KabarNet

Aktual Tajam

Taufiq Kiemas Tutup Usia

Posted by KabarNet pada 09/06/2013

Jakarta – KabarNet: Politikus senior PDI-P, Taufiq Kiemas, meninggal dunia pada hari Sabtu, 8 Juni 2013, pukul 19.05 waktu Singapura, atau pukul 18.05 waktu Indonesia. Taufiq meninggal dunia di usia 71, sebelumnya Almarhum sempat menjalani perawatan di Singapura setelah mendampingi Wakil Presiden Boediono meresmikan Monumen Bung Karno dan Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur. Taufiq dirawat lantaran mengalami kelelahan.

Rakyat Indonesia diimbau mengibarkan bendera setengah tiang untuk mengenang kepergian Ketua MPR RI Taufiq Kiemas. Hal itu disampaikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam jumpa pers di kediamannya di Cikeas, Bogor, Jawa Barat. “Saya mengajak saudara, rakyat Indonesia mengibarkan bendera setengah tiang selama dua hari sebagai wujud penghormatan terhadap Bapak Taufiq Kiemas,” ujar Presiden, Sabtu malam, 8 Juni 2013.

Diketahui Taufiq Kiemas memang dilarikan ke rumah sakit di Singapura setelah kondisinya memburuk pasca bersama Wapres Boediono, menghadiri sebuah acara di Ende, NTT. Sekretaris MPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Achmad Basarah mengenang saat terakhir dirinya bersama Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufiq Kiemas di Ende, Nusa Tenggara Timur. Ia menceritakan, Taufiq sempat kelelahan di bawah pohon sukun saat bertugas meresmikan situs Rumah Bung Karno di Ende.

“Pak Taufiq waktu berangkat fit. Begitu sampai di lokasi dan turun dari mobil, dia harus berjalan cepat dan jauh ke lokasi peresmian mengikuti rombongan protokoler Wakil Presiden Boediono. Nah, Pak Taufik ini kan nggak bisa langsung jalan jauh. Beliau harus berhenti tiap 10 meter jalan,” kata Basarah di rumah duka Taufiq Kiemas, Jakarta, Sabtu, 8 Juni 2013.

Bahkan, lanjut Basarah, Taufiq sempat meminta untuk tidak ikut meresmikan situs Bung Karno karena kelelahan berjalan. “Pak Taufiq sempat bilang, Bas aku sudah kecapekan, enggak bisa mengikuti peresmian situs Bung Karno,” kata Basarah sambil memeragakan bagaimana Taufiq Kiemas meremas tangannya saat kelelahan.

Namun demikian, Taufiq tetap melanjutkan perjalanan. Dia bahkan sempat berpidato dengan penuh semangat. “Jadi perjalanan ke Ende itu menyita energi beliau yang cukup besar. Sebelumnya beliau sudah membatasi perjalanan agar tidak terlalu jauh,” tukas dia.

Basarah juga menceritakan, dalam perjalanan pulang, Taufiq sempat tertidur pulas karena kelelahan. “Sampai di rumah beliau langsung istirahat, dan besoknya ternyata langsung dibawa ke Singapura,” tukas Wakil Sekretaris Jendral PDIP tersebut.

Taufiq Kiemas lahir di Jakarta pada 31 Desember 1942, sejak masa pendudukan Jepang di di Indonesia. Dia memulai karier politiknya sejak duduk di bangku mahasiswa sebagai anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Lahir dari pasangan orangtua asal pulau Sumatera, Tjik Agus Kiemas (Ayah) dan Hamzathoen Roesyda (Ibu). Lantaran Ibunya berasal dari tanah Minang, dia didapuk sebuah gelar khas, yakni Datuk Basa Batuah. Gelar tersebut merupakan menggambarkan sebuah wakil (penghulu) dari darah ibunya di Kanagarian Sabu, Batipuh Ateh, Tanah Datar, Sumatera Barat.

Karier politik profesionalnya dimulai sejak dirinya masuk ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan terdaftar sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada tahun 1992. Selama orde baru berkuasa, karier politiknya banyak dikebiri oleh pihak penguasa yang waktu itu dikuasai oleh pihak militer.

Kiprahnya mulai cemerlang semenjak rezim orde baru tumbang. Setelah itu, tepatnya pada Pemilihan Umum Tahun 1999, PDI-P keluar sebagai pemenang pemilu. Kemenangan ini mengantarkan istrinya sekaligus anak dari Presiden RI Pertama, Megawati Soekarno Putri, menjadi wakil presiden dari Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid.

Kabinet yang dipimpin oleh Gus Dur, panggilan akrab Abdurrahman Wahid, tidak genap berusia dua tahun. Ketika Gus Dur tidak lagi menjabat menjadi presiden, Mega yang saat itu menjadi wakil presiden, kemudian diangkat setelah ada sedikit perdebatan. Taufiq pun menjadi ‘penasihat’ kenegaraan bagi Mega.

Taufiq juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDI-P, yang tak lama terpilih kembali menjadi anggota DPR Periode 2009-2014 pada daerah pilih Jawa Barat II. Pada periode ini dia didapuk menjadi Ketua Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) pada masa kabinet Susilo Bambang Yudhoyono.

Ulasan singkat hidupnya pun pernah ditulis dalam sebuah buku autobiografi yang berjudul Tanpa Rakyat, Pemimpin Tak Berarti Apa-apa: Jejak Langkah 60 Tahun Taufiq Kiemas, yang diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan pada 2002. [KbrNet/Tempo]

4 Tanggapan to “Taufiq Kiemas Tutup Usia”

  1. taUbat said

    Inalillahi Wainalilahi Rojiun

  2. Selamat jalan pak. Semoga amal kebaikan anda diterima oleh-Nya.

  3. Anonim said

    innalillahiwaainnailaihi roji’un
    semoga beliau diterima disisi ALLAH SWT

  4. incar said

    semoga mbakyu Mega sadar ….

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: