KabarNet

Aktual Tajam

Akhir Cerita Gembong PKI pun di “Lubang Buaya”

Posted by KabarNet pada 04/10/2018

Aidit

KabarNet: Dalam Adegan Film G30S/PKI DN Aidit cuma digambarkan meninggalkan Bandara Halim Perdanakusumah dengan beberapa orang temannya, tak banyak yang tahu akhir hidup gembong PKI ini pun dibalas setimpal oleh TNI AD.

Catatan sejarah berikut ini mengungkapkan kronologi tindakan eksekusi mati yang tragis terhadap DN Aidit di sebuah sumur tua.

DN Aidit atau Dipa Nusantara Aidit adalah seorang menteri koordinator dalam kabinet Dwikora di era Presiden Soekarno, dan juga menjabat sebagai Ketua Komite Sentral Partai Komunis Indonesia (PKI). Aidit dianggap oleh Soeharto sebagai orang yang bertanggung jawab atas percobaan kudeta G30S PKI atau Gerakan 30 September atau Gestapu.

Cerita dibalik eksekusi mati juga menarik untuk diketahui bagaimana kronologi penangkapan dan eksekusinya di sebuah sumur tua.

Selepas peristiwa G30S PKI, Aidit melarikan diri ke basis PKI di Jawa Tengah. Di tempat itu dia bersembunyi dari kejaran aparat TNI pimpinan Soeharto sang pemegang Supersemar. Setelah lari ke beberapa lokasi, melalui peran intelijen, akhirnya DN Aidit ditangkap aparat militer pada tanggal 22 November 1965 jam 23:00 WIB. Aidit ditangkap dari tempat persembunyiannya di rumah Kasim alias Harjomartono di Kp. Sambeng, Solo, Jawa Tengah.

Ketika berada di rumah Kasim, Aidit sebetulnya nyaris tidak tertangkap oleh tentara, sebab waktu penggerebekan pertama di rumah Kasim, tentara tidak berhasil menemukannya meskipun rumah tersebut sudah diobrak-abrik. Tentara saat itu sempat berpikir Aidit telah kabur sebelum pengepungan terjadi. Namun intelijen bersikukuh bahwa Aidit masih berada didalam rumah Kasim.

Pernyataan intelijen, membuat tentara membawa Kasim ke markas untuk diinterogasi. Mungkin karena tidak tahan terhadap interograsi yang terjadi, Kasim akhirnya buka suara dan menunjukkan dimana lokasi Aidit sedang bersembunyi.

Dari markas, tentara kembali membawa Kasim ke rumahnya. Pada saat itu sebagian tentara masih melakukan pengepungan ketat terhadap rumahnya. Dihadapan moncong senjata, Kasim menggeser lemari di salah satu ruangan di rumahnya. Dari balik lemari itulah, terdapat pintu rahasia ke lokasi dimana Aidit sedang bersembunyi. Pemimpin tentara saat itu bernama Letnan Ming Priyatno mengacungkan senjata ke pintu sambil berkata :

“Keluar dari tempat persembunyian! atau rumah ini saya bakar,” gertak Letnan Ming Priyatno. (Sumber buku Bakri AG Tianlean, Bung Karno Antara Mitos dan Realita, Dana Revolusi, halaman 153).

Karena terdesak akhirnya DN Aidit bersuara dari balik persembunyiannya, lalu membuka pintu dan keluar dari balik lemari. Aidit balik menggertak letnan Ming.

“Saya Menteri Koordinator, utusan Paduka yang Mulia Presiden Soekarno. Saudara mau apa?” gertak DN Aidit.

Mendapat gertakan sang Menko, Letnan Ming Prayitno sempat kecut dan menjawab pelan.

“Saya hanya menjalankan tugas untuk menangkap,” kata Letnan Ming. Aidit kemudian menjawab, “Baik. Tetapi saya diperlakukan sebagai Menko,” kata DN Aidit dengan tegas. Itulah drama penangkapan Aidit di Solo, Jawa Tengah.

Aidit kemudian dibawa ke Loji Gandrung. Di Loji Gendrung sempat ada seorang Mayor yang ingin mengambil alih penangkapan Aidit. Namun, pemintaan tersebut ditolak Komandan Brigade Mayjen Yasir Hadibroto.

Sesuai Perintah Soeharto, Mayjen Yasir Hadibroto memerintahkan anak buahnya Mayor ST untuk mencari sumur tua yang sudah kering. Setelah itu, Aidit dibawa sejumlah regu tembak ke lokasi eksekusi tersebut.

Lokasi sumur tua berada di tengah kebun pisang dan jauh dari pemukiman penduduk. Ketika itu, Aidit sudah mengetahui bahwa dirinya akan dieksekusi mati. Namun, dia masih berusaha untuk menggertak.

“Tahu kamu artinya apa seorang Menko? Seorang Wakil Ketua MPR Sementara kemari? Apa ini sumur? Untuk apa?” kata DN Aidit kepada Mayjen Yasir Hadibroto. Namun gertakan Aidit kali ini dijawab santai oleh Mayjen Yasir Hadibroto dengan mengatakan bahwa Aidit akan dihukum mati, di tempat seperti para Dewan Jenderal dihukum dan mayatnya dibuang ke dalam sumur tua di Lubang Buaya.

“Saya mengerti pak, dan kalau bapak mau tahu sumur ini untuk apa? Ini buat bapak. Bapak tahu bukan kalau Pak Yani juga dimasukan sumur seperti ini?” kata Mayjen Yasir kepada DN Aidit yang pucat.

Mendapat jawaban enteng seperti itu, maka Aidit menyadari ajal sudah tiba. Menjelang subuh di lokasi eksekusi, Aidit meminta waktu untuk menyampaikan pidato terakhirnya. “Jangan tergesa-gesa, saya mau pidato dulu,” katanya. Setelah 10 menit pidato Aidit yang diakhiri teriakan, “Hidup PKI”, timah panas pun menjemput nyawa Aidit.

Setelah Aidit roboh dihantam timah panas, jenazah Aidit dimasukan ke sumur tua persis seperti nasib pahwalan revolusi yang gugur dimasukkan ke sumur Lubang Buaya.

Di atas jenazahnya itu, ditimbun sejumlah batang pisang yang ditebang, kayu-kayu kering, tanah, lalu tentara membakarnya. Boleh jadi untuk menghilangkan jejak Aidit.

Jumlah Tentara yang Terlibat dalam eksekusi mati DN Aidit adalah empat orang, ditambah dua Kopral pengemudi mobil Jeep. Ketika detik-detik eksekusi, tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa Aidit ditembak mati, Termasuk tentara Brigade. Itulah Kisah Eksekusi Mati DN AIdit.

Sumber tulisan:

1. Bakri AG Tianlean, Bung Karno antara Mitos dan Realita, Dana Revolusi, Komite Penegak Keadilan dan Kebenaran, Jakarta 2002. 


2. Tertangkapnya DN Aidit, Lampiran Bung Karno antara Mitos dan Realita, Dana Revolusi, Komite Penegak Keadilan dan Kebenaran, Jakarta 2002. 

[KabarNet/adl]

Komentar "PILIHAN" akan diambil menjadi artikel KabarNet.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: