KabarNet

Aktual Tajam

Sejarah Lepasnya Timor Timur Yang tak Pernah Terungkap

Posted by KabarNet pada 03/08/2013

MENIT-MENIT LEPASNYA TIMOR-TIMUR DARI INDONESIA

Berikut ini adalah tulisan seorang wartawan yang meliput jajak pendapat di Dili, Timor-timur. Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak.

Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999. Judul asli dari tulisan ini adalah Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia. Saya sengaja ubah judulnya dengan maksud agar lebih jelas mengenai apa yang terkandung dalam tulisan tersebut. 

MENIT-MENIT YANG LUPUT DARI CATATAN SEJARAH INDONESIA

Oleh: Kafil Yamin

Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1989. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia. Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu.

Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk menekan Indonesia supaya melepas Timor Timur. IMF dan Bank Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim.

Apa artinya ini? Artinya keputusan sudah dibuat sebelum jajak pendapat itu dilaksanakan. Artinya bahwa jajak pendapat itu sekedar formalitas. Namun meski itu formalitas, toh keadaan di kota Dili sejak menjelang pelaksanan jajak pendapat itu sudah ramai nian. Panita jajak pendapat didominasi bule Australia dan Portugis. Wartawan asing berdatangan. Para pegiat LSM pemantau jajak pendapat, lokal dan asing, menyemarakkan pula – untuk sebuah sandiwara besar. Hebat bukan?

Sekitar Jam 1 siang, tanggal 28 Agustus 1999, saya mendarat di Dili. Matahari mengangkang di tengah langit. Begitu menyimpan barang-barang di penginapan [kalau tidak salah, nama penginapannya Dahlia, milik orang Makassar], saya keliling kota Dili. Siapapun yang berada di sana ketika itu, akan berkesimpulan sama dengan saya: kota Dili didominasi kaum pro-integrasi. Mencari orang Timtim yang pro-kemerdekaan untuk saya wawancarai, tak semudah mencari orang yang pro-integrasi.

Penasaran, saya pun keluyuran keluar kota Dili, sampai ke Ainaro dan Liquica, sekitar 60 km dari Dili. Kesannya sama: lebih banyak orang-orang pro-integrasi. Di banyak tempat, banyak para pemuda-pemudi Timtim mengenakan kaos bertuliskan Mahidi [Mati-Hidup Demi Integrasi], Gadapaksi [Garda Muda Penegak Integrasi], BMP [Besi Merah Putih], Aitarak [Duri].

Setelah seharian berkeliling, saya berkesimpulan Timor Timur akan tetap bersama Indonesia. Bukan hanya dalam potensi suara, tapi dalam hal budaya, ekonomi, sosial, tidak mudah membayangkan Timor Timur bisa benar-benar terpisah dari Indonesia. Semua orang Timtim kebanyakan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Para penyedia barang-barang kebutuhan di pasar-pasar adalah orang Indonesia. Banyak pemuda-pemudi Timtim yang belajar di sekolah dan universitas Indonesia, hampir semuanya dibiayai pemerintah Indonesia. Guru-guru di sekolah-sekolah Timtim pun kebanyakan orang Indonesia, demikian juga para petugas kesehatan, dokter, mantri.

Selepas magrib, 28 Agustus 1999, setelah mandi dan makan, saya duduk di lobi penginapan, minum kopi dan merokok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia 50an, tapi masih terlihat gagah, berambut gondrong, berbadan atletis, berjalan ke arah tempat duduk saya; duduk dekat saya dan mengeluarkan rokok. Rupanya ia pun hendak menikmati rokok dan kopi.

Mungkin karena dipersatukan oleh kedua barang beracun itu, kami cepat akrab. Dia menyapa duluan: “Dari mana?” sapanya.

“Dari Jakarta,” jawabku, sekalian menjelaskan bahwa saya wartawan, hendak meliput jajak pendapat.

Entah kenapa, masing-masing kami cepat larut dalam obrolan. Dia tak ragu mengungkapkan dirinya. Dia adalah mantan panglima pasukan pro-integrasi, yang tak pernah surut semangatnya memerangi Fretilin [organisasi pro-kemerdekaan], “karena bersama Portugis, mereka membantai keluarga saya,” katanya. Suaranya dalam, dengan tekanan emosi yg terkendali. Terkesan kuat dia lelaki matang yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tebaran uban di rambut gondrongnya menguatkan kesan kematangan itu.

“Panggil saja saya Laffae,” katanya.

“Itu nama Timor atau Portugis?” Saya penasaran.

“Timor. Itu julukan dari kawan maupun lawan. Artinya ‘buaya’,” jelasnya lagi.

Julukan itu muncul karena sebagai komandan milisi, dia dan pasukannya sering tak terdeteksi lawan. Setelah lawan merasa aman, tiba-tiba dia bisa muncul di tengah pasukan lawannya dan melahap semua yang ada di situ. Nah, menurut anak buah maupun musuhnya, keahlian seperti itu dimiliki buaya.

Dia pun bercerita bahwa dia lebih banyak hidup di hutan, tapi telah mendidik, melatih banyak orang dalam berpolitik dan berorganisasi. “Banyak binaan saya yang sudah jadi pejabat,” katanya. Dia pun menyebut sejumlah nama tokoh dan pejabat militer Indonesia yang sering berhubungan dengannya.

Rupanya dia seorang tokoh. Memang, dilihat dari tongkrongannya, tampak sekali dia seorang petempur senior. Saya teringat tokoh pejuang Kuba, Che Guevara. Hanya saja ukuran badannya lebih kecil.

“Kalau dengan Eurico Guterres? Sering berhubungan?” saya penasaran.

“Dia keponakan saya,” jawab Laffae. “Kalau ketemu, salam saja dari saya.”

Cukup lama kami mengobrol. Dia menguasai betul sejarah dan politik Timtim dan saya sangat menikmatinya. Obrolan usai karena kantuk kian menyerang.

Orang ini menancapkan kesan kuat dalam diri saya. Sebagai wartawan, saya telah bertemu, berbicara dengan banyak orang, dari pedagang kaki lima sampai menteri, dari germo sampai kyai, kebanyakan sudah lupa. Tapi orang ini, sampai sekarang, saya masih ingat jelas.

Sambil berjalan menuju kamar, pikiran bertanya-tanya: kalau dia seorang tokoh, kenapa saya tak pernah mendengar namanya dan melihatnya? Seperti saya mengenal Eurico Gueterres, Taur Matan Ruak? Xanana Gusmao? Dan lain-lain? Tapi sudahlah.

Pagi tanggal 29 Agustus 1999. Saya keluar penginapan hendak memantau situasi. Hari itu saya harus kirim laporan ke Bangkok. Namun sebelum keliling saya mencari rumah makan untuk sarapan. Kebetulan lewat satu rumah makan yang cukup nyaman. Segera saya masuk dan duduk. Eh, di meja sana saya melihat Laffae sedang dikelilingi 4-5 orang, semuanya berseragam Pemda setempat. Saya tambah yakin dia memang orang penting – tapi misterius.

Setelah bubar, saya tanya Laffae siapa orang-orang itu. “Yang satu Bupati Los Palos, yang satu Bupati Ainaro, yang dua lagi pejabat kejaksaan,” katanya. “Mereka minta nasihat saya soal keadaan sekarang ini,” tambahnya.

Kalau kita ketemu Laffae di jalan, kita akan melihatnya ‘bukan siapa-siapa’. Pakaiannya sangat sederhana. Rambutnya terurai tak terurus. Dan kalau kita belum ‘masuk’, dia nampak pendiam.

Saya lanjut keliling. Kota Dili makin semarak oleh kesibukan orang-orang asing. Terlihat polisi dan tentara UNAMET berjaga-jaga di setiap sudut kota. Saya pun mulai sibuk, sedikitnya ada tiga konferensi pers di tempat yang berbeda. Belum lagi kejadian-kejadian tertentu. Seorang teman wartawan dari majalah Tempo, Prabandari, selalu memberi tahu saya peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Dari berbagai peristiwa itu, yang menonjol adalah laporan dan kejadian tentang kecurangan panitia penyelenggara, yaitu UNAMET. Yang paling banyak dikeluhkan adalah bahwa UNAMET hanya merekrut orang-orang pro-kemerdekaan di kepanitiaan. Klaim ini terbukti. Saya mengunjungi hampir semua TPS terdekat, tidak ada orang pro-integrasi yang dilibatkan.

Yang bikin suasana panas di kota yang sudah panas itu adalah sikap polisi-polisi UNAMET yang tidak mengizinkan pemantau dan pengawas dari kaum pro-integrasi, bahkan untuk sekedar mendekat. Paling dekat dari jarak 200 meter. Tapi pemantau-pemantau bule bisa masuk ke sektratriat. Bahkan ikut mengetik!

Di sini saya perlu mengungkapkan ukuran mental orang-orang LSM dari Indonesia, yang kebanyakan mendukung kemerdekaan Timtim karena didanai asing. Mereka tak berani mendekat ke TPS dan sekretariat, baru ditunjuk polisi UNAMET saja langsung mundur. Tapi kepada pejabat-pejabat Indonesia mereka sangat galak: menuding, menuduh, menghujat. Berani melawan polisi. Di hadapan polisi bule mereka mendadak jadi inlander betulan.

Tambah kisruh adalah banyak orang-orang pro-integrasi tak terdaftar sebagai pemilih. Dari 4 konferensi pers, 3 di antaranya adalah tentang ungkapan soal ini. Bahkan anak-anak Mahidi mengangkut segerombolan orang tua yang ditolak mendaftar pemilih karena dikenal sebagai pendukung integrasi.

Saya pun harus mengungkapkan ukuran mental wartawan-wartawan Indonesia di sini. Siang menjelang sore, UNAMET menyelenggarakan konferensi pers di Dili tentang rencana penyelenggaraan jajak pendapat besok. Saya tentu hadir. Lebih banyak wartawan asing daripada wartawan Indonesia. Saya yakin wartawan-wartawan Indonesia tahu kecurangan-kecurangan itu.

Saat tanya jawab, tidak ada wartawan Indonesia mempertanyakan soal praktik tidak fair itu. Bahkan sekedar bertanya pun tidak. Hanya saya yang bertanya tentang itu. Jawabannya tidak jelas. Pertanyaan didominasi wartawan-wartawan bule.

Tapi saya ingat betapa galaknya wartawan-wartawan Indonesia kalau mewawancarai pejabat Indonesia terkait dengan HAM atau praktik-praktik kecurangan. Hambatan bahasa tidak bisa jadi alasan karena cukup banyak wartawan Indonesia yang bisa bahasa Inggris. Saya kira sebab utamanya rendah diri, seperti sikap para aktifis LSM lokal tadi.

Setelah konferensi pers usai, sekitar 2 jam saya habiskan untuk menulis laporan. Isi utamanya tentang praktik-praktik kecurangan itu. Selain wawancara, saya juga melengkapinya dengan pemantauan langsung.

Kira-kira 2 jam setelah saya kirim, editor di Bangkok menelepon. Saya masih ingat persis dialognya:

“Kafil, we can’t run the story,” katanya.

“What do you mean? You send me here. I do the job, and you don’t run the story?” saya berreaksi.

“We can’t say the UNAMET is cheating…” katanya.

“That’s what I saw. That’s the fact. You want me to lie?” saya agak emosi.

“Do they [pro-integrasi] say all this thing because they know they are going to loose?”

“Well, that’s your interpretation. I’ll make it simple. I wrote what I had to and it’s up to you,”

“I think we still can run the story but we should change it.”

“ I leave it to you,” saya menutup pembicaraan.

Saya merasa tak nyaman. Namun saya kemudian bisa maklum karena teringat bahwa IPS Asia-Pacific itu antara lain didanai PBB.

***

Kira-kira jam 5:30 sore, 29 Agustus 199, saya tiba di penginapan. Lagi-lagi, Laffae sedang dikerumuni tokoh-tokoh pro-integrasi Timtim. Terlihat Armindo Soares, Basilio Araujo, Hermenio da Costa, Nemecio Lopes de Carvalho, nampaknya mereka sedang membicarakan berbagai kecurangan UNAMET.

Makin malam, makin banyak orang berdatangan. Orang-orang tua, orang-orang muda, tampaknya dari tempat jauh di luar kota Dili. Kelihatan sekali mereka baru menempuh perjalanan jauh.

Seorang perempuan muda, cukup manis, tampaknya aktifis organisasi, terlihat sibuk mengatur rombongan itu. Saya tanya dia siapa orang-orang ini.

“Mereka saya bawa ke sini karena di desanya tidak terdaftar,” katanya. “Mereka mau saya ajak ke sini. Bahkan mereka sendiri ingin. Agar bisa memilih di sini. Tidak ada yang membiayai. Demi merah putih,” jawabnya bersemangat.

Saya tergetar mendengar bagian kalimat itu: “…demi merah putih.”

Mereka semua ngobrol sampai larut. Saya tak tahan. Masuk kamar. Tidur. Besok jajak pendapat.

Pagi 30 Agustus 1999. Saya keliling Dili ke tempat-tempat pemungutan suara. Di tiap TPS, para pemilih antri berjajar. Saya bisa berdiri dekat dengan antrean-antrean itu. Para ‘pemantau’ tak berani mendekat karena diusir polisi UNAMET.

Karena dekat, saya bisa melihat dan mendengar bule-bule Australia yang sepertinya sedang mengatur barisan padahal sedang kampanye kasar. Kebetulan mereka bisa bahasa Indonesia: “Ingat, pilih kemerdekaan ya!” teriak seorang cewek bule kepada sekelompok orang tua yang sedang antre. Bule-bule yang lain juga melakukan hal yang sama.

Sejenak saya heran dengan kelakuan mereka. Yang sering mengampanyekan kejujuran, hak menentukan nasib sendiri. Munafik, pikir saya. Mereka cukup tak tahu malu.

Setelah memantau 4-5 TPS saya segera mencari tempat untuk menulis. Saya harus kirim laporan. Setelah mengirim laporan. Saya manfaat waktu untuk rileks, mencari tempat yang nyaman, melonggarkan otot. Toh kerja hari itu sudah selesai.

Sampailah saya di pantai agak ke Timur, di mana patung Maria berdiri menghadap laut, seperti sedang mendaulat ombak samudra. Patung itu bediri di puncak bukit. Sangat besar. Dikelilingi taman dan bangunan indah. Untuk mencapai patung itu, anda akan melewati trap tembok yang cukup landai dan lebar. Sangat nyaman untuk jalan berombongan sekali pun. Sepanjang trap didindingi bukit yang dilapisi batu pualam. Di setiap kira jarak 10 meter, di dinding terpajang relief dari tembaga tentang Yesus, Bunda Maria, murid-murid Yesus, dengan ukiran yang sangat bermutu tinggi.

Patung dan semua fasilitasnya ini dibangun pemerintah Indonesia. Pasti dengan biaya sangat mahal. Ya, itulah biaya politik.

Tak terasa hari mulai redup. Saya harus pulang. Besok pengumuman hasil jajak pendapat.

Selepas magrib, 30 September 1999. Kembali saya menunaikan kewajiban yang diperintahkan oleh kebiasaan buruk: merokok sambil minum kopi di lobi penginapan. Kali ini, Laffae mendahului saya. Dia sudah duluan mengepulkan baris demi baris asap dari hidung dan mulutnya. Kami ngobrol lagi.

Tapi kali ini saya tidak leluasa. Karena banyak tamu yang menemui Laffae, kebanyakan pentolan-pentolan milisi pro-integrasi. Ditambah penginapan kian sesak. Beberapa pemantau nginap di situ. Ada juga polisi UNAMET perwakilan dari Pakistan.

Ada seorang perempuan keluar kamar, melihat dengan pandangan ‘meminta’ ke arah saya dan Laffae. Kami tidak mengerti maksudnya. Baru tau setelah lelaki pendampingnya bilang dia tak kuat asap rokok. Laffae lantas bilang ke orang itu kenapa dia jadi pemantau kalau tak kuat asap rokok. Kami berdua terus melanjutkan kewajiban dengan racun itu. Beberapa menit kemudian cewek itu pingsan dan dibawa ke klinik terdekat.

Saya masuk kamar lebih cepat. Tidur.

Pagi, 4 September 1999. Pengumuman hasil jajak pendapat di hotel Turismo Dili. Bagi saya, hasilnya sangat mengagetkan: 344.508 suara untuk kemerdekaan, 94.388 untuk integrasi, atau 78,5persen berbanding 21,5persen.

Ketua panitia mengumumkan hasil ini dengan penuh senyum, seakan baru dapat rezeki nomplok. Tak banyak tanya jawab setelah itu. Saya pun segera berlari mencari tempat untuk menulis laporan. Setelah selesai, saya balik ke penginapan.

Di lobi, Laffae sedang menonton teve yang menyiarkan hasil jajak pendapat. Sendirian. Saat saya mendekat, wajahnya berurai air mata. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Mereka curang..” katanya tersedu. Dia merangkul saya. Lelaki pejuang, tegar, matang ini mendadak luluh. Saya tak punya kata apapun untuk menghiburnya. Lagi pula, mata saya saya malah berkaca-kaca, terharu membayangkan apa yang dirasakan lelaki ini. Perjuangan keras sepanjang hidupnya berakhir dengan kekalahan.

Saya hanya bisa diam. Dan Laffae pun nampaknya tak mau kesedihannya terlihat orang lain. Setelah beberapa jenak ia berhasil bersikap normal.

“Kota Dili ini akan kosong..” katanya. Pelan tapi dalam. “Setelah kosong, UNAMET mau apa.”

Telepon berbunyi, dari Prabandari Tempo. Dia memberi tahu semua wartawan Indonesia segera dievakuasi pakai pesawat militer Hercules, karena akan ada penyisiran terhadap semua wartawan Indonesia. Saya diminta segera ke bandara saat itu juga. Kalau tidak, militer tidak bertanggung jawab. Semua wartawan Indonesia sudah berkumpul di bandara, tinggal saya. Hanya butuh lima menit bagi saya untuk memutuskan tidak ikut. “Saya bertahan, nDari. Tinggalkan saja saya.”

Laffae menguping pembicaraan. Dia menimpali: “Kenapa wartawan kesini kalau ada kejadian malah lari?” katanya. Saya kira lebih benar dia mikirnya.

Saya lantas keluar, melakukan berbagai wawancara, menghadiri konferensi pers, kebanyakan tentang kemarahan atas kecurangan UNAMET. “Anggota Mahidi saja ada 50 ribu; belum Gardapaksi, belum BMP, belum Halilintar, belum masyarakat yang tak ikut organisasi,” kata Nemecio Lopez, komandan milisi Mahidi.

Kembali ke penginapan sore, Laffae sedang menghadapi tamu 4-5 orang pentolan pro-integrasi. Dia menengok ke arah saya: “Kafil! Mari sini,” mengajak saya bergabung.

“Sebentar!” saya bersemangat. Saya tak boleh lewatkan ini. Setelah menyimpan barang-barang di kamar, mandi kilat. Saya bergabung. Di situ saya hanya mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan.

“Paling-paling kita bisa siapkan seribuan orang,” kata ketua Armindo Soares, saya bertemu dengannya berkali-kali selama peliputan.

“Saya perlu lima ribu,” kata Laffae.

“Ya, lima ribu baru cukup untuk mengguncangkan kota Dili,” katanya, sambil menengok ke arah saya.

“Kita akan usahakan,” kata Armindo.

Saya belum bisa menangkap jelas pembicaraan mereka ketika seorang kawan memberitahu ada konferensi pers di kediaman Gubernur Abilio Soares. Saya segera siap-siap berangkat ke sana. Sekitar jam 7 malam, saya sampai di rumah Gubernur. Rupanya ada perjamuan. Cukup banyak tamu. Soares berbicara kepada wartawan tentang penolakannya terhadap hasil jajak pendapat karena berbagai kecurangan yang tidak bisa dimaklumi.

Setelah ikut makan enak, saya pulang ke penginapan sekitar jam 8:30 malam. Sudah rindu bersantai dengan Laffae sambil ditemani nikotin dan kafein. Tapi Laffae tidak ada. Anehnya, penginapan jadi agak sepi. Para pemantau sudah check-out, juga polisi-polisi UNAMET dari Pakistan itu. Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali tidur.

Namun saat rebah, kantuk susah datang karena terdengar suara-suara tembakan. Mula-mula terdengar jauh. Tapi makin lama makin terdengar lebih dekat dan frekuensi tembakannya lebih sering. Mungkin karena perut kenyang dan badan capek, saya tertidur juga.

Tanggal 5 September pagi, sekitar jam 09:00, saya keluar penginapan. Kota Dili jauh lebi lengang. Hanya terlihat kendaran-kendaraan UNAMET melintas di jalan. Tak ada lagi kendaraan umum. Tapi saya harus keluar. Apa boleh buat – jalan kaki. Makin jauh berjalan makin sepi, tapi tembakan nyaris terdengar dari segala arah. Sesiang ini, Dili sudah mencekam.

Tidak ada warung atau toko buka. Perut sudah menagih keras. Apa boleh buat saya berjalan menuju hotel Turismo, hanya di hotel besar ada makanan. Tapi segera setelah itu saya kembali ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan hari itu.

Selepas magrib 5 Setember 1999. Saya sendirian di penginapan. Lapar. Tidak ada makanan. Dili sudah seratus persen mencekam. Bunyi tembakan tak henti-henti. Terdorong rasa lapar yang sangat, saya keluar penginapan.

Selain mencekam. Gelap pula. Hanya di tempat-tempat tertentu lampu menyala. Baru kira-kira 20 meter berjalan, gelegar tembakan dari arah kanan. Berhenti. Jalan lagi. Tembakan lagi dari arah kiri. Tiap berhenti ada tarikan dua arah dari dalam diri: kembali atau terus. Entah kenapa, saya selalu memilih terus, karena untuk balik sudah terlanjur jauh. Saya berjalan sendirian; dalam gelap; ditaburi bunyi tembakan. Hati dipenuhi adonan tiga unsur: lapar, takut, dan perjuangan menundukkan rasa takut. Lagi pula, saya tak tau ke arah mana saya berjalan. Kepalang basah, pokoknya jalan terus.

Sekitar jam 11 malam, tanpa disengaja, kaki sampai di pelabuhan Dili. Lumayan terang oleh lampu pelabuhan. Segera rasa takut hilang karena di sana banyak sekali orang. Mereka duduk, bergeletak di atas aspal atau tanah pelabuhan. Rupanya, mereka hendak mengungsi via kapal laut.

Banyak di antara mereka yang sedang makan nasi bungkus bersama. Dalam suasa begini, malu dan segan saya buang ke tengah laut. Saya minta makan! “Ikut makan ya?” kata saya kepada serombongan keluarga yang sedang makan bersama. “Silahkan bang!.. silahkan!..” si bapak tampak senang. Tunggu apa lagi, segera saya ambil nasinya, sambar ikannya. Cepat sekali saya makan. Kenyang sudah, sehingga ada tenaga untuk kurang ajar lebih jauh: sekalian minta rokok ke bapak itu. Dikasih juga.

Sekitar jam 3 malam saya berhasil kembali ke penginapan.

Pagi menjelang siang, tanggal 6 September 1999. Saya hanya duduk di lobi penginapan karena tidak ada kendaraan. Tidak ada warung dan toko yang buka. Yang ada hanya tembakan tak henti-henti. Dili tak berpenghuni – kecuali para petugas UNAMET. Nyaris semua penduduk Dili mengungsi, sebagian via kapal, sebagian via darat ke Atambua. Orang-orang pro-kemerdekaan berlarian diserang kaum pro-integrasi. Markas dan sekretariat dibakar. Darah tumpah lagi entah untuk keberapa kalinya.

Sekarang, saya jadi teringat kata-kata Laffae sehabis menyaksikan pengumuman hasil jajak pedapat kemarin: “Dili ini akan kosong..”

Saya pun teringat kata-kata dia: “Saya perlu lima ribu orang untuk mengguncang kota Dili..” Ya, sekarang saya berkesimpulan ini aksi dia. Aksi pejuang pro-integrasi yang merasa kehilangan masa depan. Ya, hanya saya yang tahu siapa tokoh utama aksi bumi hangus ini, sementara teve-teve hanya memberitakan penyerangan mililis pro-integrasi terhadap kaum pro-kemerdekaan.

Tentu, orang-orang pro-integrasi pun mengungsi. Laffae dan pasukannya ingin semua orang Timtim bernasib sama: kalau ada satu pihak yang tak mendapat tempat di bumi Loro Sae, maka semua orang timtim harus keluar dari sana. Itu pernah diucapkannya kepada saya.

Inilah hasil langsung jajak pendapat yang dipaksakan harus dimenangkan. Hukum perhubungan antar manusia saat itu sepasti hukum kimia: tindakan lancung dan curang pasti berbuah bencana.

***

Saya harus pulang, karena tidak banyak yang bisa dilihat dan ditemui. Untung masih ada omprengan yang mau mengantara ke bandara. Sekitar jam 11 pagi saya sampai di pelabuhan udara Komoro. Keadaan di bandara sedang darurat. Semua orang panik. Semua orang ingin mendapat tiket dan tempat duduk pada jam penerbangan yang sama. Karena hura-hara sudah mendekati bandara. Lagi pula penerbangan jam itu adalah yang satu-satunya dan terakhir.

Bule-bule yang biasanya tertib kini saling sikut, saling dorong sampai ke depan komputer penjaga kounter. Ada bule yang stres saking tegangnya sampai-sampai minta rokok kepada saya yg berdiri di belakang tenang-tenang saja. Beginilah nikmatnya jadi orang beriman.

Banyak yang tidak kebagian tiket. Entah kenapa saya lancar-lancar saja. Masuk ke ruangan tunggu, di situ sudah ada Eurico Gutteres. Saya hampiri dia, saya bilang saya banyak bicara dengan Laffae dan dia menyampaikan salam untuknya. Eurico memandang saya agak lama, pasti karena saya menyebut nama Laffae itu.

Sore, 7 Novembe3, 1999, saya mendarat di Jakarta.

Penduduk Timtim mengungsi ke Atambua, NTT. Sungguh tidak mudah mereka mengungsi. Polisi UNAMET berusaha mencegah setiap bentuk pengungsian ke luar Dili. Namun hanya sedikit yang bisa mereka tahan di Dili.

Di kamp-kamp pengungsian Atambua, keadaan sungguh memiriskan hati. Orang-orang tua duduk mecakung; anak-anak muda gelisah ditelikung rasa takut; sebagian digerayangi rasa marah dan dendam; anak-anak diliputi kecemasan. Mereka adalah yang memilih hidup bersama Indonesia. Dan pilihan itu mengharuskan mereka terpisah dari keluarga.

Pemerintah negara yang mereka pilih sebagai tumpuan hidup, jauh dari menyantuni mereka. Kaum milisi pro-integrasi dikejar-kejar tuntutan hukum atas ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’, dan Indonesia, boro-boro membela mereka, malah ikut mengejar-ngejar orang Timtim yang memilih merah putih itu. Eurico Guterres dan Abilio Soares diadili dan dihukum di negara yang dicintai dan dibelanya.

Jendral-jendral yang dulu menikmati kekuasaan di Timtim, sekarang pada sembunyi. Tak ada yang punya cukup nyali untuk bersikap tegas, misalnya: “Kami melindungi rakyat Timtim yang memilih bergabung dengan Indonesia.” Padahal, mereka yang selalu mengajarkan berkorban untuk negara; menjadi tumbal untuk kehormatan pertiwi, dengan nyawa sekalipun.

Sementara itu, para pengungsi ditelantarkan. Tak ada solidaritas kebangsaan yang ditunjukkan pemerintah dan militer Indonesia.

Inilah tragedi kemanusiaan. Melihat begini, jargon-jargon negara-negara Barat, media asing, tentang ‘self determination’, tak lebih dari sekedar ironi pahit. Sikap negara-negara Barat dan para aktifis kemanusiaan internasional yang merasa memperjuangkan rakyat Timtim jadi terlihat absurd. Sebab waktu telah membuktikan bahwa yang mereka perjuangkan tak lebih tak kurang adalah sumberdaya alam Timtim, terutama minyak bumi, yang kini mereka hisap habis-habisan.

Pernah Laffae menelepon saya dari Jakarta, kira-kira 3 bulan setelah malapetaka itu. Ketika itu saya tinggal di Bandung. Dia bilang ingin ketemu saya dan akan datang ke Bandung. Saya sangat senang. Tapi dia tak pernah datang..saya tidak tahu sebabnya. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.

***

12 TAHUN BERALU SUDAH. APA KABAR BAILOUT IMF YANG 43 MILYAR DOLAR ITU? SAMPAI DETIK INI, UANG ITU ENTAH DI MANA. ADA BEBERAPA PERCIK DICAIRKAN TAHUN 1999-2000, TAK SAMPAI SEPEREMPATNYA. DAN TIDAK MENOLONG APA-APA. YANG TERBUKTI BUKAN MENCAIRKAN DANA YANG DIJANJIKAN, TAPI MEMINTA PEMERINTAH INDONESIA SUPAYA MENCABUT SUBSIDI BBM, SUBSIDI PANGAN, SUBSIDI LISTRIK, YANG MEMBUAT RAKYAT INDONESIA TAMBAH MISKIN DAN SENGSARA. ANEHNYA, SEMUA SARANNYA ITU DITURUT OLEH PEMERINTAH RENDAH DIRI BIN INLANDER INI.

Yang paling dibutuhkan adalah menutupi defisit anggaran. Untuk itulah dana pinjaman [bukan bantuan] diperlukan. Namun IMF mengatasi defisit angaran dengan akal bulus: mencabut semua subsidi untuk kebutuhan rakyat sehingga defisit tertutupi, sehingga duit dia tetap utuh. Perkara rakyat ngamuk dan makin sengsara, peduli amat.

Melengkapi akal bulusnya itu IMF meminta pemerintah Indonesia menswastakan semua perusahaan negara, seperti Bank Niaga, BCA, Telkom, Indosat.

Pernah IMF mengeluarkan dana cadangan sebesar 9 milyar dolar. Tapi, seperti dikeluhkan Menteri Ekonomi Kwik Kian Gie ketika itu, seperak pun dana itu tidak bisa dipakai karena hanya berfungsi sebagai pengaman. Apa bedanya dengan dana fiktif?

Lagi pula, kenapa ketika itu pemerintah Indonesia seperti tak punya cadangan otak, yang paling sederhana sekalipun. KENAPA MAU MELEPAS TIMTIM DENGAN IMBALAN UTANG? BUKANKAN SEMESTINYA KOMPENSASI? ADAKAH DI DUNIA INI ORANG YANG HARTANYA DI BELI DENGAN UTANG? NIH SAYA BAYAR BARANGMU. BARANGMU SAYA AMBIL, TAPI KAU HARUS TETAP MENGEMBALIKAN UANG ITU. BUKANKAH INI SAMA PERSIS DENGAN MEMBERI GRATIS? DAN DALAM KASUS INI, YANG DIKASIH ADALAH NEGARA? YA, INDONESIA MEMBERI NEGARA KEPADA IMF SECARA CUMA-CUMA.

Kalau saya jadi wakil pemerintah Indonesia waktu itu, saya akan menawarkan ‘deal’ yang paling masuk akal: “Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” Dengan demikian, tidak ada utang piutang.

SAMPAI HARI INI INDONESIA MASIH MENYICIL UTANG KEPADA IMF, UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH IA DAPATKAN. SAYA HARAP GENERASI MUDA INDONESIA TIDAK SEBODOH PARA PEMIMPIN SEKARANG. [KbrNet/Slm]

Source: Petani Keyboard

390 Tanggapan to “Sejarah Lepasnya Timor Timur Yang tak Pernah Terungkap”

  1. geregetttt… stelah membaca ini

  2. yassin said

    Aduh,,sedih saya baca ini,,kemana 0taknya para pemimpin kita!!!

  3. dira said

    mantaaaappppp

  4. Anonim said

    pejabat cuma memikirkan kepentingan pribadi saja… pilihlah pejabat yg menggunakannhati nuranindlm memimpin pada 2014

  5. Anonim said

    Laporanmu banyak biasnya. Wartawan koq memihak. Mana ceritra orang2 Yang pro kemerdekaan? Apa alasan mereka? …

  6. Anonim said

    Coba lihatlah dari dua sisi, supaya liputannya lebih berimbang. Memang keputusan pada saat itu tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak bisa disalahkan begitu saja. Timtim itu layaknya kanker pada saat itu, jika dipertahankan, akan terus merongrong.

  7. nurul aini said

    Jadi sedih kenapa seperti ini ya kasian pejuang timtim

  8. Anonim said

    ammpuun deh, besok daerah mana lagi yg mau “:dijual”???? Indonesia oh.. Indonesia…

  9. Sarmina T said

    Hahh… nyesak juga bacanya. Ijin share ya!
    Memang kita butuh berita berimbang tapi paling tidak sudah dapat kisah “satu bagian kecil” dari liputan Bang Kafil jika dibandingkan banyaknya berita tentang Timtim.

    Faktanya memang saat ini untuk mereka yang terpisah (asal kata: tidak sengaja pisah
    alias pisah paksa) ada daerah petangisan tiap tahun…. seperti tembok ratapan… Mereka yang bersaudara atau keluarga atau kerabat yang sekarang ada di Timtim dan sebagian di luar Timtim mengadakan temu kangen dengan saling peluk..bertangisan… 😦 Bisa ikut mewek lihatnya.

  10. denni said

    Seandainya fakta ini diungkap pd saat itu, mungkin timor timur akan tetap jd milik indonesia… sedihnya..

  11. Kutu Busuk said

    TIMOR TIMUR ….
    Adalah lokasi ajang ‘kepentingan’ amerika dan australia ….
    Saat akan merdeka (sebelum bergabung ke Indonesia), cia sangat ‘gelisah dan khawatir’ kalau timtim merdeka … karena fretelin adalah komunis …. maka mereka meminta Indonesia untuk mempengaruhi rakyat timtim minta bergabung dengan Indonesia …., banyak anggota Koppassus yang harus adaptasi warna kulit = agar menjadi hitam …… dan berhasil. hampir banyak APBN RI terserap ke timtim untukmenaikan ‘citra’ …. propinsi lain yang sama sama berjuang merebut kemerdekaan banyak yang tertinggal kemajuannya.

    kemudian … tetangga kita yang ‘selalu culas’ …. australia sangat khawatir dengan timtim menjadi bagian dari Indonesia … karena australia berpikir di timtim dan celah timor …. itu banyak ‘harta karunnya’ …. mereka bergerilya agar timtim dilepas .. …. usahanya australia berhasil ..

    dan sekarang … setelah dikuras habis harta karunnya oleh australia …. timtim menjadi negara yang miskin dan sumber alamnya sudah habis !!! ….
    banyak negara dengan warga negaranya yang kita sebut ‘bule’ …. isi hatinya lebih hitam dari warna kulit warga afrika …

  12. irwan said

    Saya orang NTT yg benar2 ikut merasakan kesedihan dan kehilangan ras saudara kami.

  13. Anonim said

    Veteran pejuang TIM TIm sungguh akan teriris-iris hatinya bila baca berita ini.

  14. Anonim said

    miris bacanya.. beginilah kalau para wakil rakyat kita ga berjiwa satria.. takut dgn pihak asing dan mementingkan keselamatan diri sendiri.. oh Indonesia.. akan kah semakin terpuruk dan punah negara ini.. :((

  15. Anonim said

    Artikel terbaik untuk dibaca jenerasi muda

  16. Tangkap Semua Pejabat periode lepasnya TIMOR-TIMOR

  17. saya yang tidak pernah mengikuti kisah merdekanya Timor Leste begitu tersentak dengan berita yang luar biasa ini. Tapi semua sudah terjadi, yang hanya bisa dilakukan sebagai generasi muda adalah berbuat sesuatu yang berguna bagi INDONESIA. Be smart, sehingga bisa bertindak dengan baik untuk kemajuan Merah Putih ………………

  18. Hendri Julianto said

    Berurai air mata membaca ini. keji bukan kepalang, bule-bule yang katanya berotak modern tapi ternyata lebih primitif. Pemerintah kita sudah terlalu lama jadi kacung. Semoga Setelah ini tak ada lagi kedaulatan kita terburai, tak ada lagi tanah Ibu pertiwi yang lepas dari pelukan.

  19. Gede Sukalima Aksirnaka Jalan Pulau Samosir No 26 Singaraja Bali said

    Saya guru yg masih berada di Timtim saat pengumuman hasil jajak pendapat….pada saat itu hanya saya sendiri guru yg dari luar ada di sekolah itu (SMAN SUAI COVALIMA)..Maaf Mas Kafil Yamin….. Anda salah kalau mengatakan pemimpin kita sekarang Bodoh…. pemimpin kita pintar… tapi PINTARnya membohongi rakyat sendiri…. Saya masih ingat waktu itu sebelum jajak pendapat…. Menteri Pendidikan saat itu berjanji dan mengatakan sudah menyiapkan beberapa Miliar untuk mengganti aset pribadi para guru dan siap memtutasikan ke wilayah Indonesia jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan… kira-kira uagnya di bawa kemana ya kan sudah siap katanya….(di siarkan di TV Swasta) Nyatanya sampe sekarang mana buktinya… tidak satu pun benar bahkan diantara sekian pengungsi dari berbagai profesi saya merasa profesi gurulah yg paling tidak menentu……Contoh Deptan menyiapkan anggaran perkepala pengungsi dan ditampung di Balai Pelatihan Nulbaki Kupang artinya setiap pengungsi yg dari Deptan dan keluarganya dapat bantuan dana yg cukup membantu…..Tidak hanya itu.. waktu itu ada perwakilan dari kementrian yg memberikan PIAGAM penghargaan atas pengabdian PNS di TIMTIM diserahkan menjelang pegawai yg bersangkutan kembali ke Daerah masing-masing,…….. sedang kami saat menghadap ke Kanwil Dikbud malah di pingpong harus ke Kandep dululah harus begini and soon….. SYA sempat dengar cerita yg hampir sama dengan yg Mas ceritakan tentang kecurangan UNAMET…. tapi apalah artinya saya seorang guru yg tdk punya kapasitas di bidang itu….sampai saat ini kami masih berusaha berjuang dan menyalurkan aspirasi kami lewat KOKPIT (KOMINTE NASIONAL KORBAN POLITIK TIMOR TIMUR)……Entah bagaimana Hasilnya..????????

  20. Bapak Laffae, perjuangan dan pengorbanan bapak sangat menginspirasi kami, semoga lahir Laffae-Laffae baru di negeri ini. Untuk para politikus penjual bangsa, ingatlah akan hari pembalasan nanti di akhirat kelak.

  21. joyo said

    Walaupun di beberkan kaya gini pejabat pada tidur ngapain jg.mikirin korupsi saja…

  22. Ahmad Fajar said

    jadi pengen cari informasi lagi tentang timtim
    apa yang sebenarnya terjadi, kenapa RI mau melepas timtim yang kaya SDA

  23. Dayan said

    Klu sy tdk terlalu sependapat dg cerita inikrn 2 th sblm jejak pendapat sy pernah ke tim tim ke tempat adik sy yg pegawai pemda disana, menurut mrk org2 asli timor timur selalu mendua hati nya tdk sepenuh nya pro indonesia walaupun di gaji indonesia. Melihat pembangunan2 disana saya cemburu dg timtim saat itu, jalan2 lebih mulus dari pada di kaltim yg kaya minyak dan batubara di tempat saya tinggal waktu itu, tapi masyarakat timtim tdk sepenuh nya loyal dg indonesia, mungkin hanya pejuang2 spt laffae dan guteres beserta pengikut nya saja yg loyal tapi rakyat pd umum nya selalu men dua hati nya, saya tau persis kondisi ini krn banyak kerabat dan org kampung saya yg menjadi pegawai pemda tkt 1 dan tkt 2 di timtim ini yg merasakan mrk seakan akan pendatang yg menjajah. maka nya kemenangan mrk di jejak pendapat tdk sepenuh nya krn curang spt cerita ini. Sebenar nya waktu itu saya berpendapat buat apa membangun daerah yg org2 nya tdk menghargai pengorbanan pemerintah indonesia dan pendatang2 saat itu sbg warga kls dua. Di instansi2 banyak klandestin, mrk makan uang indonesia tapi diam2 berjuang di bawah tanah. Jadi cerita wartawan ini hanya mereferensi ke cerita2 laffae saja tapi tdk melihat ke kondisi rakyat pd umum nya. Saya sangat setuju tim tim lepas dari indonesia krn biaya2 politik indonesia sangat mahal untuk mempertahan kan nya. Disamping rakyat nya tdk menghargai apa yg telah di lakukan indonesia, mrk hanya lebih menghargai apa yg di ucap kan oleh pemimpin agama yg memang pro kemerdekaan.

  24. aden suraden said

    Orang2 biadab itu Hanya neraka yang mereka tunggu

  25. Hasan said

    Para pemimpin Чğ ambil keputusan waktu itu bener2 tidak punya harga diri, tidak punya otak dan pikiran, dan tidak punya malu. Malah ada pula. Чğ masih berambisi uη†̥ϋк memimpin kembali negeri ΐηΐ tanpa яαsα malu..

  26. Mst said

    Saya pernah bekerja di Tim2 selama 14 th dr th 1986 – 1999 seminggu menjelang jajak pdpt. Selama wkt itu saya berkerja di RSU Maliana, Pusk Maubara, Dinkes Liwuica dan terakhir di Dinkes Prov Tim2. Bahkan ke 2 anak ssya lahir di RSU Bidau, Dili. Sedikit ttg masy Tim2 yg pernah sy layani dlm bidang kes dari desa smp kota, mereka pd dsrnya baik dan tdk senang berintegrasi dg Indonesia. Suasana scr berangsur2 berubah saat Tim2 terbuka bagi umum shg bnyk org2 yg dulu lari ke Portugal atau Australia kembali ke Tim2 menggalang kekuatan, melakukan intimidasi dan propaganda merdeka, itu terjadi kira2 mulai th 90an. Masyarakat terpecah mjd 3 kelompok: promerdeka, abstain dan prointr. Yg pro merdeka kebanyakan justru para pegawai pemerintah baik di prov maupun kab serta para aktifis yg dtg dr LN, sedangkan masy umumnya tdk memilih alias ikutan saja mana yg kuat. Yg proint itu besutan ABRI saat itu.
    Cerita spt dlm tulisan tsb sdh sy dengar sejak dlm persiapan dan saat jajak pendapat bahwa:
    1. Warga proint tdk boleh mendaftar sbg ptg pendataan ataupun di tps, pintu tertutup bagi proint.
    2. Bahkan kotak tps sdh terisi sblm digunakan
    3. Saat berlangsung jajak pdpt di tps ada yg mengarahkan hrs pilih apa.
    Terkesan pimpinan negosiasi kita sangat lemah, tidak tegas dan rendah diri, tdk tampak sbg pejuang.
    Hanya ini yg mampu terucap “SEDIH & KECEWA”!
    Rumah yg kubangun dg mengumpulkan sedikit demi sedikit tak berbekas krn dibakar entah oleh siapa, saat saya datang lg pd 2007 sedih melihat bekas rumah yg sdh ditinggali oleh org lain.

  27. Mst said

    Maaf, ada koreksi:
    Sedikit ttg masy Tim2 yg pernah saya layani ……. mereka pd dsrnya baik dan senang berintegrasi dg Indonesia.

  28. Anonim said

    Ya bodohnya pemimpin indonesia selali didikte negara lain takut digunvsng posisinys atau takut mati mana bela negara kan banyak pejuang sejati Indonesia stau mungkin takut kalah pamor bahwa pemimpinnya pengecut end

  29. Vincentius Triswanto said

    Ya…semua sudah terjadi. Maka marilah kita bangun seluruh wilayah RI secara adil dan merata, agar gak ada lg yg pengin merdeka. Mengapa juga wilayah bagian barat terus yg diperhatikan? Anda yg tau kondisi Indonesia Timur, mungkin akan maklum jika kasus Tim Tim pernah terjadi. Hanya dgn pemerataan pembangunan secara adil, maka rong-rongan terhadap NKRI akan bisa dikibas. Maka, yg pd hoby korupsi kuwi, ndang tobato….ngono lho….

  30. ijul.com said

    ya allah kenapa se BODOH ini para pemim pin negeri ini..

  31. Anonim said

    jgn trlalu cepat ambil kesimpulan, peran media sangat penting pada situasi genting trsbt tp apa yg di dapat dari media pada saat itu kita hanya taw hasil dr pemilihan pro integrasi dan pro kemerdekaan bnyakan yang pro kemerdekaan kita hanya taw yg itu.. jd si jgn salahkan pemerintah salahkan saja mental2 wartawan pada saat itu yg tidak menulis ato memberikan berita yang benar..

  32. bram said

    persiden Indonesia nya siapa sih waktu itu? kok nego banget apa emang gak ngerti politik.

  33. Silva said

    Fuck Off

  34. kaifas ximenes said

    percaya berita pembohon besar org yang menulis ini mungkin hiri lepasnya Timor Leste dari Indonesia supaya anda tahun bahwa Timor Leste bergabun dg indonesia buka atas keinginan rakyat Timor Leste tp di invasi oleh invasor indonesia pa tgl 7 desember 1975

  35. kaifas ximenes said

    Timor leste lepas buka semata-mata dapat bantuan dari amerika dan australia, ttp atas perjauanga dari seluruh kekuatan Timor leste sendiri yaitu dari frenti ankatan bersenjata Timor Leste ( FALINTIL) yang dihutan dan Frenti caldistin ( gerakan bawah tanah) yang dikota frenti diplomatic yang perkedudukan diluar negeri. ketiga kekuatan inilah yang membuat pemerintah orde baru ke walahan utk menhadapinya dan setelah lansernya soeharto maka Habibi tau bahwa Timor leste adalah kanker yang ganas bisa merusak citra bangsa indonesia dimata dunia internasional mk untuk membuktikan bahwa Timor-Timur itu masuk ke dalam wilayah RI atas kemauan masyarakat sendiri atau dimanipulasi ternyata melalui hasil jajak pendapat membuktikan bahwa integrasi balibo hanyalah sebuah kebohongan besar yang dibuat oleh rezim soeharto dan antek2nya.

  36. angga said

    Pemimpin yg tak tau malalu.

  37. Anonim said

    Au ah glap

  38. Dora Ayumi said

    sedh dan kecewa, tp itulah politik
    ijinkan saya berbagi

  39. intan said

    Yah, kenyataanya Timor Leste sudah merdeka. Kita tinggal lihat saja, perkembangan kemerdekaannya, apakah Timor Leste akan lebih baik dan maju tanpa Indonesia??. Hanya waktu yang dapat menjawabnya!

  40. sedang membayangkan gimana kalo saya dalam posisi Laffae, Guiteres dll, hati mereka pasti hancur lihat kampung halaman dijual ke rente asing…

  41. wane said

    saya pertama tau cerita tentang kemerdekaan timtim dari teman kuliah yg pro-integrasi, asli orang timtim dan sudah pindah di ke NTT, sangat miris dari cerita dia. bahkan sempat berdiri bulu roma dari cerita dia. tragis dan memilukan.. carita diatas mengingatkan cerita sahabatku tersebut yang berpesan ke saya, “anak muda kembangkan bakatmu untuk kebaikan umat dan kejujuran di indonesia”

  42. nanang said

    hanya satu alasan, sialnya yang jadi presiden gantikan pak harto kok habibi wakil presiden orang bugis yang membawa sial, coba bukan dia, mungkin lain ceritanya, “(seandainya sudomo jadi wakil presidennya kala itu) ngenes…:-( 😥

  43. arsyad said

    40 miliar dollar uang imf utk segelintir orang ya….tentu aja timor timur hrs lepas lah….

  44. Bung Kafil Yamin, Sy rasa analisa anda sebagai wartawan agak memihak. Bung Kafil mengatakan bawah hasil referendum sudah diketahui sebelum adanya referedum, Ada benarnya dan hasilnya suda pasti Merdeka dan bukan karena IMF/world bank etc,. Kenyataanya Timor Leste dihangap rawan di jaman Indonesia karena adanya perlawanan dan istilahnya tidak aman bahkan sempat menjadi propinsi tertutup dan bukti dari pada pembentukan pasukan2 organisasi milisi tersebut adalah bukit bawah Pro Merdeka sangat kuat, Jika Pro Indonesia lebih banyak pada saat itu maka harusnya santai saja dan tidak perlu membentuk organisasi2 milisi tersebut. Saya masih ingat perkataan salah seorang pejabat Indonesia di saat itu dimana mengatakan bawah di Timor Leste tidak boleh buka Universitas karena nanti jadi pintar malah minta merdeka. Jadi kekawatiran tersebut suda ada karena memang di Timor Leste faktanya adalah menginginkan merdeka dalam kesempatan apapun yang muncul. Dgn munculnya opsi referendum maka menjadi kesempatan untuk Timor Leste, entah itu ada UNAMET atau IMF atau WORLD BANK atau bahkan org asing lainnya, tetap saja hasilnya akan pasti merdeka. Yang justru mengagetkan adalah begitu banyak Pro Indonesia di hasil referendum. Kami perkirakan bawah kurang lebih 90% pro merdeka. Di saat itu Bung Kafil mengatakan jarang melihat orang Pro Merdeka, sangat wajar, anda sendiri adalah orang Indonesia dan berdekatan dengan orang Pro Indonesia, sudah tentu anda di cap orang yang berbahaya utk didekati. Kenapa saya mengatakan demikian. Mereka yang Pro Indonesia setelah hasil Referendum keluar dari Timor Leste dan masuk Indonesia. Sekarang saya tanyakan andai Kata hasil Referendum di menangkan oleh Pro Indonesia maka yang Pro Merdeka akan lari kemana???. Jangan kaget jika saat itu banyak orang Pro Merdeka menutupi diri sebagai milisi dan Pro Indonesia, bahkan sebagai TNI pun, karena yang di hitung adalah pada saat tusuk kertas pilihan di hari Referendum. Sejarah Timor Leste masuk Indonesia saja suda tidak jelas atau alias banyak rekayasa etc. Saya rasa anda sebagai wartawan boleh2 saja menulis apa yang anda rasakan dan melihat, tetapi kemerdekaan Timor Leste bukan karena World Bank/IMF, AUSTRALIA, PORTUGAL dan lain melainkan keinginan dari masyarakat Timor Leste sendiri. Anda berbicara mengenai EURICO GUTTERES dimana dia mengatakan bawah apapun hasil referendum semua pemimpin harus tinggal di Timor Leste untuk menpertangung jawabkan hasil tersebut, Kenyataanya begitu hasil Keluar Malah EURICO GUTERRES sendiri yang membeli tiket pesawat untuk kabur dari Timor Leste. Saya mohon agar Bung Kafil Yamin lebih investigatif terhadap cerita dari semua pihak dan akhirnya membuat analysa. Saya menghargai anda sebagai warga dari Indonesia melihat dari kaca mata Indonesia, sy hargai anda, tetapi jangan lupa bawah kami warga dari Timor Leste juga mempunyai kaca mata dari pihak kami juga. Bung Kafil mengatakan bawah semua kepentingan adalah karena hasil bumi Timor Leste, masyarakat Timor Leste juga menilai kepentingan Indonesia adalah minyak bumi oleh karena itu Indonesia dan Australia kerja sama dan membentuk Timor gap atas kepentingan Timor Leste. Tentunya sekarang setiap bulan perusahan2 yang ada di Timor Gap harus bayar royalti kurang lebih US$300,000,000 per bulan ke pemerintah Timor Leste, sedangkan di saat yang sama pada jaman Indonesia semuanya ke pusat dan Timor Leste hanya bisa mengkontribusi pendapatan daerah sebesar US$100,000 per tahun, Bedah jauhkan. Maka untuk masyarakat Timor Leste pilihan Merdeka adalah pilihan yang paling tepat. Bung Kafil juga mengatakan bawah harusnya World Bank menganti rugi Indonesia dengan apa saja yang di bangun selama Indonesia berada di Timor Leste. Bung Kafil infrastructure sebesar 87% di bumi hanguskan oleh pihak Pro Indonesia di tahun 1999 dan yang menjadi pertanyaatan sekarang adalah Minyak Timor Leste yang di ambil oleh Pemerintah Indonesia bersama Australia ganti ruginya bagaimana, bukannya Indonesia juga harus mengembalikan hasil bumi Timor Leste yang selama itu di jual ke Australia. Sekian Saja, Dan Salam dari Timor Leste

  45. Anonim said

    Kafil Yamin…Anda org gila kali….Lafaek tahun 1999 itu sudah tidak ada lagi Di Timor leste…dia sudah dijakarta sejak tahun 90an klo tidak salah..anda jangan merkayasa lagi anda berbohng.
    apalagi anda wartawan dari Indonesia pasti beritanya miring kayak gini…anda mau tulis kayak apa aja…kami sudah merdeka……

  46. Aroe said

    Salah satu cara untuk membohongi sejarah adalah Anda Sendiri yang menulis kan artikel ini… anda telah menipu generasi baru Indonesia yang tidak tahu benar sejarah Indonesia.. apalagi sejarah Timor Leste… Bung Kafil… jadilah wartawan yang professional, Independent, dan tidak membohongi public… hehehee

  47. Hei axxxxg axxxxg indonesia terimalah kenyataan bahwa kami orang timor leste lebih baik mati daripada hidup di bawah negara tidak berbobot seperti indo! Sibuk dulu sana sama kemiskinan dan korupsi di negeri mu! Makan itu kemiskinan di jakarta! Nanti krisdayanti yg lain bakalan dixxtxt sama orang timor leste tu! Milisia di kupang aja pada mati karena kelaparan..mana itu tangung jawab pemerintah ..axxxxg kalian

  48. Fuck indonesia

  49. hahaha maun Pedro Carascalao mos hakarak ba resposta hotu ema bulak ne’e,… cerita di atas itu hanyalah sebuah cerita khayalan, bukan berdasarkan fakta di lapangan. Dari tahun 1999 sampai 2002, tersebar banyak CERITA PENDEK (cerpen) dan CERITA BERSAMBUNG (cerber) yang berlatarkan situasi Timor-Leste, semuanya hanyalah cerita belaka tetapi bukanlah sejarah, bukanlah fakta yang terjadi di Timor-Leste. Nah si Kafil itu, satu diantara yang suka baca cerpen and cerber itu dan mulailah ia menulis cerpennya sendiri seolah-olah temuan seorang wartawan hahahaha…. saya ada ribuan cerpen dan cerber dari ribuan orang Indonesia yang mencoba menghibur diri atas kekalahan telak dalam jajak pendapat.

  50. Orang jawa itu cngen dan lemah lowo! Ngak cocok sama orang tim tim; tingi gagah dan perkasa! Orang jawa itu cocok buat lawak! Jakarta aja ngak ada aturan! Masa msu atur timor leste! Mana munkin bun! Malah krisdayanti mengunsi ke tim tim

  51. Eurico guterres itu banci bun! Pernah di makan oleh tentara indo makanya jadi milisi bun! Hati hati bun

  52. Chandro said

    Kafil Yamin, kalimat anda itu mengandung unsur politik yang membandingkan kepentingan pribadi masing-masing! Anda jelas memantau keadaan yang fakta terjadi di Timor Leste kota Dili apa atau anda hanya mendengar dan membuat berita yang tidak ditinjau sesuai dengan fakta? Karena, dari kalimat patung Yesus di bilang patung Maria” Terus, rezeki nomplok…… emangnya panitia orang Timor Leste itu korupsi seperti orang Indonesia yaitu Gayus Tambunan ama Anas Urbaningrum dan Atut Chosiyah ya???? Maka itu Kafil Yamin, jadi wartawan yang adillah dalam menyampaikan berita….jangan jadi wartawan koruptor!!!!! Wkwkwk….

  53. anonymous said

    Akan lebih baik kalau Indonesia sendiri MEREVISI kebali BUKU-BUKU SEJARAH MEREKA yang di gunakan untuk di ajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Semuanya adalah bohong. Maka dari itu pirikan kaum mudah di Indonesia pun ikut-ikutan bohong kayak gitu.

  54. Anonim said

    bung kafil, dilihat dari segi apa sehinga hasil dari jajak pendapat itu dimanipulasi, jangan harap bahwa para tentara, police dan pegawai orang timor leste yang berkeja dengan indonesia itu semuanya pro-integrasi. contohnya Bapa Eks gubernur timur-timur, Ir Mario viegas Carascalao, beliu sebagai gubernur timur-timur pada masa penjajahan indonesia, tetapi beliu sendiri sebagai pejuang gerakan bawah tanah untuk kemerdekaan timor leste (Clandistin). beliu sendiri yang melakukan pertemuan gelap dengan Bapa komadan Falintil xanana gusmao di Gunun Matebian (kota baukau). untuk merencanakan gerakan perjuangan bawah tanah (Clandistin). jadi selama ini kita hanya mempermaikan indonesia. supaya membangun timor leste, dari infrakstruktur, pendidikan, dan kesehatan, buktinya bapak Eks gubernur Timur-timur, Ir .Mario viegas Crascalao, dapat menjabat Waki-perdana Mentri pada pemerintahan IV timor leste. sebenarnya masih banyak musuh yag ada dalam selimut indonesia sampai sekarang,

  55. anonymous said

    Pemerintah Indonesia sendiri MATA DUITAN. Uang yg di pinjam dari World Bank utk kepentingan rakyat miskin di Indonesia di pakai semua utk membentuk Milisi di Timor Leste demi mempertahankan posisi dan jabatan mereka. Para pejabat dan TNI di Indonesia tu sangat berani mendapatkan kebahagiaan diatas penderitaan orang lain. Naik pangkat kalau membunuh orang Timor, dapat posisi di pemerintahan kalau bisa sogok orang Timor utk saling bunuh. Itulah skillnya orang Indonesia.

  56. makanya kecil dan pendiam itu Bodoh/bloon? hati-hati bung!

  57. Charles said

    hahaha

  58. Lafaek said

    Puas loe Kafil?

  59. Charles said

    Indonesia ituuu Cuman Jakarta…
    Buktinya Hampir di Semua Tayangan Poloitk yang di bahas Cuman Jakarta…

    Timor-leste yang Pro Integrasi adalah Mereka yang sekarang Menetap di Atambua dan sekitarnya !!
    kasihan saudara kami ituu,udah miskin Manja ( mandi jarang 😀 ) gak ada akses pendidikan,kesehatan bahkan untuk Makan saja susah…

    Pernah Ku duduk dengan Orang Kalimantan,Bali dan Aceh…
    mereka sangat kesal dengan Pemerintah indonesia bahkan menyebut Sby itu Bencong !
    hahaha….
    Indonesia juga merupakan Negara dengan Pengemis jalanan paling terbanyak di Asia Tenggara

  60. KORBAN DARI TNI said

    COBA AJ KLO SAAT ITU ANDA LIPUT BERITANYA DARI SAYA…? MUNGKIN AKAN SAYA JELASKAN JUGA MENGENAI PEMBANTAIAN 12 NOVEMBER 1991 (SANTA CRUZ) BELUM LAGI KEJADIAN2 YG LAINNYA… BILA PERLU SAYA UPLOAD FOTO2NYA MNGENAI TINDAKAN TNI TRHADAP RAKYAT TIM2…? UNTUNGLAH BUKAN KELUARGA ANDA YANG JADI KORBAN SAAT ITU… TOLONG DIPIKIRKAN BAIK2 SAUDARA…

  61. Anonim said

    Makanya harus lihat n tau utk lebih hati2 berpolitk dgn org Timor Leste.. kamu harus berpikiran dgn kultur politik membiasakan org timor itu bisa memahami anda.. jangan memaksakan pilihan org lain nanti seperti Lafae yg kecewa karna tdk tau politik n kultur politik Timor leste… org Timor Leste meskipun semua masyarakatnya masuk organizasi pro-Integrasi tetapi belum tentu dia memilih Merah Putih…hehehehe..
    Merah putih itu warna org Indonesia bukan warna yg pas utk org Tim2…n rekomendasi sy lebih baik Indonesia belajar etika n budaya politik yg baik agar bisa berpolitik melawan Tim2 n beretika dlm politik yg merefleksikan kultur org tim2.. sy melihat hasil itu bukan manipulasi tetpi itu hasil yg benar2 murni n sy merasa banga dgn rakyat TL yg sangat kuat n percaya diri utk memilih merdeka.. ttp sedikit kecewa kenapa pemerintah Indonesia harus memberi obsi? menurut sy melihat pd sejarah yg ada antara Tim2 n Indonesia tdk punya hunbugan sejarah yg sama.. UUD thn 45 indonesia jg hanya mengatakan penjajahan Hindia belanda yg merupakan bagian dari negara kesatuan republik Indodonesia.. kenapa Indonesia harus besikukuh mempertahankan n meperebut Tim2 utk menjd bagian dari negara NKRI.. Negara Indonesia seharusnya merasa malu melihat semua hal yg terjd n meminta maaf kepd masyarakat TL krn banyak melalkukan pelanganran HAM berat di Tim2 dari thn 1975-1999 yg di lalukan o/ militer Indonesia n Milisi Pro-Integrasi dgn memperkosa n membunuh org2 TL mereka seharus merasa betangujawab atas semua kejahatan mereka di mahkama kejahatan internasional terhapa perbuatan kejahatan mereka…

    VIVA TIMOR LESTE UKUN RASIK-AN.. DUNI BAPA SAI…INAHUIN……

  62. Anonim said

    ehehhehehhehehehehehheheheheheh urus tu kebanjiran & bencana alam sory ya

  63. Jose namira said

    Kasihan melihat seorang wartawan yang bekerja untuk media asing, tetapi kemampuan menulis nya sangat jauh dari balance reporting tentang sejarah Timor-Leste dalam waktu beberapa hari berada di kota Dili, Menulis nama patung Cristo Raja saja sudah salah apa lagi yang lain seperti lokasi pengumuman hasil jajak pendapat bukan di hotel Turismu tetapi hotel Mahkota. Banyak cerita yang ditulis itu tidak sesuai dengan fakta sebenarnya. What a pity to employ this poor journalist! you deserve to work for non media!

  64. This is east timor defence league from uk.north irland.portugal.australia and mainland timor;we wasnt with u b4,now n we will not in near future! We will help irian, aceh 2 have their own self independent! N fuck indonesia! We never feel belonh to ina anyway! Timor defence league!

  65. Bung banyak milisi yg sdah kembali ke tim tim! Ada yg jadi menteri pariwisata ada yg jadi ketua federasi sepakbola tim tim! Puluhan kembali ke tanah air bung! Kemiskin di ina meraja lela, urus tu bung! Jangan asal gmomong!!!!!! Tai lu indonesia…lafae sama eurico itu banci mas pernah di makan oleh tentara 744, makanya harus jadi milisi dong hahahahaiillooooooooiiiiiiii…viva timor leste

  66. Anonim said

    wartawan murahan………….

  67. LOVE said

    SUDAH, SUDAH, SUDAH !!!

    BERSIKAPLAH DEWASA SEMUANYA, KALAU TIDAK MAU DIBILANG KANAK-KANAK !
    BAIK INDONESIA MAUPUN TIMOR LESTE SETIDAKNYA PERNAH MENJADI SEBANGSA DAN SETANAH AIR.

    KETIKA INDONESIA BERKUASA DI PROPINSI TIMOR TIMUR DULU, INDONESIA SAMA SEKALI TIDAK MENGANGGAP TOMOR-TIMUR YANG SEKARANG MENJADI TIMOR LESTE SEBAGAI DAERAH JAJAHAN.

    MENGAPA ?

    KARENA INDONESIA SENDIRI PERNAH MERASAKAN PAHIT GETIRNYA DIJAJAH OLEH PARA PENJAJAH KOLONIAL BARAT (EROPA). SELAIN KERUGIAN HARTA BENDA YANG TAK TERHINGGA, JUGA JUTAAN NYAWA PAHLAWAN-2 BANGSA GUGUR DEMI MEMBEBASKAN DIRI DARI PENJAJAHAN HAMPIR 400 TAHUN LAMANYA. BANGSA INDONESIA DIJAMIN MENYADARI SEMUA ITU, PERCAYALAH WAHAI MANTAN SAUDARA SEBANGSAKU TIMOR LESTE.

    JADI KETIKA ENGKAU MASIH BERSATU DALAM NKRI DULU, ENGKAU ADALAH SAUDARAKU, BUKAN JAJAHANKU. DAN KINI KETIKA SEBAGIAN DARI ENGKAU MENJADI TETANGGA BANGSAKU, MAKA ENGKAU ADALAH TETANGGA BANGSA TERDEKATKU SAMA SEPERTI MALAYSIA, PAPUA NUGINI, SINGAPURA DAN AUSTRALIA.

    SEBAGAI NEGARA TETANGGA TERDEKAT, MARILAH KITA BINA HUBUNGAN INTERNASIONAL YANG MESRA BAGAI BUMI DAN BULAN YANG SELALU DEKAT DAN DIHATI WALAUPUN JAUH DI MATA. APAPUN YANG PERNAH TERJADI ADALAH MERUPAKAN MASA LALU KITA BERSAMA YANG TAK ADA LAGI GUNANYA UNTUK KITA PERDEBATKAN.

    PERCUMA DAN TAK MEMBAWA MANFAAT SAMA SEKALI !

    INGATLAH,
    KINI KITA ADALAH TETANGGA BANGSA DEKAT, JADI BETAPA INDAHNYA KETIKA KITA SALING BERKUNJUNG SECARA BAIK-BAIK, KITA TETAP SALING DIDIHARGAI DAN DITERIMA BUKAN SEBAGAI ORANG ASING, TAPI SEBAGAI SAUDARA YANG PERNAH SEBANGSA DAN SETANAH AIR.

    MARILAH KITA LUPAKAN MASA KELAM YANG PERNAH TERJADI DAN SALING BERKATA :

    ORANG TIMOR LESTE :
    “WAHAI SAUDARAKU, KAPANKAH ENGKAU BERTANDANG KE RUMAH KAMI DI TIMOR LESTE ? AKU SUDAH RINDU PADAMU”

    ORANG INDONESIA :
    “WAHAI SAUDARAKU, KAPANKAH ENGKAU BERTANDANG KE RUMAH KAMI DI INDONESIA ? AKU SUDAH RINDU PADAMU”

    MAAF, JIKA ADA KATA-KATA YANG SALAH DARI HIMBAUAN INI.

  68. Mas yang menulis artikel ini saya rasa ada sarat kepentingan politik dari kelompok tertentu. Tetapi kenyataan memang engga seperti yg dia nulis diatas. Anda tau engga? Mas Pedro Carrascalao yg mengomentari artikel anda adalah seorang artis Indonesia. Dia bermain Sinetron dia era 90an bersama Istrinya Sarah Azahri. Ayahnya seorang mantan Gubernur Timor-Timur dan pernah juga jadi Duta Besar RI untuk Rumania. Terakhir, jabatan ayahnya adalah DPA(Dewan pertimbagan Agung). Jabatan yg di embang ayahnya Pedro bukan sekedar jabatan. Tetapi pejabat teras di RI aja masih memilih Merdeka atau PRO Merdeka. Mengapa? Karena mereka punya alasan untuk mendukung PRO Kemerdekaan Timor-Timur. Kalo soal Uang dan Jabatan serta popularitas, mereka punya segalanya di Indonesia. Bukan hanya itu saja, Pedro dan Pacarnya Sarah Azahri adalah artis papan atas. Kakaknya Sonia Carrascalao juga artis Indonesia. Apa yg mereka kagak punya? Pamoritas, oke. Jabatan ayahnya TOP. Tetapi mereka lebih memilih berpisah dari Indonesia karena harkat dan martabat sebagai sebuah negara merdeka beda dgn berintegrasi. Jika mereka saat itu memilih tetap bersama dgn NKRI pun, mereka tetap artis2 ibukota yg TOP. Masih banyak aktivis dan juga Artis Indonesia yg memang pd saat itu mendukung Kemerdekaan Timor-Timur. Sebut saja Mba Sofia Muller Latjuba adalah salah satu artis Ibukota yg ngedukung TIM-TIM Merdeka. Aktivis seperti Eni Rosa Damayanti(Aktivis Solidamor dan LBHI) yg juga anak Purnawirawan Jenderal juga terlibat jaringan kladistina membantu Kemerdekaan Timor-Timur. Eni Rosa Damayanti bahkan di percaya oleh Xanana Gusmao Pemimpin kemerdekaan Timor-Timur menjadi Komandan atau ketua Kladistin wilayah Jawa dan Bali. Jadi, Cerita di artikel mas diatas engga akurat. Data2nya di manipulasi semuanya. Mohon di revisi. By: Yanti

  69. Anonim said

    Pak “Gede Sukalima Aksirnaka” aku masih kenal sama kamu. Aku murid kamu di SMU negeri 1 Suai pada tahun 1998. Kita berpisah pada tahun 1999. apa kabar pa guru

  70. Alfonso said

    Penulis ini apakah dia wartawan atau pendukung Integrasi kenapa diak hanya menulis berdasarkan asumsi pribadi dan menuduh UNAMET membuat curang tampa menunjukan bukti. Tolong jangan membuat kesimpulan bias…memang hanya sekelompok kecil yang ingin berintegrasi dengan Indonesia. Timor-Leste itu bukan wilayah NKRI sejak Indonesia merdeka tahun 1945, Indonesia yang mencaplok Timor Leste tahun 1975 dan mengintegrasikan wilayah itu tampa persetujuan PBB makanya diadakan jajak pendapat oleh PBB untuk mengetahui rakyat Timor Leste mau dengan Indonesia atau tidak, wartawan harus tau sejrarah kalau tidak mebuat opini yang konyol dan bias.

  71. Khadoi said

    Dilihat dari media mana saja, kondisi Timor Leste sekarang tidak lebih baik saat masih berintegrasi dengan Indonesia.

  72. Anonim said

    There is no faithfulness or love of the land, and the people do not acknowledge me as God. The Lord turn the honor into disgrace. (Hosea)

  73. Indonesia pernah dijajah Belanda selama 350 tahun, dan sekarang tidak ada kebencian karenanya. Indonesia pernah dijajah Jepang 3,5 tahun yang terkenal dengan romushanya, dan sekarang juga tidak ada kebencian karenanya. Kerjasama lebih baik daripada sekedar olok-olok dan ejek mengejek. Saudaraku sebangsa dan setanah air Indonesia juga saudaraku di Timor Leste, yang lalu biarlah berlalu, masa depan anak cucu kita jauh lebih penting.

  74. TILMAN said

    Salam Mas Afir Mujahidin…,Mas, Disini kita bukan mengungkit kembali semua yang telah berlalu., tetapi kita hanya memperjelaskan lebih jelas lagi tentang sejarah yang sebenarnya.., jadi jangan suka mengarang cerita jika kita tidak tahu yang sebenarnya..

    .Untuk sahabat-sahabat aku di Indonesia., jangan samakan Kalimantan, atau Indonesia Timur Lainnya dehan Timor-Timur.. Karena kita meliki sejarah yang berbeda.., sebelum Indonesia masuk di Timor-Timur, Rakyat Timor-Timur sudah memperjuangkan kemerdekaan.. jadi Pro Kemerdekadaan itu bukan baru muncul di tahun 1998-1999, tetapi dari tahun 1912-1913 rakyat Timor-Timur sudah memperjuangkan kemerdekaan itu..

    Salam Damai 2014 Untuk Kita Semua….

  75. kalo saya sepakat kalo Jajak Pendapat di TIMTIM memang terdapat kecurangan, pemimpin Indonesia tidak ada yang beani lantang seperti Soekarno yang menolak campur tangan bangsa Barat.saya setuju dengan tulisan artikel ini yang menyebutkan ” Kalau saya jadi wakil pemerintah Indonesia waktu itu, saya akan menawarkan ‘deal’ yang paling masuk akal: “Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” Dengan demikian, tidak ada utang piutang.

  76. LOVE said

    JIka dijabarkan, maka secara garis besar lebih tepatnya begini,

    Sebelum merdeka di tahun 1945, INDONESIA pernah dijajah oleh negara-2 Eropa seperti : PORTUGIS, INGGRIS, PERANCIS dan yang terlama adalah NEDHERLAND (BELANDA) selama hampir 350 tahun (3,5 abad) dan kemudian dilanjutkan (NIPON) JEPANG selama 3,5 tahun. Ketika Perang Dunia II akan berakhir dengan kekalahan JERMAN yang juga bertindak sebagai penjajah bagi negara-2 Eropa yang menjajah Indonesia di atas, Indonesia berhasil memerdekakan diri. Nah, saat Indonesia telah mencapai kemerdekaannya di tahun 1945, wilayah yang kemudian dinamakan TIMOR TIMUR kira-2 bisa dikatakan berada dalam kondisi yang labil (tidak menentu). Kemudian di tahun 1971, kira-2 setelah Pemilu Pertama di Indonsia, Timor-Timur mulai diintegrasikan ke Indonesia.

    Setahu saya tahun 1971 adalah tahun pertama program RENCANA PEMBANGUNAN LIMA TAHUN (REPELITA) pertama dilaksanakan. Dalam program pembangunan yang dilaksanakan setelah masa penjajahan dan kelabilan sebelumnya itu MENGIKUTSERTAKAN SELURUH PROPINSI yang ada di Indonesia termasuk TIMOR-TIMUR yang kini menjadi TIMOR LESTE sebagai salah satu tetangga terdekat Indonesia. Selesai REPELITA PERTAMA terus dinajutkan dengan REPELITA KEDUA, KETIGA, KEEMPAT, KELIMA DAN terakhir KEENAM. Jadi total seluruhnya berjumlah 6 REPELITA atau 6 x 5 tahun = 30 tahun. Boleh dikatakan Repelita keenam berakhir di tahun 1998, yakni setelah Presiden Indonesia kedua tidak berkuasa lagi. Tidak berapa lama setelah itu ada usulan dari sebagian penduduk Timor-Timur maupun tekanan PBB untuk dilakukan jejak pendapat mengingat proses BERINTEGRASI nya Timor-Timur tidak terkait langsung dengan sejarah kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 maka kemudian TIMOR TIMUR menjadi TIMOR LESTE sebagai negara tetangga dekat Indonesia di timur.

    Nah, jika mengingat hal tersebut di atas, maka bisa dikatakan Timor-Timur dulu ketika masih bersatu dengan Indonesia bukanlah berstatus sebagai daerah jajahan, melainkan SEBAGAI DAERAH GABUNGAN (INTEGRASI) yang berstatus sebagai propinsi Indonesia ke-27. Mengapa dikatakan demikian ? Karena kalau Timor-Timur dulu dianggap sebagai daerah jajahan, maka BELUM TENTU turut disertakan dalam RENCANA PEMBANGUNAN LIMA TAHUNAN (REPELITA) yang berlangsung selama 30 tahun sama seperti propinsi-2 lainnya di Indonesia. Tidak seperti nasib Indonesia ketika dijajah oleh negara-2 Eropa. Indonesia ketika dijajah, benar-benar diperlakukan sebagai daerah jajahan, seperti ditindas, dibelenggu dan diperas kekayaan alamnya hingga mampu memakmurkan kembali perekonomian negara para penjajah yang hampir bangkrut pada Perang Dunia I dan II. Sementara Timor-Timur ketika berintegrasi dengan Indonesia turut serta dibangun secara menyeluruh dari mulai bidang ekonomi, pertanian, kesehatan, pendidikan, budaya, teknologi. pertahanan hingga pemerintahan. Jadi wajarlah jika Indonesia pernah merasa berat kehilangan Timor Timur karena bukan merasa kehilangan daerah jajahan, melainkan seperti kehilangan saudara di daerah binaan.

    Kini Timor Leste menjadi salah satu tetangga negeri terdekat Indonesia, dan sebagai tetangga, maka wajarlah jika dikatakan WALAU JAUH DIMATA TAPI TETAP DEKAT DIHATI, walau terpisah oleh PASPOR KENEGARAAN namun tetap dekat sebagai saudara yang pernah hidup sebangsa dan setanah air. Marilah kita lupakan masa lalu dan mengambil sisi-sisi positifnya saja untuk meraih kebaikan bersama ke depannya.

  77. Potret said

    Saya sependapatlah sama LOVE.

    Timor-Timur itu dulunya bukanlah daerah jajahan Indonesia tapi lebih tepatnya disebut daerah binaan (asuh) dan sebagai IBU ASUH, tentunya IBU PERTIWI (Indonesia) pernah merasakan berat untuk melepaskan ANAK ANGKATNYA (Timor Timur) dari pangkuannya ketika remaja.

    Kini sang REMAJA SUDAH DEWASA dan ingin menyongsong masa depannya sendiri. Sang Ibu Asuh hanya bisa memandangnya dari kejauhan seraya berkata :

    Oh, anakku ,,,,, betapa gagahnya dirimu. Ibu merasa bangga pernah merawat dan membesarkanmu. Walau kini engkau jauh di mata namun tetap dekat dihati.

  78. Anonim said

    BAGAIMANA PACE KAFFIL MAU JUJUR WONG MAS KAFFIL NYA SEJAK KECIL JUGA DI BOHONGI SAMA NEGARANYA SENDIRI (KEMERDEKAAN INDONESIAL ADALAH HADIAH DARI JEPANG MALAH DI BILANG PERANG DENGAN BAMBU RUNCING, MEMANG SANGAT DI SAYANGKAN NEGARA INI MAU JADI APA SEJARAHNYA SAJA PALSU)

  79. Robot said

    Gak juga tuh, karena saat Jepang mulai lemah akibat kota besarnya dibom atom oleh Sekutu, pasukan Jepang di Indonesia terbelah menjadi dua kubu, yakni kubu yang tetap bertahan dan kubu yang menyerah. Nah kubu yang menyerah ini pun terbagi dua, yakni yang memilih harakiri atau pulang ke negaranya dan kubu yang sukarela membantu pejuang Indonesia untuk merebut kekuasaan dan menyiapkan kemerdekaan. Kubu yang tetap bertahan dan melawan inilah yang tetap diperangi oleh para pejuang nasional.

    Jadi masalahnya cuma tergantung dari sudut pandang saja, yakni sudut pandang yang menghargai perjuangan nasional dan sebaliknya.

  80. Anonim said

    Yang diatas saya : yang betul hadiah dari amerika om, yang telah mengebom hiroshima & nagasaki hehehe…

  81. JIka dijabarkan, maka secara garis besar lebih tepatnya begini,

    Sebelum merdeka di tahun 1945, INDONESIA pernah dijajah oleh negara-2 Eropa seperti : PORTUGIS, INGGRIS, PERANCIS dan yang terlama adalah NEDHERLAND (BELANDA) selama hampir 350 tahun (3,5 abad) dan kemudian dilanjutkan (NIPON) JEPANG selama 3,5 tahun. Ketika Perang Dunia II akan berakhir dengan kekalahan JERMAN yang juga bertindak sebagai penjajah bagi negara-2 Eropa yang menjajah Indonesia di atas, Indonesia berhasil memerdekakan diri. Nah, saat Indonesia telah mencapai kemerdekaannya di tahun 1945, wilayah yang kemudian dinamakan TIMOR TIMUR kira-2 bisa dikatakan berada dalam kondisi yang labil (tidak menentu). Kemudian di tahun 1971, kira-2 setelah Pemilu Pertama di Indonsia, Timor-Timur mulai diintegrasikan ke Indonesia.

    Setahu saya tahun 1971 adalah tahun pertama program RENCANA PEMBANGUNAN LIMA TAHUN (REPELITA) pertama dilaksanakan. Dalam program pembangunan yang dilaksanakan setelah masa penjajahan dan kelabilan sebelumnya itu MENGIKUTSERTAKAN SELURUH PROPINSI yang ada di Indonesia termasuk TIMOR-TIMUR yang kini menjadi TIMOR LESTE sebagai salah satu tetangga terdekat Indonesia. Selesai REPELITA PERTAMA terus dinajutkan dengan REPELITA KEDUA, KETIGA, KEEMPAT, KELIMA DAN terakhir KEENAM. Jadi total seluruhnya berjumlah 6 REPELITA atau 6 x 5 tahun = 30 tahun. Boleh dikatakan Repelita keenam berakhir di tahun 1998, yakni setelah Presiden Indonesia kedua tidak berkuasa lagi. Tidak berapa lama setelah itu ada usulan dari sebagian penduduk Timor-Timur maupun tekanan PBB untuk dilakukan jejak pendapat mengingat proses BERINTEGRASI nya Timor-Timur tidak terkait langsung dengan sejarah kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 maka kemudian TIMOR TIMUR menjadi TIMOR LESTE sebagai negara tetangga dekat Indonesia di timur.

    Nah, jika mengingat hal tersebut di atas, maka bisa dikatakan Timor-Timur dulu ketika masih bersatu dengan Indonesia bukanlah berstatus sebagai daerah jajahan, melainkan SEBAGAI DAERAH GABUNGAN (INTEGRASI) yang berstatus sebagai propinsi Indonesia ke-27. Mengapa dikatakan demikian ? Karena kalau Timor-Timur dulu dianggap sebagai daerah jajahan, maka BELUM TENTU turut disertakan dalam RENCANA PEMBANGUNAN LIMA TAHUNAN (REPELITA) yang berlangsung selama 30 tahun sama seperti propinsi-2 lainnya di Indonesia. Tidak seperti nasib Indonesia ketika dijajah oleh negara-2 Eropa. Indonesia ketika dijajah, benar-benar diperlakukan sebagai daerah jajahan, seperti ditindas, dibelenggu dan diperas kekayaan alamnya hingga mampu memakmurkan kembali perekonomian negara para penjajah yang hampir bangkrut pada Perang Dunia I dan II. Sementara Timor-Timur ketika berintegrasi dengan Indonesia turut serta dibangun secara menyeluruh dari mulai bidang ekonomi, pertanian, kesehatan, pendidikan, budaya, teknologi. pertahanan hingga pemerintahan. Jadi wajarlah jika Indonesia pernah merasa berat kehilangan Timor Timur karena bukan merasa kehilangan daerah jajahan, melainkan seperti kehilangan saudara di daerah binaan.

    Kini Timor Leste menjadi salah satu tetangga negeri terdekat Indonesia, dan sebagai tetangga, maka wajarlah jika dikatakan WALAU JAUH DIMATA TAPI TETAP DEKAT DIHATI, walau terpisah oleh PASPOR KENEGARAAN namun tetap dekat sebagai saudara yang pernah hidup sebangsa dan setanah air. Marilah kita lupakan masa lalu dan mengambil sisi-sisi positifnya saja untuk meraih kebaikan bersama ke depannya.

  82. Anonim said

    Pertama perlu di ketahui bawah menurut sejarah yang ada di Portugal bawah Timor Leste adalah satu2 nya daerah yang tidak dikuasai secara fisik atau kata lain dgn cara paksaan or militer. Melainkan karena pada saat Portugal datang dgn Misionaris penyebera Agama katolik terjadi pendekatan dgn raja2 di Timor Leste sekitar 400thn lebih yang lalu. Oleh karena itu dimana Portugal pertama kali menginjak kaki di Pulau Timor adalah di Oecusse. Dan Karena ganguan dan bahaya dari Belanda pada saat itu, maka Portugal ingin memindahkan wilayah kota tersebut namun Portugal pada saat itu berkonsultasi dgn Raja2 di timor Leste pada saat itu. Pada mula kota baru akan di bangun di sektor paling timor yaitu di Vemase dimana jauh dari jangkauan Belanda di Perbatasan. Tetapi hasil negosiasi dgn Raja2 setempat tidak berjalan dgn Lancar, dan kemudian muncul Raja dari wilaya Mambay yang mengatakan kepada pihak Portugal, Anda buat saja kota di wilayah kami saja, kami akan berikan tanah2 disini. Dan setelah Pihak Portugal melihat lokasi tersebut menemukan bawah wilayah tersebut penuh dengan Aidila “pepaya”, akhirnya Portugal memilih memberi nama kota tersebut dgn nama Dili.

    Di tahun 1974, Portugal telah menghadapi masalah politik hingga terjadi Military coup, dimana pihak militer mengambil ahli pemerintahaan dan menumbangkan pemerintahaan Salazar pada saat itu. Dan dalam waktu yang sama, pemerintah Portugal memintah untuk semua wilayah di bawah portugal untuk menentukan nasib sendiri karena Portugal dalam kesulitan. Termasuk di Timor leste di beri kesempatan untuk memilih masa depannya. Pada saat itu dari Pihak Portugal mengatakan bawah jika pihak timor leste tidak mengambil putusan maka Portugal akan menyerahkan Timor leste ke Indonesia atau Australia. maka terbentuk lah partai2 di Timor Leste untuk menentukan masa depan. Dari sekian Partai2 yang ada semuanya meminta merdeka dgn cara lain2, Misalnya Partai FRETILIN yang meminta merdeka secepatnya dan UDT yang meminta Merdeka dgn Cara bertahap hingga Timor leste bisa berdiri sendiri, Dan tentunya juga ada partai kecil yg namanya Apodeti yang meminta integrasi ke Indonesia. Sayangnya pada tahun 1975 partai UDT melakukan penyerangan ke pihak FRETILIN dan FRETILIN membalas dgn cara yang sama. Penyerangan oleh Pihak UDT pada pihak FRETILIN di karenakan tekanan dari Indonesia dimana menuduh FRETILIN adalah partai komunis dan mengatakan kepada UDT jika FRETILIN yang menguasai Timor Leste maka INDONESIA akan masuk secara paksa. Karena kekuatan FRETILIN pada saat itu lebih kuat maka UDT mundur dan akhirnya FRETILIN pada tahun 1975 mendeklarasikan Timor Leste Merdeka. Dan sesuai Ancaman dari Indonesia sebelumnya akhirnya di penuhi dan Indonesia masuk secara Militer di Timor Leste.

    Karena pada awalnya memang mayoritas masyarakat dari pihak FRETILIN dan UDT yang tidak ada tujuan untuk bergabung dgn Indonesia maka tercipta lah pemberontakan. Misalnya seperti pasukan UDT yang menyerang pihak FRETILIN, akhirnya melakukan perlawanan pun terhadap TNI karena perlakuan yang kurang manusiawi. Walaupun UDT dan FRETILIN berbeda pendapat tetapi sama2 dari Timor Leste. Oleh karena itu pada tahun 1976 semua pasukan suka relawan dari UDT di paksa memberikan senjata2 kepada TNI. Dan mulai dari 1976 sampai dengan 1999, TNI selalu melakukan operasi untuk memberantaskan yang mau Timor Leste Merdeka.

    Portugal pada beberapa tahun sebelum 1998 akhirnya meloby agar mencari solusi untuk Timor Leste. Dan karena Portugal adalah negara Uni Eropa, maka loby tersebut sangat berhasil dimana akhirnya memberi tekanan kepada Indonesia agar keluar dari Timor Leste. karena Indonesia mengatakan bawah masyarakat Timor Leste sudah sepenuhnya merasa sebagai warga Indonesia maka di lakukan Referendum. Hasil Referendum memang mengagetkan pihak Indonesia tetapi juga mengagetkan masyarakat Timor leste karena pro merdeka begitu rendah tetapi cukup.

    Jika kita bedahkan antara Portugal dan Indonesia dari segi kacamata maka Indonesia memang adalah penjajah di karenakan masuk ke wilayah Timor Leste dengan cara Military untuk bisa menguasai. Dibandingkan dgn Portugal cuma masuk dgn misionaris yang bekerja sama dgn Raja2 Timor leste. Bedah jauh Sekali.

    Oleh Karena itu walaupun begitu banyak pelangaran HAM di Timor Leste pada saat masih bersama Indonesia. Timor Leste mengampuni Indonesia atas kesalahan2nya dari pelangaran HAM tersebut dan pengacuran infrastructure di tahun 1999 oleh pihak milisi.

    Maka saya katakan bawah isi dari topic berita ini or buku ini hanya dilihat dari kacamata Indonesia saja dan tidak melihat dari Kacamata Timor Leste.

    Salam.

  83. alwi said

    Astaghfirullah. Ya Allah jika ini benar mohon di basmi saja orang orang asing yg merusak bumi mu ya Rabb

  84. Reblogged this on RONIN INDONESIA.

  85. Netrality said

    Tulisan ini tidak memiliki kualitas jurnalistik yang baik. Penulisnya terlalu memihak, boleh disebut: jurnalis pro-integrasi, jurnalis pro indonesia.

    Seandainya pun ada kebenaran dalam peliputannya itu adalah kebenaran yang sepihak, kebenaran yang tanggung, sebab dia tidak melengkapinya dengan kebenaran pihak lain, pihak yang berseberangan dengannya – dalam hal ini pihak pro-kemerdekaan.

    Ini memang telah menjadi tipe khas jurnalisme Indonesia akhir-akhir ini. Akibatnya makin maraklah proses pembodohan khususnya di lingkaran generasi muda kita. Mereka tidak lagi kritis, mereka menerima (meyakini) begitu saja berita yang dibacanya tanpa berusaha mencari sumber lain sebagai pembanding.

    Dan ini berbahaya, sebab generasi macam itu mudah diprovokasi menjadi generasi ekstrim dalam berbagai hal: selalu merasa benar sendiri, selalu menganggap pihak lainlah yang salah … dan karenanya meminta Allah mengutuk pihak lain itu. Menyedihkan sekali.

    Sekedar beberapa butir renungan:

    1. ‘Penyelamatan’ ekonomi Indonesia oleh IMF itu terjadi di zaman Presiden Suharto.

    2. Di masa kepresidenan Habibie lah Timor Timur (sekarang Timor Leste) merdeka, yaitu setelah Habibie menyetujui diadakannya referendum.

    3. Semasa kepresidenan Suharto, anak-anaknya terutama Hutomo Mandala Putra (Tomy) memiliki akses yang luas atas kekayaan alam Timor Timur khususnya hasil hutan. Kiranya saudara-saudara kita orang Timor Leste bisa menambahkan informasi tentang ini.

    4. Di zaman Suharto, banyak orang Indonesia dipekerjakan di Timor Timur untuk mengisi berbagai posisi di sana, guru, pegawai pada berbagai dinas, dsb .. dan juga para pedagang. Hal ini di satu pihak membantu kelancaran roda pemerintahan di Timor Timur. Tapi efek lainnya adalah saudara-saudara kita di Timor Timur sana merasa terdesak dalam berbagai segi sehingga menimbulkan kecemburuan sosial. Belum lagi dampak aspek sosial-kultural-religiositas yang timbul akibat ‘transmigrasi’ jenis ini.

    5. Timor Timur itu ‘diintegrasikan’ secara paksa ke Indonesia di zaman Suharto. Ini mudah terlaksana karena Amerika berada di belakang rejim Orba, sebab Amerika takut wilajah bekas jajahan Portugal itu menjadi pangkalan baru bagi komunis.

    6. Peran Australia dalam memerdekakan Timor Timur sangat besar, pemimpin pasukan internasional untuk mengawal referendum adalah Jendral Cosgrove yang pada bulan Maret 2014 akan menjadi Gubernur Jendral (Wakil Ratu Inggris) yang baru di Australia.

    7. Pemerintah Timor Leste tengah menggugat Australia di Mahkamah Internasional atas persetujuan bagi hasil minyak dan gas di selat Timor yang menurut Timor Leste lebih menguntungkan Australia.

    8. Jadi, boleh dikatakan: Timor Leste itu ibarat baru lepas dari mulut harimau (Indonesia) langsung diterkam oleh buaya (Australia). Semoga generasi muda Timor Leste sadar akan hal ini.

    9. Masa lalu biarlah berlalu – semoga menjadi pelajaran berharga. Hal-hal yang baik tetap kita kenang, hal-hal yang buruk kita lupakan.

    10. Semoga ke depan kedua masyarakat (bangsa) tetap mempertahankan hubingan persaudaraan yang terlanjur terjalin selama saudara-saudari kita dari Timor Timur menjadi bagian dari Indonesia. Mereka tetap mengerti bahasa kita, mungkin mereka (orang Timor Leste) lebih memahami kita daripada kita memahami mereka, karena faktor bahasa dan sejarah.

    Tulisan ini berusaha mengungkap fakta seadanya, tapi bisa jadi ada sejumlah kekeliruan. Mohon dimaafkan, hal itu tidak disengaja. Anda pembaca bisa mencari sumber-sumber lain sebagai pembanding.

    Salam persaudaraan.

  86. LOVE said

    Sebagai salah satu pembaca, saya rasanya tidak menampik adanya bantuan IMF kepada Indonesia semasa Orba. Namun untuk bisa disebut sebagai PENYELAMATAN EKONOMI, menurut saya terlalu tergesa-gesa.

    Mengapa ?

    Karena harus diperjelas dahulu makna kata PENYELAMATAN EKONOMI di atas, apakah berarti :
    A. Menyelesaikan masalah TANPA MASALAH dikemudian hari.
    B. Menyelesaikan masalah DENGAN MENANGGUNG MASALAH dikemudian hari.

    Jika realitasnya condong pada point B, maka menjadi terlalu jauh untuk bisa disebut MENYELAMATKAN EKONOMI pasca penjajahan. Dan jika realitasnya condong pada A, maka penggunaan kalimat di atas cukup tepat.

    Realitasnya adalah bantuan IMF BUKAN TANPA SYARAT, melainkan DENGAN SYARAT YANG SANGAT KETAT. Bahkan saking ketatnya sempat menjadi polemik dan kemudian digantikan oleh Consultating Group on Indonesia alias CGI.

    Coba bayangkan jika disatu sisi, yakni disaat perekonomian masih morat-marit, suatu negara berkembang seperti Indonesia masih sangat membutuhkan dana untuk proses pembangunan propinsinya termasuk Timor Timur, namun di sisi lain agar dikabulkan permohonannya terpaksa harus mengikuti kemauan para pemberi pinjaman. Mungkin jika terbatas pada permintaan pembayaran bunga pinjaman belaka masih logis, namun jika sudah turut mengatur aktivitas lainnnya di luar urusan pinjamn-meminjam, maka bantuan tersebut tidak lagi bisa disebut masuk kategori A, yakni MENYELESAIKAN MASALAH TANPA MASALAH.

    Kalau soal, banyaknya tenaga yang dikirim ke Timor Timur dari propinsi lain di Indonesia saat masih berintegrasi dulu, barangkali lebih tepat dikatakan untuk mengisi kekurangan SDM yang ada baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Pada tahap ini dimaksudkan agar dari SDM yang didatangkan ADA TRANSFER ILMU DAN PENGALAMAN secara langsung (bukan sekedar teori yang kaku dan sulit dilaksanakan). Saya yakin akibat dari hal tersebut sangat dirasakan oleh pemerintahan baru di Timor Leste, dimana ilmu dan pengalaman dalam berbagai bidang saat masih berintegrasi dulu menjadi tidak terlalu membebani pemerintahan baru mereka pasca disintegrasi.

    Kemudian kalau sekarang dikatakan, LEPAS DARI MULUT HARIMAU MASUK MULUT BUAYA, menurut saya juga terlalu tergesa-gesa, karena secara harfiah masuk mulut harimau berarti masuk ke dalam mulut binatang buas, yang berarti akan menjadi rusak atau habis, sedang faktanya Timor-Timur tidak dirusak apalagi habis, melainkan turut terbangun dala berbagai bidang bersama 26 propinsi lainnya di Indonesia dalam Repelita selama 30 tahun. Kalau kemudian pasca disintegrasi MASUK MULUT BUAYA (dalam arti dalam penguasaan gasnya), ya itulah dunia senyatanya dimana tidak jarang berlaku hukum rimba.

    Pertanyaan sebenarnya adalah mengapa SIBUAYA TIDAK PERNAH MENAMPAKKAN DIRI DI TIMOR-TIUR DULU SAAT MASIH ADA HARIMAUNYA ? Mengapa ya ?

  87. umat tengah said

    Yang jelas, ini bisa jadi pembeda golongan2 musuh dalam selimut siapa yang benar2 tulus ingin mempertahankan NKRI, bukti paling kuat adalah timor justru lepas dan Aceh damai!

  88. batansh09 said

    Reblogged this on Si Burung Manyar.

  89. FORCA said

    kesaksian jurnalis yang di atas ini sebenarnya seorang jurnalis atau seorang intelijen ? intelijen pun pasti memberikan berita yang benar , jurnalis yg satu ini cocoknya jd pengaran sinetron.

  90. kesaksian jurnalis yang di atas ini sebenarnya seorang jurnalis atau seorang intelijen ? intelijen pun pasti memberikan berita yang benar , jurnalis yg satu ini cocoknya jd pengaran sinetron.

  91. Darahku Indonesia said

    Hai Timor Leste…. Anda berkoar-koar merasa sudah merdeka dan tidak membutuhkan Indonesia???? Omong kosong besar… Sampai detik ini hampir 95% kebutuhan pokok sandang pangan rakyat Timor leste masih didrop dari Indonesia, begitu juga dengan BBM, sampai2 penyelundupan BBM bersubsidi begitu marak terjadi di perbatasan RI – Timor Leste. BBM subsidi yg seharusnya menjadi hak saudara kami di NTT dicuri dan dilarikan melalui jalan tikus ke Timor leste. Kalau Indonesia mau kejam, semua suplai itu bisa saja ditutup dan diblokir, maka dijamin 100% rakyat dan negara Anda akan menjerit-jerit.

    Anda jangan sombong, lihat realitas yg terjadi sekarang. Pada kenyataannya Timor leste lebih mundur dibandingkan saat masih berintegrasi dengan Indonesia, kemajuan hanya terpusat di kota Dili, tetapi di daerah lain masih terbelakang. Sangat ironis, disaat seluruh wilayah di Indonesia sedang gencar-gencarnya sedang membangun, dari Sabang sampai Merauke, Timles justru masih berkutat dengan mimpi-mimpi omong kosongnya.

    TimLes selalu memberitakan kemajuannya setelah lepas dari NKRI kepada dunia dengan manipulasi dan informasi lipstik, tetapi realitas ya jauh panggang dari api. Anda semua jangan berbohong dengan fakta ini. Semakin Anda mengumpat INDONESIA, maka akan semakin tinggi kebencian rakyat Indonesia kepada Timor leste. Kami para generasi muda Indonesia bersumpah takkan pernah melupakan kejadian sejarah ini, dan akan menurunkannya dari generasi ke generasi!!

  92. Anonim said

    Kepada yang bernama Darahku Indonesia, komentar anda seperti orang sakit yang tidak punya akal.. barang2 dari indonesia masuk timor leste bukan sumbangan gratis dari Indonesia atau bahkan Hadiah. Timor Leste menghabiskan kurang lebih $300,000,000 membeli pakai uang dari Hasil Timor Leste sendiri untuk mengimpor barang2 dari Indonesia. Tapi untung pemimpin2 Indonesia tidak seperti anda. Andai seperti anda, Kami sebagai pembeli bisa saja pergi ke pasar yang lain. Saat ini timor Leste mengimpor dari VIETNAM, THAILAND, SINGAPURA, AUSTRALIA, PORTUGAL, BRASIL, MALAYSIA, JEPANG, INDONESIA. Kalau Indonesia tidak mau ada orang yang menghamburkan uang di pasarnya yah tidak masalah, hadapi saja pabrik2 di indonesia yang sekarang mendapat untung besar dari Timor Leste. Oh yah pabrik2 tersebut mempekerjakan masyarakat Indonesia..

    Sangat lucu anda ini. Kalau anda belum mengerti perjuangan Timor Leste. Begini saja. Semoga suatu saat nanti MALAYSIA masuk menjajah Indonesia, Hancurkan infrastruktur Indonesia sampai 89% di seluruh kota, perkosa gadis, ibu2, adik dan ibu anda sendiri. membunuh laki2 hingga di desa2 tinggal perempuan saja… Lalu MALAYSIA KELUAR LAGI DARI INDONESIA.. Dan Indonesia maafkan perilaku MALAYSIA. Jika anda baca merasa mengerikan.. Maka jangan Kaget kalau itu lah yang di buat oleh INDONESIA di Timor leste. Timor Leste sudah mengampuni INDONESIA atas perilaku barbaric tersebut.

    Kalau mau tulis koment seperti anda karena timor leste dapat hal2 gratis dari Indonesia yah tidak apa anda berbicara seperti itu. Tetapi semuanya Timor Leste bayar dengan darah dan daging dan sekarang setelah merdeka membayar dengan UANG. Apa Perlu Timor Leste juga ikut mengurus saudara anda di NTT. Jika itu diijinkan saya rasa NTT akan lebih maju dan lebih kaya dari pada sekarang…

    Pergunakan sisah otak anda sebagai warga Indonesia untuk membangun Indonesia dan tidak usah repot dengan hasil keringat orang lain atau negara lain. Gitu aja kok Repot di mengerti. Jika Timor Leste sampai tidak mengampuni Indonesia pada saat itu, Bisa saja Indonesia kena embargo Ekonomi karena perilaku menyalah gunakan kekuatan yang begitu besar terhadap sipil yang begitu kecil.. Bayangkan saja Indonesia itu jadi apa jika kena embargo ekonomi atas perilaku negara mu sendiri. Bayangkan saja Jakarta ke Medan naik perauh buatan kayu2 kalimantan,, karena pesawat2 dan spare part kapal2 besar itu dari negara2 lain juga.. Dan untuk sekedar anda tauh Minyak pertamina itu juga di proses di sebuah refinary di Jepang. Andai kena embargo , anda juga harus naik kuda kembali karena minyak kurang atas perilaku anda sendiri… Dan yang lebih parah, hati2 sampai ngak ada mobile phone juga karena itu juga produk dari negara lain.

    Nah saya rasa anda cukup mengerti, kalau pakai uang sendiri, ya terserah mau beli dari mana aja, mau2nya gue lah. apa urusan loe!!!

    Semoga anda pegang janji anda dimana generasi muda Indonesia tidak akan lupa dan akan turunkan ke generasi2 muda lainnya. Bawah Timor leste mengampuni Indonesia walaupun kekejaman yang terjadi… tidak perlu bicara banyak. cukup punya internet saja untuk bacah apa saja yang di buat oleh indonesia di Timor Leste dengan bahasa negara mana pun..

    Tidak perlu malu2, karena fakta adalah fakta, tetapi sudah lah… Timor leste sudah mengampuni Indonesia, agar Indonesia tidak kena dampak2 lain dari negara2 yang leibh jauh kuat dari segi militer dan ekonomi dibandingkan Indonesia sendiri.

    Anda cukup cari di Internet, http://www.cavr-timorleste.org/ dimana terdapat keluahan2 masyarakat Timor Leste dari kekejaman Indonesia. sebarkan lah ke seluruh Indonesia biar semua generasi tauh.

  93. komarudin said

    kalau menurut saya, tulisan ini sangat bagus dan enak utk dibaca, tapi tdk berdampak apa-apa, selain ingin mengungkit-ungkit luka lama, daaaann kayanya ingin mengingatkan kembali “Jendral mana yang DIANGGAP bertanggung jawab”.

  94. PADEPOKAN said

    Masyarakat TimorLeste Mulai Sesali
    Perpisahan dg NKRI
    Sebagian besar masyarakat Timor
    Leste yang memisahkan diri dengan
    Negara Kesatuan Repubkil Indonesia
    (NKRI) melalui referendum mulai
    menyesali perpisahan tersebut.
    Yang menikmati kemerdekaan Timor
    Leste hanyalah kelompok tertentu
    saja, sementara kehidupan
    mayoritas masyarakat Timor Leste
    yang tersebar di berbagai pelosok
    desa kian menderita, ketidakstabilan
    keamanan terjadi hingga saat ini,”
    kata Ny. Domingos kepada wartawan
    di Mataram, Jumat.
    Ny. Domingos yang kebetulan
    datang berkunjung ke Mataram guna
    menjenguk saudaranya menuturkan
    kehidupan masyarakat Timor Leste
    setelah merdeka dibandingkan saat
    menjadi bagian integral dengan
    NKRI, sangatlah memprihatinkan.
    Sebagian besar penduduk
    pedesaaan Timor Leste yang hidup
    di masa integrasi dengan NKRI
    merasa menyesal, mereka
    berkeinginan untuk kembali
    merasakan hidup bebas seperti dulu.
    Masyarakat Timor Leste dalam dua
    tahun terakhir merasakan hidup
    tidak aman di negaranya sendiri,
    karena pertikaian antara kelompok,
    khususnya masyarakat Timor Leste
    bagian Timur dengan masyarakat
    Timor Leste bagian Barat hingga saat
    ini belum reda.
    Hampir setiap hari terjadi pertikaian
    kelompok yang menyebabkan
    tewasnya sejumlah warga Timor
    Leste. Suasana itu telah
    menyebabkan banyak pengusaha
    dari Indonesia (Jakarta, Surabaya,
    Kupang dan Atambua) yang terpaksa
    meninggalkan kota Dili.
    Di samping itu, biaya hidup di negara
    Timor Leste yang baru merdeka
    tersebut cukup tinggi, harga BBM
    jenis premium maupun minyak
    tanah harganya lebih dua kali lipat
    dari harga yang ada di Indonesia.
    Harga eceran premium bisa
    mencapai 2,5 dolar US atau setara
    dengan Rp15.000 per liter, demikian
    juga harga minyak tanah bisa
    mencapai hampir Rp10.000/liter,
    sehingga minyak tanah banyak yang
    didapat dari daerah perbatasan
    melalui para pelintas batas.
    “Kondisi kehidupan mereka yang
    kian sulit itu menyebabkan sebagian
    dari mereka sering mengungkapkan
    rasa penyesalan berpisah dengan
    NKRI, karena di masa integrasi
    masyarakat Timor Leste memiliki
    kehidupan yang lebih baik, padahal
    tujuan mereka merdeka sebelumnya
    agar mendapatkan kehidupan yang
    lebih dibanding sebelumnya,”
    katanya.
    Menjawab pertanyaan, Ny. Domingos
    mengemukakan hingga kini belum
    ada perubahan pembangunan yang
    dilakukan pemerintahan Presiden
    Xanana Gusmao, karena bangunan-
    bangunan yang terbakar di masa
    jajak pendapat tahun 1999, tidak
    satupun yang diperbaiki.
    Bangunan peninggalan orang-orang
    Indonesia tersebut hingga kini
    masih tampak jelas, tidak ada upaya
    rehabilitasi, sehingga sekarang
    situasinya semakin kacau karena di
    saat terjadi konflik hingga
    lengsernya Perdana Menteri Mari Al-
    Katiri beberapa bulan lalu, banyak
    bangunan yang dibakar sehingga
    suasana kota Dili kian mencekam.
    Kondisi itu banyak mengakibatkan
    pengusaha yang datang dari
    Indonesia terpaksa meninggalkan
    kota-kota di Timor Leste, karena
    sudah tidak tahan.
    Menurut cerita Ny. Domingos, selain
    mereka terpaksa mengalami
    kerugian besar karena tempat
    usahanya banyak yang dijarah pada
    saat kerusuhan, merekapun tidak
    tahan menghadapi ganasnya
    pertikaian antar kelompok yang
    hingga kini belum bisa diatasi aparat
    keamanan yang dibantu tentara
    asing.
    “Konflik perang saudara sekarang
    lebih sadis dibanding saat jajak
    pendapat dulu, membunuh sesama
    warga Timor Leste yang berbeda
    kelompok kerap terjadi, bahkan
    wanita hamilpun tidak segan-segan
    dibunuh,” katanya.
    Fasilitas kesehatan minim
    Mengenai fasilitas kesehatan, Ny.
    Domingos menyatakan rumah sakit
    peninggalan Pemerintah Indonesia
    di Bidau itu tidak optimal, karena
    tenaga dokternya sangat minim dan
    tidak jarang mereka lari berobat ke
    Kupang (NTT).
    Bagi keluarga yang kurang mampu,
    tentunya bisa dibayangkan ke mana
    mereka akan pergi berobat, sedang
    yang datang berobat ke Kupang itu
    adalah keluarga yang punya banyak
    uang.
    Sedangkan rumah sakit milik TNI
    dulu, kini diperuntukkan bagi warga
    asing yang bertugas di Timor Leste,
    jadi fasilitas kesehatan masyarakat
    sangat minim.
    Suasana keamanan yang kurang
    kondusif tersebut diperkirakan kian
    memanas, sehubungan akan
    dilangsungkannya Pemilihan Umum
    tahun 2007.
    “Banyak warga Timor Leste yang
    ingin keluar, tetapi terbatas oleh
    penjagaan yang kian ketat di daerah
    perbatasan, demikian juga
    pengusaha dari Atambua ke Dili kian
    jarang karena mereka takut,”
    katanya.

  95. PADEPOKAN said

    Sebagian besar masyarakat Timor
    Leste yang memisahkan diri dengan
    Negara Kesatuan Repubkil Indonesia
    (NKRI) melalui referendum mulai
    menyesali perpisahan tersebut.
    Yang menikmati kemerdekaan Timor
    Leste hanyalah kelompok tertentu
    saja, sementara kehidupan
    mayoritas masyarakat Timor Leste
    yang tersebar di berbagai pelosok
    desa kian menderita, ketidakstabilan
    keamanan terjadi hingga saat ini,”
    kata Ny. Domingos kepada wartawan
    di Mataram, Jumat.
    Ny. Domingos yang kebetulan
    datang berkunjung ke Mataram guna
    menjenguk saudaranya menuturkan
    kehidupan masyarakat Timor Leste
    setelah merdeka dibandingkan saat
    menjadi bagian integral dengan
    NKRI, sangatlah memprihatinkan.
    Sebagian besar penduduk
    pedesaaan Timor Leste yang hidup
    di masa integrasi dengan NKRI
    merasa menyesal, mereka
    berkeinginan untuk kembali
    merasakan hidup bebas seperti dulu.
    Masyarakat Timor Leste dalam dua
    tahun terakhir merasakan hidup
    tidak aman di negaranya sendiri,
    karena pertikaian antara kelompok,
    khususnya masyarakat Timor Leste
    bagian Timur dengan masyarakat
    Timor Leste bagian Barat hingga saat
    ini belum reda.
    Hampir setiap hari terjadi pertikaian
    kelompok yang menyebabkan
    tewasnya sejumlah warga Timor
    Leste. Suasana itu telah
    menyebabkan banyak pengusaha
    dari Indonesia (Jakarta, Surabaya,
    Kupang dan Atambua) yang terpaksa
    meninggalkan kota Dili.
    Di samping itu, biaya hidup di negara
    Timor Leste yang baru merdeka
    tersebut cukup tinggi, harga BBM
    jenis premium maupun minyak
    tanah harganya lebih dua kali lipat
    dari harga yang ada di Indonesia.
    Harga eceran premium bisa
    mencapai 2,5 dolar US atau setara
    dengan Rp15.000 per liter, demikian
    juga harga minyak tanah bisa
    mencapai hampir Rp10.000/liter,
    sehingga minyak tanah banyak yang
    didapat dari daerah perbatasan
    melalui para pelintas batas.
    “Kondisi kehidupan mereka yang
    kian sulit itu menyebabkan sebagian
    dari mereka sering mengungkapkan
    rasa penyesalan berpisah dengan
    NKRI, karena di masa integrasi
    masyarakat Timor Leste memiliki
    kehidupan yang lebih baik, padahal
    tujuan mereka merdeka sebelumnya
    agar mendapatkan kehidupan yang
    lebih dibanding sebelumnya,”
    katanya.
    Menjawab pertanyaan, Ny. Domingos
    mengemukakan hingga kini belum
    ada perubahan pembangunan yang
    dilakukan pemerintahan Presiden
    Xanana Gusmao, karena bangunan-
    bangunan yang terbakar di masa
    jajak pendapat tahun 1999, tidak
    satupun yang diperbaiki.
    Bangunan peninggalan orang-orang
    Indonesia tersebut hingga kini
    masih tampak jelas, tidak ada upaya
    rehabilitasi, sehingga sekarang
    situasinya semakin kacau karena di
    saat terjadi konflik hingga
    lengsernya Perdana Menteri Mari Al-
    Katiri beberapa bulan lalu, banyak
    bangunan yang dibakar sehingga
    suasana kota Dili kian mencekam.
    Kondisi itu banyak mengakibatkan
    pengusaha yang datang dari
    Indonesia terpaksa meninggalkan
    kota-kota di Timor Leste, karena
    sudah tidak tahan.
    Menurut cerita Ny. Domingos, selain
    mereka terpaksa mengalami
    kerugian besar karena tempat
    usahanya banyak yang dijarah pada
    saat kerusuhan, merekapun tidak
    tahan menghadapi ganasnya
    pertikaian antar kelompok yang
    hingga kini belum bisa diatasi aparat
    keamanan yang dibantu tentara
    asing.
    “Konflik perang saudara sekarang
    lebih sadis dibanding saat jajak
    pendapat dulu, membunuh sesama
    warga Timor Leste yang berbeda
    kelompok kerap terjadi, bahkan
    wanita hamilpun tidak segan-segan
    dibunuh,” katanya.
    Fasilitas kesehatan minim
    Mengenai fasilitas kesehatan, Ny.
    Domingos menyatakan rumah sakit
    peninggalan Pemerintah Indonesia
    di Bidau itu tidak optimal, karena
    tenaga dokternya sangat minim dan
    tidak jarang mereka lari berobat ke
    Kupang (NTT).
    Bagi keluarga yang kurang mampu,
    tentunya bisa dibayangkan ke mana
    mereka akan pergi berobat, sedang
    yang datang berobat ke Kupang itu
    adalah keluarga yang punya banyak
    uang.
    Sedangkan rumah sakit milik TNI
    dulu, kini diperuntukkan bagi warga
    asing yang bertugas di Timor Leste,
    jadi fasilitas kesehatan masyarakat
    sangat minim.
    Suasana keamanan yang kurang
    kondusif tersebut diperkirakan kian
    memanas, sehubungan akan
    dilangsungkannya Pemilihan Umum
    tahun 2007.
    “Banyak warga Timor Leste yang
    ingin keluar, tetapi terbatas oleh
    penjagaan yang kian ketat di daerah
    perbatasan, demikian juga
    pengusaha dari Atambua ke Dili kian
    jarang karena mereka takut,”
    katanya.

  96. Anonim said

    Kpd PADEPOKAN di atas.

    Yang mengatakan banyak orang Timor Leste ingin keluar dari Timor Leste itu hanya orang sinting dan mencari muka di Indonesia.

    Jika anda adalah Warga Timor Leste maka fasilitas yang ada dapat dari pemerintah adalah sebagai berikut.
    1. Pendidikan Gratis hiingga tamat SD.
    2. Rumah Sakit Gratis.
    3. Tunjangan $35 / anak buat ibu2 yang masih menyusui anak.
    4. Tunjangan $45 / orang buat orang lanjut usia.
    5. Passport bebas visa ke Ingriss, Seluruh Uni Eropa dan Asia Kecuali Australia dan America.
    6. Beasiswa bagi pelajar yang berprestasi ke Universitas di USA dan Portugal.
    7. GAJI BURUH minimum $7 / hari.
    8. Siapa saja bisa jadi President/Perdana mentri tanpa pandang AGAMA atau suku seseorang.
    9. Pertahanan laut dan udara dibawah Pertahanan USA pacific Fleet.
    10. Tidak bayar Pajak Tanah.
    11. Hasil Panen di jamin dibeli Pemerintah.
    12. Jika orang sakit tidak bisa di obati di Timor Leste maka di kirim Ke negara2 yang bisa mengatasi penyakit tersebut dimana ditangung penuh oleh Pemerintah biarpun biaya rumah sakit sampai US$300,000

    Silahkan mendantangi kedutaan atau konsulat Timor leste untuk menanyakan hal tersebut di atas utk lebih puas.

    Apakah menjadi warga NKRI lebih baik dari pada di atas…. LOLLLLL.

    memangnya saya orang goblok mau jadi warga negara sebuah negara yang tidak perduli dengan rakyatnya… silahkan pikir sendiri.. masih lebih tinggi gaji buruh biasa di Timor Leste di bandingkan TNI dimana mereka harus korupsi atau jadi centeng/preman/security karena hidup yang susah untuk menjaga kesejaterahan keluarganya sendiri…

    Tentu hidup di Timor Leste ada juga yang tidak enak, misalnya Pemerintah belum perbaiki semua fasilitas infrastruktur yang di hancurkan oleh NKRI pada tahun 1999. Harap maklum negara baru dengan pemerintah baru dan mencari uang sendiri harus perbaiki tahap ber tahap. Memang kami harus maklumi dan harus sabar. Termasuk juga menghadapi mereka yang belum puas dgn kemerdekaan Timor leste.
    Saya setuju dgn Panglima Pertahanan Timor leste, “barang siapa saja yang berani mengacau keamanan di Timor Leste maka akan di tembak di tempat dan kalau masih hidup taruh di laut dan dijadikan barang latihan pukulan. Yang berani menganggu hak asasi manusia lain maka akan di perlakukan tanpa hak hasasi manusia oleh penegak hukum Timor leste, karena korban juga punya hak asasi “.

    Total Nilai kriminalitas di seluruh Timor leste masih di bawah kota seperti Depok/Bintaro/Bekasi sebagai contoh. Apalagi di bandingkan seluruh Indonesia.

    Silahkan di bandingkan saja lebih baik menjadi negara mana.
    Sudah sangat jelas menjadi warga negara Timor Leste lebih beruntung.

    yang membuat kesal adalah bawah Undang2 Timor Leste mengizinkan dua kewarganegaraan. Ada orang2 yang mempunyai passport Timor Leste untuk menikmati fasilitas Timor Leste tetapi juga mempunyai passport Indonesia untuk menikmati fasilitas Indonesia tetapi menjelekan Timor Leste dari belakang..

    Ngak usa cemburu atu iri hati atau juga barangkali dendam terhadap orang lain atau negara lain. Lebih baik habiskanlah energi yang masih anda miliki untuk perbaiki kehidupan warga negara indonesia di Indonesia karena jauh lebih kacau dari pada Timor leste…
    Apa perlu di bantu sama Timor leste??? kami siap2 saja bantu Indonesia jika di perluhkan.. Sebagai negara Tentanga yang bersahabat..

    Salam.

  97. Anonim said

    pertanyaan utk mr pedro. Ladang minyak bayu undan baru mulai produksi 2003, yaitu 2 th stlh timor leste merdeka, bagaimana logikanya indonesia harus ganti rugi produksi minyak/gas ? saya rasa yang lebih betul malah indonesia yg seharusnya minta ganti rugi biaya eksplorasi ladang minyak/gas tsb.

  98. sudahlah jangan ada kebencian d antara kita.kita sama – sama makhluk ciptaan tuhan yg harus rukunkita harus saling tolong menolong.

    mari kawan kita lipakan masa lalu yg kelam.kita buka lembaran baru yg bersih………….

    buat sodara”di TIMLES kalian harus tegar…………………

    salam damai……………………ita rua sodara

  99. buat sodaraku d TIMLES.saya mau tanya.dulu saya punya rumah di sana(dii barat)persis nya dkt PLN.klo saya menjual rumah saya apa bisa.

    obrigado barak maun atas info nya

  100. Yang menanyakan kepada saya tentang Ladang Minyak di atas. Tepatnya Ladang di Bayu Undan produksi mulai pada tahun 2004, tetapi pada tahun 1989 Indonesia yang di wakili oleh Bpk Ali Alatas sebagai Menlu Indonesia dan Garath Evans sebagai Menlu Australia menandatangani kesepakatan explorasi di Laut timor yang dimana pada hari ini adalah wilayah Timor Leste. Sejak kemudian terjadi penemuan2 ladang tersebut diantaaranya Bayu Undan di temukan pada tahun 1995 .Tahun 1995, Timor Leste masih di hanggap wilayah sengketa oleh PBB karena Pro dan Kontra sejak 1975. Hingga pada tahun 1999 terjadi hasil referendum. Dari 1989 hingga 1999 banyak pejabat2 yang sudah berbicara komisi kepada siapa saja dan berapa yang akan masuk ke rekening pusat di Jakarta sebelum produksi. Berapa jumlahnya saya tidak tau persis dan sy tidak mau tau karena bukan urusan saya . Tetapi untung saja Timor Leste sudah Merdeka dan uang tersebut akhirnya masuk kas Pemerintah Timor Leste. Yang di sayangkan adalah oleh karena Ladang Minyak tersebut terjadi banyak korban di Timor Leste karena ada pihak2 yang takut kehilangan pendapatan tersebut.. Oleh karena itu sy sekali lagi mengulang bawah untung saja uang tersebut sekarang masuk langsung ke kas negara Timor Leste dimana dapat di nikmati oleh rakyat langsung. Jika uang tersebut masuk kas Pemerintah Indonesia maka uangnya akan di bagi ke 27 propinsi dan tetap saja Timor Leste akan dihanggap mengemis ke pemerintah pusat untuk minta dana pembangunan… bukan ka begitu?

    Saya rasa untuk mengungkap sejarah sebenarnya tentang timor leste susah di ceritakan di Indonesia karena berbeda sekali dgn apa yang masyarakat indonesia ketahui. Sy dapat benarkan bawah Masyarakat Indonesia juga banyak yang menderita dan banyak yang berkorban dan sy ketahui bawah mayoritas masyarakat Indonesia adalah orang yang berbaik hati, orang yang sangat simple dan mempunyai pendirian dan sopan santun. Hanya Politik kotor dari pada orang2 tertentu di Indonesia yang akhirnya mencoreng wajah Indonesia di Mata Dunia. Karena sy hidup hampir seumur hidup saya di Timor Leste dari tahun 1969 hingga sekarang, sy bisa katakan bawah manusia manapun tidak mau di hanggap tidak berguna atau tidak ada aritnya. Semua manusia mempunyai martabat dan harga diri, Jika kita bisa menjaga harga diri seseorang maka orang itu pun akan membalas dengan sebagaimana anda berikan padanya.

    Sy mengerti penulis Kafil yamin adalah warga Negara Indonesia dan menulis dgn melihat dari kacamata Indonesia. Tetapi sebagai wartawan harus selalu melihat dari 2 sisi dan menganalisa berita tersebut. Sy juga mengerti bawah Kafil yamin adalah warga Indonesia dan tidak munking selama mau tinggal di Indonesia lalu menjelekan pihak Indonesia. Cuma tolong namanya sejarah harus sesuai kenyataan dan jangan mengarang2, Waktu sy mengikuti pemilihan umum / referendum tidak pernah ada yang menyampari semua orang atau saya pun di barisan menunggu memilih oleh pihak PBB atau siapapun untuk memilih ini atau itu. Saya juga bertanya kepada teman2 saya di Dili maupun di kota2 lain apakah pernah ada yang datang mengatakan seperti bung Kafil yamin cerita di atas dan semua teman saya mengatakan tidak ada seperti itu, Justru yang ada adalah Milisi kampanye sebebas2nya dan mengatakan dan teriak2 “Otonomi menang Timor Timur makmur, Pro Merdeka menang Timor Timur makan roti kering”.

    Logika nya pada saat itu hanya pihak Indonesia saja yang bersenjata seperti pihak TNI dan Milisi yang memakai senjata seperti M-16 / AR15 secara bebas, Pihak PBB tidak bersenjata sama sekali. Jika memang pada waktu referendum terjadi kecurangan oleh pihak PBB seperti mengatakan kepada orang yang berbaris untuk pilih ini or itu, Suda pasti pihak bersenjata akan beraksi dan protes secara terang2an. Tetapi hal ini tidak terjadi. Justru malah muncul setelah Timor Leste Merdeka.

    Timor Leste merdeka bukan suatu perdebatan lagi, Tetapi suatu kenyataan, Sekarang Timor leste melihat kedepan untuk membangun negara baru. Yang perlu diketahui adalah bawah Timor Leste bagaikan sebuah anak tanpa orang tua. Misalnya Portugal setelah berada 400 tahun lebih di Timor Leste melantarkan begitu saja karena masalah politik. Sama juga dengan Indonesia setelah 24 tahun di Timor Leste meningalkan Timor Leste dgn membakar infrastruktur yang ada. Jadi Timor Leste betul2 seorang anak yang tidak mempunyai orang tua yang baik, untuk itu harus mandiri dan mencari uang sendiri. Hingga saat ini, kemandirian tersebut cukup berhasil karena dipelajari dari jalan dan pengalaman yang sangat susah.

    Apakah masuk akal untuk seorang orang tua yang tidak baik untuk memeinta ganti rugi kepada anaknya yang sudah mandiri atas prestasinya sendiri.. saya rasa harusnya sebaliknya..

    Sekian saja dan salam buat teman2 di Indonesia..

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: