KabarNet

Aktual Tajam

Pengakuan Wartawan TEMPO: Praktik Mafia TEMPO

Posted by KabarNet pada 13/11/2013

Saya adalah seorang perempuan biasa yang sempat bercita-cita menjadi seorang wartawan. Menjadi wartawan TEMPO tepatnya. Kekaguman saya terhadap sosok Goenawan Mohamad yang menjadi alasan utamanya. Dimulai dari mengoleksi coretan-coretan beliau yang tertuang dalam ‘Catatan Pinggir’ hingga rutin membaca Majalah TEMPO sejak masih duduk di bangku pelajar, membulatkan tekad saya untuk menjadi bagian dalam grup media TEMPO.

Dengan polos, saya selalu berpikir, salah satu cara memberikan kontribusi yang mulia kepada masyarakat, mungkin juga negara adalah dengan menjadi bagian dalam jejaring wartawan TEMPO. Apalagi, sebagai awam saya selalu melihat TEMPO sebagai media yang bersih dari praktik-praktik kotor permainan uang. Permainan uang ini, dikenal dalam dunia wartawan dengan istilah ‘Jale’ yang merupakan perubahan kata dari kosakata ‘Jelas’.

“Jelas nggak nih acaranya?”

“Ada kejelasan nggak nih?”

“Gimana nih broh, ada jale-annya nggak?”

Kira-kira begitu pembicaraan yang sering saya dengar di area liputan. Istilah ‘Jelas’ berarti acara liputannya memberikan ongkos transportasi alias gratifikasi kepada wartawan, dengan imbal balik tentunya penulisan berita yang positif. Dari kata ‘Jelas’, kemudian bergeser istilah menjadi ‘Jale’ yang menjadi kosakata slank untuk ‘Uang Transportasi Wartawan’.

Perilaku menerima uang sudah menjadi sangat umum dalam dunia wartawan. Saya pribadi jujur sangat jijik dengan perilaku tersebut.

Ketika (akhirnya) saya bergabung dengan grup TEMPO di tahun 2006, sebagaimana cita-cita saya dulu sekali, saya merasa lega.

“Setidaknya, saya tidak menjadi bagian dari media-media ecek-ecek yang kotor dan sarat permainan uang” pikir saya.

Dulu, saya berpikir, media besar seperti TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos dan sebagainya, tidak mungkin bermain uang dalam peliputannya. Dulu, saya pikir, hanya media-media tidak jelas saja yang bermain seperti itu.

Namun fakta berkata lain. Sempat tidak percaya karena begitu dibutakan kekaguman saya pada kewartawanan, Goenawan Mohamad, TEMPO dan lainnya, saya sempat menolak percaya bahwa wartawan-wartawan TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Antara dan lain-lainnya, rupanya terlibat juga dalam jejaring permainan uang.

Media-media tidak jelas atau yang lebih dikenal dengan media Bodrek bermain uang dalam peliputannya. Hanya saja, dari segi uang yang diterima, saya bisa katakan kalau itu hanya Uang Receh.

Mafia-nya bukan disitu. Media-media Bodrek bukan menjadi mafia permainan uang dalam jual beli pencitraan para raksasa politik, korporasi, pemerintahan. Adalah media-media besar seperti TEMPO, Kompas, Detik, Antara, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan sebagainya, yang menjadi pelaku jual beli pencitraan alias menjadi mafia permainan uang wartawan.

Siapa tak kenal Fajar (Kompas) yang menjadi kepala mafia uang dari Bank Indonesia dalam permainan uang di kalangan wartawan perbankan?

Siapa tak kenal Kang Budi (Antara News) yang mengatur seluruh permainan uang di kalangan wartawan Bursa Efek Indonesia?

Siapa tak kenal duet Anto (Investor Daily) dan Yusuf (Bisnis Indonesia) yang mengatur peredaran uang wartawan di sektor Industri?

Banyak lagi lainnya, yang tak perlu saya ungkap disini. Tapi beberapa nama berikut ini, sungguh menyakitkan hati dan pikiran saya, sempat menggoyahkan iman saya, lantas betul-betul membuat saya kehilangan iman.

Adalah Bambang Harimurti (eks Pimred TEMPO yang kemudian menjadi pejabat Dewan Pers, juga salah satu orang kepercayaan Goenawan Mohamad di grup TEMPO) yang menjadi kepala permainan uang di dalam grup TEMPO.

Siapa bilang TEMPO bersih?

Saya melihat sendiri bagaimana para wartawan TEMPO memborong saham-saham grup Bakrie setelah TEMPO mati-matian menghajar grup Bakrie di tahun 2008 yang membuat saham Bakrie terpuruk jatuh ke titik terendah. Ketika itu, tak sedikit para petinggi TEMPO yang melihat peluang itu dan memborong saham Bakrie.

Dan rupanya, perilaku yang sama juga terjadi pada media-media besar lainnya, seperti yang sebut di atas.

Memang, secara gaya, permainan uang dalam grup TEMPO berbeda gaya dengan grup Jawapos. Teman saya di Jawapos mengatakan, falsafah dari Dahlan Iskan (pemilik grup Jawapos) adalah, gaji para wartawan Jawapos tidak besar, namun manajemen Jawapos menganjurkan para wartawannya mencari ‘pendapatan sampingan’ di luar. Syukur-syukur bisa mendatangkan iklan bagi perusahaan.

TEMPO berbeda. Kami, wartawannya, digaji cukup besar. Start awal, di angka 3 jutaan. Terakhir malah mencapai 4 jutaan. Bukan untuk mencegah wartawan TEMPO bermain uang seperti yang dipikir banyak orang. Rupanya, agar para junior berpikir demikian, sementara para senior bermain proyek pemberitaan.

Media sekelas TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia dan sebagainya yang sebut tadi di atas, tidak bermain Receh. Mereka bermain dalam kelas yang lebih tinggi. Mereka tidak dibayar per berita tayang seperti media ecek-ecek. Mereka di bayar untuk suatu jasa pengawalan pencitraan jangka panjang.

Memangnya, ketika TEMPO begitu membela Sri Mulyani, tidak ada kucuran dana dari Arifin Panigoro sebagai pendana Partai SRI?

Memangnya, ketika TEMPO menggembosi Sukanto Tanoto, tidak ada kucuran dana dari Edwin Surjadjaja (kompetitor bisnis Sukanto Tanoto)?

Memangnya, ketika TEMPO usai menghajar Sinarmas, lalu balik arah membela Sinarmas, tidak ada kucuran dana dari Sinarmas? Memang dari mana Goenawan Mohamad mampu membangun Salihara dan Green Gallery?

Memangnya, ketika grup TEMPO membela Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam Skandal IPO Krakatau Steel dan Garuda, tidak ada deal khusus antara Bambang Harimurti dengan Mustafa Abubakar? Saat itu, Bambang Harimurti juga Freelance menjadi staff khusus Mustafa Abubakar.

Memangnya, ketika TEMPO mengangkat kembali kasus utang grup Bakrie, tidak ada kucuran dana dari Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang saat itu sedang bermusuhan dengan Bakrie? Lin Che Wei sebagai penyedia data keuangan grup Bakrie yang buruk, semula menawarkan Nirwan Bakrie jasa ‘Tutup Mulut’ senilai Rp 2 miliar. Ditolak oleh bos Bakrie, Lin Che Wei kemudian menjual data ini ke Agus Marto yang sedang berseberangan dengan grup Bakrie terkait sengketa Newmont. Agus Marto sepakat bayar Rp 2 miliar untuk mempublikasi data buruk grup Bakrie tersebut. Grup TEMPO sebagai gerbang pembuka data tersebut kepada masyarakat dan media-media lain, dapat berapa ya? Lin Che Wei dapat berapa?

Fakta-fakta itu, yang semula begitu enggan saya percayai karena fundamentalisme saya yang begitu buta terhadap TEMPO, sempat membuat saya frustrasi. Kalau boleh saya samakan, mungkin kebimbangan saya seperti seorang yang hendak berpindah agama. Spiritualitas dan mentalitas saya goncang akibat adanya fakta-fakta tersebut. Bukan hanya fakta soal permainan mafia grup TEMPO, tetapi juga fakta bahwa media-media besar bersama wartawan-wartawannya, lebih jauh terlibat dalam permainan uang dan jual beli pencitraan, layaknya jasa konsultan.

Mereka, media-media besar ini, tidak bermain Receh, mereka bermain dalam cakupan yang lebih luas lagi, baik deal politik tingkat tinggi, juga transaksi korporasi kelas berat.

Namun semua itu sebetulnya tidak terlalu saya masalahkan, hingga suatu hari saya lihat sendiri bahwa permainan uang dan jual beli pencitraan juga terjadi pada media tempat saya bekerja, TEMPO. Dikepalai oleh Bambang Harimurti sebagai salah satu Godfather mafia permainan uang dan transaksi jual beli pencitraan dalam grup TEMPO, kini tidak hanya bergerak dari dalam TEMPO, tetapi sudah menjadi jejaring antara grup TEMPO dengan para eks-wartawan TEMPO yang membangun kapal-kapal semi-konsultan untuk memperluas jaringan mereka, masih di bawah Bambang Harimurti.

Saya pribadi, memutuskan resign dari TEMPO pada awal tahun 2013. Muak dengan segala kekotoran TEMPO, kejorokan media-media di Indonesia, kejijikan melihat jejaring permainan uang dan jual beli pencitraan di kalangan wartawan TEMPO dan media-media besar lainnya.

Praktik mafia TEMPO kini semakin menjadi-jadi

Agustus lalu, masih di tahun 2013, saya sempat mampir ke Bank Mandiri pusat di jalan Gatot Subroto. Saat itu, saya sudah resign dari grup TEMPO. Tak perlu saya sebut, kini saya bekerja sebagai buruh biasa di sebuah perusahaan kecil-kecilan, namun jauh dari permainan kotor TEMPO.

Di gedung pusat Bank Mandiri itu, saya memang janjian dengan eks-wartawan TEMPO bernama Eko Nopiansyah yang kini bekerja sebagai Media Relations Bank Mandiri. Ia keluar dari TEMPO dan pindah ke Bank Mandiri sejak tahun 2009, karena dibajak oleh Humas Bank Mandiri Iskandar Tumbuan.

Pada pertemuan santai itu, hadir juga Dicky Kristanto, eks-wartawan Antara yang kini juga menjabat sebagai Media Relations Bank Mandiri. Kami bincang bertiga. Pak Iskandar, yang dulu juga saya kenal ketika sempat meliput berita-berita perbankan sempat mampir menemui kami bertiga. Namun karena ada meeting dengan bos-bos Mandiri, pak Iskandar pun pamit.

Sambil menyeruput kopi pagi, saya berbincang bersama Eko dan Dicky. Mulai dari obrolan ringan seputar kabar masing-masing, hingga bicara konspirasi politik dan berujung pada obrolan soal aksi lanjutan TEMPO dalam ‘memeras’ Bank Mandiri terkait kasus SKK Migas.

Saya lupa siapa yang memulai pembicaraan mengagetkan itu, meski sebetulnya kami sudah tidak kaget lagi karena memang kami, kalangan wartawan (atau eks-wartawan) sudah paham betul perilaku wartawan.

Siapapun itu, Eko maupun Dicky menuturkan keluhannya terhadap grup TEMPO. Begini ceritanya.

“Ketika kasus suap SKK Migas yang melibatkan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini terkuak, saat itu beliau juga menjabat sebagai Komisaris Bank Mandiri. Dan memang harus diakui bahwa aktivitas transaksi suap, pencairan dana dan sebagainya, menggunakan rekening Bank Mandiri. Tapi ya itu kami nilai sebagai transaksi individu. Karena berdasarkan UU Kerahasiaan Nasabah, kami Bank Mandiri pun tidak dapat melihat dan memang tidak diizinkan menilai tujuan dari sebuah transaksi pencairan, transfer atau apapun, kecuali ada permintaan dari pihak Bank Indonesia, PPATK, pokoknya yang berwenang. Oleh sebab itu, kami tidak terlalu memusingkan soal apakah Bank Mandiri akan dilibatkan dalam kasus SKK Migas,” tuturnya.

“Tiba-tiba, masuklah proposal kepada divisi Corporate Secretary dan Humas Bank Mandiri dari KataData. Itu lho lembaga barunya Metta Dharmasaputra (eks-wartawan TEMPO) yang didanai oleh Lin Che Wei (eks-broker Danareksa). Gua kira KataData murni bergerak di bidang pemberitaan. Eh, nggak taunya KataData juga bergerak sebagai lembaga konsultan. Jadi KataData menawarkan jasa solusi komunikasi kepada Bank Mandiri untuk berjaga-jaga apabila isu SKK Migas meluas dan mengaitkan Bank Mandiri sebagai fasilitator aksi suap,” ungkapnya.

“Rekomendasinya sih menarik, KataData menawarkan agar aksi suap SKK Migas dipersonalisasi menjadi hanya kejahatan Individu, bukan kejahatan kelembagaan, baik itu lembaga SKK Migas maupun Bank Mandiri. Apalagi, Metta mengatakan bahwa tim KataData juga sudah bergerak di social media untuk mendiskreditkan Rudi Rubiandini dalam isu perselingkuhan, sehingga akan mempermudah proses mempersonalisasi kasus suap SKK Migas menjadi kejahatan individu semata,” jelasnya.

“Data-data yang ditampilkan KataData memang menarik, karena riset data dilakukan oleh IRAI, lembaga riset milik Lin Che Wei yang menjadi penyedia data utama KataData. Kalau tidak salah waktu itu data utang-utang grup Bakrie yang dibongkar TEMPO juga dari IRAI ya? Itu lho, yang tadinya ditawarin ke pak Nirwan dan karena ditolak kemudian dibayarin Agus Marto Rp 2 miliar untuk menghajar grup Bakrie,” papar dia.

“Kita sih waktu itu melaporkan proposal tersebut kepada para direksi Bank Mandiri. Dan selama sekitar 2 pekan, memang belum ada arahan dari direksi mau diapakan proposal tersebut. Penjelasan pak Iskandar (humas Bank Mandiri) sih, direksi masih melakukan koordinasi dengan Kementerian BUMN dan pemerintahan. Biar bagaimanapun ini isu besar, salah langkah bisa berabeakibatnya. Gua sih yakin, saat itu bos-bos lagi memetakan dulu kemana arah isu ini sebelum memberikan jawaban terhadap proposal yang masuk. Karena selain KataData juga ada dari pihak-pihak konsultan lainnya,” kata dia.

“Eeh, tau-tau Pak Iskandar bilang, gila, TEMPO makin jadi aja kelakuannya. Masak BHM (Bambang Harimurti) sampai menelpon langsung ke pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin) terkait proposal KataData yang memang belum kita respon karena masih memetakan arah isunya. Secara tersirat kita tau lah telepon itu semacam ancaman halus dari BHM dan KataData bahwa jika tidak segera direspon, maka data-data akan dipublikasi, tentunya dalam cara TEMPO mempublikasi data dong yang selalu penuh asumsi dan bertendensi negatif,” ungkap dia.

“Menurut Pak Iskandar, meski sudah diperingati soal bahaya menolak tawaran (alias ancaman) TEMPO grup adalah terjadinya serangan isu negatif kepada Bank Mandiri, rupanya Pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri) bersikeras tidak takut terhadap grup TEMPO. Penolakan memberikan respon cepat terhadap proposal KataData pun disampaikan kepada BHM (Bambang Harimurti),” singkap dia.

“Alhasil, terbitlah Majalah TEMPO edisi 18 Agustus 2013 dengan judul Setelah Rudi, Siapa Terciprat? yang isinya begitu mendiskreditkan Bank Mandiri dalam kasus SKK Migas. TEMPO membentuk opini bahwa aksi suap Rudi Rubiandini tidak akan terjadi apabila Bank Mandiri tidak memfasilitasinya,” keluh dia.

“Ini kan semacam pemerasan halus atau pemerasan Kerah Putih dari jejaring TEMPO (Bambang Harimurti), KataData (Metta Dharmasaputra, Eks-Wartawan TEMPO) dan IRAI (Lin Che Wei, Eks-Broker Danareksa dan pendana utama KataData). Begitu edisi tersebut tayang, kita sih tepuk dada saja menghadapi mafia TEMPO dalammemeras korban-korbannya. Biasanya memang begitu polanya. Begitu ada kasus skala nasional, calon-calon korban seperti kita (Bank Mandiri) akan didekati oleh mereka, ditawari jasa konsultan dengan ancaman kalau tidak deal, ya di blow up. Padahal data yang mereka publish tidak sepenuhnya benar. Tapi semua orang juga tau kalau TEMPO sangat pintar memainkan asumsi dan tendensi negatif,” keluh dia.

Mendengar cerita tersebut, dalam hati saya bersyukur kalau saya sudah tidak lagi menjadi bagian dari TEMPO yang sudah tidak bersih lagi. Mereka sudah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan. Sama saja dengan media-media lainnya kayak Kompas, Antara, Detik, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan lain-lain.

Saya lega sudah dibukakan mata dan tidak lagi buta terhadap TEMPO maupun mimpi saya menjadi seorang wartawan yang bersih. Sulit menjadi bersih di kalangan wartawan. Godaan begitu banyak. Tidak hanya di luar organisasi tempat kamu bekerja, tetapi juga di dalam organisasi tempatmu bekerja.

Hampir mirip seperti PNS, mengikuti arus korupsi adalah sebuah keharusan, karena jika tidak, karirmu akan mandek. Korupsi yang melembaga tidak hanya terjadi di lembaga pemerintah. Jejaring wartawan, media seperti yang terjadi pada grup TEMPO, meski mereka seringkali memeras dengan ‘kedok’ melawan korupsi, toh kenyataannya grup TEMPO telah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan.

TEMPO dan media-media besar lainnya tidak lagi bersih. Korupsi dalam grup TEMPO telah melembaga alias terorganisir, sebagaimana korupsi di organisasi pemerintahan, departemen dan sebagainya.

Saya bersyukur dibukakan mata dan dijauhkan dari dunia itu. Insya Allah jauh dari dunia hitam. (Jilbab Hitam, mantan wartawan Tempo/ KCM/Kompasiana)

Artikel di atas bersumber dari KOMPASIANA.COM, kini artikel tersebut telah dihapus oleh pihak KOMPASIANA.COM…. [KabarNet/spike10-Kaskuser].

______________________________________________________________________________________________________

Yth. Para Pengunjung KabarNet:

Apabila komentar yang Anda kirimkan tidak langsung muncul secara instan, kemungkinan komentar anda:

1] masuk ke dalam antrian traffic internet yang sedang sangat padat di server WP;

atau,

2] terjaring oleh Spam Software yang terpasang di situs KabarNet.

Kalau hal itu terjadi, mohon ditunggu paling lama 24 jam, karena Petugas Admin KabarNet secara berkala pasti memeriksa komentar pengunjung yang terjaring oleh Spam untuk diloloskan secara manual. Terima kasih.

10 Tanggapan to “Pengakuan Wartawan TEMPO: Praktik Mafia TEMPO”

  1. […] ini disadur dari https://kabarnet.wordpress.com/2013/11/13/pengakuan-wartawan-tempo-praktik-mafia-tempo/ […]

  2. adit said

    ternyata benar yang dikatakan prabowo yah…

    miris deh ngeliatnya… harusnya wartawan dan media2 udah lega dengan undang2 kebebasan pers loh. tapi kok malah kebablasan… -_-

  3. Anonim said

    selang 2bulan sehabis wisuda dulu saya pernah bekerja pada satu stasiun radio nasional dan tugas saya sebagai reporter,disitu saya jadi melek oh ternyata tidak ada kata idealis dan independen sepenuhnya,karena masih besarnya idealis saya waktu itu tak butuh waktu lama saya putuskan cukup satu tahun saja saya mengelutinya karena tidak lagi sesuai dengan idealis saya kala itu,mengundurkan diri hanya karena ingin rezeki yang halal dan berkah

  4. Jacob Oetama Maling said

    Kompasiana kok hapus artikel yg menarik ini…?

    Wartawan kompas dan Tempo memang jago memeras pejabat dan konglomerat hitam, pencuri berkedok juru tulis !!!

  5. Anonim said

    “Hampir mirip seperti PNS, mengikuti arus korupsi adalah sebuah keharusan, karena jika tidak, karirmu akan mandek…..”, sebaiknya anda klarifikasi opini anda ini, darimana anda bisa berkata “sebuah keharusan”, janganlah tulisan anda yang bagus ini ditutup dengan opini ngawur kayak gitu

  6. PEMBACA said

    MENGAPA ?

    KARENA AZAS YANG DIPAKEK ADALAH SBB :
    “TIDAK ADA BERITA YANG BENAR KARENA YANG ADA ADALAH BERITA YANG CERDAS YAITU BERITA YANG BISA MEMBUAT ORANG PERCAYA SEBAGAI KEBENARAN.”

  7. jokobodoh said

    hehe….sebaiknya cari tau dulu siapa orang ex wartawan ini. Yang pasti bukan wartawati, lalu latar belakangnya apa?. Adakah dia barisan sakit hati?

  8. taUbat said

    SAYA LEBIH PERCAYA TEMPO KETIMBANG JILBAB HITAM

    MONDAY, DECEMBER 23, 2013

    KOMPASIANABLOG.BLOGSPOT.COM – WABAH JILBAB HITAM HARUS DIHENTIKAN. TEMPO TIDAK BOLEH JATUH KARENA IA SATU-SATUNYA PILAR PERLAWANAN ANTI KORUPSI YANG KITA PUNYA. BETAPA PUN JILBAB HITAM YANG DISEBUT-SEBUT DIGAWANGI OLEH MANTAN WARTAWAN DETIKCOM INDRO BAGUS SATRIO UTOMO INI TELAH MEMBUKA KOTAK PANDORA KEJAHATAN MEDIA, KITA SELAYAKNYA TIDAK BOLEH MENYERAH. KITA BISA MENJADI BERSIH. DAN SELAYAKNYA TEMPO MEMIMPIN DI DEPAN SEBAGAIMANA YANG SELAMA INI BERLAKU.

    BIAR BAGAIMANAPUN, TEMPO TELAH MEMBANTU KITA MEMASUKI ERA REFORMASI, MEMIMPIN WACANA-WACANA ANTI KORUPSI YANG BANYAK DIANTARANYA BUKAN SEKEDAR WACANA, TAPI MENJADI KENYATAAN. COBA SEBUT, BERAPA BANYAK SUDAH “DIDUGA KORUPTOR VERSI TEMPO YANG AKHIRNYA MASUK BUI” ? TIDAK SEDIKIT, TAPI BANYAK.. BANYAK SEKALI..

    SAYA BUKAN BEKAS WARTAWATI TEMPO SEPERTI KLAIM JILBAB HITAM. SAYA HANYALAH PEMBACA SETIA MAJALAH TEMPO DAN KORAN TEMPO YANG SAYA RASA TIDAK LAYAK MENERIMA TUDUHAN-TUDUHAN SEPERTI DIHEMBUSKAN SI JILBAB HITAM. BICARA BONGKAR AIB TANPA NAMA JELAS DAN MUKA BERTOPENG SEPERTI DIPASANG DI AKUN PRIBADINYA @INDROBAGUS, SAYA KOK RAGU APA YANG DIA BICARAKAN HANYALAH BUALAN SAJA.

    TEMPO TELAH MEMBANGUN KREDIBILITASNYA PULUHAN TAHUN. PERNAH DIBREIDEL DI ERA ORDE BARU, TAPI BISA BERTAHAN. SEMUA ITU KARENA MASYARAKAT SESUNGGUHNYA HAUS PERLAWANAN TERHADAP KEZALIMAN, KORUPSI DAN LAIN-LAIN.

    MEMANG KITA HARUS AKUI, TEMPO JUGA MENGGUNAKAN ANONIMITAS, TAPI SAYA TAHU MEKANISME ANONIMITAS DALAM SEBUAH MEDIA ITU BERBEDA DENGAN MEKANISME ANONIMITAS ALA @TRIOMACAN2000, @BENNY_ISRAEL, @GURITA_GLOBAL, @RATU_ADIL, @JILBAB_HITAM JUGA ANONIM-ANONIM SAMPAH LAINNYA.

    MEREKA TIDAK MELALUI PROSES RAPAT REDAKSI DAN TIDAK PATUH PADA MEKANISME PERS YANG BENAR. BERBEDA DENGAN TEMPO, JUGA MEDIA-MEDIA LAINNYA. PROSES ANONIMITAS ITU DILAKUKAN SETELAH MELALUI RAPAT REDAKSI YANG SAYA YAKIN CUKUP KETAT UNTUK TERBUKANYA PELUANG CELAH-CELAH SEBAGAIMANA DITUDUHKAN JILBAB HITAM.

    BAGAIMANA BISA ANGELINA SONDAKH DIADILI JIKA TEMPO BERBOHONG? BAGAIMANA MUNGKIN PAJAK BAKRIE TERKUAK JIKA TEMPO BERBOHONG? BAGAIMANA MUNGKIN KORUPSI SAPI LUTHFI HASAN ISHAAQ TERBONGKAR KALAU SUMBER ANONIM TEMPO TIDAK VALID? TERLALU BANYAK KALAU SAYA SEBUT DISINI…

    BANDINGKAN DENGAN JILBAB HITAM ! APAKAH SUDAH TERBUKTI ARIFIN PANIGORO BERI DANA TEMPO UNTU BELA SRI MULYANI? APAKAH SUDAH TERBUKTI GOENAWAN MOHAMMAD TERIMA DANA DARI SINARMAS UNTUK MEMBANGUN SALIHARA? APAKAH TERBUKTI ADA DEAL KHUSUS BAMBANG HARI MURTI DENGAN MUSTAFA ABUBAKAR PADA IPO KRAKATAU STEEL? APAKAH TERBUKTI AGUS MARTOWARDOJO DANAI BLACK CAMPAIGN BAKRIE GROUP? APAKAH TERBUKTI TEMPO PERAS CEO BANK MANDIRI BUDI GUNADI SADIKIN? TIDAK SATU JUGA YANG TERBUKTI

    TIDAK SULIT KAN MENGETAHUI SIAPA YANG BERBOHONG? TIDAK ADA BUKTI, MAKA BOHONG.

    TULISAN INI MUNGKIN AKAN MEMBUAT SAYA DIEJEK, MALAH BISA JADI DISEBUT FANATIKNYA TEMPO. TERSERAH APA KATA KALIAN. BAGI SAYA, TEMPO LEBIH BENAR KETIMBANG JILBAB HITAM.

    BOLEH KAN SAYA KLAIM : “SAYA LEBIH PERCAYA TEMPO KETIMBANG JILBAB HITAM”

    SALAM

  9. IP Wuryanto said

    bisnis as usual , bad boy – good boy pasti ada dalam setiap organisasi apapun yg ada di dunia fana ini.event though di dunia spiritual/keagamaan, lha Yesus saja dijual oleh Yudas Iskariot. dan masih banyak lagi Brutus-Brutus yg ada dlm sejarah dimanapun termasuk Indonesia. Masih ingat enggak siapa yg jadi Brutus jaman Pak Harto?.siapa yg jualan TIm-Tim?.Lha JIlbab Hitam kalo mau nulis internal Tempo ya boleh-boleh saja,lha wong sampeyan itu bekas wartawan Tempo, pasti tahu merah-hitamnya dapur Tempo.ya anggap saja tulisan sampeyan ini uneg-uneg terhadap obsesi sampeyan yg tidak kesampaian.tidak ada kehidupan di dunia ini-termasuk organisasi-2 apapun yg bisa mencapai keadaan ideal/sempurna. sebaiknya Jilbab Hitam juga tidak usah gamang menghadapi hal-hal ini.inilah yg dinamakan lakon urip-kahanan ndonya.jadi tidak usah naiflah melihat keadaan Tempo yg tidak ideal yg seperti diharapkan. selamat menjadi kalifah dan kafilah didunia yg tidak ideal ini alias carut-marut.maka didunia ini ada pengampunan yg tidak berkesudahan dari yg membuat makhluk hidup didunia ini ,oleh karena saking mbandelnya para makhluk yg diciptakan oleh Maha Pencipta. mudah-mudahan Sang Maha Pencipta enggak bosan-bosannya memberikan pengampunan atas perbuatan-perbuatan yg bandel dari para makhlukNYA yg super mbandel-yg namanya manusia.jadi dalam melihat dunia pers Indonesia jangan melihatnya dgn cara pandang hitam-putih, karena diantaranya ada warna abu-abu(ada yg dof atau metalic).don’t worry be happy-lah.

  10. taUbat said

    @ IP Wuryanto

    Sepertinya anda setuju dengan tulisan2 Jilbab Hitam, yang tidak sependapat dengan redaksi Tempo. (+media2 sekuler)

    Begitupun masyarakat sejujurnya sangat kecewa dengan pemberitaan tempo cs saat ini, dulu merasakan banyak manfaat yang antusias disetiap awal penerbitan majalah tempo untuk dapat memiliki guna memperkaya wawasan juga agar tidak ketinggalan berita bahkan yang sudah lawas diemperan toko juga dicari.

    Tapi sekarang beritanya banyak diplintir dan diopinikan beritanya terkesan memihak kelompok tertentu dan memprotek para koruptor. (tidak independen)

    Para koruptor sekarang semakin garang dan merajalela, media sepertinya ada manfaat dan pemberitaannya jauh dari panggang.

    Menginjak awal tahun 2014 jika media hanya mencari ratting dan kepentingan kelompok serta berpolitik, kapan yang namanya NKRI siap untuk tinggal landas …

    Salam perubahan.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: