KabarNet

Aktual Tajam

Sang Profesor Penggagas Alat Penangkap Energi Matahari

Posted by KabarNet pada 10/03/2014

Jakarta – KabarNet: Prof. Dr. Ir. Muhamad Idrus Alhamid adalah dosen di Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Pria kelahiran Surabaya, 12 Mei 1954 ini, meraih gelar sarjana Teknik Mesin di FTUI pada tahun 1978.

Beliau menyelesaikan pendidikan S-2 bidang Teknik Mesin di K.U. Leuven, Belgia pada tahun 1989 dan meraih penghargaan Satyalancana Karya Satya XX Tahun, pada tahun 2006.

Karir mengajarnya dimulai sejak tahun 1980. Hingga saat ini, Profesor masih aktif mengajar di Departemen Teknik Mesin. Mata kuliah beliau ajarkan antara lain Teknologi Pengeringan, Kapita Selekta dan Teknik Refrijerasi. Selain sebagai dosen, beliau juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Ilmu Konversi Energi DTM FTUI.

Beliau juga aktif menulis publikasi ilmiah. Beberapa publikasi ilmiah yang beliau hasilkan antara lain:

  1. Effect of Heat Treatment at various temperatures on the structures of Mordenite and Clinoptilolite Natural Zeolites from Indonesia.
  2. Pengeringan Bawang Merah Menggunakan Modular air Dryer.
  3. Analisis Sifat-Sifat Udara Proses Pada Rotary Desiccant Dehumidifier.
  4. Model Analogi untuk tetesan air dan perbandingannya dengan data eksperimen.
  5. Karbon Aktif dari Batu Bara sebagai Adsorben dengan Menggunakan Metode Aktivasi Fisika & Aktivasi Kimia.
  6. Penerapan Sistem Pembekuan Vakum dan Pemanasan dari Bawah pada Mesin Pengering Beku.
  7. Karekteristik Karbon Aktif sebagai Adsorben dari Batubara Kalimantan Timur.
  8. Preliminary Design and Manufacturing of Mini Ice Plant for Small Fisherman in Remote Area dan lain-lain.

Penggagas Alat Penangkap Energi Matahari untuk AC

Pemanfaatan energi panas matahari (solar thermal energy) di Indonesia belum maksimal. Umumnya hanya dipakai untuk mesin pemanas atau menjadi sumber aliran listrik. Tetapi, di tangan dosen Fakultas Teknik UI Prof Muhammad Idrus Alhamid dan tim, sinar matahari bisa menjadi AC ramah lingkungan.

Pelataran kompleks Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) di Depok, Jawa Barat, sekarang terlihat sesak. Sebab, seperangkat solar thermal cooling system (STCS) berukuran jumbo didirikan di areal itu. Total lahan yang dipakai guna menempatkan peralatan untuk menangkap sinar matahari itu kira-kira seukuran lapangan bola voli.

Komponen utama peralatan tersebut berada di rooftop Manufacturing Research Center (MRC), gedung anyar berlantai enam. Peralatan itu didesain untuk menangkap dan menyimpan panas sinar matahari.

Menurut Prof Muhammad Idrus, koordinator tim pembuat, alat yang diletakkan di lantai paling atas gedung MRC itu bernama solar heat panel. Komponennya terdiri atas rangkaian tabung seukuran betis orang dewasa dengan panjang sekitar satu meter. Tabung-tabung itu disusun menjadi 61 rangkaian. Setiap rangkaian berisi 16 tabung kaca. Jadi, total tabung penangkap energi matahari itu berjumlah 61 x 16 = 976 buah.

Tembaga itu berfungsi menangkap panas matahari dan menghantarkannya ke air yang mengalir di ujung tabung. Dengan jumlah tabung yang begitu banyak, suhu air yang mengalir di solar heat panel bisa mencapai 90 derajat Celsius. Namun, derajat panas tersebut bergantung kondisi cuaca hari itu.

Misalnya, cuaca di kampus UI Depok kemarin cenderung mendung. Energi panas matahari yang berhasil diserap alat buatan Prof Muhammad dkk pun tidak bisa maksimal. Rata-rata energi panas matahari yang bisa ditangkap hanya setara 200 watt, bahkan bisa kurang. Sementara itu, panas air yang mengalir juga tidak bisa mencapai titik optimal, yakni 90 derajat Celsius. Idrus menjelaskan, jika matahari sedang terik, energi panas yang berhasil ditangkap bisa setara 800 watt listrik. Air yang mengalir di komponen itu bisa mencapai titik panas 90 derajat Celsius.

Guru besar kelahiran kawasan Ampel, Surabaya, itu mengungkapkan, air yang sudah teraliri energi matahari akan dipompa turun dan dialirkan ke storage tank. Proses berikutnya, air panas tersebut dialirkan ke solar absorption chiller (SAC). Melalui gerakan mekanik, alat tersebut akan menghasilkan semburan udara dingin dari air yang dipanaskan di atas atap tadi. SAC didatangkan ke Indonesia secara utuh dari Jepang. Alat yang bisa menghemat pengeluaran listrik untuk sistem pendingin udara itu diproduksi Kawasaki Thermal Engineering (KTE), Jepang. Menurut Muhammad, ketika kompresor itu diganti teknologi yang ramah lingkungan ini, penggunaan listrik bisa dipotong hingga 50 persen.

Memang diakui, STCS tidak bisa lepas 100 persen dari energi listrik. Sebab, listrik masih dibutuhkan untuk menghidupkan pompa air yang menjalankan fungsi sirkulasi air dari dan menuju solar heat panel. Idrus menjelaskan, setelah diolah di dalam SAC, air panas itu dialirkan ke gedung-gedung atau ruangan yang ingin didinginkan suhunya. Alat itu bisa menurunkan suhu udara ruangan hingga 16 derajat Celsius. Misalnya, seperangkat STCS di UI itu bisa mendinginkan separo gedung MRC yang terdiri atas enam lantai.

Muhammad menghitung, jika menggunakan energi listrik penuh untuk AC dan penerangan, gedung MRC menghasilkan emisi gas buang CO2 hingga 183 ton per tahun. Tetapi, dengan teknologi STCS, emisi CO2 yang dihasilkan bisa direduksi hingga menjadi 141 ton per tahun. Ini baru perhitungan satu gedung yang menggunakan STCS. Bayangkan jika gedung-gedung bertingkat di Jakarta menggunakan STCS?.

Menurut Prof. Muhammad Idrus, matahari adalah benda, simbol, dan makna yang tidak akan habis dimanfaatkan. Dalam kajian akademis, energi matahari bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik melalui penggunaan PV (photovoltaic) atau panas. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, energi matahari itu juga diharapkan bisa dimanfaatkan untuk sistem pendinginan.

Selama ini masyarakat menikmati pendingin udara dengan sistem kompresi uap (vapour compression) seperti yang digunakan pada AC split, AC window, kulkas, dan sejenisnya. Cara itu tidak hemat energi karena menggunakan bantuan kompresor yang menyedot energi listrik cukup besar.

Terkait dengan karya teknologi terbarunya itu, Idrus sengaja memperkenalkan kepada publik sebagai pertanggungjawaban atas profesinya sebagai akademisi dan peneliti. “Ini lho ada alat yang bisa dimanfaatkan masyarakat dan ramah lingkungan. Silakan bila ada yang ingin memanfaatkan,” kata Profesor seperti dikutip Jawa Pos.

Fakultas Teknik UI Kukuhkan Profesor Bidang Teknik Pendingin & Tata Udara

Fakulas Teknik Universitas Indonesia (UI) kembali menambah jumlah Guru Besarnya dengan mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Muhammad Idrus Alhamid sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Teknik Pendingin dan Tata Udara. Upacara pengukuhan dipimpin oleh Rektor UI Prof. Dr. Muhammad Anis, M.Met pada Rabu 15 Januari 2014 Balai Sidang UI kampus Depok.

Prof. Muhammad Idrus Alhamid menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Solar Thermal Cooling System, Upaya Pengurangan Polusi Udara dan Penghematan Energi”. Selama ini masyarakat telah memanfaatkan energi matahari (solar energy) sebagai sumber listrik atau panas (kalor, heat).

Berbeda dengan hal tersebut, Prof. Muhammad Idrus mengangkat penelitian mengenai pemanfaatan solar energy untuk sistem pendinginan. Masyarakat populer menikmati pendingin dengan menggunakan sistem kompresi uap (vapour compression) seperti yang digunakan pada Air Conditioner (AC) split, AC window dan kulkas. Padahal ada cara lain yang dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan yakni menggunakan panas sebagai energi utamanya – yang dinamakan Solar Thermal Cooling System (STCS).

Pilot project STCS telah dijalankan di Laboratorium Teknik Pendingin dan Tata Udara FTUI melalui DRPM UI (Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat) yang merupakan penerapan STCS pertama di Indonesia. Manfaat yang dihasilkan pada pemanfaatan STCS diantaranya mampu mereduksi CO2 dan polusi udara akibat penggunaan Absorption Chiller serta mencegah terjadinya perusakan lingkungan atau meluasnya lubang ozon atmosfer bumi. (KbrNet/Slm)

Satu Tanggapan to “Sang Profesor Penggagas Alat Penangkap Energi Matahari”

  1. ILHAM said

    Pernahkah terpikirkan oleh manusia bahwa energi Matahari sebetulnya jauh lebih dasyat dari yang dikira selama ini ?

    Dalam Al-Quran dikatakan bahwa Matahari adalah benda YANG MAMPU MEMBAKAR, artinya mampu menghasilkan panas dan cahaya sendiri, sehingga masuk kategori sebagai salah satu bintang di jagat raya.

    Nah sebagai bintang, di Al-Quran juga dikatakan bahwa bintang dipakai UNTUK MELEMPARKAN SETAN.

    Melempar setan, ilmiahkah ?
    Jika ya, bagaimana caranya ya ?

    Usut punya usut, ternyata sebagai bintang, ledakkan energi yang terjadi di permukaan matahari mempu melemparkan energi, partikel serta gelombang elektromagnetik yang sangat kuat ke suatu tempat yang jauh dari permukaannya.

    Di sisi lain dalam Al-Quran disebut bahwa angkasa raya ini sebetulnya SEPERTI SEBUAH ANYAMAN. Anyaman berarti adanya jaringan jalur-2 tertentu yang saling berhubungan antar benda-2 langit termasuk antar bintang di jagat raya.

    Mungkinkah ini sebagai pertanda adanya TEROWONGAN ENERGI ANTAR BINTANG, sehingga saat dikatakan digunakan untuk melempar setan, sesungguhnya adalah energi bintang dapat melemparkan si setan pada JALUR TEROWONGAN ENERGI ANTAR BINTANG ? Sedangkan kita tahu bahwa jarak antar bintang di jagat raya bisa mencapai JUTAAN TAHUN CAHAYA !

    Inilah tantangan terbesar umat manusia untuk mengkajinya, karena jika bisa ditemukan rahasianya, maka tidak tertutup kceil kemungkinan manusia di masa depan mampu melesat ke tempat yang sangat jauh di jagat raya dalam hitungan kecepatan cahaya.

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: