KabarNet

Aktual Tajam

Mengenang Kiyai Sahal Mahfudh, Ulama Kharismatik NU

Posted by KabarNet pada 25/01/2014

Pati – KabarNet: Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji’un. Kabar duka datang dari keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Salah seorang ulama kharismatik NU, Kiyai Sahal Mahfudh meninggal dunia di Pati, Jawa Tengah.

Kiyai Sahal yang juga Ketua Umum MUI meninggal dunia pada hari Jum’at (24/1/2014) dini hari sekitar pukul 01.05 WIB, dan dimakamkan pada hari yang sama di Kompleks Makam Waliyullah Ahmad Mutamakkin, di Kajen Pati, Jawa Tengah. “Dimakamkan di komplek mbah Waliyullah Ahmad Mutamakkin. Nenek moyang para kiyai di sini, dan keluarga beliau juga dimakamkan di komplek makam ini,” ujar sekretaris pribadi KH Sahal Mahfudh di MUI, Sholahuddin Al-Ayyubi, Jumat (24/1/2014).

Pekan lalu, Kiyai Sahal dirawat di RSUP Dr Kariadi Semarang karena kondisi kesehatannya yang menurun. Saat dirawat di RS yang sama akhir tahun lalu, mantan Wapres Jusuf Kalla sempat menjenguk.

Kiyai Sahal lahir di Pati, 17 Desember 1937 silam. Sejak tahun 1963, Kiyai Sahal memimpin Pondok Pesantren Maslakul Huda di Kajen Margoyoso, Pati, Jateng peninggalan ayahnya, KH Mahfudz Salam.

Meski Kiyai Sahal Mahfudh sudah tiada, namun sosoknya akan selalu dikenang umat Islam. Almarhum dikenal sebagai sosok ulama praktisi yang progresif dalam pemikiran. “KH Sahal Mahfudh juga sosok pemersatu umat dan sederhana dalam penampilan,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam saat berbincang, Jumat (24/1/2013).

Kiyai Sahal juga menjabat sebagai Ketua Umum MUI dan Rais ‘Aam Syuriah PBNU. Niam menceritakan, beliau lahir di Desa Kajen, Margoyoso Pati pada 17 Desember 1937. Kiyai Sahal merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. “Beliau merupakan ulama kontemporer Indonesia yang disegani karena kehati-hatiannya dalam bersikap dan kedalaman ilmunya dalam memberikan fatwa,” jelas Niam.

“Kesehariannya sangat sederhana, sosok zuhud yang tidak silap terhadap dunia. Dunia berada di bawah kendalinya,” tambahnya lagi.

Kiyai Sahal dikenal sebagai ahli fikih yang sangat mumpuni, baik teori maupun prakteknya. Beliau menjadi sosok penting dalam menyukseskan program KB dengan pendekatan fikihnya.

Buku “Nuansa Fikih Sosial” adalah salah satu mahakaryanya. Beliau menulis puluhan karya, baik dalam bahasa Indonesia maupun Arab, di antaranya Al-Faroidlu Al-Ajibah (1959), Intifahu Al-Wadajaini Fi Munazhorot Ulamai Al-Hajain (1959), Faidhu Al-Hijai (1962), Ensiklopedi Ijma’ (1985), Pesantren Mencari Makna, Nuansa Fiqih Sosial, dan Kitab Usul Fiqih (berbahasa Arab).

“Karena keilmuan, ketokohan, dan karakternya yang kuat, beliau dipercaya sebagai Rais ‘Aam Syuriah PBNU, pengendali tertinggi ormas Islam terbesar di Indonesia sejak 1999 hingga akhir hayatnya. Ketokohannya melampaui ormas asalnya. Beliau sejak 2000 dipercaya sebagai Ketua Umum MUI, wadah berhimpun seluruh ormas Islam Indonesia. De facto and de jure, beliau menjadi pimpinan, panutan, tokoh bagi umat Islam Indonesia,” urai Niam.

Menurut Niam juga, Kiyai Sahal tidak hanya mengurusi pesantren. Tetapi juga sangat peduli kepada kepentingan masyarakat luas di luar pesantren. Kiyai Sahal mengajarkan, “manusia yang terbaik adalah yang banyak memberikan manfaat untuk orang lain”.

“Beliau menginisiasi dan merintis BMT dan BPRS, usaha di bidang kesehatan dengan RSInya (Rumah Sakit Islam, red.), bahkan beliau juga tercatat mnjadi Rektor Institut Islam NU di Jepara,” tambah Niam.

Kyai Sahal juga dikenal sosok kreator, inovator, dan motivator. “Tapi jauh dari hingar bingar popularitas. Hidupnya untuk umat, tidak lagi untuk pribadinya,” tutup Niam.

Wakil Ketua MPR yang juga aktivis Muhammadiyah, Hajriyanto Thohari, mengenang sosok Kiyai Sahal sebagai sosok yang menghindari hiruk-pikuk politik di pusat kekuasaan. Kiyai Sahal lebih memilih jalan sunyi mendidik santri-santri di desa. “Bagi saya Kiyai Sahal Mahfudh itu seorang ulama besar dan kyai sepuh yang sangat sederhana, low profile, dan jauh dari interest-interest politik,” kata Hajriyanto, Jumat (24/1/2014).

Hajriyanto bersedih lantaran, dengan kepergian Kiyai Sahal, semakin sedikit “ulama murni” di Indonesia. Menurutnya, Kiyai Sahal sebagai sosok panutan umat Islam. Imparsialitasnya dalam merangkul umat tanpa tendensi politis patut diteladani. “Lihat saja beliau memilih tinggal di desa, di desa Kajen, yang ada di pelosok Jawa Tengah. Itu menunjukkan betapa beliau itu tidak terpedaya oleh hingar bingarnya persaingan kehormatan di kota-kota besar,” kata Hajriyanto.

Bukannya Kiyai Sahal tidak bisa mengakses kekuasaan politik. Tentu dengan kapasitasnya sebagai ulama besar dan Ketua Umum MUI, itu tidak sulit jika Kiyai Sahal mau. Namun dia lebih memilih dekat dengan umat secara langsung dengan mengurus pesantren di desa. “Kiyai Sahal itu ilmunya selautan, sangat luas, meliputi seluruh cabang ilmu-ilmu ke-Islaman. Tetapi cara bertutur beliau itu sangat-sangat sederhana, sesederhana orangnya. Saya rasa kita sebagai bangsa kehilangan putra terbaik umat dan bangsa,” kenang Hajriyanto Thohari.

Kiyai Sahal tercatat pernah menyampaikan bahwa lembaga non politik sudah seharusnya tidak terseret politik. MUI misalnya, tidak boleh satu pun pengurus MUI atau pihak di luar MUI yang membawa atau menunggangi organisasi tesebut untuk kepentingan politik.

Menurutnya, akan sangat berbahaya jika ada pengurus yang mengatas-namakan MUI untuk menyalurkan aspirasi politiknya. “Jangan sampai ada yang menggunakan fatwa dalam wilayah politik. Fatwa berkaitan dengan kebenaran, sedangkan politik adalah urusan kemanusiaan,” pesan Kiyai Sahal semasa hidup.

Kiyai Sahal juga sangat kuat ‘menjaga’ NU dari politik praktis. Ia mewajibkan NU on the track, yakni sebagai organisasi sosial keagamaan. Bukan partai politik. Tidak boleh seorang pun memanfaatkan organisasi ini untuk berpolitik.

Kepada orang yang berpolitik, Kiyai Sahal juga meminta mereka tidak memanfaatkan organisasi yang memang bukan untuk kepentingan politik. “Kalau terjun di dunia politik, jadilah pelaku politik yang mengedepankan moral, hati nurani dan akhlakul karimah,” kata Kiyai Sahal.

Tak hanya diucapkan, prinsip itu dipraktikkan Kiyai Sahal dalam kehidupannya. Hingga akhir hayat, ia tetap ‘on the track’. Ia tak pernah mau diseret ke ranah politik praktis, namun ia tetap menghargai orang-orang yang memilih terjun ke dunia politik.

Selamat jalan Kiyai Sahal, doa umat Islam menyertaimu. [KbrNet/Detiknews/adl]

Satu Tanggapan to “Mengenang Kiyai Sahal Mahfudh, Ulama Kharismatik NU”

  1. ya. benar?
    negara kita memang kaya. tetapi rakyatnya di rundung kesusahaan!!
    sungguh kejam pemerintahan negara kita yang tidak bisa mengatasi hal ini!

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: