KabarNet

Aktual Tajam

Awas! Aktivitas Anak Krakatau Mulai Naik

Posted by KabarNet pada 16/02/2014

Jakarta – KabarNet: Setelah Gunung Kelud dan Sinabung meletus, kini giliran Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda, yang mulai tinggi aktivitasnya. Sepanjang Sabtu 15 Februari 2014, kemarin mencapai 212 kali gempa vulkanik. Namun, gempa vulkanik tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena tak menimbulkan tsunami. “Kami meminta masyarakat pesisir Banten tenang, karena kegempaan itu tidak menimbulkan gelombang tsunami,” kata Anton S Pambudi, Kepala Pos pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten.

Berdasarkan data dari pos pengamatan Gunung Anak Krakatau Krakatau pada Sabtu kemarin tercatat 212 kali gempa di antaranya vulkanik A (dalam) 3 kali, vulkanik (dangkal) 177 kali, dan embusan 32 kali. Selain itu, juga kondisi Gunung Anak Krakatau diselimuti kabut tebal akibat vulkanik kegempaan tersebut. Status gunung Krakatau tetap pada level II atau waspada.

Meski demikian, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Bandung, Jawa Barat, mengimbau agar nelayan maupun warga dilarang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda karena sangat membahayakan. “Kami hanya memberikan rekomendasi 1,5 kilometer dari titik gunung merapi itu,” ujar Anton. Ia khawatir warga yang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau akan terkena lontaran bebatuan pijar lava yang memiliki suhu 600 hingg 800 derajat celsius. Hal ini tentu akan berbahaya dan kemungkinan bisa meninggal.

Krakatau merupakan salah satu dari 18 gunung status waspada (level II). Selain Krakatau gunung-gunung lainnya yang berstatus waspada adalah Raung, Ibu, Lewotobi Perempuan, Ijen, Gamkonora, Soputan, Sangeangapi, Papandayan, Dieng, Seulewah Agam, Gamalama, Bromo, Semeru, Talang, Marapi, Dukono, dan Kerinci. “Makna dari status Waspada adalah ada kenaikan aktivitas di atas level normal, apapun jenis gejala diperhitungkan,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

Gunung Anak Krakatau lahir 30 Januari 1930. Puncak dengan batuan basalt muncul ke permukaan air pertama kali pada 26 Januari 1928. Anak Krakatau lahir sebagai gunung yang amat aktif. Pada juni 2012, gempa vulkanik tercatat 1.075 kali, pada Juli kejadian turun menjadi 807 kali, tetapi Agustus meningkat menjadi 2.335 kali gempa. Pada 2 September 2012 terjadi letusan yang menyemburkan lava pijar. Irwan Meilano, Peneliti geodinamika dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, menyebutkan saat ini terjadi peregangan di tengah Selat Sunda.

”Regangan ini berasal dari subduksi lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia dan pergerakan ke arah kanan dari Sesar Sumatera yang memanjang sampai Selat Sunda,” jelas Irwan. Akibatnya bagian timur Selat Sunda bergerak ke arah tenggara dan bagian baratnya bergerak ke barat laut.

Kompleks Gunung Anak Krakatau terletak di bidang pertemuan antara lempeng tektonik Eurasia dan Indo-Australia di Selat Sunda. Kecepatan pergerakan kedua lempeng tersebut amat berbeda. Kecepatan gerak lempeng Indo-Australia sekitar 5 sentimeter (cm) per tahun, sedangkan lempeng Eurasia berkecepatan sekitar 7 cm per tahun.

Susilohadi, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Badan Litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, melakukan penelitian yang menegaskan terjadinya peregangan di Selat Sunda. ”Di sana terdapat slaver (pecahan lempeng Eurasia) di antara Sesar Sumatera dan zona penunjaman di sebelah barat Sumatera,” jelasnya.

Akibat dorongan dari Indo-Australia ke arah utara, slaver bergerak terpisah dari kerak benua Eurasia ke arah barat laut, menyebabkan Selat Sunda di selatan Teluk Semangko terban (graben). Di Selat Sunda bagian selatan graben ini masih aktif. Pergerakan slaver ini menjelaskan membukanya Selat Sunda yang menjadi jalur keluar magma.

Sementara Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris memastikan letusan Gunung Anak Krakatau memang akan kembali. Namun, tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli geologi memprediksi letusan ini akan terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudra Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan. [KbrNet/Slm]

Foto & Berita: nefosnews.com

2 Tanggapan to “Awas! Aktivitas Anak Krakatau Mulai Naik”

  1. Katro said

    Makin terbukti aje nih, Indonesia sisa Atlantis yang hilang dalam sehari semalem

  2. Waktu yang baik untuk mengunjungi pulau gunung Anak Krakatau adalah pada bulan April hinggga September. Karena pada bulan-bulan tersebut biasanya cuaca sangat cerah.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: