KabarNet

Aktual Tajam

Pemprov DKI Kerahkan Preman Kuasai Lahan Taman BMW

Posted by KabarNet pada 22/03/2014

Ilustrasi

Ilustrasi

Jakarta – KabarNet: Ribut ahli waris pemilik lahan Taman BMW, Jakarta Utara, antara pihak Donald Guilamme Wolf memasuki babak baru, dimana dalam memperjuangakan hak atas tanah miliknya, ahli waris melalui kuasa hukumnya David Sulaiman mengandeng salah satu Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), dan Laskar Anti Korupsi LAKIP 45, namun kehadiran ormas dan LAKI P 45 dilokasi malah diserang oleh sekelompok preman bayaran yang berada dilahan kosong yang di klaim Milik Pemprov DKI, segerombolan pria bersenjata celurit yang telah disiapkan, sengaja dipelihara ditempat sengketa tersebut.

Awalnya David Sulaeman, mendatangi kantor lokasi lahan dengan sekitar puluhan anggota Ormas selepas melakukan sholat Jumat, 21 Maret 2014, sekitar puku 14:00 WIB, selanjutnya, ketika memasuki area tanah milik ahli waris terjadi komunikasi baik antara David dan seorang pejabat dinas DKI yang berada dilokasi.

Selanjutnya, tiba-tiba warga pengarap lain yang tinggal dan melakukan aktifitas seperti pemulung besi tua, di lokasi mengeluarkan celurit dan mengejar rombongan David serta beberapa anggota Ormas, akibatnya salah seorang anggota asal Depok mengalami luka parah robek pada dengkul dan paha kirinya.

Sedangkan 2 mobil Xenia dan Honda Jazz yang tertinggal dilokasi kejadian, habis dijarah parah penggarap yang melakukan tindakan anarkis dan melawan hukum dengan mengambil uang milik salah seorang pengurus Rp 2.000.000.

Alwi Susanto, anggota laskar anti korupsi pemilik mobil hinda Jazz, mengadukan hal ini ke Polres Metro Jakarta Utara, karena HP dan uang milik rekanya yang tertinggal di dalam mobil raib saat mereka lari menyelamatkan diri karna dikejar-kejar seperti binatang oleh orang-orang bayaran Pemrov DKI.

“Kami mengadukan persoalan kekerasan dalam lahan yang akan dibangun stadion tersebut. Tindakan ini kami ambil agar Pemprov DKI tidak semena-mena, menyewa preman dan membantai kami, ini merupakan upaya percobaan pembunuhan,” ujar David Sulaiman di Polres Metro Jakarta Pusat, seperti dikutip beritahukum.com.

Sementara sepeda motor honda milik wartawan beritahukum.com yang saat kejadian sedang di Pengadilan Jakarta Utara, sempat tertinggal di TKP, namun setelah polisi datang honda berhasil di keluarkan dari lokas kejadian. Yang disayangkan saat terjadi aksi kekerasan, wartawan juga tak luput dari kejaran dan sabetan celurit pelaku, berkat pertolongan Allah SWT pewarta berhasil selamat tanpa luka sedikit pun, saat mengatakan pada penyerang bahwa dirinya merupakan pekerja pers dan mereka mengehentikan sabetanya dengan menurunkan celuritnya.

Seperti diberitakan, klaim asal tanah tersebut berdasarkan Eingendom Verponding Nomor 309, yang dimiliki neneknya, Samaah. Namun tidak ditanggapi dengan baik oleh Pemprov DKI. Bahkan, kuasa dari ahli waris menuding Gubernur DKI dan Wakil Gubernur tidak ada melakukan apa-apa karena pernah menjadi konsultan di PT Agung Podomoro Land, milik konglomerat Tionghoa bernama Trihatma Haliman Kusuma, sebagai pengembang yang juga mengakui kepemilikan tanah Taman BMW.

Namun ternyata sertifikat tanah tidak juga kunjung dibuat, sehingga menurut David, terjadi kejanggalan. “Saat serah terima lahan, tertulis di berita acara seluas 26 hektar. Padahal lahan Taman BMW hanya 12 hektar. Selisih 14 hektar, ya DKI dibohongilah pihak kami dirugikan,” pungkasnya.

Dokumen Terkait Korupsi Taman BMW

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto pekan lalu mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kedatangan Prijanto untuk melengkapi dokumen terkait laporan sebelumnya, yaitu dugaan korupsi sengketa lahan Taman Bersih Manusiawi Wibawa (BMW). “Saya datang untuk menambah data baru kasus Taman BMW yang saya temukan. [Data itu] diberi seseorang,” kata Prijanto di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Kamis 13 Maret 2014.

Prijanto menjelaskan, dokumen yang dia bawa berisi data baru. Salah satunya tentang berita acara yang ditandatangani mantan Gubernur Sutiyoso soal pelepasan lahan. “Berita acara serah terima itu tanggal 8 Juni 2007. Tapi lampirannya baru diberikan ke DKI setahun kemudian, tanggal 11 Juli 2008,” kata Prijanto, seprti dikutip liputan6.

Menurutnya, terdapat kejanggalan dalam berita acara penyerahan lahan itu. Sebab, dalam berita acara serah terima dari pengembang ke Pemda DKI, luas lahan tertulis 26 hektare. Padahal, luas lahan yang tertera pada surat pelepasan hak dari pemilik tanah kepada pengembang hanya tertulis 12 hektar.

“Bukti baru antara lain di berita acara serah terima itu dikatakan menyerahkan tanah di daerah Papanggo seluas 26 hektare dan pelepasannya di 5 tempat itu. Padahal hanya 12 hektare. Surat pelepasan itu ada 5. Kalau pun dijumlah hanya 12 hektare, padahal DKI akan akses 26 hektare,” jelasnya.

Namun, Prijanto enggan mengungkapkan siapa pihak yang bertanggung jawab atas penyimpangan ini. Tapi Prijanto hanya sebut siapa yang menjelaskan. “Saya kasih tahu ya, saya tidak akan menyebut. Ditanya seribu kali tidak akan menyebut. Berita acara itu ditandatangani tanggal 8 Juni 2007 jadi ditandatangani oleh gubernur pada saat itu,” ungkap Prijanto.

Ahli Waris Sentil Ahok

Ahli waris pemilik lahan Taman BMW, Jakarta Utara, Donald Guilamme Wolf yang diwakili pengacaranya, David Sulaeman, sempat mendatangi kantor DPRD DKI Jakarta mengadukan persoalan lahan yang akan dibangun stadion tersebut. Tindakan itu diambil agar Pemprov DKI menyadari, mereka selama ini telah dibohongi oleh pengembang.

David mengaku sebenarnya pernah menemui Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan melampirkan bukti-bukti dokumen yang menunjukkan Donald merupakan ahli waris sah. Klaim tersebut berdasarkan Eingendom Verponding Nomor 309, yang dimiliki neneknya, Samaah. Namun tidak ditanggapi dengan baik oleh politisi Partai Gerindra yang akrab disapa Ahok itu.

Bahkan, ia menuding Ahok tidak dapat melakukan apa-apa karena pernah menjadi konsultan di PT Agung Podomoro Land sebagai pengembang yang juga mengakui kepemilikan tanah Taman BMW. Pada 2007 lalu, terjadi serah terima dari Agung Podomoro ke Pemprov DKI yang saat itu masih dipimpin Sutiyoso atau Bang Yos. Sementara, Ahok juga sempat menjadi konsultan keuangan Bang Yos.

Selain itu pada tahun 2013, ahli waris pemilik lahan Taman BMW pernah mengadukan nasibnya ke Fraksi Golongan Karya (Golkar) di Gedung DPRD DKI Jakarta. Kedatangan perwakilan keluarga pemilik lahan tersebut, diterima langsung oleh Ketua Fraksi Golkar, Asraf Ali. Dihadapan dewan, warga menegaskan akan terus berjuang mati-matian dalam mempertahankan hak atas tanah yang dimilikinya.

Tak hanya itu, warga meminta DPRD DKI, khususnya Fraksi Golkar untuk membantu menuntaskan proses pembebasan lahan sehingga nantinya status tanah di Stadion BMW tidak akan terus dipersengketakan. Bukti kepemilikan tanah yang sah, juga telah diserahkan keluarga pemilik lahan kepada Fraksi Golkar.

Warga berharap Pemprov DKI tak menutup mata mengenai adanya warga yang memiliki bukti surat kepemilikan yang sah di lahan seluas 26 hektar itu. Untuk itu, sebelum adanya kesepakanan pembebasan lahan, Pemprov DKI diminta tidak coba-coba melanjutkan pembangunan Stadion bertaraf internasional tersebut. “Pemprov DKI sama saja dengan penadah barang curian, bila tetap menggunakan dan menerima lahan tersebut dari pihak pengembang yang merampas barang kami,” kata Juru Bicara Pemilik Lahan, David Sulaiman di DPRD DKI.

David juga meminta agar Gubernur Jokowi tak hanya melakukan pencitraan semata. Tapi turut memperjuangkan hak pemilik lahan di taman BMW. “Selama ini Jokowi Ahok selalu dicitrakan. Kami juga rakyat kecil yang meminta kejelasan hak milik kami sendiri.

Fakta Baru Kasus Taman BMW

Salah satu sudut Taman BMW saat ini. Lahan seluas 30 hektare itu diklaim oleh Pemprov DKI sebagai asetnya padahal tak memiliki sertifikat.
Salah satu sudut Taman BMW, lahan seluas 30 hektare itu diklaim oleh Pemprov DKI sebagai asetnya padahal tak memiliki sertifikat.

INDOPOS.CO.ID: FAKTA baru yang sangat mencengangkan terungkap dalam kasus tanah Taman Bersih Manusiawi Berwibawa (BMW) Jakarta Utara. Tanah-tanah yang tertera dalam Surat Pelepasan Hak (SPH) Taman BMW, ternyata berbeda dengan lokasi Taman BMW yang sebenarnya Tanah yang tertera dalam SPH ada di Kelurahan Sunter Agung, sedang kan Taman BMW ada di Kelurahan Papanggo. Hal tersebut tergambar dengan jelas dalam peta.

Kuasa hukum ahli waris tanah BMW, David Sulaiman mengungkapkan, hampir seluruhnya tanah yang tertera dalam SPH ada di Kelurahan Sunter Agung. Dalam SPH disebutkan ada empat orang pemegang hak garap yang melepaskan haknya ke pengembang. Mereka adalag Annie Sumanti dengan tanah 6.277 meter persegi, GMH Kesuma 33.131 meter persegi, Soeyono dengan luas tanah 60.614 meter persegi, dan Dady Hamid dengan dua petak tanah yang masingmasing luasnya 10.351 meter persegi dan 10.870 meter persegi.

“Dari seluruh pemegang hak garap itu, hanya Dady Hamid yang tanahnya tertera di Kelurahan Papanggo, itupun punya kejanggalan karena dokumennya dilegalisir oleh Lurah Sunter Agung, padahal lokasinya disebutkan ada di Kelurahan Papanggo,” ujar David pada INDO POS. Dijelaskan David, Kejanggalan lainya, datang dari pernyataan orang kepercayaan Dady Hamid yang bernama R. Hamidi yang menyatakan Dady Hamid tidak pernah punya tanah dan menjualnya ke pengembang.

Kemudian, penggarap lainnya yang disebut dalam SPH bernama Soeyono, tidak mencantumkan peta situasi (gambar lokasi) dalam daftar rekapitulasi surat penyerahan/pelepasan (SPH) Taman BMW, namun anehnya disebut tanahnya ada di RT 010 RW 08. Kemudian, jabatan Soeyono sebagai Dirut Sinar Air Mas yang tertera di SPH juga disanggah oleh putri dan istrinya sendiri.

“Bahkan putri dan istrinya juga membantah bahwa Soeyono pernah punya tanah di Papanggo dan menjualnya ke Agung Podomoro,” terang David. Kejanggalan lainnya, kata David, ada pada penggarap Annie Sumanti, yang KTP-nya ternyata tidak tertera di Sudin Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil). “Dengan adanya fakta itu bisa dikatakan keberadaan Annie Sumanti sebagai fiktif,” ujarnya. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto, membenarkan fakta-fakta baru yang diungkapkan David.

Menurutnya, ia telah melihat langsung dokumen dan peta tersebut. “Yang diungkapkan David itu benar adanya. Tidak perlu seorang pakar untuk melihat dokumen dan peta Taman BMW. Cukup seorang anggota Pramuka saja sudah bisa membaca peta dan mengetahui bahwa tanah-tanah yang diserahkan pengembang ke Pem prov DKI Jakarta bukan di atas tanah BMW (Papanggo) tapi di Kelurahan Sunter Agung,” tegasnya.

Anggota Pansus Taman BMW DPRD DKI Jakarta, S Andyka, menilai memang banyak kejanggalan dalam kasus Taman BMW. Sehingga pihaknya akan berupaya mengungkap kejanggalan-kejanggalan tersebut. “Tujuan pansus hanya satu, Pemprov DKI Jakarta dan masyarakat tidak dirugikan dan keadilan bisa ditegakkan,” tandasnya.

[KbrNet/Slm]

Satu Tanggapan to “Pemprov DKI Kerahkan Preman Kuasai Lahan Taman BMW”

  1. Pro Rakyat said

    Salam…

    Mencermati berita ini sungguh mengkuatirkan. Dalam situasi carut marut masalah lahan eks Taman BMW ini tergambar bagi kita bahwa Pemimpin tidak mampu mengelola masalah dengan baik, santun, dan bermartabat sebagaimana semboyan Taman BMW (Bersih, Manusiawi dan Wibawa). Sebaliknya muncul ironi atau paradox menjadi Kotor, Gelap dan Biadab (KGB) maka bolehlah kita memandang persoalan di lahan eks lahan Taman BMW telah menimbulkan semboyan baru yakni lahan eks Taman KGB. Diambil kata KGB mengingatkan kita akan cara-cara lembaga intelijen Rusia dalam percaturan intelijen dunia yang juga banyak menggunakan hal-hal kotor, gelap dan biadab memenuhi ambisinya.

    Memperhatikan dan maklum bahwa di lahan itu banyak terdapat hal-hal yang penuh dengan kekotoran, menafikan kemanusiaan dan penggelapan akan berbagai fakta dan kebenaran, maka peristiwa terakhir itu tak mengherankan karena itu adalah juga buah dari kekotoran, kebiadaban dan informasi yang tidak jelas alias gelap itu merasuk hingga ke segala jiwa pengusaha, pejabat, penegak hukum dan masayarakat terkait lainnya. Terlebih-lebih alam demokrasi saat ini sangat mendukung suasana untuk berimprovisasi.

    Penggambaran ini hanya pemikiran pribadi saja, jadi tidak lah dimaksudkan untuk salah menyalahkan pihak manapun. Namun sekedar mengingatkan agar semua pihak yang berkepentingan di lahan tersebut sadar dan maklum bahwa dalam rangka kita “menyelesaikan masalah” tidak lah terjebak dalam hal yang bersifat “mempermasalahkan masalah”, “musang berbulu domba”, “politik adu domba“, “merasa benar sendiri”, “tuduh menuduh”, dan atau bersikap/berprilaku manipulatif lainnya.

    Nah merujuk pada wacana diatas maka mengenai bentrokan pada Jumat 21 Maret 2014 di lahan BMW yang penuh kejanggalan itu, memang semua pihak dituntut tidak “berhati panas” dan “berkepala dingin“, dan dituntut saling introspeksi diri. Berdamailah dengan manusianya walau kita tidak terlalu dituntut berdamai dengan masalah hukum bagi pihak yang merasa ada hak-hak keperdataan di lahan tersebut. Jadi salahkanlah yang perlu disalahkan sebab dalam konteks masalah di lahan eks Taman BMW itu sebenarnya tidak ada warga/rakyat yang salah disitu, yang ada adalah Pemimpin, Pengusaha, Pejabat, atau oknum yang salah. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi bentrok-bentrok fisik antar manusia disitu dan mudah-mudahan semua pihak dapat berperan agar tidak terjadi bentrok-bentrok fisik lagi.

    Dalam bernegara dan berdemokrasi dimanapun Rakyat selalu dalam posisi yang tidak layak disalahkan, walau kita harus tetap mengingat bahwa Rakyat yang tidak bersyukur akan melahirkan Pemimpin yang kufur pula. Saat ini kita semua merasakan itu, “Rakyat Kurang Bersyukur, Pemimpin pun Kufur”. Dalam konteks masalah di eks Taman BMW itu sepertinya terjadi pembiaran-pembiaran Pemimpin terhadap Kemanusiaannya dan malah Pemimpin itu lebih memikirkan ambisi pembangunan Stadion itu, Rakyat cukup di beri janji-janji saja dan diusir saja jika membuat “mumet” Pemimpin itu. Malah sibuk membuat segala pencitraan, politik belah bambu, tidak sportif yang ujungnya mengubur pelan-pelan Rakyat Kecil yang telah nyata-nyata banyak dirugikan itu. Apakah Stadion itu akan dibangun diatas Pencitraan dan diatas penderitaan Rakyat Kecil…!? Stadion dengan semangat apakah yang ingin dibangun itu sebenarnya…!? Bukankah Gedung yang akan dibangun itu mengusung dan membangun jiwa dan misi “Sportifitas” bagi segenap warga Jakarta…!? Kenapa jadi Stadion Taman KGB…!? Wallahu a’alam bish- shawabi.

    Salam…

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: