KabarNet

Aktual Tajam

Antara yang Berguru dan yang Tidak

Posted by KabarNet pada 11/02/2014

IBNU HAZM YANG MERUPAKAN SEORANG ALIM, MUHADDITS, FAQIH, LUGHAWI YANG MEMILIKI BANYAK GURU BISA LUPUT, BAGAIMANA KITA YANG BELAJAR TANPA GURU?

IMAM IBNU HAZM AL ANDALUSI merupakan ulama besar rujukan madzhab Ad Dzahiri, sebuah madzhab memiliki metode tersendiri yang berbeda dengan 4 madzhab lainnya dalam mengambil kesimpulan hukum yakni dengan mengacu kepada dzahir nash serta menolak metode qiyas.

Ulama yang memiliki banyak karya ini sering terlibat perdebatan dengan para ulama madzhab Maliki yang merupakan madzhab yang dianut di wilayah Andalusia waktu itu. Bahkan dalam Kitab Al Muhalla, Ibnu Hazm mengkritik seluruh imam 4 madzhab dan lainnya dengan ungkapan cukup pedas.

Cukuplah untuk mengungkapkan pedasnya pernyataan Ibnu Hazm terhadap para ulama lainnya pernyataan seorang ulama zuhud Abu Al Abbas bin Shalih, ”Lidah Ibnu Hazm dengan pedang Hajaj (gubernur Madinah yang dzalim) adalah dua saudara” (Siyar A’lam An Nubala, 18/199)

Mengenai yang terjadi pada Ibnu Hazm, Imam As Syatibi dalam Al Muwafaqat (1/91-99), tatkala menyampaikan mengenai pentingnya bermulazamah atau melakukan interaksi dengan jangka waktu lama dengan guru menyampaikan, ”Dengan hal ini jatuhnya pencelaan terhadap Ibnu Hazm Ad Dzhahiri dan sesungguhnya ia tidak bermulazamah dalam mengambil ilmu dari para syeikh dan tidak beradab dengan adab mereka dan itu bertolak belakang dengan para ulama mumpuni seperti imam madzhab empat”.

Imam As Syatibi selanjutnya menyampaikan bahwa para penuntut ilmu perlu untuk mengembil teladan dan adab dari para guru mereka, sebagaimana para sahabat mencontoh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan tabi’in mencontoh sahabat. Dan menurut Imam As Syatibi, Imam Malik memiliki kelebihan dalam hal ini meski tidak menafikan bahwa ulama lain melakukan hal yang sama.

Imam Malik sendiri pernah menyatakan,”Ada seorang laki-laki yang mendatangi menuntut ilmu kepada seorang laki-laki selama 30 tahun”. (Hilyah Al Auliya, 6/320)

Al Muhaddits Muhammad Awwamah Al Hanafi mengomentari, bahwa sepertinya Imam Malik berbicara mengenai diri beliau sendiri.

Imam Qadhi Iyadh Al Maliki menjelaskan bagaimana para ulama mengambil akhlak hingga sampai kepada Imam Malik, beliau menyebutkan bahwa Abu Ali Ats Tsaqafi mengambil akhlak dari perilaku Muhammad bin Nashr Al Marwazi hingga perlu bermukim di Samarkand selama 4 tahun. Sedangkan Muhammad bin Nashr mengambil dari Yahya bin Yahya, kemudian Yahya mengambil dari Imam Malik hingga bermukim bersama Imam Malik selama setahun setelah beliau mengambil periwayatan hadits. Tatkala ada yang bertanya mengenai hal itu, maka Yahya bin Yahya menjawab, ”Sesungguhnya aku bermukim dalam rangka mempelajari akhlaknya, sesungguhnya akhlaknya mencerminkan akhlak sahabat dan tabi’in.” (Tartib Al Madarik, 1/117)

Ibnu Qasim murid dari Imam Malik juga pernah menyampaikan,”Aku telah mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun. Dari masa itu, 18 tahun aku mempelajari adab sedang sisanya dua tahun untuk belajar ilmu”. (Tanbih Al Mughtarrin, hal. 12)

Murid lain dari Imam Malik, Nafi’ bin Abdillah juga telah bermajelis bersama Imam Malik selama 35 tahun. (Hilyah Al Auliya, 6/320)

Para imam lainnya juga menempuh apa yang ditempuh Imam Malik. Imam As Syafii sendiri menyatakan syarat untuk memperoleh ilmu adalah 6 perkara, salah satunya adalah shuhbah al ustadz alias berinteraksi dengan guru serta thulu az zaman atau waktu yang amat lama. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 5/208)

Bahkan Abu Bakr Bin Al Muthawwi’i selalu hadir di majelis Imam Ahmad selama kurun waktu dua belas tahun, namun beliau tidak pernah mencatat apa yang disampaikan oleh Imam Ahmad. Lantas apa yang beliau dipelajari di majelis itu dari Imam Ahmad? Jawabannya adalah perilaku dan akhlak. (Manaqib Al Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Al Jauzi, hal. 250)

Guru adalah Orang-tua dalam Ilmu

Para ulama sendiri ketika menjalani tradisi ini akan terbentuk mental, bahwa para guru adalah orang-tua. Imam An Nawawi ketika menyampaikan pentingnya biografi para ulama menyebutkan, ”Mereka adalah para panutan dan pendahulu kita, seperti dua orang-tua bagi kita”. (Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat, 1/11)

Saat menyampaikan biografi Muslim bin Khalid Az Zanji, Imam An Nawawi menyampaikan, ”Muslim Radhiyallahu Anhu adalah salah satu dari kakek-kakek kami dalam rantai fiqih yang bersambung dengan kami hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam”. (Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat, 2/93)

Demikian pula tatkala menyampaikan mengenai biografi Imam Ibnu Suraij, ”Beliau adalah salah satu kakek-kakek kami dalam jalur fiqih”. (Al Majmu’, 1/214)

Ketika seorang sudah sampai tahapan ini, maka ia akan sangat menjaga adab, tidak meremehkan para ulama tidak pula tergesa-gesa dalam menghakimi, menjaga pembicaraan, merasa bahwa ilmunya tidak ada apa-apanya dibanding mereka, tawadhu seperti sikap seorang anak yang berbakti kepada kedua orang-tuanya. Dan ini tidak akan dimiliki oleh mereka yang tidak menempuh tradisi ini.

Jika Ibnu Hazm yang merupakan seorang alim, muhaddits, faqih, lughawi yang memiliki banyak guru bisa luput dalam hal ini karena tidak bermulazamah lama, lantas bagaimana dengan nasib kita yang belajar Islam tanpa guru sama sekali? Atau hanya belajar otodidak sendiri dengan mencukupkan diri hanya membaca buku? Atau mengambil guru, namun sang guru juga hasil dari proses yang sama?

Source: Hidayatullah.com

3 Tanggapan to “Antara yang Berguru dan yang Tidak”

  1. Rahmat said

    Sub’hanallah…. nyata benar bedanya antara orang yg menimba ilmu dgn ‘dididik’ oleh para habaib/ ulama/ kiyai/ ustadz/ guru, dibanding mereka yg belajar sendiri via mbah google.

    Kalau yg dididik oleh guru, akhlaknya insya Allah mulia spt gurunya. Sementara yg kelas mbah google akhlaknya NOL BESAR spt para tong kosong yg suka cuap2 di blog2.

  2. ADI said

    @RAHMAT

    Petunjuk itu datangnya dari Allah Swt, habaib/ulama/kyia/ustad /guru/mbah google ,,hanya sarana .
    Ambil ilmu yang baik dari para ulama , dan jangan TAKLID BUTA pada seorang “ulama” saja.
    Dari mbah google kalau tahu caranya bisa bermanfaat juga bung ….. bukankah yang menulis di mbah goolge merever pada tulisan / kajian ulama ???
    Mbah google diibaratkan sebagai perpustakaan berjalan yang dengan kecanggihan teknologi kita bisa manfaatkan untuk mendapatkan informasi dengan cepat ….. Ibarat perpustakaan …ada yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat.
    Jangan heran bung …sekarang dalam pengajian pengajian banyak ustad ustad melengkapi dirinya dengan TAB mbah SAMSUNG atau sejenisnya .untuk memudahkan .

    Semua berpulang pada diri kita masing masing…….

  3. Rahmat said

    Sdr. ADI
    Trm ksh komentarnya.
    Maaf, mungkin Anda kurang menangkap point dari artikel di atas. Artikel di atas memaparkan contoh2 ucapan para ulama salaf yg menerangkan pentingnya mencontoh akhlak guru2 mereka.

    Google itu ibaratnya bagaikan “buku modern” yg bisa memberi info apa saja yg kita inginkan, termasuk ilmu2 agama. Namun, google TIDAK BISA MEMBERI “CONTOH AKHLAKUL KARIMAH” sebagaimana para guru kita. Dalam artikel di atas dipaparkan bagaimana para ulama salaf tinggal puluhan tahun bersama guru2nya untuk ‘menyerap akhlak guru2nya’, dan itu dilakukan ‘lebih lama’ ketimbang belajar ilmu itu sendiri.

    Ibnu Qasim murid dari Imam Malik r.a. telah mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun. Dari masa itu, 18 tahun beliau habiskan utk mempelajari adab (akhlak gurunya), sedang sisanya dua tahun untuk belajar ilmu”. (Tanbih Al Mughtarrin, hal. 12)

    Imam Abu Bakr Bin Al Muthawwi’i selalu hadir di majelis Imam Ahmad bin Hanbal r.a. (Imam Hanbali) selama kurun waktu 12 tahun, namun beliau tidak pernah mencatat apapun yang disampaikan oleh Imam Ahmad. Lantas apa yang beliau pelajari di majelis itu dari Imam Ahmad selama 12 tahun? Jawabannya adalah: Beliau menyerap suri tauladan perilaku dan akhlak Imam Ahmad. (Manaqib Al Imam Ahmad bin Hanbal, karya Ibnu Al Jauzi, hal. 250)

    Saya sendiri juga mengambil banyak info, ilmu dan manfaat dari google dan gadget2 canggih. Saya lengket bersama Tablet, Laptop dan Google tak kurang dari 15 jam setiap hari, lebih lama ketimbang bersama istri dan keluarga saya. Dari google dan tab/laptop itu saya sudah menyerap banyak ilmu,… namun…. SAYA TIDAK BISA MENYERAP AKHLAK dari google seperti para ulama menyerap akhlak guru2nya. Dan ini terlihat sekali dari buruknya akhlak saya seperti saat saya bertutur-kata dengan Anda sekarang dalam komentar saya yg tak berakhlak ini.

    Memang jauh sekali bedanya dididik/diasuh oleh ulama/guru yg mukhlis yg selalu mendoakan murid2 mereka, dibanding dgn berguru kpd benda mati spt google.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: