KabarNet

Aktual Tajam

LembaranTerakhir Skandal Bank Century

Posted by KabarNet pada 14/04/2013

Jakarta – KabarNet: Sejak bergulir tahun 2008, kasus dana talangan Bank Century masih tetap mangkrak. Belum terungkap siapa aktor intelektual di balik pencairan dana yang merugikan negara hingga Rp 6,7 triliun itu. Titik balik seolah muncul setelah terungkapnya surat kuasa Boediono kepada tiga pejabat BI untuk menandatangani Akta Gadai dan perjanjian pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) kepada bank yang kini bernama Bank Mutiara itu.

Pada saat bersamaan, Sekjen Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas menjadi perbincangan serius menyusul keputusannya hengkang ke Amerika Serikat. Ada tudingan, Ibas hanya berdalih ingin mengejar gelar doktor. Upaya itu konon ditempuh demi menghindari jerat hukum yang mengintai dirinya. Muncul pertanyaan, adakah hubungan dua peristiwa tersebut? Ataukah hanya kebetulan belaka?

Bukan hanya Sprindik bocor saja yang bisa berujung masalah. Kali ini, salinan surat kuasa Wapres Boediono saat masih menjabat Gubernur BI kepada tiga pejabat BI untuk menandatangani Akta Gadai dan perjanjian pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) kepada bank yang kini bernama Bank Mutiara itu, kembali ramai diperbincangkan.

Statusnya juga bisa dipastikan melebihi sprindik KPK yang bocor. Pasalnya, ini menyangkut orang kedua di republik. Bahkan, ribut-ribut soal bocornya surat kuasa itu kembali memacu nafsu politik Timwas Century DPR untuk kembali memanggil Boediono. “Surat itu asli dari Bank Indonesia,” kata anggota Tim Pengawas Bank Century Bambang Soesatyo di Jakarta, Kamis (11/4/ 2013).

Dia menjelaskan, Timwas meminta surat kuasa ini kepada Gubernur BI Darmin Nasution. “Pak Darmin juga melampirkan surat kuasa untuk menandatangani akte kredit ini.” Pria yang akrab disapa Bamsoet ini melanjutkan, ada kejanggalan dalam pemberian akte kredit ini meski syarat dari Bank Century tidak terpenuhi. Sedianya, kejanggalan ini akan dikonfirmasi kepada ketiga pejabat ini dalam rapat Timwas Century. “Tetapi mereka mangkir,” katanya.

Dijelaskan politisi Golkar ini, kejanggalan paling mencolok adalah penandatanganan dilakukan pada jam 2 pagi tetapi dalam akte ditulis jam 1 siang. Selain itu, pencairan dilakukan pada jam 8 pagi. Menurut Bambang fakta ini menarik untuk didalami. Apalagi, surat tersebut merupakan fakta baru dalam skandal Bank Century. “Kami akan memanggil Boediono untuk menjelaskan surat ini,” kata dia.

Diketahui, Boediono memberikan kuasa kepada tiga pejabat BI untuk menandatangani perjanjian pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek kepada Bank Century. Ketiga pejabat ini adalah Direktur Pengelolaan Moneter Eddy Sulaiman Yusuf, Kepala Biro Pengembangan dan Pengaturan Pengelolaan Moneter Sugeng, dan Kepala Biro Operasi Moneter Dody Budi Waluyo.

Saat dana talangan dikucurkan, Boediono adalah Gubernur BI sedangkan Sri Mulyani Indrawati menjabat Menteri Keuangan. Sebagai pejabat yang bertanggungjawab atas keuangan negara, Boediono dan Sri Mulyani ditengarai adalah pihak yang paling layak dimintai jawaban.

Terkait hal ini, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla angkat bicara soal skandal Century. Dia menegaskan, dalam mengungkap siapa dalang di balik pencairan dana Bank Century bukanlah perkara sulit. Akan mudah diungkap dengan menggali fakta dengan mencari siapa yang menyetujui pencairan dana bailout tersebut.

“Kasus Century kan karena ada pengeluaran uang yang tidak wajar. Ditelusuri di situ saja. Siapa yang kasih perintah keluar uang? Uangnya ke mana? Sebenarnya sangat mudah membuka kasus ini (Century). Dalam banyak kesempatan, saya selalu katakan seperti itu. Follow the money!” tulis JK dalam akun twitternya @JK_Kita, Senin (11/3) malam.

Kalla mengungkapkan, dana yang dikeluarkan BI untuk menyelamatkan Bank Century bukanlah dana yang kecil. “Orang minta Rp 1 triliun, tapi kok diberi lebih? Angkanya sampai Rp 6,7 triliun. Siapa yang beri perintah?” cetus JK.

Sebaiknya, saran dia, KPK segera menelusuri siapa yang memberikan perintah untuk mencairkan dana sebesar itu. Menurut JK, bukti dan dokumen yang telah dihimpun KPK, serta audit BPK dalam kasus ini pun sudah cukup mendukung pengungkapan kasus ini.

“Kalau soal data-data, informasi atau dokumen kan sudah lengkap. Bahkan ada audit forensik BPK, lebih jelas lagi. Ini harus diungkap, kenapa bisa bleeding terus? Siapa yang instruksikan untuk suntik dana terus? Lalu, ke mana uangnya? KPK tinggal menelusuri siapa otoritasnya kan jelas. Siapa yang tanda tangan dalam proses pencairan dana bailout Bank Century,” tandasnya.

Skandal Bank Century memang bukan perkara mudah. Ada banyak pejabat negara yang diduga terlibat di dalamnya. Salah satunya, Wapres Boediono yang saat itu menjabat Gubernur BI. Ada pula Direktur Bank Dunia Sri Mulyani yang kala itu dipercaya sebagai Menteri Keuangan.

Proses hukum atas Century pun menjadi terganjal lantaran terseret ke dalam pusaran politik. Pansus Century bentukan DPR belum menjadi senjata ampuh untuk membongkar kejahatan yang merugikan negara sebesar Rp 6.7 triliun itu. Sedangkan KPK juga diyakini terganjal oleh intervensi penguasa.

Di sisi lain, meski namanya kerap dikait-kaitkan dengan Century, Boediono justru mendorong agar kasus tersebut segera dituntaskan. Boediono punya cara sendiri menjelaskan posisinya ketika dikaitkan dalam skandal dana talangan Bank Century. Apalagi setelah Ketua KPK Abraham Samad mengumumkan dua tersangka baru dan menyatakan Boediono berperan dalam pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek ke Bank Century pada 2008.

Boediono juga menegaskan dirinya tidak akan mundur sebagai wakil presiden hanya karena kasus Century. Ia akan tetap tugas-tugas kenegaraan dan tak terganggu akibat banyaknya rumor yang menyebut dirinya akan mengundurkan diri. “Saya lihat tanda tanya besar di kepala anda. Saya tidak mundur,” tegas Boediono di Istana Wapres, Jakarta, Jumat, (17/2/2012).

Untuk kasus Ibas, perlawanan serupa juga dilontarkan menantu Hatta Rajasa itu. Keputusan Ibas akan mengejar gelar doktor sedikit banyak memang menimbulkan tanda tanya. Sebagai politisi Demokrat yang dituding kecipratan duit dari Nazaruddin, Ibas diyakini sedang mempersiapkan agenda penyelamatan diri. Potensi Ibas menjadi tersangka dalam kasus Hambalang, konon sangat besar.

“Bukti-bukti yang menjerat Ibas sebenarnya sudah banyak di kantong KPK. Tapi masih digoreng-goreng. Itu yang menurut saya Ibas akhirnya bersandiwara ingin kuliah lagi,” ujar sumber monitorindonesia.com di internal Demokrat.

Sumber itu melanjutkan, Ibas sebenarnya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari untuk meninggalkan Indonesia sementara waktu. Dimulai saat mengundurkan diri sebagai anggota DPR. Kemudian, SBY berusaha mengambilalih pucuk pimpinan Demokrat. “Alasan SBY sebagai ketua umum dan anaknya sekjen inilah yang kemudian digunakan untuk membenarkan keputusannya mengundurkan diri.”

Agak aneh memang apabila seorang ayah dan anak sama-sama menjabat posisi strategis dalam sebuah partai. Apalagi, posisi SBY juga sebagai Presiden RI yang waktunya sangat banyak dikuras urusan negara dan pemerintahan. “Sehingga ini bisa dipastikan adalah skenario SBY demi menyelamatkan putera dan keluarganya,” tukas sumber tersebut.

Sebelumnya, Yulianis, saksi kunci skandal Hambalang memang dengan lantang menyebut Ibas ikut menerima aliran dana haram untuk keperluan Kongres Demokrat 2010. Jumlahnya cukup fantastis. 200 ribu dolar AS. Yulianis menyebut, keterangannya dalam persidangan itu apa adanya dan tidak dilebih-lebihkan.

“Saya hanya ingin menjelaskan dalam catatan saya yang benar Mas Ibas menerima USD200 ribu. Bukan seperti yang berkembang USD900 ribu,” ujarnya saat wawancara eksklusif dengan RCTI, Jumat (22/3/2013). Ia menuturkan, apa yang ada yang dia dengar, tahu, dan alami sudah diungkapkan kepada KPK apa adanya. “Saya kalau di KPK sudah all in sudah semua. Kalau kita melakukan sesuatu dan kita yakin itu benar ya tuntaskan.”

Sebagai Wakil Direktur Keuangan di perusahaan milik Nazaruddin, Yulianis mengaku mencatat dengan rinci setiap uang yang masuk dan keluar dari perusahaan meski satu rupiah pun. “Kalau disebut satu-satu banyak yang nerima siapa saja dari Nazar. Semua nama-nama yang itu sudah saya sebutkan di persidangan, tinggal KPK saja menindaklanjuti yang sudah saya sebutkan di persidangan. Dari persidangan itu kan muncul tersangka-tersangka baru,” jelasnya.

Akibat tudingan itu, Ibas langsung geram dan langsung melaporkan Yulianis ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan pencemaran nama baik. Selain merugikan dirinya, Ibas menyebut tudingan Yulianis juga ikut merugikan Presiden SBY. “Tentu kedua orang tua saya, terlebih ayah saya, Dr Haji Susilo Bambang Yudhoyono dalam kedudukannya sebagai Presiden RI,” kata Ibas, di Jakarta, Rabu (20/3). [KbrNet/MonitorIndonesia]

Satu Tanggapan to “LembaranTerakhir Skandal Bank Century”

  1. Anonim said

    6,7T,,angka 6+7=13(angka tak bagus)siapa yg brttanggung jawab akan mndpt masalah amat serius kelak….mnurutku,,KPK hrs bnr2 independen..trmsuk dlm hal rekruiment dan policy..sekian dulu..mksh

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: