkan berkata pihak berkuasa Malaysia sengaja membiarkan mereka yang ditahan kelaparan jika mereka disyaki mempunyai kaitan atau menyokong pencerobohan Sulu.

    “Walaupun anda mempunyai dokumen yang sah, anda juga akan ditahan. Jika anda bertuah untuk tiba di penjara, anda mati kelaparan kerana mereka tidak akan memberi makanan kepada anda,” katanya menurut The Inquirer.

    Taradji dilaporkan merupakan seorang pemegang MyKad, dan tinggal di Sandakan sejak beliau berusia enam tahun, tetapi beliau tetap meninggalkan Sabah selepas melihat sendiri keganasan yang dilakukan oleh polis terhadap warga Filipina.

    Seorang lagi pelarian, Carla Manlaw yang berusia 47 tahun memberitahu The Inquirer berkata beliau meninggalkan Sabah selepas mendengar berita berlaku keganasan ke atas warga Filipina dan polis sengaja menembak ke arah mereka.

    “Majikan saya tidak ada masalah dengan pekerja Filipina. Tapi apa yang membimbangkan saya ialah polis,” katanya lagi.

    Datuk Bandar Jolo, Hussin Amin memberitahu Inquirer beliau bercakap dengan pelarian dari Sabah dan berkata beliau mendengar cerita tentang keganasan oleh polis Malaysia.

    “Tentera dan polis menyerbu rumah dan walaupun mempunyai dokumen sah seperti pasport atau kad pengenalan, mereka tidak peduli. Dokumen tersebut dikoyak depan mata mereka. Lelaki diarahkan untuk berlari dan akan ditembak jika mereka berbuat demikian. Mereka yang enggan akan dipukul teruk. Warga Filipina di penjara diseksa,” katanya lagi.

    “Kita mahu kerajaan menyiasat perkara ini. Pelarian dari Sandakan juga menceritakan perkara yang sama. Jika ini benar-benar berlaku, pihak berkuasa Malaysia tidak hanya memburu penyokong Kiram di Lahad Datu,” kata Amin lagi, menurut laporan Inquirer.

    Kerajaan Malaysia berulang kali berkata akan memburu semua penceroboh Sulu di Lahad Datu sehingga semua militan keluar dari negara ini.

    Menteri Dalam Negeri Datuk Seri Hishamuddin Hussein mengatakan militan enggan untuk pulang walaupun diserang oleh pasukan keselamatan Malaysia, menurut laporan The Star Online.

    “Mereka tidak meletakkan senjata mereka tanpa syarat, dan ini akan berterusan,” katanya semalam.

    “Kita dengar mereka ada memasang jerangkap samar, jadi nasihat saya supaya semua berhati-hati dan keselamatan menjadi prioriti teratas,” katanya lagi.

    Hisham mengesahkan jumlah kematian penceroboh Sulu ialah seramai 53 walaupun terdapat lagi banyak mayat yang belum dikira.

    Malaysia melancarkan serangan bertali arus ke atas pemberontak Sulu pada Selasa pagi, dan jet pejuang melepaskan bom dan artileri di Kampung Tanduo, tempat mereka berlindung.

    Selepas serangan udara, tentera darat masuk untuk melaksanakan operasi “menghapuskan semua militan”, dan pergi dari rumah ke rumah di kawasan berbukit dan di sekitar perkampungan tersebut untuk memburu militan.

    Walaupun peningkatan dalam laporan kematian penceroboh Sulu, keluarga Kiram berkata hanya 10 orangnya sahaja yang terkorban, dan mengatakan ia cuma propaganda oleh Malaysia untuk mendakwa mendapat kemenangan ke atas mereka.

    Jurucakap Sultan, Idjirani berkata Malaysia perlu membenarkan wartawan luar, terutamanya dari Filipina untuk ke zon konflik di Lahad Datu, untuk mengesahkan kematian penceroboh Sulu.

    “Malaysia mesti benarkan media asing dan tempatan ke zon konflik untuk mengesahkan dakwaan mereka, jika tidak, ia masih boleh didebatkan,” katanya dalam The Philippine Star pada laporan Jumaat lalu.

    Agbimuddin berhubung dengan keluarganya di Filipina pada jam 2.30 petang Jumaat semalam, menurut Philippine Daily Inquirer, dan berkata mereka masih hidup dan sedang berjalan tetapi menderita akibat kelaparan.

  7. Ahlak itu apa sih?? Itu istilah dalam agama Islam, sifatnya tidak universal, daripada meminta hari ahlak nasional lebih abaik mencanangkan hari humanisme nasional, hari bebas rokok nasional, hari tanpa kendaraan nasional, dll

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: