KabarNet

Aktual Tajam

Wawancara JK: Kasus Century, Sri Mulyani Ditipu BI!

Posted by KabarNet pada 11/03/2013

Century, Kasus Skandal Mega Korupsi yang Sangat Simpel tapi Dibikin Ruwet

Jakarta – KabarNet: Belakangan ini kasus skandal mega korupsi Century mencuat lagi ke media. Kasus ini sudah terkatung-katung sejak tahun 2008 tanpa menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Berbagai lembaga seperti DPR, KPK, BPK, PPATK, dan lain lain sudah menyelidiki kasus ini, namun tak ada yang bisa menentukan siapa pihak yang bersalah. Padahal sebetulnya kasus ini tidak serumit itu. Kasus ini sebetulnya sangat simpel, namun ada pihak-pihak yang sengaja membikin kasus ini menjadi ruwet agar terkatung-katung supaya tak ada pihak yang bisa disalahkan, dan akhirnya pelaku kejahatan ini melenggang bebas.

Menurut mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), penyelesaian kasus dana talangan kepada Bank Century sebetulnya tidak seruwet yang mengemuka sekarang, bahkan sangat simpel. “Cari siapa saja yang memerintahkan mengucurkan dana dan siapa yang menerima. Simpel saja, kok,” tandasnya.

JK mengatakan kesalahan utama dalam kasus Bank Century ini ada pada Bank Indonesia. Karena itulah, katanya, jika KPK serius menuntaskan kasus ini, maka penyelidikan harus dipusatkan pada Bank Indonesia. “Kenapa BI melakukan blanket guarantee tanpa dasar? Saya saja di dalam tidak tahu soal itu.” cetus JK.

Boediono Tersangka?

Hingga saat ini, KPK baru menetapkan dua tersangka dari BI dalam kasus ini, yakni Deputi IV Pengelolaan Moneter Devisa BI, Budi Mulya dan mantan Deputi V Bidang Pengawasan BI, Siti Chalimah Fadjrijah. Mereka diduga menyalahgunakan wewenang dalam pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) kepada Bank Century, sehingga bank itu mendapat fasilitas pendanaan senilai Rp 689 miliar.

Namun, banyak kalangan meyakini bahwa Budi Mulya dan Siti Fadjrijah tak mungkin bekerja bila tidak ada perintah atasan. Di sinilah orang mengaitkan peran Wapres Boediono (Gubernur BI saat itu) dan Menteri Keuangan (saat itu) Sri Mulyani sebagai Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK). “Peran Boediono jelas,” kata inisiator Hak Angket skandal bailout Bank Century, Muhammad Misbakhun.

Buktinya, lanjut bekas terdakwa terkait Bank Century ini, adalah Surat Nomor 10/232/GBI/Rahasia pada 20 November 2008, soal rasio kecukupan modal (CAR) Bank Century per 31 Oktober 2008 yang hanya -3,53 alias negatif.

Bukti lainnya adalah Akte Notaris No.176 di hadapan Notaris Buntario Tigris Darmawa soal surat kuasa pencairan dana itu. Boediono sebagai Gubernur BI saat itu mengeluarkan surat bernomor 10/68/Sr.Ka/GBI tanggal 14 November 2008. “Uang lalu dikucurkan lebih dahulu dan akte notarisnya baru ditandatangani pihak Bank Century pada 15 November 2008 pukul 02.00 WIB,” cerita Misbakhun.

Ketua KPK Abraham Samad meyakini Boediono sebagai Gubernur BI saat itu berperan besar dalam pemberian FPJP ke Bank Century. “Selaku Gubernur BI, tentu Pak Boediono tahu soal pemberian FPJP,” kata Abraham.

Karena itu, katanya, KPK terus mendalami keterlibatan petinggi BI, termasuk Boediono. “Kalau sudah diperiksa dan ada keterlibatan dewan gubernur lain, termasuk gubernur (Boediono). Kita butuh keterangan tersangka,” kata Abraham, dalam rapat dengan Timwas Century, di Gedung DPR, tanggal 27 Februari 2013 lalu.

KPK menjanjikan segera memeriksa Budi Mulya setelah memeriksa seorang saksi bernama Zainal Abidin. “Mungkin tidak lama lagi kami akan melakukan pemeriksaan terhadap Budi Mulya,” ujar Abraham.

Hanya saja terkait tersangka Siti Chalimah Fadrijah, KPK belum bisa memastikan kapan akan diperiksa. Untuk diketahui, saja sejak kasus Bank Century muncul ke permukaan, Siti terserang stroke. Sejak itu pula Siti belum pernah memenuhi panggilan sejumlah instansi terkait kasus ini.

Namun, Pansus Hak Angket Century pernah memutarkan rekaman saat Siti tak mampu menahan air matanya ketika mengikuti rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia 13 November 2008 terkait perubahan Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/26/PBI/2008 tentang FPJP. Dia merasa dipojokkan. “Mohon maaf saja saya gondok sekali,” kata Siti sambil terisak seperti terdengar dalam rekaman rapat yang diputar Pansus Hak Angket Bank Century, awal Februari 2010.

Terkait lambannya penyelesaian kasus Century, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pada Kamis (8/3/2013) lalu menjelaskan panjang lebar mengenai skandal dana talangan Rp 6,7 triliun kepada Bank Century, yang belakangan ini kembali memanas. Berikut petikannya:

Kasus dana talangan sebesar Rp 6,7 triliun kepada Bank Century kembali memanas. Apa tanggapan Anda?

JK: Sebenarnya Century (Kasus Bank Century) kan sederhana saja. Apa yang salah? Siapa yang harus bertanggung jawab? Kasus ini kan karena ada pengeluaran uang yang tidak wajar. Ditelusuri di situ saja. Siapa yang kasih perintah keluar uang? Uangnya ke mana? Jadi, simpel saja.

Sebenarnya sangat mudah ya membuka kasus ini?

JK: Dalam banyak kesempatan, saya selalu katakan seperti itu. Follow the money. Siapa yang kasih perintah keluar uang? Kenapa harus dikeluarkan? Uangnya kemana? Kan gampang sekali itu.

Selain itu, dana bailout Bank Century kan bukan uang kecil. Saya ingat persis, uang untuk Bank Century mencapai Rp 2,5 triliun hanya dalam dua hari. Kalau tidak salah harinya, antara Jumat, Sabtu atau Senin. Setelah tanggal 20 atau 21 (November 2008).

Saat masih menjabat sebagai wapres, cerita Bank Century seperti apa?

JK: Setelah terjadi lonjakan talangan Bank Century, muncul kepanikan. Barulah saya dilapori. Ini Bank Century seperti orang luka kemudian dioperasi. Tapi, bukannya sembuh malah bleeding (pendarahan). Kemudian dilaporkan ke saya. Pak bleeding. Ketika itu, saya tanyakan kenapa bleeding? Kenapa harus dioperasi? Karena infonya, penyakit ringan tapi kenapa operasi. Untuk talangan Bank Century, cuma butuh dana sekitar Rp 630 miliar. Ternyata dalam dua hari uang yang keluar sudah Rp 2,5 triliun.

Kemudian, saya tanyakan siapa yang keluarin duit? Siapa yang ngambil duit? Ya pemiliknya. Bahkan, Pak Boediono (Gubernur BI) malah menyebut rampok. Saya balik tanya kenapa diizinkan uang dikeluarkan? Saya pun keluarkan perintah untuk menangkap perampoknya.

Kelihatannya, harga untuk menyelamatkan Bank Century, terlalu mahal?

JK: Nah, dalam pemeriksaan selanjutnya, Robert Tantular (pemilik Bank Century) mengatakan hanya butuh Rp 1 triliun. Lalu kenapa keluar Rp 2,5 triliun dalam dua hari? Jadi mudah saja kan. Orang minta Rp 1 triliun, tapi kok diberi lebih? Angkanya sampai Rp 6,7 triliun. Siapa yang beri perintah?

Pengusutannya memang harus dimulai dari BI (Bank Indonesia). Enggak perlu sampai periksa-periksa rapat dan segala macam. Saya bilang, simpel saja kok.

KPK terkesan kesulitan dalam mengurai kasus Bank Century, sehingga proses penyidikannya terus melambat. Komentar Anda?

JK: Iya, mungkin memang begitu. Kalau soal data-data, informasi atau dokumen kan sudah lengkap. Bahkan ada audit forenksi BPK, lebih jelas lagi. Kesalahan serta pihak-pihak yang harus bertanggung jawab, ada.

Anda katakan Pak Boediono sempat menyebut kasus Bank Century sebagai perampokan. Artinya BI kecolongan? Atau ada apa sebenarnya?

JK: Saya pernah sampaikan cerita ini di depan Pansus Century DPR. Menjelang berhenti dari wapres, saya bertemu Sri Mulyani (saat itu menkeu). Saya bertanya: “Kenapa kau buat itu?” Dia bilang: “Saya ditipu!” Siapa yang tipu? Dijawabnya: “BI”. Menurut BI, dana yang diperlukan hanya sekitar Rp 600-an miliar. Kacamata pemerintah dana segitu tidaklah besar. Toh nantinya dicatat sebagai pinjaman. Ternyata kemudian menyedot hingga Rp 6,7 triliun. Dia (Sri Mulyani) merasa tertipu.

Anda bisa percaya begitu saja?

JK: Dalam rapat yang digelar malam hari (20-21 November 2008) diputuskan bailout Century sebesar Rp 630 miliar. Saat subuh, barulah disetujui (bailout). Dalam realisasinya, disuntik dana, banknya bukannya makin sehat. Tapi malah bleeding terus. Tentu saja, ada yang merekayasa. Sehingga terjadi bleeding terus-menerus. Ini harus diungkap, kenapa bisa bleeding terus? Siapa yang instruksikan untuk suntik dana terus? Lalu, kemana uangnya?

Perkembangan terakhir, sampai kepada pernyataan Anas di depan anggota Timwas Century DPR. Katanya Anas sebut beberapa nama baru yang terlibat Century. Saya sendiri tidak tahu.

Kabarnya setelah pernyataan Anas soal kasus Bank Century, Presiden SBY memanggil Anda untuk bertemu?

JK: Ah, ndak ada itu. Saya juga pernah ditanya hal seperti itu. Tapi enggak benarlah. Kalau soal diskusi dengan Pak SBY, biasanya temanya soal ekonomi, BBM, anggaran dan lain-lainlah. Biasanya sekali dalam dua bulan.

Disebutkan pula Anda ditawari menjadi wapres cadangan?

JK: Enggaklah. Tidak pernah ada pembicaraan soal itu.

Dalam menggarap kasus KPK, publik banyak yang meragukan keseriusan KPK. Kalau Anda sendiri bagaimana?

JK: Itu perkiraan kalau penyidikan Bank Century di KPK berjalan sesuai harapan masyarakat. Apakah kinerja KPK bisa cepat atau malah lamban. Persoalan ini, tentu tidak hanya bergantung di pucuk pimpinan. Namun bagaimana dengan penyidiknya. Nah, masalahnya para penyidiknya ini masih bisa dikontrol dari jauh. Misalnya berkutat-kutat di penyidikan, alat bukti belum lengkap, masih kurang.

Anda sepertinya pesimistis dengan independensi KPK?

JK: Urusannya sederhana saja. KPK tinggal menelusuri siapa otoritasnya kan jelas. Siapa yang tanda tangan dalam proses pencairan dana bailout Bank Century. Pencairannya menggunakan apa, transfer atau diangkut dengan truk. Siapa saja penerimanya. Sangat gampang sekali.

Apakah Presiden dimungkinkan mengusulkan wapres baru apabila yang lama tersangkut kasus hukum?

JK: Dalam konstitusi mengatur hal itu. Disebutkan apabila presiden berhalangan tetap maka digantikan oleh wapres. Namun apabila wapres berhalangan tetap maka presiden mengajukan dua nama untuk dipilih oleh MPR. Dalam waktu 60 hari.

Komentar Anda soal pernyataan Anas?

JK: Teman yang menjadi lawan itu lebih berbahaya daripada lawan sejati. Inilah yang sekarang terulang di Demokrat. Bayangkan, teman itu tahu banyak tentang kita. Sekarang menjadi lawan kita. Lebih berat rasanya. [KbrNet/adl – Source: Inilah.com]

4 Tanggapan to “Wawancara JK: Kasus Century, Sri Mulyani Ditipu BI!”

  1. Sebenarnya kasus itu sangat mudah hanya saja ada seseorang yang merumitkan kasusnya supaya tidak ketahuan siapa yang sebenarnya dibalik century.

  2. tan panama said

    olis didakwa bertindak ganas dalam memburu penceroboh

    TERKINI @ 02:42:03 PM 10-03-2013

    Oleh Clara Chooi
    Penolong Pengarang Berita
    March 10, 2013
    Laporan juga mengatakan warga Malaysia berketurunan Tausug juga dibelasah di tangan polis, termasuk mereka yang memegang MyKad. – Gambar fail

    KUALA LUMPUR, 10 Mac — Ribuan warga Filipina dilaporkan melarikan diri dari Sabah dan pulang ke negara mereka bimbang tentang penderaan dan keganasan yang didakwa akan digunakan oleh polis Malaysia ke atas orang Suluk dan mereka disyaki penyokong keluarga Kiram, menurut laporan media Filipina.

    Golongan pelarian itu diwawancara oleh The Philippine Daily Inquirer semalam, mendakwa mereka melarikan diri dari Malaysia timur selepas menyaksikan keganasan yang dilakukan pihak berkuasa dalam usaha menghalau penceroboh awal minggu ini.

    Seorang pelarian berkata, lelaki Filipina ada yang diheret dari rumah mereka dan dipukul, dan memaksa mereka berlari sebelum polis menembak ke arah mereka, walaupun mereka menunjukkan dokumen imigresen mereka yang sah untuk tinggal di Malaysia.

    Laporan juga dikatakan sampai ke Sultan Jamalul Kiram III, yang mendakwa dirinya sebagai Sultan Sulu, dimana adiknya Agbimuddin Kiram mengetuai pencerobohan di Sabah, mengatakan warga Malaysia berketurunan Tausug juga dibelasah di tangan polis, termasuk mereka yang memegang MyKad.

    Orang Tausug juga dikenali sebagai orang Suluk yang datang dari kepulauan Sulu di Filipina.

    “[Rakyat Malaysia] mendakwa mereka sudah beri ‘toleransi maksima’, tetapi itu tidak benar. Mereka memberi ‘keganasan maksima’ dan itu yang sedang berlaku. Perempuan, termasuk wanita mengandung, dan kanak-kanak juga ditembak oleh tentera Malaysia,” kata anak Jamalul, “puteri” Jacel Kiram, yang dilaporkan di Manila Standard Today.

    Jurucakap Kiram, Abraham Idjirani mendakwa seorang perempuan hamil turut dipukul ketika operasi, menyebabkan beliau terpaksa melahirkan anak tersebut ketika ditahan di Kampung Tanduo, Lahad Datu, tempat di mana penceroboh itu menyembunyikan diri.

    “Wanita mengandung itu melahirkan anaknya di balai polis, tetapi anaknya mati selepas itu. Orang ramai diheret oleh pihak polis,” kata Idjirani, menurut Manila Standard Today. “Mereka bukan sahaja menahan orang Filipina dan penyokong sultan, tetapi warganya sendiri.”

    Dalam laporan Philippine Daily Inquirer, seorang warga Filipina berusia 32 tahun mendakwa abangnya ditembak mati di tangan polis Malaysia semasa mencari mereka yang disyaki penyokong Kiram.

    “Mereka mengheret lelaki ke luar rumah, tendang dan pukul mereka,” katanya melalui panggilan telefon dari Patikul, Sulu, selepas beliau tiba di Filipina Jumaat lalu bersama 200 pelarian lain.

    Taradji mendakwa pasukan keselamatan Malaysia menyerang kampung di daerah pesisiran pantai Sandakan di mana beliau tinggal di situ pada malam Isnin, dan di situ abangnya Jumadil ditembak mati selepas diarahkan pihak polis untuk berlari sepantas mungkin.

    Menurut The Inquirer, seorang pegawai berkata kira-kira 1,000 orang pelarian meninggalkan Sabah untuk ke Sulu dan Tawi-Tawi, sementara lebih ramai lagi akan meninggalkan Malaysia apabila pihak berkuasa meneruskan operasi menghalau penceroboh Sulu.

    Taradji juga dilaporkan berkata pihak berkuasa Malaysia sengaja membiarkan mereka yang ditahan kelaparan jika mereka disyaki mempunyai kaitan atau menyokong pencerobohan Sulu.

    “Walaupun anda mempunyai dokumen yang sah, anda juga akan ditahan. Jika anda bertuah untuk tiba di penjara, anda mati kelaparan kerana mereka tidak akan memberi makanan kepada anda,” katanya menurut The Inquirer.

    Taradji dilaporkan merupakan seorang pemegang MyKad, dan tinggal di Sandakan sejak beliau berusia enam tahun, tetapi beliau tetap meninggalkan Sabah selepas melihat sendiri keganasan yang dilakukan oleh polis terhadap warga Filipina.

    Seorang lagi pelarian, Carla Manlaw yang berusia 47 tahun memberitahu The Inquirer berkata beliau meninggalkan Sabah selepas mendengar berita berlaku keganasan ke atas warga Filipina dan polis sengaja menembak ke arah mereka.

    “Majikan saya tidak ada masalah dengan pekerja Filipina. Tapi apa yang membimbangkan saya ialah polis,” katanya lagi.

    Datuk Bandar Jolo, Hussin Amin memberitahu Inquirer beliau bercakap dengan pelarian dari Sabah dan berkata beliau mendengar cerita tentang keganasan oleh polis Malaysia.

    “Tentera dan polis menyerbu rumah dan walaupun mempunyai dokumen sah seperti pasport atau kad pengenalan, mereka tidak peduli. Dokumen tersebut dikoyak depan mata mereka. Lelaki diarahkan untuk berlari dan akan ditembak jika mereka berbuat demikian. Mereka yang enggan akan dipukul teruk. Warga Filipina di penjara diseksa,” katanya lagi.

    “Kita mahu kerajaan menyiasat perkara ini. Pelarian dari Sandakan juga menceritakan perkara yang sama. Jika ini benar-benar berlaku, pihak berkuasa Malaysia tidak hanya memburu penyokong Kiram di Lahad Datu,” kata Amin lagi, menurut laporan Inquirer.

    Kerajaan Malaysia berulang kali berkata akan memburu semua penceroboh Sulu di Lahad Datu sehingga semua militan keluar dari negara ini.

    Menteri Dalam Negeri Datuk Seri Hishamuddin Hussein mengatakan militan enggan untuk pulang walaupun diserang oleh pasukan keselamatan Malaysia, menurut laporan The Star Online.

    “Mereka tidak meletakkan senjata mereka tanpa syarat, dan ini akan berterusan,” katanya semalam.

    “Kita dengar mereka ada memasang jerangkap samar, jadi nasihat saya supaya semua berhati-hati dan keselamatan menjadi prioriti teratas,” katanya lagi.

    Hisham mengesahkan jumlah kematian penceroboh Sulu ialah seramai 53 walaupun terdapat lagi banyak mayat yang belum dikira.

    Malaysia melancarkan serangan bertali arus ke atas pemberontak Sulu pada Selasa pagi, dan jet pejuang melepaskan bom dan artileri di Kampung Tanduo, tempat mereka berlindung.

    Selepas serangan udara, tentera darat masuk untuk melaksanakan operasi “menghapuskan semua militan”, dan pergi dari rumah ke rumah di kawasan berbukit dan di sekitar perkampungan tersebut untuk memburu militan.

    Walaupun peningkatan dalam laporan kematian penceroboh Sulu, keluarga Kiram berkata hanya 10 orangnya sahaja yang terkorban, dan mengatakan ia cuma propaganda oleh Malaysia untuk mendakwa mendapat kemenangan ke atas mereka.

    Jurucakap Sultan, Idjirani berkata Malaysia perlu membenarkan wartawan luar, terutamanya dari Filipina untuk ke zon konflik di Lahad Datu, untuk mengesahkan kematian penceroboh Sulu.

    “Malaysia mesti benarkan media asing dan tempatan ke zon konflik untuk mengesahkan dakwaan mereka, jika tidak, ia masih boleh didebatkan,” katanya dalam The Philippine Star pada laporan Jumaat lalu.

    Agbimuddin berhubung dengan keluarganya di Filipina pada jam 2.30 petang Jumaat semalam, menurut Philippine Daily Inquirer, dan berkata mereka masih hidup dan sedang berjalan tetapi menderita akibat kelaparan.

  3. ini gara2-nya setiap bank sentral itu punya otoritas/kewenangan sendiri
    tidak dibawah pemerintah maupun parlemen
    cara kerja bank sentral mirip seperti bank sentral federal reserve bank, bank sentralnya amerika serikat
    dimiliki oleh swasta, yaitu keluarga bankir yahudi illuminati
    ROTHSCHILD

  4. taUbat said

    USAI BOEDIONO, TIMWAS MINTA KPK PERIKSA ULANG SRI MULYANI

    SENIN, 25 NOVEMBER 2013 16:52 WIB

    JAKARTA- OKEZONE – TIM PENGAWAS KASUS CENTURY MEMINTA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI UNTUK KEMBALI MEMERIKSA MANTAN KETUA KOMITE STABILITAS SISTEM KEUANGAN (KSSK) SRI MULYANI, YANG KINI MENJABAT SEBAGAI SALAH SATU DIREKTUR DI BANK DUNIA.

    “KAMI MINTA KEPADA KPK, UNTUK MEMERIKSA DAN JUGA MEMPERDALAM KEMBALI DENGAN SRI MULYANI,” KATA ANGGOTA TIMWAS CENTURY DARI FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL (PAN), CHANDRA TIRTA WIJAYA DI GEDUNG DPR, SENAYAN, JAKARTA, SENIN (25/11/2013).

    MENURUT CHANDRA, SELAKU MANTAN KETUA KSSK, SRI MULYANI TENTUNYA MEMILIKI INFORMASI YANG SANGAT BANYAK TERKAIT DENGAN PEMBERIAN FASILITAS PENDANAAN JANGKA PENDEK (FPJP) UNTUK BANK CENTURY.

    SEBELUMNYA, PENYIDIK KPK PERNAH MEMERIKSA SRI MULYANI PADA APRIL 2013 LALU. BEBERAPA PENYIDIK KPK MEMERIKSA MANTAN MENTERI KEUANGAN ITU DI AMERIKA SERIKAT.

    TEGAR ARIEF FADLY (UGO)

    =======================

    INILAH PENGAKUAN SRI MULYANI SOAL BANK CENTURY

    SELASA, 01 SEPTEMBER 2009 | 05:55 WIB

    TEMPO INTERAKTIF, JAKARTA -MENTERI KEUANGAN SRI MULYANI INDRAWATI MENGAKUI LAPORAN ATAS KUCURAN DANA TALANGAN KEPADA BANK GAGAL BANK CENTURY BARU DILAKUKAN 25 NOVEMBER 2008, ATAU EMPAT HARI SETELAH KEPUTUSAN PENYELAMATAN DIAMBIL OLEH KOMITE STABILITAS SISTEM KEUANGAN.

    “PAK WAKIL PRESIDEN MENGATAKAN TANGGAL 25, SAYA RASA BELIAU BENAR. UNTUK ITU DIA YANG MENGINSTRUKSIKAN PENANGKAPAN ROBERT TANTULAR,” KATA SRI USAI RAPAT DENGAR PENDAPAT DENGAN KOMISI KEUANGAN DAN PERBANKAN KEMARIN.

    KETIKA DITANYA MENGAPA LAPORAN DILAKUKAN SETELAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN, SRI HANYA MENJAWAB, “TAPI BERARTI BENAR KAN SAYA MELAPOR. BENAR TIDAK? LAPORNYA BENAR.”

    SRI MENJELASKAN, UNDANG-UNDANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG SISTEM KEUANGAN MENGAMANATKAN LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN OLEH PEMERINTAH, YAITU MENTERI KEUANGAN, BERSAMA BANK INDONESIA DAN LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN.

    DIA MERASA TELAH MENJALANKAN SELURUH PROSEDUR, MULAI DARI MELAPORKAN KEPADA PRESIDEN, ATAU KEPADA WAKIL PRESIDEN JIKA PRESIDEN BERHALANGAN. INSTRUKSI PRESIDEN KEPADANYA AGAR MENJAGA STABILITAS SELURUH PEREKONOMIAN, HINGGA KOORDINASI DENGAN BANK INDONESIA. “JADI ITU SEMUANYA DILAKUKAN OLEH KAMI,” UJARNYA.

    KETIKA DITANYA APAKAH YANG DIMAKSUD DARI AMANAT UNDANG-UNDANG ADALAH HANYA SEKADAR MELAPORKAN BUKAN MEMINTA PERIZINAN, SRI ENGGAN MENJAWAB. “KALIMAT SEKEDAR KAN SEPERTI MENYEPELEKAN, SAYA TIDAK MAU APALAGI DALAM BULAN PUASA INI, KALIAN CEK SAJA DALAM ATURANNYA,” KATANNYA.

    PASAL 9 PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN MENYEBUTKAN KOMITE STABILITAS SISTEM KEUANGAN MENYAMPAIKAN LAPORAN MENGENAI PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KRISIS KEPADA PRESIDEN. “KALAU DALAM UNDANG-UNDANG DISEBUTKAN PENGAMBILAN KEPUTUSANNYA PEMERINTAH, PEMERINTAH ITU BERARTI KAMI HARUS KONSULTASI PADA PRESIDEN. KALAU PRESIDENNYA LAGI PERGI, YA KAMI KE WAKIL PRESIDEN,” SRI MENEGASKAN.

    SEBELUMNYA, WAKIL PRESIDEN JUSUF KALLA MENGATAKAN DIRINYA TIDAK MENGETAHUI PROSES BAIL OUT DAN TIDAK PERNAH DILAPORI SEBELUMNYA OLEH PEJABAT BERWENANG. DIA MENYAYANGKAN PENJELASAN MENTERI KEUANGAN (KEPADA SEJUMLAH WARTAWAN MELALUI PESAN SINGKAT ELEKTRONIK), KALLA TELAH DIBERI TAHU. “SEAKAN-AKAN SAYA DIBERI TAHU PER TANGGAL 22 NOVEMBER 2008,” UJARNYA.

    MENURUT KALLA, SRI MULYANI MENGATAKAN KOMITE KEBIJAKAN SEKTOR KEUANGAN MEMUTUSKAN BAIL OUT BANK CENTURY PADA 21 NOVEMBER. LALU, MENTERI KEUANGAN MELAPOR KE KALLA PADA 22 NOVEMBER. SEHARI SETELAH LAPORAN ATAU 23 NOVEMBER, DANA TALANGAN KE CENTURY DICAIRKAN. “PADAHAL SEBETULNYA TIDAK,” KATANYA.

    KALLA LEBIH LANJUT MEMBEBERKAN BARU MENDAPAT LAPORAN PADA 25 NOVEMBER. LAPORAN TIDAK MUNGKIN DILAKUKAN PADA 22 NOVEMBER KARENA SAAT ITU HARI SABTU. MENTERI KEUANGAN, SRI MULYANI, DAN GUBERNUR BANK INDONESIA BOEDIONO, MELAPORKAN SITUASI BANK CENTURY.

    “SAYA LANGSUNG MENGATAKAN MASALAH CENTURY BUKAN MASALAH KARENA KRISIS TAPI ITU PERAMPOKAN, KRIMINAL, KARENA PENGENDALI BANK INI MERAMPOK DANA BANK CENTURY DENGAN SEGALA CARA TERMASUK OBLIGASI BODONG YANG DIBAWA KE LUAR NEGERI,” UJARNYA.

    MENURUT SRI, PENANGANAN CENTURY JUGA DIKOMUNIKASIKAN KEPADA PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO. LAPORAN DILAKUKAN SECARA PROSEDURAL, MULAI DARI PERKEMBANGAN SEKTOR KEUANGAN SECARA KESELURUHAN YANG MULAI MENGALAMI TEKANAN HINGGA LAPORAN GUBERNUR BANK INDONESIA SAAT ITU, BOEDIONO, YANG MENYAMPAIKAN BEBERAPA KONDISI PERBANKAN YANG MENGHADAPI TEKANAN. “SEMUANYA DISAMPAIKAN,” KATANYA.

    KETIKA ITU, KATA DIA, BANK INDONESIA MENYAMPAIKAN AKAN ADA KRISIS SISTEMIK DI PERBANKAN. “TERMASUK ADANYA YANG MENGALAMI TEKANAN LIKUIDITAS YANG SANGAT DALAM,” KATA SRI.

    AGOENG WIJAYA

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: