KabarNet

Aktual Tajam

Hewan Liar Lebih Peka Ketimbang Alat Deteksi Bencana

Posted by KabarNet pada 14/02/2014

Malang – KabarNet: Sebelum Gunung Kelud meletus, Aktivitas vulkanik Gunung Kelud terus menunjukkan peningkatan. Sejumlah hewan liar dari puncak Kelud turun menyatroni permukiman penduduk. Setelah Kawanan kijang, ular, kera hutan berada disekitar warga, kini harimau jenis gembong juga ikut turun gunung. Seperti dilansir dari beritajatim, warga sempat geger karena menemukan macan tersebut berkeliaran di kampung-kampung.

Menurut warga, jika sudah banyak hewan liar penghuni Gunung Kelud yang turun, bisa dipastikan tidak akan lama lagi gunung akan meletus. Fenomena itulah yang menyebabkan hewan-hewan itu turun gunung.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan, status Gunung Kelud naik dari waspada menjadi siaga, sejak Senin 10 Februari 2014. Lucunya, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Hendrasto, menepis jika turunnya hewan-hewan itu sebagai tanda Gunung Kelud akan meletus. “Kalau memang ada hewan yang turun, itu tidak mengherankan. Itu bukan (indikasi Gunung Kelud akan meletus),” kata Hendrasto, Kamis 13 Februari 2014.

Menurutnya, kepanikan hewan di sana disebabkan aktivitas vulkanik yang tinggi, terutama dari sisi kegempaan, bukan bertanda gunung akan meletus. Seperti diketahui, kegempaan di lokasi bisa terjadi puluhan bahkan ratusan kali dalam sehari, baik itu gempa vulkanik dangkal maupun dalam. “Itu memang tidak dirasakan manusia. Tapi binatang memiliki naluri lebih peka. Mereka tidak nyaman (dengan banyaknya gempa vulkanik), mungkin karena itu mereka turun.” jelasnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Pos Pantau Ngancar Kediri Khoirul Huda mengatakan, mengenai informasi adanya hewan hutan yang mulai turun mendekati permukiman, Khoirul menolak tanda alam tersebut sebagai indikator gunung api akan erupsi. Sebab pada dasarnya, sejak Gunung Kelud menjadi daerah wisata, habitat hewan sudah membaur dengan manusia. “Kecuali kalau dulu. Tapi kalau sekarang tidak bisa digunakan sebagai indikator. Di dekat pos pantau sini saja juga ada Kijang. Begitu juga di dekat permukiman rumah warga, tentu juga ada ular,” pungkasnya.

Padahal kenyataanya, kemunculan fauna hutan yang lain dari biasanya tersebut menjadi pedoman alam bagi masyarakat bahwa Gunung Kelud sudah dalam kondisi kritis. Tak hanya itu, udara desa yang semula cenderung dingin juga mulai terasa panas. Perubahan alam tersebut, membuat sejumlah warga meyakini bahwa Gunung Kelud telah mencapai titik siap meletus (erupsi). Mereka pun memilih mengamankan diri dari bahaya dibanding menunggu peringatan untuk mengungsi.

Ternyata pedoman alam bagi masyarakat itu terbukti benar, turunnya hewan-hewan itu sebagai tanda Gunung Kelud akan meletus. Perkiraan para pakar Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) serta Kepala Pos Pemantauan Kelud pun meleset. Belum kering apa-apa yang mereka ucapkan, Gunung Kelud meletus pada hari Kamis 13 Februari 2014 malam.

Disinilah dapat terlihat, bahwa kecanggihan teknologi dan pengetahuan bencana juga hendaknya ditunjang dengan pengamatan alam dan reaksi mahluk hidup disekitar lokasi bencana. Bagaimana pun, hewan-hewan ini telah dibekali dengan kepekaan melebihi manusia dalam hal tertentu dan ini sebaiknya dimanfaatkan manusia untuk metode pengamatan bencana. Secanggih apa pun alat pengamatan, tetap saja itu buatan manusia dan tak akan pernah bisa mengalahkan kepekaan hewan yang murni ciptaan yang Maha Berkehendak. [KbrNet/Slm]

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: