KabarNet

Aktual Tajam

Jihad ke Suriah Lebih Afdhol Daripada Haji & Umrah

Posted by KabarNet pada 27/06/2013

Cilacap – KabarNet: Dari dalam Lembaga Pemasyarakatan Pasir Putih di Pulau Nusakambangan, ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengatakan bahwa “Jika anda mampu, maka berjihad di Suriah lebih afdhol daripada Haji dan Umroh saat ini”. Ustadz Ba’asyir juga menyambut baik sejumlah aksi mendukung jihad di Suriah, meski hanya dengan bersuara.

Ditemui 16 pembesuknya pada Selasa siang 25/06, pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki ini menceritakan banyak hal tentang konflik Suriah, Pancasila dan kasus Pelatihan Militer di Aceh.

Dengan gamis dan peci putih serta kacamata khasnya, Abu Bakar Ba’asyir terlihat sehat meski mengaku sedang menjalankan puasa bulan Sya’ban bersama sejumlah napi kasus terorisme lainnya, seperti Abdurrahim Thoyyib, Heri Kuncoro, Mustaqim dan Abu Irhab.

Menyinggung kembali Kasus Pelatihan Militer di Aceh, menurut ustadz kelahiran 17 Agustus 1939 itu tidak ada yang salah secara Syariat. Karena berlatih militer menurut ustadz Ba’asyir adalah “menjalankan perintah Allah, yaitu syariat I’dad”. Untuk itu ustadz Ba’asyir meminta kepada kaum Muslimin untuk melakukan protes keras ke Mahkamah Agung (MA) yang telah menyebut pelatihan militer di Aceh adalah kegiatan terorisme.

Selain itu, ustadz Ba’asyir juga bercerita bahwa beberapa hari lalu ia kedatangan dua ulama yang mengaku dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang mengajaknya berdialog tentang Pancasila. Ustadz Ba’asyir tidak mengatakan siapa kedua ulama tersebut, namun ia mengatakan kedua ulama itu memintanya untuk mengubah pandangannya tentang Pancasila.

Menurut ustadz Ba’asyir, kedua ulama dari MUI itu mengatakan kepada dirinya bahwa Pancasila tidak bertentangan dan sudah sesuai dengan Syariat Islam. Namun ustadz Ba’asyir keukeuh pada pendiriannya bahwa Pancasila tidak sejalan dengan Syariat Islam.

Meski saat ini ustadz yang mempunyai lebih dari 20 cucu ini ditahan di penjara dengan keamanan super maksimum, namun dirinya tetap bersyukur dan mengaku bisa lebih bertaqarub (dekat) dalam beribadah kepada Allah. Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) ini merasa bersyukur karena kondisi Lapas Pasir Putih lebih bagus dan udaranya lebih segar daripada saat di Rutan Mabes Polri Jakarta. [KbrNet/muslimdaily]

16 Tanggapan to “Jihad ke Suriah Lebih Afdhol Daripada Haji & Umrah”

  1. Anonim said

    http://m.facebook.com/photo.php?fbid=598315026864627&id=100000584049141&set=a

  2. Ilmunya Gatok gali gatok,,cocok….Musibah kalau Tafsir Ayat Al Quran,,tanpa ILMU,,
    Sangat menyesatkan…jauh dari kebenaran..BRO,,,

  3. Gatok Gali Gatok ,,Bagaimana mau Tafsirkan Al-Quran tanpa ILMU,,,Sangat
    menyesatkan tentunya,,,

  4. wong ndeso said

    anonymous : mesakne banget, koyo wong ngerti al-qur’an ae, soale wis kadung mumet moco injil, yo wis sak karepmu, iku ngono pilihanmu dewe

  5. noname said

    si Abu ki suenengane kok rusuh…perang… bom… nopo ora anak2 dan cucu mu ae sing di kongkon neng suriah nek ora lingkeri bom neng badane cucu sampeyan Abu

  6. Anonim said

    Abu Bakar dari dulu memang sukanya darah….darah….darah…….
    Pantas sekali kalau dipenjara. Untung gak dihukum penggal

  7. Permainan Koruptor,

    koruptor ratu suap santai-santai aja ,,lah ini terbukti nya enga, cuma punya pola pikir yang ga sejalan dengan koruptor di penjara,,lah pola pikir komunispun banyak bertaburan di indonesia, slow ajaa,,,

    jadi bahan pengalihan isu,koruptor,,

    benih koruptor,anak koruptor, istri koruptor, mulai melawan,

  8. sahiba bego said

    syiah gemeteran fatwa jihad Syiria, langsung dicopy mentah-mentah dari website yang katanya antek amerika.. :p

  9. dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT :

    Konflik Suriah Dirancang Oleh Zionis ‘Novus Ordo Seclorum’ Dengan Membenturkan Antara Sesama Umat Islam

    Aktivis Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT. menyerukan hentikan perang di Suriah.

    “Mereka harus duduk bersama untuk berunding, sehingga tidak menambah jumlah korban dari warga,” ujar Joserizal, pada Diskusi Terbuka “Kenapa Suriah” di Universitas Yarsi Jakarta, Rabu (26/6).

    Menurutnya, salah satu upayanya adalah dengan mengijinkan lembaga kemanusiaan internasional untuk masuk ke Suriah membantu kedua belah pihak.

    “Lembaga kemanusiaan termasuk MER-C harus diizinkan masuk membantu kedua belah pihak yang bertikai dengan membawa prinsip netralitas dan independen,” ujar Presidium MER-C yang bersama groupnya sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza tersebut.

    Rancangan Zionis

    Dalam presentasinya, Joserizal mengungkapkan bahwa konflik berdarah yang terjadi di Suriah sudah dirancang oleh Zionis melalui program yang dikenal dengan istilah ‘Novus Ordo Seclorum’ atau era zaman baru yang sekuler.

    Melalui program ini, Zionis membuat rancangan rahasia ditujukan kepada negara-negara yang menentang Israel agar menjadi negara kecil dan lemah, sehingga tak berdaya menghadapi kekuatan Zionis.

    Zionis mengetahui, bahwa Suriah secara fakta dan data membuktikan memang selama ini dikenal sebagai negara yang sering menentang kebijakan Israel, katanya.

    “Suriah juga dikenal sebagai negara yang kuat dalam bidang militer dan intelejen. Hal ini terbukti ketika mereka berperang melawan Israel pada 1967 dan 1973,” ungkap aktivis kemanusiaan yang juga pernah terjun langsung di Mindanau Selatan, Kashmir, Pattani, Lebanon dan Darfur.

    Untuk itu, sebagai bagian dari upaya kemanusiaan meredam konfik Suriah, hendaknya sesama kaum muslimin di belahan dunia lainnya yang mengiktui perkembangan Suriah, dituntut saling menghormati, menghargai dan menjaga ukhuwah Islamiyah.

    “Kalau kita pernah terjun ke medan perang, kita pasti tidak galak sesama umat Islam. Sebab musuh kaum muslimin satu, Zionis. Jangan kita jadi alat permainan mereka,” tegas dokter yang aktif dalam dunia kegawatdaruratan sejak 1999 itu.

    Tampil sebagai pembicara lain, Drs. M.Hamdan Basyar,M.Si (Peneliti LIPI), Jerry D. Gray (Penulis dan Pengamat Politik Internasional), sambutan dr. Sarbini Abdul Murad, serta dipandu Moderator Zulfatan Faizin (Metro TV)

  10. Allahu Akbar! Ulama Ahlus Sunnah Dunia Serukan Jihad ke Suriah

    KAIRO (voa-islam.com) – Sejumlah ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah terkemuka dunia meyampaikan pernyataan sikapnya dalam muktamar Internasional Islamic Coordination Council (IICC) bertajuk “Sikap Ulama Umat Terhadap Konflik Suriah.”

    Acara yang berlangsung di Kairo Mesir ini, diselenggarakan pada 4 Sya’ban 1434 H/13 Juni 2013 M dan dihadiri oleh lebih dari 500 tokoh dan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dari 50 negara yang masing-masing berafiliasi kepada 65 organisasi dan yayasan Islam di dunia, seperti: IUMS (Persatuan Ulama Sedunia) dibawah pimpinan Dr. Yusuf Qarhdwi, Ittihad ‘Alami Lidhuat (Ikatan Dai Internasional) yang diketuai oleh Dr. Muhammad Al-‘Arifi, Rhabitah Ulama Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin) yang diketuai oleh Syaikh Al-Amin Al-Hajj, Rhabitah ‘Alam Islamy, Persatuan Internasional Ulama Al-Azhar, Ikatan Ulama Muslim Suriah dan lain sebagainya.

    Berikut ini reportase ustadz Harman Tajang dari Wahdah Islamiyah sebagai salah satu dari tiga ulama Ahlus Sunnah yang mewakili Indonesia di forum tersebut.

    Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi, IUMS (Persatuan Ulama Sedunia):

    Dr. Yusuf Qardhawi mengklarifikasi bahwa dirinya sejak awal mendukung perjuangan rakyat Suriah dalam meraih hak kebebasan sipilnya. Dan isu bahwa dirinya mendukung Bashar Al-Assad, Presiden Suriah, sama sekali tidaklah benar adanya. Qardhawi juga menyeru kepada seluruh tentara Suriah untuk menghentikan dukungannya terhadap Bashar Al-Assad dan bersatu memperjuangkan revolusi bersama rakyat Suriah.

    Qardhawi juga meminta negara-negara Arab agar tidak membiarkan konflik Suriah berlarut-larut dengan kondisi seperti saat ini. Ia mengkritik gerak negara-negara Arab yang lamban menangani masalah Suriah.

    Namun, Qardhawi yakin bahwa kelak akan ada perlawanan massal dari negara-negara Arab melawan pemerintah Suriah yang kini telah bekerjasama dengan Hizbullah (baca; Hizbusysyaithan) partai Syaithan untuk membunuh secara sadis rakyat Suriah.

    Apalagi sudah jelas secara terang-terangan mereka (Hizbullah) menganggap perang ini sebagai perang sektarian melawan umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah. “Perang di Suriah sebagai perang terhadap umat Islam secara keseluruhan dan bukan saja terbatas pada rakyat Suriah,” jelas Qardhawi.

    Di akhir sambutannya, Qardhawi juga meminta PBB dan Dewan Keamanan Internasional serta dunia Barat agar mengambil sikap yang tegas kepada negara-negara yang jelas-jelas mempersenjatai pemerintah Suriah untuk membunuh kaum muslimin di sana. “Seharusnya dunia barat juga menegakkan kebebasan dan keadilan di Suriah,” pintanya.

    Syaikh Dr. Muhammad Al-’Arifi, Ittihad ‘Alami Lidhuat (Ikatan Dai Internasional):

    Syaikh Al-’Arifi melancarkan kecaman dan kritis keras terhadap para pemimpin Arab, “Jika kalian sudah kehilangan harga diri dan kehormatan untuk membela saudara-saudara kita di Suriah, maka minimal kalian bebaskan rakyat Arab untuk bertindak membantu saudara-saudaranya di Suriah, dan kalian akan disiksa di kubur jika tidak membantu perjuangan rakyat Suriah saat ini,” tegas Al-’Arifi.

    “Biarkanlah rakyat berangkat berjihad dengan senjata ke Suriah. Umat ini tidak akan pernah sabar atas aksi pembunuhan yang terus terjadi di Suriah secara membabi buta. Sebaliknya, umat ini akan merekrut para pemuda jihad dari setiap negara Islam untuk meraih kemenangan. Dan itu akan dimulai dengan jihad di tanah Syam,” ucapnya.

    Ia pun dengan sangat tegas menyebut Bashar Al-Assad sebagai “Anjing” dalam baris-baris bait syair yang dibacakannya. Syaikh Al-‘Arifi juga mengingatkan bahwa terdapat sekitar 900 Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang pernah hidup di bumi Syam (Suriah). Karena itu, anak-anak yang mati terbunuh, para perempuan yang diculik dan diperkosa adalah cucu-cucu para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

    Syaikh Dr. Shofwat Hijazi, Wakil Ketua Ikatan Ulama Ahlus Sunnah:

    Ia menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya akan mengirim brigade ( pasukan) jihad ke Suriah. Bahkan sebelumnya, sudah setahun lebih organisasi ini aktif mengirim senjata untuk membantu para mujahidin Sunni di Suriah. Harapannya agar langkah ini memicu para pemimpin Arab dan organisasi-organisasi Islam lainnya untuk menempuh hal serupa.

    Ia meminta agar negara-negara Arab mengusir para Dubes Suriah yang masih berada di negara-negara mereka. Hijazi menilai bahwa pemerintah Bashar sebagai pemerintahan yang kafir.

    Syaikh Usamah Rifai, Ketua Ikatan Ulama Muslimin Suriah:

    Syaikh Usamah menyimpulkan bahwa pada hakikatnya perang di Suriah dinahkodai oleh Iran (Syiah). Ambisi Iran di Suriah bukanlah akhir segalanya akan tetapi awal untuk memuluskan proyek dan kepentingannya syiah di kawasan Timteng secara umum.

    Syaikh Al-Amin El Hajj, Ketua Ikatan Ulama Muslimin:

    Konflik Suriah adalah persoalan kaum Muslimin karena para mujahid yang berperang melawan rezim Bashar di sana hakikatnya demi kepentingan Islam. “Jihad di Suriah hukumnya wajib bagi seluruh umat!”

    Dan yang paling penting dari sekedar memberi bantuan kepada saudara-saudara kita disana adalah kembali kepada Al-Quran dan Sunnah yang merupakan sebab utama kemenangan kaum muslimin dan berhati-hati dan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan kebid’ahan yang merupakan sebab kehinaan dan kekalahan.

    Lewat kesempatan ini pula Syekh Al-Amin secara khusus dan atas nama Rabithah Ulama Muslimin memfatwakan kewajiban berjihad di bumi Syam.

    Dr. Shalah Sultan, Sekjen Majlis ‘Ala Syuun Islamiyah Mesir:

    Ia menyampaikan segera akan direalisasikan tiga langkah kongkrit terkait konflik Suriah:

    Brigade Jihad dibawah kepemimpinan Dr. Showfat Hijazi
    Brigade Bantuan Kemanusiaan dengan target mengumpulkan minimal satu Milyar Dolar Amerika
    Perjuangan jalur politik dibawah kepemimpinan Dr.Yusuf Qardhawi.

    Di sela-sela muktamar, ditayangkan film dokumenter bertajuk “Menyingkap Tabir Konflik Suriah.” Dalam film ini diperlihatkan sejumlah aksi brutal dan kekejaman tentara dan pasukan Bashar Al-Assad dalam membunuh kaum Muslimin Sunni di Suriah serta campur tangan Iran dan Hizbullah dalam tragedi tersebut.

    Seusai pembukaan muktamar para ulama mengikuti workshop (sidang komisi) untuk membicarakan lebih lanjut teknis terkait upaya bantuan atas konflik yang melanda kaum muslimin di Suriah. [Ahmed Widad/Harman Tajang]

  11. @patrick johan
    SYIAH bukan ISLAM
    syiah adalah orang2 kafir yg mnggunakan “baju” ISLAM
    persis seperti aliran sesat macam kayak ahmadiyah, ldii dlsbg

    syiah jauh lebih berbahaya drpd ahmadiyah

    ini bukti bhw syiah bukan ajaran ISLAM
    http://www.videosyiah.com

  12. Salah Satu Tantangan Pembebasan al-Quds adalah Syiah?

    Hidayatullah.com–Di antara sekian banyak tantangan pembebasan Palestina, adalah pembajakan isu dan pengaburan fakta yang dilakukan oleh kelompok Syiah, khususnya Iran.

    Hal itu terungkap dalam wawancara http://www.hidayatullah.com dengan Omar Kesman, Wakil Presiden IHH Turki, LSM yang menginisiasi misi Freedom Flotilla dengan kapal legendarisnya Mavi Marmara.

    Omar memang tidak secara tegas menyebut Syiah saat mendapat giliran bicara di sesi 3 Konferensi Internasional Pembebasan al-Quds dan Palestina yang diselenggarakan Aqsa Working Group di Bandung, (04/07/2012) kemarin.

    Namun dia bicara lugas kepada http://www.hidayatullah.com ihwal ulah Iran di kawasan yang memasok senjata dan milisi untuk membunuhi rakyat Suriah yang ingin menurunkan rezim Syiah Nushairiyah, Presiden Basyar Assad.

    Kata Omar, ini penting untuk diketahui umat Islam, sebab Iran sering kali menjual isu ini dengan berkoar-koar ingin menyerang Israel dan membebaskan al-Quds dan Palestina. Namun hingga kini belum satu pelor pun mereka tembakkan ke Israel atau negara-negara Barat pendukung Israel.

    “Dalam sejarah Syiah tidak pernah perang melawan kaum kuffar. Yang ada mereka berperang dengan negara tetangganya yang Muslim,” kata Omar yang lulusan Univ. Al-Azhar ini.

    Omar yang mengaku sudah lima kali masuk ke Suriah pasca revolusi menyaksikan jelasnya intervensi Iran dan Hizbullah-Libanon di Suriah.

    Katanya, soal senjata Iran sudah mengaku menyuplai senjata untuk tentara pendukung Assad.

    Di tempat yang disinggahinya seperti Idlib, Homs, banyak dia temui orang yang tidak bisa berbahasa Arab, padahal orang Suriah berbahasa Arab.

    “Mereka telah menyebar fitnah,” kata Omar.*

  13. arrisalah13.blogspot.com – Suriah – Berdasar hasil analisa dari pemberitaan media-media islam yang bisa dipercaya dari sisi syar’I maupun duniawi, Ust. Abu Rusydan menegaskan bahwa konflik yang terjadi di Suriah adalah perang agama dan bukan lagi perang ideologi. Hal itu beliau ungkapkan sebagai jawaban atas polemik yang muncul, apakah konflik Suriah itu perang agama atau ideologi.

    “Kenapa kita berbicara Syam itu kok Damaskus dan Suriah?? Kita jawab, kenapa kita berbicara Suriah, kok kita malah bicara Perang Ideologi, kok bukan Perang Agama? Maka saya jawab ini adalah PERANG AGAMA. Sebab istilah Ideologi adalah buatan manusia, sedangkan Agama adalah buatan Allah. Dan peperangan yang terjadi di Suriah sekarang ini merupakan Nubuwah Rosululloh saw tentang perang akhir zaman yang terjadi di kota Damaskus”, tegas beliau dalam kajian Save Syria, Let’s Pray For Them di masjid Baitul Makmur, Solo (15/7).
    Beliau juga memaparkan bahwa Syi’ah adalah sekte diluar islam dan bukan termasuk salah satu madzhab dalam islam. Karenanya sangat aneh jika ada sebagian kaum muslimin yang berkata Syi’ah adalah salah satu madzhab dalam islam.
    “Ada yang berpendapat bahwa konflik Suriah itu kan konflik sektarian, antara sekte Syi’ah dengan sekte Sunni. Sekali lagi saya sampaikan ayyuhal ikhwah, didalam sebuah kitab “Ja’a Daurul Majus” disebutkan bahwa Syiah itu bukan sekte islam, Syi’ah itu bukan Madzhab dalam islam”, ungkap beliau.
    Akar Syiah
    Ahmadinejad & Assad = Syiah
    Dari sejarah awal kemunculan Syi’ah saja bisa ditebak akar lahirnya Syi’ah adalah Majusi Persia. Mana mungkin ada Majusi menjadi golongan dalam islam. Sementara akar Majusi adalah kepercayaan pagan Persia yang menyembah api.
    “Akar munculnya Syi’ah itu dari Majusi. Bahwa hari ini Majusi sudah memegang peranan yang luar biasa dengan menancapkan kuku-kukunya dan taring-taringnya didunia islam. Syi’ah itu berangkat dari balas dendamnya Majusi Persi terhadap islam, kemudian mereka berkolaborasi dengan Yahudi dan Nashrani”, beber Ust. yang pernah mulazamah kepada Dr. Abdullah Azzam di Afghanistan ini.
    Syi’ah Nushairiyyah yang sekarang berkuasa di Suriah hari ini, muncul adalah pada abad ke-3 H di bawah pimpinan Muhammad bin Nashir An-Numairi. Selain mengakusebagai Nabi, ia meyakini bahwa Imam Abul Hasan Al-‘Askari (Imam ke-11 dari Syi’ah Ja’fariyyah Imamiyyah) adalah Tuhan.
    “Jadi Syi’ah tidak boleh disebut sekte dari Islam. Tetapi sekali lagi saya sampaikan munculnya Syi’ah didunia berangkat dari gerakan Politik yang dilandasi balas dendam Majusi Persi terhadap Islam,” kata beliau.
    Antara Iran, Amerika dan Israel
    Umat islam Suriah, sasaran utama Syiah dan Salibis Internasional
    Sebetulnya antara Iran (Syi’ah), Amerika (Nasharani) dan Israel (Yahudi) adalah satu tubuh dan bersekongkol. Untuk memuluskan rencananya menguasai dunia, akhirnya mereka membuat sebuah “pencitraan” bagi dunia islam. Digambarkan seakan-akan Iran bermusuhan dengan Israel yang dibantu Amerika. Ini hanya topeng saja untuk menutupi kebengisan Syi’ah yang hobi membantai kaum muslimin sejak zaman Nabi Muhammad saw hingga saat ini (Report: Iran officials told Assad to focus on Israel to pert attention from Syria crisis. http://www.haaretz.com 14 Mar 2012).
    “Salah satu konspirasi Iran, Amerika dan Aliansi Utara nampak saat Taliban di Afghanistan jatuh. Jangan sampai Ahlu sunah yang berkuasa untuk memilih pemimpin, apakah Amanulloh Khan atau yang lainnya. Akhirnya mereka memilih Hamid Karzai. Dan Hamid Karzai adalah pengikut Baha’i salah satu sekte dari Syi’ah, dan setelah saya ketahui ternyata Mahmud Abbas (PLO Palestina) penganut Syi’ah Al-Babiyah. Jadi sekali lagi, Syi’ah sampai hari ini dengan segala sektenya apapun namanya adalah Kebathilan yang kemudian diretas oleh Penjajah Barat,” pungkas beliau.
    Pembebasa al-Aqsa dimulai dari Suriah
    Kalau bukan perang agama, lantas apalagi?
    Pembebasan Al-Aqsa dimulai dari pembebasan Suriah. Rasulullah dalam berbagai hadits banyak menyebut keutamaan bumi Syam. Perang akhir zaman juga terjadi di Damaskus. Untuk itu kaum muslimin harus memberikan perhatian ekstra atas konflik Suriah.
    “Tahriru Aqsho yabda’u bi-Tahrir Suriah, Pembebasan Al Aqsho itu dimulai dengan Pembebasan Suriah, ini menarik sekali yaa ayyahul ikhwah. Jadi tidak keliru ayyuhal ikhwah jika fokus kita pada hari ini membahas Suriah dan Syam,” beber Ust. Abu Rusydan.

  14. SYIAH bukan ISLAM
    perang di suriah adalah perang umat ISLAM melawan orang2 kafir(syiah) laknatullah
    bukan adu domba oleh zionis
    karena orang2 syiah adalah orang kafir

    nih buktinya

    http://videosyiah.com/

  15. Taqiyah adalah perisai perlindungan bagi Syiah

    Taqiyyah adalah ajaran penting dalam madzhab syi’ah, hal ini penting untuk anda ketahui. Setiap ajaran pasti memiliki keyakinan-keyakinan dan ajaran tertentu, dan lazimnya sebuah ajaran yang diinginkan untuk berkembang, keyakinan itu ditulis dalam buku. Kita lihat prakteknya agama Islam sendiri memiliki kitab yang memuat ajaran yang harus diyakini oleh seorang muslim yaitu Al-Qur’an, yang mengandung perintah untuk bertanya kepada yang tahu ketika tidak mengerti tentang segala sesuatu. Begitu juga Al-Qur’an memuat sumpah Allah dengan pena, yang dipahami oleh ummat Islam sebagai perintah untuk menulis dan membaca. Sehingga keterangan dari ulama dituangkan dalam kitab-kitab yang dapat dibaca hingga kini. Madzhab-madzhab fiqih dalam islam pun memiliki kitab-kitab rujukan yang memuat pendapat madzhab itu. “Madzhab syiah” pun demikian pula memiliki kitab-kitab rujukan yang memuat keyakinan-keyakinan syiah, kitab ini berisi ucapan-ucapan Ahlul Bait, 11 imam yang konon harus diikuti. Konon lagi, 11 imam itu disebut juga sebagai salah satu dari tsaqalain (dua pusaka) yang harus diikuti oleh orang muslim. Pusaka satu lagi adalah Al-Qur’an. Selain ucapan Ahlul Bait, kitab-kitab itu juga memuat penjelasan-penjelasan ulama syiah, yang juga harus diikuti karena status ulama menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dan ucapan Ahlul Bait di atas. Tapi belakangan ulama syiah naik pangkat menjadi wakil imam ma’shum (yang juga ma’dum = tidak ada) untuk mengatur kehidupan keberagaamaan para penganut syiah.

    Tetapi buku-buku yang memuat ajaran syiah itu hampir seluruhnya susah diakses. Terutama buku-buku yang memuat ucapan-ucapan Ahlul Bait, sumber legalitas bagi syiah selain Al-Qur’an, sehingga kita hanya mengetahui ajaran syiah dari mulut-mulut pengikutnya atau dari buku-buku yang ditulis oleh ulama masa kini dan tidak memuat langsung ucapan Ahlul Bait. Ini menimbulkan kerancuan, di satu sisi orang akan mengira bahwa itulah sebenarnya madzhab syiah, tetapi ada golongan lain dari umat Islam yang berkesempatan untuk mengakses ke kitab-kitab induk syiah dan mendapati ternyata ucapan dari penganut syiah tentang madzhabnya itu tidak sesuai dengan isi kitab-kitab tersebut. Perlu diketahui bahwa kitab-kitab syiah itu memuat ajaran-ajaran yang tidak pernah didapat dalam Al-Qur’an serta sabda Nabi SAW. Di sini umat dibuat bingung, akhirnya diadu domba. Ini karena adanya sebagian umat yang celakanya mereka adalah kaum intelektual tetapi terjangkit penyakit lugu dan polos. Mereka begitu saja percaya dengan ucapan-ucapan penganut syiah yang berpropaganda tentang ajarannya tanpa ingin mengecek ke sumber aslinya. Mereka berbenturan dengan orang-orang yang ikhlas ingin mengingatkan umat akan ajaran yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sabda Nabi SAW. Akhirnya umat pun diadu domba. Lebih berbahaya lagi bahwa mereka adalah kaum intelektual yang didengar suaranya di masyarakat. Kasihan masyarakat yang terbius oleh “angin surga” baik yang dilontarkan oleh penganut syiah maupun dari intelektual yang lugu lagi polos – tapi bergaya intelek –.

    Tidak ada yang aneh jika kita melihat fenomena “intelek tapi lugu”, karena sikap lugu mereka tertipu oleh angin surga dari da’i-da’i syiah. Tetapi yang patut dicermati adalah penganut atau ustadz-ustadz syiah, mengapa mereka terkesan menutupi isi riwayat-riwayat dari Ahlul Bait? Mengapa ucapan mereka berbeda dengan apa yang tercantum dalam buku-buku riwayat-riwayat Ahlul Bait? Apakah mereka sengaja ingin menyembunyikan riwayat Ahlul Bait atau mengapa? Ini yang barangkali terlintas pada benak kita. Ataukah riwayat itu hanya diperuntukkan bagi kalangan khusus yang sudah dianggap layak untuk mengaksesnya? Apa pun jawabannya, kitab-kitab syiah sudah bukan barang langka lagi, mereka yang benar-benar ingin mengetahuinya pasti akan dapat menemukan dan mengaksesnya, meskipun para ustadz syiah mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan.

    Sebagai misal, anda tidak akan mendengar penganut atau ustadz syiah menukil riwayat di bawah ini:

    Dari Abu Abdillah – Ja’far Ash-Shadiq – mengatakan: “Ambillah harta orang nashibi di mana saja kamu dapatkan, lalu bayarkan seperlimanya pada kami.”

    Riwayat ini terdapat dalam kitab Tahdzibul Ahkam jilid. 4, hal. 122, kitab Al-Wafi jilid. 6, hal. 43, begitu juga dinukil oleh Al-Bahrani dalam Al-Mahasin An-Nifsaniyah, Al-Bahrani mengatakan riwayat ini diriwayatkan dari banyak jalur.

    Siapakah yang disebut dengan nashibi? Nashibi adalah orang yang memusuhi Ahlul Bait. Tetapi syiah memiliki terminologi yang berbeda atas kata memusuhi Ahlul Bait. yang dimaksud memusuhi Ahlul Bait bukanlah memusuhi alias lawan kata cinta, seperti orang yang memusuhi Ali atau membenci Fathimah, anda tidak akan menemui sikap demikian kecuali pada sebagian orang khawarij yang memang sesat. Tetapi nashibi di sini bermakna mereka yang mendahulukan selain Ali dalam khilafah, alias mereka yang berkeyakinan bahwa Ali bukanlah yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Kita lihat Al-Bahrani di atas – nama lengkapnya Husain bin Muhammad Al-Ashfur Ad-Darazi Al-Bahrani – dalam kitab yang sama pada hal. 157 memberikan definisi bagi kata nashibi:

    Ini karena kamu telah tahu bahwa nashibi adalah mereka yang mendahulukan selain Ali…

    Maka kata nashibi meliputi seluruh penganut Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang meyakini fakta dan kenyataan yang ada bahwa khalifah setelah Nabi adalah Abu Bakar. Riwayat di atas adalah ajakan untuk merampok, mencuri, mencopet dan merampas harta Ahlus Sunnah. Ini jelas dari riwayat di atas yang menjelaskan ambillah harta nashibi – sunni – di mana saja, di jalan, di rumahnya, di kantor, pokoknya di mana saja terdapat harta itu. Barangkali situasi di Indonesia belum kondusif untuk melaksanakan riwayat itu, tetapi riwayat di atas dipraktekkan di Irak hari ini, di mana milisi syiah melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh pasukan ortodok Serbia kepada muslimin Bosnia.

    Anda tidak akan mendengar riwayat ini dari ustadz syiah. Mengapa demikian? Ternyata ajaran syiah memuat sebuah ajaran yang membolehkan bagi penganut syiah untuk menyembunyikan keyakinannya di depan non syiah, keyakinan itu disebut dengan taqiyyah. Lagi-lagi menurut keterangan ulama syiah sendiri bahwa taqiyah hukumnya wajib hingga imam ke 12 bangkit dari “tidur panjangnya”. Ibnu Babawaih Al -Qummi yang dijuluki Ash-Shaduq – yang selalu berkata benar – mengatakan:

    “Keyakinan kami bahwa taqiyah adalah wajib, meninggalkan taqiyah sama seperti meninggalkan shalat, tidak boleh ditinggalkan hingga keluarnya Imam Mahdi, siapa yang meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Imam Mahdi maka telah keluar dari agama Allah (Islam), keluar dari agama Imamiyah dan menyelisihi Allah, Rasul dan para imam.” (Bisa dilihat dalam kitab Al-I’tiqadat, hal. 114, cetakan Darul Mufid, teks di atas ada pada hal. 108).

    Ucapan ini tentunya tidak berasal dari omong kosong maupun pendapat sendiri, karena dalam ucapan di atas kita lihat ada kata: Keyakinan kami, berarti adalah keyakinan madzhab syiah menurut As-Shaduq. Juga ini bukan satu-satunya ucapan ulama syiah tentang wajibnya taqiyah. Ucapan di atas berdasar pada riwayat Ja’far Ash-Shadiq yang bersabda:

    “Jika kamu katakan bahwa orang yang meninggalkan taqiyah sama dengan orang yang meninggalkan shalat maka kamu telah berkata benar.”

    Bisa dilihat di kitab Biharul Anwar, jilid. 50, hal. 181, jilid. 75, hal. 414, hal. 421, As-Sarair, hal. 476, Kasyful Ghummah, jilid. 3, hal. 252, dan Man Laa Yahdhuruhul Faqih, jilid. 2, hal. 127, serta beberapa sumber lain.

    Juga terdapat riwayat yang mengatakan: “Orang yang meninggalkan taqiyah adalah kafir. (Bisa dilihat di kitab Biharul Anwar, 87/347 dan Fiqhur Ridha, 338).

    Dari sini saja kita sudah bisa mengetahui bahwa tidak ada orang syiah yang tidak bertaqiyah, tetapi sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga, sepandai-pandai syiah bertaqiyah akhirnya terbongkar juga – bagi mereka yang tidak lugu –. Perkataan As-Shaduq di atas memberi jawaban bagi kebingungan kita tentang mengapa ucapan ustadz syiah berbeda dengan isi kitab mereka sendiri. Di samping itu kita jadi tahu dan akhirnya berhati-hati dalam mendengar ucapan penganut syiah, karena apa yang diucapkan di mulutnya tidak sesuai dengan keyakinan hatinya. Ini dilakukan agar keyakinan yang sebenarnya diyakini tidak diketahui orang, akhirnya dia selamat dan tidak dijauhi oleh teman-temannya. Karena kaum muslimin masih memiliki tingkat resistensi yang tinggi pada mereka yang beraliran sesat, sehingga orang yang beraliran sesat bisa dijauhi dan dimusuhi. Jika saja penganut syiah menampakkan keyakinan aslinya pasti dia dimusuhi dan dijauhi. Kondisi demikian kurang menguntungkan karena gerak-gerik penganut syiah untuk menyebarkan ajarannya menjadi sempit karena dia ditolak di mana-mana. Praktek menyembunyikan keyakinan agar tidak dibenci orang ini mirip dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 41, berikut:

    “Hai Rasul, hendaknya janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman…”

    Juga dalam surat Al-Fath ayat 11:

    “Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.”

    Juga dalam surat Ali Imran ayat 167:

    “Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya.”

    Repotnya, kita tidak memiliki indikator yang membuat kita tahu apakah penganut syiah yang sedang berbicara dengan kita sedang bertaqiyah atau tidak. Kita mengusulkan pada mereka yang berkompeten untuk menciptakan penemuan baru berupa indikator taqiyah, yang mungkin berupa lampu yang menyala bila seorang syiah sedang bertaqiyah. Jika tidak bisa lampu maka apa saja, seperti kerlingan mata atau tanda di kepala atau apa saja, yang penting orang lain di sekitarnya bisa tahu apakah dia sedang bertaqiyah atau tidak. Penemuan ini begitu mendesak supaya kaum muslimin tidak tertaqiyahi (baca: Tertipu) oleh penganut syiah yang menyembunyikan keyakinannya ketika tidak dalam keadaan bahaya. Lalu apakah para imam juga bertaqiyah? Sudah semestinya demikian, karena bagaimana sang imam menyuruh orang untuk bertaqiyah tapi diri mereka sendiri tidak bertaqiyah.

    Di sini terdetik pertanyaan besar, yaitu bagaimana kita tahu para imam sedang bertaqiyah atau tidak? Jika kita membaca sebuah riwayat dari salah seorang imam, maka kita tidak tahu apakah sang imam mengucapkan sabdanya dalam keadaan taqiyah atau tidak, hal ini penting untuk diketahui karena alasan seperti di atas, taqiyah adalah menyembunyikan keyakinan sebenarnya dalam hati dan mengucapkan hal yang berbeda dengan apa yang diyakininya dalam hati. Maka penganut syiah tidak tahu apakah riwayat yang ada adalah benar-benar ajaran imam yang sebenarnya atau hanya taqiyah? Ini adalah masalah yang harus diselesaikan oleh syiah. Jika ada syiah yang berani menyanggah dengan mengatakan bahwa penerapan taqiyah dimulai dari era ghaibah – hilangnya imam – sughra maupun kubra, maka dengan mudah kita jawab: Jika memang demikian maka perintah taqiyah akan muncul tepat sebelum masa ghaibah, yaitu pada era imam Hasan Al-‘Askari, bukannya muncul dari Imam Ja’far As-Shadiq yang hidup jauh sebelum era ghaibah. Maka tidak ada yang menjamin bahwa sabda imam adalah benar-benar ajaran Allah, karena imam juga melakukan taqiyah. Di sini syiah terjebak dalam taqiyah, di mana dia tidak bisa membedakan ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang disampaikan saat bertaqiyah, yang sudah tentu berbeda dengan ajaran imam yang sebenarnya. Dari mana kita mengetahui ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang bertaqiyah? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti. Jadi ajaran syiah tidak diketahui mana yang benar-benar ajaran syiah ‘yang dari Allah’ dan mana yang taqiyah. Mestinya penganut syiah hari ini berhati-hati, jangan-jangan ajaran yang mereka anut saat ini bukanlah ajaran syiah sebenarnya, tetapi adalah ajaran dari para imam yang sedang bertaqiyah?!

    Mari kita simak ucapan Al-Bahrani dalam kitab Al-Hadaiq An-Nadhirah, jilid. 1, hal. 89:

    “Banyak riwayat-riwayat syiah yang diucapkan ketika sedang bertaqiyah yang tidak sesuai dengan hukum sebenarnya.”

    Ini pengakuan yang berbahaya, yaitu banyak riwayat syiah yang memuat keterangan kebalikan dari keterangan yang sebenarnya. Pengakuan ini juga masih bisa kita ragukan, yaitu dari mana diketahui bahwa imam sedang bertaqiyah? Juga ini adalah riwayat yang diketahui bahwa imam mengucapkannya dalam keadaan bertaqiyah, lalu bagaimana dengan riwayat lain? Lagi pula bagaimana imam bisa ketahuan sedang bertaqiyah? Apakah taqiyah imam bisa diketahui?

    Dan banyak lagi pertanyaan yang susah didapatkan jawabannya.

  16. begajul said

    http://news.detik.com/read/2013/07/03/172837/2291804/1148/mengerikan-hampir-100-wanita-diperkosa-di-mesir-saat-aksi-demo?9911012

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: